Title: SHOVE
Characters/ Pairing: Hatake Kakashi/ Haruno Sakura
Type: Multichapter
Rating: T
Genre: Romance, General
Warnings: SugarDaddy!Kakashi, SugarBaby!Sakura, Swearing (jika tak suka, silakan kembali)
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
(Kami tidak mencari keuntungan dalam bentuk materi apapun dari penggunaan karakter-karakter ciptaan Masashi Kishimoto)
Non-edited. So all mistakes are mine.
::::
SHOVE
"Aku pernah melihatmu."
Aku memaksa untuk menengadah pada Yukie Fujikaze karena aku tidak tahu harus bersembunyi di mana. Lagipula setelah dipikir-pikir, kenapa aku harus sembunyi? Aku tidak melakukan kesalahan apapun.
"Kita bertemu di lobi beberapa hari lalu." Aku tersenyum yang sepertinya tampak seperti orang meringis.
"Kau menulis sesuatu yang kurang enak di baca, tepat di dahinya." Kakashi bersuara membuatku menoleh pada pria itu. "Itu tidak baik, Fujikaze."
"Oh, kau tahu?" Fujikaze tertawa.
"Malam itu dia datang mengunjungiku. Sakura, wanita ini adalah Yukie Fujikaze, lawan mainku, kau pasti sudah tahu. Fujikaze, perkenalkan Sakura, temanku. Mari kita duduk, shall we?"
Kulirik Kakashi yang dengan begitu sopannya menarik kursi untuk Nona Yukie Fujikaze. Duduk pun, wanita itu tetap bergaya elegan. Bahkan berkedip pun, bulu matanya tampak seperti sayap kupu-kupu berkepak pelan. Oh, aku benci ini. Dia begitu cantik, tidak peduli apapun yang dia lakukan. Orang cantik, sih, bebas ya melakukan apa saja!
"Jadi dia temanmu, Hatake? Aku tidak tahu itu." Fujikaze membuka kotak yang dibawanya. Aku yang rupanya duduk di sebelah kanannya, melirik isi kotak bekal sarapannya dan tersedak. Aku tahu benda kuning tipis itu adalah keju, lalu kacang-kacangan dan biskuit. Hmph, aku hanya tahu jenis kacang tanah, mede dan almon. Tapi aku sama sekali tak melihat kacang-kacang itu di kotak bekal Nona Yukie.
Aku kembali melirik Kakashi yang hanya tersenyum mendengar kata-kata Fujikaze.
"Apa ini kali pertama kalian kerja sama?" tanyaku dengan kedua tangan saling meremas di bawah meja. 15 menit lalu aku sangat menikmati sarapan berdua dengan pria tampan nan seksi plus beraroma wangi yang juga memiliki senyum menawan, tapi semuanya buyar saat Fujikaze datang. Aku memang tak bisa melarangnya. Hell aku bahkan bukan manajernya. Aku kesal karena tak bisa berbuat apa-apa meski hanya untuk menunjukkan ketaksukaanku akan kehadirannya. Tidak, aku tidak membencinya karena kejadian di lobi. Itu karena di mataku, Yukie Fujikaze adalah tipe wanita yang membuatmu love to hate and hate to love padanya.
Yeah, aku memang fansnya tapi untuk saat ini aku berada di posisi love to hate her. Hmph.
"Kami pernah melakukan pemotretan bersama di majalah Vogue," jawab Fujikaze setelah meneguk kopi yang dibawanya sendiri. Aku berani bersumpah kopi yang dinikmatinya adalah kopi diet. Fujikaze lalu melihat Kakashi yang tengah menghirup kopinya. "Dia pria yang menarik, bukan?"
"Aku memang menarik," sahut Kakashi setelah meletakkan cangkirnya kembali ke atas meja.
"Kau lihat?" Fujikaze menoleh padaku dengan senyum lebar. "Dia adalah pria yang memiliki rasa percaya diri tinggi dan ego yang cukup besar."
Aku begitu fokus pada apa yang diucapkan Nona Yukie Fujikaze hingga tak sadar diriku berubah rileks pertama kali sejak kedatangannya. "Percaya diri tinggi, aku setuju dengan itu," anggukku mengingat kejadian di perpustakaan di mana aku tengah menggambar dirinya saat itu. Kakashi muncul di belakangku dan memuji dirinya sendiri.
"Sudah berapa lama kau berteman dengan Hatake?" Fujikaze mengambil satu jenis kacang-entah-apa-namanya-dengan sendok lalu meletakkannya di piringku.
Apakah aku harus menjawabnya? Jika aku menjawabnya, apakah Nona Yukie tidak akan mencurigai hubungan kami yang sebenarnya?
"Seminggu yang lalu."
Aku mengerjap-ngerjap pelan saat Kakashi menjawab pertanyaan wanita itu.
"Dia menyelamatkanku di perpustakaan kota. Mereka berkumpul di pintu depan dan Sakura membawaku keluar lewat pintu belakang," sambungnya lagi. Ponselnya lalu berdering membuatnya berdiri. Dia melihatku dan Fujikaze. "Aku permisi sebentar."
Fujikaze bergerak di sebelahku dan kini tubuhnya menghadap sepenuhnya padaku. Dia tersenyum. "Pertemuan kalian seperti di dalam film-film romantis."
Aku mengangguk sambil mengunyah kacang pemberiannya.
"Kau sekolah?"
"College, actually."
"Oh, maafkan aku. Kukira kau masih SMU."
Huh, apa itu sebuah pujian? Jika aku terlihat lebih muda dua tahun dari usiaku yang sebenarnya, kuanggap itu pujian.
"Jadi apa ini seperti ucapan terima kasih karena telah menyelamatkannya dari serbuan wartawan dan fans di perpustakaan?"
Rahangku tiba-tiba mengeras. Kakashi mengajakku sarapan bersama bukan sebagai ucapan terima kasih, aku tahu benar akan hal itu. Itu karena aku adalah Sugar Baby-nya. Sial, bahkan dirimu saja, Nona, belum tentu bisa seintim ini dengannya.
"Itu karena aku menyukainya, Fujikaze."
Suara Kakashi mengejutkan kami berdua. Aku tidak menyadari kehadirannya. Apakah dia mendengar pertanyaan Fujikaze? Mendengar jawabannya sih, sepertinya ya.
Wanita dengan rambut sepunggung itu menatapku tak percaya. "Kakashi menyukaimu! Uh oh, kau harus hati-hati, Tuan Hatake."
Leher, wajah dan telingaku memerah, mengalahkan warna rambutku. Kakashi terlalu berterus terang, membuat Nona Yukie Fujikaze menatapku seolah bisa menembus pikiranku.
"Kau memang gadis yang unik," putusnya kemudian setelah melihatku dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Terutama rambut merah mudamu. Itu asli?"
Unik? Tentu saja. Aku menyeringai dalam hati. "Yup, asli."
"Tapi aku belum melihat satu alasan kenapa Hatake bisa menyukaimu."
Secara mental, aku merasa sebongkah besar batu dijatuhkan tepat di kepalaku. Apakah ini yang disebut sakit tapi tak berdarah?
"Fujikaze."
Suara Kakashi membuat kami menoleh. Pria itu menatap roti bakarnya sebelum mengangkat wajah dan melihat Fujikaze. Sepasang abu-abunya nampak gelap dan meski kami baru saja dekat, aku tahu, mata itu menyorotkan ketidaksukaan pada satu hal yang baru saja diucapkan wanita di sebelahku.
"Kita memang bekerja sama dalam proyek kali ini tapi kuharap jika kau ingin mendatangiku, hubungi Mei lebih dulu."
Holy shit! Can you believe it? Kakashi mengatakan itu pada wanita secantik dan seanggun Yukie Fujikaze? Aku menatap wanita itu dan menemukan wajahnya sedikit terhenyak. Tapi bagiku tidak masalah. Komentar Kakashi semakin menguatkan opiniku atas sarapan yang diinvasi wanita itu. Satu kesimpulan. Aku tersenyum tipis. Kakashi menikmati sarapan bersamaku. Ah, rasanya kupu-kupu sekarang beterbangan di perutku!
"Ah, my bad, Hatake," jawab Fujikaze dengan senyum yang tak mencapai matanya. Perasaanku jadi tak enak melihatnya. Wanita itu merapikan kotak bekalnya lalu berdiri, mengangguk sekali padaku dan beranjak. Kakashi, meski dengan samar menunjukkan ketidaksukaannya pada wanita itu, tetap dengan sopan mengantarnya keluar hingga pintu depan.
"Apa tidak masalah kau berkata seperti itu padanya?" tanyaku saat Kakashi kembali ke kursinya. Kulihat Kakashi menepuk-nepuk pahanya sambil menatapku. Aku tidak mengerti.
"Come, my baby. Sit in my lap."
Rahangku menganga secara mental. Du-du-du…argh, kau tidak sedang bernyanyi lagu Blackpink, Sakura! Hold yourself! "Du-duduk di situ?" Kutatap pahanya yang kokoh tertutup jeans belel biru muda. Kakashi mengangguk. Aku pun berdiri dan berjalan kikuk ke arahnya, dengan canggung duduk miring di pangkuannya. Hhh, dari sini aromanya semakin kental di hidungku, membuatku merasa rileks sejenak.
"Jadi, kedatangan Fujikaze tadi…"
"Sangat menggangguku."
"Tapi, Daddy, kau tidak mungkin mengusirnya."
"Pria macam apa aku mengusir seorang wanita?"
"Daddy pun tidak ingin aku pergi."
"Tentu saja, my baby. Kau lebih berhak ada di sini."
Rasa bangga lalu melingkupiku saat mendengarnya. Tapi rasa khawatirku masih lebih besar. Aku menarik napas panjang dan berkata, "Tapi bagaimana jika Nona Yukie berkata yang tidak-tidak? Dia rekan kerjamu."
Kedua lengan berotot pria itu melingkar di pinggulku, menarikku semakin dalam ke pangkuannya, membuatku melenguh tak ubahnya seperti anak kucing. Aku harus melingkarkan lengan kananku ke lehernya untuk menjaga keseimbangan tubuhku.
"Memakai nama depan sekarang? Aku tidak tahu kalian sudah begitu akrab," seringai Kakashi memperlihatkan gigi putihnya, membuatku memukul pelan pundaknya.
"Dia wanita yang baik kurasa. Kedatangannya hanya untuk mengakrabkan diri 'kan?"
"Jadi kau tidak keberatan jika suatu saat kita sedang bersama dan dia datang, hm?" Lengan pria itu semakin erat di pinggulku. "Mungkin aku saja yang harus mengundangnya."
"No!" kataku cepat, membuatku memerah sekujur tubuh. Melihatku, Kakashi tertawa. Oh, God, suaranya begitu indah seolah bisa menghentikan duniaku berputar.
"You are so adorable," bisik Kakashi sambil menatapku. Aku menunduk menatapnya. Sepasang mata kami membuat kontak dan aku bergetar oleh tatapannya yang tajam namun menyiratkan kehangatan.
"Apa kau selalu menatap lawan mainmu seperti ini?" tanyaku lirih.
"Tidak, jika itu adalah seorang pria," jawabnya asal membuatku terkikik geli.
Kedua tanganku kini melingkar sepenuhnya di lehernya, memeluknya erat bagai boneka Siberian Husky berbulu perak. Wajahku tenggelam di cerukan antara leher dan pundaknya, menyesap aroma yang menguar dari tubuhnya. Vanila, aroma laundry, kayu manis dan roti bakar. Kombinasi yang kacau tapi jadi menakjubkan jika dipakai olehnya.
"Aku mau dibelikan boneka anjing Siberian Husky," bisikku di lehernya.
"Siberian Husky?" Jemari panjangnya membelai rambutku.
"Mm. Siberian Husky mengingatkanku pada Daddy. Terutama yang berbulu perak."
"Selain itu?" Suara bariton rendah milik Kakashi lagi-lagi terdengar, membuat perut bagian bawahku bergejolak. Oh, aku tak keberatan mendengar suara seksinya sepanjang hari.
"Biar bisa kubawa pulang dan kupeluk hingga tertidur." Aku semakin menenggelamkan wajahku ke lehernya. Jantungku berdegup tak karuan sekarang. Bisa kurasakan jemari Kakashi menyusup di antara helai rambutku dan memijat-mijat kulit kepalaku dengan lembut sebelum menarik perlahan kepalaku dari lehernya. Mata kami kembali bertemu dan kilatan yang tak asing itu lagi-lagi bermain di mata abu-abunya. Kilatan yang menyiratkan hasrat, gairah dan… kerongkonganku tiba-tiba terasa kering. Paru-paruku rasanya semakin sulit mengumpulkan oksigen saat matanya mengarah pada bibirku. Aku meneguk ludah dengan susah payah. Jarak di antara wajah kami mengecil, tanganku menggenggam erat kaos putihnya dengan mataku yang juga tak lepas dari bibir merahnya. Aku tahu apa yang akan dia lakukan.
Dan lagi, distraksi itu datang.
Kali ini dalam sosok seorang Mei.
"Buka, Pria Tua! Sudah 8. 40. Kau harus ada di lokasi sebelum pukul sembilan!" seru Mei dari koridor.
Kami pun mengerang. Tak perlu saling memberitahu, kami sesungguhnya mengutuk Mei dalam hati masing-masing.
::::
TBC
::::
Pojok Review:
Ash Shey: mau ada orang ketiga atau pun nggak, membuat kisah mereka mulus-mulus aja rasanya nggak mungkin. Thanks ripyunya.
Azalea em: yup kami akan terus bertahan demi KakaSaku. Thanks.
Ladyknight557: Shove adl tipe bacaan ringan. Rite of Spring emang agak berfilosofis, haha. Sugar Daddy sekeren Kakashi? Maybe yes maybe not. Thanks.
Aoicchi: Sakura jungkir balik tuh dengernya.
Annis874: pasti ngeh. Siapa yang bisa lupa dengan rambut merah muda? Thanks.
Gekanna. 87: kalau Daddy-nya macam Kakashi pasti menyenangkan. Kalau nggak? Thanks anw.
Rin Gonoki: udah apdet. Thanks.
V3: thanks. VT? Uh, itu belum tahu krn yang buat adl Amaya sementara Amaya menghiatuskan diri. Gomen.
Wowwoh. Geegee: ganti rating? Entahlah ini aja masih mikir-mikir. Soalnya saya adl tipe author yang nggak buat lemon, tapi baca lemon #ditimpuk. Thanks.
Thanks atas ripyunya, pals. Juga buat yang fave/ foll.
Once again, feel free to send PM, review, constructive criticisms and suggestions.
