Title: SHOVE

Characters/ Pairing: Hatake Kakashi/ Haruno Sakura

Type: Multichapter

Rating: T

Genre: Romance, General

Warnings: SugarDaddy!Kakashi, SugarBaby!Sakura, Swearing (jika tak suka, silakan kembali)

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

(Kami tidak mencari keuntungan dalam bentuk materi apapun dari penggunaan karakter-karakter ciptaan Masashi Kishimoto)

Non-edited. So all mistakes are mine.

::::

SHOVE

13

"I'll catch you later, Kitten," bisik Kakashi lembut sambil mengecup pipiku. Aku menampilkan senyum yang menurutku senyum terbaik saat itu lalu melingkarkan kedua lenganku ke lehernya.

"Oke, Daddy."

"Belajar yang baik. Jangan matikan ponselmu."

Aku mengangguk dan sebelum turun dari mobil, aku mencuri satu kecupan lagi di pipi pria itu membuatnya tertawa renyah. Aku tidak beranjak dari tempatku berdiri hingga mobil yang membawaku tadi benar-benar menjauh dan tak nampak lagi. Tangan kiriku lalu mendarat di dadaku, merasakan degup jantungku tak juga kunjung memelan. Jika saja aku berada di tempat sepi, hal pertama yang kulakukan adalah berteriak sekencang mungkin atau melompat-lompat seperti anak kucing memainkan pita.

"Awesome!" seruku membuat beberapa orang yang berlalu-lalang menoleh padaku. Kakashi menurunkanku di tempat yang tak begitu ramai dan agak jauh dari jalan utama masuk kampus. Kami tentu saja tak ingin mengambil resiko lebih besar dengan mengantarku secara terang-terangan ke kampus. Ugh, kalau itu terjadi aku berani bersumpah jasadku mungkin sudah menyatu dengan aspal yang kalian lewati.

Masih ada waktu setengah jam sebelum kuliah pertamaku hari ini dimulai. Jadi aku duduk di tempatku yang biasa, deretan ketiga dari atas di bagian pinggir dekat jendela agar leluasa memandang keluar jika di tengah perkuliahan aku merasa suntuk. Aku mengeluarkan buku gambar dan mulai membuat sketsa wajah Kakashi. Kelas masih lengang, hanya ada tiga orang termasuk diriku yang mengisinya. Aku mengeluarkan ponsel yang Kakashi belikan, memasang headset dan mulai mencari lagu untuk kudengarkan. Heart Attack. Aku senyum-senyum sendiri saat mendengarkan dengan seksama lagu yang dinyanyikan Demi Lovato itu.

But you make me wanna act like a girl. Paint my nails and wear a perfume, for you. Make me so nervous, that I just can't hold your hand.

Dari sudut mata, aku melihat seseorang mendekat ke arahku dan menghenyakkan bokongnya di sebelahku. Terdengar desah terkesiap dan satu tangan dengan lima jari lentik tiba-tiba meraih ponsel baruku dengan kasar hingga headset di salah satu telingaku terlepas.

"Ino!" ujarku dengan nada yang agak tinggi dari biasanya. Untuk pertama kalinya berteman dengan gadis pirang itu, aku melakukannya. Wow, aku terkejut dengan diriku sendiri!

"Kau pasti bercanda!" seru Ino sambil menatap benda putih di tangannya seolah tak memedulikan rasa kesalku. Aku langsung menarik ponselku kembali dan mendekapnya ke dada.

"Kau tak boleh menyentuh barang-barangku begitu saja!" Aku menggeram, menatap ponselku yang—thank God—baik-baik saja. Oke, mungkin aku terkesan norak tapi ponsel ini adalah benda pertama yang Kakashi berikan padaku jadi aku harus menjaganya baik-baik.

"Oke, maafkan aku!" Ino mengangkat kedua tangannya ke dada, menyerah. Aku mendapati sepasang mata aquamarine-nya menatap ponsel yang terdekap di dadaku. "Di mana kau mendapatkannya? Mencuri?"

"What? No! Itu kasar sekali, Ino!"

"Aku bercanda," ujar Ino dengan wajah inosen.

Lagi-lagi kata yang sama. Aku mendengus pelan lalu menyimpan ponsel di saku jeans-ku. "Bedakan candaan dengan hinaan, Ino."

"Tok tok tok. Aku ingin bertemu dengan Sakura Haruno. Apa dia ada?" Ino mengetuk kepalaku seperti mengetuk pintu, membuatku menepis tangannya. "Hei, aku benar-benar minta maaf. Aku hanya kaget melihatmu lebih dulu tiba di kelas, senyum-senyum sendiri sambil menggambar dan saat aku melihat ponselmu, aku tidak tahan untuk tidak menggodamu."

Ino meminta maaf dua kali dalam sehari? Wow, dia bukan Ino kurasa. Aku menatap wajah Ino dengan sepasang mata aquamarine-nya yang membulat, membuatku pada akhirnya tersenyum dan mengedikkan bahu. Rasa kesalku luruh perlahan.

"Jadi, sekarang kau punya ponsel baru?"

"Mhmm. Aku tidak mau kau meneriakiku seperti ibu-ibu panik mencari anaknya yang hilang di pasar." Kulihat Ino yang terdiam tapi wajahnya menyiratkan seolah dia masih ingin bertanya tapi berusaha untuk menahan diri.

"Kau sedang menggambar siapa?" Ino menatap buku sketsaku dengan leher memanjang, kedua tangannya berada di sisi tubuhnya, tak berani menyentuh benda itu. Aku tersenyum melihatnya.

"Kakashi Hatake."

"Oooh, dia ada di kota ini sekarang!" Ino berseru girang. "Dia melakukan syuting di Konoha!" Aku tahu, sayang. Aku sangat tahu hal itu. Ino kembali bercerita dengan antusias dan mata berbinar-binar. "Apa kau tahu beberapa hari lalu dia membuat taman kota heboh dengan kemunculannya dan para kru syuting di sana? Semua berkumpul antri hanya untuk mendapatkan high five darinya. Bisa kau bayangkan itu?"

Aku bisa membayangkannya karena aku ada di sana saat itu, Ino. Aku hanya terdiam dan mendengarkan Ino bercerita sebanyak apapun yang dia inginkan.

"Tapi rumornya, ada satu gadis saat itu yang menggodanya. Katanya, sih Kakashi Hatake mendekati gadis itu dan melakukan… melakukan apa, ya? Seperti menyentuh bibir gadis itu dan… entahlah, aku sendiri tak ada di sana." Ino mengedikkan bahu.

Jantungku lagi-lagi berdegup kencang, tapi untuk sesuatu yang lain. Bisa kurasakan tubuhku menggigil tapi aku berusaha menahannya. Suaraku terdengar serak saat berkata, "Yeah? Wah, gadis yang beruntung."

"Kau benar. Dia gadis yang beruntung, kalau cerita itu benar. Soalnya aku mencari-cari artikel tentang itu tapi aku tak menemukannya. Jadi kurasa itu hanya rumor." Ino melirik lagi buku sketsaku dan berkata dengan pelan, "Tapi aku tak keberatan jika harus menggoda Kakashi Hatake."

Aku mendelik cepat padanya. "Ma-maksudmu?"

"Oh, honey bunny sweety, Sakura, siapa yang tidak ingin menggoda seorang Kakashi Hatake? Dia pria tampan, terkenal, kaya raya, dermawan, baik hati, kurang apa lagi? Oh, aku lupa satu hal." Suara Ino berubah rendah. Tubuhnya merapat ke arahku dan berbisik pelan di telingaku. "He's a Daddy's material."

Aku meneguk ludah. Tanganku sedikit bergetar saat menutup buku sketsaku dan menyimpannya ke ranselku. Aku melirik Ino yang kini menatap para mahasiswa mulai memenuhi kelas. Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Dia tidak mungkin tahu mengenai diriku dan Kakashi 'kan?

"Kau tahu Naruto Uzumaki? Temanmu yang punya suara melengking itu? Dia tampan, kurasa. Tapi dia hanya boyfriend's material. Lalu aku pernah bertemu dengan Sasuke Uchiha, anak Teknik Sipil. He's a boyfriend's material too. Mereka sangat berbeda jika disandingkan dengan Kakashi Hatake." Kini suara Ino berubah menjadi penuh damba.

"Ino, apa kau…" Aku bertanya ragu. "Apa kau menyukai pria yang jauh lebih tua dari usia kita?"

"Nah." Ino menggeleng. Matanya kembali beredar di sekeliling kelas. "Tetap saja aku akan mencari pacar seusiaku. Mengenai Daddy's material, kurasa aku hanya akan menjadikan itu sebagai fantasiku."

Mata hijauku menatap kelas yang dipenuhi suara dengungan seperti lebah. Aku berpikir. Ino berkata seperti itu karena semua keinginannya terpenuhi. Meski sama-sama hidup di perantauan, Ino jauh lebih beruntung. Dia memang tidak terlahir dari keluarga yang kekayaannya bisa membuat lidah berdecak kagum ratusan kali. Tapi tetap saja dia orang kaya di mataku. Setidaknya ayahnya bukanlah pecandu. Ibunya bukan wanita yang tak peduli pada rumah tangganya. Dan dia tidak perlu menjadi anak asuh di usia sembilan tahun.

"Sakura," panggil Ino membuatku tertarik keluar dari lamunan. Aku menoleh pada gadis pirang itu yang kini mengendusku.

"Apa yang kau lakukan?" Aku setengah berbisik sambil mendorong wajahnya menjauh dari leherku. Tapi Ino tidak peduli. Dia kembali melakukannya dan kali ini dia mengendus leherku.

"Gucci Guilty."

"Apa?"

"Dari tadi aku mencari-cari aroma ini. Kukira siapa yang memakainya. Ternyata kau," jawabnya sambil menatapku dengan kepala miring ke satu sisi.

"What? No!" Sudah berapa kali aku mengatakan ini, ya? "Tidak, Ino. Aku tidak memakainya. Lagipula Gucci Guilty itu apa? Parfum?"

Ino memutar kedua bola mata indahnya. Dia mengibaskan poni yang jatuh menutupi dahinya. "Tentu saja parfum."

"Mendengar namanya saja, pasti parfum mahal," ujarku sambil mengerutkan hidung, berusaha mengacuhkannya.

"Dan kau memakainya."

"Ino, berapa kali harus kukatakan aku tidak memakainya." Suaraku terdengar mencicit di tengah-tengah percakapan orang-orang di sekitar kami.

"Hidungku tidak pernah salah, Sakura." Kini Ino melipat kedua tangannya ke dada sambil menatapku intens.

Untuk membuktikannya, aku mengangkat kemeja hijau ke hidungku dan menyesap aroma di sana. Uh oh. Aroma ini jelas aroma Kakashi. Aku membawa lenganku ke hidung dan sekali lagi mendapati aroma yang sama tercium di sana. Shit.

"Well?" Salah satu alis Ino terangkat.

"Ini…" Suaraku hilang seketika.

"Itu aroma Gucci Guilty yang harganya mencapai jutaan. Jika kau tidak memakainya lalu dari mana kau mendapatkannya?" tanya Ino dengan nada suara sedikit menuntut. Rasa-rasanya terdengar bunyi 'klik klik klik' di kepala Ino yang membuat mata gadis itu kembali membulat namun kali ini lebih besar seolah memenuhi wajahnya yang mungil. Sialan kau, Ino dan penciumanmu yang bisa mengalahkan anjing pelacak.

Ino masih ingin bersuara tapi dosen masuk membuat ruangan tenang dan perkuliahan dimulai. Meski mataku fokus pada penjelasan dosen di hadapan kami, aku tahu jika Ino mengawasiku dengan mata memicing. Lalu secarik kertas muncul di mejaku.

Kau harus ceritakan semuanya padaku.

Aku menoleh pada Ino yang masih saja melotot padaku. Aku membalas pesannya di kertas. Memangnya apa yang harus kuceritakan?

Sugar Daddy-mu.

Mataku hampir melompat dari soketnya. Aku kembali menoleh pada Ino dan menatapnya ngeri. How did you…

Jangan panggil aku Ino Yamanaka kalau aku tidak tahu, Jidat.

Hmph. Damn you, Pig. Tapi aku tidak menulis kalimat itu. Aku tidak mengirim kembali kertas itu padanya. Lalu secarik kertas lain lagi-lagi tiba di mejaku.

Aku mau makan es krim Capannari.

Aku memijat-mijat pangkal hidungku. Capannari. Itu merk es krim apa lagi?

Aku akan menemanimu belanja. Kau tidak bisa bertemu Sugar Daddy-mu dengan penampilan seperti itu. C'mon, aku hanya ingin membantumu.

Aku melirik Ino yang kini tersenyum. Aku mengangguk pasrah dan Ino langsung mengacungkan kedua ibu jarinya, kali ini dengan senyum yang lebih lebar. Aku tidak tahu apakah itu senyum-tulus-ikhlas-ingin-membantu-karena-dia-adalah-sahabat ataukah senyum-licik-meminta-suap-agar-menutup-mulut. Aku hanya bisa menghela napas yang sepertinya sejak tadi kutahan. Mungkin aku akan menceritakan mengenai diriku yang menjadi Sugar Baby. Tapi aku tidak akan—never ever—bercerita soal siapa yang menjadi Sugar Daddy-ku.

::::

TBC

::::

Pojok Review:

Donat: udah apdet. Thanks

Blebek: thanks.

Hideto-kun1802: yup. Kakashi emang kece mau diapain aja. Thanks.

Ash shey: greget? Thanks.

Gekanna87: mau buat Sakura jadi lebih manja lagi di chap depan. Thanks.

Ai chwann: Sakura juga senyum-senyum sendiri tuh. TLOU? Masih lanjut tp sepetinya saya harus mainin game-nya lagi sementara saya belum sempat. Thanks.

Savanass: udah apdet. Thanks.

Kanonaiko: udah apdet. Thanks.

Wowwoh. Geegee: thanks.

Keyadoringharuno: kita akan menuju ke sana. Saya sudah persiapkan semuanya. Jadi sabar ya. Thanks.

Silverredhatake: gemes ya. Thanks.

Azalea em: kebawa suasana? Wah. Anw thanks.

Silvercerry: haha. Benar-benar skinship. Your welcome. Thanks anw.

Ripyu yang lumayan banyak. Senang membaca ripyu dari kalian, pals. Lalu mengenai Ino sendiri, siapa lagi yang lebih pantas menemani Sakura belanja selain Ino? Apakah Ino ada maksud terselubung? Udang di balik bakwan? Atau benar-benar tulus? Stay with me, 'kay? Lots of love. Thanks buat yang fav/ foll.

Once again, feel free to send PM, review, constructive criticisms and suggestions.