Title: SHOVE
Characters/ Pairing: Hatake Kakashi/ Haruno Sakura
Type: Multichapter
Rating: T
Genre: Romance, General
Warnings: SugarDaddy!Kakashi, SugarBaby!Sakura, Swearing (jika tak suka, silakan kembali)
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
(Kami tidak mencari keuntungan dalam bentuk materi apapun dari penggunaan karakter-karakter ciptaan Masashi Kishimoto)
Non-edited. So all mistakes are mine.
::::
SHOVE
14
Pukul tiga sore aku dan Ino tiba di mal terbesar di kota Konoha. Saat melihat bentuk mal, aku menganga. Maksudku, benar-benar menganga. Holy shit. Langit-langitnya berbentuk kubah yang sangat tinggi dan hampir keseluruhan terbuat dari kaca. Orang-orang keluar masuk seperti aliran sungai yang berbeda jalur. Lantainya pun mengkilap seperti permukaan danau tertimpa cahaya matahari pagi. Musik mengalun lembut, seolah membawa pergi beban setiap pengunjung di sana. Tidak heran orang-orang mendatangi tempat ini. Dunia agak kacau di luar dengan semua polusi dan aktifitas tapi di sini, di dalam bangunan megah berbentuk kubah, ini adalah tempat yang sangat sempurna untuk bersenang-senang.
Ini bukan pertama kalinya aku ke mal. Tapi ini adalah pertama kalinya aku menjejakkan kaki di Mal Konoha, itu sudah jelas. Dan Ino? Dia langsung menggila dan menarik tanganku ke sana kemari memasuki setiap shop, melihat-lihat setiap barang yang ada di dalam sana sebelum meletakkannya kembali. Beberapa kali aku mendapati wajah-wajah SPG langsung masam saat kami keluar tanpa belanja apapun.
"Ino," panggilku. Gadis itu sedang berjalan di depanku dengan kuncir ekor kudanya bergoyang ke kiri dan kanan. Kami baru berjalan sekitar 15 menit dan itu sudah membuat kakiku pegal, mengingat kami ke sini seolah tak ada tujuan. "Kita ke sini untuk apa, sih?"
"Belanja, tentu saja." Ino memutar tubuh melihatku. Sepasang bola mata hijauku berputar. Belanja, tentu saja! Jawaban apa itu? Hidungku berkerut saat Ino melihatku dari ujung kaki hingga ujung rambut lalu menyeringai. Uh oh, perasaanku tidak enak. "Aku ingin kau di make-over."
…
Matahari sudah sepenuhnya tenggelam saat aku dan Ino duduk di tepi air mancur yang terbuat dari batu pualam, menikmati es krim sambil menatap orang-orang yang berlalu-lalang. Kakiku sangat pegal, rasa-rasanya telapak kakiku kini membesar di dalam keds-ku. Jangan-jangan sudah berubah jadi tapak bebek! Aku lalu menunduk untuk menemukan sepasang kakiku terjulur ke depan, kini terbungkus jeans biru muda yang harganya tiga kali lipat uang semesterku. Aku memakai kaos baru lengan pendek berwarna hijau. Bayangkan, cuma kaos dan harganya membuatku sesak napas! Kata Ino, itu adalah kaos merek Armani dan aku langsung… Oh, jadi begini rasanya memakai kaos mahal? Seperti rasa prestise di dalam tubuhku meningkat dua kali lipat, sih. Lalu kata Ino lagi,kaos itu membuat warna kulitku semakin bersinar.
Lalu, ehem, sepasang pakaian dalam baru yang sedang kukenakan, berwarna hijau toska dan berenda di tepiannya. Ini sangat memalukan! Tapi kuakui rasanya sangat nyaman dan begitu lembut di kulitku. Oh, aku juga membeli beberapa pakaian dalam untuk dipakai di event-event tertentu, begitu kata Ino. Event apa yang dimaksud Ino, aku tak mau bertanya lebih jauh lagi. Sudah cukup Ino mencerewetiku soal selera berpakaian saat aku mencobanya satu-persatu. Hei, jangan salahkan aku yang memang tidak begitu up to date mengenai hal-hal seperti ini!
"Kau kenapa, Sakura?" Ino menjilati es krimnya, masih dengan mata menatap sekeliling.
"I feel… weird," jawabku setelah menggigit habis cone milikku. "Maksudku, dengan semua ini."
"Kau hanya tidak terbiasa memakai merk-merk mahal dan terkenal," kata Ino santai tapi kuakui cukup menusuk. Ugh. Tapi aku mengakui apa yang diucapkannya, sih. Ino kembali melanjutkan, "Kau beruntung punya teman sepertiku yang tahu merek-merek terkenal. Kalau kau pergi sendirian, aku tak yakin kau tahu bagaimana cara menghabiskan uang yang diberikan Daddy-mu."
"Ino." Aku mencubit pelan lengan gadis itu. "Jangan terlalu keras!"
"What? Tidak ada orang yang akan memperhatikan kita, Sakura." Ino kembali menjilati es krimnya yang—anehnya—masih tinggal setengah.
"Tapi dari mana kau tahu kalau aku…" Aku tidak melanjutkan kalimatku. Aku merasa malu. Maksudku, aku tidak malu memiliki seorang Kakashi Hatake sebagai Sugar Daddy dan aku menjadi Sugar Baby-nya. Tapi saat orang lain mengetahuinya, entah kenapa aku ingin menenggelamkan diriku di danau saja.
"Aku hanya menebak-nebak," ujar Ino sambil mengedikkan bahu. "Kau yang datang ke kampus tiba-tiba memakai ponsel setara uang semester kali tujuh tahun kuliah plus uang buku dan diktat. Please, Sakura, kau tidak mungkin menerima uang sebanyak itu meski dalam waktu satu bulan non-stop menyanyi di kafe."
Aku menatap deretan tas belanja yang berjejer di dekat kaki kami dan Ino terus berbicara.
"Meskipun kau nantinya mengelak dengan mengatakan hanya berpapasan atau bertabrakan dengan seseorang yang memakai Gucci Guilty, aku tetap tidak akan percaya. Aromanya begitu kuat di tubuhmu. Kalau kau tidak memakainya, berarti kau sangat dekat dengan pemilik parfum itu, minimal… memeluknya."
Aku menatap ngeri pada Ino. Fix, Ino, kau mungkin bisa jadi detektif setelah percakapan ini selesai.
"Tapi ternyata kau tidak mengelak sama sekali." Ino lagi-lagi tersenyum lebar membuatku menghela napas.
"Maaf aku tidak bisa membelikanmu es krim Capannari," jawabku pelan, yang jujur saja hingga sekarang aku tak tahu ada yang namanya es krim Capannari.
"Tidak apa-apa. Kita harus terbang ke Las Vegas kalau mau menikmatinya. Mungkin lain kali kau bisa meminta Daddy-mu membelikanmu tiket pesawat ke sana."
Las Vegas… Aku menerawang. Saat sadar aku bertanya, "Kau tidak apa-apa dengan ini? Dengan aku yang menjadi Sugar Baby?"
"It's your private life." Untuk pertama kalinya sejak kami duduk di tepi air mancur, Ino menatapku. "Meski kau adalah temanku, aku tidak berhak mencampuri urusanmu, selama hal itu membuatmu merasa lebih baik."
"Oh, Ino…" Bolehkah aku memelukmu?
"Lagipula, kalau kau sudah memiliki Sugar Daddy, kau tidak akan meminjam laptopku lagi, 'kan?"
Oke, kutarik kata-kataku barusan. "Pig," ujarku dengan nada bercanda.
"Tapi." Ino kini menghadap padaku sepenuhnya. Sepasang mata aquamarine-nya menatapku serius. "Kita memang teman, Sakura, meski tidak begitu dekat dibanding pertemananmu dengan bocah pirang itu." Maksudnya adalah Naruto. Ok, Ino, jangan berbelit-belit. "Tapi jika pria itu, si Sugar Daddy-mu melakukan sesuatu yang menyakiti hatimu, aku akan menjadi orang pertama yang menghadapinya."
"Pig, kami tidak melibatkan hati," sergahku cepat.
"Aku tahu. Aku mengatakannya hanya untuk berjaga-jaga."
"Ino!" Suaraku kini naik satu oktav. Menyadari hal itu, suaraku berubah menjadi bisikan dan terdengar mendesis. "Baru saja kau bilang tidak ingin mencampuri urusanku, kenapa kau sudah berpikir sejauh itu? Kami memiliki kontrak yang sudah disepakati. Dan jika maksudmu dia akan menyakitiku secara fisik, itu tidak akan terjadi."
"Kau yakin?" Ino memicing.
Aku menggeram pelan seperti beruang kehilangan ikan salmon dan Ino langsung mengangkat tangan.
Aku mendengus setelah memutus tatapan kami. Mataku kini menatap lurus kedai tempat kami membeli es krim barusan. Menyakiti hatiku? Aku sendiri tak yakin dengan kalimat itu. Bagaimana mungkin Kakashi bisa menyakiti hatiku sementara hubungan kami sama sekali tak melibatkan hati dan perasaan? Aku tertarik pada Kakashi—physically—tentu saja. Siapa yang tidak menginginkan pria itu? Fanboy dan fangirl-nya hampir setara. Rela saling sikut demi melihat wajahnya meski dari jarak 100 meter sekali pun. Mungkin saja rela saling tikam agar bisa di posisiku sekarang. Aku tiba-tiba bergidik membayangkan para fansnya yang akan mencabik-cabik tubuhku hingga tak tersisa sama sekali.
Aku tahu Kakashi adalah pria yang baik. Aku bisa merasakannya meski hanya sekilas melihatnya. Oke, beberapa kali aku mendapatinya nampak arogan tapi bagiku tidak masalah selama kebaikannya jauh lebih besar.
"Sakura?"
"Hm?" Aku tertarik ke dunia nyata saat menyadari Ino menjentikkan jarinya di depan mataku. "Maaf, aku hanya… berpikir."
"Apapun yang ada di pikiranmu sekarang, enyahkan. Nikmati saja apa yang diberikan Sugar Daddy-mu, Jidat, dan…" Tangan Ino melingkar di lenganku dan memeluknya. "Maafkan kata-kataku barusan jika menyinggungmu."
"Oke."
"We're good now?"
"Apa kau bersikap sebaik ini karena mengharap sesuatu?"
"Tentu saja. Aku berharap kau mentraktirku makan, setidaknya membelikanku milkshake."
Artinya dia masih Ino yang dulu. Dia juga tidak bertanya siapa Sugar Daddy-ku jadi kurasa untuk sementara aku merasa aman. Kakashi aman. "Hanya itu? Nothing else?" Kulihat Ino menggeleng dan senyum—yang akhirnya kuputuskan adalah senyum tulus setelah setahun berteman dengannya—berkembang di bibirnya, aku berkata, "We're good now."
…
Setelah mengantar Ino kembali ke asrama mahasiswa, aku kembali masuk ke dalam grab car menuju tempat tinggalku. Sesekali aku melirik ponsel dan sedikit merasa kecewa karena Kakashi belum juga menghubungiku, setidaknya membalas pesanku. Aku tahu dia pria yang sibuk tapi aku juga tahu jika dia bisa mengambil break di sela-sela syuting.
Aku turun dari mobil di depan gedung tempatku tinggal, mengambil tas-tas belanja dari bagasi dibantu driver. Aku mengangkat tas-tas belanjaanku yang rupanya cukup banyak hari itu. Hmph, tadi aku tidak merasa berat karena Ino membantuku membawanya. Aku melangkah menuju gedung untuk mengambil jalan memutar ke basement dan langkahku berhenti seketika saat mendapati sosok bertudung hitam keluar dari sebuah mobil van putih yang terparkir di luar gedung.
"Penculik!" seruku sambil melempar tas-tas belanjaanku ke arah sosok itu. Aku menduga sosok itu pasti ingin menculikku, mengingat aku seorang gadis manis yang memakai Armani dengan tas-tas belanja menggantung di kedua tangan dan lenganku. Tentu saja aku sasaran empuk mereka. Dasar begal sialan!
"Sakura, ini aku! Ssshhh, tenanglah! Kau bisa membuat orang-orang keluar dan memergoki kita!"
Sosok itu membuka tudungnya dan aku terkesiap mendapati rambut perak berdiri di depanku. Aku mengenalinya meski dia memakai masker yang menutup setengah wajah tampannya. "Kakashi!" Aku mengatupkan kedua tangan ke mulut. Suara tertahan di leher, membuatnya terdengar seperti kucing terjepit pintu. "Holy crap! Apa yang kulakukan? Hampir saja aku menendang selangkanganmu!"
"Sebaiknya kau minta maaf," sahutnya sambil menggeleng.
"Kau yang datang tiba-tiba seperti mau menyergapku, huh. Jangan salahkan aku kalau aku menganggapmu penculik. Dan ada apa dengan van putih?" Aku mengangkat tas-tas belanja yang berserakan di lantai. Wajahku seketika memanas saat sepasang pakaian dalam berwarna pink, mengintip dari balik kotak berpita. Buru-buru aku mengaturnya kembali sekaligus mengatur napasku. Aku bisa mati berdiri karena malu kalau Kakashi melihatnya!
"Aku menyewanya." Kakashi memasang kembali tudungnya dan menyandarkan tubuh jangkungnya ke badan van. "Orang-orang mengira aku adalah teknisi atau semacamnya."
Bibirku membulat tanda mengerti.
"Semuanya lengkap?" tanya Kakashi sembari memberikan beberapa tas belanjaanku. Aku menghitungnya dan mengangguk singkat.
"Dari mana kau tahu kalau aku…" Aku menyampirkan rambutku ke belakang telinga dan menatap pria itu yang tak kunjung membuka maskernya. Dari balik tudung aku bisa merasakan tatapannya lebih intens dari biasanya.
"Kau lupa aku pernah mengantarmu ke sini," jawabnya datar dengan kedua tangan terlipat di dada. "Aku masuk ke gedung dan mencarimu. Tapi yang kutemukan adalah kau tidak tinggal di dalam gedung ini."
Aku menunduk, menemukan keds-ku jauh lebih menarik dibanding wajah Kakashi saat ini. Dia terdengar marah. "Actually, aku tidak pernah memberitahumu aku tinggal di mana tepatnya," gumamku.
"Exactly. Kau memang tidak memberitahuku secara tepat tapi tetap saja kau berbohong padaku. Kau tinggal di basement, bukan di dalam gedung lantai lima ini." Kakashi terdengar menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan keras.
Aku tak berani mengangkat wajah. Seorang pria yang tampaknya akan marah, memberikan trauma tersendiri untukku. Tiba-tiba saja aku teringat dengan pria pecandu narkoba dari masa laluku.
"Kenapa kau tidak bilang?" Tubuh Kakashi menegak dan kini melangkah mendekatiku. Aku mengambil satu langkah mundur. Aku merasa dia sangat mengintimidasiku saat ini, dengan tubuh jangkungnya dan suara bariton rendah itu. "Sakura," panggilnya lagi. "Ada apa dengan dirimu? Kau harusnya tidak berbohong mengenai hal ini."
"Please…" ujarku dengan suara tercekat, memberanikan diri untuk menengadah. "Buka maskermu, Kakashi, agar aku tahu yang berdiri di depanku saat ini adalah dirimu dan bukan dia." Aku masih menatapnya saat mata sayu Kakashi melebar, seakan menyadari sesuatu. Dia lalu menurunkan maskernya dan segera memeluk tubuhku yang kini gemetar.
"Sakura…" Suara Kakashi terdengar lembut, bagai senandung aromaterapi, membuat detak jantungku yang tadi bertalu-talu cepat kini berangsur tenang. "Shit, apa yang telah kulakukan?"
Aku menenggelamkan wajah di dada bidang Kakashi, menyesap aroma tubuhnya yang maskulin sekaligus memabukkan. Kedua tanganku menggenggam erat ujung jaketnya, tidak membiarkan pria itu menarik tubuhnya dariku. "Kenapa kau tidak membalas pesanku?"
"Apa?" Kakashi melonggarkan pelukannya, mengangkat wajahku dan mata kami bertemu. "I can't hear you, Baby."
"Kenapa kau tidak membalas pesan yang kukirim seharian ini?"
"Oh, Baby, aku begitu sibuk di lokasi dan tiba-tiba sajaaku berpikir untuk memberimu kejutan dengan mendatangi tempat tinggalmu," ujar Kakashi pelan sambil mengusap-usap tulang pipiku dengan ibu jarinya. Dia melepas tubuhku, lalu berbalik untuk membuka pintu mobil dan mengambil sesuatu dari dalam sana. Kini dia berdiri di hadapanku dengan sebuah tas kecil bertuliskan Gucci Guilty dengan sangat jelas karena mengkilap tertimpa cahaya lampu jalanan. Oh, c'mon ada apa dengan merk ini yang sepertinya tak bisa meninggalkanku?! Kakashi mengangkat tas kecil itu sambil bertanya, "Kau tidak ingin mengajakku masuk ke flatmu?"
"Kau janji tidak akan mengatakan yang macam-macam?" tanyaku dengan khawatir. Kulihat Kakashi menggeleng dan saat menatap tas-tas belanjaanku, kudapati salah satu sudut bibirnya berkedut.
"I promise," ujarnya kali ini dengan senyum yang luar biasa menawan. "Lagipula aku ingin bicara denganmu. A lot."
Aku tidak peduli jika Kakashi melihatku sedang menengadah pada konstelasi bintang di langit malam.Saat mataku kembali bertemu dengan matanya, aku tersenyum manis dan berkata, "Aku juga ingin bicara denganmu."
::::
TBC
::::
Saya putuskan Ino menjadi teman Sakura. Nggak rela dia jadi teman yang nusuk dari belakang haha. Jadi hubungan Ino dan Sakura aman kok. Dan pengetahuan Ino soal Sugar Daddy… jangan panggil dia Ino Yamanaka kalau nggak tahu tentang hal itu. Tapi bukan berarti dia adalah Sugar Baby juga. Kalian bisa melihat hints dari percakapan dia dan Sakura di chap ini dan chap sebelumnya kalau dia bukan Sugar Baby. Hanya seorang gadis yang memiliki pola pikir yang cukup terbuka.
Untuk chap depan? Lots of conversation between them. Tapi nggak hanya itu, pals. Konversasi tanpa dibarengi aksi mungkin akan terasa membosankan? #wink. So stay with me, 'kay?
(Sekali lagi, apdet dulu, edit kemudian. Haha. Gomen kalau sudah ada yang membaca chap ini sebelum direvisi)
Once again, feel free to send PM, review, constructive criticisms and suggestions.
