Title: SHOVE

Characters/ Pairing: Hatake Kakashi/ Haruno Sakura

Type: Multichapter

Rating: T

Genre: Romance, General

Warnings: SugarDaddy!Kakashi, SugarBaby!Sakura, Swearing (jika tak suka, silakan kembali)

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

(Kami tidak mencari keuntungan dalam bentuk materi apapun dari penggunaan karakter-karakter ciptaan Masashi Kishimoto)

Non-edited. So all mistakes are mine.

::::

SHOVE

15

Begitu masuk ke flat, aku bisa bernapas agak lega, mengingat tadi pagi aku menyempatkan diri untuk berbenah. Flatku memang tidak luas karena itu aku selalu berusaha merapikannya agar indah dipandang. Tinggal bersama ayah pecandu dan seorang ibu yang cuek terhadap rumah tangganya sendiri, telah menempa diriku untuk bersikap mandiri. Saat tinggal bersama Tsunade pun, aku masih bersikap sama. Itu karena aku tak suka menjadi beban orang lain.

Setelah meletakkan tas-tas belanjaku ke atas tempat tidur, aku kembali menemui Kakashi dan mendapatinya berdiri di tengah ruangan. Melihatnya, napasku seolah tercekat di tenggorokan. Dia tampak begitu gagah dan tubuh jangkungnya terasa mendominasi flat kecil milikku.

"Jadi kau benar-benar tinggal di sini," ujarnya dengan mata mengitari seluruh ruangan.

"Kau sudah janji tidak akan berkata macam-macam." Bibirku mengerucut dan saat mata kami bertemu, aku terdiam sambil menggigit bibir bawah.

"Aku tidak berkata yang macam-macam. Aku hanya … " Kakashi terdengar berdehem. " … mengonfirmasi."

Kedua bahuku mengedik. Apa aku bisa mengelak? Tentu saja tidak. Aku lalu menarik napas panjang sebelum melangkah mendekati pria itu, berdiri di hadapannya lalu melingkarkan kedua lenganku di pinggul rampingnya. Wajahku kembali terbenam di dada bidangnya dan untuk yang kesekian kalinya, aku menyesap aroma tubuhnya yang maskulin. Gucci Guilty.

"Maafkan aku karena tidak memberitahumu yang sebenarnya."

"Sakura … " Terdengar hela napas dari Kakashi. "Aku sempat merasa kesal … " Ow. Ini kelihatannya buruk. Aku menarik lenganku dari tubuh Kakashi tapi pria itu dengan cepat menahannya sebelum mengunci kedua lengannya sendiri ke tubuhku. "Dengarkan aku, baby. Tadi, ingat itu. Aku seperti orang bodoh yang bertanya ke sana kemari mencarimu. Tapi aku langsung ingat bahwa kau pasti punya alasan tersendiri untuk tidak mengatakannya padaku."

Aku memejam mata, mendengar Kakashi terus berbicara.

"Tapi satu hal yang harus kau ingat." Kakashi mengeratkan pelukannya ke tubuhku lalu berkata, "Kau harus percaya padaku. Jika kau bisa bercerita tentang dirimu yang seorang anak asuh, kenapa tidak dengan flat ini?"

Aku mengangguk pelan. "Okay, Daddy. I'm sorry."

"Good girl." Kakashi menepuk-nepuk kepalaku dengan telapak tangannya yang besar, membuatku menengadah padanya dengan tatapan mendamba. Aku berdehem. Maksudku, tatapan fangirl kepada aktor favoritnya. Aku pun menyeringai. "What's matter, baby girl? Setengah jam lalu kau meneriakiku 'pencuri' dan sekarang kau tampak begitu senang."

Kulepaskan kedua tanganku dari tubuh Kakashi. Kuraih tangannya dan menariknya ke bilik kamarku. Ruang tengah dan kamar tidurku dipisahkan oleh sekat yang terbuat dari anyaman bambu, menggantung di antara dua tiang kayu ukuran sedang.

"Come. I have something to show you."

Aku memperlihatkan tas-tas belanja dan mengeluarkan isinya satu persatu. Beberapa pasang celana jeans, kaos dan kemeja yang bisa kupakai sehari-hari, piyama-piyama yang terbuat dari satin berwarna biru navy, hijau dan merah marun serta dua pasang keds yang bisa kupakai ke kampus atau sekedar jalan-jalan keliling kota.

"Aku pergi bersama Ino," ujarku sambil mengusap-usap piyama satin ke pipiku. Rasanya begitu sejuk dan lembut.

"Dan siapa Ino ini?"

Terdengar suara berderit dari kasur tuaku saat Kakashi menghenyakkan bokong seksinya di sana. Aku yang lebih dulu duduk di sana, menatapnya sambil menggigit bibir bawahku, mencoba menahan senyum yang sedikit mengarah pada mesum. Hei, jangan salahkan aku! Siapa sih, yang tidak menginginkan Kakashi di tempat tidur mereka? Aku berdehem, mencoba menenangkan diri.

Aku tersenyum membayangkan Ino di asramanya yang mungkin sedang mencoba beberapa pasang baju yang kubelikan. Ino adalah gadis yang senang bicara blak-blakan, kadang sedikit menyinggung tapi itu tidak masalah. Meski dia tahu keadaanku sekarang, dia tetap ingin berteman denganku. Jadi Ino adalah sahabatku, bukan hanya sekedar teman. "Yeah, dia adalah sahabatku," ujarku, lebih kepada diriku sendiri.

"Sepertinya kalian sangat dekat. Apa dia tahu kalau kau … " Kakashi tidak menyelesaikan kalimatnya. Aku menoleh padanya dan sadar ternyata dia telah melepas hoodie-nya. Air liurku mungkin saja menetes kalau aku tidak merapatkan bibirku dengan cepat. Melihat dia dalam balutan kaos putih polos dan oh God rambut peraknya yang begitu menakjubkan, membuatku seketika sadar untuk menahan hasrat yang aku tidak tahu dari mana asalnya. Apa yang terjadi pada diriku?!

"I told her everything!" kataku cepat dengan memalingkan wajah. Aku tidak ingin Kakashi melihat bahwa kini darah mengalir tak terbendung ke leher, telinga dan wajahku. Shit, perutku bergejolak lagi.

"Everything?" Kakashi memiringkan kepala ke satu sisi. Salah satu alisnya terangkat. Terdengar nada khawatir dalam suaranya, membuatku langsung mendekatinya, bersimpuh di depannya dan merengkuh wajahnya dengan kedua tangan mungilku.

"Tidak, Daddy. Maaf jika kau salah tangkap. Aku hanya memberitahunya yang penting-penting saja tapi tidak dengan identitasmu, I swear. Jika kau memintaku untuk mempercayaimu, kau juga akan melakukan hal yang sama terhadapku, bukan?"

Tampak gurat kelegaan bermain di wajah tampan Kakashi. "Aku percaya padamu, baby girl." Matanya nampak berkilat. Aku sadar posisi wajah kami begitu dekat. Dan sejak kapan tangan Kakashi ada di pinggulku?! Ya Tuhan, rasanya aku ingin pingsan! "Omong-omong, aku ingin melihatmu memakai piyama baru itu. Yang warna hijau."

Aku mengerjap-ngerjap sebelum bergerak menjauh dari Kakashi. Rasa hangat dari telapak tangannya di pinggulku tadi menghilang. Entah kenapa rasa kecewa menyengatku. Kukira dia akan menciumku, kukira dia akan mengangkatku ke dalam pangkuannya, ternyata aku salah. Hahaha. Aku tertawa. Tertawa pada diriku yang ternyata berharap begitu banyak.

"Sakura … " panggil Kakashi tapi aku tak bisa menatap wajahnya. Aku begitu malu pada diriku sendiri. "Sakura … "

Kurasakan jemari telunjuk pria itu menyentuh daguku lalu mengangkat wajahku. Aku merasa bertingkah seperti anak kucing yang marah pada majikannya karena tak diajak bermain.

"Sakura, baby, look at me."

Oh, bagaimana mungkin aku bisa menolakmu, Tuan Kakashi, jika kau memakai suara itu lagi? Aku membuka mata tapi tatapan kami belum bertemu. Telapak tangan Kakashi lalu menggenggam rahangku dan ibu jarinya mulai bermain di sudut bibirku, menelusuri garis rahangku sebelum menyelusupkan jari jemarinya ke helai rambutku dan memijat-mijat kulit kepalaku. Aku melenguh pelan, mataku kembali terpejam dan kepalaku miring merasakan kenikmatan dari pijatannya. Hei, Kakashi apa kau pernah kerja di salon? Mataku langsung terbuka dan seketika aku tertawa mendengar kata-kataku barusan. Kakashi? Kerja di salon? Mwahahaha!

"Oke, ini sangat konyol!" Aku meletakkan kedua tangan di dada Kakashi, meremas kaosnya. Tawaku terus saja berderai membuat Kakashi heran. Aku menjatuhkan tubuh ke kasur, memeluk perutku yang sakit karena tertawa begitu keras. "Come, Daddy." Aku menepuk-nepuk sisi kosong di sebelahku tapi Kakashi tak bergeming. Aku lalu menatapnya dengan sepasang mata hijauku, melebarkannya. "Please?"

Kakashi terdengar mengerang sebelum berbaring di sebelahku. "Oke, kau harus menjelaskannya, Sakura."

Aku menatap langit-langit. "Saat memijat kepalaku tadi, aku bertanya-tanya apakah kau pernah kerja di salon," ujarku di sela-sela tawa yang mulai mereda. "Dan pemikiran itu terasa sangat konyol! Kakashi Hatake? Bekerja di salon? Aku tidak bermaksud meremehkan orang-orang yang kerja di salon, sama sekali tidak. Sungguh. Pemikiran itu terlintas begitu saja, maafkan aku!"

"Aku pernah hidup di jalan selama empat tahun."

Mulutku tiba-tiba terkatup rapat. Perlahan aku menoleh pada Kakashi yang kini menatap langit-langit. Gurat-gurat keletihan tergambar jelas di wajahnya. Kedua tangannya berada di perutnya. Kaki jenjangnya sedikit menggantung di tepi tempat tidur.

"Keluargaku tidak seharmonis yang orang-orang pikirkan. Ayahku seorang pemabuk dan sering memukuliku karena itu aku kabur. Aku hidup menggelandang selama empat tahun sebelum sebuah agensi model menemukanku. Aku dilatih hingga usiaku cukup matang untuk diorbitkan."

Kakashi meletakkan salah satu lengannya di belakang kepala dan terus bercerita.

"Aku pun pernah menjadi Sugar Baby, asal kau tahu."

Aku terkesiap. Telingaku tidak salah dengar 'kan? Kakashi? Sugar Baby? What the fuck?

"Ada aturan tak tertulis dalam dunia showbiz. Untuk mempertahankan popularitas, kau harus memiliki sponsor. Sponsor inilah yang menyediakan semuanya. Semuanya. Tapi kau harus membayar karena apa yang mereka sediakan bisa dibilang adalah hutang. Tak ada negosiasi."

"Sponsorku adalah salah satu produser terkenal, seorang wanita yang tentu saja luar biasa cantik. Dia membiayai pendidikanku, memberiku apartemen pribadi saat usiaku masih 16 tahun, mengurus semua keperluanku, salah satunya fans meeting. Semuanya terasa begitu mudah. Aku tidak perlu memikirkan yang macam-macam. Tapi saat usiaku 17 tahun aku mulai berpikir untuk dikenal dengan usahaku sendiri. Aku tidak ingin diterima casting hanya karena dia memiliki koneksi dengan salah satu staf tertinggi. Aku ingin dikenal karena bakatku, karena kemampuanku, karena usahaku. Bukan karena aku telah memberikan seks paling hebat yang pernah diterimanya."

"Oh, Kakashi … " Hanya itu yang mampu keluar dari bibirku dengan suara lirih. Aku menatap pria itu dengan air mata berlinang membasahi pipiku. "Aku … aku … " Suaraku tercekat, seperti ada bola tenis yang tersangkut di leherku.

"Pada akhirnya aku membicarakan hal yang mengganjal hatiku padanya. Kukira dia akan marah tapi ternyata tidak. Dia adalah wanita dewasa yang bisa menerima semuanya dengan kepala dingin dan hanya tersenyum padaku sambil berkata, 'Sudah waktunya kau mandiri, Kakashi. Sudah waktunya aku melepasmu dan membiarkanmu terbang dengan sayapmu sendiri.' Dan di sinilah aku sekarang. 19 tahun berkarir dengan mengandalkan kaki dan tanganku sendiri."

Aku sesenggukan saat Kakashi menceritakan kisah hidupnya. Ya Tuhan, betapa aku malu pada diriku sendiri. Betapa aku membuat diriku menjadi orang yang paling kesulitan di dunia sebelum bertemu Kakashi. Apalah arti kisah hidupku dibanding dirinya? Kakashi memiliki kehidupan yang jauh-jauh-jauh lebih sulit daripada diriku. Aku masih beruntung bertemu Tsunade dan Shizune, mencegahku terlempar dalam kehidupan jalanan yang kutahu pasti sangat keras untuk dijalani.

"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku." Leherku begitu sakit karena menahan tangis dan akhirnya aku mengeluarkannya. Menangis terisak-isak dengan kedua telapak tangan menutup wajahku. "Aku tidak tahu, aku tidak tahu, maafkan aku … "

Kurasakan tangan Kakashi merengkuh kepalaku, lalu membawa tubuh mungilku dalam dekapannya.

"Sshh … aku yang harus minta maaf, Sakura. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu menangis seperti ini."

"Tapi-tapi ini … " Aku tak sanggup meneruskan kata-kataku. Dadaku begitu sakit. Apa yang membuatmu bertahan, Kakashi?

"Ada banyak orang di luar sana yang kehidupannya jauh lebih tragis daripada kita, Sakura. Salah satu selebritis yang baru saja akan merintis karir justru ditemukan tewas gantung diri karena harus melayani 20 sponsor. Kau bisa bayangkan?"

Aku tahu siapa selebritis yang dimaksud itu. Beritanya bahkan beredar dengan luas beberapa tahun lalu.

Aku menarik napas dengan sesenggukan lalu menengadah pada Kakashi. Pipiku basah oleh air mata dan aku sadar, sejak perundungan yang kuterima di usia sembilan tahun, ini adalah kali kedua aku menangis keras. "Ayahku pecandu narkoba. Dia juga sering memukuliku. Di luar tadi, saat kau terlihat marah aku memintamu untuk membuka masker, agar aku tahu bukan ayahku yang sedang memarahiku. Trauma itu masih kubawa hingga sekarang, Kakashi.

"Oh, baby, I'm sorry." Kakashi kembali memelukku erat. Kepalaku tepat berada di dadanya, membuatku bisa mendengar jantungnya berdetak begitu cepat. "Itulah kenapa kita harus membicarakan masalah ini, bukan? Aku ingin kita terbuka satu sama lain, membangun kepercayaan itu."

"Apa kau tidak masalah memperlihatkan sisi ini pada orang lain?" Ya, untuk pertama kalinya aku melihat sisi lain yang tak akan pernah bisa kau temukan saat dia berada di layar kaca. Sisi yang memperlihatkan sebuah kejujuran, sebuah kerapuhan dari seorang pria yang dianggap sempurna oleh dunia.

"Kau yang pertama," jawab Kakashi pelan. "Mei tahu kisahku tapi aku tak pernah menunjukkannya."

"Tidak dengan Sugar Babies-mu yang sebelumnya?" I don't know why suddenly I'm feeling so insecure. Tapi saat melihat Kakashi menggeleng dan sorot mata itu memperlihatkan sebuah ketulusan dan kejujuran, aku tersenyum. "Kau harus menceritakan tentang mereka kapan-kapan."

"Pasti, Sakura, pasti."

Mungkin karena efek dari menangis seperti anak kecil plus belanja seharian, aku merasakan lelah luar biasa menyergapku. Aku menguap lebar, mendengar tawa kecil dari Kakashi dan diiringi aroma tubuh pria itu, mataku perlahan menutup dan aku tertidur, masih dalam dekapannya.

Satu-satunya hal yang kusesali saat terbangun adalah tidak memakai piyama satin seperti yang disarankan Kakashi. Uh, dia pasti merasa sedang memeluk boneka buluk. Aku merasakan tangan pria itu masih melingkar di pinggulku, membuatku agak sulit bergerak. Dengan susah payah aku menggeliat, menciptakan sedikit jarak agar bisa meraih ponsel yang kuletakkan di bufet dekat tempat tidurku. Pukul dua dini hari. Wow, aku tidak menyangka jika Kakashi akan tinggal hingga jam segini. Setelah menjatuhkan begitu saja ponselku ke kasur, aku kembali menatap Kakashi yang sedang terlelap.

Wajah Kakashi terlihat lebih lembut, garis-garis di antara alisnya tak terlihat, membuatnya nampak lebih muda dari usia sesungguhnya. Ujung jariku lalu memindahkan helaian rambut perak yang jatuh di pelipisnya. Garis mukanya bagai embun di pagi hari, sejuk dan menyegarkan. Dia terlihat tenang. Satu-satunya gerakan dari tubuhnya adalah dadanya yang naik turun dengan teratur dan napas yang terdengar halus dan pelan. Sangat sulit dibayangkan bahwa pria yang sedang terlelap di sebelahku ini, di tempat tidur murah dan kasur yang berderit seperti punggung orang yang sudah uzur, adalah pria yang menjadi perbincangan dan idola bagi hampir semua kalangan usia.

Telingaku mendengar bunyi denting berkali-kali dari ponselnya. Uh, apa yang harus kulakukan? Mungkin saja itu Mei yang menghubunginya atau sesuatu yang lain. Apa aku harus mengambil ponselnya? Aku menggeleng kuat. Bagaimana pun, Kakashi masih memiliki batas privasi yang tak boleh kulewati. Jadi aku memilih untuk membiarkan ponsel itu. Kalau pun Kakashi terbangun, itu karena dia harus membuka ponselnya, bukan karena aku yang membuka ponselnya.

Aku tersenyum. Dengan sangat hati-hati aku bergerak turun dari tempat tidur, berusaha untuk tak menimbulkan suara. Kaki telanjangku menjejak di lantai yang cukup dingin lalu melangkah di tepi tempat tidur untuk menatap Kakashi. Aku tertawa sangat pelan melihat kakinya menggantung setengah di ujung tempat tidur. So adorable.

Aku lalu berjongkok, perlahan melepas kedsnya yang masih terpasang sebelum menarik kedua kaos kakinya. Aku menyusun alas kaki Kakashi di bawah tempat tidur lalu beralih pada hoodie miliknya dan melipatnya, meletakkan benda itu tepat di samping kepalanya. Aku ke toilet untuk buang air kecil sebelum ke dapur, merebus air agar bisa meneguk secangkir kecil kopi hitam.

Kuletakkan cangkir kopi ke atas meja lalu duduk di kursi kayu menghadap Kakashi yang kini tidur tengkurap. Oh, kakinya pasti pegal saat dia bangun. Aku menahan tawa, membuka buku kuliah dan mulai mencatat poin-poin penting yang ada di dalamnya.

Aku terbangun bukan karena alarm dari ponselku atau deringan dari ponsel Kakashi. Aku bahkan tak ingat kalau telah kembali ke tempat tidur. Seingatku, aku menghabiskan waktu membuat catatan kuliah dengan duduk di atas kursi. Aku mengerang pelan, merasakan pegal luar biasa pada kedua kakiku. Aku menepuk-nepuk sisi lain tempat tidurku dan tak menemukan Kakashi di sana. Aku panik. Aku mencari-cari keberadaan pria itu. Setengah berlari aku ke ruang tengah dan menemukannya kini berdiri tegak di depan pintu.

"Daddy?"

Kakashi tak menoleh padaku saat berkata, "Ada orang mencarimu, Sakura."

"Huh?" Buru-buru aku mendekati Kakashi dan kini berdiri di sebelahnya. Kakashi bergeser sedikit untuk memberiku ruang. Aku lalu mengintip dari lubang kecil yang terpasang di pintu untuk ikut melihat keluar. Aku terkesiap membuat Kakashi menoleh padaku.

"Kenapa?"

"Pemilik gedung. Aku ingat aku telat membayar sewa."

"Begitu?"

Aku mengedikkan bahu.

"Kalau begitu kita harus menemuinya," ujar Kakashi kemudian.

"Kita? Eh, jangan. Biar aku saja!" cegahku cepat saat Kakashi akan membuka pintu. "Kau di dalam saja. Jangan sampai dia tahu akan keberadaanmu. Semuanya bisa menjadi lebih buruk." Nampak rahang Kakashi berkedut pelan. "Please, Daddy?"

Kakashi menarik napas panjang, mengusap pipiku lembut dengan buku-buku jarinya dan aku melihatnya menghilang di balik pintu toilet. Aku kembali menghadap pintu, memasang senyum semanis mungkin sebelum membuka pintu.

::::

TBC

::::

Wow. Saya sendiri bahkan terkejut melihat Kakashi menceritakan masa lalunya yang juga tak kalah mirisnya dari kehidupan Sakura. Apa yang terjadi padaku? Saya ngetiknya ngalir aja dan inilah hasilnya. Hanya ingin memperlihatkan bahwa tak ada seorang pun yang sempurna di dunia ini. Bahkan dewa-dewi pun memiliki kekurangan. Seperti Thor di Avengers yang bahkan diputusin Jane, yang notabene adalah manusia.

Lalu dialog tentang selebriti yang meninggal karena bunuh diri akibat dipaksa melayani 20 sponsor itu adalah kisah nyata. Kisahnya sendiri kalau nggak salah malah 30 sponsor yang rupanya adalah para petinggi di dunia industry hiburan. Dia mati karena depresi berkepanjangan. Bagi pecinta kpop/ kdrama pasti tahu tentang ini.

Seperti biasa, saya akan mempublish chap ini lalu mungkin saya akan kembali merevisinya. Stay with me! As usual, silakan tinggalkan jejak dalam bentuk Review. Terima kasih juga bagi yang sudah Fav n' Foll fic gaje ini.