Title: SHOVE

Characters/ Pairing: Hatake Kakashi/ Haruno Sakura

Type: Multichapter

Rating: T

Genre: Romance, General

Warnings: SugarDaddy!Kakashi, SugarBaby!Sakura, Swearing (jika tak suka, silakan kembali)

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

(Kami tidak mencari keuntungan dalam bentuk materi apapun dari penggunaan karakter-karakter ciptaan Masashi Kishimoto)

Non-edited. So all mistakes are mine.

::::

SHOVE

16

Aku memerhatikan pria bertubuh ceking seperti galah—The Landlord—menghitung uang sewa yang kuberikan. Dia menyeringai tipis sambil memasukkan uang ke dalam tas pinggang yang selalu dipakainya ke mana saja. "Tumben kau bayar tepat waktu," ujarnya dengan suara cempreng, membuatku harus menahan diri untuk tidak memutar kedua bola mataku.

"Bukankah itu bagus?" Aku mengeratkan cardigan biru navy ke tubuhku, pura-pura menguap dan memasang tampang penuh kantuk agar pria itu segera pergi. Jujur saja, sebenarnya aku masih mengantuk. Aku masih ingin bergelung di pelukan Kakashi, mmmm …

"Yayaya." Si ceking mengangguk-angguk pelan.

"Are we done?" tanyaku tak sabar.

"Kau tahu siapa pemilik van putih di luar?"

Mendengarnya, jantungku langsung berdegup kencang. Aku menatap pria itu dengan mata bulatku dan berpikir jika dia pasti tahu bahwa aku mengenalnya. Tentu saja! Kakashi mencariku hingga ke lobi dan bertanya sana-sini. "Temanku," jawabku akhirnya.

"Beri tahu temanmu untuk segera menyingkirkan van-nya. Benda itu menghalangi jalan masuk gedung."

"Tentu, tentu saja. Ada lagi?" Shit, kenapa aku bertanya seperti itu?

"Tidak ada lagi, Haruno. Sering-seringlah bayar tepat waktu." Pria itu menyeringai lebar sambil menepuk-nepuk pundakku. Aku sudah tak tahan untuk tidak memutar kedua bola mata dan syukurlah dia sudah pergi saat aku melakukannya.

Aku kembali ke dalam flat mungilku, dengan dinding-dinding bata berwarna hitam kusam, mencari keberadaan Kakashi. Tidak sulit menemukan pria itu tengah berdiri di toilet, di depan cermin dengan titik-titik air masih melekat di wajah dan rambutnya. Sepasang mata kami bertemu di cermin.

"Hei."

"Hei."

Aku melangkah masuk ke toilet untuk memeluk pinggul rampingnya dari belakang. "Apa yang kau lakukan?"

"Cuci muka?"

Aku meraih handuk bersih berwarna putih yang tergantung tak jauh dari wastafel lalu menepuk-nepukkannya di wajah tampannya. Melakukannya pun aku harus berjinjit. Derita orang bertubuh kecil ya gini. "Mau kubuatkan kopi?" Kulihat Kakashi menggeleng. Dia lalu memutar tubuh, bersandar pada tepi wastafel dan sekali lagi, melingkarkan lengan panjangnya ke pinggangku.

"Kau tidak bisa lagi tinggal di sini."

Alisku terangkat. "Kenapa?"

"Ini flat yang tak layak kau tempati. Kau bahkan tidak punya air panas dan penghangat ruangan, god damnit!"

Pelukanku melonggar di pinggulnya, aku mundur perlahan untuk menatap Kakashi lebih jelas. Dahinya berkerut, rahangnya berkedut. Kepalanya menunduk untuk menatapku, sangat jelas rasa kasihan tersirat di mata abu-abunya. I hate this. "Kau sudah janji untuk tidak berkata yang aneh-aneh."

"Aneh? Aku hanya mencoba untuk realistis. Apa kau sudah lupa dengan agreement kita? Oh, Baby, mintalah padaku apapun. Just name it dan aku akan menyediakannya." Kedua tangan Kakashi kini menggenggam rahangku. Suaranya berubah menjadi bisikan. Bisikan yang sangat seksi bagiku, ya Tuhan. "Just say it."

"Daddy?"

"Yeah, Baby?"

"Aku … " Aku menarik napas panjang. Kedua tanganku menggenggam erat kaos putihnya. "Aku mau apartemen baru."

"Itu saja?" Ibu jari Kakashi lagi-lagi bermain di tulang pipiku, satu kebiasaan darinya yang sudah sangat kuhapal tapi tetap saja selalu mengirim getaran-getaran hangat ke sekujur tubuhku.

"Aku tidak mau apartemen bertingkat." Bahuku mengedik.

"Done."

"Oh, dan Daddy lupa dengan boneka Siberian Husky-ku."

Suara tawa Kakashi yang renyah pun pecah, memenuhi seisi ruangan flatku, membuatku ikut tertawa. Kedua tangannya lalu merengkuh kepalaku, menariknya ke dadanya. "You're so adorable I can't stand it!"

Kedua tangannya berpindah ke pinggangku, menuruni pahaku, melebarkan jari-jemarinya tepat di bagian bawah bokongku membuat wajahku seketika berasap—ap-apa ini? Apa yang dia lakukan?! Aku mengerjap-ngerjap tak terkendali dan dengan kecepatan tak terduga dia mengangkat tubuhku seolah mengangkat sebuah boneka dan refleks aku melingkarkan kedua kakiku ke pinggulnya, menahan tubuhku agar tidak jatuh.

"Oooff … " Hanya itu yang keluar dari bibirku sesaat setelah posisiku kini cukup nyaman bergantung di tubuhnya.

"Ada apa, Baby?" Aku merasakan tubuh Kakashi bergerak, sementara mataku melihat di cermin, pada bayangan kami di mana kedua pergelangan kakiku terkunci di pinggul Kakashi. Kedua lenganku melingkar di lehernya, membuat kami bagai satu tubuh dengan dua detakan jantung. Aku … aku bisa merasakan jantung Kakashi berdentam-dentam sama sepertiku, oh God …

"Nothin'." Aku menggeleng di cerukan lehernya, menyesap aroma memabukkan itu dan berujar lirih, "You're an aphrodisiac, you know that?"

"I am." Kakashi tertawa membuat dadanya bergetar. Pria itu berjalan keluar dari toilet dengan kaki kokohnya, membuatku terkesiap saat merasakan sensasi aneh di bagian tengah tubuhku. Aku tahu Kakashi merasakan hal yang sama, maksudku, sensasi ini … yang membuat napasku berubah jadi tersengal saat kedua tangan besarnya menggenggam bokongku dan aku … aku … "Baby …" Erangan pelan terdengar. Aku bisa merasakan bibir Kakashi menyapu daun telingaku.

Aku membuka mata. Sejak kapan mataku terpejam?! Tapi ini rasanya menyenangkan. Sensasi ini … hhhh … what the hell happened to me? Tubuhku terasa panas dan darahku mengalir cepat membuat adrenalinku meningkat. Aku tak bisa berpikir lagi. Aroma Kakashi, tubuh Kakashi, suara Kakashi, bagai candu yang seakan tak ada habisnya.

"Sakura, Baby, kau harus turun … "

"Ngghh … I don't wanna …"

"Sakura … "

Kakashi menggunakan nada itu lagi, membuatku mendengus pelan. Kakashi menurunkan tubuhku dan aku cukup terkejut saat mendapati kaki telanjangku mendarat di atas kasur. Aku menunduk untuk menatap Kakashi yang berdiri di hadapanku. Sepasang mata abu-abunya berkilat membuat tubuhku bergetar.

"We can't do this … Sakura. Not here … maybe … " Kakashi menyapukan jemarinya di antara helai keperakannya. "Fuck! We need to talk 'bout this … later."

"Bicara tentang apa?"

"Kau benar-benar tidak tahu?" Kakashi menatapku dengan dahi mengernyit keras. Aku hanya menatapnya seperti kucing yang menunggu tuannya untuk bermain. "Fuck me. You are a … " Aku memiringkan kepala ke satu sisi. Kulihat Kakashi menarik napas panjang lalu bertanya, "Kau ada kuliah pagi ini?" Melihatku mengangguk—masih dengan kepala penuh tanda tanya—dia melanjutkan, "Get dress. Aku akan mengantarmu ke kampus. Setelah itu tunggu teleponku."

Hanya butuh waktu lima menit untukku berpakaian dan tak lama kami sudah berada dalam van putih menuju kampus tempatku kuliah. Kakashi menahan tubuhku saat akan membuka pintu mobil. Aku menatapnya sambil tersenyum. "Ada apa?"

"Tunggu teleponku, oke?" Kakashi menyapukan buku-buku jari kanannya ke pipiku dan aku menikmatinya.

"Oke," ujarku seperti kucing dibelai.

"Here." Kakashi mengeluarkan tas parfum Gucci Guilty Women. "Take this."

"Thank you … " Aku menarik keluar isinya, menyemprotkannya ke tubuhku lalu ke tubuhnya sekali. Aku terkikik saat tak sengaja menyemprot wajahnya, membuat hidungnya berkerut dan matanya terpejam. "Agar kau mengingatku sepanjang hari."

"Tentu saja, Baby, tentu saja." Kakashi lalu meletakkan wajahnya di leherku, mengecupnya pelan di mana nadiku berdetak lalu menyesapnya. Aku meneguk ludah. Rasanya aku tak ingin turun dari van. Sial! Aku mungkin tak sanggup berjalan hingga ke kelas! "Off you go, Kitten."

Dengan berat hati aku turun dari van, menyaksikannya menjauh dan semakin mengecil hingga tak tampak lagi. Aku berjalan menuju kelas dengan jantung berdetak seperti genderang perang, bahkan tanganku terus saja berada di dadaku, takut-takut jika jantungku sudah lepas dari kungkungan rusukku.

"You look like shit," komentar Ino dengan setengah berbisik saat melihatku duduk di sebelahnya. "Ke mana semua pakaian yang kita beli?" Kubuka cardigan hitam yang sedang kupakai untuk memperlihatkan tulisan Armani di dadaku, membuat Ino menyeringai sambil mengacungkan kedua ibu jarinya. "Still you look like shit. Mungkin kau bisa memberikannya padaku. Tapi setidaknya kau masih … wangi. Super wangi."

Aku hanya tertawa mendengarnya. Lalu kepalaku terjatuh ke atas meja, tidak peduli dengan rasa nyeri di kepalaku. "Kaka … " Ups, hampir saja aku membocorkan nama Kakashi. "Dia datang semalam."

"Siapa?" tanya Ino.

"My Sugar Daddy … " Kepalaku berputar untuk menatap Ino yang kini asyik memasang kuteks warna biru muda di kuku tangannya sambil menunggu kedatangan dosen.

"Are you presentable?"

"Presentable?"

"Mhmm," angguk Ino. "Maksudku, apa kau berpakaian sebagaimana mestinya? Apa kau memakai pakaian dalam yang kita beli?"

Mulutku menganga. "Apa kau yakin kau tak pernah jadi Sugar Baby sebelumnya?"

Ino menggeleng. "Hanya membaca, Jidat. Aku memang punya rambut pirang, mata biru sejernih lautan, senang berbelanja but I'm not dumb."

Aku mengangguk mengiyakan kata-kata Ino. Bagaimana pun Ino selalu bisa mempertahankan nilai-nilainya yang tetap stabil di atas tiga koma dua. Mengingat pertanyaan Ino, aku tak menjawab tapi aku bisa tebak Ino pasti tahu jawabanku, mendengar dari suara terkesiap yang dikeluarkannya.

"Gadis bodoh." Ino berdecak lalu tertawa. "Lalu apa yang dikatakannya?"

"Dia datang ke flatku. Dia menyuruhku pindah."

Ino mengedik tanpa berbicara, seolah menyampaikan pesan padaku bahwa itu adalah hal yang wajar.

"Kurasa aku akan pindah."

"Tentu saja. Aku yakin dia sudah menyediakan apartemen baru untukmu. Shit." Ino mengumpat saat satu garis kuteks keluar jalur dan mengotori kutikulanya. Aku mendapati beberapa mahasiswa mencemooh Ino serta menertawainya tapi rupanya gadis itu tidak peduli dan terus saja melakukan kegiatannya.

"Yeah, mungkin saja." Aku menegakkan tubuh saat mendengar langkah sepatu beradu dengan lantai mendekat. Profesor Kurenai, dengan rambut hitam bergelombang serta lipstik merah menyala, memasuki ruangan. Ino yang terkejut, menyapu botol kuteks begitu saja ke dalam tasnya tanpa menutupnya dan lagi-lagi dia mengumpat sangat pelan karena isinya tumpah dan meluber di dalam tasnya. Aku hanya bisa menahan tawa karena Profesor Kurenai sudah memulai kelasnya. Oh, dan kuharap aku bisa fokus mengikuti kelas mengingat Kakashi menyuruhku untuk menunggu teleponnya sementara dia tak memberitahuku kapan teleponnya akan datang.

::::

TBC

::::

Maaf telah membuat kalian menunggu lama #bow. Semoga masih ada yang mengingat fic ini, hahaha. Bagaimana dengan skinship KakaSaku di chap ini? Atau apakah diperlukan perubahan Arangements mereka? Silakan Review. Thanks buat yang udah fav/ fol fic ini.