Title: SHOVE

Characters/ Pairing: Hatake Kakashi/ Haruno Sakura

Type: Multichapter

Rating: T

Genre: Romance, General

Warnings: SugarDaddy!Kakashi, SugarBaby!Sakura, Swearing (jika tak suka, silakan kembali)

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

(Kami tidak mencari keuntungan dalam bentuk materi apapun dari penggunaan karakter-karakter ciptaan Masashi Kishimoto)

Non-edited. So all mistakes are mine.

::::

SHOVE

17

Aku dan Ino berpisah setelah jam kuliah selesai. Ino bilang dia ingin menemui Sai, salah satu mahasiswa yang mengikuti klub Seni. Aku tersenyum saat membayangkan Sai melukis Ino di atas kanvas. Kira-kira akan seperti apa, ya? Yah, kau tahu jika Ino tipe gadis yang sangat narsis, di mana dia bisa mengambil selfie sebanyak 100 kali dan yang di upload ke sosial media cuma dua biji, hahaha! Kurasa mereka akan cocok!

Kakiku melangkah di atas paving dan mataku memerhatikan beberapa mahasiswa sedang bermain bola di lapangan kampus, di antara mereka ada Naruto, sahabat pirangku. Naruto tengah menggiring bola menuju gawang lawan dan seperti biasa, dia mencetak gol. Sorak sorai terdengar di sekeliling lapangan. Senyumku pun berkembang. Oh, mereka tidak bertanding secara serius, kau tahu. Ini hanya pertandingan biasa yang dilakukan para mahasiswa di sore hari, sekedar menghilangkan jenuh setelah mengikuti perkuliahan sepanjang hari.

"Naruto!" seruku sambil melambai pada pemuda berkulit tan yang kini tengah menyengir lebar pada kawan-kawannya. Naruto menoleh dan langsung berlari kecil ke arahku. Begitu tiba di depanku, aku langsung menyodorkan air mineral dingin di botol kemasan.

"Thanks, Sakura. You're the best!" Naruto meneguk air yang kuberikan lalu menempelkannya ke lehernya untuk merasakan sensasi dingin di kulitnya yang panas dan penuh peluh. Aku hanya tertawa. "Kau mau ke mana?"

"Ke kafe, seperti biasa," jawabku.

"Oh, hari ini jadwalmu 'kan?"

Aku mengangguk sambil memperbaiki letak ransel di pundakku.

"Hei, kau terlihat lain hari ini," ujar Naruto membuat alisku mengernyit.

"Lain bagaimana?"

"Kau terlihat lebih … manis." Naruto menyengir khas membuatku mencubit lengannya dengan keras.

"Jika kau mengajakku kencan lagi aku akan memukulmu." Kepalan tanganku teracung di depan wajahnya. Tapi kami tahu aku hanya bercanda.

"Kenapa? Kau sudah punya pacar?"

Kepalaku miring ke satu sisi saat aku merasa sepasang mata lain menatap kami. Aku melihat ke arah lapangan dan mendapati sepasang black jade menatap … oh. Oh. Dia adalah pemuda yang kutemui di kamar asrama Naruto saat meminjam printer-nya. Dari cerita Ino aku tahu jika namanya adalah Sasuke. Uchiha Sasuke. Aku menyeringai padanya sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahku. Peace. Melihatku, Naruto pun menoleh ke belakang dengan heran. Sasuke Uchiha seketika mengalihkan pandangannya.

"Nope," jawabku mengikuti gaya Kakashi."It's not me, but you. Go. Teman-temanmu menunggumu."

Aku memerhatikan Naruto yang kembali bergabung bersama teman-temannya dan kembali bermain. Aku menarik napas panjang. Kau tahu kenapa hubungan kita tak akan pernah berhasil, Naru? Karena aku mengetahui sesuatu yang mungkin belum kau sadari. Kakiku lalu melangkah ringan meninggalkan kampus.

Senja menjelang saat aku mendekati kafe tempatku bekerja paruh waktu. Di kepalaku kini sudah terbentuk beberapa skenario mengenai hal yang akan kukatakan pada pemilik kafe, bahwa aku ingin berhenti bekerja. Bangunan kafe sudah tampak di depan mata, tak ada hiasan-hiasan atau jenis huruf mewah terpampang di jendela kaca. Aku mendorong pintu, bel kecil terdengar bergemerincing. Musik Jazz yang selalu dibawakan Rei, salah satu penyanyi kafe sama sepertiku, kembali menyapu telingaku. Aku mencari-cari sosok Ayame, anak pemilik kafe, dan menemukannya tengah duduk sendirian dengan buku tebal terbuka di atas meja.

"Hei, Ayame-san."

Wanita itu menengadah padaku dengan mengernyit. "Kau lebih awal. Oke, ada apa?"

Sungguh mengejutkan jika orang yang kau temui setahun lalu langsung bisa mengenal dirimu. Mungkin karena sudah mengetahui kebiasaanku, Ayame bisa merasakan sesuatu yang aneh dariku. Jadi aku duduk di depannya, dengan meja kayu persegi memisahkan kami. Kedua tanganku lalu terlipat di atas meja.

"Kurasa aku akan berhenti, Ayame-san."

Ayame menutup buku kas, menyingkirkannya ke pinggir lalu menatapku intens. Tapi jawaban yang keluar dari bibirnya membuatku cukup terkejut. "Oke."

"Kau tidak apa-apa dengan itu?" tanyaku masih tak mengerti.

"Aku sudah menunggumu mengatakan hal itu, Sakura-chan." Ayame kini tersenyum.

"Jadi kau tahu jika aku akan berhenti?" Mataku mengerjap-ngerjap saat melihat Ayame mengangguk. "Bagaimana bisa?"

"Sejak melihatmu berbincang dengan Hatake Kakashi," jawabnya tenang.

Ah.

Aku ingat pertemuanku dengan Kakashi pertama kali di kafe ini. Dia pernah bilang jika pemilik kafe ini adalah sahabatnya. Apakah Paman Teuchi adalah sahabatnya? Atau Ayame? Apakah Ayame tahu jika aku dan Kakashi kini …

"Aku tahu, Sakura."

Kalimat itu mengalir pelan dari bibir Ayame, membuatku menatap wanita itu sambil meneguk ludah. Jika Ayame tahu, apakah dia pernah menjadi Sugar Baby Kakashi? Aku menggeleng, buru-buru mengenyahkan pemikiran itu.

Ayame lalu mencondongkan tubuhnya ke arahku dan berkata pelan, "He's a good man, Sakura. Kurasa kau beruntung bertemu dengannya."

Oh, dia tahu. Aku pun bertanya dengan nada ragu, "Apakah kau pernah …" Dan aku bernapas lega melihat Ayame menggeleng.

"Tidak. Tidak." Wanita itu tertawa lepas. "Kami hanya bersahabat untuk jangka waktu yang cukup lama hingga tak ada satupun yang bisa kami sembunyikan satu sama lain."

Hm. So my relationship with Kakashi isn't that secret. Tapi jika Kakashi memercayai wanita berparas lembut ini, maka aku akan melakukan hal yang sama. "Kau tidak akan menganggapku gold digger, right?"

"Sakura-chan, aku tak akan pernah menganggapmu seperti itu. Lagipula semua orang punya masalah masing-masing dan aku tak akan menghakimi orang atas kehidupan yang mereka jalani. Urusanku saja sudah cukup banyak di sini, kenapa aku harus mengurus hidup orang lain?" Ayame kembali tergelak. Tawanya terdengar menyenangkan di antara lantunan musik Jazz yang mengalir lembut.

"Terima kasih, Ayame-san."

"Hei, kau mau menyanyikan satu lagu terakhir untuk para pengunjung? Mengingat kau akan berhenti."

Saat mendengarkan kata-katanya, entah kenapa hatiku terasa sakit. Bagaimana pun aku sudah menjadi penyanyi di kafe selama setahun. Gaji yang kuterima kugunakan untuk membiayai kebutuhan kuliah. Kadangkala Ayame memberi bonus, mengingat dia cukup tahu akan perjuanganku hidup di kota besar. Yah, meski aku tak menceritakan padanya mengenai kehidupanku sebelum sampai di Konoha.

Tanpa berkata banyak aku berdiri, melangkah di antara pengunjung menuju panggung yang dengan setia kuisi dua kali seminggu. Ayame memberi kata-kata pengantar membuat para pengunjung ber 'ooh' dengan nada sedih. Aku mengenal mereka semua, wajah-wajah yang senantiasa menanti penampilanku. Aku bukan penyanyi profesional tapi melihat reaksi mereka membuat air mataku menumpuk dan menunggu waktu untuk mengalir keluar. Jadi aku membawakan sebuah lagu milik One Republic yang berjudul Life In Colours versi akustik. Saat suaraku tiba di lirik 'You've seen my worst yet you see some hope in me, the black and white sets us free like the Queen to the rook, your decision is a sure thing, honey yeah, a sure thing …', air mataku pada akhirnya tumpah membuat suaraku bergetar dan selama sepersekian detik aku harus berhenti untuk menemukan suaraku kembali. Aku bisa merasakan suasana hening seketika. Bayangan-bayangan wajah Tsunade, Shizune, Kakashi serta Ayame berkelebat di pelupuk mataku. Mereka adalah orang-orang yang melihat secercah harapan dalam hidupku yang sudah cukup buruk ini.

Jadi aku bernyanyi dengan segenap hati, menganggap panggung kecil yang kuinjak sekarang adalah sebuah panggung besar di mana seorang penyanyi legenda memutuskan pensiun dengan meninggalkan jejak terindah untuk para penggemarnya.

Aku tak sepenuhnya meninggalkan kafe. Aku bahkan berjanji pada Ayame untuk mengunjunginya di tengah-tengah waktu luangku. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan tempat yang sudah cukup banyak membantuku? Aroma makanan dan minuman coke, dentingan gitar dan piano atau riuh rendah pengunjung, bahkan retakan kecil di meja nomor Empat atau cat kuning yang mulai mengelupas di sudut ruangan, terpatri begitu kuat dalam memoriku. Jadi aku masih sesenggukan saat ponselku berbunyi dan suara Kakashi terdengar sangat khawatir saat mendengarku. Aku lalu menceritakan hal yang kualami di kafe dan pria itu tertawa serta menyuruhku untuk mendatangi satu tempat yang alamatnya dikirim melalui pesan.

Aku turun dari grab setelah 15 menit berada di jalan. Aku cukup terkejut melihat lingkungan yang kumasuki. Aku segera menghubungi Ino dan mendeskripsikan keadaan tempat aku berdiri sekarang dan Ino langsung berteriak kencang. Dia memberitahuku jika aku tengah berada di Distrik Lima, lingkungan asrama elit untuk mahasiswa yang memiliki uang berlebih. Seketika aku meneguk ludah. Aku mematikan telepon membuat Ino kini menghubungiku lewat pesan tapi aku tak memedulikannya.

Mulutku menganga melihat jejeran asrama yang tidak berbentuk seperti bangunan bertingkat, melainkan seperti rumah dengan halaman yang sangat luas. Rumah yang terbuat dari kayu-kayu mahal dipernis mengkilap, saling berlomba berdiri angkuh satu sama lain. Pohon-pohon palem nampak berjejer sepanjang jalan membuat senja semakin memikat. Aromanya begitu bersih dan segar, seolah polusi tak mencapai bagian distrik ini. Keheningan yang menyenangkan terasa kental melayang di udara.

Aku terus melangkah dan akhirnya menemukan pria itu tengah berdiri di depan salah satu rumah. Kakashi berdiri dengan tegap dan gagah, kedua tangannya berada di saku jeans hitam. Dia sedang memakai sweater biru malam yang menutupi kaos putihnya. Rambut peraknya tampak jatuh dengan lembut menutupi pelipisnya. Cahaya senja membuat kulitnya berkilauan. Saat kepalanya menunduk, aku mengulum senyum melihat pria itu mulai memainkan keds-nya, tampak jelas menunggu kedatanganku.

Kakashi, tentu saja belum menyadari kehadiranku. Jadi aku berdiri diam demi mengagumi sosoknya dari jauh. Dari sini aku melihat dia tampak kekanak-kanakan, membuatku ingin segera berlari memeluknya, tapi tidak. Aku masih ingin menatapnya sebagai seseorang yang tak bisa kugapai, seseorang yang hingga tiga minggu lalu masih berada dalam batas anganku. Seseorang yang hanya bisa kupandangi lewat poster dan layar kaca. Seseorang di mana aku mengirimkan cintaku dalam bentuk platonik.

Lagi, aku merasakan detak jantungku semakin keras, aliran darahku mengalir deras dan tubuhku menggigil untuk sesuatu yang tak bisa kujelaskan. Aku kembali melangkahkan kaki, membuatnya terdengar lebih keras agar pria itu menyadari kedatanganku. Kakashi pun menengadah dan senyum menawan yang membuat lututku bergetar, bermain di wajah tampannya. Sepasang mata abu-abunya berkilat penuh pesona hingga salah satu tanganku mendekap dadaku kuat, mencoba menghalangi jantungku yang bisa melompat keluar kapan saja. Seketika aku menyadari satu perasaan yang mungkin telah lama terendap dalam dadaku. Satu perasaan yang kehadirannya selalu kuabaikan selama ini.

Oh, I really fall in love with this man …

::::

TBC

::::

Chapter ini cukup emosional bagi saya terutama di part Sakura harus bernyanyi untuk yang terakhir kalinya di kafe Ayame. Selain karena lagu Life in Colour yang memang punya tempat di hati saya (One Republic is the best band right now, along with Coldplay and Imagine Dragons-sori, hanya subjektif saya, haha). Di chapter ini juga saya buat Sakura agak lain dari biasanya. You know, Sakura hanya berubah cute dan adorable jika berada di dekat Kakashi, bukan dengan orang lain.

Oh dan jika ada yang bertanya apakah nanti Sakura akan menjadi artis, tidak tertutup kemungkinan seperti itu. She's gonna be a big thing, somehow. Seperti lirik di atas "You've seen my worst, yet you see some hope in me …"

Dan saya rekomen lagu Life In Colors by One Republic. All of you should listen to this perfect song, mau akustik atau versi normal.

Sekali lagi, tinggalkan jejak Review, pals!