Title: SHOVE
Characters/ Pairing: Hatake Kakashi/ Haruno Sakura
Type: Multichapter
Rating: T
Genre: Romance, General
Warnings: SugarDaddy!Kakashi, SugarBaby!Sakura, Swearing (jika tak suka, silakan kembali)
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
(Kami tidak mencari keuntungan dalam bentuk materi apapun dari penggunaan karakter-karakter ciptaan Masashi Kishimoto)
Non-edited. So all mistakes are mine.
::::
SHOVE
18
Oh, I really fall in love with this man. This beautiful man …
Aku segera mengenyahkan pikiran itu dari kepalaku, berusaha mengganti kata 'jatuh cinta' menjadi murni 'crush' selayaknya fans kepada aktor idolanya. Aku tidak ingin salah menduga perasaan yang sedang menjalar di dadaku ini. Pada akhirnya toh aku harus tetap menjalankan logikaku. Jadi aku menjaga jarak saat tiba di hadapannya, menengadah dengan senyum manis padanya dan berkata pelan, "Hei."
"Hei." Kakashi mengulurkan tangannya dan aku langsung menyambutnya.
"Di mana masker, kacamata dan topimu, Daddy?" Aku membisik satu kata terakhir, membuat pria itu menatapku dengan mata berkilat. Ah, aku sangat suka saat Kakashi melakukannya. Dia tampak seperti serigala alfa di padang prairi, mengawasi mangsa. Membayangkan diriku adalah mangsa Kakashi membuat wajahku seketika memerah. Kakashi bukan predator, ingat itu Sakura!
"Aku tak perlu memakainya di sini," bisik Kakashi di telingaku. Aku bisa merasakan bibirnya menyapu daun telingaku dan suara bariton khasnya terdengar sangat seksi. OhGodohGodohGod. Seketika aku ingin meraup oksigen dengan rakus tapi aku harus mengendalikan diri. Tak lucu rasanya jika aku pingsan di sini.
Tapi hal itu berubah saat Kakashi melingkarkan lengannya ke pinggulku, menarikku erat ke arah tubuhnya dan tak melepasku. Kami bagai dua kembar siam, melekat satu sama lain tanpa ada jarak seinci pun.
"Apa yang kau lakukan?" Hidungku berkerut. Bukan, bukan aku tak suka diperlakukan seperti ini, tapi kau tahu, kami di tempat umum. Apa yang akan terjadi jika orang-orang melihat? Terutama dengan status Kakashi yang seorang selebriti?
Kakashi menatapku dengan cengiran nakal, membuatku teringat dengan anak kecil tetangga yang kutemani bermain dulu. "Just to make sure," ujarnya pelan lalu melepaskan lingkaran lengannya di pinggulku saat pintu di hadapan kami terbuka, memperlihatkan seorang wanita paruh baya tengah tersenyum.
Kernyitan di dahiku menghilang saat menatap wanita yang memakai pakaian berkebun itu. Senyumnya begitu ramah dan mata birunya tampak bersinar seolah ada bintang-bintang kecil berkelap-kelip di sana. Rambut brunetnya tampak memutih di beberapa bagian. Kerutan-kerutan di wajahnya tak bisa disamarkan tapi sisa-sisa kecantikan masa muda masih tercetak jelas di sana. Melihat Kakashi menghampiri wanita itu dan langsung memeluknya erat, aku terdiam, mataku menatap mereka bergantian. Aku berani bertaruh jika keduanya pasti dekat di masa lalu.
Seketika rasa posesif membelitku, membuat kedua bahuku menegang dan pipiku menggembung. Aku berusaha tidak menampakkannya di hadapan mereka yang kini tampak bercengkerama akrab membuat diriku seolah terlupakan. Tapi mungkin itu hanya perasaanku saja karena saat Kakashi memanggilku dan kembali melingkarkan lengan kokohnya ke pinggulku, aku sedikit bernapas lega.
"Sakura, this beautiful woman here is Megumi. Megumi, dia adalah gadis yang kuceritakan padamu."
Aku mengerjap menatap Kakashi. Kakashi menceritakan diriku pada wanita cantik itu? Oh, wow! Aku menggigit bibir dan merasa gugup menghampiriku saat Megumi langsung memelukku gemas.
"Such a lovely girl. Aku baru saja selesai berkebun, tapi tenang, aku sudah mencuci tangan!" Tawa renyah Megumi terdengar, membuat insting posesifku luruh perlahan. "Please, come in!" Megumi melepas pelukannya lalu menuntun kami masuk ke dalam rumah.
Kukira kami akan langsung menemukan ruang tamu saat melangkah masuk tapi nyatanya yang kutemukan pertama kali adalah sebuah taman kecil, yang lagi-lagi membuat rahangku terbuka. Sebuah gerbang kayu berbentuk U terbalik dengan tanaman ivy menjalar, dan saat aku menengadah kutemukan ivy juga menjuntai di atas kepala kami, tumbuh di atas kayu yang saling terjalin. Di kiri dan kanan kami terdapat susunan tanaman bonsai dalam pot-pot kecil. Kami berjalan melewati gerbang kayu dan aku semakin takjub saat melihat tiga bangunan kecil berdiri mengelilingi taman. Bunga-bunga daffodil dengan mahkota keemasan mereka menghadap cahaya terakhir senja hari itu, fusia berjejer bersama kembang-kembang primrose di atas karpet rumput. Aku menarik napas panjang, mengagumi keindahan taman yang sungguh menakjubkan ini. Megumi pasti telah mencurahkan semuanya untuk menciptakan taman yang luar biasa indah ini.
"Kau suka?" Kakashi berbicara padaku.
"Suka? Ini luar biasa!" Aku tertawa. Tsunade juga menyukai taman dan sering mengajakku berkebun di akhir pekan. Tapi taman Tsunade tak bisa dibandingkan dengan taman di hadapanku kini.
"Pemilik bangunan ini adalah Megumi," ujar Kakashi lagi membuatku menoleh pada wanita yang disebutkan namanya. Megumi menatap kami dengan mata bersinar serta senyum ramah itu lagi.
"Indah sekali, Nyonya. Anda merawat mereka dengan baik. Anggrek bulan dan bonsai yang kulihat di pintu depan tadi juga sangat indah," pujiku dengan tulus.
"Kau suka berkebun, hm?" Tampak sorot terkejut di mata Megumi. Mungkin dia tak menyangka bahwa aku mengenali beberapa tanaman yang ada di sini.
Aku mengangguk singkat, "Ibu asuhku selalu mengajakku berkebun bersamanya."
Kami berbincang sedikit lebih lama dan saat malam mulai menurunkan tirai hitam, Megumi membawa kami ke salah satu bangunan kayu yang bentuknya lebih menyerupai rumah peristirahatan berukuran mungil yang terletak di atas bukit. Megumi lalu meninggalkan kami untuk melakukan kegiatannya, dan seperti magnet, aku melangkah masuk ke dalam rumah dan entah untuk yang ke berapa kalinya hari ini, aku dibuat menganga dan tubuhku bergetar.
"Mulai hari ini kau tinggal di sini," ujar Kakashi yang kini berdiri di belakangku.
Lantai kayu di bawah kakiku terasa lembut dan hangat. Cat kuning gading semakin berkilau ditempa cahaya kuning keemasan berasal dari lampu yang melekat di langit-langit. Sebuah sofa serta lazy bag dengan tv plasma yang ukurannya bagiku sangat besar, terpajang di tengah ruangan. Aku mengedarkan pandangan lagi dan menemukan dapur mini serta meja persegi ukuran dua orang. Yang paling membuatku takjub adalah kamar tidur yang letaknya lebih tinggi, dicapai dengan menapaki anak tangga ukuran mungil.
Aku segera berlari ke arah kamar tidur, berpegangan pada tepi tangga dan langsung menjatuhkan tubuhku ke kasur yang empuk dan luar biasa wangi. Sprei hijau selembut sutera membelai wajahku dan jika saja tak ingat akan keberadaan Kakashi, aku mungkin akan langsung terlelap. Jadi aku bangkit dari kasur, kedua tanganku melekat pada kisi-kisi bamboo. Aku menatap ke bawah, pada sosok pria yang menengadah padaku dengan senyum menawan. Aku segera turun dari kamar tidur untuk menemuinya dan tanpa tedeng aling-aling, aku langsung melemparkan tubuhku ke arahnya, dengan mudah ditangkap olehnya dan lenganku langsung melingkar erat di tubuh jangkungnya.
"Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih." Lagi, aku mengucap kata itu seperti merapal mantra, mengingatkanku pada Shizune saat pertama kali membawaku ke rumah Tsunade. Tangan besar Kakashi terasa membelai rambutku, membuat wajahku semakin terbenam di dada bidangnya, menyesap aromanya yang penuh pesona.
"Kita harus merayakannya." Kakashi menarik kepalaku dari dadanya, menangkup kedua pipiku ke dalam telapak tangannya yang lembut. Bibirnya tersenyum tipis namun mata teduhnya menyorotkan kehangatan yang membuatku semakin tenggelam di dalamnya. Kalau aku tenggelam dalam mata itu, kumohon jangan selamatkan aku!
Kakashi kembali menarikku ke tengah ruangan dan menunjukkan beberapa kotak yang isinya ternyata makanan dan minuman yang hingga saat ini baru kuketahui keberadaannya. Maklum sih, aku kan cuma rakyat jelata. Saat mata hijauku melihat es krim, tanpa buang waktu aku langsung menikmatinya dan mataku membelalak.
"Ini es krim apa? Seperti ada rasa keju."
Kakashi yang sedang menikmati Castellan Twist, tertawa mendengarku. "Keju, stoberi, raspberi, hazelnut dan kismis dicampur jadi satu."
Kepalaku langsung pening mendengarnya tapi saat lidahku kembali menyentuh es krim, aku seolah dibawa terbang lalu mendarat di kasur berbulu angsa. "Luar biasa," gumamku, masih setengah melayang. Lalu kami menikmati pasta, lalu es krim, lalu roti dengan nama-nama aneh yang kurasa bisa menyaingi spesies alien, membuatku bersendawa kekenyangan. Saking kenyangnya, kami membiarkan kotak-kotak makanan dan paper cup bertebaran di atas meja, membuatku tertawa geli.
"Jadi Megumi itu siapa?" tanyaku sambil bersandar pada kaki sofa, dengan kedua lutut menyentuh dadaku.
"My Sugar Mommy," jawab Kakashi sambil melempar tisu yang sudah diremas, masuk dengan tepat ke dalam kotak makanan.
Uh oh. Aku ingat itu. Kakashi menceritakannya kemarin malam, salah satu peristiwa paling emosional dalam perjalanan karirnya, bahkan aku yang mendengarnya saja merasa kelelahan hingga membuat kami tertidur pulas di flat kumuh milikku.
"Dunia ini ternyata sempit, ya." Kuletakkan dagu ke atas lututku, menatap keindahan berwujud Kakashi dengan mata yang mungkin saja telah berubah jadi simbol love. You know… heart eyes?
"Dia memiliki aset di mana-mana. Saat tahu dia ternyata ada di kota ini, aku segera menghubunginya dan … here we are." Kakashi menoleh menatapku.
"Apa lagi yang Daddy ceritakan padanya?" Aku menyentuh tulang pipi Kakashi dengan ujung telunjuk kananku.
"Everything." Suara Kakashi berubah menjadi bisikan.
"Everything?" Suaraku pun berubah lirih. Kakashi mengangguk. "Apakah Nyonya Megumi memberikan approve?" Dan saat Kakashi tersenyum, aku sudah tahu jawabannya. Rasanya seperti … kekasihmu mengajakmu bertemu dengan calon mertua dan ternyata calon mertua menyetujui hubungan kalian. Oh, hatiku sekarang dipenuhi kupu-kupu. Aku lalu bergerak mendekati Kakashi, naik ke pangkuannya untuk melingkarkan kedua lenganku ke lehernya.
"Baby?"
"Terima kasih rasanya tak cukup, Daddy." Daguku bertopang di pundaknya, merasakan helaian rambut perak menyapu pipiku lembut. Kedua lengan Kakashi lalu melingkar di pinggulku. Wajah tampannya terbenam di rambut merah mudaku. Bisa kudengar dirinya tengah menarik napas panjang dengan bibirnya menempel di sisi kiri leherku. Jantungku seketika berdegup kencang.
"Barang-barang dari flat lamamu belum juga tiba," ujar Kakashi pelan, bibirnya menyapu kulit leherku di mana nadi berdenyut kencang di sana.
"Jadi apa yang akan kita lakukan selama menunggu mereka?" Aku meneguk ludah saat tangan Kakashi kini menggenggam pinggulku dengan jari jemarinya tak jauh dari bokongku.
"I don't know," sahut Kakashi serak. "You tell me."
Aku tidak tahu bagaimana caranya, tiba-tiba saja aku merasa kedua ibu jari Kakashi menyusup ke balik kaosku, menyentuh kulit pinggulku dan membuat lingkaran-lingkaran kecil di sana, mengirimkan getaran aneh ke sekujur tubuhku. Aku semakin merapatkan tubuh ke arahnya dengan mata terpejam. Aku menggigil.
"Baby? Sakura? Kau baik-baik saja?" Kakashi menghentikan jemarinya. Suaranya terdengar khawatir.
Aku mengangguk pelan di cerukan lehernya. Dari sini aku tak bisa melihat wajah tampannya tapi mendengar napas lega dari suaranya, aku tersenyum sambil berujar, "Don't stop …"
Ujung jemari Kakashi bagai listrik, saat kedua tangannya merayap naik di punggungku, menimbulkan rasa geli statis yang menyenangkan di permukaan kulitku. Bibirnya lalu bergerak mengecup daun telingaku, membuat napasku tercekat. Tubuhku semakin merapat ke arahnya dan aku memutuskan untuk melakukan hal yang sama. Aku tak punya pengalaman sama sekali dalam hal ini jadi aku bergerak menuruti insting yang kini menggeram di kepalaku. Dengan perlahan kukecup rahang pria itu, bergerak ke lehernya lalu tulang selangkanya. Aku mengecup setiap inci kulit yang bisa kutemukan dari tubuhnya saat ini.
Oh, ya Tuhan. Dia begitu indah. Aku bahkan bisa melakukan ini seharian, hanya menghujaninya dengan kecupan-kecupan yang bahkan aku sendiri cukup terkejut saat melakukannya.
"Baby …" Bisa kudengar dan kurasakan keputus-asaan dari Kakashi. "Aku ingin memberitahu sesuatu padamu."
Jemari Kakashi kini menyapu perutku, bergerak naik menuju garis braku. Aku sangat bersyukur karena telah memakai pakaian dalam yang kubeli bersama Ino. "Daddy?"
"Fuck."
Aku tidak tahu sejak kapan napasku berubah tersengal. Yang aku tahu kini ibu jari Kakashi bermain di garis braku dan aku bisa mendengar erangan mengalir dari bibirnya saat pinggulku bergoyang di pangkuannya. Oh God, apa yang kau lakukan padaku, Kakashi?
"Sakura, stop."
Lagi? Mataku membuka saat Kakashi meraup wajah mungilku dalam dekapan tangannya. Aku menatapnya dengan pandangan berkabut tapi bisa kulihat jelas matanya menyiratkan hal yang sama. Hasrat dan gairah.
"Apa aku salah melakukannya, Daddy?"
"No, Baby, kau melakukannya dengan baik. Hanya saja …" Kakashi mengambil napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
"Apa kau harus kembali ke hotel?" tanyaku dengan kedua tangan kini berada di sisi tubuhku.
"Nope," geleng Kakashi. Wajah tampannya menyiratkan kebimbangan membuat dahiku kembali mengernyit.
"Ada apa, Daddy?"
"Sakura …" Kakashi memberi jeda sejenak membuat perasaanku makin tak enak. "Syuting kami akan selesai. Kami akan meninggalkan Konoha dalam dua hari."
Aku berkedip. Hanya itu yang bisa kulakukan.
"Aku ingin sekali tinggal, I really do. Tapi aku tak punya pilihan lain, Sakura. Jika bisa memilih, aku ingin tinggal lebih lama lagi bersamamu."
"Aku tahu," lirihku.
"Baby, maafkan aku."
Aku memaksa untuk tersenyum. "Aku akan baik-baik saja, sumpah." Aku melihat sekeliling. Rumah mungil sebagai tempat tinggal dan pembiayaan penuh dari Kakashi, yeah, aku akan baik-baik saja.
Kakashi meletakkan jari telunjuk di bawah daguku, memainkan ibu jarinya di sana. "Don't think of this as abandonment, Sweet Baby."
Aku lalu mencubit hidung mancung Kakashi. "Aku bisa melihatmu di layar kaca, kau tahu. Dan mungkin aku harus mengganti kertas dinding dengan poster-postermu agar aku bisa melihatmu ke mana pun aku melihat!"
Kakashi tertawa. "Kau janji akan baik-baik saja?"
"Janji!" anggukku mantap. Aku kembali memeluk leher Kakashi, mengecup pipinya cukup lama lalu berbisik, "Then let me …" Kukecup pundak Kakashi. "Savour." Kukecup rahang tegas itu. "Each." Bibirku beralih pada dagunya. "Moment." Bibirku pun, untuk pertama kalinya, menyentuh bibir Kakashi dalam kecupan ringan. Only butterfly kiss tapi cukup membuat tubuhku seolah disengat listrik dengan begitu hebat, memotong aliran oksigen ke otakku.
Tapi jauh dalam benakku, aku berkata … Kau tahu, Daddy, saat kau tak bersamaku, aku hanya perlu memejam mata and reach out for you with my mind and there you are …
::::
TBC
::::
REVIEW?
