Title: SHOVE
Characters/ Pairing: Hatake Kakashi/ Haruno Sakura
Type: Multichapter
Rating: T
Genre: Romance, General
Warnings: SugarDaddy!Kakashi, SugarBaby!Sakura, Swearing, Daddy!Kink (jika tak suka, silakan kembali)
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
(Kami tidak mencari keuntungan dalam bentuk materi apapun dari penggunaan karakter-karakter ciptaan Masashi Kishimoto)
Non-edited. So all mistakes are mine.
Adegan smut ringan, atau lime, atau apapun kalian menyebutnya. Jika tak suka, silakan diskip. Thanks.
::::
SHOVE
19
Kami berciuman.
Aku dan Kakashi berciuman.
Maksudku, kami tidak berciuman dengan mulut tertutup. Oke, awalnya aku melakukannya tapi setelah itu berubah menjadi ciuman penuh dengan mulut terbuka, almost sexual. Dan aku menyukainya. Bagaimana bibir kami bagai dua keping puzzle yang cocok satu sama lain. Cara Kakashi memainkan rambutku, membuat lenganku semakin merengkuh pundak kokohnya, memeluknya erat. Ciuman demi ciuman yang kami lakukan membuat tubuhku panas, begitu pula dengan Kakashi. Aku tidak yakin apakah akal sehatku akan kembali, aku sama sekali tak bisa berpikir jernih. Lalu Kakashi—thank God namun di saat bersamaan aku sedikit disengat rasa kecewa—melepas pagutannya sambil menyebut namaku.
"Sakura …" bisiknya dengan serak dan lambat.
Aku merasa gembira merasukiku saat mendengar suaranya. Tidak pernah aku mendengar namaku diucapkan dengan begitu indahnya. A simple name that flowing from this beautiful man in front of me … Dahi kami bertemu. Buku-buku jari Kakashi menyapu pipiku yang pasti tengah merona hebat sekarang. Pria itu tersenyum dengan … aku tidak tahu … senyumnya sangat lain malam ini, membuatku bertanya-tanya namun pada akhirnya, pria itu, kali ini yang memulai ciuman berikutnya, menghentikan apapun yang tengah ada di pikiranku.
Ciuman kami berhenti saat barang-barang dari flat lamaku tiba.
.
Aku masih bisa merasakan bibirku bengkak saat tanganku berusaha menggapai-gapai ponsel yang keberadaannya entah di mana. Atau mungkin aku lupa menaruhnya di mana. Sementara benda itu terus berdering dengan nada yang membuat sekujur tubuhku menjadi gatal, seolah dikerumuni berbagai jenis serangga. Kenapa aku bisa memilih nada dering seperti itu? Lalu ponsel berhenti berdering, membuat senyum terulas tipis di bibirku. Aku masih ingin tidur, membuai tubuhku sendiri dengan imajinasi-imajinasi liarku akan Kakashi. Lagipula kasur ini terlalu nikmat untuk ditinggalkan. Sangat empuk dan wangi, mmm … Aku meregangkan otot-otot tubuh hingga menimbulkan bunyi 'pop' di beberapa persendianku.
Nada dering itu kembali terdengar. Aku memaksakan diri bangun hanya untuk menemukan ponselku ternyata berada di atas nakas kayu. Dengan malas aku menjawab telepon. "Halo?"
"Pagi, Sakura! Kau pasti baru bangun? Sudah sarapan? Apa kau kuliah hari ini?"
Uh oh. Tsunade. Aku meringis tertahan. "Iya, Bu. Aku baru bangun!" Kakiku mendarat cepat di lantai yang tertutup karpet lembut. "Ah, aku tidak ada kuliah hari ini." Jeda sejenak. "Mm, aku ingin sarapan panekuk. Yeah, aku bisa membuatnya tapi tidak akan seenak buatanmu, Bu!"
"Kau terdengar lelah. Ada apa, Sakura?"
"Uh, itu … aku baru saja pindah flat." Kuletakkan ponsel kembali ke atas nakas dan menekan speaker agar aku bisa merapikan tempat tidur sekaligus.
"Hmm, kau suka tinggal di flat barumu? Apa tempatnya aman? Dekat dengan kampusmu?"
Aku tertawa mendengar gaya bicara Tsunade yang tak berubah sama sekali. Mengajukan beberapa pertanyaan sekaligus. "Flat ini menyenangkan, Bu. Aku suka tinggal di sini. Yeah, lingkungannya pun aman. Kau tak perlu khawatir." Aku berbalik untuk melihat ponsel dan mata hijauku menyadari secarik kertas yang terselip di bawah lampu tidur.
Good morning, Sunshine.
Kalau kau membaca ini, aku sudah kembali ke hotel untuk
menyelesaikan syuting hari terakhir. Maaf aku tidak
membangunkanmu. Kau tidur sangat nyenyak dan aku tak tega.
Kalau kau keluar dari kamar, aku ingin kau melihat ke sofa, oke?
See you later, Sweet Doll *kiss*
P. S: You're drooled in your sleep. But it's too cute I can't stand it
so I snap your pic *evil laugh*
Kakashi
Tangan kananku lalu mengatup bibirku. Wajahku seketika memerah. Mataku mengerjap-ngerjap tak karuan. Di-dia melihatku mengeluarkan air liur saat tidur? Oh God! Ini sangat memalukan! Kenapa pula aku harus ileran saat ada Kakashi?!
"Sakura, kau baik-baik saja?" Lagi, suara Tsunade mengejutkanku.
"Iya, Bu. Tadi aku lihat kecoa dan—" Ups, alasan yang salah. Karena kini Tsunade berteriak histeris di seberang sana, menyuruhku untuk segera memanggil petugas pembasmi serangga. Aku cukup mengiyakan untuk membuatnya tenang lalu mengirim cium jauh. "See ya', Mom!"
Aku menutup ponsel, memasukkannya di saku celana jeans-ku lalu menuruni tangga menuju ruang tengah. Apa yang kutemukan di atas sofa, membuatku melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil yang mendapat hadiah sepeda di hari ulang tahunnya. Sebuah boneka Siberian husky berbulu hitam dengan warna keperakan di bagian dada dan perut, serta sepasang mata abu-abu, just like Kakashi. Aku meraih Husky, memeluknya lalu duduk di sofa. Aku menepuk-nepuk pipiku untuk membuatnya lebih merona, memperbaiki rambutku yang sedikit awut-awutan sebelum mengambil swafoto beberapa kali. Aku mengirim satu foto yang menurutku paling bagus pada Kakashi.
Thank u, Daddy!
It's amazing!
Your welcome, Sweetheart!
Aku senang kau menyukainya.
Eh, aku tak tahu ternyata dia membalas pesanku cukup cepat. Kulirik jam ponsel yang menunjuk pukul tujuh. Hm, dia pasti harus segera ke lokasi syuting. Alisku bertaut, bertanya-tanya dalam hati lokasi syutingnya hari ini. Apa aku bisa bertanya, ya? Siapa tahu aku bisa mengunjunginya di sana. Kepalaku menggeleng cepat. Aku tidak bisa mengunjunginya, terutama di tempat umum. Kami tahu bahwa kami harus menghindari hal-hal yang tak diinginkan.
Sure! Semoga harimu
menyenangkan, Daddy! Loveǀ
Aku memerhatikan kursor yang berkedip-kedip sebelum memutuskan untuk tak memakai kata Love, jadi aku segera menghapusnya.
Sure! Semoga harimu menyenangkan, Daddy!
Have a nice day!
Aku masih memeluk Husky, membenamkan wajahku di antara helaian bulu tebal tepat di tengkuknya. Aku menggigit bibir bawah dan meringis merasakan perih, menyadari pagutan Kakashi yang begitu hebat hingga membuat bibirku lecet. Jantungku kembali berdegup kencang. Rasanya aku seperti melayang hingga kepalaku bisa menyentuh langit-langit.
"Wakey, wakey, Forehead!"
Aku seperti dihempaskan begitu saja ke lantai mendengar suara itu. Kepalaku menoleh dengan sangat cepat hingga aku takut telah mematahkan tulang leherku sendiri, saat melihat Ino berdiri di depan pintu masuk, membuka sepatunya dan meletakkannya di rak. Aku sampai kehilangan kata-kata, mulutku membuka dan menutup seperti ikan kehabisan air.
"Jangan melihatku seperti aku ini adalah hantu." Ino melangkah masuk dengan santai sambil mengamati. "Hm, flat yang sangat bagus. Tempat ini juga punya taman yang indah. Daddy-mu benar-benar luar biasa."
"Ba-bagaimana kau tahu …"
"Oh, shussh!" Ino segera mengibas-ngibaskan tangannya yang tengah memegang ponsel. "Aku melacakmu dengan GPS."
Untuk yang kesekian kalinya, aku menatap gadis pirang itu dengan mengerikan. Fix, dia bisa jadi detektif swasta, sumpah.
"Astaga, Sakura! Kau memberitahuku kemarin kalau kau ada di sini! Jangan melotot begitu!" Ino melangkah di antara tumpukan karton yang belum sempat kurapikan.
"Tapi aku tidak memberitahumu aku di flat yang mana!" ucapku setengah histeris. Mendengarku, raut wajah Ino berubah inosen.
"Untuk yang satu itu aku memang pakai GPS," ujarnya sambil menyeringai, membuat kedua bola mataku berputar. "Ayo, Jidat. Kita harus merayakan flat barumu."
"Hei, kita ada kuliah hari ini," jawabku sambil melangkah ke kamar mandi. Aku cukup terkejut melihat perlengkapan mandiku sudah tersedia di sana. Jenis-jenis wewangian dari ujung kaki hingga ujung rambut tersimpan rapi di rak kayu, dekat dengan handuk-handuk kecil yang tampak begitu lembut. Aku melirik shower dan melihat wewangian serupa di sana. Sebuah pewangi ruangan yang mengingatkanku akan aroma eksotik dari lautan. Ujung jemariku menyentuh setiap botol yang bisa kutemukan. Cherry blossom, raspberry, white musk … Aku membuka botol white musk dan aroma menenangkan mengisi rongga hidungku. Mungkin aku akan memakai ini pertama-tama.
"Profesor Sarutobi tidak datang hari ini," seru Ino lagi.
Kepalaku melongok dari pintu kamar mandi, memerhatikan Ino yang kini duduk manis depan tivi. "Jadi hari ini kita tidak kuliah?"
"Yup." Ino menyalakan tivi plasma dan berita pagi mengenai ekonomi tampak di layar.
Aku tersenyum lebar dan kembali masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan sikat gigi. Beberapa menit kemudian aku keluar dan aroma kopi espresso langsung menyambutku. "Oh, aku menyayangimu, Pig!" Aku segera meneguk kopi dari cangkir merah muda pemberian Kakashi lalu duduk di sofa sementara Ino berdiri tak jauh dariku. "Apa yang kau lakukan? Sit down."
"Lihat apa yang kutemukan," tunjuk Ino ke atas meja di depan kami. Aku begitu terlena menikmati kopi hingga tak menyadari keberadaan sebuah kotak tipis yang bertengger di sana. Mataku memicing dan saat berhasil membacanya, aku tersedak. "Yaa, kau tidak salah baca. Kau dapat laptop baru, Jidat!"
Kuletakkan cangkir kopi ke atas meja lalu berlutut untuk membuka kotak. Benar kata Ino, aku mendapat laptop baru. Kalau begini, apa aku masih harus mengambil laptop lamaku di tempat servis? Mungkin ada baiknya aku mengecek ke sana, tapi tidak hari ini.
"Simpan di tempat yang aman. Aku ke sini bukan tanpa tujuan. C'mon, aku akan membantumu berbenah!" Ino menepuk-nepuk pucuk kepalaku, membuatku terharu. Kini aku tak lagi harus meminjam sana-sini atau mendatangi komputer perpustakaan setiap harinya demi tugas kuliah.
"Kau baik sekali. Kau mau apa, hm?" tanyaku sambil membawa kotak laptop ke kamar tidur.
"Tega sekali dirimu, Sakura! Kau pikir aku teman yang seperti apa?" Ino pura-pura terkesiap, mengatupkan kedua tangannya ke dada dengan dramatis.
"Siapa kau? Kau pasti bukan Ino. Atau kau mungkin sudah dicuci otak," ujarku dengan memasang wajah datar, memegang tepi tangga sembari menahan tawa.
Ino kembali berkata, "Oke, aku minta es krim. Juga milkshake."
"Itu Ino yang kukenal," seringaiku.
"Chop chop! Time to work!"
.
Pekerjaan kami selesai bertepatan dengan jam makan siang. Aku meminta Ino untuk memilih Go Food yang pada akhirnya membuat kami hampir mati kekenyangan. Mungkin kami harus mulai mengendalikan nafsu makan, hahaha! Ino memilih untuk tidur siang selama dua jam dan aku menghabiskan waktu saling berkirim pesan dengan Kakashi. Lalu Kakashi memberitahu jika dia tidak membalas pesanku, itu karena dia sedang melakukan pengambilan gambar terakhir. Hal ini membuatku sadar betapa waktu telah berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku bertemu dengan pria itu dan esok malam dia harus kembali ke New York untuk merampungkan aktifitasnya.
Aku menarik napas panjang, menjatuhkan kepalaku sofa. "I'm gonna miss him so bad …"
"Who?"
Aku yang tengah bersandar pada kaki sofa, terkejut mendengar suara Ino yang baru saja bangun sambil menguap lebar. Aku segera mengunci ponsel dan menyimpannya dengan aman di saku jeans-ku.
"Kau bicara pada siapa?"
"Pada angin," ujarku sambil mengedikkan bahu.
"Whatever." Ino meregangkan otot-otot tubuhnya sebelum bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. "Apa kau akan tinggal seharian di sini?" serunya.
"Mungkin," jawabku pelan. Dulu aku langsung ke kafe begitu aktifitas kampus berakhir. Tapi karena aku sudah berhenti kerja paruh waktu, rasanya jadi aneh. Menjelang sore seperti ini, aku tidak tahu harus ke mana. Aku juga bukan tipe orang yang memilih keluar untuk bersenang-senang. Aku termasuk tipe yang sederhana. Hanya dengan buku sketsa dan pensil, itu sudah lebih dari cukup bagiku untuk merasa bahagia.
"Jika aku tak kencan dengan Sai hari ini, aku pasti mengajakmu keluar." Ino keluar dari kamar mandi dengan dandanan rapi. Seperti biasa, rambut pirangnya yang berkilau diikat ekor kuda. Gaun selutut berwarna lavender sangat pas di tubuh rampingnya. Kedua bola matanya yang biru terang nampak kontras di kulit pucatnya tapi tak mengurangi kecantikannya. Aku menyimpan baik-baik sosok Ino saat ini dalam otakku agar aku bisa menuangkannya dalam buku sketsaku nanti.
Ino lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan memberikannya padaku. Tiga buah majalah mode, membuatku mengerjap-ngerjap. Marie Claire, Harper's Bazaar, InStyle. Saat melihat sampul majalah InStyle, aku hampir tersedak salivaku sendiri. Bagaimana tidak? Dengan jelas aku melihat sosok Kakashi mengenakan jaket kulit hitam, jeans belel membungkus kaki jenjangnya dengan ikat pinggang berwarna merah, melingkar di pinggulnya … holy shit … dan yang membuat salivaku kini benar-benar menetes adalah dia shirtless di balik jaket kulit. Aku bisa menemukan dua tato di atas dada kirinya dan tepat di bawah dada kanannya. And look at those abs … rasanya aku ingin memainkan jemariku di sana, karena saat ini bagiku Kakashi adalah sebuah instrumen musik yang harus segera kupelajari. Aku tidak percaya kami hanya berciuman tadi malam, haaahh …
"Ew, Jidat. Jangan sampai kau mengotori majalahku dengan liurmu." Suara Ino mengembalikanku ke dunia nyata.
"Kau memberikan ini padaku?"
"Kurasa begitu. Kau bisa melihat mode di situ. Jangan sia-siakan uang yang diberikan Daddy-mu."
"Oh. Oke," ujarku dengan mata yang tak beralih dari sampul InStyle. Ino pamit dengan mengecup pipiku.
"See ya, Forehead! Kuharap kau jaga sampul majalah-majalah itu tetap kering!" Ino terkikik geli sebelum pergi tanpa aku mengantarnya hingga ke pintu depan. Apa yang bisa kulakukan? Kakashi telah menghipnotisku meski lewat gambar.
Aku kembali duduk ke sofa, memotret sampul InStyle lewat kamera ponsel lalu mengirimkannya pada Kakashi.
I found this.
Aku tidak begitu berharap Kakashi akan membalas pesanku. Jadi aku cukup terkejut saat 15 menit kemudian, ponselku berdenting.
Like what you see?
Ini hanya gambar.
Aku lebih suka lihat yang 3D.
Yeah, hanya gambar tapi membuat salivaku tak berhenti keluar.
Yeah? Then come to my place #smirk
Membacanya, aku tidak tahu harus membalas apa lagi. Apa Kakashi benar-benar akan shirtless tepat di depanku? OhGodohGod! Jika benar, ini sangat menakjubkan! Tapi aku harus berusaha mengendalikan diri. Aku tidak ingin dianggap seperti beruang kelaparan yang tak memiliki persediaan makanan saat hibernasi di musim dingin.
Kapan? Sekarang?
Apa yang ingin kau perlihatkan padaku, Daddy?
Aku merasa balasanku barusan terdengar seperti menantang pria itu, jadi aku memilih duduk menunggu balasannya dengan dada berdebar kencang. Satu denting terdengar membuatku langsung membaca pesan.
Di hotel. 7pm.
Kau akan tahu.
Hanya itu jawaban Kakashi. Aku bahkan bisa merasakan pria itu tengah tersenyum nakal di sana, membuatku meneguk saliva.
.
Aku tiba di hotel dan Mei mengantarku langsung ke kamar Kakashi. Mei memberitahuku jika malam ini adalah malam terakhir mereka di Konoha dan karena proses syuting telah selesai, mereka akan merayakannya di salah satu klub terkenal di pusat kota. Saat ini aku memakai pakaian baru luar dalam tapi apakah jeans hitam yang berlubang di kedua paha, kaos putih longgar dengan kedua lengan digulung serta riasan minimalis. Aku memang melihat majalah-majalah yang diberikan Ino tadi dan menyadari penampilan salah satu model sekaligus aktris, Ruby Rose, sangat cocok dengan gayaku. Model wanita yang biasa berpenampilan androgini itu, bagiku terlihat luar biasa.
"Baby?" Kakashi memanggilku dari dalam kamar tidurnya.
"Ye-yeah?" jawabku ragu.
"Come in."
Kepalaku menengadah. "Ap-apa?"
"Masuklah. Aku ingin kau membantuku memilih pakaianku malam ini."
Oh, tanpa diberitahu pun aku dengan sukarela menawarkan diri, Kakashi! Aku segera berdiri dan melangkah untuk masuk ke dalam kamar tidur, tidak menemukan Kakashi di mana pun. "Um, bukankah kau punya penata gaya?" tanyaku dengan hati-hati.
"Ya. Tapi aku ingin kau memilihkannya untukku." Kakashi keluar dari pintu lain yang kuduga sebagai kamar mandi dan aku meneguk ludah. Dia berjalan santai dengan handuk biru malam melilit pinggul rampingnya. Kakashi membuka lemari dan aku bisa melihat jelas bagaimana otot punggungnya bergerak begitu indah. Aku merasa kakiku tak sanggup lagi menopang tubuhku! Apakah ini maksud Kakashi kalau dia ingin memperlihatkan sesuatu padaku?!
Kakashi tiba-tiba berbalik dengan dua kemeja di tangannya. Napasku langsung tercekat saat tubuh shirtless-nya terekspos jelas di hadapanku dalam jarak kurang lebih dua meter. Menganga tak cukup untuk mendeskripsikan wajahku sekarang. Aku syok, terpesona, tercengang oleh fisiknya yang tak bisa dibandingkan dengan sampul majalah mana pun dia muncul. His body was drool-worthy, trust me. Abdomen-nya tampak sempurna dengan six pack di sana, memberikan impresi seolah dia baru saja selesai pemotretan Calvin Klein. Dan jangan lupa dengan bisepnya yang seukuran kepalaku atau-atau … aku meneguk ludah … trisepnya yang berbentuk seperti intan—hal yang jarang, kurasa—dan-dan … oh, fuckitfuckittyfuck, sepertinya aku mengalami palpitasi sekarang!
"Sweetheart?"
Aku beralih pada wajah Kakashi dan seringai nakal itu muncul di sana. Aku tahu dia sengaja melakukan ini. Dia menyiksaku dengan sangat kuat hingga aku tak kuasa untuk bernapas.
"Kau baik-baik saja?"
"Tidak, aku tidak baik-baik saja!" ujarku cepat sambil menggigit bibir bawah. Kepalaku tertunduk, jari-jemariku bermain di ujung kaosku. "Kau-kau sengaja melakukan ini 'kan? Kau menyiksaku!" Tawa renyah Kakashi terdengar tapi aku tetap tak mengangkat wajah. Rasanya sangat memalukan.
Kurasakan tubuhku ditarik sebelum Kakashi membawaku dengan begitu mudahnya dan tiba-tiba saja punggungku menyentuh pintu lemari. Tangan kanan Kakashi memegang pinggulku sementara tangan yang lainnya berada di samping kepalaku. Aku masih tak mengangkat wajah dan aku tahu dia tengah menunduk menatapku, karena aku bisa merasakan desah napasnya yang beraroma mint berhembus di pipiku.
"Kukira kau lebih suka lihat yang 3D?" Bariton khas itu terdengar begitu seksi di telingaku.
"A-aku … itu hanya …"
"Atau kau lebih suka lihat gambarku saja?" Kakashi kini berbisik begitu dekat hingga bibirnya menyapu daun telingaku. Aku terkesiap saat merasakan Kakashi merapatkan tubuh jangkungnya padaku, hanya dipisahkan oleh selembar handuk dan jeans yang kukenakan.
"Tidak … i-itu …" Suaraku menghilang begitu saja saat Kakashi mendaratkan bibirnya di leherku, tepat di mana nadiku berdenyut. Aku terkesiap saat telapak tangan besarnya menggenggam bokongku, mengangkat tubuhku sedikit hingga kakiku berjinjit, membuatku refleks melingkarkan kedua lenganku agar aku tetap berdiri. Kakashi menyusup masuk di antara pahaku, membuatku melenguh pelan saat bagian tengah tubuh kami bertemu. "Daddy …"
"Kau pakai parfum yang kubelikan?"
Aku mengangguk cepat dengan mata terpejam. Wajahku terbenam di pundaknya, menyesap aroma tubuhnya yang memabukkan.
"Good girl."
Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada diriku saat ini. Saat tubuh kami bergerak seirama di bawah sana, bagian bawah abdomenku dialiri rasa geli sekaligus nyeri dalam arti yang menyenangkan. Ya, Tuhan, jika Kakashi berniat menyiksaku, dia telah berhasil melakukannya! Kami bahkan tak perlu berciuman untuk membuat tubuhku meletup-letup akan gairah.
Jemariku lalu menggenggam rambut yang ada di tengkuknya, menariknya pelan membuat Kakashi mengerang. "Do that again …"
"Apa?"
"Pulling my hair …"
Aku menarik rambutnya kembali dan erangan sensual mengalir dari bibirnya. Tangan besarnya menggenggam bokongku semakin erat untuk mengangkat tubuhku dan kini kakiku benar-benar tak menjejak lagi di lantai. Kini tubuhku sepenuhnya bergantung pada lengan kokohnya.
"Daddy …" bisikku. Aku pun terkejut masih bisa mengeluarkan suara di saat seperti ini.
"Sweetheart … what are you doing to me?"
"Aku tidak tahu, Daddy, aku tidak … ahh … tahu …" Tubuhku semakin panas dan bergetar saat Kakashi membuat gerakan melingkar dengan pinggulnya, membuat napasku makin tak karuan. Aku menggigit bibir bawah, tak peduli dengan lecet dari ciuman yang kami lakukan di malam sebelumnya.
Terdengar ketukan di pintu membuat Kakashi seketika memaki. "What Mei?!"
"Maaf mengganggu kegiatan kalian. Hanya ingin memberitahu jika para kru sudah menunggumu, Kakashi," ujar Mei dengan tenang di balik pintu yang tertutup.
Kakashi mengerang kesal lalu menurunkan tubuhku dengan perlahan. Damnit! Kepalaku membentur dengan sengaja lemari di belakangku, karena bagaimana pun aku juga merasa kecewa. Kakiku masih bergetar saat menjejak di lantai dan aku harus berpegangan pada lengan Kakashi untuk menyeimbangkan tubuh.
"Next time," bisik Kakashi lalu mengecup pipiku. Dia kembali mencari-cari sesuatu di dalam lemari lalu mengulurkan sebuah hoodie hijau padaku. "Baby, tolong pakai ini. There's a wet stain there," tunjuknya pada jeans-ku. Aku menunduk untuk melihat jelas area yang ditunjuk Kakashi, membuat tubuhku memerah sepenuhnya.
"Aku …" Kutatap khawatir Kakashi yang pandangannya berkilat penuh makna padaku.
"It's okay, Sweet Doll. Kita berada di situasi yang sama." Kakashi tertawa dengan pandangan menunduk. Aku mengikuti matanya dan tak bisa berkata apapun saat melihat handuk yang tengah dipakainya tampak lebih ketat dari sebelumnya. "Come, aku akan memakaikannya padamu." Kedua tanganku terangkat ke atas dan tak lama hoodie pria itu membungkus tubuhku, sama seperti aromanya yang kini merangkulku ke mana pun aku pergi. Begitu kami berdua sudah bisa mengendalikan diri, dia lalu menyuruh Mei masuk dan memberi tahu sang asisten, "Carikan pakaian untuk Sakura. Dia akan menemaniku malam ini."
Aku menengadah pada Kakashi yang tersenyum manis padaku. "Me-menemanimu?"
"Yep," ujarnya dengan gaya khas di akhir kata. "Dengan kata lain, aku dan kau kencan terselubung." Kakashi mengerling padaku tapi aku masih tidak mengerti. Kencan terselubung? Bagaimana mungkin melakukannya di tengah keramaian?
"Dengan kata lain, Sakura." Kali ini Mei yang berbicara. "Selebrasi malam ini dimanfaatkan Kakashi untuk berkencan denganmu sebelum kami kembali ke New York."
"Tapi bukankah itu akan mengundang spekulasi?" Aku meringis saat menggigit bibir bawahku lagi.
"Selebritis punya hak prerogatif siapa yang ingin dibawanya dalam acara-acara mana pun, Sakura," jawab Mei. "Orang-orang di luar sana bisa saja menganggapmu teman, asisten pribadi yang baru, anak magang atau apapun."
"Tapi manajer dan orang-orang di lingkaranmu—"
"Aku manajer sekaligus asisten pribadinya, FYI," tukas Mei cepat membuatku menatap wanita rambut merah itu cukup lama.
"Nikmati saja malam ini, Sakura," sahut Kakashi tenang. Dia lalu berjalan mendekatiku. Lewat ekor mata, kulihat Mei berjalan mundur memberikan kami privasi sebelum menutup pintu dari luar. "Sekarang pergilah. Mei menunggumu di luar. Dia akan mencarikanmu pakaian untuk dipakai malam ini." Kakashi mengacak-acak rambut merah mudaku, membuatku tersenyum lebar.
Begitu keluar dari kamar Kakashi, dengan mengekori Mei, senyumku perlahan menghilang. Aku bertanya-tanya pada diri sendiri; apakah aku siap menghadapi orang banyak dan asing di luar sana?
::::
TBC
::::
Longest chapter so far.
Pojok Ripyu:
Rikarika: thanks.
Lulu: yep.
Wowwoh. Geegee: thank you.
Cantik: hahaha. Thanks.
Azalea em: thanks.
Ivacerry: hahaha. Thanks.
Guest: panas? Nih #nyalain ac
KanonAiko: Kakashi balik ke habitatnya, aunty.
Ripyu, anyone?
