Title: SHOVE
Characters/ Pairing: Hatake Kakashi/ Haruno Sakura
Type: Multichapter
Rating: T
Genre: Romance, General
Warnings: SugarDaddy!Kakashi, SugarBaby!Sakura, Swearing, Daddy!Kink (jika tak suka, silakan kembali)
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
(Kami tidak mencari keuntungan dalam bentuk materi apapun dari penggunaan karakter-karakter ciptaan Masashi Kishimoto)
Non-edited. So all mistakes are mine.
::::
SHOVE
20
Tak ada seorang pun yang bisa melihat lantai dansa, karena orang-orang seolah bertumpuk dari dinding ke dinding, menari. Sepertinya sudah tak ada ruang lagi tapi ketika Kakashi menarik tanganku and we hit the floor, keajaiban terjadi. Musik yang berputar berasal dari era 90-an tetapi kami menari dengan kuat, berputar, melengkung, bergandengan tangan dan bertukar sisi. Kami menyeringai satu sama lain, terlihat seperti orang bodoh, tetapi kami tak peduli. Kurasa ada satu bagian dari diriku yang keluar untuk bermain, untuk benar-benar merasakan getaran musik dan membiarkan tubuhku bergerak bebas. Kuharap dalam 10 tahun ke depan, aku masih bisa mengingat momen ini.
Saat Kakashi menarik tanganku dari lantai dansa, aku mengikutinya tanpa banyak bicara. Tangan besarnya menggenggam tanganku dengan erat, bahkan jari-jemari kami saling bertautan, membuat jantungku berdetak tak karuan. Kami bergerak di antara kerumunan untuk meninggalkan lantai dansa, menuju satu tempat yang lebih tenang di lantai tiga. Musik yang berdentam-dentam tak lagi terdengar jelas, berganti dengan musik yang lebih lambat. Kami duduk di satu sofa hitam berbentuk siku-siku dan dari sini aku bisa melihat Mei melambaikan botol minumannya ke arah kami dengan senyum tipis.
Setelah napasku teratur, aku membuka jaket kulit hitam milik Kakashi dan meletakkannya di sebelahku. Short dress putih yang kupakai pertama kali, membuatku canggung. Setelah itu aku tak lagi memedulikannya saat melihat di cermin dan berkata pada diriku sendiri bahwa aku, Sakura Haruno, looks gorgeous.
Aku melirik Kakashi yang sedang berbicara dengan seorang pelayan wanita berpenampilan eksotis. Aku tahu wanita itu sedang menggoda Kakashi, melihat dari gestur tubuhnya yang memilin-milin rambut serta senyum menawan yang dilemparkannya. Hm, jika Kakashi membawaku keluar, aku harus terbiasa dengan hal-hal seperti ini.
Kurasakan tangan besar Kakashi berada di paha kananku, mengusap-usapnya lembut sebelum meremasnya pelan. Aku ingin menggeser tangan pria itu karena kami sedang di tempat umum, tetapi saat mendapati ekspresi si pelayan wanita, niat itu kuurungkan. Eat that, woman!
Saat si pelayan wanita berlalu, aku bertanya pada Kakashi, "Apa itu tadi?"
"Kau tidak suka?" Kakashi mengerling dan aku dibuat merona untuk yang ke sekian kali.
"Uh, tidak juga. Hanya saja kita di tempat umum. Apa itu tidak masalah bagimu?" tanyaku khawatir.
"Nope. Aku ingin menunjukkan pada orang-orang di sini kalau aku sedang kencan denganmu."
"Stop that!" Aku mendorong pundaknya dengan keras.
"Stop what?" tanya Kakashi sembari tergelak.
"Membuat wajahku memerah seperti kepiting rebus!" Bibirku merengut.
"Aku menyukainya." Wajah Kakashi berubah serius. Jari-jemari kanannya lalu bermain di punggungku. Tali-temali yang saling bersilangan sama sekali tak menolong saat ujung-ujung jarinya menyentuhku, seolah membakar setiap inci kulit punggungku, membuatku bergetar.
Saat minuman kami datang, Kakashi tak berhenti. Dia justru memainkan jemarinya di sana seolah punggungku adalah tuts piano. Aku mendesah tertahan, mematung di tempat. Seperti mengirimkan sinyal bahwa kami tak bisa diganggu, si pelayan wanita segera berlalu secepat kilat.
"Apa ini?" tanyaku sambil menunjuk minuman di atas meja, berusaha mengalihkan keinginan yang mulai meletup-letup dalam dada.
"Aku memesan Cresta Swiss Chocolate Liqueurs untukmu," jawab Kakashi dengan kepala bersandar di punggung kursi. Rambut perak yang halus tampak kontras pada kursi kulit yang kami tempati.
Aku mencobanya dan mengerutkan hidung. "Aku tidak akan percaya kalau harga minuman ini mahal."
"Kenapa?" Telunjuk Kakashi mulai mengusap leherku.
"Rasanya sepert Es Milo. Sungguh."
Kakashi lagi-lagi tergelak. Setelah tenang, dia meraih minuman miliknya. Aku bertanya minuman apa itu dan dia menjawab, "Sunrise Tequila." Lalu menyesapnya perlahan.
Lalu seorang pria bersama dua wanita cantik di tiap sisinya, menghampiri kami. Lebih tepatnya, menghampiri Kakashi. Dengan sumringah Kakashi menyalami si pria yang berusia sekitar 50-an dan jejak ketampanan itu masih melekat di wajahnya.
"Dan siapa wanita cantik ini, Kakashi?" tanya Jiraiya sambil menggenggam erat tanganku sebelum membawanya dengan anggun ke bibirnya dan mengecupnya pelan.
Aku mengerjap-ngerjap tak percaya dan hanya bisa tersenyum malu.
"Sakura. Sakura Haruno, kencanku," sahut Kakashi lalu menoleh padaku. "Dan sweetheart, Jiraiya adalah seorang novelis terkenal."
Jiraiya tak melepaskan tanganku dan aku menjadi salah tingkah saat mata kami bertemu. Aku langsung menunduk. "Oh, ini bagus sekali! Dia bisa menjadi inspirasiku untuk novelku berikutnya!" serunya membuat Kakashi merangkul pinggangku dengan posesif, meski wajahnya tetap menampilkan senyum. " … atau tidak," ujar Jiraiya akhirnya.
Setelah meninggalkan kartu namanya untukku, Jiraiya bersama dua wanita yang bersamanya pun berlalu. "Novel apa yang ditulisnya, Kakashi?"
"Novel erotis," jawabnya tanpa tedeng aling-aling lalu kembali mengeratkan pelukannya di pinggangku. "Karena itu aku tidak suka dia menjadikanmu inspirasi."
Oh, biarkan aku pingsan sekarang dalam pelukanmu, Kakashi!
Lalu orang-orang kembali berdatangan. Lagi dan lagi dan lagi. Sekelompok wanita cantik dan seksi. Beberapa produser. Sosialita. Tanpa henti Kakashi mengenalkan mereka padaku dan meninggalkan kartu nama mereka untukku. Beberapa mengajak Kakashi untuk bergabung dengan mereka tapi dia lebih memilih bersamaku.
"Apa kau tak khawatir dengan keberadaanmu di sini bersamaku?"
"Kenapa? Kau takut hal ini bocor ke publik?"
Aku mengedikkan bahu.
"Tenanglah, Baby. Apa yang terjadi di sini tetap di dalam sini." Kakashi tersenyum padaku. Sebuah senyuman yang menghangatkan hatiku. Oh, mungkin hanya aku saja yang memiliki ketakutan berlebih. "Kau tahu, Baby Doll? Semua orang menginginkanku bersama mereka. Pesta, perayaan, makan malam, dengan senyum di wajah dan segelas anggur di tangan. Aku menyukai mereka, I do, tapi yang kuinginkan saat ini adalah bersamamu."
Kakashi lalu menyesap minumannya hingga habis sebelum berdiri dan mengulurkan tangannya padaku.
"Come with me."
Tanpa pikir panjang aku meraih tangannya, menautkan jemari kami. Setelah menghabiskan minuman, aku mengikuti Kakashi ke mana pun pria itu membawaku.
.
The night is still young. Begitu kata Kakashi saat melihat jam menara kota menunjuk pukul 12. Kami berjalan-jalan di taman kota, yang seharusnya sudah tutup malam itu, tetapi karena Kakashi menandatangani sebuah kartu pos milik salah satu sekuriti, pada akhirnya kami bebas melenggang masuk.
Kini kami tengah duduk di sebuah bangku panjang menghadap danau berwarna hijau temaram. Suara hewan-hewan nocturnal menemani percakapan kami. Kami membicarakan apapun yang terlintas di kepala. Tertawa saat kami melempar lelucon satu sama lain. Sungguh menyenangkan rasanya melakukan hal-hal ringan tanpa satupun interupsi.
Aku menjatuhkan kepala ke pundak Kakashi, mengembus napas yang agak panjang.
"Kau lelah?"
Aku menggeleng. Salah satu tangan Kakashi membelai rambutku. "Daddy?"
"Ya, Sweetheart?"
"Aku tidak akan pernah lelah dengan ini," bisikku sambil menengadah padanya.
"Aku juga." Kakashi menunduk, menatapku dari balik bulu mata panjangnya sebelum mendaratkan kecupan ringan di bibirku. Kecupan berubah menjadi ciuman yang basah dan menggairahkan, memaksa keinginan yang sedari tadi meletup dalam dadaku, akhirnya meledak, membuatku melenguh pelan. Aku ingin lebih dari ini, oh God. Tanpa menyiakan kesempatan, Kakashi membuka bibirku, sementara tangannya meremas rambutku, memperdalam ciuman kami. Lalu Kakashi menarik bibirnya, menyentuhkan dahi kami.
"Kurasa sekuriti sudah memberi sinyal agar kita meninggalkan tempat ini," ujarnya dengan napas terengah. Aroma mint dari mulutnya masih menyisakan bara di bibirku.
Aku hanya tertawa. "Aku lapar. Aku mau makan hotdog."
"Masih ada yang buka?"
Aku hanya menyeringai kecil dan mengajaknya ke kedai Army.
.
Hotdog di tanganku terasa berminyak dengan mayonnaise yang banyak tapi di situlah kenikmatannya. Aku bisa menikmati kopi bersama burger atau hotdog dua kali sehari. Aku tahu itu tidak sehat tapi tetap saja, aku menyukainya. Aku melihat Kakashi dan tertawa saat mayonnaise menetes di kaos putihnya, membuatnya mengumpat sebelum tertawa bersamaku.
"Ini mengingatkanku saat berjuang di jalanan dulu," ujar Kakashi setelah mengusap noda kuning itu dengan tisu lalu menyeruput kopi.
Sementara aku melirik dua pelayan yang berbisik-bisik di meja kasir. Aku melambai pada mereka, membuat Kakashi menoleh dan ikut melambai. Kedua gadis pelayan itu langsung histeris dan salah satunya justru pingsan. Gadis yang histeris tadi menggerakkan tangan di depan bibir, isyarat bahwa mereka akan menutup mulut mengenai kedatangan Kakashi di kedai mereka, sebelum berlalu untuk memberi kami privasi. Untuk itu aku berterima kasih.
"Hotdog dan burger bisa dibilang penyelamatku." Aku menjilati mayonnaise yang singgah di ujung jari. Kuangkat botol mayonnaise dan mengarahkannya pada Kakashi tanpa menekannya. "Jadi jika ada orang yang memintaku untuk berhenti memakannya, aku akan menembaknya dengan mayonnaise, pew pew pew!"
"Rasanya menjadi sangat nikmat karena kita memiliki kenangan pada makanan ini." Kakashi mengusap sisa mayo di sudut bibirku. Aku tersenyum lalu memerangkap ujung jarinya dengan bibirku dan menggigitnya, membuat sepasang iris abu-abu Kakashi berkilat.
Kakashi meninggalkan tips yang sangat banyak malam itu lalu menarik tanganku keluar dari kedai.
.
Sudah pukul dua dini hari. Aku mengeratkan jaket kulit ke tubuhku sementara Kakashi semakin mengeratkan rangkulannya di pinggulku. "Ah, itu dia! Come, Daddy!" Aku melepaskan diri dari rangkulan Kakashi untuk mengejar bis kota yang sedang berhenti di halte. "Cepat! Atau kita akan ketinggalan! Yang terakhir sampai akan dirias badut oleh Mei!"
Aku berlari sekencang mungkin tanpa menoleh meski bisa kudengar tawa Kakashi pecah di belakangku. Aku melompat ke dalam bis, menjejakkan kaki di anak tangga pertama, berpegangan pada tiang metalik, tepat saat pintu menutup di belakangku. Aku berbalik untuk mencari-cari Kakashi karena dia tidak ikut bersamaku. Aku terkejut mendapati sosoknya sudah duduk manis di deretan kursi paling belakang.
"Kau masuk di pintu depan. Aku masuk di pintu belakang," serunya setelah mengatur napas lalu menyeringai nakal. "Aku menang."
Aku membayangkan bagaimana wajahku dirias badut oleh Mei dan bergidik pelan. Aku lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling bis. Hanya ada lima penumpang termasuk kami. Sambil berpegangan pada tali yang menggantung, aku berjalan menuju kursi paling belakang dan menghenyakkan bokongku di sebelah Kakashi.
"Apa kau juga pernah mengejar bis, Daddy?"
"Tentu."
Aku menjatuhkan kepala ke dada bidangnya, menyesap dalam-dalam aroma tubuhnya yang khas lalu merangkul pinggangnya. Malam ini kami tidak melakukan hal intim selain berciuman. Tapi kurasa apa yang kami lakukan saat ini, bagiku, adalah hal yang paling intim dari semuanya. Begitu terbuka, dalam dan menyenangkan. Perasaan kami, hati dan pikiran, seolah menyatu tanpa kami duga. Aku bisa mendengar detak jantung pria itu berdentam-dentam, sama sepertiku. Hingga Kakashi menjatuhkan bibirnya di pucuk kepalaku dan berkata penuh sayang dalam suara serak.
"My Baby, my Doll, my Sweetheart …. "
"Aku tidak mau semua ini berakhir, Daddy …. "
Suaranya terdengar seperti alunan musik, membuaiku. Mataku pun memberat.
"Tidurlah. Aku akan membangunkanmu nanti."
Aku hanya mengangguk sebelum rasa lelah menguasaiku.
.
"Keep in touch, yeah?"
Aku sesenggukan. Tak ingin melepaskan pelukanku dari tubuh jangkungnya.
"Hei, Baby. Lihat aku." Kedua telapak tangan Kakashi menggenggam wajah mungilku yang basah oleh air mata. Pandanganku berkabut dan aku tidak bisa fokus pada wajahnya jadi aku mengandalkan telinga. "Aku akan menghubungimu begitu tiba di tujuan."
"Aku tahu."
"Belajar yang rajin. Makan teratur."
"Ya. Ya, aku akan melakukannya," ujarku sambil menggenggam tangannya erat hingga buku-buku jariku memutih.
"Sakura, my baby. Rasanya sangat berat untuk meninggalkanmu." Kakashi kembali memelukku, mengecup leher, rahang kemudian bibirku. Sekali lagi kami jatuh dalam ciuman panas sebelum Mei mengingatkan bahwa pesawat yang akan membawa mereka sebentar lagi take off.
"Terima kasih," bisikku dengan serak. Aku menatap Mei dengan mata berkaca. "Thank you."
Mei mengangguk dan tanpa diduga, dia memelukku dan berkata, "Ini adalah hal pertama dan terakhir yang akan kulakukan padamu, gadis bodoh."
Aku tertawa sambil mengusap air mata. "Maaf telah merepotkanmu."
"Kau tahu kita akan bertemu lagi kan?"
"Aku tahu. Tapi rasanya tetap saja menyakitkan."
Mei tersenyum sambil menepuk-nepuk pucuk kepalaku. "Take care."
"Jaga dia untukku, Mei."
Aku mengerling ke arah Kakashi dan sekali lagi pria itu memelukku beberapa saat. Tak lama keduanya beserta kru lain, berada di pesawat yang membawa mereka kembali ke New York. Aku hanya berdiri di depan kaca besar di bandara, kali ini tak bisa menahan lagi derai air mataku.
Tsunade pernah berkata, bahwa ada masa di mana kita sangat berat mengucapkan kata perpisahan. Tapi setiap dari akhir, akan menjadi awal dan kuharap, awal yang kujalani ini akan menjadi sesuatu yang spesial.
Melihat Kakashi pergi, membuat hatiku sangat sakit. Meski aku sangat ingin menahannya di sini bersamaku, menjaganya lebih lama lagi. Kakashi memiliki kehidupan lain yang harus dijalaninya. Aku tidak akan pernah melupakannya. Tawa bersamanya, menangis bersamanya, dan masa di mana dia mengeluarkanku dari kehidupanku yang berat. Bagi orang lain, mungkin akan menyesali situasi seperti ini karena telah membiarkannya pergi, tetapi bagiku? Aku tidak menyesali semua kenangan itu. Terima kasih untuk segalanya, Daddy. Let me keep those memories of you forever.
Aku menggenggam dadaku yang sakit lalu mengeratkan jaket kulit milik Kakashi. Hm? Jaket kulit ini … Aku membawa kerah jaket itu ke hidungku dan menyesap aroma Kakashi yang sudah sangat familier bagiku. Dengan gontai aku berjalan ke arah kursi, mencari-cari ponselku. Dengan sesenggukan aku menghubungi seseorang.
"Ino … aku di bandara sekarang. Tolong jemput aku karena … karena kurasa aku tidak sanggup jalan sendiri."
…
TBC
…
Aku kembali! Maaf menunggu lama untuk apdet fic ini tapi kuyakinkan aku tidak akan membiarkannya terbengkalai. Maaf! Semoga kalian menikmati fic ini. Oh, fic ini juga dalam proses revisi. Aku juga berniat membawa fic ini ke dalam original characters dan akan ku upload di Wattpad. Have a nice day!
