APRIL SNOW
Title:April Snow
Author: Ikki Ka Jung99
Cast: -Byun Baekhyun
-Park Chanyeol
-Lu Han
-Oh Sehun
Genre:Romance,Hurt,
Length: 3 of..?
Rating: M (untuk saat ini T '-')
Pairing: ChanBaek,slight! ChanLu,HunBaek,HunHan
WARNING FOR TYPO! DON'T LIKE DON'T READ! CHANBAEK JJANG ^^!
Summary: Saat rasa ini membawa asa untuk mencinta..
P.S kata-kata yang di italic bisa kata hati atau flashback
- chapt sebelumnya dilihat dari sisinya Baekhyun, chapt ini dari sisinya Chanyeol ^^
HAPPY READING! ^-^
******************* APRIL SNOW ********************
'ceklek'(?)
Chanyeol memutuskan untuk pulang sebentar, sembari mengecek keadaan rumah. Baru saja ditinggal 2 hari bau jamur, lembab serta bau aneh seperti bau zat kimia tecium di udara. Chanyeol cepat-cepat mengganti pakaian , membuka jendela agar udara segar diluar masuk , lalu mulai merapikan ruangan. Sembari membersihkan gelas dan menyirami tanaman, dia menatap asing pada seisi rumahnya. Bagaimanapun, rasanya sungguh aneh bila sudah terbiasa pada satu hal , lalu tiba-tiba harus berubah dan menjauh.
Chanyeol mulai paham. Kenyataan bahwa Luhan sedang cuti, pergi bersama namja lain yang tak dikenalnya dan kenyataan bahwa Luhan yang tidak bisa mencicipi sul bisa terkena kasus pengemudi mabuk, membuatnya terasa berhadapan dengan jurang dan tidak bisa menyingkir dari sana. Ingin sekali ia menghilangakn rasa curiga dan pikiran buruk. Setelah selesai membereskan rumah, ia mulai memasukkan beberapa barang yang akan dibawanya ke rumah sakit. Lalu dia menelpon suster untuk memastikan keadaan istrinya. Dia juga menelpon Jong In , mengatakan bahwa dirinya akan datang besok sebelum pertunjukkan.
'Aku harus memastikannya.."
Pada akhirnya ia mengambil ponsel Luhan dari plastik yang berisi benda-benda milik Luhan. Paling tidak hatinya akan merasa tenang saat ia membuka folder yang ada di ponsel tersebut. Namun, saat melihat tanda gembok di layar ponsel dan memerintahkan untuk memasukkan PIN, dadanya bergemuruh. Dia tidak menyangka Luhan mempunyai sesuatu semacam rahasia.
Chanyeol mencoba memasukkan angka-angka yang sekiranya berhubungan dengan mereka, seperti ulang tahun Luhan, ulang tahun Chanyeol, tanggal pernikahan mereka, nomor rekening, … Bahkan Chanyeol sudah memasukkan kombinasi angka-angka tersebut. Setiap kali mencobanya, gambar gembok itu selalu muncul seolah-olah mengejeknya. Melihat kenyataan yang membuatnya frustasi, Chanyeol merasa resah, mungkin saja nomor PIN itu berkaitan dengan namja yang berada di bangsal ruang UGD itu.
'brak!'
Chanyeol melempar ponsel Luhan yang berada di genggamannya karena rasa khawatir,curiga dan cemas mulai meledak di kepalanya seolah dirsiram zat kimia.
*************************** APRIL SNOW ****************************
Pagi harinya ia terbangun dengan kepala panas dan penuh sesak. Dia memutuskan untuk pergi ke lokasi panggung pertunjukkan tempat Jongin mengerjakan proyek tata cahaya. Akan tetapi langkahnya terhenti di depan pintu masuk. Di sebelah panggung tempat pertunjukkan itu ada service center telepon seluler. Chanyeol memantapkan dirinya untuk memasuki service center tersebut.
'Dalam situasi ketika pikiran , perasaan serta tindakan saling bertentangan dan bergerak ke arah yang berlainan apa boleh aku melakukan hal ini?' batinnya.
Begitu Chanyeol menyerahkan KTP dan ponsel Luhan, petugas service center segera memeriksa informasi mengenai Luhan di komputer. Tak butuh waktu lama, dia mengangkat kepala lalu megedarkan pandangan mencari Chanyeol.
"Nomor PIN-nya 1026" ucapnya.
Angka yang tidak ada kaitannya dengan dirinya. Sampai keluar dari service center, di tengah terpaan angin dingin pikiran Chanyeol menggila. Memikirkan bahwa angka itu berhubungan dengan namja yang ada di bangsal rumah sakit, muncul semacam perasaan 'dikalahkan' dalam diri Chanyeol.
'Mungkinkah angka itu berkaitan dengn peristiwa sejarah tahun 1979?' . Dari sudut bibir Chanyeol tersenyum lega. Rupanya perasaan ceria khas Luhan telah menyebar memenuhi perasaan Chanyeol.
P.S Pada 26 Oktober 1979 terjadi peristiwa pembunuhan terhadap Presiden Korea Selatan, Park Chung-Hee
Sesaat Chanyeol berhenti di depan panggung pertunjukkan dan membuat keputusan dalam hati. Dia tidak akan terkejut meskipun nanti menemukan iblis diantara pesan-pesan yang dikirim. Seandainya benar ada hal seperti itu, dia tak akan menuduh sembarangan sebelum Lu Han menjelaskan semuanya nanti.
Chanyeol menghentikan langkah kemudian membuka ponsel Luhan. Begitu nomor PIN ditekan, muncullah halaman utama ponsel itu. Disana terpampang sebuah pemandangan pantai dan pulau di daerah tropis. Kelihatannya bukan pantai Phucket tempat mereka berbulan madu. Chanyeol menekan nomor panggilan keluar.
Begitu tulisan "Catatan panggilan (1/300)" keluar, muncul beberapa deretan nomor telepon. Diantara nama-nama dalam ponsel tersebut nama "Sehun"-lah yang paling sering muncul. Seperti sedang mencoba mengingkarinya, Chanyeol memastikan benarkah Sehun disini, adalah "Oh Sehun"? Namja yang berada di bangsal rumah sakit itu?
Chanyeol menghela nafas sebentar. Kali ini dia menekan tombol pesan. Chanyeol menekan tombol pesan diterima. Muncul logo amplop pesan tersimpan sebanyak 74 buah. Begitu pesan terbuka, tiga diantara tujuh pesan yang ditandai dikirim oleh Sehun. Tanpa menghela nafas Chanyeol membuka pesan dari seseorang bernama Sehun yang terletak di daftar paling atas.
Aku sedang mempersiapkan jiwa dan raga untuk pertemuan kita besok. Aku sangat merindukanmu.
Chanyeol berusaha menguatkan kakinya agar tidak roboh. Sesuatu yang sudah ia duga. Perasaannya sudah siap, sekalipun berada dalam situasi paling buruk. Dia sudah berjanji tidak akan menuduh Luhan sampai namja itu sendiri yang mengatakannya padanya. Di hadapan kenyataan yang jelas , anpa harus dinilai atau dianalogikan lagi, perlahan-lahan ingatannya terurai.
Selama aku tidak ada jangan selingkuh ya.. Kalaupun selingkuh lakukan tanpa sepengetahuanku.
Perkataan Luhan seolah menjadi pisau belati untuknya. Mungkin itu semacam kode dari Luhan bahwa Aku selingkuh dan tak akan membuatmu tahu. Sesaat Chanyeol berdiri di jalanan musim dingin. Angin yang berhembus mengibarkan bajunya, sementara sinar matahari terasa lebih panas dari biasanya. Kepalanya kembali panas, bahkan tempurung kepalanya serasa ingin meledak. Lu Han sedang cuti, tapi pergi bersama namja lain dalam kondisi mabuk….. Semua hal itu muncul kembali di otaknya, membuatnya berfikir bahwa selama ini Luhan hidup dengan penuh kebohongan dan kemunafikan.
Chanyeol meletakkan ponsel itu disakunya. Dia menggosok-gosokkan wajahnya dengan kedua tangannya kemudian menghela nafas panjang, namja itu mulai memasuki panggung pertunjukkan. Setelah menyapa Jongin. Chanyeol mengambil peralatan lampu dalam kotak peralatan, lalu bergerak menuju panggung, menaikkan lampu dengan CAD ke atas truss.
Dia harus melakukan hal itu. Dengan bergerak dan menyibukkan diri, pikiran kacaunya yang bagai diterpa angin puyuh mungkin mereda. Chanyeol berjalan tanpa ragu melewati kerangka besi bangunan untuk memasang lampu di panggug dan menempel filter di depan masing-masing lampu sesuai desain program. Mungkin karena sudah terbiasa walaupun sibuk dengan pekerjaan tubuh dan pikirannya tetap berjalan-jalan sendiri. Dia baru melihat hal-hal yang selama ini telambat disdarinya.
Dia pun paham alasan menenangkan Luhan untuk cuti selama tiga atau empat hari kedepan. Ada banyak pekerjaan di kantor , tenaga para karyawan terkuras sampai titik darah penghabisan. Oleh karena itu karyawan boleh meminta cuti pada musim gugur atau musim dingin.
Begitu kepercayaan yang paling dalam hancur maka semua hal akan terlihat mencuigakan. Sering kerja lembur pun pasti ada alasan lain. Sebagai seorang pekerja interior, istrinya beralasan harus bertemu langsung dengan klien. Rupanya semua perkataan Luhan bisa jadi hanyalah kebohongan belaka. Pergaulan Luhan yang amat luas dengan orang-orang pun mencurigakan. Pesta pernikahn teman, acara dol anak rekan kerjanya, upacara duka cita kenalannya,dll. Alasan menghadiri hal-hal tersebut rupanya merupakan tirai yang digunakannya untuk melakukan pertemuan rahasia.
Dia menyesal karena telah mengkhawatirkan Luhan yang melewatkan makan malam sendirian saat dirinya sering kerja malam dan pulang larut. Bahkan ia sering merasa bersalah saat pertunjukkan sering dadakan di luar kota untuk waktu yang lama, bahkan bisa sampai 1 bulan. Namun ternyata…. Chanyeol merasa hidupnya saat ini tengah diolok-olok.
Pekerjaan mengatur lampu telah selesai, tinggal menaikkan ke atas truss. Chanyeol dan pekerja lain melihat panggung dari stan, kemudian memberi tanda kepada tim pengawas yang berdiri di samping panggung. Begitu pengawas menekan tombol, bangunan besi itu berderit dan perlahan-lahan naik ke langit-langit, pada akhirnya gerakannya terhenti. Pengawas mendekat kearah stan tempat Chanyeol berdiri, lalu menerangi truss.
"Tolong naikan sedikit lagi.."ucap Chanyeol.
"Tidak bisa. Jika dinaikkan lagi, truss-nya akan menyentuh langit-langit."
"Naikkan satu meter saja. Kelihatannya tidak apa-apa."
"Segitu saja sudah berbahaya. Orang yang sangat ahli sepertimu mengapa berpikir melakukan hal seperti itu?" Tanya pengawas itu heran.
Chanyeol tahu dirinya keras kepala. Dia juga tahu bahwa tidak perlu melakukan hal itu. Tapi , dia ingin mewujudkan tuntutan dalam dirinya, dalam hatinya tumbuh keinginan untuk membuat semua orang tak bisa mengabaikannya.
"Jarak satu meter dapat menghasilkan bayangan yang berbeda".
Akhirnya pengawas tidak bisa berbuat apa-apa dan mendekat ke arah panggung, lalu dengan hati-hati menekan tombol. Benda itu berderit perlahan-lahan,saat hampir mencapai satu meter, tiba-tiba bangunan besi itu berguncang hebat.
BRAKK!
PRANG!
Beberapa lampu jatuh ke lantai dan menimbulkan suara ledakan keras. Para pekerja yang sedang berada di atas panggung segera berlarian ke kursi penonton. Pecahan lampu berserakan dia atas panggung. Chanyeol menyaksikan peristiwa tersebut tanpa perasaaan apapun.
'Bagaimanapun …. Aku telah membuat orang disekitarku menjadi korban'
'Bukan hanya aku yang menderita, melainkan juga orang-orang disekitarku' lanjutnnya dalam hati.
" Ketua!" panggil Jongin lalu mendekat dan mematikan tombol box control. Tim pengawas yang berdiri di samping panggung serta ketua pelaksanaan acara juga berlari ke arah Chanyeol.
"Jwesonghamnida..jwesonghamnida.." Chanyeol terus meminta maaf pada orang-orang tersebut.
"Yah.. kalau sudah hancur begini , apa boleh buat. Syukurlah tidak ada korban yang terluka parah.."
"Geure.. Karena tak ada banyak waktu lagi, kita harus bergegas menangni pekerjaan ini."
Orang-orang kembali ke posisinya msing-masing membersihkan pecahan lampu di atas peanggung, kemudian kembali memasang kabel lampu. Ketua pelaksana acara "Kim Jyun Myun (Suho) " berdiri disamping Chanyeol dan berbisik pelan,
" Aku mendengarnya dari Jongin. Istrimu masih belum siuman?'
Chanyeol mengangguk pelan," Kelihatannya aku harus istrirahat sebentar dari pekerjaaan ini."
Suho maenganggukkan kepalanya," Beristirahatlah. Bebaskan dirimu dari acara kali ini"
Suho menepuk-nepuk bahu Chanyeol sebelum ia meninggalkan namja itu. Setiap kali berjalan ponsel Luhan yang dimasukkannya ke dalam saku celana menyentuh pahanya. Chanyeol memasukkan tangannya dan mengambil ponsel itu. Ingin rasanya dia membuang ponsel itu ke tempat sampah atau membuangnya ke dalam kloset. Chanyeol masuk ke toilet yang ada dalam tempat pertunjukkan.
Akan lebih baik baginya kalau istrinya meninggalkannya bila mencintai orang lain. Semuanya akan baik-baik saja meskipun dia bilang bahwa dia mencintai namja lain dan bersikap jujur. Chanyeol tak sanggup membayangkan istrinya berlibur dengan namja lain saat dirinya tak ada di rumah.
Selama aku tidak ada jangan selingkuh. Saat mengucapkan kalimat itu Luhan menyusupkan tangannya ke dalam piama Chanyeol. Saat itu tangan Luhan serasa tegas, tapi lembut. Setelah menggeleng kuat-kuat, Chanyeol membasuh wajahnya dengan air dingin yang mengalir dari keran wastafel. Begitu air dingin membasahi wajahnya, terasa ada sesuatu yang menyengatnya melewati tengkuk menuju ubun-ubun.
Setelah selesai, Chanyeol mengangkat wajahnya menghadap cermin. Wajahnya berlumuran darah. Hudungnya mimisan. Tampaknya bukan air yang membasahi wajahnya, melainkan darah. Hidungnya masih terus mimisan. Untuk pertama kalinya Chanyeol takut melihat darah yang tak kunjung berhenti meskipun sudah berkali-kali ia mengusapnya dengan telapak tangan. Sekalipun rasanya ingin menelungkupkan hidupnya ke lantai, tetapi masih banyak hari esok yang harus dijalaninya.
TBC..
A/N: hai… chapt 3 here.. :D
Gimana ceritanya? Makin gajelas ya.. :( atau makin bingung sm ceritanya? RnR nde chingu.. :)
Butuh kritik dan saran.. :D
Btw mian ya.. apdetnya ngaret T-T lagi sibuk-sibuknya ulangan,jadi ga smpet ngeshare.. T-T
Big Thanks To:
angelaalay|ChanBaekLuv|13613|parklili|riza . nafa . 9
Thanks juga buat yang follow dan fav.. :) :D
See you in next chapter guys… :D ^^
Semoga ga bosen2 ama jalan ceritanya.. ^^
Pai..pai... :D ^^
