APRIL SNOW
Title:April Snow
Author: Dandelion99
Cast: -Byun Baekhyun
-Park Chanyeol
-Lu Han
-Oh Sehun
Genre:Romance,Hurt,
Length: 5 of..?
Rating: M (untuk saat ini T '-')
Pairing: ChanBaek,slight! ChanLu,HunBaek,HunHan
WARNING FOR TYPO! DON'T LIKE DON'T READ! CHANBAEK JJANG ^^!
Summary: Saat rasa ini membawa asa untuk mencinta
HAPPY READING! ^-^
***************************** APRIL SNOW *************************
Pertama kalinya Chanyeol merasakan penderitaan adalah saat segala hal yang terlihat di depannya kini bagaikan mata pedang yang mengarah pada dirnya. Chanyeol menggelengkan kepalanya berusaha mengusir segala kepedihannya dan meminum segelas soju, lalu menyodorkan gelasnya kepada Jong In. Jong In mengikuti Chanyeol. Setelah meminum satu teguk , dia meletakkan di atas meja.
"Saat pertama kali melihat Lu Han yang terluka di rumah sakit… "
Chanyeol tidak melanjutkan ucapannya. Sewaktu mendengar kabar kecelakaan Luhan, dia merasa lebih baik jika dirinya saja yang menanggung lukanya. Namun, belum lewat beberapa hari dia mengatakan " Lebih baik kau mati saja". Dia tak percaya pada dirinya saat ini dan pada kehidupannya yang penuh kebohongan serta kepalsuan. Dia masih belum sanggup menerima kenyataan bahwa kepercayaan dan komitmen yang selama ini ia bangun berubah menjadi butiran debu.
" Jangan telalu khawatir. Dia pasti akan segera siuman" hibur Jong In
Chanyeol merasa ucapan Jong In tedengar seperti ejekan. Dia mengerti maksud Jong In datang jauh dari Seoul di sela-sela jadwalnya yang padat. Namun, perasaan menderita terlanjur tumbuh di dalam diri Chanyeol.
"Kau… apa hubunganmu dengan istrimu baik-baik saja?"
"Ya, begitulah.." jawab Jong In tenang
Seandainya mereka tahu ada sesuatu di balik hubungan mereka yang terlihat indah, bahkan Jong In pun pasti akan tertawa. Chanyeol merasa menderita akan hal itu.
"Jong In~ah … apa aku terlihat menggelikan?"
"Tidak"
Jawaban Jong In lagi-lagi terdengar seperti ejekan baginya. Chanyeol mengisi penuh gelasnya yang berukuran besar. Dia ingin pikirnnya terhenti ketika meminumnya dalam sekali teguk. Ketika Chanyeol mengangkat gelasnya, Jong In mencegah Chanyeol dengan memegang gelas tersebut. Hal itu membuat Chanyeol akan meledak.
" Mian, Jong In~ah. Kau pergi duluan saja!"
Chanyeol tak ingin memperlihatkan kemarahannya pada Jong In. Jong In memandanginya dengan tatapan prihatin.
"Hyung~"
"Jong In~ah, kau pergi duluan saja !" kali ini dengan nada yang lebih keras.
Jong In beranjak dari duduknya dan mengambil jaket yang disampirkan di kursi. Namun dia kembali tak bergerak saat berdiri di depan meja.
"Jong In~ah, jebal.." nada suaranya terdengar seperti permohonan yang sangat berat
Mendengar hal itu, Jong In menjauh dari meja itu , dan pergi dari bar. Setelah meminum habis soju dalam gelas itu, Chanyeol menempelkan dahinya ke meja, jatuh tertelungkup tak berdaya. Tubuhnya bergetar. Dia tak tahu apa yang harus dilakukannya dengan tayangan video dalam layar kamera digital itu. Saat matanya tertutup maupun terbuka tayangan itu tetap terlihat. Hal yang membuat perasaannya sedih bukanlah ketika melihat Luhan bersama namja lain. Alasan yang lebih kuat justru karena sesuatu yang berharga, kehidupan yang tak seharusnya diperlihatkan kepada orang lain dan dunia, telah dihancurkan sekali tebas.
"LEBIH BAIK KAU MATI SAJA!" teriaknya.
Saat mengucapkan kata itu, Chanyeol merasakan nafsu membunuh keluar dalam dirinya. Dia ingin mencekik leher Lu Han. Chanyeol mengangkat kepala dan melihat-lihat ke sekeliling bar, bahkan wajah pemilik bar pun tidak terlihat. Dia membenahi bajunya , meninggalkan uang di atas meja, lalu keluar dari bar. Chanyeol tak tahu bahwa di sudut jalan Jong In memperhatikannya. Dirinya berusaha berjalan dengan benar saat merasakan tatapan mata Jong In yang entah ada di mana. Namun, jalannya justru semakin sempoyongan.
Bahkan angin musim dingin yang menerpa tengkuknya mampu menciptakan puting beliung di dalam diri Chanyeol. Saat itu hanya satu yang ingin Chanyeol inginkan. Kejelasan dalam dirinya. Dia berharap bisa merasakan satu saja, yaitu cinta atau benci…
********** APRIL SNOW **********
Baekhyun duduk di lantai kamarnya sambil minum, dia mendengar suara angin itu. Entah datangnya dari puncak gunung atau dari salah satu sudut pantai, angin itu lewat di depan jendela Baekhyun. Dia mencoba mengumpat tapi rasa sesak dalam hatinya tak kunjung hilang.
Sewaktu berjalan berlawanan dengan arah menuju rumah sakit, angin bertiup dari belakang dan menyibakkan rambutnya. Kota ini sepi pada siang hari. Di kanan-kiri jalan terdapat bangunan-bangunan tua dan beberapa rumah penduduk yang perlahan ikut menua. Meskipun seperti tidak ada tanda kehidupan terdapat jemuran dan beberapa surat di dalam kotak pos. Di sisi kanannya terdapat pohon Paulownia yang besar dan ada beberapa kendaraan diparkir dibawahnya. Tak lama setelah berjalan dari situ, terlihat sebuah taman.
Baekhyun masuk ke taman itu. Disebelah kanan pintu masuk terdapat pohon tinggi dan kokoh berdiri. Ada papan tulisan yang ditempel di batangnya.
Pohon Pagoda
Klasifikasi : kacang-kacangan
Usia : 350 tahun
Baekhyun memandangi lumut hjiau yang menumbuhi setiap lapisan luar pohon tersebut. Dia tidak bisa membayangkan rentamg waktu selama itu.
Baekhyun lalu mengelilingi taman itu. Dia melihat usia-usia pohon seolah itu merupakan hal yang sangat penting. Pohon Jintan Saru (60 th), pohon Zelkofa (150 th), pohon Maple (45 tahun).
Satu hal yang ingin di lakukan Baekhyun saat ini. Tidur. Dia ingin mengakhiri pengkhianatan, cinta, dan kemarahan. Caranya yakni tidur. Entah itu diatas pohon Pagoda yang berusia 350 tahun atau di tengah kegelapan malam di taman, atau di bawah pohon Maple yang sekarang tengah disandarinya. Seandainya bisa tidur, dia ingin tidur lebih lama dibandingkan dengan beruang yang hibernasi atau orang mati sekalipun. Walaupun perutnya lapar, ada yang membangunkannya, walau musim terus berganti, dia tak akan terbangun. Seandainya memungkinkan, dia ingin Sehun memohon maaf padanya. Dalam tidurnya, dalam istirahat panjangnya.
Setelah menghabiskan sul, Baekhyun mendengar suara langkah kaki di koridor. Suara itu terdengar lebih tak beraturan, lalu berhenti di tempat tak jauh dari kamar Baekhyun. Baekhyun yakin itu adalah orang itu. Dia sudah terbiasa melihat namja itu keluar dari motel dan pulang dengan keadaan mabuk dan berjalan sempoyongan.
" Permisi.."
Laki-laki itu mengetuk pintu kamar di sebelahnya., bukan pintu kamar Baekhyun. Sambil mengetuk-ngetuk pintu namja itu mengomel sendiri dengan nada suara orang mabuk.
"Permisi, tolong bukakan pintu"
Awalnya Baekhyun berfikir laki-laki itu terlalu banyak minum soju,sul, atau sejenisnya dan menganggap kalau namja itu sedang mengeluarkan keluh kesahnya di depan pintu. Tetapi ketika namja itu mengatakan "permisi" lagi, ia yakin kalau itu ditunjukkan kepadanya. Namja itu terus mengetuk pintu sambil mengomel sendiri. Kalau tidak dihentikan , tampaknya ia akan terus begitu. Baekhyun mengangkat gagang telepon hendak menelpon resepsionis untuk menangani masalah ini. Tapi akhirnya dia meletakkan kembali gagang telepon itu. Setelah menghela nafas, dia pun membuka pintu.
Saat pintu terbuka, namja itu sedang berdiri sambil bersandar di pintu kamar sebelah. Namja itu menoleh ke arah Baekhyun begitu mendengar pintu terbuka. Kondisinya berantakan, rambut… baju… bahkan tatapan matanya kosong.
"Mari kita mengobrol" ucap namja itu setelah berjalan sempoyongan dan menyandarkan diri di pintu kamar Baekhyun.
Karena namja itu menguasai pintu kamarnya, Baekhyun melepaskan pintunya, kemudian mundur satu langkah. Setelah berhasil memegang pintu, namja itu masuk ke kamarnya. Tanpa basa-basi dia ambruk di sudut kamar.
Baekhyun hanya berdiri di luar kamar untuk beberapa saat. Dia memandangi namja itu. Namja yang pingsan di sudut kamar itu terlihat seperti mayat daripada manusia. Baekhyun maju selangkah mendekat ke kamarnya dan kembali memandangi namja itu. Suara nafas berat dan bau alcohol menyebar ke seluruh ruangan. Baekhyun membuka jendela. Setelah mengambil sul, dia pun pindah duduk di kursi. Wajah namja yang terkapar di lantai itu terlihat amat tirus. Dahinya mengernyit menimbulkan keriput di alisnya.
Baekhyun hanya minum sul tanpa bisa melakukan sesuatu. Dia bisa memahami perasaan kecewa namja itu. Bercerita tentang kenyataan yang dialami kepada seseorang membuat permasalahan dalam hati sedikit teratasi. Tingkat kekuatan dari emosi yang meledak-ledak, perasaan dikhianati yang mematahkan tulang, penderitaan yang membuat berat badan turun juga bisa berkurang. Namun untuk saat ini, tidak demikian dengan Baekhyun.
"Jadi.. apa yang bisa kita lakukan? Saling mengusap pipi dengan tangan yang mati rasa? Saling mengelus perut sesama orang kelaparan? Saling menggaruk luka sesama orang terluka?... Apa gunanya semua itu? Jika kebahagiaan bertemu dengan kebahagiaan, kebahagiaan itu akan berlipat ganda. Namun jika penderitaan bertemu dengan penderitaan, penderitaan itu akan meledak. Mungkin dapat menghancurkan benda-benda dalam radius 1 km hancur total. Jangan mengharapkan apapun dariku. Jangan mendekatiku".
Baekhyun turun dari kursinya dan kembali duduk di lantai. Ternyata jika dilihat dari dekat mata namja itu indah dengan bulu mata yang lebat, hidungnya mancung dan bibirnya juga terlihat bagus. Ingin rasanya Baekhyun melepas sepatu dan jaket namja itu, lalu membuatnya berada dalam posisi nyaman.
Jika dilihat-lihat, ada banyak hal yang bisa dilakukan Baekhyun untuk namja itu. Dia bisa menaruh selimut di bawah punggung namja itu agar tidak terganjal lantai kamar yang keras. Dia juga bisa mengelap wajah dan tangan namja itu dengan handuk hangat. Hal seperti itu biasa dilakukannya pada Sehun. Baekhyun terkejut saat melihat namja itu memiringkan tubuhnya. Dia mengigau.
"Lu han.."
Meskipun pengucapannya tidak jelas, dia pasti memanggil nama istrinya. Baekhyun memandang namja itu cukup lama. Mulutnya yang mengecap-ngecap, alisnya yang mengernyit, tangannya yang menggosok-gosok hidung, semua diperhatikan secara seksama. Siapapun yang melihat wajahnya pasti akan langsung jatuh cinta. Tidak… Tidak bisakah selain mencintainya?
Selama memandangi wajah namja itu, Baekhyun menggeleng dalam hati. Di tempat yang paling dalam di hatinya ia menangis. Dadanya terasa sesak. Dia ingin sekali bisa seperti namja itu. Seandainya bisa menangis, mungkin semuanya akan baik-baik saja. Namun, sayang air mata tak kunjung keluar. Seandainya bisa tidur, yang pertama, ia tak akan bangun lagi. Sampai saat musim berlalu dan menghapus segala kenangan, lalu dia memaafkan kenangan yang terhapuskan itu. Dia ingin tidur sampai saat itu.
Baekhyun bangkit dari tempat duduknya. Dia mengambil jaket dan meminum dua gelas air dari kulkas, sebelum meninggalkan kamar. Dia lalu meninggalkan secarik kertas memo di samping namja itu.
Di kulkas ada air
Baekhyun menuju bukit yang berada di taman belakang rumah sakit. Begitu menaiki tanggul sungai, hal yang terlihat tidak asing baginya adalah karang besar berwarna kemerahan itu. Baekhyun berdiri dalam waktu yang cukup lama memandangi karang curam yang terlihat seperti logam besar. Namja manis itu merasakan getaran pada saku jaketnya. Ia memeriksa ponselnya dan membuka pesan yang terkirim. Hatinya merasa sedikit berat setelah membaca pesan itu. Esok akan menjadi hari yang berat baginya… dan bagi namja yang pingsan di sudut kamar itu.
********** APRIL SNOW **********
" Pengemudi truk yang bertabrakan dengan mobil pasangan kalian telah meninggal. Berhubung korban masih muda sangat sulit bagi kami ketika berunding dengan keluarga korban. Kusarankan kalian sebaiknya melakukan kunjungan bela sungkawa " ujar petugas asuransi bername tag "Seo Joo Hyun" itu.
"Karena pengemudinya belum bisa dipastikan, sebaiknya kalian berdua pergi bersama" lanjutnya. Maksudnya agar mereka bisa berunding mengenai uang asuransi. Bukan tugas yang mudah memang. Selain itu, kemungkinan besar mereka tidak mendapatkan perlakuan yang baik dari keluarga korban.
Setelah saling menyapa saat menaiki mobil, tak ada lagi ucapan yang dilontarkan Baekhyun. Chanyeol yang merasa canggung akhirnya menyetel musik, tetapi sesaat kemudian dia mematikannya. Lagu-lagu yang ada di mobilnya kebanyakan adalah lagu yang berirama gembira dan penuh semangat. Suasana sepi tampaknya lebih baik bagi mereka saat ini.
Meskipun ia berada dalam satu mobil dengan orang asing, Chanyeol merasa bersyukur karena dirinya merasa nyaman. Alasannya mungkin karena memo 'Dikulkas ada air'.
Flashback
Setelah bangun tidur, Chanyeol merasa dirinya tak karuan dan berbaring di suatu tempat. Benda-benda disekitarnya terlihat asing. Dia takut melakukan sesuatu yang buruk saat dirinya mabuk. Melihat dirinya masih berpakaian lengkap, tampaknya ia tidak melakukan keasalahan besar. Namun sudah pasti, ia membuat si pemilik kamar murka. Lalu ia bergegas keluar dari kamar. Namun di depan pintu langkahnya terhenti. Dia merasa seperti ada yang tertinggal atau terjatuh. Dia melihat kertas putih di sudut kamar dan segera mengambilnya.
Di kulkas ada air
Saat melihat memo tersebut, tubuhnya yang semula tegang menjadi rileks. Dalam satu kalimat itu tersimpan banyak arti. Kalimat itu menjelaskan kenyataan bahwa Chanyeol tidak melakukan perbuatan yang melanggar etika, serta namja manis itu tidak marah besar kepadanya dan mengkhawatirkan kondisi Chanyeol setelah ia bangun. Chanyeol melihat sekilas kulkas kecil itu, kemudian keluar kamar.
Saat memasuki kamarnya, ia segera bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Dia tidak pergi untuk menjenguk Luhan. Dia masih tidak ingin bertemu dengan istrinya. Chanyeol justru mencari-cari Baekhyun melalui jendela ruang UGD. Dia berjalan keluar menuju koridor rumah sakit. Namja manis itu sedang berdiri di samping mesin penjual minum otomatis yang ada di ujung koridor sambil memandang keluar jendela. Begitu melihat namja itu, entah mengapa Chanyeol merasa lega.
"Maaf.."
Baekhyun menoleh secara perlahan. Ekspresinya dingin saat menatap Chanyeol, lalu mengalihkan kepalanya pada jendela. Benar-benar sinar mata orang asing. Chanyeol menunggu di belakangnya menunggu reaksi dari namja itu.
"Terima kasih.." ucap Chanyeol sebelum membalikkan badan
Baekhyun tetap tak bergerak.
Flashback End
Rumah korban bisa dibilang terletak di daerah terpencil. Tidak sulit mencari rumah duka yang mereka tuju. Setelah melewati papan penujuk jalan tampaklah sebuah desa yang tidak terlalu besar . Lampion-lampion dipasang di sepanjang jalan tersebut. Chanyeol memarkirkan mobilnya di ujung jalan. Baekhyun keluar dari mobil dan berdiri di belakang Chanyeol. Sikapnya menunjukkan dia ragu-ragu dan takut.
"Apakah kita akan berhenti di sini?"Tanya Baekhyun
Karena tak ada jawaban akhirnya Baekhyun mengikuti Chanyeol menuju rumah duka. Chanyeol memasuki halaman rumah , kemudian memasukkan amplop ke dalam kotak. Baekhyun juga melakukan hal yang sama. Seorang kakek mengangkat tubuhnya dengan berat lalu berjalan mendekat ke arah mereka. Chanyeol dan Baekhyun secara bersamaan membungkuk mengucapkan salam pada kakek tersebut.
"Apa kalian teman Jong Dae?"
Kakek itu menyuruh mereka masuk ke dalam ruangan. Chanyeol menyebutkan identitasnya dengan suara rendah dan hati-hati.
"Kami pasangan dari orang yang terlibat dalam kecelakaan itu. Aku benar-benar minta maaf"
Kakek itu kembali duduk di lantai kayu. Tak lama kemudian terdengar suara tangisan tak berdaya. Perempuan yang ada di dalam rumah itu keluar sambil berteriak,
"Eomma~!"
Seorang lagi keluar dari dapur dan menatap mereka curiga dan penuh pertanyaan. Kali ini Baekhyun-lah yang menjawab.
"Kami mohon maaf. Kami adalah pasangan dari orang yang terlibat dalam kecelakan itu".
Yeoja itu menaruh nampan yang dibawanya kemudian menjambak rambut Baekhyun. Kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata
"Selamatkan adikku! ADIKKU!"
Di bawah cengkraman tangan orang itu, Baekhyun merasa tidak hanya rambutnya yang sakit, tetapi seluruh badannya juga. Dia menunjukkan sikap pasrah kepada yeoja itu.
'Baiklah lakukan apa saja. Kau mau menghukumku,menghinaku, atau menyakitiku, silahkan lakukan sesuka hatimu. Tapi apapun itu, tolong sakiti aku dengan benar' batin Baekhyun.
Chanyeol bermaksud melindungi Baekhyun, namun saat dia hendak merentangkan kedua tangannya untuk melerai kedua orang itu seorang namja tiba-tiba memukul dan menendang Chanyeol. Berkali-kali dada dan pundak Chanyeol dipukulinya..
Saat menerima serangan namja itu, Chanyeol mengerti mengapa Baekhyun menerima segala pukulan dengan memejamkan mata. Jika dibandingkan dengan panas yang dirasakan di dalam hati, pukulan serta tendangan itu bukanlah apa-apa. Dia merasa hatinya lebih tenang saat pukulan dan tendangan itu dilayangkan di tubuhnya. Seolah penderitaan serta perasaan berdosanya menjadi berkurang.
Suasana semakin kacau. Orang-orang berdatangan untuk melerai pertengkaran itu. Walaupun namja itu sudah di pegangi ia masih sempat menendang Chanyeol. Tanpa membereskan penampilan mereka yang acak-acakan, Chanyeol dan Baekhyun kembali berdiri dengan posisi tegap.
"Cepat kalian pergi"
Kakek itu memberi isyarat dengan tangannya menyuruh Chanyeol dan Baekhyun pergi, tetapi kedua orang itu tetap tak bergerak. Namja yang memukul Chanyeol tadi masih saja berteriak-teriak mengumpat kepada dua orang itu. Kakek itu mendekati Chanyeol dan Baekhyun, lalu mengibaskan tangan untuk mengusir mereka.
"Cepatlah pergi, cepat…"
Suaranya terdengar begitu memohon. Setelah membungkuk hormat pada kakek itu Chanyeol dan Baekhyun segera meninggalkan rumah duka. Mereka kembali menaiki mobil. Sejak meninggalkan rumah duka Baekhyun hanya duduk diam menahan nafas sambil memandangi alam bebas yang terlihat di kaki langit. Air mata yang sejak tadi ditahannya sebentar lagi akan meluap.
"Tolong hentikan mobilnya"
Suaranya bercampur tangis. Setelah Chanyeol menghentikan mobil di tepi jalan, Baekhyun buru-buru keluar dari mobil, lalu menyebrangi jalan yang kosong. Dia menumpahkan seluruh air matanya pada alam bebas. Meskipun hanya sekali ia menangis, tangisan itu dari hatinya yang paling dalam. Baekhyun duduk meringkuk. Posisi yang biasa dilakukannya saat menangis untuk waktu lama.
Chanyeol tidak turun dari mobil dan hanya bisa memperhatikan Baekhyun dari kaca samping mobil. Kini ia paham perasaan namja yang membiarkan dirinya begitu saja saat mabuk. Seperti Chanyeol sekarang, tak bisa melakukan apa-apa untuk Baekhyun yang sedang menangis, begitu pula dengan Baekhyun waktu itu. Hanya bisa mengawasi.
Chanyeol turun dari mobil dan membawa sekotak tisu, lalu berjalan mendekati Baekhyun. Baekhyun mengambil tisu dari kotak tersebut, kemudian menyeka air matanya. Airmata semakin deras mengalir. Namun namja itu menangis sembari berusaha menahan agar dirinya tidak benar-benar hancur. Berdiri di sebelah namja yang menangis, tak ada yang bisa dilakukan Chanyeol. Dia tak pernah belajar, cara untuk menenangkan namja yang menangis selain menunggu namja itu menyelesaikan tangisannya. Sambil memperhatikan bahu namja yang naik turun itu, baru kali ini Chanyeol menyadari bahwa dirinya memang kesepian dan butuh dikasihani.
"Kau baik-baik saja?" hanya itu yang terlontar dari bibir Chanyeol.
Bahkan, timbul perasaan tulus mengkhawatirkan keselamatan namja itu. Sesaat setelah Chanyeol bertanya, Baekhyun mengangguk dan kembali menangis. Saat suara tangis namja itu makin keras, ingin rasanya Chanyeol merangkul bahunya dan menepuk-nepuknya. Kini dia paham bahwa hal itu juga merupakan cara untuk menghibur dirinya.
Saat kembali masuk ke mobil, Baekhyun langsung menyandarkan kepalanya ke kursi, lalu tertidur pulas. Setiap kali mobil bergerak ke kanan atau ke kiri, kepalanya ikut bergerak ke kaca mobil atau ke kursi pengemudi. Setiap kali kepala Baekhyun bersandar pada kaca jendela mobil, Chanyeol membetulkan posisinya dengan menyandarkan kepala Baekhyun pada sandaran kursi.
Setiap kali melewati jalan sempit yang menikung ke kiri atau ke kanan, Chanyeol mengurangi kecepatannya. Lalu saat melewati jalan yang berliku, Chanyeol sengaja merentangkan tangan memegangi kepala Baekhyun. Walaupun kepala dan bahunya berulang-ulang dipegangi, Baekhyun tetap tertidur. Wajahnya terlihat mengerut setiap kali cahaya lampu jalan menyinari wajahnya.
Setelah peristiwa kecelakaan itu dia sering bertemu atau sekedar berpapasan dengan Baekhyun. Di koridor ruang UGD dan ruang operasi, di kantor polisi, bengkel,motel, caffe …. Di setiap pertemuan mereka, namja manis itu tidak pernah menampilkan ekspresi marah atau kesal. Namja manis itu selalu tenang dan tetap tenang dalam penderitaannnya.
Chanyeol melihat namja manis itu seperti batu karang. Tetap teguh walau diterjang ombak sekalipun. Seperti pohon yang tetap tegak meskipun diterjang badai. Terkadang ia ingin mengguncang bahu namja manis itu. Dia penasaran, apabila diguncang bahunya apakah dia akan memberi respon seperti pohon maple yang daun merahnya berguguran saat musim gugur?. Chanyeol memperhatikan namja manis itu. Walaupun berkerut sinar wajah namja itu polos seperti bayi.
Pada akhirnya, Chanyeol menghentikan mobilnya di pinggir jalan, kemudian memundurkan kursi Baekhyun agar bisa tidur dengan nyaman. Saat Chanyeol tengah memundurkan kursi, Baekhyun terbangun sesaat, lalu berkata "tidak". Sambil mengigau dia bergerak membetulkan posisi tidurnya. Begitu Chanyeol menaruh bahunya pelan-pelan, sambil menghela nafas, Baekhyun kembali tertidur.
Mari kita mengobrol, Chanyeol ingat kalimat yang dilontarkannya kepada Baekhyun. Mari kita mengobrol. Chanyeol sadar keinginan tersebut tetap tak berubah. Seandainya mereka benar bisa mengobrol, ada satu hal yang ingin ditanyakan. Apakah kau bisa menyelesaikan semua masalah itu hanya dengan diam, bagaimana perasaanmu saat melihatku pingsan karena mabuk…
Hampir mendekati tengah malam saat mereka tiba di Samcheok. Meskipun sudah seharian, Baekhyun masih belum bangun juga. Chanyeol memarkirkan mobilnya di depan motel, kemudian pergi ke apotek yang ada disekitar situ untuk membeli obat . Chanyeol merokok di luar mobil. Dia tak tahu cara membangunkan namja asing yang tengah tertidur di dalam mobilnya.
Saat bermaksud menyalakan rokok kedua, tubuh Baekhyun mulai bergerak-gerak. Namja manis itu melihat sekeliling, kemudian membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Begitu menemukan Chanyeol sedang berdiri di luar mobil, ada sedikit perasaan senang dan lega dari ekspresinya.
"Maaf , aku tertidur di sampingmu yang sedang mengemudi…"ucap Baekhyun dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Gwaenchana…" jawab Chanyeol disertai senyum
'Berada di sampingmu membuatku sedikit terhibur' sambungnya dalam hati.
Chanyeol memberikan bungkusan obat pada Baekhyun. Dengan enggan Baekhyun menerima bungkusan obat tersebut.
"Kamsahamnida…"
Chanyeol menyaksikan dengan seksama ekspresi ketenangan yang terpancar dari wajah namja itu. Bukan seseorang yang menangis karena rapuh beberapa saat yang lalu atau yang mengerutkan dahinya saat tidur. Chanyeol terkejut melihat perubahan namja manis itu sehingga mau tak mau beberapa kali ia memandangi Baekhyun.
"Semangat ya…" ucap Chanyeol sebelum mereka berpisah di koridor motel.
Kata itu juga diucapkan untuk dirinya sendiri. Walaupun diusir keluar dunia, walaupun harus berada di ujung dunia sekalipun, ia harus tetap menjalani kehidupannya. Hanya dia yang tahu perasaannya atau apapun yang terbaik bagi kehidupannya. Dia tak tahu bahwa Baekhyun menganggukkan kepalanya ringan sebelum meninggalkannya.
TBC
A/N: Annyeong Haseyo #bow …
Jeng..jeng…. chapt ini ada ChanBaek momentnya… berhubung mereka baru saling kenalan,ya masih rada-rada canggung gitu… kkk~
Mianhae buat segala kekurangan, typo , bahasa gaje dll, #bow
Semoga kalian suka ya… :)
Oh ya… kata-kata ff ini dari novel tapi ada yg aku ubah karena ada beberapa yang ga nyambung, dan film April Snow itu ratenya 18 ke atas.. :)
Terima kasih buat yang follow/fav ff ini.. :)
BIG THANKS TO
Parkbaekyoda| SaraswatiNinuk | gege | Milkasoonja
And last… review juseyo… ^^
