Disclaimer : All about Grand Chase including the characters is not my own
-the boy's POV-
Langit tiba-tiba menjadi gelap. Matahari menghilang seolah seperti ditelan oleh langit. Aneh, padahal sebelumnya matahari begitu terik. Apakah cuaca mulai berubah sesuai kehendaknya sampai-sampai orang yang berpendidikan pun tidak bisa memprediksikannya?
Aku mulai merasakan air turun membasahi wajahku, membuat rambut lavenderku membasahi dan menutupi kedua mata scarlet ini. Aku mendongak ke atas memandangi langit yang sudah gelap seluruhnya dengan sendu. Aku menyukai hujan. Air turun dari langit seolah langit itu ikut menangis bersamaku. Untuk pertama kalinya ada yang menangis untukku, setidaknya begitu pikirku.
-end POV-
.
"Hei, paman!" Anak itu berlari menghampiri lelaki yang berada di bawah pohon besar itu. Anak itu menempelkan telinganya pada tubuh lelaki itu.
"Jantungnya masih berdetak, tapi lemah..."
Kemudian anak itu mengambil botol besar yang berisi air dari keranjangnya dan memberikannya pada lelaki itu. Setelah satu teguk, lelaki itu terbatuk-batuk lalu perlahan mulai membuka sebelah matanya dengan perlahan.
"Ah... Kau... Ugh..." rintihnya sambil memegangi bagian tubuhnya yang terluka.
"Jangan bicara dulu! Luka paman parah!" jawab anak itu panik.
"Tolong... Ambilkan botol... Yang berisi cairan berwarna merah.. di tasku..." rintih lelaki itu.
Anak itu kemudian mengangguk dan mengambil tas yang dibawa lelaki itu dan mengeluarkan beberapa botol yang ada di dalamnya. Lalu ia mengambil botol yang berisi cairan warna merah, membuka tutupnya dan memberikannya pada lelaki itu. Dengan rasa sakit yang menusuk, lelaki itu mencoba untuk meminumnya. Sambil menunggu lelaki itu menghabiskan minumnya, anak itu merobek bagian bawah bajunya dan mulai membalut beberapa luka yang terlihat parah di tubuh lelaki itu. Cairan merah menetes keluar dari luka-luka itu.
"Kau.. menyelamatkanku.." ucap lelaki itu lemas.
"Paman jangan banyak bicara dulu. Luka-luka paman parah. Lebih baik kalau paman ikut ke rumahku. Aku akan mencoba mengobati luka paman disana." Ucap anak itu.
"Ah.. tapi itu akan merepotkanmu. Lagipula... apa kau kuat menopangku?" tanya lelaki itu sambil melihat tubuh anak itu yang bisa dibilang kurus.
"Tenang saja paman. Memang aku kelihatan kurus, tapi begini-begini aku kuat loh!" jawab anak itu percaya diri.
Walaupun lelaki itu awalnya menolak tawaran anak itu, tapi akhirnya ia menyerah dan memilih menuruti anak itu. Hari sudah mulai gelap dan para penduduk desa juga pasti sudah berada di rumahnya masing-masing. Jadi tidak akan ada yang curiga melihat mereka.
Setelah mereka sampai, anak itu membuka pintu rumahnya dengan perlahan dan membiarkan lelaki itu masuk duluan kemudian menutup pintunya. Anak itu memmbaringkan lelaki itu di kasur miliknya dan mulai membersihkan luka-lukanya dengan kain bersih serta menyeka darah yang keluar dari luka tersebut. Ia juga menyampurkan berbagai macam tanaman-tanaman obat dan menumbuknya hingga halus, lalu mengoleskannya pada luka-luka lelaki itu.
"Uh... kau mengerti tentang obat-obatan?" tanya lelaki itu melihat campuran-campuran obat yang sudah ditumbuk halus.
"Ah... aku mempelajarinya sendiri di hutan. Aku pernah membaca buku tentang tanaman herbal atau semacamnya... menurutku."
"Belajar sendiri?" tanya lelaki itu kaget.
'Ya." Jawab anak itu singkat. Ia kemudian duduk di sebelah lelaki itu dan mulai mengoleskan obatnya ke bagian tubuhnya yang terluka. Sesekali lelaki itu merintih kesakitan dan anak itu terus meminta maaf padanya. Lelaki itu hanya menarik nafas panjang menahan sakitnya dan mengatakan kalau ia tidak apa-apa dan anak itu kembali melanjutkan kegiatannya
"Baiklah, pengobatan selesai. Untuk sementara paman tidak boleh banyak bergerak dulu, nanti lukanya terbuka lagi." Anak itu kemudian membereskan peralatan yang ia gunakan untuk pengobatan tadi.
"...Kau benar-benar penolong..." kata lelaki itu sambil tersenyum. Kemudian ia menyadari sesuatu.
"Ah... kemari sebentar..." panggil lelaki itu sambil melambaikan tangannya.
Anak itu semula bingung kemudian meletakkan peralatannya di meja dan duduk di sebelah lelaki itu terbaring.
"Maaf aku lupa memperkenalkan diri... namaku Asin Tairin, salah satu anggota Silver Knight. Terima kasih telah menolong nyawaku... kalau kau tidak ada di sana, aku pasti sudah mati..."
Ekspresi anak itu berubah ketika mendengar seseorang 'berterima kasih' padanya untuk pertama kalinya.
"Nak? Kenapa? Ada masalah?" tanya Asin bingung melihat anak itu kaget dan kembali diam.
"...Tidak, aku hanya kaget dan senang begitu mendengar ada orang yang berterima kasih padaku. Paman adalah orang pertama yang berterima kasih padaku selama ini... aku senang dapat berguna bagi orang lain..." Asin terdiam mendengar ucapan anak itu. 'Pertama kalinya?' pikirnya. Untuk beberapa waktu, suasana hening sejenak. Tidak ada yang berbicara.
"Lalu, siapa namamu,nak?" tanya Asin memecah keheningan.
Anak itu terdiam dan sedikit menunduk. Rambutnya menutupi kedua mata scarletnya. Lalu perlahan ia mendongak menatap Asin dalam-dalam.
"...Aku... tidak punya nama..."
Uh... sorry for the long wait guys. Maaf karena udah hampir 6 bulan saya gak update soalnya uh... ada beberapa masalah sih eheheh. Pertama, data fic ini keformat gara-gara flashdisk saya kena virus dan saya lupa save di komp. Second, well ini ada hubungannya sama sekolah sih. Keseringan praktek dan berhubung kurikulum 2013 agak merepotkan kalau saya bilang #malahcurhat. And then, saya kemarin ini sempet kena anemia so dirawat di rs seminggu. Oh well, whatever.
Daaann saya minta maaf lagi karena chapter ini pendek banget T.T . Ini karena saya harus buat fic ini dari awal lagi dan... beginilah hasilnya. Maaf kalau saya udah buat kalian kecewa T.T
Buuuut... Saya bener-bener seneng pas ngeliat ada 1 orang yang mereview fic aneh ini, ahahah..
Thanks for the review, megah .lucy (maaf untuk spasinya, soalnya kalau gak ada spasi, teksnya gak muncul) and for the silent reader :D
Andd please review :)
