Pria bersurai hijau itu melangkah masuk ke dalam apartemennya. Tidak ada suara. Hanya keheningan yang menyambut kedatangannya. Kegelapan seluruh ruangan membuat sang pria refleks mencari sakelar lampu. Tidak, ia tidak takut—ia dokter lagipula, kegelapan biasa tidak akan membuatnya ngeri. Ia hanya ingin mendapat penerangan layak agar dapat melihat keadaan sekitarnya.
Sakelar lampu berhasil ia temukan dan sekitarnya kini telah diterangi oleh cahaya dan hal pertama yang dilihat oleh Shintarou—nama dokter tadi—adalah jam dinding berwarna putih yang terpasang di ruang tengah.
Waktu menunjukan jam sebelas malam lebih dua puluh delapan menit.
Bagus. Jelas sekali kalau ia pulang sangat larut dan ketiga anggota keluarga lain dipastikan sudah lelap tertidur, terbuai dalam alam mimpi.
Sebelumnya Shintarou sudah memberitahu Seijuurou mengenai keterlambatannya karena operasi mendadak dari seorang pasien kecelakaan yang kritis. Beberapa anggota tubuh pasiennya harus diamputasi, jadi operasi yang dilakukan tidak bisa memakan waktu yang sebentar sebab dibutuhkan kehati-hatian tingkat tinggi yang apabila terlewatkan dapat membahayakan nyawa pasien.
Dan Seijuurou yang mendapat pemberitahuan darinya hanya berkata. "Kalau begitu, berhati-hatilah. Aku mencintaimu, Shin."
Shintarou menghela napas. Sebaiknya ia cepat beristirahat. Beruntung dirinya besok tidak ada jadwal praktek, sehingga ia dapat bangun agak siang keesokan harinya.
Kaki jenjangnya ia langkahkan naik ke atas tangga. Kamarnya dan kamar Seijuurou ada di lantai dua lebih tepatnya, pintu pertama dari lorong sebelah kanan.
Ia segera berjalan ke pintu kamarnya lalu memutar kenop pintunya. Tidak dikunci, tentu saja. Karena Seijuurou sengaja agar Shintarou dapat masuk ke dalam kamar tanpa perlu membangunkannya.
Shintarou mengganti baju kerjanya dengan baju yang lebih santai dan kemudian mendekati tempat tidur. Di sana sudah ada Seijuurou yang sudah tidur lebih dulu, terlihat dari wajahnya yang begitu polos seperti anak kecil dan—yang Shintarou akui—sangat manis.
Sang dokter muda mulai merebahkan tubuhnya dan tetap tidak melepaskan pandangannya dari sosok pemuda berambut merah di sebelahnya. Ah, Shintarou jadi tidak tega karena Seijuurou harus menunggunya sendirian tadi.
Tangan besarnya mengelus surai milik Seijuurou dengan lembut. Badannya ia bungkukan sedikit, mendekati telinga sang kekasih.
"Oyasuminasai, Sei." Bisik Shintarou pelan agar tidak membangunkan Seijuurou. Satu kecupan singkat pun tidak lupa ia berikan di kening pemuda tersebut.
.
.
.
"Midorima Family Stories"
Sequel for "Sweet Pieces"
.
Kuroko No Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Midorima Family Stories © Alice To Suki
Pair : MidoAka (Midorima x Akashi)
Warning : Shota!Kuroko. Shota!Mayuzumi
.
Storia 2 : Happy Birthday!
Special for Midorima Shintarou's Birthday (Our beloved Otousan)
.
.
.
Suara kicauan burung menandakan tibanya hari yang baru. Sang surya pun telah menampakan dirinya dari ufuk timur, menyinari dan hendak memberikan kehangatan kepada makhluk hidup di bumi. Garis-garis cahaya masuk melalui celah tirai yang sedikit tersibak, lalu ujungnya jatuh tepat di atas kelopak mata Shintarou dan membuat laki-laki itu harus mengakhiri tidur nyenyaknya.
Shintarou membuka matanya lalu sedikit melakukan peregangan pada tubuhnya. Saat dirinya menoleh ke sebelah tempat tidurnya, Seijuurou sudah tidak ada di tempatnya. Dokter muda itu segera melihat penunjuk waktu kecil yang ada di atas meja nakas. Jam delapan. Apa mungkin Sei sudah bangun dan turun ke bawah? batin Shintarou.
Akhirnya Shintarou memutuskan untuk bangun dan bergegas ke lantai bawah untuk mengecek. Ketika ia sampai di lantai satu, ia merasa heran dengan keadaan apartemennya yang sangat rapi dan bersih.
Tumben. Karena biasanya apartemen tidak bisa serapi ini. Pasti selalu saja ada mainan, bola basket, buku cerita dongeng maupun buku novel yang berserakan milik kedua anaknya. Dan yang aneh lagi, iris hijau miliknya tidak dapat menangkap sosok Seijuurou maupun kedua anaknya di dalam apartemen. Padahal biasanya Chihiro juga Tetsuya—anak-anaknya—sudah bangun pada jam segini.
Shintarou berjalan menuju dapur yang sekaligus menjadi ruang makan bagi keluarga mereka dan ia kembali dikejutkan dengan meja makan yang telah dipenuhi oleh berbagai masakan. Shintarou pun mendekati meja makan tersebut dan wangi masakan langsung menggelitik indera penciumannya. Shitarou tahu semua ini masakan Seijuurou, ia hapal dengan wangi khas masakan pemuda itu dan lagi semua makanan yang tersaji merupakan makanan kesukaan Shintarou.
Ah, tidak sabar Shintarou ingin mencicipi semua ini. Selain alasan karena ini semua makanan kesukaannya, alasan lain adalah sosok yang memasak semua ini adalah sosok yang paling Shintarou cintai dan itu membuatnya semakin tidak sabar memakan masakan dari tangan Seijuurou.
Namun tiba-tiba ekor matanya menangkap sesuatu yang lain di atas meja makannya.
Ada tiga carik kertas dengan warna berbeda-beda. Warna biru muda, abu-abu serta warna merah pastel. Didorong rasa penasaran, Shintarou mengambil kertas-kertas tersebut yang ternyata adalah surat.
Pertama ia membuka kertas berwarna biru muda yang mengingatkannya pada surai anak bungsunya, Tetsuya.
'Otousan, selamat ulang tahun,' begitu bunyi baris pertama dari suratnya. Melihat tulisannya, ini adalah tulisan Tetsuya sendiri. Terlihat dari goresannya yang masih kaku khas anak-anak.
Dan, oh! Shintarou baru menyadari kalau hari ini tanggal tujuh bulan tujuh atau hari ulang tahunnya. Sebenarnya sesibuk apa dirinya, sampai-sampai ia bisa melupakan hari lahirnya sendiri?
'Tetsuya sayang Otousan. Nanti kita semua main basket lagi, ya, Otousan? Tetsuya ingin bisa shoot seperti Otousan. Tetsuya harap Otousan panjang umur, sehat selalu dan sering-sering membelikan Tetsuya vanilla milkshakes. Satu lagi! Selamat menikmati hari bebas, Otousan!'
Shintarou terkekeh geli. Polos benar anak keduanya ini. Ingatkan Shintarou untuk membelikan Tetsuya dua gelas vanilla milkshakes ukuran besar setelah ini.
Tapi Shintarou bingung saat membaca kalimat terkahir. Hari bebas, apa maksudnya?
Sejenak ia mencoba lupakan dulu pertanyaannya dan melanjutkan membaca kertas kedua. Kali ini ia membuka yang berwarna abu terlebih dahulu.
'Otousan, Chihiro ucapkan selamat ulang tahun,'
Ah, kali ini dari si sulung rupanya.
'Otousan semoga sehat selalu. Karena ironis kan kalau seorang dokter ternyata malah sakit-sakitan dan tidak dapat menyembuhkan pasiennya?'
Iya, Shintarou tahu itu ironis makanya ia sangat ketat kalau disinggung soal kesehatan.
'Tanggal dua belas nanti akan ada pameran buku di toko buku langgananku. Aku tahu Otousan sibuk, tapi maukah Otousan menemaniku ke sana? Lagipula pameran itu berlangsung di akhir pekan. Jadi aku pikir, Otousan sedang libur. Omong-omong, Chihiro sayang Otousan dan selamat menikmati hari bebas.'
Seulas senyum terpoles di wajah Shintarou. Tentu saja ia akan meluangkan waktunya untuk memenuhi permintaan sang anak dan ia yakin juga kalau ia kosong di hari itu. Namun Chihiro kembali mengungkit soal hari bebas. Sebenarnya apa itu?
Kembali ia sampingkan dulu pertanyaan tadi dan selanjutnya tinggal kertas berwarna merah pastel yang belum dibaca. Melihat surat-surat sebelumnya, Shintarou sudah dapat menebak siapa yang menulis surat itu.
'Selamat ulang tahun, Shin-ku sayang,'
Dugaan Shintarou benar. Ini surat yang ditulis oleh Seijuurou.
'Tidak terasa usiamu semakin tua saja, eh? Mengingat hal itu, jangan sampai kau jadi kelelahan akibat bekerja terlalu berlebihan. Aku senang melihatmu berusaha menjaga kesehatan orang lain yang aku akui memang tugas mulia, namun aku akan lebih senang saat melihat kau selalu sehat, Shin.'
Kata-kata sinis dan tajam namun tetap perhatian dalam waktu yang bersamaan, itulah Seijuurou yang ia sukai.
'Sesekali bersantailah dan kami bertiga—aku, Chihiro dan Tetsuya—sengaja memberikan hari ini sebagai hari bebasmu. Jadi setelah sarapan, lakukan apapun di hari ini seperti pergi ke suatu tempat, membaca buku anatomi membosankanmu itu, mendengar ramalan bintang atau apapunlah. Yang jelas, isilah dengan kegiatan yang dapat mengurangi stress-mu dan kami bertiga tidak akan mengganggu hari spesialmu ini.'
Oh, Shintarou mengerti. Jadi itu yang anak-anaknya maksud dengan hari bebas dan itu juga alasannya mengapa pagi ini Shintarou tidak dapat menemukan keberadaan mereka bertiga di apartemen. Kalau tidak di sini, berarti mereka ada dimana?
'Kami akan ada di luar, di suatu tempat, kalau itu yang kau tanyakan. Nikmatilah hari bebasmu. Aku mencintaimu, Shin. Selalu. Oh, dan aku yakin kau pasti melupakan hari ulang tahunmu sendiri bukan?'
Shintarou kembali tersenyum tipis. Seijuurou selalu berhasil menebaknya. Bahkan hal kecil seperti itu saja bisa masuk ke pikirannya. Entah mengapa, ia suka Seijuuro yang seperti itu. Sei, yang dicintainya.
'Dan sekali lagi…'
Iris hijaunya kembali mendapat sebaris kalimat. Berada di pojok kanan paling bawah.
'Selamat ulang tahun, Shin. Satu hal yang harus ketahui, bahwa Chihiro menyayangimu. Tetsuya menyayangimu.
Dan aku mencintaimu.'
Hangat. Satu kata itu langsung terlintas dalam benaknya. Menelusup ke dalam hatinya, membungkus setiap perasaannya, dan tersimpan jauh di relung hatinya. Midorima Shintarou, dokter muda di salah satu rumah sakit terkenal di Tokyo, memiliki masa depan yang cerah, dan tentu saja, penghasilan yang sepadan.
Namun satu hal yang menjadi harta terbesarnya—
—keluarga.
Mungkin Shintarou tidak akan mengatakannya secara gamblang, tidak menunjukannya dengan jelas, tapi ia benar-benar akan menjaganya. Melindunginya.
"Baiklah, terima kasih untuk surat dan makanannya," suara kekehan kecil terdengar. Disimpannya ketiga surat tadi tidak jauh dari pot bunga yang terpajang di tengah meja—dan dalam hati mencatat akan menyimpan suratnya nanti, atau mungkin membingkainya dengan pigura—setelah itu matanya kembali fokus pada makanan yang tersaji.
Shintarou mengatupkan kedua tangannya.
Ia berdoa, ia berharap, dan ia memohon, agar keluarganya selalu sehat. Selalu baik-baik saja. Dan yang pasti, selalu mencintainya.
.
.
.
"Tetsuya, sudah Papa bilang kau harus hati-hati." Gerutu Seijuuro, kedua lengannya sibuk membersihkan pakaian bocah biru muda di depannya. "Arena ice skating ini licin, kau harus lebih hati-hati ketika meluncur."
Tetsuya mengangguk, namun ia tak membantah.
Pagi itu, Seijuuro rela membuat tubuhnya terbangun di pagi hari sekali. Dimulai ketika ia mengecup kening Shintarou, memeriksa keadaan dua anaknya yang masih terlelap, lalu sisanya lebih banyak di dapur. Hingga beberapa menit ia memasak, kedua anaknya terbangun.
Ya, ini memang rencana mereka bertiga. Karena malam sebelum Shintarou pulang dari rumah sakit, mereka membicarakan hal mengenai 'hari bebas' untuk sang Ayah di ruang tengah. Sesekali diiringi tawa dan ide-ide cemerlang. Tentu saja itupun bisa disebut sebagai kejutan.
"Papa, ayo bermain bersama kami," Chihiro menyahut kalem, berseluncur di arena es sendirian rasanya membosankan juga. Karena biasanya Shintarou akan menemaninya sedangkan Seijuuro mengajari Tetsuya. Atau sebaliknya jika mereka mengunjungi arena es yang terdapat di Shibuya.
Seijuuro menghela napas pelan. Ide bermain di arena ice skating adalah permintaan kedua anaknya. Yang bahkan jika dipikirkan kembali, aneh juga mengunjungi arena es saat musim panas, padahal biasanya mereka datang di musim dingin. Ah, mungkin karena temperatur luar yang begitu tinggi, Chihiro dan Tetsuya memintanya untuk kemari, arena ice skating.
"Baiklah," mau tak mau akhirnya Seijuuro bangkit berdiri. Balas tersenyum ketika bibir tipis kedua anaknya menekuk simpul, tanda mereka senang.
Lantas satu tangan Chihiro meraih tangan kanan Seijuuro, menggenggamnya erat. Tidak jauh berbeda dengan kelima jari kecil Tetsuya yang tertanam dalam jemari Seijuuro. Menautkannya rapat.
Perlahan mereka bertiga mulai meluncur di atas es, berputar dalam satu ritme yang sama, dimana satu titik Seijuuro tidak bergerak, namun Tetsuya dan Chihiro berputar pelan, nyaris melepaskan, dan kembali ditarik oleh Seijuuro. Dan tertawa setelahnya begitu sang Papa nyaris terjungkal menahan beban mereka berdua.
Ah, andai saja Shintarou juga berada di sana. Berdiri di antara mereka. Dan tertawa bersama.
Tiga jam menghabiskan waktu di arena ice skating, akhirnya lelah menghampiri. Ide Seijuuro yang berkata untuk beristirahat dan makan di restoran mendapat anggukan setuju dari Chihiro. Namun penolakan terlontar dari bibir si bungsu Tetsuya.
"Papa, tapi Tetsuya ingin vanilla milkshake." Ucapnya saat itu, membuat kerutan tidak suka di kening Seijuuro.
"Tetsuya, dua hari yang lalu kau sudah meminumnya. Peraturannya satu gelas hanya dalam satu minggu."
"Tapi Tetsuya—"
"Tidak. Ada. Bantahan."
Iris biru muda itu memandang Seijuuro lekat-lekat. Lebih lebar dari biasanya. Seijuuro berusaha menghindarinya, terlebih ketika mata bulatnya mulai berkaca-kaca dan bahunya terguncang pelan. Tidak, Seijuuro tidak akan kalah. Kesehatan anaknya adalah nomor satu.
"Papa…"
Isakan pertama keluar. Dan Chihiro malah ikut-ikutan.
"Aku mengerti. Ayo kita ke Majiba." Seijuuro akhirnya luluh. Dua anaknya bersorak riang.
.
.
.
Kening Shintarou berkerut samar, lalu mendesah pelan.
Otaknya terus berpikir mengenai warna yang saat ini berada di depannya. Merah muda atau hijau muda? Merah muda, hijau muda, merah muda, hijau muda, merah muda—Shintarou meringis.
Astaga, kenapa ini sulit sekali!
"Merah sudah terlalu sering untuk Sei," racaunya tidak jelas, memilah-milah kembali benda di depannya. Namun begitu beberapa kalimat oha asa kembali memenuhi pikirannya, ia mengerjap cepat, lalu mengangguk. Dan pilihan jatuh pada warna merah muda.
"Kurasa apron merah muda untuk Sei memang cocok."
Oh, Shintarou tidak menyadari bahwa dirinya mulai terjangkit virus mesum.
Hari bebas yang diberikan Seijuuro dan kedua anaknya benar-benar digunakan oleh sang dokter dengan baik. Ia memulainya dengan mendengar siaran oha asa, olahraga kecil di atap apartemennya, setelah membaca buku anatomi—seperti yang Seijuuro katakan—meskipun terlihat membosankan, namun baginya sangatlah menyenangkan. Dua jam dilewatkan dengan membaca, Shintarou memutuskan untuk berjalan ke luar. Niat ingin menghirup udara segar di luar sana langsung lenyap begitu ia sadar kalau saat ini Tokyo sedang dilanda kesibukan karena tanabata.
Lalu mengenai tanabata, sel-sel otaknya mulai merambat menuju lucky item yang dikatakan oleh ramalan oha asa. Cukup untuk menjelaskan mengapa saat ini kakinya sudah mendatangi setiap toko yang dibutuhkannya. Membeli beberapa barang, tentunya. Seperti boneka vanilla milkshake untuk Tetsuya, bola basket dan sepatu baru untuk Chihiro, juga tidak lupa … apron merah muda untuk Seijuuro. Oke, mungkin yang terakhir itu sedikit aneh, tapi seperti itulah yang dikatakan oha asa, katanya.
"Belanja seperti ini melelahkan juga ternyata," berjalan ke sana kemari mendatangi setiap tempat membuat maniak oha asa itu sadar bahwa dirinya kini terlihat seperti wanita shopaholic. Ah, bukan, tapi pria shopaholic.
"Ya, aku berharap mereka sudah berada di rumah ketika aku pulang nanti," ucap Shintarou kemudian, entah kepada siapa. Hanya menunjukan bahwa sebenarnya ia tengah berharap di dalam hatinya. Bahkan sampai membayangkan bagaimana nantinya ia mengucap kata 'tadaima' ketika membuka pintu, lalu mendengar kedua anaknya berlari sambil berkata 'okaeri, Otousan!'. Dan kata 'anata' yang akan diucapkan Seijuuro.
Tidak sampai beberapa menit berlalu khayalan itu melintas, langkah Shintarou terhenti. Semuanya lenyap dalam sekejap. Terlebih ketika irisnya mendapati pemandangan tidak asing.
Seijuuro, Chihiro dan Tetsuya, tengah berada di Maji Burger.
"Lihat siapa yang bersenang-senang tanpaku," garis tipisnya melengkung manis, merasa lucu dengan tingkah keluarganya. "Well, sepertinya pulang bersama lebih baik."
Sepertinya hari bebas untuk hari ulang tahunnya cukup berhenti sampai di sini.
Dan Midorima Shintarou merasa puas dengan itu.
.
.
.
"Ah, Otousan."
Chihiro menyahut, Tetsuya melirik, dan Seijuuro tersenyum tipis. Sebenarnya ia sudah tahu bahwa yang mendorong pintu kaca Maji Burger tadi adalah Shintarou. Tapi ia pura-pura tidak tahu sebelum akhirnya Chihiro menyadarinya.
"Kebetulan sekali, bukan?" beberapa tas bawaannya ia simpan di atas kursi yang kosong, setelah itu menyambut Tetsuya yang langsung menghambur ke dalam pangkuannya.
"Sei, aku harap kau tidak kerepotan,"
"Oh, Shin," rongga kedua mata Seijuuro berotasi, "jangan remehkan kemampuanku."
"Begitukah?"
Seijuuro mengangguk tanpa ragu.
"Otousan, aku tidak tahu kalau otousan suka belanja seperti ibu-ibu."
Shintarou mengernyit. Pemihan katanya, Chihiro. Pemilihan katanya. Benar-benar tidak cocok untuknya.
"Ah, sebenarnya itu—"
"Otousan seharusnya jangan menghamburkan uang untuk barang yang tidak penting."
Oh, dear… kali ini Tetsuya yang mengucap protes. Apalagi dengan nada seperti nasihat yang setiap hari digunakan Ibunya dulu. Ia mengerling ke arah Seijuuro, meminta pertolongan dengan tatapan matanya.
"Itu benar, Shin. Kau terlalu menurut pada oha asa-mu."
Shintarou diam tak berkutik. Setengah persen karena bingung tak ada yang membelanya, setengah persennya lagi karena pasrah kembali menjadi objek bullian. Ia mati kutu jika sudah menghadapi keluarganya seperti ini.
"Karena hari ini ulang tahunku," ada jeda sejenak begitu Shintarou ikut menarik kursi, mendudukinya, dan Tetsuya duduk di sampingnya. "Dengan senang hati aku akan mengalah."
"Kau yakin, Shin?"
Shintarou tertawa, pertanyaan retoris. Memang kapan terakhir kalinya ia tidak mau mengalah? Di saat keluarganya kembali bekerja sama, dan dirinya yang lagi-lagi menjadi pihak dibully? Asalkan suara tawa yang terdengar setelahnya, Shintarou tak akan merasa menjadi pihak yang dirugikan. Ia tidak keberatan. Ia tidak marah.
Karena ia juga ikut tertawa.
"Menurutmu?"
Alis Seijuuro terangkat. "Kau terlihat berbeda saat berulang tahun."
"Ah, Otousan, jangan minum vanilla milkshake-ku!"
"Otousan, itu kentang gorengku."
.
.
.
"Papa, Otousan, apa yukata ini tidak terlihat aneh di tubuhku?"
Chihiro memutar tubuhnya ke sana kemari, melihat cermin lewat bahunya, lalu kembali mengeluh. Merasa aneh dengan yukata putih bergadrasi abu-abu yang melekat di tubuhnya. Juga obi hitam yang melingkar sebagai penghias di pinggangnya.
Seijuuro membungkuk di belakangnya, berbisik di telinga Chihiro. "Itu terlihat aneh,"
"Sei, aku mendengarnya."
"Aneh jika kau tidak percaya pada dirimu sendiri, Chihiro." Ditepuknya puncak kepala sang anak pelan sambil mengacaknya asal. "Yukata itu cocok untukmu."
Shintarou tak tahu kalau malam sebenarnya belum berakhir. Sebelumnya ia mengira setelah mereka pulang dari Maji Burger, acara terakhir yang akan dilakukan adalah memotong kue dan berbincang-bincang di ruang tengah—seperti hari-hari biasanya. Namun begitu memasuki apartemen, Seijuuro langsung mendorong punggungnya dan meminta kedua anaknya untuk segera bersiap di kamar masing-masing. Shintarou tak mengerti, bahkan ketika Seijuuro memakaikan yukata untuknya yang diakhiri dengan satu kecupan singkat di pipinya.
Yukata merah untuk Shintarou, dan yukata hijau untuk Seijuuro.
Sang dokter tahu kalau direktur muda berambut merah itu sengaja melakukannya. Menukar warna yukatanya. Meski sejujurnya, Shintarou lebih suka melihat Seijuuro menggunakan yukata berwarna merah. Terlihat lebih elegan.
Pesta sederhana itu berjalan dengan lancar juga menyenangkan.
Shintarou tidak bisa menyembunyikan raut wajah terkejutnya begitu taman atas apartemennya disulap menjadi kebun kecil untuk merayakan tanabata. Dengan batang-batang bambu tertanam secara rapi, juga kertas-kertas berbagai warna menghiasinya. Hasil buah kerja keras tukang kebun apartemen, Seijuuro bilang. Lampion-lampion kecil yang tergantung menghiasi beberapa batangnya. Tetsuya bilang dirinya yang membuat lampion itu bersama sang kakak. Suara-suara serangga musim panas. Hal yang satu itu tentu secara alami.
Dan yang membuat Shintarou mematung adalah, strawberry shortcake yang tersimpan manis di atas meja kecil. Lengkap dengan lilin-lilin panjang kecil yang mengelilinginya. Tak ada tulisan selamat ulang tahun di sana. Bahkan namanya sekalipun. Namun semua itu tergantikan dengan kalimat 'we love you'.
"Shin,"
"Hm, baiklah, bagaimana mengatakannya… ya—"
"Terkejut?—"
"Ya! Terkejut! Ah, seperti itulah."
Seijuuro tertawa, Chihiro tertawa, dan Tetsuya pun ikut tertawa. Renyah. Menyadari sang Ayah terlihat gugup, atau terlalu tercengang dan terpana, mungkin?
"Shin, cepat tiup lilinnya. Jangan membuat anak-anak menunggu." Bisik Seijuuro di sampingnya, dengan memberikan satu dorongan kecil agar lebih mendekat. Shintarou menghela napas sejenak. Ia melihat Chihiro berada di samping kirinya, sedangkan Tetsuya samping kanannya. Lalu, Seijuuro sudah berada di depannya—Shintarou tidak menyadarinya.
"Buat permohonan, Otousan!" Chihiro dan Tetsuya berujar serentak.
Shintarou menurut. Membungkuk sedikit—sejajar dengan kuenya—menarik napas panjang, lalu menutup mata. Mengucap permohonan dalam hati. Menjadi rahasia antara dirinya dan Tuhan di atas sana.
"Nah, Shin—"
Iris hijaunya terbuka. Dalam detik berikutnya membelalak, terkejut.
Shintarou merasakan Chihiro mencium pipi kirinya, pipi kanan untuk kecupan dari Tetsuya, dan Seijuuro memberikannya di kening. Dalam waktu bersamaan.
Hati Shintarou mencelos.
Manis. Hangat. Lembut. Pernuh makna. Dan… entahlah.
Ia sungguh tidak tahu harus menggambarkannya bagaimana lagi. Shintarou merasa perutnya tergelitik. Untuk hati juga perasaannya.
"Selamat ulang tahun, Shin."
"Selamat ulang tahun, Otousan."
"Kami menyayangimu!"
.
.
.
Shintarou hanya memohon.
'Jangan biarkan kebahagiaan kecil seperti ini lenyap. Untuk hari ini, esok, lusa, dan selamanya.'
.
.
Storia 2 : Completed
A/N : Halooo~~ Kembali lagi dengan kamii XD
Hufft-masih ada waktu buat ultahnya Midorima XD Yup! Ini cerita spesial untuk ultahnya tuan wortel /enggak/
Oh ya, lupa bilang di chapter kemarin. Cerita ini menerima request juga XD Baru keinget waktu baca review-nya Yuna Seijuuro, hehehe. Jadi, kalau mau request, silakan ditulis di kotak review :3 Atau lewat PM juga bisa~
Oh oh! Lupa! HAPPY BIRTHDAY MIDORIMA SHINTAROUU! Makin ketjeh dan ganteng! X3
Oh ya, balesan review anon dulu.
Eqa Skylight : Terima kasih review-nya ya XD Umur Tetsuya itu 4 tahun, sedangkan Chihiro 9 tahun. Mereka beda 5 tahun, hehehe XD
guest : Ini udah lanjut ceritanya. Terima kasih atas review-nya yaa~
Mel : Wkwkw... Tetsu kan turunan Sei /enggak/ hihi, sama-sama licik. Terima kasih atas review-nya~
Aoki : Aaaa... makasih kalau enak dinikmati XD Yup! Ini lanjutannya, bisa request juga kok! Terima kasih atas review-nya ya~
Akashi Aoi-desu : makasih atas reviewnya XD Ini udah lanjut~
Akashiseichan : OwO! jejeritan? Hihi, MidoAka emang manis kok X3 Dan ini udah buat pas ultahnya Midorin, wkwkw... XD Terima kasih review-nya ya~
Fans : Kami juga cinta anda siapa pun itu! XD /nak/ haha, senang kalau terhibur. Terima kasih sudah review ya~
Orihime YuiChan : Terima kasih atas review-nya yaa~~ Ini udah dilanjut! XD
Terima kasih bagi yang sudah membaca chapter ini dan kemarin ya! Untuk review, fave, dan follownya juga XD
Akhir kata kami ucapkan,
Review please? *wink*
