Pukul 01.00 malam.

Shintarou menghela napas pelan, lalu mengembuskannya cepat. Jarum jam yang terpasang di dinding ruang tengah seperti bergerak lambat. Seirama dengan suara setiap detiknya. Malam semakin larut, lama-lama Shintarou merasa bosan. Sendirian berdiam diri, sedangkan kedua anaknya sudah pergi ke alam mimpi. Bosan.

Juga cemas.

Ya, ia cemas. Beberapa jam yang lalu Seijuuro mengiriminya pesan singkat bahwa ia akan pulang sebelum tengah malam, karena saat ini laki-laki itu sibuk dengan trip pekerjaannya ke Kyoto. Katanya hanya satu hari semalam, pagi-pagi sekali Seijuuro berangkat; malamnya sudah kembali ke Tokyo. Namun sampai saat ini, Shintarou sama sekali belum mendapat tanda-tanda pintu apartemen terbuka.

Apakah Seijuuro baik-baik saja?

Oh, tidak. Shintarou menggeleng. Pikirannya jadi melantur kemana-mana, paranoid. Ia menggelengkan kepala cepat begitu kilasan-kilasan buruk melintas dalam benaknya. Seijuuro baik-baik saja. Ya, baik-baik saja. Hanya saja, tidak bisa dipungkiri bahwa dirinya merasa—

Ting tong!

Ah, sudah datang rupanya. Tapi, tunggu! Kening Shintarou berkerut heran. Seingatnya direktur muda itu juga memiliki kunci duplikat apartemennya. Mereka berdua memang membuat kesepakatan seperti itu; masing-masing dari mereka memegang kunci. Jadi seharusnya Seijuuro tidak perlu repot-repot menekan bel interkom.

Ting tong!

Baiklah, Seijuuro memang keras kepala. Dengan malas Shintarou bangkit dari posisi duduknya, membetulkan letak kacamata, setelah itu berjalan menuju pintu depan. Tanpa melihat lensa kecil yang tertempel di pintu, ia langsung memutar kenopnya yang sesaat sebelumnya ia buka dengan kunci. Begitu daun pintu berderit terbuka, seperti dugaannya, Seijuuro berdiri di sana.

"Sei?" satu alis Shintarou terangkat, bingung dengan sikap diam laki-laki berambut merah itu. Terlebih dengan badannya sedikit membungkuk. Namun tidak menghiraukan hal itu, Shintarou bergeser sedikit, memberikan akses agar Seijuuro masuk. "Kau pulang malam—"

Kalimatnya terhenti. Shintarou membelalak.

"Oi! Sei!"

.

.

.

"Midorima Family Stories"

Sequel for "Sweet Pieces"

.

Kuroko No Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Midorima Family Stories © Alice To Suki

Pair : MidoAka (Midorima x Akashi)

Warning : Shota!Kuroko. Shota!Mayuzumi

.

Storia 3 : Fever

.

.

Refleks, kedua lengannya bergerak cepat begitu tubuh Seijuuro terhuyung ke depan, nyaris terjerembab ke depan dan mencium dinginnya lantai jika Shintarou tidak menangkapnya dengan cepat. Memeluknya dengan satu tangan, sedangkan satu tangannya yang lain digunakan sebagai tumpuan. Seijuurou, jatuh, ke dalam pelukannya, dari ambang pintu. Pasti ada yang aneh!

"Sei—"

"Shin …" ia bisa mendengar suara itu terpatah-patah, napas terengah, dan sesak. "Aku… pulang…" kelima jari Seijuuro mengerat dalam cengkeraman piyamanya. Terlihat seperti menahan sakit. Ada ringisan kecil keluar dari bibirnya, juga mengucap namanya berulang kali. Berkata dirinya sudah kembali. Oh… dear, bahkan Seijuuro sampai mengigau?!

Jiwa dokternya langsung meluap, Shintarou akhirnya sadar. Terlebih begitu satu tangan tersimpan di kening si pemuda merah, merabanya dan mengatur suhunya, juga merasakan bahwa tubuh yang lebih kecil darinya itu sedikit gemetar.

Seharusnya ia sudah bisa melihat gejala itu dari awal. Seijuuro demam, ia yakin itu.

Shintarou kembali menghela napasnya. Begini akibatnya kalau tidak mau mengindahkan nasihatnya soal menjaga pola makan dan mengatur jadwal istirahat. Ia tahu kalau Seijuurou selalu saja mengabaikan hal kecil seperti itu seolah-olah penyakit tidak akan mau menjangkiti dirinya yang selalu absolut dan selalu benar. Sudah sering Shintarou ingatkan dan tetap saja Seijuurou teguh pada pendiriannya.

Setidaknya sekarang ia—sebagai dokter dan juga sebagai kekasih Seijuurou—harus mengobati Seijuurou agar dapat sembuh dari sakitnya.

Sang dokter muda akhirnya menggendong Seijuurou dan membawanya ke kamar mereka berdua setelah sebelumnya menutup lalu mengunci pintu apartemennya. Barang bawaan Seijuurou yang masih di depan sengaja ia tinggal dahulu dan akan ia bereskan nanti setelah ia selesai merawat Seijuurou.

Sesampainya di kamar, Midorima Shintarou segera membaringkan tubuh Seijuurou di atas tempat tidurnya. Tidak lupa ia menyelimuti Seijuurou dengan selimut tebal agar udara dingin dapat terhalang. Lalu melepas sepatu dan membuka sedikit kancing kemeja milik Seijuurou untuk memberinya akses agar dapat bernapas dengan leluasa.

Laki-laki dengan surai hijau itu pun nampak khawatir ketika melihat kondisi Seijuurou. Dadanya naik turun tidak beraturan, wajah yang pucat, keringat dingin yang membasahi keningnya, suara ringisan kecil menahan sakit dan bola mata Seijuurou bergerak gelisah di bawah kelopak matanya.

Walaupun Shintarou adalah seorang dokter dan sering melihat pasien-pasiennya memiliki gejala yang serupa dengan Seijuurou tapi tetap saja ia tidak tega saat melihat Seijuurou seperti ini. Lemah dan tidak berdaya.

"Sei?" panggil Shintarou halus.

Mata dengan manik merah dan emas itu berusaha untuk terbuka walaupun rasanya sangat berat. Ah, syukurlah. Seijuurou masih sadar rupanya. Tapi melihat binar mata yang menampakkan sorot kelelahan itu, membuat Shintarou jadi makin cemas.

Tangan besar Shintarou mengelus kepala dengan surai merah itu dengan perlahan. Berharap dengan begini rasa sakit pada kepala Seijuurou dapat sedikit berkurang. "Istirahatlah dulu di sini, aku akan membuatkan bubur untukmu,"

Kepala itu menggeleng lesu. "Aku tidak mau, aku mual,"

"Jangan keras kepala. Kau harus makan dan minum obat, Sei," tegur Shintarou agak keras. Ia yang jadi dokter di sini, ingat? Kesehatan pasien menjadi prioritas nomor satu baginya. Terlebih lagi pasiennya kali ini adalah Seijuurou yang notabene sangat sulit diatur dan dinasihati.

"Ini hanya demam biasa, Shin," jawab Seijuurou sambil terengah-engah. "Bisa sembuh dengan sendirinya,"

"Justru karena kau yang demam, makanya demam ini menjadi tidak biasa, Sei,"

"T-tapi—"

"Untuk kali ini, aku tidak menerima bantahan darimu, Sei. Jadi mau tidak mau, kau harus makan lalu minum obat,"

Kalau sekarang kepalanya tidak sakit seperti ini, Seijuurou pasti sudah membalas perkataan Shintarou tadi. Ia tidak suka diperintah dan lebih senang memberi perintah. Namun ia akui dengan berat hati, kali ini dia harus patuh pada Shintarou. Hanya sekali ini.

Puas tidak ada kalimat bantahan yang keluar, Shintarou pun beranjak dari tempatnya. "Aku akan segera kembali." ucap Shintarou seraya mendaratkan kecupan singkat di kelopak mata Seijuurou yang terpejam.

.

.

.

Shintarou menuangkan bubur ke dalam mangkuk dan kemudian meletakannya di atas nampan beserta segelas air dan satu strip obat pereda sakit. Dengan begini persiapannya selesai. Dokter muda itu pun mengangkat nampan dengan hati-hati dan membawanya naik menuju kamarnya dan Seijuurou.

Satu tangannya membuka pintu sedangkan satu tangannya lagi membawa nampan, Shintarou dengan perlahan memasuki kamar. Kaki jenjangnya berjalan menuju sebuah meja kecil di samping tempat tidur dan meletakan nampan bawaannya di sana.

Iris hijau itu langsung mengecek Seijuurou lagi. Takut kalau kondisinya menjadi makin parah.

Dan sepertinya pikiran Shintarou terlalu berlebihan. Buktinya sekarang Seijuurou tengah tertidur dengan pulas dan napasnya kini sudah lebih teratur dari sebelumnya. Perasaan Shintarou pun menjadi lega karenanya. Setidaknya ini menandakan kalau penyakit Seijuurou tidak semakin memburuk walau keadaannya belum sembuh total.

Seulas senyum tipis terukir di wajah Shintarou. Sudah lama Shintarou tidak melihat wajah Seijuurou yang tertidur dengan tenang seperti ini. Mirip anak kecil dan Shintarou menyukai itu. Kalau saja ia ataupun Seijuurou tidak sibuk satu sama lain, pasti pemandangan ini dapat Shintarou lihat dan dapat ia nikmati setiap hari.

Err, sepertinya lama-lama pikiran Shintarou berubah menjadi mesum.

Shintarou duduk di bagian ranjang yang masih kosong di sebelah Seijuurou lalu bersandar pada sandaran tempat tidur. Punggung tangannya ia letakkan di atas kening Seijuurou dan kembali sensasi panas itu menyengat sensor perabanya.

"Badannya masih panas," kata Shintarou seolah-olah meyakinkan dirinya sendiri. Tentu saja masih panas, dari awal Seijuurou belum meminum obat apapun, pikir Shintarou.

"Shin,"

Shintarou terkejut. Apa tadi suaranya tadi terlalu keras sehingga Seijuurou jadi terbangun? "Ah, maaf aku mengganggu—"

"Jangan lupa panaskan sup tofu-nya,"

Eh? Seijuurou mengigau lagi?

Shintarou hanya bisa terkekeh geli mendengar igauan Seijuurou. Sisi lain dari kepribadian Seijuurou. Bahkan di saat sakit pun, ia masih memikirkan makanan kesukaannya itu. Tatapannya pun jadi tidak bisa lepas dari pemuda dengan surai merah tersebut dan sekali lagi ia mengelus kepala Seijuurou, membiarkan helaian lembut rambut merah itu mengenai sela-sela jemarinya.

"Jaa, sepertinya pagi nanti akan aku buatkan sup tofu untuknya," ucap Shintarou sedikit berbisik.

Hari semakin larut dan ia juga membutuhkan istirahat. Shintarou pun merebahkan dirinya, mencari posisi yang tepat untuk tidur, lalu mendekap tubuh kecil Seijuurou erat dan membiarkan aroma peppermint dari tubuh laki-laki itu menggelitik indera penciumannya. Tidak ada perlawanan dan Seijuurou malah semakin mirip dengan anak kecil, membuat Shintarou menjadi gemas dibuatnya.

"Ah! Aku lupa mengucapkan sesuatu padamu, Sei," ujar Shintarou tiba-tiba walaupun ia tahu Seijuurou tidak akan mendengar serta menjawab ucapannya. "Okaerinasai, aku senang kau sudah pulang, Sei." Dan satu kecupan lembut ia berikan di kening Seijuurou.

.

.

.

Kelopak mata itu baru terbuka setengah, memperlihatkan iris abu-abu yang masih merasakan kantuk. Terkadang juga mulut kecilnya terbuka lebar untuk memasukan suplai oksigen banyak-banyak ke dalam otaknya dan kemudian setitik air mata muncul dari ujung matanya.

Chihiro baru saja bangun dari tidurnya. Sebenarnya ia masih ingin tidur lagi, tapi niat itu ia urungkan saat melihat waktu yang ditunjukkan oleh jam berbentuk bola basket yang terpasang di dinding kamarnya. Jam sepuluh dan tandanya ia bangun kesiangan.

Dingin pun menjalar ke kaki kecilnya saat ia turunkan dari ranjang dan menyentuh lantai. Sambil berjalan dengan gontai karena mengantuk, Chihiro kembali menguap dan sesekali menggosok-gosok matanya. Papa, Otousan dan Tetsuya pasti sudah terbangun, pikirnya. Atau mungkin Papa sudah berangkat bekerja dan Otousan masih menunggu jam prakteknya di ruang tengah sambil membaca buku anatomi sekaligus mendengar siaran oha asa di televisi. Namun baru kemarin Seijuurou melakukan trip kerja, jadi besar kemungkinan kalau Papa hari ini libur juga dan memilih bekerja di rumah.

Hari ini Chihiro libur karena guru-guru di sekolahnya tengah mengadakan rapat kurikulum, tapi tetap saja bukan kebiasaan baginya untuk bangun terlambat bahkan saat liburan seperti ini. Dan… ya, bagi Chihiro jam sepuluh itu termasuk siang karena keluarganya biasa memulai hari dari pagi-pagi sekali. Dimulai dari Shintarou yang bangun pertama kali untuk menyiapkan sarapan, lalu Seijuurou yang menyusul setelahnya. Kemudian Chihiro yang terbangun karena mencium aroma masakan Shintarou, akan membangunkan Tetsuya dan mereka berdua pergi menuju ruang makan bersama-sama.

Rutin. Semua itu akan selalu terulang setiap harinya. Walau begitu, Chihiro tidak merasa bosan dengan rutinitas tersebut. Toh, selalu ada cerita baru yang dapat mereka bagi bersama saat sarapan dimulai. Mulai dari topik kesehatan—topik pilihan Otousan tentu saja, topik basket yang selalu menjadi topik terhangat di keluarga mereka dan topik-topik lainnya yang muncul secara spontan.

Chihiro pun akhirnya sampai di ruang makan. Tidak ada siapa-siapa seperti yang Chihiro duga sebelumnya. Tidak menyenangkan kalau hanya makan sendiri di ruang makan, jadi ia memutuskan pergi ke ruang tengah untuk menonton televisi. Setidaknya dengan begitu, ia tidak tidak akan merasa sepi.

"Otousan, Tetsuya ingin membangunkan Nicchan,"

Kening Chihiro berkerut samar begitu suara yang tidak asing lagi baginya terdengar dari ruang tengah. Tunggu, rasanya ia mendengar suara Tetsuya.

"Biarkan kakakmu itu tidur dulu, Tetsuya. Nanti juga bangun sendiri—ah, Chihiro? Kau sudah bangun ternyata." Mendengar nama sang kakak, bocah biru itu menoleh dengan cepat, mata bulatnya berbinar-binar.

"Nicchan!" serunya semangat, berlari kecil mendekati Chihiro. Chihiro tersenyum sambil menepuk puncak kepalanya, kembali mengajaknya ke ruang tengah lalu menatap Shintarou dengan alis terangkat, heran.

"Kenapa Otousan masih di sini?"

Kali ini satu alis Shintarou menekuk. "Memangnya kenapa kalau Otousan ada di sini?"

"Bukan itu maksudku," Chihiro menggeleng, "hanya saja, aneh melihat Otousan masih di rumah saat jam-jam seperti ini. Bukankah seharusnya Otousan sudah berada di rumah sakit?"

Ah, mengenai hal itu ternyata. Shintarou tersenyum tipis, tak langsung menjawab ketika anak sulungnya bertanya seperti itu. Ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa, membiarkan Tetsuya bermain-main di sekitar kakinya, setelah itu ia menepuk sofa sebelahnya, meminta Chihiro untuk duduk di sana. Di sampingnya.

"Oh, ya, omong-omong," Chihiro kembali membuka suara begitu ia duduk, menyamankan posisinya sambil memeluk bantal kursi. "Apa Papa sudah pulang dari Kyoto?"

Shintarou membuka mulut, hendak menjawab. Namun satu detik kemudian kembali tertutup ketika Tetsuya mewakili jawabannya.

"Papa sedang sakit, Niichan."

Shintarou bisa melihat mata bulat abunya membesar sesaat, namun dengan cepat kembali datar. Ada kernyit tidak suka yang terlihat di ujung pelipisnya, paras cemas yang terpoles, dan khawatir dalam sorot matanya. Shintarou tahu, meski Chihiro tak ingin menunjukannya, anak sulungnya itu tak ingin mendapati keadaan Ayahnya terbilang tidak baik-baik saja.

"Demam," timpal Shintarou kemudian, menarik perhatian Chihiro ke arahnya. "Papa-mu itu kembali ambruk di depan pintu ketika pulang. Lalu malamnya mulai mengigau,"

"Papa memang selalu seperti itu ketika sakit," sahut Chihiro, mengingat dimana Seijuuro juga pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya, dulu. Dan itu cukup membuat dirinya panik, juga Shintarou—karena pada saat itu Tetsuya belum ada. "Lalu sekarang bagaimana?"

Shintarou menepuk kepalanya. "Dia sedang beristirahat. Kau tahu, malam tadi suhunya mencapai 38,5 derajat celcius,"

"Apa Papa akan baik-baik saja?" suara Tetsuya terdengar, sempat mendengar selama ia bermain di dekat kaki Ayahnya. Si bungsu juga merasakan hal yang sama, cemas.

"Tenang saja, Tetsuya," jika tadi anak bungsunya yang mewakili jawabannya, kini anak sulungnya yang melakukan. Menenangkan Tetsuya sebelum Shintarou melakukannya. "Papa akan baik-baik saja, apa kau lupa Otousan itu seorang dokter?"

Iris birunya mengerling ke arah Shintarou. Membuat yang ditatap terkekeh geli. Lucu dengan tingkah kedua anaknya.

"Aku yakin dia baik-baik saja—"

"Uhuk! Uhuk!"

Ketiga kepala berbeda warna itu serentak menoleh. Tepat mengarah pada pintu yang berderit terbuka tidak jauh dari ruang tengah. Seijuuro berada berdiri di ambang pintu, dengan piyama kebesaran dan sweater yang tersampir di bahunya.

"Oh, Sei." Shintarou bangkit dengan cepat, berjalan terburu-buru mendekati si direktur muda. Bergerak gesit ketika tubuh Seijuuro mulai limbung dan cara jalannya tak tentu, menggenggam satu lengannya sedangkan sebelah tangan Shintarou dilingkarkan di sekeliling bahunya.

"Seharusnya kau kembali ke tempat tidur,"

"Jangan perlakukan aku seperti orang pesakitan, Shin,"

"Kondisimu yang mengatakannya."

"Kau berlebihan, ini hanya flu biasa,"

"Sei—"

Iris dwi warna Seijuuro meliriknya tajam, meski terlihat sayu. Shintarou selalu tahu ada saat dimana Seijuuro tak ingin dibantah dalam keadaan apapun. Bahkan saat sakit seperti ini. Pribadinya yang keras kepala terkadang membuatnya kesal.

Mau tak mau, Shintarou menuntunnya berjalan menuju sofa. Berdebat dengan orang sakit pasti tidak akan ada ujungnya. Yang ada hanyalah keadaan Seijuuro bisa semakin parah.

"Papa," tangan kecil Tetsuya mencoba memeluknya. Namun berjengit pelan ketika kulitnya bersentuhan dengan kulit Seijuuro, rasa panas dengan cepat menjalar di setiap sel sarafnya. "daijoubu?"

Astaga, lucunya. Seijuuro jadi lupa akan sakitnya.

"Tenang saja," Seijuuro mengacak rambut birunya, lalu atensinya beralih pada Chihiro yang terlihat diam saja dari tadi—dan sedikit cemberut, cemas. "Ada apa, Chihiro?"

"Seharusnya Papa istirahat," keluhnya ketus, sorot di kedua matanya tidak bisa disembunyikan. Seijuuro selalu bisa menebaknya, "kalau tidak istirahat, demamnya tidak akan turun,"

Seijuuro mendengus geli. "Hei, sejak kapan kau berani memerintah Papa?"

"Aku hanya mengingatkan,"

"Lama-lama kau semakin mirip dengan Shin,"

Di sisi lain, Shintarou memutar bola mata. Dalam keadaan sakit ataupun tidak, Seijuuro memang selalu seperti itu. Tidak bisa diatur. Bahkan untuk anaknya sendiri sekalipun.

"Sei, berhenti berdebat, kau sedang sakit."

Seijuuro mendelik sinis.

"Kau…" Shintarou menekankan, "memang. Sakit. Dan jangan membantah, aku sudah membuatkan sup tofu untukmu. Diam disini."

Tapi perintah seorang dokter akan lebih sulit untuk dibantah.

.

.

.

"Suhunya bertambah tinggi,"

Shintarou menggumam pelan, memandang lekat wajah Seijuuro yang memerah, tertidur. Napasnya tidak stabil, dadanya naik turun tak beraturan. Sepasang matanya setengah terbuka, antara rasa kantuk yang menyerang, dan suhu badan tinggi yang membuatnya tak nyaman.

"Sudah…" Seijuuro memalingkan wajah ke samping, agar Shintarou tidak memandangnya terus. "Kau temani dulu saja Chihiro dan Tetsuya,"

"Sei—"

"Mereka akan sulit tidur jika tidak dibacakan cerita, terutama Tetsuya," racaunya tidak jelas, entah benar atau tidak. Karena seingat Shintarou, Chihiro bukan tipikal anak seperti itu. Dan mungkin berbeda lagi kalau dengan Tetsuya.

Shintarou mendesah pasrah, menarik selimut lebih atas lagi hingga batas leher Seijuuro. Mengusap helai merahnya lembut setelah itu bangkit berdiri, berjalan hati-hati ke arah pintu lalu membukanya dengan sangat pelan agar tidur Seijuuro tidak terganggu.

"Otousan,"

Sang dokter muda tertegun sejenak, pasalnya ia tidak sadar sejak kapan kedua anaknya kini sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Piyama tidur sudah melekat di tubuh kecilnya, bantal di tangan masing-masing, dan tatapan memohon yang tertuju ke arahnya.

"Hei, hei, kenapa kalian belum tidur?" Shintarou berlutut, menyamakan tinggi dengan kedua anaknya.

"Tidak bisa tidur," Chihiro menyahut kalem, "biasanya Papa akan datang membacakan cerita untuk kami,"

"Tetsuya ingin tidur bersama Papa,"

Shintarou tersenyum tipis, meminta maaf lewat raut wajahnya. "Maaf, ya, hari ini kalian tidur dulu di kamar masing-masing,"

Manik abu dan biru muda itu berkilat kecewa.

"Papa harus banyak beristirahat," jelas Shintarou sabar, memaklumi kekecewaan mereka. "Dan bisa-bisa flu-nya menular jika kalian terlalu dekat. Chihiro dan Tetsuya tidak ingin sakit, bukan?" ia berdiri, menuntun kedua anaknya yang tak lagi berkata apa-apa, tak berani mengucap protes.

Chihiro dan Tetsuya terpaksa kembali ke kamar, Shintarou membantunya hingga berbaring di tempat tidur. Menyelimutinya dan berakhir mengusap puncak kepala mereka berdua. Ya, jujur saja, Shintarou sedikit sulit untuk bercerita. Pikirannya terbagi menjadi dua, antara Seijuuro dan anaknya. Hingga akhirnya kedua kakak beradik itu meminta dirinya untuk membuatkan segelas susu cokelat. Rasa favoritnya.

Beberapa menit kemudian, Shintarou sudah berdiri di dapur. Jam menunjukan angka sepuluh malam. Kedua anaknya belum tertidur, begitu pula Seijuuro yang kadang terlihat gelisah dengan demamnya. Setelah susu cokelat buatannya tadi selesai, ia meletakannya di atas nampan, lalu menyimpannya sejenak di konter. Berjalan untuk memanggil Chihiro dan Tetsuya.

Namun langkahnya mendadak berhenti, keningnya berkerut heran tatkala pintu kamarnya terbuka. Meninggalkan celah yang kecil, meski ia tahu lampu kamarnya sengaja dimatikan, rasanya aneh jika pintu kamarnya terbuka karena seingatnya tadi ia menutupnya

Pintu itu terbuka karena dorongan kecil.

Suara langkah kakinya seperti hantu, nyaris tak terdengar. Tidak mengendap-endap juga, sih. Yang jelas, hanya memastikan bahwa di dalam hanya ada dirinya saja dan Seijuuro yang terbaring di ranjang.

Hingga akhirnya Shintarou berhenti di sisi ranjang, kedua matanya sempat membelalak. Terkejut, tentu saja. Terlebih ketika matanya mendapati kalau Seijuuro tidak tidur sendirian. Tidak lagi tidur dengan gelisah dan racauannya yang tidak jelas.

Karena kedua tangannya saat ini digenggam hangat oleh kedua anaknya.

Chihiro di sebelah kanan, Tetsuya di sebelah kiri. Saling bertautan.

Memeluk Seijuuro dari kedua sisinya.

Dokter muda itu tertawa pelan. Merasa geli dengan tingkah mereka, termasuk Seijuuro. Karena, hei, kapan lagi ia bisa menemukan keadaan keluarganya seperti ini? Apalagi melihat Seijuuro yang demam itu adalah hal yang jarang. Bukan, bukan maksudnya ia ingin Seijuuro sakit, hanya saja … ya, Shintarou akui ia suka melihat bagaimana wajah damai Seijuuro ketika tertidur. Seolah-olah tak ada beban selama dia hidup.

"Dasar, kalian ini," Shintarou membungkuk sedikit, selimut yang tertata acak di antara mereka bertiga ia benarkan. Membungkus tubuh ketiganya. Ia sedikit menggeser tubuh Tetsuya agar tidak terlalu samping, meminimalisir kemungkinan terjatuh dari tempat tidur. Sampai kain tipis itu berhenti sebatas leher Seijuuro dan kedua anaknya benar-benar terjaga dari hawa dingin, Shintarou duduk di tepi ranjang. Mengecup kening Tetsuya—yang sedikit sulit karena di sisi lainnya, berpindah di kening Chihiro, setelah itu berhenti ketika wajah Seijuuro memenuhi fokus matanya.

"Cepat sembuh, Sei," jemarinya bergerak lambat, menyisir setiap helai rambut merah Seijuuro, mengusap keringat dingin yang membuat keningnya basah.

Lantas ia lebih menunduk, satu tangan bertumpu pada sisi ranjang samping Chihiro, sedangkan satunya lagi berada di pipi kanan Seijuuro. Mendaratkan satu kecupan malam di kening sang kekasih. Kali ini sedikit lama, dalam hati berdoa agar kondisinya esok hari semakin membaik. Tidak membuat kedua anaknya khawatir, tidak membuatnya cemas, dan tidak membuat anggota keluarganya panik.

Shintarou ingin Seijuuro yang sehat.

Juga Chihiro dan Tetsuya, tentu saja.

"Nah," Shintarou bernapas pasrah, dengan kekehan geli yang keluar dari bibirnya. "Dimana sekarang aku tidur?"

.

.

.

Omake

Seijuuro membuang napas keras. Dengan dengusan kecil setelahnya.

Ia berkacak pinggang, kepala menunduk, berdiri di sisi ranjang Tetsuya. Sedangkan di seberang sana, Shintarou berdiri di sisi ranjang Chihiro. Memandang kedua anaknya lekat-lekat.

"Well…" Seijuuro menoleh, mendelik sinis ke arah Shintarou, "sepertinya kau yang selebihnya disalahkan di sini, Shin,"

"Mereka yang tiba-tiba saja tertidur di sampingmu waktu itu, Sei," sahut sang dokter tak ingin kalah, jari telunjuknya membetulkan letak kacamata. "Lihat siapa yang saat itu jatuh sakit, demam dan sering mengigau,"

"Aku tidak sakit," Seijuuro bersikukuh, "dan aku tidak pernah mengigau."

Shintarou berdecak pelan. Saat ini, berdebat Seijuuro bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan. Lagipula, ada hal yang lebih penting dari berdebat yang tak berujung.

"Otousan … Papa,"

Seijuuro berbalik, duduk di tepi ranjang Tetsuya. Menepuk-nepuk perut kecilnya yang tertutup selimut dengan hangat. Di sisi lain, Shintarou melakukan hal yang sama.

"Cepatlah sembuh…"

Shintarou bisa mendengar gumaman Seijuuro, ada rasa cemas di sana. Membuat garis tipis di wajahnya melengkung simpul. Entah mengapa hatinya lebih terasa hangat.

"Sei, benar," atensi Shintarou berpindah kepada Chihiro yang berbaring, mengusap-usap puncak kepalanya. "Cepatlah sembuh kalian berdua. Jangan membuat Papa khawatir."

Ya, entah salah siapa kedua anaknya jadi ikut tertular flu dan demam.

.

.

.

Storia 3 : Completed


A/N : Hyahooo~! Kembali lagi bersama kami, Alice dan Suki! (OvO)9

Ahahai, nggak kerasa, ya, udah masuk sekolah aja... dan entah kenapa Alice lelah jadi panitia MPLS dan Suki letih karena masih ingin liburan... X"D

Yang sebelumnya udah request, kami tampung dulu request-nya dan yang ingin request, silahkan review atau kirim lewat PM...

Oho~ sekarang kita bales review anonim dulu, eaaa!

guest : Ehehe~ lucu kayak yang bikin, ya? /plak/ Makasih udah review~

Akashi Aoi-desu : Iyaa, mereka semua memang manis dan ini udah dilanjut. Makasih udah review~

rea : Aduh, sampai diabetes! Coba minum ekstrak kulit manggis dulu biar nggak diabetes lagi #iklan #abaikansaja. Makasih udah review~

Aoki : Request bisa berupa cerita, scene atau genre-nya XD. Ini masih lanjut kok~ Makasih udah review~

akashiseichan : Wkwkwkwk, kita berdua juga pengen jadi keluarga Midorin dan punya adik selucu Chihiro sama Tetsuya /plak/. Makasih udah review~

Terima kasih juga yang udah baca chapter ini dan chapter-chapter sebelumnya~ terus untuk fave dan follow-nya juga!

Akhir kata kami ucapkan,

Review, please! *wink*