"Papa, Otousan, Tetsuya boleh menonton film ini, ya?"

Si bocah pemilik surai biru langit menyodorkan sebuah kotak berbentuk persegi panjang yang tipis dan tergenggam erat di kedua tangan mungilnya. Di sisi depan kotak terdapat cover bergambar sesosok wanita dengan baju terusan berwarna merah selutut. Wanita tersebut juga menggenggam sebuah gergaji mesin. Wajah wanita itu tidak terlihat karena rambut panjang hitamnya menutupi seluruh wajahnya.

Alis Shintarou dan Seijuurou terangkat sebelah.

Sejak kapan anak bungsu mereka yang terlihat sangat polos, dapat memilih film yang penuh dengan adegan menakutkan serta berdarah seperti itu?

"Tetsuya sayang," Seijuurou angkat bicara pada akhirnya. "Papa sudah pernah menonton film ini dan filmnya sangat jelek. Tetsuya pilih film yang lain saja, ya," ucap Seijuurou berbohong karena sebenarnya ia sendiri belum pernah menonton film yang ditunjukan oleh Tetsuya.

Tetsuya menggelengkan kepalanya. "Tapi teman Tetsuya bilang film ini bagus, jadi Tetsuya ingin menonton film ini,"

Ah, Tetsuya keras kepala juga ternyata. Belum lagi ia lebih percaya kepada temannya ketimbang percaya pada perkataan Seijuurou. Lain kali mungkin Seijuurou harus membatasi dengan siapa anaknya bergaul agar tidak terjerumus ke jalan yang salah dan merusak kepolosan sang anak.

"Otousan setuju dengan Papa, Tetsuya," timpal Shintarou kemudian. "Tetsuya tidak boleh menonton film horor,"

Bibir Tetsuya mengerucut sedih. Kedua mata birunya yang bulat mulai berkaca-kaca dan bahunya mulai bergetar karena manahan air matanya agar tak jatuh.

"T—tapi Tetsuya… ingin menonton ini,"

Isakan kecil mulai terdengar.

"B—baiklah, Tetsuya boleh menontonnya. Asalkan ditemani oleh Papa, Otousan, dan Chihiro-nii," sahut Shintarou.

Senyuman terlukis di wajah Tetsuya. "Terima kasih, Otousan,"

Well, setidaknya dengan begitu Shintarou berhasil mencegah Tetsuya menangis di toko DVD langganan mereka.

.

.

.

"Midorima Family Stories"

Sequel for "Sweet Pieces"

.

Kuroko No Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Midorima Family Stories © Alice To Suki

Pair : MidoAka (Midorima x Akashi)

Warning : Shota!Kuroko. Shota!Mayuzumi

.

Storia 4 : It's Horror Time!

(Requested by : Aoki)

.

.

Jumat malam sudah menjadi rutinitas bagi Shintarou dan keluarganya untuk menikmati waktu bersama-sama di rumah. Sebab hari Sabtu merupakan hari libur bagi mereka semua sehingga Shintarou, Seijuurou beserta kedua anaknya dapat tidur hingga larut malam tanpa harus mengkhawatirkan jadwal hari esok.

Setiap minggu pun mereka melakukan aktivitas yang berbeda agar tidak merasa jenuh maupun bosan. Contoh seperti minggu lalu, mereka mencoba untuk bermain permainan papan berupa permainan monopoly dan sudah dapat ditebak kalau Seijuurou meraih peringkat pertama karena aset kekayaannya melebihi aset pemain lain—sekaligus ia juga pemegang hotel-hotel di blok H yang otomatis membuat Chihiro bangkrut seketika saat mata dadu mengharuskannya menggerakkan pion ke sana.

Atau contoh lainnya dua minggu ke belakang, di mana mereka berempat mencoba untuk berkemah di taman atas apartemen mereka. Berbaring menatap ke angkasa yang luas tanpa batas, memandang bintang-bintang yang terhubung menjadi gugusan yang indah serta menawan. Rasi bintang Aquila, Lyra, Cygnus, Sagitarius—Shintarou tahu kalau ini bintang kelahiran Seijuurou dan sempat menjelaskan singkat pada sang surai merah mengenai peruntungannya besok, namun si empunya yang berzodiak memilih untuk mengabaikannya—dan rasi bintang lainnya pada konstelasi langit musim panas turut menghiasi malam hari itu.

Tetsuya pun sangat antusias saat melihat benda-benda langit tersebut dan rasa penasaran yang menggelitik benaknya, membuat ia jadi banyak bertanya pada Seijuurou, Shintarou juga Chihiro mengenai asal muasal beberapa rasi bintang yang terlihat. Lalu selanjutnya mereka memutuskan untuk tidur dan beristirahat di dalam tenda yang sudah Shintarou dirikan sebelumnya.

Dan malam kali ini, mereka memutuskan untuk menonton sebuah film yang sudah mereka tentukan sebelumnya. Film yang akan mereka tonton jatuh pada pilihan Tetsuya yaitu film dengan genre horror dan thriller. Seijuurou juga Shintarou hanya bisa mengalah—meskipun sebenarnya Seijuurou jarang mengalah kecuali di depan kedua anaknya—mengenai opsi yang ditawarkan Tetsuya. Sedangkan Chihiro hanya bisa mengurut dada ketika mengetahui film apa yang dipilihkan oleh adik kesayangannya.

"Papa, ini bantal dan juga selimutnya,"

"Ah, terima kasih, Chihiro,"

"Otousan, popcorn-nya sudah jadi? Tetsuya mau popcorn dan vanilla milkshakes,"

"Popcorn-nya sudah hampir jadi, Tetsuya. Eh, vanilla milkshakes? Malam-malam tidak baik meminum minuman manis, Tetsuya,"

"Sudahlah. Izinkan sekali ini saja, Shin. Lagipula Tetsuya bisa menyikat giginya setelah selesai menonton,"

"Baiklah, satu vanilla milkshakes untuk Tetsu—"

"Dua. Chihiro juga mau, Otousan,"

"Chihiro-nii, ikut-ikutan Tetsuya,"

"Biar Otousan ulang. Jadi dua vanilla milkshakes untuk Chihiro dan Tetsu—"

"Kau belum menarik pesananku, Shin,"

"Apa yang ingin kau pesan, Sei?"

"Coba kita lihat. Hmm, mungkin lebih baik aku pesan cokelat panas saja,"

"Baik, jadi dua vanilla milkshakes dan satu cokelat panas?"

Kepala merah, abu, dan biru muda itu mengangguk kompak.

Ya, seperti inilah persiapan mereka. Seperti biasa, setiap anggota keluarga memiliki tugasnya masing-masing. Shintarou yang menyiapkan berbagai kudapan serta minuman, Seijuurou yang membereskan ruang keluarga agar nyaman ketika mereka menonton nanti, lalu Chihiro dan Tetsuya bertugas membantu Seijuurou. Well, Shintarou sengaja menugaskan kedua buah hatinya untuk membantu Seijuurou. Sebab daerah dapur bisa jadi berbahaya bagi mereka berdua dan atas alasan tersebut, Shintarou tak ingin mengambil resiko.

"Selesai juga akhirnya. Chihiro, Tetsuya, terima kasih sudah membantu Papa," ucap Seijuurou sambil mengacak asal rambut abu Chihiro dan rambut biru Tetsuya.

"Un! Sama-sama, Papa!" balas Tetsuya semangat, sedangkan sang kakak hanya mengangguk dan beranggapan kalau perlakuan Seijuurou tadi terlalu kekanak-kanakan baginya.

"Popcorn dan minumannya sudah siap," Shintarou pun berjalan ke ruang tengah. Tangannya terlihat penuh karena membawa nampan yang berisi semangkuk besar popcorn, dua gelas besar vanilla milkshakes dan dua mug berisi cokelat panas. "Wah, kerja sama tim yang bagus," puji Shintarou saat melihat ruang tengahnya yang sudah tertata dengan rapi.

"Tumben kau memuji kami, Shin," ada seringai kecil yang menghiasi paras yang terkadang angkuh itu, paras Seijuurou. "Padahal biasanya kau hanya akan mengatakan, 'lumayan' atau seperti 'ruangannya nyaman' dan kalimat lainnya yang terkesan kaku,"

Astaga, asal tahu saja, sebenarnya Shintarou merasa ragu mengucap pujian tadi. Dan dugaannya tidak salah ketika Seijuurou lagi-lagi menyindirnya dengan cara yang—sangat—halus dan menohok itu.

"Begitulah," Shintarou berdeham, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Cepat mulai saja film-nya,"

Tak butuh waktu lama sampai kepingan bundar tipis itu tersimpan dalam DVD player, berputar secara konstan, dan layar mulai memunculkan gambar pembuka. Shintarou dan Seijuurou sengaja mengambil tempat di kedua sisi ujung sofa, mengapit kedua anaknya untuk berjaga-jaga.

"Film-nya dimulai," Tetsuya berbisik antusias, ujung-ujung jari kakinya yang kecil ikut bergerak dengan semangat. Tak sadar ketika tangannya sudah memeluk lengan Seijuurou, membenamkan sebagian wajahnya.

Seijuurou terkekeh. "Kalau Tetsuya takut—"

"Tetsuya tidak takut," potong sang anak, nyaris berteriak, "Papa tidak perlu khawatir, Tetsuya tidak takut."

Direktur muda itu mengangkat alis, mendengus geli setelah itu kembali fokus pada tampilan televisi di depannya. Dalam hati mencatat ia tidak akan bertanggung jawab jika malam nanti Tetsuya dan Chihiro tidak bisa tidur lalu mengetuk pintu kamarnya.

Heh, bercanda.

Sebenarnya Seijuuurou sudah mengantisipasi bahwa Shintarou yang akan mengurusnya nanti.

Adegan awal dalam film tidak terlalu menakutkan, tak ada yang aneh dalam sebuah prolog cerita kecuali masalah yang dijadikan sebagai menu pembuka. Namun semakin masuk ke inti cerita, porsi adegan menyeramkannya pun semakin bertambah. Tidak jarang Tetsuya mengeratkan kesepuluh jemari kecilnya pada lengan baju Seijuurou saat pemeran hantu di film itu muncul secara tiba-tiba.

Sedangkan Chihiro… well, sebagai seorang kakak yang ingin memberi contoh baik pada sang adik—sekaligus ingin terlihat dewasa dan keren—ia tetap berusaha agar terlihat berani walaupun sebenarnya tak jarang Chihiro merasa kalau jantungnya bisa saja melompat tatkala melihat hantu bermulut sobek itu di layar televisi.

Suara musik latar mulai menambah kengerian dari film berdurasi sekitar dua jam tersebut. Shintarou masih terus berjaga-jaga. Siapa tahu salah satu putranya—atau malah mungkin keduanya—sudah tidak berani untuk menonton kelanjutan cerita dari film ini dan memutuskan untuk berhenti.

Tidak lama setelah audio mengerikan itu terdengar, sesosok hantu muncul mendadak di depan layar televisi. Wajahnya yang pucat dan rongga matanya yang tidak terisi oleh bola mata, membuat Chihiro sedikit memekik dan menarik lengan baju Shintarou, berusaha bersembunyi di balik punggung sang ayah.

"Chihiro—"

Seolah mengetahui apa yang ingin dikatakan oleh Shintarou, Chihiro berkata, "Belum, Otousan. Chihiro masih kuat," Shintarou mendengar ada nada bergetar di sana, "Chihiro masih ingin menemani Tetsuya menonton,"

Mendengar jawaban Chihiro, Shintarou tersenyum tipis, sangat tipis.

Seijuurou beranjak dari duduknya dan Shintarou yang melihat pergerakan itu, langsung bertanya, "Sei, kau mau kemana?"

Seijuurou menoleh, "Ingin ke kamar kecil sebentar, kalian bertiga lanjutkan saja menontonnya," Ucap Seijuurou.

"Papa, jangan lama-lama di toilet," ujar Tetsuya yang merasa pelindungnya—ia menganggap Seijuurou pelindungnya, karena sejak tadi Tetsuya terus berpegangan erat pada kemeja Seijuurou yang duduk di sebelahnya—justru pergi di saat-saat yang menegangkan.

Seijuurou tersenyum lalu kembali mengacak surai biru langit Tetsuya, "Papa tidak akan lama, Tetsuya."

Dan Seijuurou langsung pergi meninggalkan Shintarou, Chihiro, dan Tetsuya di ruang tengah.

.

.

.

Shintarou menghitung. Sudah nyaris dua puluh satu menit, sejak Seijuurou pergi ke kamar kecil. Namun, Shintarou belum merasakan ada tanda-tanda dari pemuda merah itu hendak kembali ke ruang tengah.

Tetsuya yang sejak tadi menunggu kedatangan Seijuurou pun akhirnya memutuskan untuk sedikit merapat ke sebelah kakaknya untuk mengatasi rasa takut.

"Otousan, Papa belum kembali?" Tanya Tetsuya cemas saat film sudah mencapai tiga perempat bagian, bagian yang menjadi penentu klimaks bagi film tersebut.

Mendengar nada kekhawatiran terucap dari mulut Tetsuya, Shintarou pun berusaha menenangkan, "Sebentar lagi Papa akan kembali, Tetsuya,"

"Ya, sebentar lagi," sambung Chihiro. "Atau mungkin… Papa malah diserang oleh hantu dari film itu, jadi Papa belum kembali sampai sekarang,"

Tubuh kecil Tetsuya tersentak kaget. "Otousan! Apa benar Papa diserang hantu?" Tanya Tetsuya panik.

Oh, bagus. Si sulung berhasil membuat adiknya paranoid.

"Tidak mungkin ada hal yang seperti itu, Tetsuya. Papa tidak mungkin diserang hantu,"

Well, Shintarou tidak mempercayai eksistensi makhluk-makhluk astral di dunia ini. Dan sejak awal, memang ia tidak pernah percaya. Ia seorang dokter, ingat? Profesi bagi seseorang yang realistis. Sebab jika tidak, bagaimana bisa ia betah untuk memeriksa tubuh-tubuh dari korban kecelakaan yang sudah tercerai-berai tak tentu bentuknya?

Namun di sisi lain, Seijuurou menganggap Shintarou yang bertingkah realistis terkadang malah bersikap tidak rasional ketika percaya mengenai hal-hal semacam ramalan bintang dan sejenisnya. Agak ironis memang kedengarannya. Si realistis yang tidak rasional, begitu Seijurou memanggilnya. Bahkan sarkasme khas Seijuurou tetap melekat pada nama julukan Shintarou tersebut.

"Bagaimana kalau kita mencari Papa, Otousan?" saran Chihiro.

"Un!" Tetsuya mengangguk dan kedua tangan mungilnya terkepal di depan dada. "Chihiro-nii benar, Otousan. Kita harus bantu Papa melawan hantu,"

Polos benar anak keduanya ini. Ingin sekali Shintarou mencubit pipinya karena gemas.

"Baiklah, kita cari Papa," Shintarou bangun dari duduknya. Diikuti juga oleh Chihiro dan Tetsuya.

"Tetsuya, tidak perlu bawa bantalnya," Ucap Chihiro halus. "Taruh di sini saja,"

"Tidak boleh, Chihiro-nii. Ini senjata Tetsuya untuk melawan hantu," kata Tetsuya tanpa ragu.

Chihiro hanya mengiyakan saja kemauan si adik. Sebab ia yakin, bagaimanapun juga akan sulit memberitahu Tetsuya kalau melawan sosok-sosok gaib itu tidak akan mempan apabila hanya bermodalkan sebuah bantal dengan motif gambar seekor anjing kecil.

"Yosh! Ayo, kita bantu Papa melawan hantu," kata Tetsuya semangat. Di sampingnya, Chihiro dan Shintarou saling tatap, lalu terkekeh.

.

.

.

Toilet itu sudah kosong.

Shintarou mengernyit bingung. Keadaan kamar mandi di apartemen kecilnya hening, tak ada suara gemericik air atau tanda-tanda seseorang di sana. Baiklah, ini tidak lucu. Seijuurou bilang padanya kalau ia akan pergi ke toilet, tapi di mana dia sekarang?

"Papa tidak ada," suara Tetsuya mewakili, bantal dalam dekapannya semakin erat dipeluk. Ia mendongak, menatap sepasang manik sang kakak dalam cemas. "Chihiro-nii, ke mana Papa pergi?"

"Aku rasa Papa sudah keluar," sahut Chihiro menenangkan, melongok pelan ke celah pintu kamar mandi yang terbuka, setelah itu menatap Shintarou. "Benar 'kan, Otousan?"

Itu, adalah isyarat Chihiro yang diberikan untuknya. Mau tak mau Shintarou mengangguk, lama-lama sifat absolutnya Seijuurou bisa menurun juga pada salah satu—ah, tidak, kedua anaknya. Astaga, Shintarou tak mengerti kenapa ia bisa bertahan lama. Meski ia sendiri begitu menyayangi keluarga kecilnya.

"Papa," suara Tetsuya hampir pecah, menahan isak tangis. Satu tangan kecilnya meraih kelima jari besar Shintarou, menautkannya tanpa sadar. "Otousan, Papa tidak ada."

"Ssshh…" Shintarou menepuk puncak kepala biru muda itu pelan, "itu tidak benar, Tetsuya. Papa ada, Papa pasti ada," setelah ini, awas kau nanti, Sei. Shintarou mengerti benar laki-laki merah itu ada di sini; di apartemennya. Dan yang pasti; sembunyi.

Chihiro sepertinya merasakan kekesalan Shintarou, semua ini rasanya janggal. Jika Seijuurou memang benar-benar menghilang, ia pasti akan melihatnya. Atau setidaknya, suara pintu yang dibuka dan ditutup akan terdengar.

"Otousan, Chihiro rasa—"

Pats!

Mereka bertiga serempak mematung.

Lampu apartemen mendadak mati.

Tetsuya semakin erat menggenggam tangan Ayahnya, di samping mereka, Chihiro berjalan mendekati Shintarou, mencoba untuk tidak terlalu jauh darinya. Suasana ini semakin tidak enak. Gelap, sepi, dan hening. Ditambah lagi, keadaan tiba-tiba saja mencekam. Shintarou yakin ia sudah membayar tagihan listrik apartemennya tepat waktu. Dan gedung yang ditempatinya saat ini pun tak pernah mengalami kerusakan seperti ini. Hanya satu kemungkinan keadaan apartemen mati. Kecuali—

"Sei, jangan main-main," Shintarou berkata pelan, namun menggema. Memberi peringatan. "Tetsuya benar-benar ketakutan."

"Papa, aku rasa Papa harus berhenti."

Tak ada jawaban.

"Sei," Shintarou menghela napas pasrah. "Cepat keluar sekarang juga,"

Tok… tok… tok…

Tetsuya membenamkan wajahnya di pinggang Shintarou, bantal yang sedari tadi dibawanya terjatuh, kedua lengan spontan memeluk sang Ayah. Chihiro melakukan yang sama, memeluk satu kaki Shintarou.

Tok… tok… tok…

Suara itu bukan berasal dari pintu. Shintarou hapal benar bagaimana nadanya. Tapi, nada ketukan yang pelan ini—

Tok… tok… tok…

Bunyi ketukan.

"Kembalikan… kembalikan…"

Suara merintih.

"Kembali—"

"BERHENTI! HUAAA!"

Tetsuya yang menangis.

"Ah, itu—"

Duk! Brak!

"Ittai!"

Shintarou bergerak cepat dan mengambil langkah lebar ke arah saklar lampu terdekat. Ia menekannya dalam satu sentakan, nyaris meremukannya. Apartemen kembali terang, Shintarou bisa melihat keadaan sekarang dengan jelas. Dan membuatnya melongo sesaat. Tetsuya berada di kaki kanannya, menangis begitu keras, kedua tangan kecilnya begitu erat menggenggam celana Shintarou. Sedangkan si sulung mendekap di kaki kirinya, memang tidak menangis, tapi Shintarou bisa melihat mata abunya berkaca-kaca dan bibirnya bergerak-gerak gelisah.

Lalu di sisi lain ruangan, tepatnya di bawah meja makan tidak jauh dari dapur, Seijuurou berada di sana. Dalam keadaan menelungkup dengan kedua lengan di atas kepala, menahan sakit. Salah satu kursinya jatuh dalam posisi yang tidak bagus. Begitu mata mereka saling bersirobok, Seijuurou memberikan senyum kecil tanpa dosa. Oh, baiklah. Laki-laki merah itu baru saja membentur bawah meja dan menjatuhkan salah satu kursi.

Rahang Shintarou mengeras. "Sei—"

"PAPA! Tetsuya mau bertemu papa!"

Shintarou menghela napas. "Sei, keluar sekarang juga."

Astaga, sejak kapan Seijuurou bisa jail seperti ini?

.

.

.

Lihat sekarang imbasnya, begitu Seijuurou berhasil menenangkan putra bungsunya sampai berhenti menangis dan memberikan tepukan ringan di kepala si sulung, Seijuurou terpaksa mendekam di kamar kedua anaknya. Dengan alasan tidak bisa tidur—terutama Tetsuya—dan takut hantu, katanya.

"Papa, jangan pergi lagi," mata bulat biru anak itu masih terlihat sembab, kesepuluh jemari kecilnya mendekap erat selimut tebal yang membungkus tubuhnya sampai menutupi dagu. "Jangan jadi hantu lagi,"

Seijuurou tertawa, merasa berdosa. "Ya, ya, maafkan Papa, ya. Tadi itu hanya iseng,"

"Iseng yang tidak lucu, Papa." Di sisi lain kamar, Chihiro menyahut datar. Seijuurou pikir anak sulungnya sudah terlelap, tapi yang dilakukan Chihiro hanyalah menyembunyikan dirinya di bawah selimut.

"Hei, hei, Papa 'kan hanya bercanda," bela Seijuurou tidak mau kalah. Ia menepuk-nepuk perut kecil Tetsuya yang terbungkus selimut. "Nah, sekarang kalian berdua tidur. Papa akan di sini sampai kalian terlelap."

"Nyanyikan sebuah lagu,"

Seijuurou mengerjap bingung. "Eh?"

"Tetsuya ingin Papa menyanyikan sebuah lagu."

"Bagus, Tetsuya," Chihiro berkata setuju. "Papa harus bernyanyi untuk kami."

Oh, dear. Tetsuya dan Chihiro belum bisa memaafkannya ternyata. Well, Seijuurou tidak merasa marah pada mereka berdua. Ia sadar kejadian tadi memang kejailan anehnya yang mendadak muncul. Bahkan Shintarou dibuat bingung olehnya.

"Lakukan untuk mereka, Sei."

Seijuurou menoleh. Shintarou berdiri di ambang pintu kamar dengan kedua lengan bersilang. Wajah sang dokter muda itu terlihat jauh lebih muda begitu kacamata berbingkai hitamnya dilepas.

Tiga lawan satu. Seijuurou kalah jumlah.

"Baiklah, baiklah," akhirnya ia menyerah. Seijuurou berdeham kecil, menormalkan pita suaranya. Berpikir sejenak lullaby apa yang akan membuat Chihiro dan Tetsuya tertidur. Mungkin dalam nada suara yang tidak terlalu tinggi dan cocok dengan pita suaranya. Hingga detik di mana pikiran Seijuurou mutlak menentukan lagu apa yang akan dinyanyikannya, Seijuurou kembali berdeham. Setelah itu membuka bibir;

"Yura yura yurameku… nami no ma ni…

Kira kira kagayaku… koe wa tatta yume kanata he to…"

Malam itu, suara Seijuurou sebagai penutup hari di apartemen keluarga kecil Midorima Shintarou.

.

.

.

Storia 4 : Completed


A/N : Hyahoo~~ Alice dan Suki di sini...

Etto, kira-kira masih ada yang inget nggak ya sama fanfic yang sudah berdebu ini? Minna-san, maafkan Alice dan Suki yang udah nunda lama banget fic inii... QvQ

Terus untuk lagu penghantar tidur Tetsu dan Chihiro, itu lagu Clear dari DMMd yang nyeritain tentang ubur-ubur ituu. Sumpah deh! Alice sama Suki doki-doki dengerin suara Clear di situ... pengen dipeyuk tau nggak? XD

Oh, iya! Terima kasih sebelumnya buat Akashi Aoi-desu, midoaka, rea, Zhang Fei, ShizukiArista, Aoki, Myadorabletetsuya, 46Neko-Kucing Ganteng, Yuna Seijuurou, akashiseichan, mimijjwkrissy, kurohime, Shizuka Miyuki, dan Letty-Chan19 untuk review-nyaa~

Terima kasih juga buat yang udah fav dan follow fic ini~ *pelukin satu-satu*

Dan kami berdua masih membuka request untuk cerita keluarga unyu-unyu ini~ Jadi bagi siapa pun yang ingin request, silahkan tulis di kotak review, yaa! *wink*

Sepertinya cukup segini aja, deh... :3

Happy holiday untuk semuanyaaah~ XDD

Akhir kata, kami ucapkan,

Review, please~! *tebar kue jahe*