Chapter 2: Kono kimochii wa… nani?
Disclaimer: Fairy Tail by Hiro Mashima
Warning: AU, School life, OOC (?), Typo (s), dsb.
Happy Reading…
.
.
.
Balas Review dulu ya? Berhubung susah pake PM, disini aja ya…
Mikasa-Chan: makasih. Ni dah lanjut…
Momo Katsuhira-Chan: Emang mirip sih sama lagu itu, baru 'ngeh' diriku. Ok, ok. Ini lanjut… makasih reviewnya.
Zhaa: Ya, Erzanya dibuat jadi gadis normal aja disini. Wajar kalau dia takut kecoa… gajah aja takut semut, masa Erza gak takut kecoa –ditendang Erza- haha… makasih reviewnya.
Synstropezia: haha… makasih. Btw, aku juga dah baca ceritamu yang 'kokoro no placard', tapi belum review… hehe, gomen.
Back to story…
.
.
.
"H-hei, kau masih marah soal yang tadi?"
Erza menatap Jellal sekilas, sekedar menegaskan jawaban yang ingin Jellal dengar melalui raut wajahnya. Mendengus pelan, Erza melanjutkan perjalanan pulangnya, disusul Jellal dibelakang.
"Aku tahu aku salah, tapi bukannya kau duluan yang menyamakanku dengan kucing?"
Erza menghentikan langkahnya, dan berbalik menghadap Jellal. Bibirnya yang nampak cemberut berujar, "…kucing kan lucu. Tapi ulat? Ditambah kau menyamakanku dengan kecoa, mahluk paling menjijikan yang pernah ada."
"Aku 'kan hanya bercanda…"
"Tetap saja keterlaluan!"
"Baiklah aku keterlaluan, aku minta maaf."
Erza hanya berlalu, tanpa mengatakan apapun. Jellal mendesah lelah, tak tahu lagi caranya agar Erza mau memaafkannya. Yang bisa ia lakukan hanya berjalan dibelakang gadis itu, mengikuti kemanapun gadis itu pergi.
Jangan salah paham. Bukannya Jellal memiliki hobby menjadi 'stalker', hanya saja, tempat mereka tinggal kebetulan saja sama.
Sebuah apartemen sederhana berdiri kokoh dihadapan keduanya. Ya, disanalah kedua sahabat itu tinggal. Berbekal gelar 'imigran' keduanya merantau ke kota ini, untuk bersekolah disekolah yang mereka inginkan. Tinggal seorang diri, dan jauh dari keluarga menjadi keputusan keduanya. Terlepas dari segala alasan dibaliknya, kira-kira seperti itulah latar belakang keduanya.
"Tunggu!" Jellal menghentikan langkahnya tatkala mendengar instrupsi dari gadis yang sedari tadi berjalan didepannya.
"Kau pikir kau mau kemana?" ucap Erza masih membelakangi Jellal.
"Tentu saja masuk kedalam," jawab Jellal singkat.
"Ruanganmu disana, ini ruanganku!" Erza berbalik, dan menunjuk pintu disebelahnya.
"Tapi biasanya juga aku kesini…" Jellal kembali melangkah masuk, tapi dengan sigap, Erza memblokir jalur masuk pemuda itu dengan menyangga sebelah tangannya pada penyangga pintu.
"Tidak untuk hari ini."
"Kenapa? Setidaknya biarkan aku makan ditempatmu, lalu aku akan kembali ke ruanganku."
"Kau pikir tempatku restoran, apa? Lagipula banyak makanan siap saji di supermarket. Kenapa kau tidak beli saja disana?"
"Oh ayolah, kau tau kan makanan siap saji itu tidak sehat. Lagipula, tak ada makanan cepat saji yang mampu menandingi masakanmu…" ucap Jellal memelas.
Erza sedikit tersipu mendengarnya. Jellal tersenyum penuh kemenangan, mengetahui reaksi Erza akan ucapannya. Dengan begini, Erza akan…
"Sayangnya, mode devilku sudah aktif. Rayuan apapun tak mempan padaku." Erza menutup pintu dengan sedikit keras meninggalkan Jellal yang tengah tercengang tak percaya di depan pintu.
"Sekali-kali, cobalah untuk tidak bergantung padaku!"
Begitulah kata terakhir yang ia dengar dari balik pintu didepannya, sebelum kakinya yang lemas melangkah ke tempat yang seharusnya.
.
.
.
Erza merebahkan tubuhnya diatas kasur dengan kasar. Ia merasa sangat keterlaluan hari ini. Tapi bukan itu alasan sebenarnya ia bertingkah seperti itu dihadapan Jellal.
Memegangi dadanya, Erza kembali mengecek degupan kencang beberapa saat lalu kembali atau tidak. Ia menutup matanya, meresapi dengan seksama degupan didadanya kini.
Degupan ini…
Tak sekencang waktu itu, saat matanya dengan intens menatap mata pemilik rambut biru yang tadi diperlakukan kasar olehnya.
Erza membuka matanya, tangan kirinya masih memegangi dadanya, dan tangan kanannya ia letakan di atas dahi. Matanya menerawang entah kemana.
Pertama kali ia merasakan hal seperti ini terjadi pada dirinya. Sebenarnya perasaan apa ini?
Sekian tahun bersama Jellal, tapi baru kali ini ia merasakan sesuatu yang aneh seperti ini.
"Ah! Aku tak mengerti!" ucap Erza akhirnya, menenggelamkan kepalanya diatas bantal.
"Kalau seperti ini, sepertinya akan susah melihat wajahnya lagi…" ucapnya pelan, sebelum alam mimpi menjemputnya.
.
.
.
"Kenapa sih anak itu hari ini? Tidak biasanya…" ucap Jellal sekilas setelah memasuki ruangan apartemennya. Tasnya ia lemparkan kesembarang tempat, sedangkan ia melempar dirinya sendiri ke sofa diruang tengahnya dengan kasar.
"Tapi… bukan dirinya saja yang aneh hari ini…" ia memegangi dadanya, persis seperti yang Erza lakukan.
"…sepertinya aku juga."
Jellal bangkit dari sofa, dan berlalu menuju kamarnya.
Rapih.
Tentu saja karena Erza yang membersihkannya tadi pagi. Tidak, setiap pagi saat ia menunggunya bersiap-siap, oh dan tentu saja setelah membangunkan Jellal pastinya.
Tapi 'kerapihan ini' tak bertahan lama, setelah sang tuan rumah melempar seragamnya kesembarang tempat saat ia berganti pakaian. Dan tanpa menghiraukan perbuatannya, ia melangkah acuh menuju dapurnya.
"Ah, sial! Tak ada apapun yang bisa kumakan disini," gerutunya saat melihat isi kulkas miliknya. Hanya ada beberapa air mineral dan cola, juga selai. Hanya saja tak ada roti yang menemaninya.
Jellal kembali ke kamarnya, mengambil dompet. Dipandanginya sebentar keadaan kamarnya yang nampak berantakan akibat ulahnya.
"Mungkin besok juga akan tetap seperti ini…" ucapnya pelan, lalu beranjak meninggalkan apartemenya.
.
.
.
"Emhhh…" Erza merenggangkan tubuhnya, sesaat setelah ia bangun.
"Hn? Berapa lama aku tertidur?" tanyanya entah pada siapa. Ia melirik jam dinding di sebelah kasurnya, dan seketika matanya membulat sempurna.
"Jam 9? Gawat aku belum mandi!" ucapnya bergegas meninggalkan kamarnya menuju kamar mandi. Langkahnya terhenti saat mengingat hal lain yang ia lupa lakukan.
"Aku juga lupa membuat makan sia- ah itu sudah lewat. Berarti makan malam?"
Erza hanya mundar-mandir tidak jelas. Bingung apa yang harus ia lakukan terlebih dahulu. Tidak biasanya ia ketiduran selama ini, jadi ia bingung harus berbuat apa.
Kembali, Erza menghentikan langkahnya. Kali ini bukan soal mandi atau makanan yang ia pikirkan.
"Apa… Jellal baik-baik saja ya?" tanyanya entah pada siapa.
Ini pertama kalinya ia menyuruh Jellal untuk tidak bergantung padanya. Tapi… apa ia bisa melakukannya seorang diri? Kenapa ia begitu mengkhawatirkannya?
"K-kenapa aku ini? Dia sudah besar, pasti bisa melakukan segala sesuatu sendiri. Dan… kenapa aku bertingkah seolah aku ini ibunya? Argghh!" setelah bergerutu tak jelas, akhirnya Erza memutuskan untuk mandi terlebih dulu.
.
.
.
"Yosh. Selesai," ucapnya setelah meletakan mangkuk berisi kari keatas meja makan. Ia tersenyum puas melihat hasil masakannya. Segera saja ia duduk dan bersiap mencicipi hasil olahannya.
Erza mengambil sendok nasi. Tapi, niatnya untuk mengambil nasi ia urungkan. Ia menatap tembok disebelahnya -yang terhubung dengan ruangan Jellal- dengan khawatir. Erza menutup kembali piringnya, dan berlalu keluar ruangan sambil membawa mangkuk berisi kari buatanya.
Erza membuka pintu apartemennya, tapi ia malah mendapat sebuah ketukan keras didahinya.
"Aw…"
"A-ah… maaf, tadi aku mau mengetuk pintumu. Dan aku tak tahu kalau kau akan kelu…ar?" penjelasan Jellal yang panik, berubah menjadi pertanyaan saat melihat apa yang dibawa Erza. Kari? Untuk apa?
"Kalau tau kau akan kesini, aku tidak akan repot-repot membawakan ini ketempat…mu. Ups-"
'Ah, memalukan sekali…' inner Erza.
"Untukku?" tanya Jellal memastikan.
"Y-ya, s-siapa lagi?" ucap Erza membuang muka.
"Kebetulan sekali, aku membawa cake untukmu. Y-ya, anggap saja sebagai permintaan maaf…" Erza menatap Jellal dan kue ditangannya bergantian. Raut penyesalan tergambar jelas diparas cantiknya.
"Akulah yang seharusnya minta maaf. Akulah yang pertama memulainya, jadi ini salahku. Maaf…" ucap Erza tulus.
"Pppttt…"
"Ke-kenapa kau tertawa?" tanya Erza tak terima saat mendengar Jellal menahan tawanya.
"Seperti bukan kita saja."
"Apa maksudmu?" tanya Erza tak mengerti.
"Kita sudah sering mengejek satu sama lain, tapi baru kali ini 'kan kita minta maaf?" jelas Jellal.
"Kalau dipikir… benar juga ya."
"Sudahlah, lupakan itu. Aku lapar, ayo makan!"
"Tunggu!" Erza menghentikan langkah Jellal yang hendak masuk apartemennya.
"Kenapa lagi?"
"Kita makan di apartemenmu saja. Entah kenapa aku punya firasat buruk…"
"E-eh… kenapa jauh-jauh disana? Su-sudahlah disini saja," ucap Jellal gugup.
Erza melangkah menuju apartemen Jellal, menghiraukan sang pemilik yang berusaha keras melarangnya.
"A-ap…APA-APAAN INI?!" teriak Erza shock melihat keadaan ruangan yang barusan ia buka.
Buku, piring, gelas, dan sampah berceceran dimana-mana. Sepanjang retina matanya melihat, tak ada satu sudut ruangan pun yang tak luput dari sampah.
Erza melangkah kedalam dengan aura yang sangat kelam. Dibersihkannya meja –diruang tengah- yang dipenuhi sampah itu, lalu meletakan kari yang ia bawa disana. Tangannya dengan sigap mengambil remote dan mematikan tv bertuliskan 'Game Over' dihadapannya.
"Bersihkan!" perintah Erza, tanpa menghadap Jellal.
"A-apa?" tanya Jellal tak percaya, ia pikir Erza akan membersihkan semuanya.
"Bersihkan atau-"
"Ah, aku mengerti. Apapun yang akan kau katakan, pasti sesuatu yang buruk yang akan kudengar!" ucap Jellal memotong ucapan Erza, lalu dengan segera mengambil sapu dan pembersih debu di dapurnya. Segera saja Jellal membersihkan ruangan disekitarnya.
"Baguslah kalau kau mengerti," ucap Erza acuh, sebelum menyibukan dirinya dengan beberapa buku yang berserakan disekitarnya. Sedangkan jellal hanya menggerutu tanpa suara.
15 menit berlalu. Erza masih sibuk dengan buku yang dibacanya. Sesekali mata coklatnya melirik televisi, sekedar memastikan keadaan Jellal melalui pantulan dari televisi yang mati dihadapannya. Tampak Jellal dengan susah payang menyapu ruangn disekitarnya. Sesekali erza juga melihat jellal yang kesusahan memakai pembersih debu, wajahnya yang kebingungan nampak lucu dimata Erza. Terlihat sekali kalau Jellal memang jarang –tidak pernah- membersihkan ruangannya sendiri.
"Cepat, atau karinya akan dingin!" Perintah Erza tanpa melirik Jellal dan tetap Fokus pada buku dihadapannya. Jellal hanya menggerutu tak jelas.
"Huff…" Erza bangkit dari duduknya, dan berjalan keluar sambil membawa kari. Tentu saja kelakuan Erza yang tiba-tiba itu menarik perhatian Jellal, terlebih karena Erza membawa kari yang sama sekali belum masuk ke perutnya satu sendok pun.
"Kau mau kemana?" tanya Jellal saat tangan erza tepat di kenop pintu apartemennya.
"Menunggumu membuatku semakin lapar…"
"Jangan bilang kalau kau mau makan di apartemenmu dan meninggalkanku yang kelaparan seorang diri disini?" tanpa menjawab, Erza berlalu begitu saja.
'Sekalipun ini salahku, tapi meninggalkanku begitu saja keterlaluan, Erza.' inner Jellal.
Jellal masih melanjutkan pekerjaannya, ia masih sibuk melap lantai yang lengket dengan bekas minuman dan makanan. Rasa kesal karna ditinggalkan begitu saja jelas terpancar diwajah tampannya. Ia masih tak percaya Erza setega itu padanya.
"Masih belum selesai juga?"
"…" Jellal hanya melirik sekilas, tanpa berniat menjawab.
"Huff… aku sudah memanaskan karinya di microwave, cepat selesaikan pekerjaannya sebelum karinya dingin lagi!"
"Kau mudah mengatakannya, tapi-" kata-kata Jellal terhenti saat melihat apa yang dilakukan Erza. Ternyata ia tak hanya bicara, kali ini ia ikut membantunya.
"Kau, sejak kapan…?" tanya Jellal terkejut.
"Apa? Di apartemenmu tidak ada lap lagi, makanya aku mengambilnya di apartemenku sekalian memanaskan kari," jelas Erza mengerti akan reaksi yang ditunjukan Jellal saat melihatnya.
"Bukan begitu maksudku, kenapa kau membantuku?" tanya Jellal tidak puas dengan jawaban yang diberikan Erza.
"Kenapa kau bilang? Dan baru sekarang kau membahasnya, setelah apa yang kulakukan pada tempat ini setiap harinya? Huff…"
"Kupikir kau marah padaku…"
"Bagaimana aku bisa marah pada orang yang sudah memberiku cake… Ah-"
"Hn?" Jellal menatap Erza heran saat gadis itu berhenti, dari raut wajahnya menunjukan kalau ia menemukan hal yang menarik.
"Bagaimana kalau aku marahimu setiap hari, agar kau memberiku cake?" canda Erza.
"Kau ini ya…"
Erza hanya tertawa kecil menanggapi komentar Jellal. Sedangkan Jellal hanya tersenyum kecil melihat tingkah laku teman masa kecil yang sangat menyukai cake itu sambil meneruskan pekerjaannya.
.
.
.
Tsuzuku?
Huff… akhirnya ada motivasi juga buat lanjut. Kemarin2 pas nonton anime nemu lucy terus, baca manga, masih tentang Natsu. Eh, pas main kesini pairingnya NaLu semua… gz.
Masih chapter 2, masih beberapa chapter lagi sampai inti cerita. Huaa… diriku sanggup gak ya?
