Chapter 3: Seigrain
Disclaimer: Fairy Tail by Hiro Mashima
Warning: AU, School life, OOC (?), Typo (s), dsb.
Happy Reading…
.
.
.
"Jellal, bangun!"
Seperti biasa hari tak akan lengkap bagi Erza kalau belum menjemput sang raja tidur dari alam mimpinya. Setelah bersiap dengan segala keperluan sekolah dan berganti pakaian, Erza segera menuju apartemen Jellal. Rutinitas pagi yang biasa ia lakukan, kecuali dihari minggu tentunya.
Erza membuka gorden disebelah tempat tidur Jellal. Segera saja sinar matahari menyeruak masuk dalam ruangan yang nampak pengap ini. Jellal sedikit terusik, tatkala sinar sang mentari menerpa wajahnya. Perlahan ia membuka mata, dan seperti biasa wajah Erza yang pertama ia lihat.
"Hoammm… pagi Erza," sapa Jellal dengan polosnya, tak memperdulikan raut wajah teman masa kecilnya yang nampak sedikit jengkel.
"Jangan basa-basi, dan cepat mandi!" balas Erza, mengacuhkan sapaan jellal.
"Ugh. Galaknya…" Walaupun sedikit menggerutu, Jellal tetap mengikuti perintah Erza dan bergegas menuju kamar mandi.
Erza segera membereskan kamar yang ditinggalkan pemiliknya begitu saja. Setelah itu ia pergi ke dapur dan menyiapkan beberapa helai roti panggang dengan selai diatasnya. Ia meletakan roti-roti itu diatas meja, tak lupa segelas susu hangat, dan biasanya Jellal akan memprotes hal tersebut. Bagi jellal susu adalah minuman anak kecil. Dan tentu saja Jellal bukanlah anak kecil yang senang diberi susu tiap pagi. Tapi namanya Erza, ia tak akan mendengar protes apapun yang keluar dari mulutnya.
"Jellal…"
"Hn?" respon Jellal singkat didalam kamar mandi, saat Erza memanggilnya.
"Hari ini aku ada rapat osis, aku pergi duluan ya?"
"Pagi-pagi begini?" tanya Jellal heran.
"Umm… tadi pagi Seigrain menelponku dan menyuruhku untuk datang ke sekolah sepagi mungkin. Sepertinya ada sesuatu hal penting yang ingin ia bicarakan," jelas Erza.
"Oh, ya sudah. Kau duluan saja…" walaupun terdengar biasa, tapi tersirat kekecewaan yang hanya ia sendiri yang tahu. Erza pun tanpa basa-basi lagi meninggalkan apartemen Jellal.
.
.
.
Erza menyusuri lorong sekolah dengan tegap, dan penuh dengan wibawa layaknya seorang komite kedisiplinan pada umumnya. Pandangan-pandangan heran ia dapatkan setiap kali kakinya melangkah. Mungkin karena Jellal yang tidak bersamanya hari ini.
Erza menghentikan langkahnya saat orang yang sangat ia kenal berdiri angkuh didepan jalannya.
"Benar dugaanku, kalau lebih baik kau tidak bersamanya." Erza memandang tajam pemuda dihadapannya tanda tidak suka.
"Kau bisa datang tepat waktu, tidak seperti saat bersamanya," lanjut Seigrain.
"Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan?" tanya Erza to the point.
"Sederhana. Demi kebaikanmu, jauhi 'dia'!"
"Aku tidak peduli dengan masalah kalian berdua, atau masalah keluarga kalian. Jadi jangan ikut campur dengan urusanku. Terserah aku mau dekat dengan siapa atau apapun yang kulakukan, itu bukan urusanmu!"
"Sayangnya, aku tidak bisa melakukannya. Sebagai ketua osis, aku tidak bisa membiarkan anggotanya bersikap seenaknya dan merusak reputasi osis," ucap Seigrain angkuh.
Erza mendelik tajam, dan tanpa berkomentar apapun lagi, ia beranjak menuju ruangan osis tempat rapat berlangsung, disusul Seigrain dibelakangnya.
Sepanjang rapat berlangsung, tak banyak kata yang keluar dari mulutnya. Ia hanya diam dan mendengarkan. Sesekali ia mendelik tajam saat matanya tak sengaja bertemu pandang dengan sang ketua osis, Seigrain.
"Ok, cukup untuk hari ini. Kita bahas masalah tadi lebih lanjut besok. Kuharap kalian bisa datang lagi besok."
Tak ada yang menolak atau menentang, mereka hanya mengangguk setuju. Mau tak mau Erza pun menyetujui usulan tersebut. Alhasil besok pun ia harus bangun pagi dan berangkat ke sekolah seorang diri.
.
.
.
Erza POV
Seigrain. Siswa berbakat dengan tingkat kecerdasan diatas rata-rata. Ia adalah ketua osis sekaligus kapten tim basket. Tak ada yang tak mengenal dirinya, baik siswa maupun guru sekalipun. Julukannya adalah 'prince of ice'. Sikapnya yang tenang dan dingin memang pantas untuk julukannya tersebut.
Ia adalah idola setiap siswi disekolah ini. Tak heran saat melihatnya melintas, suasana akan segera riuh dengan teriakan-teriakan gaje fans-fansnya. Ok, aku tidak menampik kalau ia memang punya paras yang err… tampan. Tak heran kalau ia begitu dipuja-puja, terlebih dengan segala aspek positif yang ia miliki.
Tidak seperti biasanya, kali ini bukan teriakan-teriakan gaje yang aku dengar saat Seigrain lewat, tapi tatapan membunuh. Oh, dan tentu saja aku tahu apa penyebabnya. Aku. Ya, kini aku berjalan tepat disebelahnya, tentu saja konsekuensinya aku harus menerima tatapan maut dari mereka.
Apa mereka tak tahu, kalau aku juga tidak suka berjalan bersama orang ini? Kalau bisa aku dengan senang hati bertukar posisi dengan kalian. Kenapa dari sekian banyak anggota osis, ia malah memilihku? Hah, walaupun aku tidak menyukainya, aku harus tetap bersikap tenang dan menjaga wibawaku dihadapan siswa lain.
Pernah suatu hari Lucy menyarankan untuk keluar dari osis kalau memang aku tidak menyukainya. Tapi, aku bukanlah orang yang melakukan sesuatu dengan setengah-setengah. 'Jika sudah melakukan sesuatu maka aku harus menyelesaikannya' begitulah kira-kira prinsip hidupku.
"Masih ada tiga tempat lagi yang harus kita kunjungi, ayo cepat!"
Seperti biasanya ia dengan seenaknya menyuruh orang. Tapi memang benar yang dikatakannya, kalau tidak cepat bel masuk akan berbunyi.
Ini adalah rutinitas osis setiap bulannya, yaitu mengecek kelengkapan dan keadaan berbagai sarana dan prasarana sekolah. Jika ada kerusakan atau kekurangan saat pengecekan maka osis akan segera melakukan tindakan.
Sejauh ini, dari lima tempat yang telah kami kunjungi, tak ditemukan masalah yang berarti. Tinggal tiga tempat lagi ya? Aku benar-benar berharap ini cepat berakhir.
"Erza kau hitung yang disebelah sana lalu catat, dan jangan lupa cek kondisinya, apa masih layak atau tidak." Lagi-lagi ia menyuruhku dengan seenakanya dan kali ini ia pergi begitu saja. Huff… apa boleh buat ini adalah tugas, mau tak mau aku harus menyelesaikannya.
Beberapa menit berlalu, akhirnya Seigrain kembali, tepat setelah aku menyelesaikan tugas yang ia berikan.
"Ini…" ucapnya menyodorkan sebuah kaleng minuman padaku. Aku hanya menatapnya tak mengerti.
"Kau pasti haus, ini ambilah…"
"Untukku?" tanyaku tak yakin.
"Siapa lagi," ucapnya sedikit ketus.
Dengan ragu aku mengambil minuman kaleng ditangannya, dan segera meminumnya.
'Jangan-jangan tadi ia pergi untuk ini?' ucapku dalam hati sambil melihat minuman ditanganku. Tanpa kusadari, senyum tipis terukir diwajahku.
"Ah, Seigrain-kun kebetulan sekali…"
Aku menoleh kesumber suara begitupula dengan orang yang namanya dipanggil, Seigrain. Kepala sekolah? Kenapa?
"Oh kepala sekolah, apa ada yang bisa saya bantu?" inilah salah satu hal yang membuat ia disukai guru, tutur katanya yang sopan.
"Bisakah kau memberikan surat ini untuk orangtuamu?" ucap kepala sekolah menyerahkan selembar amplop berwarna coklat pada Seigrain.
"Maaf, tapi ini untuk apa?" tanya Seigrain tak mengerti, begitupun aku.
"Adikmu, terlibat perkelahian lagi dengan sekolah lain-"
Aku membelalakan mata tak percaya. Pekelahian? Kenapa? Bukannya dia sudah janji tidak akan melakukannya lagi. Selanjutnya aku tak mendengarkan apa yang Seigrain dan kepala sekolah katakan. Pikiranku dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik untuk segera dijawab sang pembuat onar.
"Sekali lagi, saya minta maaf atas kelakuan adik saya." Aku tak tahu apa yang mereka katakan sedari tadi, tahu-tahu Seigrain sudah membungkukan badan dan minta maaf.
"Ah, ya tentu saja. Ini bukan salahmu, tak usah dipikirkan…" ucap kepala sekolah risih dengan tindakan Seigrain.
"Seandainya saja ia bisa meniru sedikit kelakuan kakaknya…"
Selalu. Kata-kata inilah yang selalu kudengar setiap kali Jellal membuat masalah. Aku tidak suka saat mereka mengatakannya. Kenapa mereka harus selalu membandingkan keduanya? Jellal adalah Jellal, dan Seigrain adalah seigrain. Meskipun keduanya memiliki wajah yang sama, tapi apa kepribadian mereka harus sama? Tidak!
"Ano… sekarang Jellal ada dimana?"
Kepala sekolah mengalihkan perhatiannya padaku, sebelum menjawab "Mungkin di UKS…" ucapnya tak yakin.
"Kalau begitu saya permisi," ucapku sedikit membungkukan badan.
"Tunggu, kau mau kemana? Bukankah masih ada tempat yang belum kita periksa?" Aku menghentikan langkahku saat mendengar ucapan Seigrain.
"Maaf, tapi bisakah kita lanjutkan besok? Ada hal penting yang harus aku lakukan," balasku mencoba sesopan mungkin dihadapan kepala sekolah.
"Tidak bisa. Kita harus menyelesaikannya sekarang. Kemungkinan besok pun kita akan sangat sibuk, selagi ada waktu kita harus menyelesaikannya sekarang."
'Orang ini… pintar sekali membuat alasan,' ucapku dalam hati.
Aku yakin dia hanya tidak ingin aku menemui Jellal. Ia memang licik memanfaatkan keadaan selagi kepala sekolah berada disini. Tentu saja aku tak bisa berkomentar apa-apa. Seandainya tidak ada beliau, aku sudah pergi tanpa menghiraukan ucapannya.
"Maaf, mungkin bapak terlalu ikut campur. Tapi… Erza, ada baiknya kalau kau jangan terlalu dekat dengan Jellal."
"…"
"Bapak dengar dari beberapa guru, kalau sudah beberapa kali kau terlambat masuk sekolah. Ini pasti gara-gara anak itu 'kan? Tidak baik bagi seorang komite kedisiplinan untuk datang terlambat. Kau akan menjadi contoh yang tidak baik untuk siswa lain."
"…"
Tak ada respon yang keluar dari mulutku. Aku muak dengan semua ocehan mereka yang selalu sama.
Melihat tak ada respon yang aku tunjukan, beliau pun beranjak pergi setelah sekali lagi mengingatkan Seigrain tentang amplop yang ia berikan.
"Bahkan kepala sekolah pun menyuruh hal yang sama…" ucap Seigrain angkuh setelah sosok kepala sekolah menghilang dari pandangan kami.
"Sudah kubilang, berada didekatnya hanya akan memberimu masalah."
"…" Aku hanya mendelik marah dan tanpa merespon ucapannya, lalu beranjak pergi dari hadapannya. Tapi tanpa kuduga Seigrain menahan pergelangan tanganku, membuatku tak bisa bergerak.
"Aku bilang, aku tak suka kau dekat-dekat dengannya!" kali ini ia sedikit menaikan nada bicaranya, membuatku sedikit terkejut. Tapi, aku hanya memandangnya tajam dan segera menepis tangannya kemudian berlari menuju tempat Jellal berada.
Aku muak dengan semua ini. Aku muak dengan apa yang mereka bicarakan. Sekilas dari sudut mataku aku melihat Seigrain yang hanya diam melihat aku yang semakin menjauh.
\(o.O)/\(^_^)/~Tsuzuku~\(o.O)/\(^_^)/
.
.
.
Balasan Review:
Nozomi Akashi: Hontou ka? Makasih…
Neiro Suzuki: Huaa… jangan sedih donk! (Gak ada balon… -_-) Kalau lanjut sih pasti, tapi ya lama dikit tak apa kan? Authornya sibuk… gambar. Hehe… #apaaan? Maklum ada hobby baru. Apalagi kalau ada anime baru yang update… ugh. #alasanmacamapaitu
Senengnya kalau ada yang review, jadi semangat nulis…
