Erza POV

Orang itu… aku sengaja menemuinya di UKS, tapi ia malah kabur. Dasar!

Brakk…

Aku membuka pintu apartemen Jellal dengan kasar dan tanpa mengetuk pintu. Saat sedang kesal begini, mana mungkin aku ingat mengetuk pintu.

"JELL- kyaaaa….!"

Rasa marahku sirna sudah, berganti dengan rasa malu. Jellal, tanpa busana berdiri tepat dihadapanku. Wajahku merah padam melihat penampilannya.

"He-hentai, mesum!"

Aku melemparkan barang-barang yang ada disekitarku tanpa melihat kearahnya.

Chapter 4: Your Kiss is Hurt

Fairy Tail by Hiro Mashima

Warning: AU, OOC, dll

Happy Reading….

.

.

.

Jellal POV

Kekagetanku belum sirna saat tiba-tiba pintu dibuka dengan kasar, lalu sekarang tanpa kuketahui alasannya, Erza –sang pelaku- berteriak dengan kecang sambil melempar tas, sepatu, bahkan hampir saja sebuah vas bunga mendarat di kepalaku kalau aku tidak cepat bertindak menghentikannya.

"Hei, kalau mau ngamuk lakukan di apartemenmu, jangan diapartemen orang!" ucapku panik, sambil memegang tangan Erza yang sedang mengangkat vas bunga.

Kuperhatikan wajahnya yang sangat merah. Kenapa dengannya?

"Erza, kau kenapa? Sakit?" kupegang dahinya, memastikan. Tidak panas, lalu kenapa?

"He-he-he…Hentai!"

Duakk

Kepala Erza membentur keras kepalaku. Ouch, sakit sekali. Kulihat Erza juga meringis kesakitan sambil mengusap-usap kepalanya.

"Kau ini kenapa, hah?" tanyaku sedikit kesal. Erza mundur beberapa langkah, kemudian menunjuk-nunjuk padaku dengan tangan yang gemetaran.

"B-ba-ba-bajumu!"

Kulihat diriku sendiri yang tadi ditunjuk Erza. Oh, jadi ini alasan dia bertindak aneh, berlebihan lebih tepatnya. Aku kan pakai handuk, kenapa ia histeris seperti itu? Melihat kelakuannya selama ini, tak kusangka ia sepolos ini.

"Hoy, aku kan pakai handuk, tak usah histeris begitu!"

Erza hanya cemberut kesal, mendengar komentarku atas kelakuannya. Dasar gadis ini, membuatku ingin terus menggodanya saja.

Kalau sudah begini…

Perlahan aku mendekati Erza, mempersempit jarak antara kami berdua. Erza mundur saat aku mencoba mendekat. Gadis ini, orang-orang menyebutnya 'monster', tapi bagiku seperti gadis lugu dan polos jika melihat kelakuannya sekarang.

Aku mengunci pergerakan Erza diantara kedua tanganku. Terlihat matanya mencari-cari objek pandangan lain agar tidak melihat kearahku.

"Hei, Erza…" panggilku berusaha se-cool mungkin, dan hal itu sukses membuatnya mengalihkan pandangannya padaku.

"A-apa? Cepat menjauhlah dariku!" Nadanya terdengar marah, tapi jelas terpancar kegugupan dalam ucapannya. Membuatku semakin ingin menggodanya.

"Wajahmu benar-benar merah…" Aku menggantungkan ucapanku, kemudian menempelkan dahiku ke dahinya, yang sukses membuatnya semakin memerah. Aku benar-benar ingin tertawa melihatnya.

"…jangan-jangan, kau menyukaiku?"

Erza beku di tempat, tak merespon apapun, dan hanya menundukan kepalanya. Tampak ia sangat kebingungan dengan apa yang aku ucapkan. Ucapanku tadi hanya untuk menggodanya, jadi aku tak menyangka kalau ia akan bereaksi begitu.

'Jangan bercanda! Mana mungkin aku menyukaimu!'

'Berhenti menggodaku, aku kesini bukan untuk menjadi bahan lawakanmu…'

Itulah respon yang aku pikir akan keluar dari mulut Erza. Selanjutnya aku hanya akan tertawa karena berhasil menggodanya.

Tapi… kenapa ia hanya diam saja? seakan meng-iya-kan pernyataan sepihakku.

Kalau seperti ini…

Tanpa sadar, aku mendekatkan wajahku, menutup mata, dan mempertemukan bibirku dengan bibirnya. Manis. Apa karena ia terlalu banyak makan cake, bibirnya jadi semanis ini?

Kubuka mataku, dan melihat mata Erza yang terbelalak kaget. Barulah aku menyadari apa yang aku lakukan. Segera saja aku melepas ciuman kami, tidak- ciuman sepihakku. Erza masih tak bergerak dari posisinya. Kekagetan jelas terpancar dari ekspresinya. Bodoh, apa yang aku lakukan.

Erza POV

E-eh? Ap-apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang Jellal lakukan padaku tadi?

Entah kenapa seluruh badanku lumpuh, bahkan untuk berucap satu kata pun. Otakku tak mampu memproses apa yang terjadi sebenarnya. Tadi Jellal menanyakan tentang 'suka' lalu ia menciu- Eh? Tanpa kusadari kini dadaku berdebar kencang, dan wajahku memanas.

"Maaf…" Satu kata yang keluar dari mulut Jellal berhasil membawaku ke kenyataan.

"Soal tadi, lupakan saja. Anggap saja tidak pernah terjadi, aku tidak bermaksud melakukannya…"

Kesadaranku kembali sepenuhnya. Aku menatap punggungnya yang masih terekpos bebas. Aku tak tahu ekspresi apa yang ia buat saat berucap begitu. Yang pasti… kenapa dadaku begitu perih?

"…ya," Jawabku.

Tanpa basa-basi aku segera keluar dari ruangannya. Pintu apartemenku dan Jellal yang seharusnya hanya berjarak beberapa meter saja tiba-tiba terasa sangat jauh. Tanganku meraba permukaan dinding disisi jalan yang aku lewati, mencari pegangan. Rasanya tubuhku akan segera roboh walau hanya di sentuh.

Kukunci pintu apartemenku, dan tanpa sadar tubuhku merosot begitu saja didepan pintu.

He? Panas. Mataku terasa panas. Kenapa? Padahal aku sedang tidak mengupas bawang.

Tanganku dengan lembut terulur menyentuh pipi. Basah.

"Begitu…" ucapku ambigu, lalu menerawang keatas, selanjutnya membenamkan wajahku pada lipatan lutut…

'…ternyata aku memang menyukaimu. Tapi kau tidak, ya kan?'

…dan menangis dalam diam.

.

.

.

Normal POV

Tok… tok…

Dengan malas Erza berjalan membuka pintu, sungguh, saat ini ia sangat tidak mood menerima tamu. Apalagi ini sudah sangat larut. Tapi mau bagaimana lagi, kasihan juga membiarkan tamu menunggu diluar.

"Jellal?" Keterkejutan terpancar dibalik wajahnya yang sedikit sembab.

"Kenapa? Biasanya kau akan langsung menerobos masuk, bahkan tanpa aku beri izin…" ucap Erza berusaha bersikap senormal mungkin, seperti tak pernah terjadi apa-apa.

"… atau jangan-jangan kau sudah belajar tatakrama sekarang?" canda Erza berusaha mencairkan suasana yang agak tegang diantara keduanya. Lebih tepatnya menenangkan dirinya sendiri.

Jellal membungkukan badannya dihadapan Erza, "soal yang tadi sore, aku benar-benar minta maaf!"

Pertama keterkejutan terpampang diwajahnya saat tiba-tiba Jellal membungkukan badannya. Lalu perlahan kesedihan menyelimuti wajahnya, saat untaian kata maaf terucap. Dan ekspresinya kembali normal –dipaksakan- saat bibirnya hendak mengeluarkan deretan kata yang terasa menyayat tenggorokannya.

"Terpeleset, benar 'kan?" Jellal mendongkakkan kepalanya menatap Erza meminta penjelasan. Mengerti ekspresi yang keluar dari lelaki itu, Erza buru-buru menambahkan.

"Bukankah waktu itu kau terpeleset dan tanpa sengaja… yah, kau tau lah…" Setiap kata yang terlontar dari bibirnya seperti jarum yang menyerang tenggorokannya. Perih.

Jellal tak merespon, ia tahu yang Erza katakan adalah bohong, tentu saja, toh ia tahu betul apa yang dilakukannya adalah kesengajaan –tanpa sadar-. Dan Jellal juga tahu pasti kalau Erza sedang membohongi dirinya sendiri.

"Huff… sudahlah. Bukankah kau sendiri yang bilang untuk melupakannya? Yang lebih penting…" Erza menggantungkan kalimatnya, menatap tajam lelaki dihadapannya.

"…ke-na-pa ka-u ber-ke-la-hi LAGI?" Erza mengeja setiap kalimat yang diucapkannya. Akhirnya yang menjadi tujuan utama –sebelum insiden itu terjadi- terlaksana juga.

"Mereka yang mulai duluan, jadi mau bagaimana lagi?" bela Jellal cepat, karena merasa terintimidasi dengan tatapan Erza untuknya.

"Tapi kau juga tak perlu menanggapi mereka 'kan?"

"Jadi kau menyuruhku babak belur dihajar mereka, begitu?"

"I-itu…"

"Lagipula… ah sudahlah. Pokoknya ini akan jadi yang terakhir." Erza tersenyum tipis mendengarnya.

"Aah~ dulu juga kau bilang begitu. Tapi apa? Toh kau masih saja mela-"

"Kali ini benar-benar akan jadi yang terakhir. Aku janji…" Erza tak mampu berkata-kata saat melihat ekspresi keseriusan yang ditunjukan Jellal.

"…juga… mulai sekarang aku akan memulai kehidupan sekolahku dengan serius."

"Kenapa… tiba-tiba…?" tanya Erza heran.

"Anggap saja, 'untuk mendapatkan sesuatu, kau harus mengorbankan sesuatu' kira-kira seperti itu…" Erza hanya memandang Jellal tak mengerti. Tapi melihat keseriusan diwajahnya, ia tak mungkin bisa mengeluh dengan apapun yang jellal katakan.

"Sesuatu… itu apa?"

"Ah, sudah sangat larut. Sepertinya aku harus segera kembali kekamarku. Sekali lagi maaf…" ucap Jellal, mengacuhkan pertanyaan Erza.

"…cukup 'kan? Kenapa kau terus meminta maaf…" Erza menundukan kepalanya, tangannya mengepal kuat, dan suaranya seakan tercekat.

"…i-itu hanya sebuah ci-ciuman. Sesuatu seperti itu bagiku tidaklah pen-"

"…First kiss 'kan?" Erza menoleh dengan cepat pada jellal, menunggu lontaran kalimat yang akan keluar selanjutnya.

"…Seharusnya ada orang lain yang lebih pantas mendapatkannya daripada aku. Maaf…"

Erza menggigit bibir bawahnya, perlahan ia menghirup nafas berusaha mengatur emosinya. Ia benci jika kata 'maaf' keluar dari mulut lelaki itu. Setiap maaf yang terlontar seakan jadi tombak yang menghujam jantungnya. Sakit.

Bibirnya terbuka bersiap mengeluarkan kata.

"Kalau kau begitu menghawatikannya… huff… kita reset saja semuanya…" ucap Erza, samar-samar terdengar dingin dan… sedih? Yang tidak mungkin disadari siapapun.

"Maksudmu?"

"Semua ya semuanya…" jelas Erza, yang membuat Jellal makin tak mengerti.

"Tapi…"

"Aah! Katanya kau mau pergi? Kalau begitu cepatlah!" suruh Erza sambil mendorong Jellal keluar.

"Aku tahu, jangan mendorongku!"

Erza menatap pintu yang telah tertutup dengan senyuman lirih.

'Semuanya… termasuk perasaanku padamu.'

.

.

.

\(^o^)/=\(O.O)/~######~TBC?~######~/(-_-)\=/(-/-)\

E-eto… dan setelah sekian lama gak update…

KENAPA CERITANYA JADI SINETRON BINGITZ?! /(-/-)\

Ah… diriku gak tau mesti bilang apa. OOC banget kah?

Pas nulis ni cerita kebetulan baru beres nonton itazura na kiss (Anime), dan sepertinya diriku ketularan… T-T

Ide awal mau bikin humor disini, eh, napa jadi meleset jauh ke-romance? Huee…

~Curcol end~

Bales review… \(^o^)/

-synstropezia: PHO? Haha… bisa jadi.

-Neiro Suzuki: Hana? Oh… tentu aja boleh. Seigrain cemburu? Umh… liat aja nanti… :p

-Aika: Udah dilanjut, met baca…

-Uchiha-Cla: Udah dilanjut, met baca juga…

Yups… itsumo arigatou, minna!