Chapter 5: His True Feeling
Fairy Tail by Hiro Mashima
Warning: AU, OOC, dll
Happy Reading….
.
.
.
"Oh Erza? Pagi…" sapa Jellal ketika melihat Erza baru keluar apartemennya.
Erza tak langsung menjawab sapaan Jellal, ia hanya memperhatikan laki-laki yang menyapanya asli atau hanya ilusi semata.
"Jellal?" tanyanya memastikan. Jellal mengerutkan kedua alisnya, tak suka.
"Kau pikir siapa?" ucap Jellal balik bertanya.
"Terlalu banyak Jellal di hidupku, kau tahu…" keluh Erza. Ya, tentu saja. Pertama Jellal, lalu seigrain dan terakhir Mystogan, yang memiliki wajah sama. Kalau tidak teliti membedakan ketiganya bisa gawat.
"Kau pikir aku 'orang itu'?" ucap Jellal enggan menyebutkan orang yang ia maksud.
"Tidak biasanya saja jam segini kau sudah siap. Padahal aku mau membangunkanmu tadi…"
"Bukankah kemarin aku bilang akan mulai kehidupan sekolahku dengan serius?" balas Jellal mengingatkan.
"…" Erza tak berkomentar, ia sibuk dengan pikirannya sendiri yang mencari jawaban, alasan dibalik perubahan Jellal.
"Hey, jangan bengong saja, ayo berangkat. Kau sudah sarapan 'kan?" tegur Jellal, menyadarkan Erza dari lamunannya.
"E-ah? Tadinya aku akan sarapan di tempatmu, sambil menunggumu bersiap…"
"Umh… tapi kalau sarapan disini, kita akan terlambat," ucap Jellal memperhatikan jam digital warna hitam di tangannya.
'Biasanya juga seperti itu 'kan?' gerutu erza dalam hati.
"Baiklah, kita cari sarapan di perjalanan saja kalau begitu." Erza hanya mengangguk mengiyakan.
"Pemandangan yang sangat jarang dilihat di pagi hari, ya 'kan Jellal-kun?" ucap Seigrain angkuh, dengan nada merendahkan, saat tanpa sengaja bertemu mereka berdua di kolidor sekolah.
"…" Jellal tak menanggapi, dan melewati Seigrain begitu saja, diikuti Erza dibelakang.
"Tunggu, kau masih punya tugas yang harus kau selesaikan, bukan?" Seigrain menahan pergelangan tangan Erza, melarangnya untuk pergi. Erza berhenti dan mengingat-ingat tugas apa yang dimaksud Seigrain itu.
'Oh, pengecekan yang kemarin ya?' tanyanya dalam hati.
"Iya, aku tau. Tapi aku mau menyimpan tas dulu!" ucap Erza agak kesal, kemudian berlalu meninggalkan Seigrain.
Suasana yang tampak berbeda ia rasakan saat memasuki kelas. Semua orang terdiam heran saat Jellal memasuki kelas sepagi ini –untuk pertama kalinya. Yah, ia sudah menduga pasti akan ada keanehan yang ia dapatkan jika seseorang tiba-tiba berubah. Tapi yang ia dapatkan bukan sekedar aneh, tapi sudah menyerempet menjadi lebay, kalau kata orang gaul bilang.
"Apa?" pertanyaan yang terkesan dingin itu, menciutkan rasa penasaran mereka seketika. Alhasil tak ada yang berani bertanya, bahkan memperhatikan Jellal lebih lanjut.
"Eh, ada apa?" tanya Erza merasa ada hawa aneh, saat ia memasuki kelas.
"Tidak, tidak, kau hanya melewatkan sesuatu saja," jelas Lucy yang sama sekali tidak memberi jawaban akan pertanyaannya. Erza tak bertanya lebih lanjut. Ia segera menuju bangkunya untuk menyimpan tas.
"Erza tunggu! Apa yang terjadi padanya?" Lucy menahan pergelangan tangannya saat ia akan keluar. Erza kemudian melihat orang yang menjadi topik pertanyaan Lucy, yang kini sedang sibuk dengan buku di tangannya.
"Entahlah," jawabnya enteng, lalu segera keluar setelah Lucy tanpa sadar melepaskan tangannya.
"Eh, eh… Erza tunggu!" Erza masih mendengar sedikit teriakan Lucy didalam kelas. Sepertinya ia tidak puas akan tanggapan Erza yang menurutnya terkesan tak peduli.
'Kalau bisa, aku juga ingin menanyakan hal yang sama sepertimu…' ucap Erza dalam hati.
"Kenapa lama sekali?"
Erza mengalihkan pandangannya, saat suara seseorang yang begitu ia hafal terdengar. Sedikit raut keheranan terpancar diwajahnya.
"Kau… menungguku?" tanya Erza tak yakin.
"Hanya memastikan kau tidak lari dari tugas seperti kemarin." Erza mengembungkan pipinya sebal, seperti anak kecil yang marah saat tidak dibelikan permen.
"Hmpp…" Seigrain, laki-laki yang cool, dan serius itu tertawa pelan, ini pertama kalinya Erza mendengar Seigrain tertawa. Hal itu tentu membuatnya terkejut, tak lama sebelum ia menyadari kalau yang menjadi bahan tertawaannya adalah dirinya.
"Apanya yang lucu?!" tanya Erza tak terima.
"Tidak, hanya saja… sudah lama aku tak melihat raut wajahmu yang seperti itu…" Seigrain kembali dengan wajah stoicnya, lalu berubah menjadi sendu saat melanjutkan ucapannya, "…saat bersamaku."
Mungkin Erza kurang peka, sehingga tak menyadari perubahan raut wajah yang Seigrain tunjukan.
"Kau juga… baru pertama kali aku melihatmu tertawa…" balas Erza yang mulai berjalan, diikuti Seigrain disampingnya.
"Entahlah, mungkin aku sudah lupa bagaimana caranya…" Ditatapnya wajah Seigrain dengan sebuah tanda tanya besar, yang tak mampu dirubahnya menjadi sebuah pertanyaan.
"Ketika kita masih kecil…" Seigrain menggantungkan ucapannya, untuk sekedar melihat lawan bicaranya. Sebentar, sebelum tatapannya kembali kedepan.
Kolidor yang mereka lewati agak sepi, karena ini masih sangat pagi. Derap langkah keduanya terdengar diantara jeda kalimat yang akan meluncur selanjutnya. Erza menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar. Mungkin ini akan jadi kesempatan sangat langka untuk bisa mendengar Seigrain berbicara banyak.
"…aku menghabiskan waktuku dikamar untuk belajar. Tentu saja dengan guru privat yang sudah ayah siapkan. Melihatmu bermain dengan Jellal dan yang lainnya dibalik jendela kamar adalah satu-satunya hiburan yang aku miliki. Melihat kalian yang tertawa begitu bebas, membuatku berpikir 'Bisakah aku membuat wajah seperti itu?' tapi keinginan itu terkebur begitu saja seiring dengan gorden kamar yang ditutup paksa. Pada akhirnya aku benar-benar tak tahu apa yang kalian maksud dengan 'tawa' itu…Terkadang aku merasa iri padanya."
"Kau bohong! Aku masih ingat betul kau selalu tertawa saat bersama ayahmu. Lalu… Jellal yang mendapat tatapan dingin, bagai orang asing." Erza mengepalkan tangannya. Jelas sekali kalau ia marah saat mengingat hal itu.
"Kalau 'sesuatu' seperti itu kau sebut tertawa, lebih baik aku tak pernah tahu…"
'Apa maksud ucapannya?' pikir Erza dalam hati. Bukannya tak mengerti, tapi apa alasan yang mendasari ia berkata begitulah yang tak dimengerti Erza.
"Aku memang anak kesayangannya. Apapun akan ayah berikan untukku, asal aku menjadi anak 'baik' seperti keinginannya. Sayangnya, tak ada satupun yang ia berikan adalah apa yang aku inginkan. Sedangkan dia, yang sejak awal tak pernah dianggap sebagai bagian keluarga, mendapatkan semua yang aku inginkan." Seharusnya Erza merasa kesal dengan ucapan Seigrain, tapi entah kenapa ia tak bisa.
"Lalu, sekarang ia mencoba untuk diakui. Mau sampai kapan ia mengambil semuanya dariku?"
"Apa maksudmu?" Erza merespon cepat, yang dibalas tatapan sinis dari Seigrain.
"Sepertinya kau semangat sekali kalau ini menyangkut–'nya'…"
"Aku hanya berpikir, mungkin ini ada hubungannya dengan perubahan sifatnya ha-"
"Lalu?" Seigrain memotong ucapan Erza cepat dan terkesan dingin.
"Sampai kapanpun, kau tak akan pernah berubah. Dia dan hanya dia yang selalu ada di pikiranmu. Itu… yang benar-benar membuatku iri padanya." Seigrain meninggalkan Erza yang hanya diam terpaku.
TBC…
Akhirnya selese. Chap 5! #Joged2ria
Makasih pada kalian yang setia menunggu lanjutan fict –yang lama banget updetnya- ini…
Jaa, matta ne! ^^
