Title :

[REMAKE] Violent Love ( SuLay Ver )

Cast :

Kim Joonmyeon, Zhang Yi Xing and other cast you'll find by yourself ;)

Rate :

T

Genre :

Romance, GS, AU

Summary :

Lay itu yeoja yang kasar, arogan dan pemarah. Juga penolakan Lay yang beratus – ratus kali membuat hati Suho remuk. Sampai suatu hari...

Happy reading, don't like don't read, no bash, no plagiat, and review please...

- Violent Love-

"Hah, apanya yang salah?", keluh Suho pada Kai.

"Salah? Maksudmu?", tanya Kai.

"Ayolah, kau tahukan...", jawab Suho lalu kembali menekuni sebuah lego berbentuk rumah – rumahan yang separuh hancur itu.

"Apa Yi Xing noona tidak menyukainya?", tanya Kai.

"Bukan hanya tidak suka, ia bahkan menghancurkan separuh dari rumah – rumahan ini. Huh, kapan tugas ini selesai..", jawab Suho. Betapa kusutnya wajah Suho. Ia sudah 7 hari 7 malam(?) mengerjakan lego rumah – rumahan ini, tapi dalam waktu 7 detik separuh dari rumah – rumahan legonya hancur karena Lay. 6 detik untuk berdebat dan 1 detik untuk menghancurkan.

"Kau tanya pada Sehun saja, kan dia yang pintar rancang merancang.", usul Kai. Raut muka Suho nampak berbinar, namun kembali surut lagi.

"Kai, Sehun pasti sibuk mengurusi pelajaran soal bisnis, ia kan calon – nya Luhan...", respon Suho sedikit berbisik.

"Ayolah hyung, Sehun pasti mau membantumu.", ujar Kai.

"Omo! Kenapa rumah – rumahannya hancur?", tanya Luhan ketika ia masuk ke ruang OSIS.

"Biasa, Lay...", jawab Suho. Luhan lalu membantu Suho membenahi lego rumah – rumahannya.

"LUHAN EONNIE!", teriak seorang yeoja dari luar.

"Omo, itu Lay!", ujar Luhan.

"Apa yang kau lakukan disini, eoh?", tanya Lay ketika masuk ke ruang OSIS.

"Membantu Suho memperbaiki lego rumah – rumahannya...", jawab Luhan masih asik membantu Suho. Lay lalu menghampiri Suho dan Luhan. Ia lalu menghancurkan lego rumah – rumahan Suho dengan sekali tebasan tangannya.

"Lay, apa yang kau lakukan?!", seru Luhan kaget

"Eonnie, biar saja dia kerjakan sendiri, itu juga hukumannya karena tidak datang tepat waktu saat kerja kelompok. Dia telat 15 menit...", jawab Lay enteng.

"Terlambat 15 menit kau menyuruh Suho untuk mengerjakan tugas ini sendirian?! Dan kau hanya menghancurkannya karena tidak suka?! Kau keterlaluan, Zhang Yi Xing!", teriak Luhan. Ia lalu membantu Suho memunguti ceceran legonya yang berserakan di lantai.

"Hhh, terserah...", ujar Lay lalu meninggalkan ruang OSIS.

"Apa Lay noona sarafnya terganggu?", tanya Kai lalu membantu Suho dan Luhan. Luhan yang masih marah tidak menyahut, sedangkan Suho hanya mengedikan bahunya. Beberapa menit kemudian, mereka bertiga selesai merapikan ceceran lego milik Suho.

"Aku tak habis pikir dengan Lay! Seenaknya saja dia. Aku kesabaranku sudah habis!", ujar Luhan.

"Noona, kau harus lebih sabar lagi. Seperti kau tidak mengenal bagaimana Lay itu.", jawab Suho enteng.

"Kenapa kau masih membelanya, eoh? Kau tidak lelah dengan perilakunya yang terus menyiksamu?", tanya Luhan.

"Aku tidak lelah. Sampai kapanpun aku tidak akan lelah, karena aku mencintai Lay.", jawab Suho lalu tersenyum.

.

.

.

Di lain tempat, Lay masih kesal. Seenaknya saja Luhan mencampuri urusannya dengan Suho. Walaupun Luhan itu eonni – nya, tapi menurut Lay, Luhan tidak berhak untuk ikut campur.

"Yaa, Oh Sehun! Aku sebal dengan Luhan!", seru Lay ketika ia sampai di kelas Sehun.

"Kenapa memangnya?", tanya Sehun lalu mengajak Lay keluar dari kelasnya. Ia mengajak Lay duduk di bangku taman depan kelasnya. Ia tidak mau Lay membuat kegaduhan di kelasnya. Apalagi jam belajar tambahan akan segera dimulai.

"Tadi dia memarahiku.", jawab Lay.

"Pasti gara – gara lego rumah – rumahan milik Suho hyung, ya kan?', tebak Sehun tepat sasaran.

"Bagaimana kau tahu?', tanya Lay heran. Sehun lalu mengeluarkan handphonenya, dan menyuruh Lay membaca pesan dari Luhan.

From : Luhannie – 03 : 30 PM

Lay sebentar lagi pasti mencarimu. Aku baru saja bertengkar dengannya karena ia menghancurkan lego rumah – rumahan milik Suho seenaknya!

"Apa?!", tanya Lay setelah membaca pesan dari Luhan di handphone Sehun.

"Apanya yang apa? Kau sudah lihat sendiri kan? Luhan itu bisa memprediksi kemana kau akan lari ketika ia memarahimu. Dan itu pasti mengadukan Luhan padaku.", jawab Sehun lalu kembali asik dengan bukunya.

"Hei, Oh Sehun! Kenapa kau tidak sopan sekali pada Luhan eonnie? Seenaknya saja memanggilnya seperti itu.", ujar Lay memarahi Sehun.

"So? Apa masalahnya? Aku yang memanggil Luhan seperti itu kenapa noona yang repot? Luhan kan yeojachingu – ku dan dia tidak masalah aku memanggilnya tanpa embel – embel noona..", jawab Sehun. Lay tentu kaget mendengarnya.

"Kenapa? Kaget? Bukannya itu adalah jawaban yang biasa kau berikan pada Luhan kan, kalau dia membela Suho hyung? Lay noona, kau itu tidak pernah menghargai Suho hyung...", jawab Sehun lalu kembali menekuni bukunya. Tiba – tiba ekspresinya berubah, seperti teringat sesuatu.

"Kau cemburu ya, ketika Luhan membela Suho hyung ?", tanya Sehun sambil tersenyum evil.

"Hhh, kau sama saja!", ujar Lay lalu pergi meninggalkan Sehun. Sehun lalu tertawa melihat ekspresi Lay.

"Kenapa sih, semuanya membela Suho bodoh itu? Kenapa aku yang selalu disalahkan?', geram Lay. Ia lalu segera menuju ke kelasnya. Sesampai di kelasnya, ia segera duduk di kursinya dan tidur dengan meletakkan kepalanya di meja.

.

.

.

"Ireohna, Yi Xing – ah...", ujar Suho membangunkan Lay. Lay sudah berada di dalam mobil Suho.

"Dimana aku?", tanya Lay yang masih setengah sadar.

"Di mobilku.", jawab Suho. Lay yang mendengar suara Suho, kesadarannya langsung kembali 100%.

"Siapa suruh kau mengantarku pulang, eoh?!", teriak Lay.

"Aku.", jawab Suho enteng.

"Yaa, Kim Joonmyeon! Kapan kau berhenti mengejarku? Kau itu bukan tipeku sama sekali, jadi cepatlah cari yeoja yang benar – benar manis seperti keinginanmu. Aku tidak bisa menjadi yeoja anggun seperti keinginanmu.", ujar Lay lalu akan keluar dari mobil Suho, namun Suho memegangi tangannya.

"Sekasar apapun kau, sejahat apapun kau, aku akan selalu mencintaimu.", respon Suho serius. Tapi apa ekspresi yang ditunjukkan Lay? Bukannya luluh, ia malah tertawa terbahak – bahak.

"Ayolah, Suho! Aku tidak akan merubah pendirianku hanya karena kata – kata puitis bodoh milikmu. Aku pergi!", ujar Lay lalu keluar dari mobil Suho. Lay lalu segera menuju ke halte bus terdekat.

"Wae?", gumam Suho dalam hati. Ia lalu menghidupkan mesin mobilnya dan keluar meninggalkan area sekolah. Tujuannya saat ini adalah apartemen Luhan.

Kebetulan Sehun ada di apartemen Luhan. Tadi Suho berencana akan memberitahu Sehun kalau ia akan 'curhat' padanya dan Luhan.

"Kenapa lagi, hyung?", tanya Sehun. Wajah Suho sudah sebelas dua belas dengan pakaian Luhan yang menumpuk di bak cucian alias kusut sekali.

"Rejected!", jawab Suho lalu tersenyum sinis. Luhan hanya menggeleng – gelengkan kepalanya. Ia sudah jengah dengan kelakuan Lay yang sangat 'kelewat' kasar pada Suho. Ya, bisa dibilang ini adalah penolakan Lay pada Suho yang entah sudah ke berapa ratus. Bagaimana rasanya jika kau mengungkapkan perasaanmu pada seseorang tersebut setiap hari, namun harus jawaban penolakan yang kau dapat. Miris!

"Menyerahlah saja hyung.", saran Sehun. Suho lalu segera menoleh pada Sehun.

"Andwe! Aku belum akan menyerah sampai aku benar – benar sekarat!", jawab Suho tegas. Suho juga sama – sama keras kepalanya!

"Terserah kau saja, Suho – yaa. Kami akan selalu mendukungmu..", ujar Luhan lalu tersenyum.

"Gomawo, noona.", respon Suho lalu tersenyum. Ia merasa beruntung, karena masih memiliki sahabat – sahabat yang peduli dengannya.

.

.

.

"Kenapa kau pulang cepat hari ini, Yi Xing – ah?", tanya Zhang Li Yin, eonnie Lay ketika Lay sampai di rumah.

"Eonnie, aku ingin kembali ke China..", ujar Lay. Li Yin tentu saja kaget.

"Joonmyeon lagi? Ayolah, dia itu tulus mencintaimu. Eomma dan appa saja setuju kau pacaran dengan Joonmyeon.", ujar Li Yin.

"Eonnie, tipeku itu namja yang keren, tinggi, mobilnya sekelas Lamborghini, motornya Ninja...", respon Lay. Li Yin lalu tertawa.

"Lay, Lay. Joonmyeon itu sudah seperti malaikat. Dia itu sudah mengalahkan cowok – cowok tipemu kesempurnaannya. Kalau begitu biar aku saja yang memacari Joonmyeon.", ujar Li Yin.

"Andwe!", jawab Lay. Ia lalu reflek menutup mulutnya dengan tangannya.

"Jadi, kau juga menyukai Joonmyeon? Kenapa harus gengsi?", tanya Li Yin.

"Bu...bu..bukan begitu maksudku. Aku tidak mau eonnie pacaran dengan Suho karena aku membencinya!", tegas Lay. Li Yin hanya menggelengkan kepalanya.

"Cepat sana makan, lalu belajar.", ujar Li Yin lalu naik ke lantai 2.

"Hh! Eonnie sama saja. Selalu saja yang dibela Kim Joonmyeon bodoh itu.", geram Lay. Ia llau segera ke dapur untuk makan.

Selesai makan, ia lalu segera ke kamarnya untuk belajar. Ia mengerjakan PR – nya, lalu belajar. Sekitar jam 10 lewat 30 menit, Lay beranjak tidur. Tiba – tiba handphonenya berdering.

"Oh ada pesan masuk. Yah, dari Suho bodoh itu...", gumam Lay. Ia lalu membaca pesan dari Suho.

From : Ppabo Suho

Hai! Kau sudah tidur belum? Kalau belum, lihatlah keluar jendela kamarmu.

"Ngapain?", gumam Lay. Karena penasaran, ia lalu membuka jendela kamarnya, dan melihat Suho tengan berdiri di pinggir jalan sambil membawa sebuket bunga mawar merah sambil tersenyum.

"Yaa! Kau ini kurang kerjaan sekali, malam – malam begini kesini hanya untuk buang – buang waktu!", teriak Lay pada Suho. Namun Suho masih tetap tersenyum.

"Karena aku mencintaimu, makanya aku akan lakukan apapun demi kau...", jawab Suho sambil berteriak.

"Aigoo, apa itu 'cinta'?", tanya Lay dengan maksud menyindiri Suho.

"Kau ingin tahu apa itu cinta? Cinta itu seperti perasaanku ke kamu...", jawab Suho semakin tersenyum. Lay ingin sekali melempar pot bunga Krisannya sekarang juga pada Suho. Namun ia tak melakukannya karena sayang jika bunga favoritnya itu ia lempar hanya karena Suho.

"Pulanglah!", teriak Lay akan menutup jendelanya.

"Aku tidak akan pulang sampai kau mau turun, menerima bunga dariku...", jawab Suho. Lay tetap menutup jendelanya.

10 menit...15 menit...30 menit...

"Apa anak bodoh itu masih disini?", gumam Lay. Ia lalu mengintip dari jendelanya. Ia masih bisa melihat Suho yang sedang tersenyum menatap ke arah sebuket mawar yang ia bawa tadi. Dengan terpaksa, Lay turun menemui Suho. Ia tidak mau bertanggung jawab jika Suho sampai sakit.

"Sini, berikan mawarnya dan cepat pulang! Aku tidak mau bertanggung jawab jika kau sakit nanti..", ujar Lay ketus. Suho lalu memberikan buket mawarnya pada Lay.

"Kau suka?", tanya Suho.

"Tidak. Aku lebih suka bunga Krisan dari pada Mawar. Aku berikan pada kakakku atau aku letakkan dalam vas di ruang tamu mungkin. Cepat sana pulang!",usir Lay. Ia lalu segera masuk ke dalam rumah. Suho juga sudah mulai beranjak pulang.

"Dasar bodoh!", gumam Lay. Benar saja, ia hanya meletakkan bunga itu pada sebuah vas di pojokan ruang tamu rumahnya. Kejam sekali!

"Kenapa kau belum tid...hei itu bunga dari siapa?", tanya Li Yin ketika ia turun ke lantai bawah.

"Dari Suho.", jawab Lay asal.

"Kok bisa?", tanya Li Yin lagi.

"Dia baru saja pulang. Sudah dari 30 menit yang lalu dia berdiri di depan rumah.", jawab Lay lalu naik ke lantai 2. Li Yin hanya menggelengkan kepalanya dan memindahkan vas berisi sebuket mawar dari Suho ke tengah ruangan.

.

.

.

Hari ini adalah hari terakhir penyelesaian tugas membuat maket rumah dari lego. Suho sudah menyelesaikan maketnya, dengan dibantu Sehun dan Luhan. Lay sudah masuk ke kelasnya. Beberapa menit kemudian, Suho datang dengan membawa maket rumahnya.

"Sudah jadi ya?", tanya Lay sinis ketika Suho duduk di bangkunya. Suho hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lay lalu melihat – lihat maket rumah buatan Suho.

"Bagus juga...", batin Lay.

"Kau dibantu Sehun dan Luhan?", tanya Lay sinis.

"Ne. Aku tidak mau membuatmu kecewa dengan desainku yang kau bilang bodoh dan kuno itu.", jawab Suho. Bel tanda masuk lalu berbunyi. Seluruh siswa dan siswi segera masuk ke kelasnya dan duduk di bangku masing – masing. Tak beberapa lama, Hwang seonsaengnim masuk ke kelas Suho.

"Selamat pagi.", sapa Hwang seonsaengnim ketika masuk ke kelas.

"Pagi seonsaengnim.", jawab seluruh siswa kompak.

"Baiklah, sekarang kalian duduk dengan pasangan kelompok masing – masing dan akan saya nilai hasil kerja kalian.", ujar Hwang seonsaengnim. Semua siswa lalu berpindah tempat duduk, dan Hwang seonsaengnim mulai menghampiri satu persatu dari mereka. Dan kini, saatnya hasil kerja SuLay yang diperiksa.

"Ini benar – benar kalian berdua yang mengerjakan, atau hanya Suho?", tanya Hwang seonsaengnim.
"Suho yang mengerjakannya, sangnim.", jawab Lay.

"Tapi Yi Xing juga membantu ketika ada yang kurang pas dengan maketnya, sangnim.", tambah Suho. Lay sontak saja menoleh ke arah Suho.

"Baiklah, aku suka kalian yang mau bekerja sama, bukan malah bertengkar seperti biasanya. Mungkin tugas – tugas lain aku akan mengelompokkan kalian berdua lagi.", ujar Hwang seonsaengnim lalu memberi nilai pada maket karya SuLay. Selesai, ia lalu berpindah ke siswa yang lain.

"Aku membantumu kapan?", tanya Lay dingin.

"Sewaktu kau bilang desainku bodoh, kau juga membantuku untuk memperbaiki maket kita.", jawab Suho sambil tersenyum. Ia lalu segera mengeluarkan bukunya dan membacanya.

.

.

.

"Yi Xing – ah, ada namja yang mencarimu dibawah.", panggil Li Yin. Ia tidak kenal siapa namja yang mencari Lay.

"Suho kah eonnie?", tanya Lay lalu keluar kamar dan menghampiri Li Yin yang sedang menonton TV di lantai 2.

"Bukan. Kalau Suho aku akan memberitahumu langsung kalau itu Suho.", jawab Li Yin masih asik dengan TV nya. Lay lalu melongokkan kepalanya, melihat siapa yang duduk di ruang tamunya

"Oh, Minho...", ujar Lay.

"Siapa dia?", tanya Li Yin.

"Namjachingu - ku.", jawab Lay.

"Mwo, namjachingu?!", tanya Li Yin sambil berteriak.

"Kemarin aku dan dia jadian.", jawab Lay lalu segera turun menemui Minho.

"Lalu Suho...", ujar Li Yin namun tak ia selesaikan, karena Lay sudah terburu turun. Li Yin sebenarnya lebih setuju jika Lay dengan Suho. Menurutnya, dandanan Minho itu sudah mirip Lay, jadi Minho tidak akan merubah perangai Lay.

"Kalau eomma dan appa di China tau, bagaimana?", gumam Li Yin. Ia sama sekali tidak tahu jalan pikiran Lay. Lay itu sulit sekali ditebak.

.

.

.

Satu minggu sudah Lay tidak bertegur sapa dengan Suho sejak ia dan Minho jadian. Tentu saja hubungannya dengan Minho belum diketahui banyak orang. Tadi secara tidak sengaja, Suho mematahkan pulpen putih milik Lay. Lay pernah bilang bahwa pulpen itu istimewa.

"YAA, KIM JOONMYEON! APA KAU TIDAK DENGAR PERKATAANKU TADI?!", tanya Lay dengan suara yang sangat keras.

"Aku tahu, aku kan sudah minta maaf. Lagi pula kau bisa membelinya lagi...", jawab Suho sabar.

"PULPEN INI DARI NAMJACHINGU – KU, KIM JOONMYEON!", teriak Lay.

Deg!

Jantung Suho seperti tertimpa sesuatu yang berat. Sakit sekali rasanya.

"N – n – namjachingu?", tanya Suho.

"Oh ya, aku belum memberitahumu. Aku sudah punya namjachingu. Namanya Choi Minho.", jawab Lay enteng. Emosinya sudah sedikit menurun. Tulang – tulang Suho rasanya sudah lepas satu persatu dan ototnya melemas. Bukan main sakitnya. Ini adalah penolakan Lay yang sangat menyakitkan hatinya.

"Oh, rupanya kapten tim basket sekolah kita...", jawab Suho masih tersenyum. Senyuman palsu.

"Kau tidak sedih?", tanya Lay.

"Kalau itu memang membuatmu bahagia, aku akan merelakannya. Asalkan kau bahagia, aku juga bahagia...", jawab Suho masih setia dengan senyum palsunya.

"Maka dari itu, berhentilah mengejarku, oke?", tanya Lay. Suho hanya mengangguk. Tak berapa lama, terlihat Minho yang menghampiri Lay.

"Hai babe. Kajja, kita pulang.", ajak Minho. Lay lalu segera berjalan sambil menggandeng mesra tangan Minho dan segera menghilang dari situ.

"Sudahlah, Joonmyeon – ah. Masih banyak yeoja selain Lay.", gumam Suho menenangkan dirinya. Rasanya dunianya baru saja runtuh. Dan mungkin, ini adalah saatnya ia menyerah dari perasaannya terhadap Lay. Toh perjuangannya selama hampir 2 tahun untuk merebut hati Lay percuma. Suho lalu segera pulang dan beristirahat.

Sesampainya di rumah, ia membereskan semua foto – foto Lay yang ia gantung di kamarnya. Jumlahnya sudah ratusan. Selesai, ia lalu memasukkannya dalam sebuah kotak dan menaruhnya di atas lemari.

"Humm, aku bakar tidak ya?", gumam Suho.

"Ah, jinjja! Aku pusing!", teriak Suho. Ia lalu segera berbaring dan beranjak tidur.

.

.

.

"Hyung...", panggil Sehun. Sedari tadi Suho hanya melihat makanannya dan mengaduk – aduknya.

"Suho – yaa, ayo makanlah. Kau semakin kurus...", ujar Luhan pada Suho. Seperti yang kita ketahui, Suho sedang depresi berat. Ia tidak makan banyak, prestasinya sedikit menurun, dan lain – lain. Salahkan Lay yang membuat Suho seperti ini.

"Aku selesai. Aku akan ke kelas.", ujar Suho lalu beranjak meninggalkan Luhan dan Sehun.

"Aku khawatir dengan Suho.", ujar Luhan pada Sehun.

"Aku juga, Lu...", respon Sehun.

"Apa yang harus kita lakukan?", tanya Luhan.

"Biarlah waktu yang jawab semuanya, Lu. Kita tidak berhak mencampuri urusan mereka.", jawab Sehun. Luhan hanya menganggukkan kepalanya lesu. Tak beberapa lama, bel masuk berbunyi. Semua siswa termasuk Sehun dan Luhan kembali ke kelas. Sesampainya mereka di kelas, mereka tidak melihat adanya Suho.

"Lay, Lay! Suho mana?!", tanya Luhan panik. Lay hanya mengedikan bahu lalu kembali ke tempat duduknya.

"Yaa! Kalau Suho bunuh diri bagaimana?!", teriak Luhan.

"Masa bodoh...", jawab Lay. Luhan dan Sehun akan keluar kelas, namun Jung seonsaengnim masuk ke kelas.

"Dimana Joonmyeon?", tanya Jung seonsaengnim.

"Kami akan mencarinya.", jawab Sehun lalu segera keluar dengan Luhan mencari Suho.

Sehun dan Luhan sudah mencari Suho di seluruh area sekolah, tapi mereka tak menemukannya.

"Apa mungkin Suho di atap?', tanya Luhan. Sehun dan Luhan lalu segera naik ke atap sekolah. Dan benar saja, Suho ada di sana, sedang membaca bukunya.

"Yaa, Kim Joonmyeon! Kau membuatku hampir mati jantungan!", teriak Luhan ketika sampai di atap. Terlihat juga Sehun yang terengah – engah di belakang Luhan. Suho lalu menghampiri mereka.

"Aku tak perlu dikhawatirkan...", jawab Suho enteng. Sehun dan Luhan lalu segera menyeret Suho turun dan kembali ke kelas. Sesampainya di kelas, semua mata tertuju pada mereka bertiga.

"Kau dari mana, Kim Joonmyeon?", tanya Jung seonsaengnim.

"Saya membaca buku di atap..", jawab Suho. Jung seonsaengnim lalu segera menyuruh Suho, Sehun dan Luhan untuk segera duduk dan memulai pelajaran.

.

.

.

Hari ini Luhan berada di rumah Lay dengan Li Yin. Lay sedang ada kencan dengan Minho.

"Kasihan Suho, ia seperti orang depresi berat.", cerita Luhan pada Li Yin.

"Hah, eomma – ku saja shock mendengar Lay pacaran dengan Minho. Beberapa hari yang lalu eomma datang dari China dan melihat bagaimana pacar Lay. Ia saja sampai menelpon Suho dan meminta maaf berkali – kali.", ujar Li Yin.

"Eonnie, bagaimana ini?", tanya Luhan. Li Yin hanya menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak tahu. Tiba – tiba ponsel Luhan berdering.

"Yeobseo? Ye? Suho menghilang?! Ya, aku akan kesana!", ujar Luhan pada Sehun yang menelponnya.

"Kalau begitu kita harus cepat!", ujar Li Yin. Mereka berdua lalu segera berangkat mencari Suho.

"Kau tahu tempat dimana Suho biasa nongkrong?" tanya Li Yin pada Luhan yang sedang membaca sms dari Sehun.

"Aku tahu, tapi Sehun bilang ia sudah mencari Suho kesemua tempat itu, tapi Suho tidak ada.", jawab Luhan. Tapi sedetik kemudian, Luhan seperti teringat sesuatu.

"Taman kota!", celetuk Luhan. Li Yin yang tanggap langsung saja mengarahkan mobilnya menuju ke taman kota. Sesampainya di taman kota, Li Yin dan Luhan langsung mencari Suho. Namun bukan Suho yang mereka temukan, tapi Lay dan Minho yang sedang berkencan.

"Apa yang kalian berdua lakukan disini?", tanya Lay kaget ketika melihat Li Yin dan Luhan sedang panik.

"Suho menghilang bodoh!", umpat Luhan pada Lay. Minho yang mendengar nama Suho disebut, langsung mengajak Lay pergi. Bodohnya, Lay menurut saja.

"Dasar bocah egois!", umpat Li Yin. Tiba – tiba terdengar ponsel Luhan berbunyi.

"Kau menemukannya? Apa? Di tengah air mancur? Ya, aku kesana.", ujar Luhan pada Sehun dari telepon. Ia dan Li Yin lalu segera berlari menuju tengah taman kota, tempat air mancur berada. Sesampainya disana, ia melihat Sehun yang menarik Suho keluar dari kolam. Ia dan Li Yin langsung saja membantu Sehun.

"Bagaimana ini bisa terjadi?", tanya Luhan.

"Tadi hyung melihat Lay noona dan Minho hyung yang berduaan di dekat sini. Eh, dia langsung linglung, pingsan dan tercebur ke kolam.", jawab Sehun. Mereka bertiga langsung membawa Suho ke rumah sakit.

.

.

.

1 minggu sudah Suho dirawat di rumah sakit. Selama itu, Lay tidak pernah menjenguknya. Hanya Li Yin saja yang sering datang, dan juga Sehun dan Luhan.

Suho yang baru keluar dari rumah sakit, mengajak appa – nya ke taman kota. Katanya ia jenuh. Appa – nya mengijinkan.

Suho lalu berjalan – jalan melihat – lihat orang – orang yang berlalu lalang. Ketika sampai ditempat ia melihat Lay dan Minho 1 minggu lalu, ia melihat Minho bukan dengan Lay, melainkan dengan yeoja satu kelasnya juga, Krystal. Bahkan Minho menciumnya. Suho lalu segera kembali ke mobilnya dan pergi pulang.

Keesokan harinya, ia mencari Lay. Ia menceritakan kejadian yang kemarin ia lihat.

"Apa? Oh, Suho. Kau seharusnya tahu, dia itu hanya menyukaiku.", respon Lay enteng. Suho melirik sms yang Lay baca. Dari Minho, untuk menemuinya di taman kota, tempat biasanya.

"Aku berani bersumpah Zhang Yi Xing!", teriak Suho. Lay yang kesal lalu memukul bahu Suho.

"Kau, jangan pernah campuri urusanku!", ujar Lay kesal lalu meninggalkan Suho. Ia lalu mendekati Krystal.

"Klee, kau pacaran dengan Minho?", tanya Suho.

"Iya, memangnya kenapa?", tanya Krystal balik.

"Kau tahu kalau Minho dan Lay itu pacaran kan?', tanya Suho lagi.

"Aku tahu, tapi Minho oppa lebih serius padaku.", jawab Krystal. Suho lalu melirik sms yang dibaca Krystal. Dari Minho, menyuruh Krystal menemuinya di taman kota seperti kemarin. Sms yang sama dengan yang Minho kirimkan pada Lay barusan.

"Ini tidak boleh terjadi...", gumam Suho.

Sepulang sekolah, Suho segera mencari keberadaan Lay. Ia sudah tidak menemukan Lay, berarti Lay sudah menuju ke taman kota.

Dan benar saja. Ketika sampai di taman kota, ia melihat Lay yang berjalan ke arah tempat dimana ia dan Minho janjian bertemu.

"Yaa, Zhang Yi Xing!", teriak Suho.

"Apa?!", tanya Lay kasar.

"Minho bersama Krystal sekarang.", jawab Suho. Lay semakin sebal padanya.

"Aku tidak percaya!", seru Lay. Ia kembali melanjutkan perjalanannya. Benar yang dikatakan Suho, Krystal dengan Minho sedang berciuman di depan mata Lay ketika Lay sampai di sana dengan Suho.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!", teriak Lay yang membuat Minho dan Krystal menghentiak aktivitas mereka.

"Kami? Berciuman. Oh ya, aku menyuruhmu datang ke sini untuk menyampaikan salam perpisahan, yeoja bodoh!", ujar Minho pada Lay.

"Aku kira, yeoja kasar sepertimu tidak bisa merasakan sakit hati...", ejek Krystal.

"Aku hanya menjadikanmu mainanku. Ternyata kau bodoh sekali...", ejek Minho. Karena tak tahan, Lay seger berlari ke sembarang tempat.

"Lay!", teriak Suho. Ia mengejar Lay yang masih berlari. Sampai di pinggir jalan, Suho melihat sebuah truk tengah melaju kencang, dan Lay masih terus berlari.

"Lay, awas!", teriak Suho ketika Lay sampai di tengah jalan. Ia lalu segera mendorong tubuh Lay.

Cciiiit! Bruak!

Suara keras itu mengagetkan Lay. Ia sekarang tengah menangis melihat orang yang telah menyelamatkannya, Suho yang bersimbah darah dan tergeletak di tengah jalan. Ia lalu menghampirinya, dan meletakkan kepala Suho di pangkuannya.

"Wae Kim Joonmyeon Kim, WAE?!", teriak Lay. Suho yang sudah tak sadarkan diri itu hanya diam, meski Lay sudah menggoncang – goncangkan tubuhnya.

"Yaa, Suho – yaa, candaanmu tidak lucu! Bangunlah Kim Joonmyeon!", teriak Lay. Orang – orang di sekitarnya hanya menatapnya prihatin. Tadi sudah ada seorang ahjumma yang menelpon ambulan.

"Bertahanlah, agassi. Ambulannya akan segera datang.", ujar ahjumma tersebut. Ia bermaksud menguatkan Lay agar tidak semakin kehilangan kewarasannya. Lay sudah berteriak – teriak seperti terserang gangguan jiwa mendadak.

"Mianhe Suho – ya, mianhe!", teriak Lay masih menangis. Ia tidak mengira bahwa akan seperti ini jadinya. Tadi, ia bermaksud membuat dirinya yang seperti ini, dan sekarang Suho lah penggantinya.

THE END

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

No, It's still TO BE CONTINUED, just kidding...

Aloha, saya balik nih...

Maaf buat Violent Love yang kemarin, habisnya aku dituntut waktu, jadi salahkanlah waktu *eh?*

Ini udah aku remake, tapi aku gak bisa penuhin challenge untuk membuat humor di fic ini, karena aku gak punya selera humoris. Kalau pakai bahasa Jawa lain...

Oke, MIND TO REVIEW?