Title :
[REMAKE] Violent Love ( SuLay Ver)
Cast :
Kim Joonmyeon, Zhang Yi Xing and other cast you'll find by yourself ;)
Rate :
T+
Genre :
Romance, GS, AU
Summary :
Lay itu yeoja yang kasar, arogan dan pemarah. Juga penolakan Lay yang beratus – ratus kali membuat hati Suho remuk. Sampai suatu hari...
Warning :
Little something there...
Happy reading, don't like don't read, no bash, no plagiat, and review please...
-Violent Love-
"Kim Joonmyeon, bangunlah...", rengek Lay ketika Suho dibawa masuk ke rumah sakit.
"Maaf agassi, anda harus menunggu di luar.", ujar seorang suster ketika Suho dibawa masuk ke ruang operasi. Lay hanya bisa terduduk sambil menangis. Ia lalu keluar untuk menelpon Li Yin.
"Eonnie, hiks aku hiks di rumah sakit...", ujar Lay ketika Li Yin bertanya dimana ia sekarang.
"Kenapa kau di rumah sakit?", tanya Li Yin khawatir.
"Suho, Suho, Suho tadi hiks menyelamatkanku...Sekarang dia ada di ruang hiks operasi...", jawab Lay masih menangis.
"Ya sudah, aku akan menghubungi Luhan dan segera kesana...", ujar Li Yin lalu menutup telponnya. Lay lalu kembali masuk ke dalam rumah sakit dan menunggu di luar ruang operasi. Sekitar 10 menit kemudian, Luhan, Sehun dan Li Yin sampai di rumah sakit. Mereka bertiga melihat Lay yang menangis dan tatapannya kosong sedang terduduk di dekat pintu ruang operasi.
"Yi Xing – ah, ireona, jebal...", ujar Luhan mengajak Lay untuk bangkit. Tapi Lay hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku bodoh, kenapa aku tidak mempercayai kata – kata Suho? Sekarang aku menyebabkan dia seperti ini...", ujar Lay menyalahkan dirinya. Luhan lalu memeluknya.
"Yi Xing – ah, kalau kau seperti ini, apa kau yakin Suho akan bangun? Jika kau berdiri, lalu mendoakannya, aku percaya dia pasti bangun...", ujar Luhan. Luhan lalu melepas pelukannya. Lay lalu berdiri dan duduk di kursi. Ia lalu memeluk Luhan dan menangis lagi.
"Jebal Suho – ya, jebal, ireona!", teriak Lay. Ia lalu mendoakan Suho. Beberapa saat kemudian dokter Lee keluar dari ruang operasi. Lay langsung saja menghampirinya.
"Bagaimana keadaan Suho?", tanya Lay. Dokter Lee hanya tersenyum.
"Tenanglah agassi, Suho – ssi sekarang membutuhkan donor darah. Ia kehilangan banyak darah.", jawab dokter Lee.
"Kalau begitu biar aku saja, darahku saja...", ujar Lay. Dokter Lee lalu menyuruh Lay untuk mengecek apakah golongan darahnya sama atau tidak dengan Suho.
"Bagaimana?", tanya Lay pada dokter Lee.
"Golongan darah agassi O, jadi anda bisa mendonorkan darah anda pada Suho – ssi..", jawab dokter Lee. Lay lalu masuk ke ruang operasi. Ia lalu melihat keadaan Suho yang sangat memprihatinkan. Jatuhlah air mata Lay.
"Silahkan berbaring di sini, agassi.", ujar perawat yang akan membantu dokter Lee untuk mentransferkan darah Lay pada Suho. Lay lalu segera berbaring dan beberapa saat kemudian, mengalirlah darahnya pada sebuah selang yang dihubungkan dengan tubuh Suho.
.
.
.
Sudah dua hari Suho berada di rumah sakit, dan ia masih belum sadar. Dua hari itu pula, Lay tidak masuk sekolah, ia memilih menunggui Suho di rumah sakit. Siang itu, Luhan, Sehun dan Li Yin tidak bisa menemani Lay menunggui Suho di rumah sakit. Sehun dan Luhan ada jam tambahan mendadak, dan Li Yin harus lembur di kantornya. Jadi, Lay menghabiskan waktunya menonton TV, sambil sesekali mengecek keadaan Suho.
"Cepatlah sadar, Kim Joonmyeon...", batin Lay. Entah kebetulan atau ajaib, Suho sadar. Lay langsung saja memeluknya.
"Suho – ya, mianhe...", tangis Lay.
"Neo, nuguya?", tanya Suho. Lay lalu melepas pelukannya. Ekspresinya berubah.
"Kau, tidak ingat siapa aku?", tanya Lay. Suho menggelengkan kepalanya. Lay lalu mengeluarkan handphonenya, dan membuka foto Luhan.
"Kau ingat ini siapa?", tanya Lay.
"Itu Luhan noona.", jawab Suho. Lay lalu membuka foto Sehun.
"Kalau ini?", tanya Lay lagi.
"Sehun.", jawab Suho. Ia lalu membuka fotonya sekeluarga.
"Kalau ini?", tanya Lay lagi.
"Itu Li Yin noona dan keluarganya. Tapi di situ ada kamu...", jawab Suho. Wajahnya berubah panik.
"Kau disini, jangan kemana – mana.", ujar Lay lalu meninggalkan kamar rawat Suho. Ia lalu segera menuju ruangan dokter Lee.
"Dokter, dokter! Terjadi sesuatu pada Suho!", ujar Lay ketika masuk ke ruangan dokter Lee.
"Oh ya, aku lupa memberi tahumu. Ini soal ingatan Suho.", ujar dokter Lee. Lay lalu segera duduk.
"Suho mengalami emotional amnesia, yaitu amnesia yang membuat penderitanya kehilangan memorinya karena trauma. Apa ia lupa denganmu?", tanya dokter Lee.
"Ye, tapi ia mengingat kakakku dan kedua sahabatku.", jawab Lay.
"Mungkin dulu kau membuatnya trauma, benar?", tanya dokter Lee.
"Mungkin. Sebenarnya, dia kecelakaan karena menyelamatkanku yang mencoba bunuh diri. Aku tidak percaya apa yang ia katakan, sehingga aku patah hati dan membuatnya seperti ini...", jawab Lay. Ia lalu menangis.
"Hmm, mungkin Tuhan memiliki cara lain untuk menyatukan kalian berdua.", ujar dokter Lee.
"Maksud anda?", tanya Lay tidak mengerti.
"Apa dulu Suho menyukaimu? Lalu kau tidak menyukainya dan Suho terus mengejarmu?", tanya dokter Lee. Lay mengangguk.
"Itu dia. Tuhan akan menyatukan kalian berdua dengan cara lain. Jangan kau pikirkan kata – kataku yang ini. Aku hanya berpesan sabarlah. Secara bertahap Suho – ssi pasti mengingat semuanya. Amnesia ini tidak permanen.", ujar dokter Lee. Lay lalu segera kembali ke kamar inap Suho. Ketika masuk, ia melihat Suho sedang menonton TV.
"Oh, kau kembali.", ujar Suho lalu tersenyum.
"Apa aku sekarang menyukai Suho?", tanya Lay dalam hati.
"Apa kau ingat namamu?", tanya Lay ketika ia duduk di samping Suho.
"Tentu saja! Apa kau kira aku bodoh? Namaku Kim Joonmyeon atau Suho.", jawab Suho.
"Kenapa kau tak mengingatku? Kalau kau tidak mengingatku, berarti kau bodoh!", ujar Lay. Suho lalu mengalihkan pandangannya dari TV ke Lay.
"Maksudmu?", tanya Suho.
"Semua orang kau ingat, tapi aku tidak!", teriak Lay. Suho lalu segera menutup mulut Lay dengan tangannya.
"Hei, ini di rumah sakit, jangan teriak – teriak.", ujar Suho. Lay lalu melepas tangan Suho.
"Wae?! Biarkan saja! Mau rumah sakit atau apapun aku tidak peduli!", teriak Lay lagi. Ia lalu menangis. Suho kebingungan melihat Lay.
"Yaa! Kau itu sebenarnya siapa, eoh? Aku sadar tau – tau kau memelukku. Sekarang kau memarahiku. Kau membuatku bingung.", ujar Suho. Lay lalu menatap Suho dengan sebal.
"Baiklah kalau begitu. Perkenalkan, namaku Zhang Yi Xing. Biasanya dipanggil Lay.", ujar Lay lalu mengulurkan tangannya. Suho lalu menjabat tangannya. Lay lalu berhenti menangis.
"Sepertinya harus mulai dari awal.", batin Lay.
"Kapan aku bisa pulang?", tanya Suho.
"Aku tidak tahu. Tunggu perintah dari dokter Lee dahulu.", jawab Lay. Lalu datanglah Luhan dan Sehun.
"Hyung!", panggil Sehun. Ia lalu segera memeluk Suho.
"Aigoo, kau bertambah tinggi ya...", ujar Suho.
"Hyung, kau bisa saja. Masa dua hari aku tumbuh secepat itu.", jawab Sehun. Mereka berdua lalu tertawa.
"Oh, Luhan noona! Noona, apa kau mengenal yeoja aneh bernama Yi Xing ini?", tanya Suho. Luhan dan Sehun terkejut. Lay lalu segera menarik Sehun dan Luhan untuk menjauh dari Suho.
"Dokter Lee bilang dia terkena emotional amnesia. Dia mengingat semuanya, kecuali hal – hal yang berhubungan denganku. Ia juga lupa denganku.", ujar Lay.
"Tuhan menghukummu, noona!", ujar Sehun.
"Ya ya, aku tahu.", jawba Lay enteng. Mereka bertiga lalu kembali ke sofa tempat Suho duduk.
"Kapan kau akan pulang?", tanya Luhan pada Suho.
"Tanyakan Yi Xing – ssi.", jawab Suho.
"Aku belum tahu. Dokter Lee belum memberitahuku. Hei, jangan panggil aku dengan embel – embel ssi.", jawab Lay.
"Baiklah, Yi Xing – ah...", ujar Suho.
.
.
.
Sudah 2 minggu, Suho bisa kembali ke sekolah. Hari – hari Suho berjalan normal, tapi ia merasa ada sesuatu yang kurang.
"Hei Sehun! Aku merasa ada sesuatu yang hilang dariku...", ujar Suho pada Sehun yang membaca buku. Sehun lalu menoleh pada Suho.
"Maksud hyung?", tanya Suho.
"Entahlah, semuanya berjalan normal, tapi aku masih merasa adakehidupanku yang hilang. Apa ya?", tanya Suho.
"Coba kau tanya Lay noona, mungkin ia tahu.", jawab Sehun sambil menunjuk ke arah Lay.
"Kenapa Lay?", tanya Suho.
"Apa kau ingat sesuatu, hyung?", tanya Sehun.
"Umm, iya. Lay kan orang yang menungguiku selama 2 hari koma.", jawab Suho antusias. Sehun lalu menghela nafasnya.
"Selain itu?", tanya Sehun lagi.
"Tidak ada...",jawab Suho sambil mengedikan bahunya. Sehun lalu menunjuk ke arah Lay. Suho lalu segera menghampiri Lay yang mendengarkan musik sambil menulis sesuatu.
"Yi Xing – ah...", panggil Suho. Lay yang terkejut segera menutup bukunya dan melepas sebelah earphone – nya.
"Wae? Kau mengejutkanku...", ujar Lay.
"Mianhe, aku mau tanya sesuatu.", ujar Suho lalu menarik kursi dan duduk di dekat Lay.
"Apa?', tanya Lay.
"Kau tahu kan kalau kehidupanku berjalan normal, tapi aku masih merasa ada yang kurang. Kau tahu kira – kira apa?", tanya Suho. Lay lalu memutar bola matanya malas.
"Itu aku Kim Joonmyeon, kau yang biasa mengejar – ngejar aku, sekarang tidak.", batin Lay.
"Kau menyukai seseorang.", jawab Lay enteng.
"Nugu?", tanya Suho.
"Coba kau ingat – ingat. Cari petunjuknya sendiri. Dan cepatlah menyingkir, kau mengganggu acara membuat laguku!", ujar Lay lalu mengisyaratkan agar Suho pergi.
"Kau bisa membuat lagu? Kalau begitu buatkan lagu untukku..", ujar Suho antusias.
"Iya iya, cepat sana kembali ke mejamu.", respon Lay lalu segera memasang kembali earphone – nya dan membuka bukunya. Suho lalu segera kembali ke mejanya dan Sehun.
"Apa jawaban Lay noona?", tanya Sehun.
"Katanya aku pernah menyukai seseorang.", jawab Suho lesu.
"Siapa?', tanya Sehun pura – pura tidak tahu.
"Molla...", jawab Suho. Tiba – tiba seklebat bayangan suatu kejadian lewat dalam pikirannya. Sebuah truk, seorang yeoja dan dirinya.
"Sehun – ah...", panggil Suho.
"Wae, hyung?", tanya Sehun yang melihat perubahan ekspresi Suho.
"Sebuah kejadian lewat dalam pikiranku. Aku yang ditabrak truk dan seorang yeoja...", ujar Suho. Sehun lalu segera memanggil Lay dan Luhan.
"Wae? Kalian mengganggu acaraku...", keluh Lay. Paakk!
Luhan memukul kepala Lay dengan gulungan buku.
"Ini serius, Zhang Yi Xing! Ini semua juga karena kau!", seru Luhan pada Lay. Lay hanya meringis, sedangkan Suho yang mendengarnya memasang ekspresi bingung yang tidak ditanggapi oleh Sehun, Luhan dan Lay.
"Tadi kau bilang kau mengingat sesuatu, iya hyung?", tanya Sehun memastikan.
"Ingatan? Apa aku lupa ingatan?", tanya Suho. Lay lalu mengambil gulungan buku Luhan dan memukul kepala Suho. Paakk!
"Apo...", ringis Suho sambil memegangi kepalanya yang dipukul Lay, dan Lay yang dihadiahi deathglare dari Luhan.
"Iya, kau amnesia.", jawab Lay to the point.
"Jadi aku koma karena kecelakaan dengan truk dan yeoja itu?", tanya Suho yang direspon dengan anggukan dari Luhan, Sehun dan Lay.
"Tapi yeoja itu siapa? Apa orang yang kusukai?", tanya Suho yang lagi – lagi direspon dengan anggukan oleh mereka bertiga.
"Hyung, sepertinya ini butuh proses...", ujar Sehun. Tak lama, bel masuk berdering. Jam ke 5, pelajaran dari Miss Han.
.
.
.
Sepulang sekolah, Sehun berada di rumah Luhan. Mereka berdua sedang mengerjakan tugas dari Miss Han tadi.
"Lu, bagaimana kalau kita besok Sabtu double date?", usul Sehun tiba – tiba.
"Double date? Kita, lalu Suho dan Lay?", tanya Luhan. Sehun mengangguk.
"Ya, aku setuju.", ujar Luhan lalu mengacungkan dua jempolnya pada Sehun.
Sementara itu di rumah Lay...
"Ne eomma, aku tahu aku salah...", rengek Lay.
"Kalau kau tahu kalau kau salah, sekarang kau harus bertanggung jawab pada orang tua Joonmyeon!", seru eomma Lay. Kalau eomma Lay sudah marah besar, Lay tidak bisa berbuat apa – apa. Rencananya mulai malam ini, Lay akan tinggal di rumah Suho, sesuai rencana.
Flashback...
3 hari yang lalu, Tuan dan Nyonya Zhang pergi ke rumah Suho. Mereka berdua ingin meminta maaf atas apa yang telah Lay sebabkan.
"Oh, namanya juga anak muda. Jangan terlalu dipermasalahkan...", ujar Nyonya Kim.
"Tapi Joonmyeon sampai koma dan amnesia, itu serius masalahnya. Oh, Yi Xing benar – benar keterlaluan!", ujar Nyonya Zhang.
"Yi Xing dan Joonmyeon itu sama – sama keras kepalanya. Mereka berdua sulit sekali untuk dikendalikan.", ujar Tuan Zhang.
"Ya, Joonmyeon sangat tergila – gila pada Yi Xing. Sebenarnya kami sudah mencoba untuk menjodohkannya dengan yeoja lain, tapi ia mengancam akan bunuh diri jika tidak bersama Yi Xing.", ujar Tuan Kim.
"Aku sebenarnya heran, Yi Xing ini menurun dari siapa? Aku dan appa – nya juga bukan. Li Yin saja tidak seperti itu. Hah, Yi Xing benar – benar membuatku pusing.", keluh Nyonya Zhang.
"Bagaimana kalau Yi Xing bertanggung jawab?", usul Tuan Zhang.
"Maksud anda?", tanya Tuan Kim.
"Biarkan Yi Xing tinggal disini. Keluarga Kim kan keluarga disiplin, jadi anda berdua bisa mendisiplinkan Yi Xing. Juga biar dia yang membantu mengurusi Joonmeyon.", ujar Tuan Zhang.
"Apa tidak berlebihan? Kasihan Yi Xing.", tanya Nyonya Kim.
"Nyonya Kim, anda tidak perlu mengasihani Yi Xing. Anda juga tahu bagaimana Yi Xing selama hampir 3 tahun...", jawab Nyonya Zhang. Ya, sudah 3 tahun Tuan dan Nyonya Zhang dan Kim saling mengenal. Jadi mereka tahu akar permasalahan Suho dan Lay.
Flashback off...
Malamnya, Lay diantar eomma – nya ke rumah Suho. Ketika Lay ada di ruang tamu rumah keluarga Kim, Suho terkejut melihat Lay.
"Huh, kenapa kau disini?", tanya Suho.
"Aku kemari untuk menjadi pengasuhmu...", jawab Lay seenaknya.
"Pengasuhku? Uhm eomma, kenapa Lay ada disini?", tanya Suho pada eomma – nya yang baru turun dari lantai 2.
"Oh, Yi Xing akan tinggal disini. Dia yang akan menemanimu jika eomma dan appa belum pulang. Oh ya, eomma dan appa akan ada perjalanan bisnis selama 2 minggu di NY, jadi kau tidak akan kesepian di rumah...", jawab Nyonya Kim.
"Cepat, tunjukkan kamar Yi Xing...", ujar Tuan Kim yang baru saja pulang dari kantor.
"Baiklah. Kajja, kamarmu ada di lantai 2. Biar kubantu membawa koper – kopermu.", ujar Suho lalu segera membantu Lay untuk mengangkat koper – kopernya. Sebelum naik ke lantai 2, Lay membungkukkan badannya pada Tuan dan Nyonya Kim. Ia lalu segera menyusul Suho.
Ini dia kamarmu, kamarku ada di sebelah kamarmu. Kamar kita berdampingan.", ujar Suho sambil tersenyum. Melihat Suho tersenyum membuat detak jantung Lay lebih cepat 4 kali.
"Aku benar – benar menyukai Suho sekarang. Tuhan, aku benar – benar terkena karma.", batin Lay. Lay lalu segera duduk di pinggir kasur setelah meletakkan tasnya.
"Lay – ah...", panggil Suho.
"Wae?', tanya Lay. Suho lalu mendekati Lay, berlutut di depannya dan menggenggam kedua tangan Lay.
"Jebal, bantulah aku mengingat siapa yeoja yang kusukai itu...", ujar Suho memohon pada Lay.
"Kalau kau mengingatnya, kau pasti membencinya. Ia yang membuatmu amnesia.", ujar Lay.
"Tak apa, aku masih menyukainya...", ujar Suho tersenyum. Wajah Lay memanas melihat senyuman bak malaikat milik Suho.
"Kalau seandainya itu aku, bagaimana?", tanya Lay.
"Apa benar kau?', tanya Suho.
"A...a...aku...aku kan hanya...b..bertanya...", jawba Lay gugup.
"Oh, tentu saja aku akan menerima yeoja secantik dirimu...", jawab Suho tersenyum lalu mencubit kedua pipi Lay. Ia lalu segera berdiri.
"Istirahatlah...", ujar Suho mengacak pelan rambut Lay dan keluar dari kamar Lay. Lay hanya tersenyum – senyum mengingat bagaimana Suho memperlakukannya. Tiba – tiba ponselnya berdering. Telepon dari Luhan.
"Ne, waeyo eonnie?', tanya Lay.
"Besok Sabtu kita double date. Aku dengan Sehun, kau dengan Suho.", ujar Luhan dari seberang telepon.
"APA?!", teriak Lay. Ia lalu tersadar dan menutup mulutnya.
"Heh, sudahlah. Ini juga untuk membantu Suho mengembalikan ingatannya. Sudah, aku tutup"
"Yaa, yaa, yaa!", seru Lay ketika Luhan menutup teleponnya sepihak. Lay lalu segera beranjak tidur.
.
.
.
Keesokan harinya, mereka berempat jadi melakukan double date. Luhan mengajak mereka untuk jalan – jalan di daerah Gangnam, sekalian belanja. Mumpung ada diskon besar – besaran karena ini weekend.
Mereka berempat sekarang berada di salah satu distro. Luhan dan Sehun sedang mencoba jaket couple. Kalau sudah ketemu apa – apa yang pasangan, Sehun dan Luhan matanya langsung hijau semua. Eh?
Sedangkan Suho dan Lay hanya bingung memilih – milih kaos untuk diri mereka sendiri. Luhan yang mengetahui hal itu langsung memberikan kaos couple yang ia pegang.
"Cobalah ini.", ujar Luhan memberikan kaos couple pada Lay dan Suho.
"Ayolah, kalian berdua cocok.", timpal Sehun. Akhirnya mereka berdua masuk ke ruang pas karena paksaan Sehun dan Luhan. Sedangkan Sehun dan Luhan malah terkikik melihat ekspresi dari Suho dan Lay. Tak berapa lama, Suho dan Lay keluar dari ruang pas dalam waktu bersamaan.
"Wah, kalian benar – benar cocok.", ujar Luhan kagum. Sehun bahkan sampai membuka mulutnya saking takjubnya. Suho dan Lay benar – benar cocok memakai kaos berwarna biru tua dengan angka satu dan tulisan We are One, Can't be Separate.
"Karena kalian berdua imut, biar aku yang bayar.", ujar Sehun kemudian. Sehun lalu segera membayar 2 pasang jaket dan 3 pasang kaos couple. 1 pasang milik Suho dan Lay. Setelah dari distro, mereka lalu mampir ke kedai es krim.
"Sekarang gantian aku yang traktir. Cepat, kalian mau apa? Kalau aku dan Sehun Choco Vanilla.", ujar Luhan.
"Aku Strawberry.", ujar Lay.
"Aku Vanilla..", ujar Suho.
"Baiklah kalau begitu. Satu Choco Vanilla dan satu Strawberry Vanilla.", ujar Luhan pada kasir.
"Lho, kami sendiri – sendiri Luhan noona...", uajr Suho.
"Disini hanya ada dua rasa dalam satu menu. Lihatlah.", ujar Luhan sambil menunjuk papan menu. Memang kedai es krim ini hanya menjual es krim couple. Benar – benar Sehun dan Luhan ini...
Akhirnya mereka berempat menikmati es krim mereka. Sehun dan Luhan sedari tadi sudah ber – lovey dovey ria, melupakan bahwa ada dua orang yang memperhatikan mereka dengan menelan ludah berkali – kali. Bahkan tanpa ragu, Sehun dan Luhan memamerkan acara ciuman es krim mereka. Sebenarnya, Lay ingin sekali menyuapi Suho, tertawa, mencium Suho, tapi apa ya pantas?
Jangan khawatir, ini hanya akal – akalan Sehun dan Luhan untuk membuat Suho dan Lay bereaksi. Luhan dan Sehun juga sudah tahu kalau Lay tinggal di rumah Suho.
Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Mereka berempat segera beranjak pulang. Lay sepertinya sudah stress melihat Sehun dan Luhan!
"Ya sudah, selamat malam ya kalian berdua, semoga beruntung...", ujar Luhan lalu mobilnya segera meninggalkan halaman rumah Suho.
"Maksudnya?", tanya Lay.
"Aku tak tahu.", jawab Suho mengedikan bahunya.
"Ayo masuk, aku kedinginan.", ujar Lay lalu menarik tangan Suho. Mereka berdua langsung naik dan masuk ke kamar masing – masing.
Malamnya, Lay tak bisa tidur. Ia keluar dari kamarnya dan akan mengetuk pintu kamar Suho, tapi Lay melihat Suho baru keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang ia pakai menutupi tubuh bagian bawahnya.
"Yaa Kim Joonmyeon! Kau lupa disini ada yeoja!", seru Lay sambil menutup matanya dengan tangannya.
"Aku memakai celana selutut Yi Xing – ah. Oh, tadi kau mau mencariku, masuklah.", ujar Suho lalu menarik Lay masuk ke kamarnya. Lay lalu segera duduk di pinggir ranjang Suho.
"Kenapa kau mencariku?", tanya Suho.
"Aku tidak bisa tidur. Aku ingin bertanya padamu bagaimana agar aku bisa tidur...", jawab Lay. Suho lalu mendekati Lay, dengan posisi yang sama saat mereka berada di kamar Lay.
"Hei, Lay.", panggil Suho.
"Apa?", tanya Lay.
"Aku menyukaimu, apa kau yeoja itu? Aku masih belum bisa mengingatnya...", ungkap Suho. Lay hanya membelalakkan matanya karena kaget.
"Aku iri melihat Luhan dan Sehun. Aku ingin melakukannya denganmu, bolehkah?', tanya Suho.
"Mm. Boleh.", jawab Lay sambil menganggukkan kepalanya. Suho lalu mempersempit jarak diantara mereka. Lay lalu menutup matanya. Tak lama, ia merasakan Suho mencium bibirnya dengan lembut. Lay lalu memeluk leher Suho. Suho merasa panas, padahal ia baru saja mandi. Tiba – tiba, seklebat ingatannya muncul kembali.
"Lay, Minho, Krystal, aku! Aku menyukai Lay, Lay yang membuatku seperti ini.", batin Suho. Ia lalu segera melepas ciumannya. Lay tentu saja kaget.
"Pergilah.",ujar Suho dingin.
"Wae? Kenapa kau jadi seperti ini?", tanya Lay bingung.
"Aku ingat semuanya, Zhang Yi Xing. Sekarang menyingkirlah dari hadapanku!", teriak Suho lalu menunjuk ke arah pintu. Lay lalu menangis.
"Miahhe Suho – ya, mianhe...", rengek Lay. Tapi Suho tak menanggapinya. Lay lalu berlutu di depan Suho.
"Ampuni aku Kim Joonmyeon, aku menyukaimu sekarang, aku tahu aku salah...", rengek Lay. Kemudian, Suho menyeret Lay keluar dari kamarnya. Tepat ketika Nyonya Kim berada di ujung tangga. Ia khawatir karena mendengar suara tangisan Lay dari bawah. Suho lalu melempar Lay ke lantai. Ia lalu masuk dan mengunci pintu kamarnya.
"Kim Joonmyeon! Buka pintunya! Buka!", tangis Lay sambil berteriak. Ia terduduk di depan pintu kamar Suho. Ia juga menggedor – gedor pintu kamar Suho. Ia masih merengek – rengek di depan kamar Suho. Nyonya Kim lalu menghampiri Lay dan memeluknya.
"Neo gwenchana, Yi Xing – ah?", tanya Nyonya Kim. Lay lalu memeluk Nyonya Kim.
"Maafkan saya, saya membuat Suho seperti ini...", tangis Lay. Nyonya Kim lalu mengelus – elus punggung Lay. Lay masih saja merengek dan berteriak – teriak seperti tadi. Benar – benar seperti orang yang kehilangan kewarasannya. Nyonya Kim lalu membawa Lay masuk ke kamar Lay.
Dari dalam kamarnya, Suho sebenarnya mendengar teriakan, rengekan dan tangisan Lay. Sebenarnya ia tidak tega, tapi rasa sakit di hatinya membuatnya mendiamkan Lay. Sebaiknya ia berkonsultasi ke orang tuanya dan Sehun Luhan dahulu.
.
.
.
Keesokan paginya, Lay tidak masuk sekolah. Nyonya Kim menyuruh Suho untuk menitipkan surat Lay.
"Kenapa Lay?', tanya Luhan pada Suho.
"Aku ingat semuanya, noona...", ujar Suho. Luhan dan Sehun kaget.
"Jadi maksud eomma – mu mengirimiku pesan katanya Lay hampir kehilangan kewarasannya...", ujar Luhan dipotong Suho.
"Ne, tadi malama aku mengungkapkan perasaanku padanya, aku lalu menciumnya, dan ingatan bodoh itu merusak segalanya.", ungkap Suho.
"Hyung, meskipun rasa sakit itu ada, tapi kan Lay noona sekarang menyukaimu. Ayolah, mana Suho hyung yang dewasa itu sekarang?", tanya Sehun. Suho lalu menundukkan kepalanya. Ia benar – benar pusing.
"Maafkanlah Lay, Suho – yaa...", ujar Luhan
1 minggu sudah Suho mendiamkan Lay, dan selama satu minggu itu pula Lay tidak keluar dari kamarnya. Hanya Nyonya Kim yang sering mengecek keadaan Lay. Namun semenjak Nyonya Kim berangkat dengan Tuan Kim ke NY 2 hari yang lalu, jarang ada yang mengecek keadaan hanya maid Hwang yang sesekali mengecek, juga mengantarkan makanan untuk Lay.
Sepulang sekolah, Suho ingin menemui Lay. Ia ingin minta maaf karena sudah berperilaku ingin Lay kembali padanya. Ketika sampai di atas, Suho melihat pintu kamar Lay sedikit terbuka Ia bisa melihat Lay sedang berdiri di dekat balkon. Tapi gerak – geriknya mencurigakan. Lay seperti menyiapkan tali yang akan digunakan...
"Lay akan bunuh diri!"
Suho dengan cepat masuk ke kamar Lay dan mencegah Lay untuk bunuh diri.
"Yaa! Kau jangan melakukan hal bodoh!", ujar Suho merebut tali yang akan digunakan Lay untuk gantung diri. Lay lalu menangis.
"Apa pedulimu? Kau membenciku kan? Seharusnya kau bahagia kalau aku mati!", teriak Lay sambil menangis. Lay lalu segera mendekat ke balkon namun Suho menariknya dan menciumnya. Suho lalu melepas ciumanyya.
"Kita belum menyelesaikannya, kau sudah main bunuh diri saja...", ujar Suho tersenyum. Lay hanya terkejut mendengarnya.
"Jadi..."
"Mianhe, Yi Xing – ah, aku sudah kekanakan. Aku memaafkanmu, sayang...", ujar Suho. Lay lalu memeluk Suho dan menangis.
"Uljima. Cepat cuci mukamu. Aku sudah tidak sabar!", ujar Suho. Lay lalu segera keluar dan masuk ke kamar mandi mencuci mukanya. Suho lalu segera berganti pakaian dan menunggu Lay di depan pintu kamarnya.
"Nah, kau cantik sekarang...", ujar Suho lalu menggendong Lay ala bridal style. Suho lalu segera menaruh Lay di ranjangnya dan ia segera mengunci pintu kamarnya.
"Y – yaa, Kim Joonmyeon...", ujar Lay gugup ketika Suho mengunci pintu dan mendekatinya.
"Tenang saja, kita kan masih SMA, itu akan menjadi masalah..", ujar Suho. Tanpa persetujuan Lay, ia segera mencium Lay dengan ganasnya. Suho lalu membawa Lay untuk berbaring, karena mereka tadi dalam posisi duduk. Suho semakin memperdalam ciumannya dengan Lay. Ia lalu menggigit bibir Lay.
"Aa...", rintih Lay ketika Suho menggigit bibirnya. Suho tak menyiakan kesempatan ini. Tak lama lidah mereka berdua sudah beradu. Lay yang tak tahan, mencoba menarik – narik kemeja Suho, dan beberapa kancingnya terlepas. Suho lalu menghentikan ciumanyya.
"Apa yang kau lakukan? Kau merusak kemeja kesayanganku..", ujar Suho melihat kancing kemejanya yang beberapa sudah terlepas – dari jahitannya – dan terlihat berantakan.
"Itu salahmu Suho!", ujar Lay tak mau kalah.
"Aku harus menghukummu, Zhang Yi Xing.", ujar Suho dengan evil smirk – nya.
"Yaa!", teriak Lay. Sudahlah, kita tinggalkan saja mereka berdua.
.
.
.
"Aku mengantuk sekali...", keluh Lay. Pagi ini kelas mereka jam kosong.
"Aku tebak. Kalian berdua pasti...ehm tadi malam, ya kan?", tanya Sehun. Suho langsung saja memukulnya dengan gulungan majalah yang ia baca.
"Apa aku segila itu? Kita masih SMA!", ujar Suho.
"Semalaman aku membantu Suho mengerjakan tugas sastranya. Ia menghukumku karena aku merusak kemeja kesayangannya.", ujar Lay lesu. Ia menguap lagi. Luhan hanya cekikikan.
"Iya, kau harus ganti rugi Zhang Yi Xing.", timpal Suho.
"Itu kan salahmu kenapa kau...aish jinjja! Jangan dibahas!", ujar Lay lalu menundukkan kepalanya di meja untuk tidur. Luhan, Sehun dan Suho tertawa terbahan – bahak melihat Lay. Lay yang biasanya jutek, cuek, kasar sekarang berubah menjadi Lay yang ceria, periang dan manis. Tentu saja semua senang dengan perubahan Lay, apalagi Li Yin. Li Yin bahkan membelikan dress warna cream seharga 150.000 KRW hanya untuk Lay. Tidak hanya itu, orang tua Lay langsung membelikan Lay gadget yang Lay inginkan semenjak dulu. Ya, sekarang Lay lebih update dari pada dulu.
"Ternyata menjadi gadis manis itu banyak untungnya...", celetuk Lay. Sekarang ia, Suho, Sehun dan Luhan berada di kantin. Setelah Suho, Sehun dan Luhan mentertawakannya tadi, Lay marah – marah dan menyuruh Luhan dan Sehun mentraktirnya. Karena takut Lay mengamuk lagi, Luhan dan Sehun terpaksa mengiyakan.
"Lalu kenapa kau dulu menjadi yeoja berandalan dan susah diatur?", tanya Sehun. Lay lalu memberikan deathglare – nya pada Sehun.
"Iya iya, noona...", ujar Sehun. Mereka berempat sudah memesan, tinggal menunggu pesanan mereka datang.
"Oh ya, ayo double date lagi. Aku ingin balas dendam..!", ujar Lay dengan tawa horornya.
"Umm, noona. Sebaiknya jangan...",ujar Sehun memelas.
"Tidak bisa. Kalian berdua tidak bisa menolak...", bantah Lay.
"Lu, kita akan mati di tangan Lay noona..."
THE END
Next : Underestimate (KaiSoo Ver)
Hai hai hai!
Aduh, akhirnya rate nya naik jadi T+. Rating paling tinggi yang pernah aku buat! Hue, aku gak pandai buat begituan...
Akhirnya selesai juga remake dari Violent Love ini, cerita sebelum di remake bener2 gak mood dibaca...
Reviewnya ya, ini adalah chapter paling panjang yang pernah aku buat...
