"Hei, Herbivore."

"Ya?"

"Kau tahu, suatu saat nanti, aku akan menjadi bintang."

"Bintang? Maksudnya?"

"Jika aku pergi nanti, aku akan ke sana. Tepat di sebelah bulan itu."

"Memangnya bisa?"

"Arwah bisa melakukan hal-hal mustahil."

"Baik, aku mengerti. Kalau begitu, kalau aku juga pergi nanti, aku akan menjadi bintang di samping Kyoya."

"Terserah."

.

.

.


A/N : mulai dari chapter ini adalah waktu 10 tahun kemudian... belum ada tragedinya.. makasih buat yang udah mau review dan follow.. :)


.

.

.

See You In The Next Moon

.

.

.

Moon 2 : Who is The Cloud Guardian?

.

.

.

Ten years later…

.

.

.

"Juudaime, sudah waktunya," ujar seorang pria 25 tahunan bersurai silver. Membungkuk di hadapan seorang pria seumurannya yang sedang membelakanginya.

"Ya, kita berangkat sekarang, Gokudera-kun."

Dia, pria yang dipanggil Juudaime, mengambil jas hitamnya yang tersampirkan di kursi putarnya. Melangkah tegap menuju pintu sembari memakai jas itu dan melewati sang pria silver.

Si silver, Gokudera Hayato yang sekarang berstatus Strom Guardian sebagai tangan kanan sang Juudaime. Berdiri tegap kembali, lalu mengikuti boss-nya dari belakang.

"Hari ini, ada acara apa saja selain rapat aliansi?"

Gokudera mengeluarkan sebuah buku kecil dari saku jas abu-abunya. "Hanya makan malam bersama Yuni-sama, Juudaime."

Sang Juudaime diam, tidak membalas apa pun. Cerminan seorang boss sejati. Mungkin?

Maklum, dia sedang berada dalam mode boss. Berbeda jika dia sudah dalam mode Sawada Tsunayoshi. Begitu dame (tidak berguna) sekali.

Tiba-tiba, Tsuna menghentikan langkahnya. Menundukkan wajah manisnya.

"Juudaime?"

Tsuna mengangkat tangan kanannya hingga mencapai depan wajahnya. Menatap sebuah cincin berlambang Vongola family miliknya.

"Tidak apa-apa, hanya kepikiran sesuatu saja."

.

.

.

Ruang Pertemuan, Vongola Head-quarter…

"Huah~! Para orang tua itu memang menyebalkan!" seru Tsuna mengangkat dan membuka kedua tangannya ke atas lebar-lebar. Meregangkan otot yang menegang. Kursi yang didudukinya sampai berdecit saking kuatnya—lebay.

"Sabar saja, Juudaime. Kita kan memang masih anak-anak di mata mereka," ujar Gokudera menenangkan boss-nya. Tangannya sibuk merapikan kertas-kertas yang berserakan di meja berbentuk oval yang panjangnya luar biasa itu.

"Tapi, yang aku herankan. Kenapa mereka terus menyebut-nyebut Cloud Guardian?"

Gokudera yang sedang dalam posisi membelakangi Tsuna, sontak menjatuhkan kertas-kertas yang telah bertumpuk rapi di tangannya. Mulutnya menganga tidak terlalu lebar. Tubuhnya sedikit bergetar.

"Gokudera-kun?"

Gokudera mencoba menenangkan dirinya sendiri. Menelan ludah karena entah kenapa tenggorokannya tiba-tiba kering. Juga mengepalkan kedua tangannya untuk mengurangi getaran di tubuhnya.

"Ti—tidak ada apa-apa. Juudaime tenang saja," sahutnya tersenyum paksa. Kemudian berjongkok untuk mengambil kertas-kertas yang jatuh tadi.

"Ne, ne, tapi aku juga penasaran. Cloud Guardian kita itu siapa, sih? Kok aku tidak pernah melihatnya?" sang Decimo telah memasuki mode Sawada Tsunayoshi. Memasang wajah penasaran imut yang bisa membuat seme mana pun nosebleed.

Strom Guardian itu menghentikan kegiatannya. Keringat dingin mulai turun dari pelipisnya.

"Sa—sa—saya juga tidak tahu."

Tsuna seketika cemberut. Ekspresinya yang tadinya sudah imut, bertambah imut saja. (Author kesengsem)

"Gokudera-kun, hari ini kau aneh sekali."

DEG!

"Ma—maksud Juudaime? A—aneh apanya?"

Pemuda bersurai coklat ini menopang kepalanya dengan kedua tangan di atas meja. Memiringkan kepalanya sedikit. "Saat aku menyebut Cloud Guardian, kau langsung gugup. Memangnya ada apa dengannya?"

Gokudera diam. Raut wajahnya sudah pucat pasi.

'Sialan, orang tua-orang tua itu memang tidak bisa memahami situasi. Tidak tahukah kalian Cloud Guardian itu kata yang tabu diucapkan di hadapan Juudaime!?' teriak Gokudera frustasi di dalam hati.

Pemuda dinamit freak ini menolehkan wajahnya dengan gerakan patah-patah. Keringat dinginnya semakin mengucur deras.

"A—ano, di—dia—,"

BRAAK!

"Woi, Tsuna! Kau sudah ditunggu Yuni-chan di ruang makan, tuh!"

Yamamoto, sang Rain Guardian, tiba-tiba mendobrak pintu kayu mulus itu dengan riangnya. Namun, langsung berubah menjadi heran saat melihat ekspresi dua orang yang sudah ada di ruangan itu. Semuanya sweatdrop.

"Hm? Ada apa?"

"Ti—tidak. Aku akan ke sana sekarang," sahut Tsuna seraya bangkit lalu berjalan ke arah Yamamoto.

Hening pun merajalela…

"Hei, baseball maniak. Kali ini, aku ingin berterima kasih padamu," ucap Gokudera sesaat setelah Tsuna menghilang di balik pintu.

Yamamoto menaikkan sebelah alisnya, "Berterima kasih? Untuk apa?"

Gokudera tidak menjawab, hanya memberi sang Rain Guardian itu tatapan tajam nan sedih.

"Tsuna—, menanyakan dia ya?"

Dibalas anggukan singkat dari sang Strom Guardian.

.

.

.

"Tsuna-san? Kenapa makanannya hanya dimainkan?" tanya seorang gadis bersurai hijau lumut.

Duduk tepat di hadapan Tsuna dengan meja panjang berisi makanan memisahkan mereka. Di samping kanannya ada beberapa orang dengan jas hitam. Dan di sisi kirinya adalah kelima guardian Tsuna.

"Hm, aku hanya sedang kesal saja," jawab Tsuna dengan nada malas.

"Kesal? Pada siapa dan kenapa?"

Sang Decimo melirik si gadis itu sekilas, lalu memasukkan sesendok sup ke mulutnya.

"Ne, Yuni. Apa kau tahu siapa Cloud Guardian Vongola?"

Yuni—gadis itu—tersentak, sontak tersedak makanannya sendiri. Orang-orang berjas hitam tadi seketika bangkit dan menghampirinya. Memberinya air atau apa pun lah yang bisa membuat makanan yang tersangkut di tenggorokannya meluncur ke sistem pencernaan lebih dalam.

"Yu—Yuni? Daijoubu?"

"Uhuk! Uhuk! Daijoubu, Tsuna-san tenang saja," seperti biasa, memberi senyum lembut yang menenangkan.

"Jadi, kau tahu?"

Yuni menatap guardian Tsuna satu persatu. Terlihat olehnya, kelima guardian itu hanya menundukkan kepala, memalingkan wajah, atau hanya menggeleng.

"Kenapa tidak kau tanyakan saja pada Reborn-oji-san?"

Tsuna menggembungkan kedua pipinya kesal tapi terlihat imut. "Sudah, tapi dia hanya menjawab 'Kau tidak perlu tahu' pakai ekspresi dingin lagi! Menyebalkan!"

Yuni tertawa kecil. "Yah, Reborn-oji-san memang benar. Lebih baik Tsuna-san memang tidak tahu saja."

"Untuk pertama kalinya, aku kesal padamu, Yuni. Menyebalkan, sama seperti yang lainnya."

Tawa Yuni semakin keras. "Kalau cemberut kau malah terlihat seperti anak kecil, lho, Tsuna-san!"

Wajah Tsuna memerah, memerah karena malu, mungkin?

"Sudahlah, jangan dibahas lagi!"

"Iya, iya. Maaf."

Yuni menghentikan tawanya. Menatap sup di depannya yang memantulkan wajah manisnya. Menerawang jauh ke dalam. Juga, lebih serius.

'Memang seharusnya, kau tidak boleh mengetahui tentang dia, Tsuna-san.'

.

.

.

"Hmm…. Sulit sekali."

Saat ini Tsuna sedang sendirian di ruang kerjanya. Manik karamelnya tertutup sepasang kacamata berbingkai oranye miliknya. Di mulutnya terdapat sebuah tangkai kecil berwarna putih yang sepertinya sebagian masuk ke dalamnya—itu permen lollipop, kesukaannya.

Layar monitor computer di depannya menyala. Sedangkan, tangannya dengan lincah menari-nari di atas keyboard. Tatapan matanya tajam, serius—beneran.

"Cih, nge-hack database family sendiri memang tidak semudah meng-hack yang lain."

Satu informasi yang perlu diketahui adalah—

—Tsuna sebenarnya seorang hacker.

Hacker.

Orang yang membobol informasi dari suatu server atau computer lain secara illegal.

Wow… Hebat sekali…

TOK! TOK! TOK!

"Juudaime! Saya bawa cemilan untuk Anda!"

Tsuna sontak mengalihkan perhatiannya pada pintu kayu yang tepat lurus dengan meja kerjanya.

'Gawat! Ada Gokudera-kun!'

Sontak, dia menekan tombol power komputernya lalu melepas kacamatanya. Meraih buku novel yang tergeletak rapi di pojok meja, dan pura-pura membacanya. Alih-alih, Strom Guardiannya tidak mengetahui apa yang barusan dilakukannya.

"Masuk saja, Gokudera-kun!"

CKLEK!

Dan pintu innocent itu pun terbuka dengan slow motion. Perlahan-lahan menampilkan sosok yang sudah kita ketahui bernama Gokudera. Di tangannya terdapat nampan berisi cangkir elegan berwarna putih dengan motif bunga sakura—mengingatkan Tsuna akan kampung halamannya. Juga sepotong kue black forest dengan hiasan cherry di atasnya. Tak lupa teko teh yang senada dengan cangkirnya.

Ada satu hal yang mengejutkan Tsuna. Hingga mulutnya menganga sedikit.

Di belakang Gokudera, ada seorang wanita. Bersurai coklat—hampir seperti Tsuna. Memiliki mata bermanik oranye. Parasnya juga cantik.

"Kyo—Kyoko-chan."

Wanita itu tersenyum. Kemudian berjalan menghampiri Tsuna mendahului Gokudera. Kemudian, berhenti tepat satu langkah di depan meja Tsuna.

"Hisashiburi, Tsuna-kun!"

Senyumnya merekah. Membuat Tsuna sedikit merona.

Ah, ya. Dulu, Tsuna menyukai wanita ini. Namun, perasaannya berubah ketika negara ap—uhuk—Tsuna mengetahui suatu kenyataan pahit. Apa itu? Sayangnya hanya Tsuna dan yang di atas yang tahu.

"Juudaime, cemilannya saya taruh di sini," ucap Gokudera seraya meletakkan nampan tadi di meja kerja Tsuna. Dan hanya dibalas anggukan kecil dari sang Decimo. "Kalau begitu, saya permisi," tangan kanan Tsuna ini pun bergegas keluar dari ruangan itu.

Meninggalkan Tsuna dan seorang wanita yang dipanggilnya Kyoko berdua.

Hening. Tsuna maupun Kyoko masih sama-sama diam. Tsuna masih terpaku pada sosok di depannya. Sedangkan, Kyoko masih berdiri sambil tersenyum manis.

"Em.. Ke—kenapa kau ada di sini, Kyoko-chan?" tanya Tsuna, berusaha memecah keheningan.

"Aku ingin mengunjungi teman sekolah. Tidak boleh, ya?"

Ingin rasanya Tsuna sweatdrop di tempat. Karena Kyoko memasang ekspresi imut yang malah membuatnya ingin—em—muntah.

"Duduklah dulu."

Satu perintah, Kyoko pun menurutinya. Dia berjalan menuju sofa yang memang untuk tamu itu.

"Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini, Tsuna-kun?"

"Aku baik-baik saja, kau sendiri?"

"Tentu saja, sama sepertimu."

HOEK!

Batin Tsuna beneran muntah. Walau itu wanita, tetap saja dia merasa ada yang aneh.

"Oh, ya. Kyoko-chan. Sebelumnya, aku ingin tanya sesuatu."

Kyoko memasang wajah bingung. "Tanya apa?"

"Itu—Em—,"

"Tsuna-kun?"

Tsuna melambaikan tangannya, tanda bahwa ia ingin agar Kyoko mendekat. Lalu, berbisik.

"Apa kau tahu tentang Cloud Guardian Vongola?"

Kyoko membelalakkan kedua matanya lebar-lebar. Sontak menjauh dari Tsuna dan menatap temannya itu tidak percaya.

"Ke—kenapa kau tanyakan ha—hal itu, Tsuna-kun?"

Tsuna mengernyit heran. "Memangnya kenapa?"

Kyoko menatap Tsuna tajam lebih ke arah serius. Menggigit bibir bawahnya, terasa berat sekali untuk berkata.

"Karena—, kau tidak boleh mengetahui apa pun tentang d-dia, Tsuna-kun."

Tsuna menggertakkan gigi-giginya.

"Kenapa? Kenapa semua orang berkata seperti itu?"

"Tsuna-kun…"

"Apa aku tidak boleh mengetahui tentang guardianku sendiri?"

"Tsuna-kun…"

"Apa aku masih belum pantas untuk menjadi seorang Vongola Decimo?"

"Tsu—Tsuna-kun…"

"Kalau memang iya, tidak usah memilihku saja dari dulu!"

"Tenanglah, Tsuna-kun!"

Tsuna tersentak. Teriakkan Kyoko barusan sepertinya menyadarkannya. Melihat bahwa Kyoko menatapnya penuh amarah kekecewaan.

Memalingkan wajahnya ke samping. "Maaf, Kyoko-chan. Aku terbawa emosi."

Kyoko tersenyum, "Tidak apa-apa. Aku mengerti tentang perasaanmu itu. Tapi, mengertilah, Tsuna-kun. Kami melakukan semua ini demi kebaikkanmu."

Tsuna mengangguk. "Akan kuingat itu."

Dan wanita itu memberi senyum ceria khasnya.

"Eh, tunggu dulu. Dari Jepang ke sini, pasti bukan hanya untuk mengunjungi teman semasa sekolah kan?"

Senyum ceria Kyoko perlahan-lahan memudar. Dia pun memandang Tsuna dengan intens. Menyiratkan suatu keseriusan.

"Ya. Salah satu alasan aku ke sini memang itu, tapi bukan itu tujuan utamaku."

Tsuna pun balas menatap tajam Kyoko. Hyper intuition-nya mengatakan bahwa teman sekolahnya dulu ini memiliki sesuatu yang penting untuk dibicarakan. Dan dia harus mendapatkan informasi dari wanita ini.

"Begini, Tsuna-kun. Kau tahu Karasawa Hana, kan? Teman sekelas kita dulu," Kyoko memulai pembicaraan yang sepertinya serius itu. Tangan dan matanya terfokus pada tas pink khas wanita dewasanya. Mencari sesuatu.

Tsuna mengangguk. "Yang alergi pada anak kecil itu kan? Ada apa dengannya?"

"Saat ini dia bekerja di suatu perusahaan bidang komunikasi di Tokyo. Beberapa hari yang lalu, aku mendapat kabar terbaru darinya. Dia bercerita, sekitar dua hari yang lalu, ia melayani seorang customer aneh. Orang itu menyebut-nyebut 'Vongola' terus menerus. Bahkan, dia mengancam kalau Hana tidak segera memberi informasi tentang 'Vongola', dia akan membunuh orang-orang terdekat Hana."

Tsuna tersentak. Hyper intuition-nya memang selalu benar. Ia tahu itu. Tapi, entah kenapa kali ini rasanya berbeda.

"Dan aku juga membawa beberapa informasi tentang orang itu. Mungkin kau tahu sesuatu. Mengingat bahwa Vongola itu keluargamu," lanjut Kyoko seraya menyerahkan selembar kertas ke Tsuna.

Tsuna membaca kertas itu. Perlahan tapi pasti, ekspresinya berubah menjadi penuh amarah namun ketakutan.

"Di—dia—,"

"Benar. Kakak kelas kita, Mochida-senpai."

.

.

.

Tsuna memangku dagunya dengan tangan kanannya bertumpu pada bingkai jendela kaca di belakang meja kerjanya. Manik karamelnya memandang ke luar dengan kosong. Terlihat olehnya Kyoko sedang melambai pada Chrome, Lambo, dan I-pin lalu pergi meninggalkan mansion Vongola Head-quarter itu. Kemudian, ketiga bocah yang masih remaja itu masuk ke dalam gedung yang sama di mana Tsuna berada.

"Kyoko hebat juga. Bisa tahu kalau aku tadi lagi hacking," gumam Tsuna. "Dan, juga. Kenapa sih dia juga tidak mau memberitahuku tentang Cloud Guardian?" umpatnya.

Memutar kursinya ke belakang, hingga berhadapan dengan computer layar datar miliknya. Menghidupkan kembali mesin genius itu, lalu meraih kacamata yang sempat terabaikan di sebelah keyboard.

"Yah, sudahlah. Lebih baik sekarang hacking lagi."

"Apa yang mau Anda lakukan, hm? Juudaime?"

Seketika, Tsuna membatu. Sekujur tubuhnya berubah menjadi putih, dan sesosok bayangan putih keluar dari mulutnya. Tangannya yang sudah berada pada posisi siap menari di atas keyboard bergetar hebat. Kacamatanya bergerak-gerak sampai hampir retak. Intinya, dia terkejut sekaligus shock(?).

"G-g-g-g-g-g-Gokudera-kun!"

Gokudera—orang yang mengejutkan Tsuna dengan pertanyaan penuh penekanan, intimidasi, dan amarah ini hanya tersenyum—lebih tepatnya menyeringai. Aneh pula. Berjalan pelan ke arah meja sang Juudaime dengan aura hitam yang perlahan-lahan menguar dari tubuhnya. Memancarkan aura tidak mengenakan. Membuat Tsuna merinding sekaligus berkeringat dingin luar biasa.

"Juudaime, Anda belum menjawab pertanyaanku."

KRAAK!

Kacamata Tsuna retak.

Retak.

Hanya karena aura hitam milik Gokudera.

Bukan, bukan itu. Kacamata itu retak karena getaran tubuh Tsuna yang volumenya keterlaluan.

Memang bisa?

GULP!

Tsuna menelan ludah paksa. "A—ano. A—aku ingin—," melirik ke Gokudera sekilas. Terlihat olehnya, Strom Guardian itu masih memasang senyuman aneh.

"—Me—meng-hack database server Vongola," lanjut Tsuna dengan suara yang lama-kelamaan menghilang.

"Apa? Saya tidak bisa mendengarnya, Juudaime."

"Aku ingin meng-hack database server Vongola."

"Maaf? Masih belum."

"Aku ingin meng-hack database server Vongola."

"Juudaime, tenggorokan Anda sakit, ya? Pelan sekali suara Anda."

"AKU INGIN MENG-HACK DATABASE SERVER VONGOLA! PUAS!?"

Gokudera reflek menutup kedua telinganya. Menghindari tuli mendadak akibat teriakan merdu seorang Vongola Decimo yang berfrekuensi lebih dari 20.000 Hz.

Tsuna terengah-engah. Menyeka keringatnya kemudian kembali duduk setelah barusan dia berdiri untuk meneriaki Gokudera. Pecahan kaca kacamatanya ia kumpulkan ke sudut meja. Supaya nanti bisa diambil oleh petugas kebersihan (baca: Gokudera Hayato).

"Souka. Jadi, sepertinya Anda sudah lupa akan janji Anda satu bulan yang lalu, ya?"

Tsuna tersentak. Raut kesalnya berubah menjadi takut kembali.

"Ja—janji apa?" tanya Tsuna dengan senyum terpaksa.

"Janji bahwa Anda tidak akan lagi bermain hacking-hacking-an."

"Te—tentu saja aku tidak lupa. Aku masih ingat, kok."

"Lalu, sekarang Anda mau apa, Anda ingat?"

"I—iya," Tsuna menundukkan kepalanya, juga memelankan suaranya. "Gomennasai, Gokudera-kun."

"Hah—," sang Strom Guardian itu hanya bisa menghela napas. Berjalan mendekati meja Tsuna, lalu mengambil pecahan kaca itu dengan sapu tangan putihnya.

"Sudahlah, Juudaime. Lupakan janji itu. Saya tahu, jika Anda ingin berbuat sesuatu hingga melanggar janji itu pasti Anda sedang ada masalah yang cukup serius," terdiam sejenak, menatap pecahan kaca itu hingga ia menutupinya dengan bagian sapu tangan yang tersisa. "Maukah Anda menceritakannya pada saya?"

Tsuna menengadah, menatap manik silver Gokudera lekat-lekat. Kemudian, menundukkan kepalanya lagi hingga sebagian poninya menutupi wajah manisnya.

"Maaf, aku belum bisa. Akan kuceritakan kalau sudah siap."

Gokudera menaikkan sebelah alisnya sesaat sebelum memejamkan kedua matanya.

"Hai, wakarimashita."

.

.

.

"Kalau begitu, saya permisi dulu. Oyasuminasai, Juudaime," ucap Gokudera seraya membungkuk di ambang pintu kamar Juudaime-nya.

Tsuna menguap kecil, "Em, oyasumi."

Gokudera pun segera meninggalkan ruangan dengan nuansa biru muda—langit nan glamour itu. Tsuna sendiri segera mengunci pintu itu hingga benar-benar tidak bisa dibuka dari luar—demi keamanan.

Pemuda imut yang sebenarnya sudah memasuki usia dewasa ini mulai melepas kancing jasnya satu persatu. Lalu, melemparnya entah ke mana, masa bodo kalau hilang, minta Gokudera carikan saja nanti. Kancing kemeja putihnya pun tak luput dari perkerjaan tangannya. Dibuka hingga urutan ketiga. Yah, mungkin dia kegerahan, cuaca malam ini memang lebih panas dari biasanya. Maklum, pertengahan musim panas.

Kurang dari satu detik, tubuhnya sudah dihempaskan ke atas kasurnya. Menggunakan sebelah tangannya untuk menutupi sebagian wajah manisnya.

"Cloud Guardian, kah?"

Memperbaiki posisi berbaringnya hingga mencapai bantal. Menghela napas dalam.

"Sudahlah, aku tidak peduli."

Lelah. Sangat lelah.

Hanya kata-kata serupa yang berlalu lalang di otaknya saat ini. Tolong biarkan dia istirahat kali ini, itu keinginannya. Dan tak lama kemudian, kedua kelopak matanya mulai menghalangi penglihatannya. Napas dan dadanya bergerak naik turun dengan teratur.

Tidur. Alam bawah sadarnya sudah memerintahkannya untuk pergi ke sana. Jadi, ah, biarlah.

Angin malam mulai menembus pertahanan tirai jendela kamar itu. Meniup perlahan surai caramel pemuda itu.

Bersamaan dengan itu, sebuah tangan berbalut kulit putih pucat membelai pipi Tsuna lembut.

Tsuna yang merasakan ada sesuatu di wajahnya, sontak terbangun. Namun, apa yang didapatnya justru nihil. Meraba pipinya sendiri.

"Aku yakin, tadi ada yang menyentuhku. Tapi, apa?"

Tiba-tiba tubuhnya merinding. Ketakutan.

"Ma—masaka…"

Dari luar jendela, ada sekelebat bayangan melintas. Dan Tsuna langsung membatu lalu pingsan di tempat.

Ya, Tsuna berimajinasi akan salah satu hal yang ditakutinya.

Hantu.

Tanpa ia sadari, di balik pohon di depan jendela kamarnya, ada sesosok bayangan menghadap tepat ke salah satu kamar di Vongola Head-quarter itu.

Sosok itu—

—Menyeringai…

.

.

.

To be Continued