"Kyoya."
"Ada apa?"
"Menurutmu, ciuman itu apa?"
"Hm, mungkin pelampiasan nafsu seseorang."
"Hihihi…"
"Kenapa?"
"Tidak. Menurutku, ciuman itu ungkapan perasaan seseorang pada orang yang dicintainya."
"Menurutmu begitu? Baiklah, kalau begitu, aku akan menciummu setiap hari, ah, tidak, setiap ada kesempatan."
"Hahaha… Dasar Kyoya."
.
.
.
A/N : Terima kasih untuk kunjungan, review, favo, follow kalian.. :)
.
.
.
See You In The Next Moon
.
.
.
Moon 3 : Party and Stranger (?)
.
.
.
"Juudaime, ada masalah."
Tsuna yang sedang membaca proposal dari guardiannya sontak menatap Gokudera yang berdiri dengan selembar surat di tangannya.
"Masalah? Apa dan di mana?"
Gokudera menatap sang Juudaime ragu-ragu.
"Itu…"
.
.
.
Tsuna duduk dengan menopang dagu di kursi belakang mobil mewah milik family-nya. Aura-aura gelap nan suram mengitari sekeliling tubuhnya. Matanya memandang kosong ke depan.
"Tsu—Tsuna, tidakkah kau senang?" ucap Yamamoto ragu-ragu.
Tsuna tetap diam.
"I—iya. Orang tua Anda kan baru saja pulang dari berkeliling dunia, seharusnya Anda senang, kan?"
Dibalas tatapan tajam dari Tsuna.
Kelima guardian Tsuna yang juga ada di dalam mobil itu langsung bergidik ngeri.
Tsuna pun menghela napas. "Yah, sudahlah. Hitung-hitung, sekalian aku libur dari pekerjaan membosankan itu."
Dan disambut oleh helaan lega dari kelima guardiannya.
Ya, saat ini mereka berenam sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Tsuna di kota Namimori. Mereka 'kembali' ke sana karena kemarin Tsuna menerima sebuah surat dari kedua orang tuanya.
Isinya, kedua orang tua Tsuna itu ingin mengadakan sebuah pesta kecil-kecilan untuk menyambut kedatangan mereka kembali ke Jepang. Dan mereka sangat ingin anak semata wayang mereka hadir di pesta itu bersama teman-temannya.
Useless banget, kan?
Itulah yang membuat mood Tsuna buruk sejak tadi—ah—sejak kemarin.
Tapi, kalau dipikir-pikir kembali, ini bisa jadi tempat pelarian Tsuna dari pekerjaan seorang boss mafia yang semakin hari semakin menumpuk.
Sekali-kali, ia ingin liburan. Jauh dari kata 'bekerja'.
Iya, itu kalau dia bisa.
Nyatanya, justru kebalikkannya.
.
.
.
"Tsuna-san, tolong ambilkan piring di sana!"
"Tsuna-kun, sendoknya!"
"Tsuna, air dingin, onegai!"
"Tsu-kun, mejanya belum dirapikan!"
"Juudaime, maaf, bisa tolong ambilkan gelas di sana itu!?"
"Boss, i—itu tolong."
"Tsuna!"
"Tsuna!"
"TTTTSSSUUUUUNNNNNAAAAA!"
"Hai~."
Tsuna, sang boss mafia kesayangan kita, berjalan lunglai menuju ke kulkas di dapur rumahnya. Hoodie yang dikenakannya sudah berantakan. Tatapan matanya tidak ada—ehem—maksudnya, dia kelelahan jadi untuk membuka mata saja susah. Tangannya dengan sedikit gemetar membuka pintu kulkas di depannya, lalu mengambil sekotak kue yang masih duduk manis di dalamnya. Ia pun melangkahkan kedua kakinya dengan terhuyung-huyung, seakan-akan dia bisa jatuh kapan saja.
"Tsuna, di sini!"
Tsuna mengikuti arah datangnya suara barusan. Tanpa ada semangat sedikitpun, kotak yang dibawanya ditaruh di atas meja kayu mulus nan kinclong itu.
Meja itu ternyata sudah penuh dengan berbagai macam makanan. Ada cemilan, bahkan makanan berat—bukan makanan dengan massa tinggi. Berbagai macam minuman juga tersedia.
Bisa disebut, ini adalah 'Pesta'.
"Yosh, dengan ini, selesai sudah. Mari kita berpesta!"
"Yaaaa!"
Semua penghuni kediaman Sawada, termasuk penghuni dadakan juga, langsung mengambil apa-apa yang mereka mau. Seperti para gadis yang langsung mengambil cake-cake manis, bocah-bocah yang mengambil makanan sembarangan, atau para pemuda yang berebut makanan layaknya anak kecil.
Meski suasana begitu kacau, tapi Tsuna suka ini. Ia sangat menikmatinya. Jarang-jarang ia bisa melihat pemandangan seperti. Seolah apa yang ada di hadapannya saat ini adalah obat paling ampuh untuk menghilangkan rasa lelahnya. Baik lelah secara fisik, maupun secara mental.
Lihat saja, dia tertawa.
Tertawa lepas.
Sesuatu hal yang tidak pernah dia lakukan semenjak dia memutuskan untuk menerima jabatan Vongola Decimo. Benar-benar tidak pernah. Kelima guardian saja selalu bersikap formal padanya. Termasuk saat ia sedang bercanda.
Benar-benar membosankan.
Tapi, dia tidak punya pilihan lain. Menjadi Vongola Decimo atau tidak, akan sangat berpengaruh pada masa depannya.
Itulah kenyataan pahit yang harus diterima oleh seorang Sawada muda.
"Eh? Ada apa?"
Tiba-tiba saja, suasana hening. Semua orang menghentikan aktifitas berisik mereka. Membuat Tsuna heran.
Mereka, kecuali Tsuna, saling perpandangan.
"Ano, Juudaime. Tidak ada apa-apa, sih, sebenarnya. Hanya saja—,"
"Hanya saja apa?"
Gokudera kembali diam. Menelan ludah dan menarik napas sejenak.
"Hanya saja, ini pertama kalinya kami melihat Juudaime tertawa seperti itu setelah sekian lama."
Kali ini Tsuna yang terdiam. Kepala bersurai coklat caramel itu menunduk, menyembunyikan rupa manis sang pemilik. Entah ini sungguhan atau hanya efek cahaya lampu ruangan itu, yang pasti, terlihat segaris rona pink di sekitarnya.
"Memangnya kenapa? Tidak boleh, ya?"
Bengong. Cukup satu kata itu untuk menggambarkan bagaimana kondisi orang-orang yang mendengar suara imut Tsuna. Tetapi, tak lama kemudian, terdengar suara orang terkikik geli di indera pendengaran Tsuna. Merangsangnya untuk mengangkat kepalanya.
"Ja—jangan tertawa!"
Bukannya diam, orang-orang di depannya justru semakin mengeraskan tawa masing-masing.
Tsuna cemberut.
"Gomen, gomen. Tapi, yang barusan itu lucu!" ucap Yamamoto di sela-sela tawanya.
"Iya, benar. Sudah 20-an tapi bisa mengeluarkan suara imut seperti itu! Kawaii na~," ini bapaknya Tsuna, Sawada Iemitsu, yang dari tadi tidak kebagian dialog disebabkan Author yang terlalu pelit (woi).
Tsuna semakin cemberut. Wajahnya semakin memerah.
"Tapi, syukurlah. Ibu sudah lama tidak melihatmu tertawa. Jujur saja, Ibu merindukannya. Iya, kan, semuanya?" ujar Sawada Nana, ibunya Tsuna. Membuat mood Tsuna sedikit membaik.
Yang lain membalas dengan anggukan walau masih sedikit tertawa.
Mau tidak mau, Tsuna pun ikut tertawa.
.
.
.
"Tsu-kun, sirup dan gulanya habis! Tolong belikan, ya!"
"Hai!"
Tsuna pun segera berlari ke luar rumahnya. Dengan memakai setelan casual yang sering dipakainya dulu. Hoodie, kaos yang memiliki tudung seperti jaket dan celana jeans biru. Untung bajunya dulu masih muat.
Loh, berarti tubuh Tsuna tidak mengalami perkembangan?
Ehem, maksudnya, hanya mengalami perkembangan yang tidak terlalu mencolok.
"Terima kasih dan datang lagi lain kali."
Suara pelayan minimarket itu tak dihiraukan oleh Tsuna. Begitu keluar dari minimarket di pinggir jalan itu, ia langsung berbelok ke kanan. Arah yang berlawanan dengan rumahnya. Ah, ternyata dia ingin berjalan-jalan sebentar. Mengingat kembali kenangan masa-masa sebelum menjadi Decimo.
Permen lollipop di mulutnya dimain-mainkan keluar-masuk berputar-putar. Sesekali iris caramelnya melirik ke samping kanan kiri melihat pemandangan yang menurutnya tidak banyak berubah semenjak ia pergi beberapa tahun yang lalu.
Langkah kakinya berhenti di depan sebuah taman di dekat sekolahnya. Taman bermain yang biasa dikunjungi oleh anak-anak yang bermain bersama teman-teman mereka. Atau sepasang muda-mudi yang sekedar ingin bercakap-cakap. Ada juga yang duduk sendirian di bangku taman. Mungkin dia dikucilkan, pikir Tsuna.
Memasukkan sebelah tangan yang tidak menggenggam tas kresek ke saku hoodie-nya, Tsuna pun berjalan memasuki taman yang saat ini sedang tidak terlalu ramai. Tsuna perlu bersyukur untuk itu.
Maniknya menangkap seseorang yang mungkin lebih tua darinya duduk sendirian di bangku taman di bawah sebuah pohon yang cukup rindang. Orang bersurai raven itu memakai jaket berwarna hitam yang menutupi kemeja putihnya, celana hitam panjang, dan sepatu kets hitam. Di tangannya terdapat sebuah buku kecil. Manik kelabunya menyusuri setiap sudut buku itu. Sesekali, ia tersenyum kecil. Lumayan aneh, menurut Tsuna.
Dalam hati, Tsuna mendecak kesal. Itu adalah tempat incarannya. Sayang, sudah ditempati orang lain. Memang, setiap orang bebas duduk di mana saja. Tapi, Tsuna tidak terbiasa duduk sebangku dengan orang yang belum dikenalnya.
Apa boleh buat, dari pada duduk sebangku dengan sepasang kekasih memuakkan di pojokkan sana, mending sama orang ini. Sepertinya dia tidak banyak bicara, atau malah tidak akan bicara. Cocok untuk Tsuna yang saat ini menginginkan ketenangan.
"Konnichiwa, Herbivore."
Baru saja Tsuna meletakkan bagian bawah tubuhnya ke atas kursi kayu itu, orang tadi menyapanya. Membuat pemuda mungil ini seketika menoleh. "Ko—konnichiwa."
Eh, tunggu dulu. Apa yang dia bilang tadi? He—Herbivore?
Tsuna menatap orang itu dengan tatapan heran bercampur takut menjadi satu. Sehingga wajar kalau keringat dingin mengalir dari pelipisnya. Tangannya menggenggam tas kresek lebih erat.
Merasa dipandangi, orang itu menengokkan kepalanya. "Ada sesuatu?"
Tsuna tersentak, wajahnya seketika memerah melihat senyum orang itu. Memalingkan wajahnya ke arah lain. "Ti—tidak ada apa-apa."
Orang itu tersenyum lagi, kemudian membaca kembali bukunya. Dan Tsuna kembali mencuri-curi pandang ke arahnya. Sekilas, terlihat sebuah seringai terbentuk di bibirnya.
'Aneh, benar-benar aneh. Wajahku memanas! Apa-apaan ini! Tidak mungkin hanya karena orang itu, lelaki pula! Aku bisa blushing!' batin Tsuna menjerit.
Cukup lama Tsuna dan orang itu saling diam. Bedanya, Tsuna diam karena gugup. Sedangkan orang itu, diam karena konsentrasi pada buku kecilnya.
"A—ano," ucap Tsuna memecahkan keheningan yang tercipta itu.
Orang itu mengalihkan perhatiannya dari buku ke Tsuna. "Hm?"
"Em…."
Karena Tsuna terlihat belum akan berbicara lagi, orang itu kembali membaca bukunya.
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
Dibalas sebuah anggukan kecil.
"E—etto, tadi… Kenapa kau menyebut 'Herbivore' saat menyapaku? Bukankah 'Herbivore' itu jenis hewan pemakan tumbuhan, ya?"
Orang itu tertawa kecil. "Karena menurutku orang lain itu herbivore."
Tsuna mengernyit heran. "Loh, manusia kan juga makan daging, berarti mereka—kita ini termasuk omnivore kan? Bukan herbivore."
Tawa orang itu semakin terdengar. Seringai misterius terpampang di wajahnya.
"Bodoh."
"Apa kau bilang? Bodoh? Justru kau yang bodoh!" seru Tsuna seraya mendekat ke orang itu. Terbawa emosi.
"Kau adalah herbivore terbodoh yang pernah kutemui."
"Kau yang bodoh!" semakin mendekat.
"Herbivore bodoh."
"Baka! Baka! Baka!" tinggal 30 senti.
"Sekali bodoh tetap saja bodoh."
"Baka! Dasar bo—,"
Teriakkan Tsuna seketika berhenti ketika tiba-tiba orang itu menoleh ke samping—ke arahnya. Dia baru sadar kalau jarak antara orang itu dengannya kurang dari sepuluh senti. Dan apa yang terjadi saat itu, membuat Tsuna sangat terkejut. Yang entah disengaja atau tidak disengaja.
Angin berhembus kencang dengan tenangnya. Daun-daun musim panas berguguran. Burung-burung terbang ke langit bebas.
Waktu serasa berhenti.
Ketika orang itu…
Mencium Tsuna tepat di bibirnya.
Setelah sepuluh detik berlalu, orang itu menjauh dari Tsuna. Lalu, memberi senyum lembut. Beda dari yang ditunjukkannya sejak tadi.
Tsuna yang masih shock, hanya bisa menatap orang itu dengan kedua iris yang terbuka lebar. Melihat senyum orang itu, akhirnya Tsuna menyadari satu hal.
First kiss-nya dicuri.
Dicuri oleh orang tak dikenal…
Wajah Tsuna memerah dengan cepat. Asap imajiner mengepul di atasnya. Kedua tangannya memegang kedua pipinya yang terasa panas.
"Ti—tidak!"
Dan berteriak layaknya seorang gadis yang direbut ciuman pertamanya oleh seorang 'pria'.
"Bo—bodoh! Baka! Kau orang terbodoh yang pernah kutemui!"
Setelah berteriak tepat di depan wajah orang itu, Tsuna segera berlari sekencang-kencangnya keluar taman itu.
Orang itu hanya menyeringai tipis seperti hendak tertawa melihat reaksi imut Tsuna. Menyeka bibirnya sendiri dengan ibu jari tangan kanan. Sedikit—em—sensual.
"Rasanya tidak berubah, Tsunayoshi."
.
.
.
BRAAK!
Tsuna langsung membuka pintu rumahnya dengan kasar. Berjalan cepat menuju dapur. Lalu, meletakkan barang belanjaannya tadi dengan kasar pula, hingga terdengar suara berdebum yang mengagetkan semua orang di rumah itu.
"Eh, Tsu-kun? Ada apa?"
Menghiraukan pertanyaan dari ibunya, Tsuna kembali berjalan cepat setengah berlari ke kamarnya. Benda-benda yang menghalangi jalannya langsung ditendang, diinjak, atau dilempar. Tidak peduli itu apa, termasuk granat milik Lambo yang tidak sengaja dijatuhkan oleh sang pemilik. Alhasil, seisi rumah sekaligus halaman sekitar rumah hancur berantakan akibat perbuatannya.
Gokudera, Yamamoto, Ryohei, Chrome, dan Lambo hanya bisa bengong. Mulut mereka membuka tapi tidak ada satu pun suara yang keluar. Hingga terdengar suara pintu yang dibanting, akhirnya mereka sadar.
"Wagh! Permenku!"
"Origamiku!"
"Tongkat dan bola baseballku!"
"Sarung tinjuku!"
"Dinamitku hilang!"
"SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB ATAS SEMUA INI!?"
"AKU! MEMANGNYA KENAPA!?"
Semua yang berteriak tak terima tadi langsung diam. Ya, mereka kenal suara itu. Suara lembut namun tegas dan penuh kekesalan. Siapa lagi kalau bukan sang Decimo.
"SEKARANG DIAM DAN JANGAN GANGGU AKU! TENANG SAJA, AKU PASTI TANGGUNG JAWAB NANTI!"
Kalimat terakhir Tsuna sebelum membanting pintu kamarnya lagi, membuat kelima guardiannya merasa bersalah. Seandainya mereka tahu bahwa yang menghancurkan atau menghilangkan barang-barang mereka tadi adalah Tsuna, mereka tidak akan berteriak protes.
Nasi sudah menjadi bubur.
Waktu lampau tidak bisa diulang lagi.
Kini, sang Juudaime sedang kesal dan mungkin tidak mau menemui mereka untuk beberapa lama.
.
.
.
Kamar Tsuna…
Tsuna melompat merebahkan dirinya di atas kasur dengan posisi tengkurap. Meraih bantal bersarung biru muda di sebelah kanannya dan menutupi seluruh mukanya dengan benda empuk itu. Bantal tak berdosa tersebut diremas-remas dengan kasar. Kaki-kakinya dihentak-hentakkan dengan tidak berirama.
Saat ini, seorang Sawada Tsunayoshi sedang berusaha melupakan apa yang dialaminya di taman tadi. Layaknya seorang gadis remaja yang masih labil.
"Kuso! Kuso! Kuso!"
Mulutnya merapalkan sebuah kata umpatan yang malah terdengar seperti membaca suatu mantra.
Membalikkan badannya hingga berada pada posisi terlentang. Menatap langit-langit kamarnya menerawang jauh. Bayangan saat bibirnya dengan bibir orang yang ditemuinya di taman tadi bersentuhan kembali melintas di pikirannya. Entah kenapa, Tsuna merasa ada sesuatu yang aneh.
"Pria tadi, menciumku."
Meraba bibirnya sendiri. Menelurusi jejak-jejak ciuman yang diterimanya.
"Lembut dan hangat."
Rona merah kembali menerpa wajah manis nan imutnya. Sebuah senyum seperti dipaksa untuk tertawa, terbentuk di bibir merah mudanya.
"Aku ini sudah gila, ya."
.
.
.
"…-kun…"
"Tsu-kun…."
"Umm…"
Perlahan-lahan, kelopak mata yang menutupi manik caramel itu terbuka. Sang pemilik menguap kecil, lalu merubah posisinya ke samping.
"Sebentar lagi."
BRUUK!
"Ini sudah waktunya untuk makan malam! Cepat ke bawah, yang lain sudah menunggu!"
Tsuna masih setengah tidur walau sudah ditarik oleh ibunya hingga jatuh tersungkur ke bawah tempat tidur. Desahan kecil khas orang tidur keluar dari belahan bibirnya. Membuat kesabaran ibunya itu habis.
"Kalau tidak mau bangun, ibu akan menghubungi Reborn-kun untuk membawamu kembali ke Italia."
Cukup. Satu ancaman yang kurang mengancam itu cukup untuk membuat Tsuna langsung melesat ke lantai bawah tepatnya ke ruang makan di mana teman-teman dan ayahnya sudah menunggu. Sawada Nana pun hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah anaknya yang masih kekanakan itu.
"Tsuna, kau baru bangun tidur?" tanya Sawada Iemitsu, ayah Tsuna.
Sekarang, Tsuna memang telah duduk dengan manis di salah satu kursi di meja makan itu. Tidak seperti biasanya, penampilan Tsuna berantakan. Bajunya masih baju yang dipakainya untuk pergi tadi. Rambutnya acak-acakan. Kantung mata terlihat jelas. Dan mulut yang sesekali terbuka untuk menguap.
Cerminan orang bangun tidur sekali.
Tidak mendapat jawaban, Iemitsu menganggap itu sebagai jawaban iya.
"Tidak seperti biasanya kau tidur siang. Kau sakit?"
Tidak ada jawaban lagi, hanya erangan kecil yang didengarnya. Insting ke-bapak-annya pun muncul.
"Beneran sakit!?"
Tsuna menggeleng cepat. "Tidak, Tou-san. Hanya sedikit pusing saja."
Kelima guardiannya yang sedang menyantap makan malam buatan Nana itu tersedak. Rasa bersalah kembali menyelimuti hati mereka. Jangan-jangan, boss mereka sakit mendadak karena kesal telah disalahkan oleh mereka? Bisa jadi.
Sayangnya, bukan itu yang menjadi masalah bagi Tsuna.
Makan malam hari itu memang berlangsung seperti biasanya. Dengan keributan antara Ryohei dan Lambo. Gokudera dan Yamamoto yang berebut melayani Tsuna. Chrome dan Nana yang berbincang-bincang. Dan Iemitsu yang sempat-sempatnya tidur saat makan.
Menyenangkan. Menyenangkan dan merindukan sekali.
Tsuna tersenyum. Ingin sekali ia merasakan suasana seperti ini setiap hari. Bercanda dengan teman-temannya, memakan masakan buatan ibunya, atau bermain bersama Lambo, I-pin, dan Fuuta. Masa-masa seperti itulah yang sangat dirindukan oleh hati kecilnya. Namun, apa daya. Sekarang dia telah menjadi seorang boss mafia paling berpengaruh di dunia.
Yah, sudahlah. Apa yang terjadi, terjadilah.
.
.
.
Kesal.
Itu yang dirasakan Tsuna saat ini.
Tapi, ekspresi yang ditunjukkannya justru kebalikan dari perasannya.
Orang itu lagi.
Orang yang ditemuinya tadi di taman kembali muncul di hadapannya.
Tunggu, Tsuna masih bisa memaklumi kalau mereka bertemu lagi di tempat umum. Seperti minimarket, toko kue, dan sebagainya. Karena ia tahu kota ini sempit, bisa bertemu orang yang sama beberapa kali.
Tapi, ini sungguh tidak bisa ia terima.
Tidak, tidak akan pernah.
Ia bahkan tidak pernah membayangkan ini bisa terjadi.
Di mimpinya saja—seingatnya—tidak pernah.
Dan jujur, ia tidak mau ini terjadi.
Saat ini, Tsuna hanya bisa diam dengan memasang wajah aneh layaknya maling ketahuan polisi dengan posisi duduk di ranjang menghadap jendela kamarnya. Jendela itu terbuka. Di baliknya terlihat seorang pria sedang berdiri di sana. Entah bagaimana caranya, mengingat kamar Tsuna di rumahnya ini tidak memiliki balkon.
Mungkinkah ia terbang?
Tidak, itu tidak mungkin. Dia pasti memakai suatu trik.
Bagaimana kalau ia memang benar-benar terbang?
Mungkin dia memakai box weapon yang bisa membantunya terbang, seperti punya Onii-chan (Ryohei).
Ya, ya, pasti itu yang terjadi.
"Tsunayoshi, tidak perlu berpikir macam-macam."
Suara itu, suara yang baru saja beberapa jam yang lalu ia dengar. Suara khas yang entah kenapa terasa familiar.
Tunggu dulu, dia tahu namanya?
Seingatnya, dia belum memperkenalkan diri pada orang menyebalkan ini.
Mungkinkah orang ini pesulap? Atau mungkin penyihir?
Aneh sekali orang ini bisa membaca pikirannya.
"Sudah kubilang, tidak usah berpikir yang macam-macam kan?"
Tuh, kan.
"Da—dari mana kau tahu namaku?"
Orang itu menyeringai. Membuat Tsuna mundur beberapa centi ke belakang. Yang membuat Tsuna lebih takut, orang itu malah melompat masuk ke kamarnya. Tsuna mundur kembali. Dan orang itu justru berjalan mendekat ke arahnya. Terus, hingga punggung Tsuna menabrak pinggiran tempat tidurnya.
Ia pun terjebak di antara tempat tidur dan orang itu.
"Si—siapa kau sebenarnya? Dan apa maumu?"
Orang itu merendahkan tubuhnya, hingga wajahnya sejajar dengan wajah Tsuna. Menarik dagu Tsuna dengan hati-hati, seakan Tsuna itu kaca yang mudah pecah. Mendekatkan bibirnya ke telinga Tsuna. Seketika, semburat kemerahan menerpa kedua permukaan pipi Tsuna. Lalu, orang itu membisikkan sesuatu yang membuat Tsuna membulatkan kedua mata bundarnya.
"Aku Hibari Kyoya, dan aku akan melindungimu."
.
.
.
To be continued
