"Kyoya."

"Apa?"

"Aku…ingin ke pantai."

"Huh? Kau ingin menunjukkan tubuhmu pada orang lain begitu?"

"Dasar mesum! Aku hanya ingin berlibur, itu saja!"

"Baiklah, kita pergi minggu depan."

"Benarkah? Kyoya, daisuki!"

"Hn."

.

.

.


A/N : Yatta! Akhirnya, selesai juga chap 4. Setelah keluar dari hiatus selama 5 bulan :'v. Arigatou sudah menunggu, minna-san. Di chap ini, juga belum ada tragedinya. Mungkin, setelah Hibari balik lagi ke Vongola (kok malah sup iler, eh, spoiler, sih!? DX).. Yah, pokoknya begitulah.. :v


.

.

.

See You In The Next Moon

.

.

.

Moon 4 : Beach

.

.

.

"Aku Hibari Kyoya, dan aku akan melindungimu."

"He?"

Orang itu tersenyum, lalu menarik wajahnya menjauh dari telinga Tsuna. Menatap wajah blushing Tsuna dengan seksama.

"A—apa maksudmu?" Tsuna mengernyit heran. Perkataan orang ini benar-benar tidak masuk akal. Mereka baru bertemu hari ini dan orang ini langsung bilang akan melindunginya?

"Sudah kubilang kan, aku akan melindungimu."

Perempatan merah mampir ke kening Tsuna, dan mukanya tambah merah akibat amarah. "Iya, aku dengar. Maksudku, melindungiku dari apa?"

Orang itu berdiri, berjalan menuju jendela lalu menutup jendela itu rapat-rapat juga menutup gordennya.

"Bukankah gadis kenalanmu sudah menceritakannya padamu?"

Kali ini sebelah alis Tsuna naik. "Gadis? Maksudmu Kyoko-chan?"

Dibalas senyuman misterius. "Kalau tidak salah gadis itu berkata ada orang aneh yang menghubungi Karasawa Hana. Dan setelah kau mencari informasi tentang orang itu, kau menemukan fakta bahwa orang itu—,"

Perkatannya terputus karena tiba-tiba Tsuna mengangkat tangannya membentuk gestur 'berhenti'.

"Cukup, aku mengerti apa yang mau katakan. Jadi, kenapa kau mau melindungiku? Memangnya kau siapa?"

Orang yang mengaku bernama Hibari Kyoya itu menyeringai. "Kau akan tahu sendiri nanti."

Tsuna sepertinya tidak mempercayai perkataan orang ini, maka secara diam-diam, dia mengambil sarung tangan yang tergeletak manis di meja di samping tempat tidurnya.

"Jangan coba-coba menyerangku, Tsunayoshi."

Tsuna pun hilang emosi. Dengan cepat, ia memakai sarung tangannya dan berubah ke mode Hyper.

"Pergi dari sini sekarang juga!"

Sebuah pukulan diluncurkan oleh tangan mungil Tsuna. Namun, berhasil dihindari dengan mulus oleh sasarannya. Sekali lagi, ia mencoba, namun hasilnya sama saja. Kesal, ia pun melancarkan serangan bertubi-tubi. Namun, orang bernama Hibari Kyoya itu selalu dengan sukses menghindarinya.

Melirik ke sekelilingnya, orang itu akhirnya berhenti menghindar. Tapi, bukan berarti serangan Tsuna mengenainya. Melainkan, ia menahan lengan Tsuna dengan tangannya sendiri. Lalu, seringai kemenangan nampak jelas di wajahnya. Jelas, orang kamar Tsuna sudah seperti kapal yang baru menabrak karang—alias sudah berantakan pakai banget.

"Sudah kubilang jangan coba-coba menyerangku, kan?"

Tsuna hanya bisa menggeram kesal.

DRAP! DRAP! DRAP!

Terdengar langkah beberapa orang yang sedang berlari menuju kamar Tsuna. Juga seruan-seruan panik.

"Juudaime! Ada apa!?"

Hibari melepaskan genggaman tangannya pada lengan Tsuna. Lalu, membuka tirai jendela juga kacanya. Melangkahkan salah satunya kakinya ke bingkai kayu itu.

"Ingat, Tsunayoshi. Aku akan kembali besok di bawah langit malam yang sama."

Tersenyum lembut, lalu melompat keluar. Tsuna masih terpaku dengan apa yang barusan dilihatnya. Senyum orang itu. Mengingatkannya pada sesuatu. Tapi, ia tidak tahu apa itu. Sampai angin malam membuatnya sadar akan suatu hal.

"Hei! Tunggu!"

Terlambat, orang itu sudah hilang. Bayangannya pun tidak ada. Secepat angin yang membawa pergi debu-debu musim panas.

"Ke mana orang itu?" geram Tsuna kesal.

BRAAK!

"Juudaime!"

Tsuna menoleh. Terlihat olehnya para guardiannya menatapnya dengan cemas. Tapi, berubah menjadi terkejut begitu melihat keadaan kamar Tsuna.

"Ju—Juudaime, apa yang terjadi? Apakah Anda terluka?"

Tsuna menghela napas, "Maaf, sudah membangunkan kalian di tengah malam begini. Aku tidak terluka, kok. Tadi, ada hewan liar masuk ke sini, terus keluar lagi. Hehehehe…," menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal plus cengiran khas orang 'jujur'.

Jawaban Tsuna ini membuat para guardiannya memberinya tatapan curiga.

"Tsuna, kau tidak pandai berbohong, kau tahu?"

Tsuna tersentak begitu mendengar pertanyaan atau mungkin pernyataan Yamamoto barusan. Karena itu memang kenyataannya.

"Po—pokoknya, kalian tidak usah khawatir. Sana, kembali ke kamar kalian!"

Para guardian itu saling berpandangan. Lalu, menatap Tsuna lagi.

"Baiklah, kami mengerti. Oyasuminasai, Juudaime."

"O—oyasumi."

Baru saja Tsuna menghela napas lega, tenggorokannya tercekat lagi. Saat guardiannya itu menoleh ke arahnya sebelum meninggalkan kamarnya.

"Tapi, jika memang ada sesuatu, kami akan membereskannya, Juudaime."

"Hai," balas Tsuna lesu.

CKLEK!

Dan pintu tak berdosa itu pun menutup dengan sempurna.

Tsuna langsung menjatuhkan dirinya ke kasur empuknya. Memejamkan mata dan menutup kedua kelopak itu dengan tangan kirinya, namun belum pergi ke alam mimpi. Pikirannya masih terpaku pada sosok orang aneh yang datang ke kamarnya tadi. Dengan cara aneh pula.

"Hibari—san, kah?"

Membalikkan tubuhnya ke samping, hingga berhadapan langsung dengan pemandangan malam di luar jendela kamarnya. Menikmati semilir angin malam dingin yang membelai sekujur tubuhnya dengan lembut. Juga, suara-suara binatang nokturnal di luar sana.

"Dasar, orang aneh."

.

.

.

"Yosh! Hari ini kita ke pantai!"

"Woooo!"

Semua penghuni rumah Sawada langsung bergegas memasukkan semua barang-barang kebutuhan mereka untuk ke pantai. Seperti pelampung, tas berisi baju ganti, kotak minuman, bekal, sampai persenjataan pun mereka bawa. Untuk jaga-jaga kalau ada serangan mendadak.

Setelah semuanya beres, walau mereka melakukannya dengan berantakan dan harus dibereskan oleh Tsuna dan Nana, mereka segera pergi ke pantai terdekat (saya tidak tahu pantai apa yang dekat dari sana). Meski harus berdesak-desakan dikarenakan Iemitsu menyewa mobil yang cukup kecil untuk diisi beberapa orang dengan banyak barang.

Tak lama kemudian, mereka sudah dapat melihat hamparan biru kehijauan dengan buih-buih putih di atasnya. Dan sejauh mata memandang, tidak ada dataran tinggi. Yang artinya, semuanya adalah dataran rendah.

"Laut!"

"Wah, angin musim panas di pantai memang sesuatu," sepertinya Yamamoto ingin menirukan salah satu artis di negara kita.

"Akhirnya, setelah sekian lama, kita bisa ke pantai."

"Aku sangat ingin melawan hiu."

Kalimat terakhir itu tidak salah lagi pasti diucapkan Sasagawa Ryohei, yang sukses membuat Tsuna tersedak minuman rasa melonnya. "Ryohei-nii, jangan melawan hiu."

Sayang, diabaikan oleh objeknya.

ZRAASH~!

"Nah, semuanya, kita sudah sampai!"

"Yeeeeee!"

Lambo dan Ryohei langsung berlari ke arah datangnya ombak. Sedangkan, yang lainnya hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua dan mulai merapikan barang-barang mereka di tempat yang strategis. Tak lupa, mereka menancapkan sebuah payung raksasa di samping tikar yang baru mereka gelar—agar tidak kepanasan.

"Hah~, akhirnya bisa santai…," gumam Tsuna seraya merebahkan tubuhnya ke tikar bercorak pemandangan laut itu.

Ia memejamkan matanya, mencoba menikmati semilir angin tepi pantai yang tidak terlalu dingin, namun juga tidak terlalu panas. Cocok untuk orang-orang yang ingin merasakan kenikmatan musim panas. Seperti Tsuna ini. Beruntung, tempat yang dipilih oleh ibunya ini jauh dari keramaian orang-orang yang juga sedang berlibur. Apalagi, para guardian, ayah dan ibunya sedang bermain dengan ombak yang jaraknya cukup jauh dari lokasi peristirahatan mereka. Mendorongnya untuk pergi ke alam mimpi.

Sampai—

BUK!

—sebuah bola melayang dan jatuh tepat ke wajah imutnya.

"Ano! Tolong lempar bola itu ke sini!"

Tsuna langsung duduk begitu mendengar suara seorang gadis di kejauhan. Sedikit kesal karena menahan rasa sakit, ia menatap bola warna-warni yang masih menggelinding pelan di dekatnya. Menengok kanan kiri mencari asal suara tadi.

"Oh, itu, ya," gumamnya begitu melihat seorang gadis melambai ke arahnya.

Tsuna berdiri, lalu melempar bola itu ke arah sang gadis. Gadis itu kembali melambai ke arahnya setelah menerima bolanya, sebagai ucapan terima kasih. Pria imut ini pun hanya balas melambai. Menatap sejenak gadis itu yang berlari menuju teman-temannya, lalu kembali menghempaskan tubuhnya ke atas tikar.

"Mengganggu saja."

"Siapa yang mengganggu?"

Belum sempat ia menutup kedua manik karamelnya, sebuah suara menginterupsi. Kepala ia dongakkan ke atas, dan terlihatlah seorang wanita bersurai oranye yang datang ke mansionnya beberapa waktu yang lalu. Di tangannya terdapat 2 es krim di atas waffle berbentuk corong.

"Kyoko-chan."

Menyodorkan salah satu es krimnya ke Tsuna. "Mau es krim?"

.

.

.

"Jadi, bagaimana, Tsuna-kun?" tanya Kyoko sembari menjilat es krimnya. Matanya focus pada pemandangan ombak bergelung dan teman-temannya yang sedang bermain di sana.

Tsuna juga ikut menjilat es krim miliknya, dan bertanya dengan heran, "Apanya?"

Kyoko cemberut. "Tentu saja tentang yang kemarin itu."

"Sudah, kok."

"Hasilnya?"

"Hm, akan kukirim ke e-mail-mu saja. Terlalu berbahaya kalau kukatakan di sini."

"Intinya saja tidak apa-apa."

"Hm, pokoknya senpai kita itu dimanfaatkan."

"Dimanfaatkan?"

"Detailnya di e-mail saja."

"Wakatta."

Keduanya pun sama-sama diam. Asyik menikmati es krimnya masing-masing. Memang, panas-panas begini enaknya makan yang dingin-dingin. Es krim Kyoko lah yang lebih dulu habis. Ia berdiri lalu meregangkan tubuhnya sejenak.

"Aku mau ke sana, mau ikut?" menunjuk rombongan Tsuna yang saat ini sedang bermain voli pantai.

"Tidak, aku di sini saja. Istirahat," balas Tsuna, berbaring lagi.

"Ya sudah, selamat tidur, Tsuna-kun!" gadis itu pun berlari menyapu pasir-pasir pantai di bawah kakinya, setelah melambai pada Tsuna yang sudah pergi ke alam mimpi sepenuhnya.

.

.

.

"Tsu-kun, bangun."

"Hai~"

Tsuna bangun kemudian berdiri. Mengusap kedua matanya yang masih belum bisa terbuka sepenuhnya. Lalu, melirik ke samping, sumber suara tadi datang.

"Sudah saatnya makan siang, lho," ujar Nana tersenyum geli, mungkin.

Di hadapan Tsuna saat ini, sudah tersaji beberapa makanan khas piknik musim panas. Ya, itulah, tidak perlu dijelaskan satu persatu. Dengan ogah-ogahan, Tsuna menerima sepiring yang disodorkan ibunya. Dan memakannya dengan setengah merem.

Tiba-tiba, ia mengernyit heran. Manik karamelnya menangkap sesosok bayangan di balik batu di dekat tempat peristirahatannya. Sedikit curiga, tapi ia mengabaikannya.

"Setelah ini, kita langsung ke penginapan saja."

Semuanya langsung mengangguk, menyetujui perintah Iemitsu.

.

.

.

TOK!

"Um~,"

TOK!

"Siapa?"

TOK! PRANG!

"Woi! Siapa, sih!?" teriak Tsuna begitu mendengar suara kaca pecah. Dibukanya jendela kamar hotel yang ditempatinya saat ini. Di kamar itu, dia sendirian, tidak mau diganggu katanya. Segera, ia melongokkan kepalanya keluar. Dan seketika—

—ia memutih.

"K-k-k-k-kau!" tunjuk Tsuna ke arah seseorang yang berdiri tepat di depan jendela dengan tangan bergetar hebat.

"Yo!" sapa orang itu.

"Hi—hibari-san!"

Yah, bisa kita sebut dia Hibari Kyoya, orang aneh yang tempo hari bertemu dan datang ke rumah Tsuna.

Menengok ke kanan kiri, setelah dipastikan tidak ada orang, Tsuna segera menarik kerah kemeja Hibari. Memaksa pria itu masuk ke kamarnya. Parahnya, Tsuna melempar orang itu hingga sukses menabrak lemari kayu berlapis baja yang berada di samping futon—entah kenapa bisa ada di sana.

Tsuna berjalan cepat ke Hibari yang masih berusaha bangkit sambil meringis kesakitan dan mengusap bagian tubuhnya yang membentur lemari itu. Langsung saja, Tsuna menindih Hibari dan menarik kerah kemejanya dengan kasar. Yang tidak diketahui pemuda mungil itu adalah—Hibari sedikit blushing.

"Kau! Akhirnya kau ke sini juga. Aku sudah tidak sabar untuk membunuhmu!" geram Tsuna lirih—agar tidak membangunkan yang lain.

Hibari tersenyum tipis, "Membunuhku? Sayangnya, kau tidak akan bisa melakukannya Tsunayoshi."

Genggaman Tsuna semakin mengeras. Sorot penuh amarah tampak jelas di matanya—menurut Hibari.

"Apa maksudmu?"

Hibari hanya tersenyum. Menepis tangan Tsuna dengan lembut. Lalu, melakukan hal yang dilakukan Tsuna tadi. Ya,menindih pemuda karamel itu. Dan Tsuna hanya bisa memberi tatapan datar.

"Bukankah kemarin sudah kubilang—," mendekatkan bibirnya ke telinga kiri Tsuna dan berbisik juga sedikit meniup daerah itu pelan, "—Kau akan tahu sendiri nanti."

Wajah Tsuna langsung memerah total begitu mendapat perlakuan semacam itu.

"Minggir."

Perintah Tsuna justru terjadi sebaliknya. Hibari malah semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Tsuna, hingga punggung pemuda mungil itu menempel erat dengan tatami.

"Biarkan aku memelukmu."

"Lepas, aku tidak bisa bernapas."

"Aku tidak peduli."

"Kau ingin membunuhku ya?"

Hibari menggeleng. Kemudian, menjauh dari Tsuna. "Maaf, aku terbawa suasana."

Entah kenapa, Tsuna merasa sesuatu yang belum pernah dirasakannya selama ini begitu mendengar kalimat terakhir Hibari. Dia merasa terganggu, namun jauh di lubuk hatinya, ia sangat ingin agar Hibari tetap melanjutkan aksinya—cukup, sebelum menyerempet si M.

Hibari melangkah menuju jendela, hendak pergi lagi. Melangkahkan kaki kanannya ke tepi jendela, lalu menoleh sebentar menghadap Tsuna yang saat ini masih terpaku karena bingung.

"Malam ini cukup sampai di sini. Aku hanya ingin memastikan keselamatanmu. Besok, aku akan datang lagi. Jaa."

Hibari hampir melompat, namun tidak jadi. Menatap Tsuna kembali yang masih dalam kondisi yang sama.

"Oh, ya. Maaf, untuk yang tadi."

Dan ia pun pergi sepenuhnya. Bersamaan dengan burung malam yang terbang menjauh dari dahan pohon sakura tepat di depan jendela kamar itu, serta angin yang berhembus kencang sejenak.

Untuk beberapa lama, Tsuna masih terdiam. Setelah memastikan bahwa Hibari sudah pergi, ia berjalan pelan ke jendela dan menutupnya. Sebuah helaan lelah dikeluarkannya.

"Maaf? Mungkin, seharusnya aku yang minta maaf."

.

.

.

Hari kedua, rombongan Tsuna dan kawan-kawan malah terlihat murung plus suram. Bermuka madesu semua. Atmosfer di sekitar mereka tampak menggelap.

Apa yang terjadi, ya?

Mari kita tengok keadaan di luar penginapan.

BRUSSS~!

Ternyata, oh, ternyata, diluar hujan. Sangat deras. Mungkin badan bisa sakit bila diterjang hujan seganas itu.

Tumben-tumbennya, di musim panas ada hujan.

Atau memang sering?

Ah, Tsuna sudah terlalu jarang memperhatikan sekitar, jadi ia sudah lupa.

"Hah, semoga hujannya jangan berhenti," gumam Tsuna.

Langsung saja, semua yang sedang ada di ruangan khusus pelanggan VIP itu memberinya deathglare mematikan.

"Apa yang kau katakan, Tsuna? Kau tidak mau hujannya berhenti?" tanya Iemitsu dengan nada penuh intimidasi.

Tsuna kalang kabut. "Ti—tidak! A—aku sangat berharap hujannya segera berhenti, kok!"

Yang lain masih memberi deathglare mereka, kemudian menghela napas bersama-sama.

"Kenapa di saat liburan begini malah hujan? Aku kan jadi tidak bisa melawan hiu," keluh Ryohei.

"Istana pasirku kemarin pasti sudah hancur sekarang," ratap Lambo, menggaruk-garuk meja di depannya. Diberi anggukan kepala oleh Chrome.

"Aku jadi tidak bisa main lempar tangkap kerang lagi bersama Gokudera," kali ini Yamamoto, langsung disanggah oleh yang lain.

"Maksudmu, perang lempar-lemparan kerang, kan, Yamamoto?"

Dan pemuda ahli pedang itu hanya tersenyum canggung sambil menggaruk belakang kepalanya yang banyak kutunya(?), "Hehe.."

"Juudaime, " panggil seseorang dari samping kanan Tsuna. Begitu pemuda mungil itu menoleh, ia mendapati Gokudera di sana.

"Ada apa?"

Gokudera hanya diam. Tapi, tangannya menunjuk keluar jendela. Lebih tepatnya pada benda-benda berwarna hitam yang sekilas tidak tampak di balik semak-semak di dekat pohon.

"Mereka?"

Gokudera mengangguk. "Saya baru saja mendapat kabar dari Reborn-san kalau family rendahan sedang mengincar Anda."

Tsuna menatap Gokudera sejenak, kemudian menatap orang-orang berbaju hitam yang terguyur hujan itu.

"Baiklah. Kita akan menyerangnya secara diam-diam."

"Wakarimashita," dan Gokudera pun segera memberitahu guardian lainnya untuk segera mempersiapkan senjata.

.

.

.

Orang berjubah hitam itu tengah memposisikan senapan laras panjangnya tepat ke tengkorak atas seorang pemuda bersurai yang tengah asik menyesap coklat panasnya. Ibu jari dan telunjuknya sudah menekan sedikit pelatuk senapan itu. Memposisikan senapannya hingga tepat dan mengurangi kemungkinan meleset.

Tiba-tiba pemuda yang menjadi incarannya itu menoleh ke arahnya dan menatapnya tajam. Awalnya, ia mengira kalau targetnya itu hanya menatap semak-semak di depannya. Tapi, ternyata justru ia sendiri. Ia tersentak, senapannya langsung terjatuh bebas ke atas rerumputan tempat ia berpijak. Seluruh tubuhnya gemetaran.

"Yo."

Sekali lagi, ia tersentak. Sapaan asing terdengar dari belakangnya. Dengan cepat, ia membalikkan tubuhnya. Didapatinya beberapa orang dengan senjata aneh dibalut api berwarna-warni di tangan mereka.

"G-g-g-guardian Vongola," ucapnya terbata. Dirinya sadar bahwa orang-orang di depannya ini berbahaya. Sangat berbahaya. Bisa mati dia kalau tidak segera kabur dari tempat ini. Maka, ia segera berdiri.

Tapi, tentu saja ia tidak bisa.

Getaran di tubuhnya mencegah ia untuk bisa berdiri dengan normal. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya begitu orang-orang di depannya mulai bergerak. Tak lama, ia sudah terkepung.

"Beraninya kau mengincar Juudaime," ucap salah seorang dari mereka, pemuda bersurai silver, Gokudera.

"Tidak akan kubiarkan kau melukai Boss," satu-satunya gadis di antara mereka mengacungkan trident tepat ke kepalanya, gadis bersurai ungu kehitaman, Chrome.

"Kalau boleh tahu, kau dari mana?" seorang pemuda bersurai hitam kebiruan menenteng sebilah pedang di bahunya sembari tersenyum dan berjongkok di dekatnya, Yamamoto. Membuat ia merinding.

"A—aku," belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, sisi tajam pedang pemuda di sebelahnya itu sudah berada sekitar 2 sentimeter dari lehernya.

"Katakan dengan jelas, ya," ucap Yamamoto, masih dengan senyum.

Ia menggeleng cepat, walau dengan gerakan patah-patah. "A—aku sudah bersumpah pada Boss tidak akan mengatakan apapun tentang beliau."

"Ho, begitu. Yamamoto," Gokudera melipat tangannya di depan dada tanpa mengalihkan pandangannya pada orang berjubah hitam di hadapannya ini.

Yamamoto yang merasa mendengar sinyal untuk bertindak lanjut, segera menggerakkan pedangnya 1 senti lebih dekat ke leher orang itu.

"Bunuh saja aku."

Ketiga orang yang mengepungnya tersentak. Tidak menyangka bahwa musuh mereka ini akan mengatakan hal seperti itu dengan tenangnya. Biasanya, jika sudah terkepung begini orang biasa akan memohon dengan segala cara agar bisa dibebaskan. Jika malah berkata seperti itu hanya ada dua kemungkinan. Pertama, orang itu benar-benar sudah menyerah karena tahu bahwa ia takkan bisa menang melawan mereka. Kedua, orang itu—

—menjebak mereka.

"Gokudera," panggil Yamamoto. Dia memang tenang, tapi suaranya tersirat kecemasan.

"Gokudera-san," Chrome juga memanggail sang tangan kanan Decimo meminta keputusan.

Gokudera memandang Yamamoto dan Chrome satu persatu. Kemudian, teralihkan ke musuh di depannya. Menatapnya tajam. Tapi, sayang, tidak diindahkan oleh yang bersangkutan. Menghela napas lelah. Api merah di senjata di tangannya perlahan-lahan menghilang, bersamaan dengan senjata itu sendiri yang kembali ke dalam kotaknya. Membuat kedua rekannya heran.

"Kita kembali, bawa orang ini."

Satu kalimat yang diucapkan Gokudera barusan, cukup untuk membuat Yamamoto dan Chrome mengerjap beberapa kali. Tidak percaya, bahwa rekan mereka yang satu itu bisa setenang ini. Biasanya langsung serang, apalagi jika menyangkut sang Juudaime.

Saling berpandangan, dan mereka memutuskan untuk menuruti perintah Gokudera. Setelah sebelumnya juga menyimpan senjata mereka ke box masing-masing, mereka menyeret orang tadi yang anehnya tidak meronta sedikitpun.

Tanpa mereka bertiga sadari, ada sebuah benda kecil yang berkedip-kedip di belakang leher orang itu.

.

.

.

Di dalam penginapan…

Ruangan yang semula suram, bertambah suram. Atau boleh dikatakan menegangkan. Tidak ada suara obrolan yang sia-sia. Semua penghuni asli ruangan itu sudah dipindahkan ke ruangan lain. Tadinya, tempat itu dipakai untuk para tamu VIP beristirahat selain di kamar. Singkatnya, ruang santai. Namun, hanya sekejap, diubah menjadi ruang interogasi dadakan oleh sang Vongola Decimo.

Menghela napas lelah, Tsuna menundukkan kepalanya lebih dalam di antara tangan yang ia satukan di depan wajahnya. "Jadi, kau tetap mau mengatakannya?"

Orang yang sedang duduk bersimpuh di depan ia yang sedang duduk di sebuah sofa,menggeleng sebagai jawaban. Kedua tangannya diikat dengan tali yang dilapisi dying will milik Ryohei dan ujung sebuah pedang berada tepat 1 centimeter di leher kanannya. Ia tidak bisa berkutik.

"Walaupun keadaanmu seperti itu?"

Kali ini sebuah anggukan. Dan kediaman merajalela.

"Terserahlah. Tidak ada gunanya menanyai orang ini. Lebih baik kita ambil benda berkilau di kerah bajunya itu dan menyelidikinya."

Perintah Tsuna ini membuat keempat guardiannya yang ada di sana tersentak kaget. Masing-masing dari mereka menatapnya tidak percaya.

Tanpa basa-basi lagi, Gokudera segera membuka kerah baju orang di depan Tsuna itu. Juudaime-nya benar, di situ ada sebuah benda berkilau berbentuk bulat dan memancarkan cahaya merah yang berkedip-kedip. Langsung diambilnya benda itu dan diamati. Dilihat dari strukturnya, tampaknya itu adalah alat pelacak.

"Juudaime, ini," pemuda silver itu menyerahkan benda tadi ke Tsuna.

Tsuna menatap benda itu sekilas.

"Tolong bawa orang ini ke Italia. Kita akan memeriksanya di rumah."

.

.

.

Kamar Reborn, Vongola Headquarter…

Di dalam kamar elegan bernuansa krem itu, Reborn sedang duduk dengan secangkir kopi hitam di meja di depannya. Di tangannya ada beberapa lembar kertas dengan foto-foto orang-orang tak dikenal di sisi kiri atas. Pandangannya tajam, seolah hendak membunuh orang-orang di foto itu.

TOK! TOK! TOK!

"Hm?"

"Reborn! Ini aku!" terdengar suara seorang wanita dari luar pintu itu.

"Masuk," perintah Reborn langsung dituruti wanita itu. "Bianchi? Ada apa?"

Bianchi, yang baru membuka pintu itu setengah jalan membukanya lebih lebar. Menampakkan sosok hitam yang tidak asing di mata hitman berstatus Arcobaleno itu.

"Aku—,"

Kedua mata Reborn membelalak. Tidak percaya dengan apa yang ada di depannya saat ini.

"—membawa seseorang."

Seringai orang asing itu menambah kemisteriusannya.

.

.

.

To Be Continued


A/N lagi, hanya curahan hari saya saja :

Saya yakin, chap ini lebih pendek dari chap sebelumnya dan lebih banyak percakapan dari pada narasi.. :v

Ah, biarlah, saya memang lagi tidak mempunyai ide banyak. Saya melanjutkan chap ini pun karena baru mendapat pencerahan setelah membaca fic-nya mbak Hikari Chrysant. Hohoho… Arigatou, mbak.. :v)/

Satu lagi, saya gak yakin bakal nerusin fic ini cepet-cepet. Maklum, saya sedang tergila-gila dengan suatu game online. Sudah berhari-hari tidak mengetik fic, karena sibuk leveling.. te-he! :3
Ada karakter baru lagi, yey! \( :v )/ #abaikan

Tapi, tapi, tapi, tetapi… :v

Saya akan tetap menyempatkan diri untuk melanjutkan fic-fic tertunda di tengah-tengah kesibukan yang tidak berguna itu.. Oke, minna!? :v)b #teriak pake toa

Jaa, mata ne.. X3)/