"Tsunayoshi, kau tidak apa-apa?"
"Ittai, lututku berdarah."
"Jangan manja, aku tidak akan menggendongmu."
"Buh, aku tidak minta."
"Wajah imut dan manismu itu yang berkata."
"Ap-apa kau bilang?"
"Sudahlah, ayo."
"Tadi kau bilang tidak akan menggendongku."
"Sudahlah, naik saja. Anggap saja aku berubah pikiran."
"Arigatou, Kyoya."
.
.
.
A/N : 14 - 8 = 6... Err, sudah setengah tahun saya hiatus ya? Hiks. Mau bagaimana lagi, tuntutan Kurikulum 2 tahun lalu. Yang sungguh begitu memusingkan, lebih memusingkan daripada mikir kelanjutan fic ini. Sumpah.. :'v Padahal sudah hiatus main game, tetep aja gak punya waktu. Huwee.. :'v Yah, saya ingin menyampaikan permintaan maaf atas rasa bersalah yang saya alami saat ini. Gomennasai, minna-sama.. :'3
.
.
.
See You In The Next Moon
.
.
.
Moon 5 : Meet
.
.
.
Sebuah limosine hitam terparkir sempurna di depan pintu masuk Vongola Headquarter—lebih tepatnya sebuah mansion yang didirikan khusus di Jepang. Bukan Vongola Headquarter yang ada di Italia. Pintu penumpang terbuka, seorang pemuda bersurai silver keluar dari sana. Disusul oleh gadis bersurai nanas ungu, pemuda putih jabrik, remaja sapi kribo dan pemuda hitam kebiruan dengan sebilah pedang di punggungnya yang keluar hampir bersamaan. Tangan pemuda terakhir itu menggenggam rantai yang terhubung pada borgol yang mengikat kedua tangan pria sekitar 30-an yang seluruh wajahnya tertutup jubah hitam. Jubah itu sengaja tetap terpasang karena identitasnya belum diketahui. Lagipula, itu permintaan Tsuna sendiri. Dia tidak mau membuat kehebohan di rumah kedua mereka ini.
Rumah? Bisakah kita menyebutnya rumah?
Meski masih berada di Jepang, bukan berarti mereka pulang ke rumah. Jika mansion dianggap sebagai kantor, di mana para pegawainya akan datang di pagi hari, bekerja sepanjang hari, lalu pulang pada malam hari, maka itu sebuah kesalahan.
Fungsi mansion ini sama seperti mansion-mansion yang ada di belahan dunia lain. Sebagai tempat tinggal, tentu saja. Semua penghuni mansion ini tinggal di dalamnya. Sepanjang hari, satu hari penuh. Memang ada saatnya mereka libur dan kembali ke rumah masing-masing. Tapi, hal itu jelas jarang dilakukan. Mereka harus tetap waspada. Mengingat tempat ini adalah salah satu tempat tinggal dari mafia paling berkuasa. Jangan anggap remeh lawan, bung. Negara ini memang bukan sumbernya mafia, tapi banyak mafia berdatangan hanya untuk sebuah kepala dari sang pemimpin keluarga besar ini.
Lagipula, orang-orang yang bekerja di sini sudah bersumpah akan setia pada tuannya. Dan tidak akan membiarkan seorangpun menyentuh sang majikan. Untuk itu, mereka harus tetap berada di sini, kapanpun. Mengawasi segala pergerakan aneh dari orang-orang yang mengincar tempat tinggal mereka ini.
Jadi, bisa kita anggap sebagai rumah kedua mereka bukan?
.
.
.
Kedatangan mereka disambut dengan Reborn dengan ekspresi tegasnya dan Bianchi yang sedang bersandar di pintu utama. Memancing rasa penasaran Tsuna muncul. Tidak biasanya mereka berdua menunggu kedatangan mereka. Kecuali, jika ada suatu hal penting yang harus diselesaikan. Dan Tsuna hanya bisa mengira-ngira sesuatu itu.
"Reborn? Bianchi?"
Tsuna dan guardian-nya memasuki teras depan. Reborn menatap Tsuna. Entahlah, antara tajam dan sendu. Tsuna tidak bisa memprediksi apa yang sedang dipikirkan oleh tutornya itu. Hanya saja, ia merasa akan diberi tahu sesuatu yang mengejutkan.
"Kalian lelah?" tanya Reborn, terdengar seperti sedang berbasa-basi.
Tsuna melirik guardian-guardiannya bingung. "Etto, betsuni."
Reborn menghela napas. "Baiklah, ikut aku ke ruanganku."
Tsuna dan teman-temannya semakin bingung. "Untuk apa? Tumben sekali."
Reborn yang saat ini membelakangi Tsuna sedikit menggeram. Ia tidak menjawab. Justru mulai berjalan ke ruangannya dengan langkah lambat berbeda dari biasanya. Tsuna memang kepo. Tapi, ia tahu, jika Reborn seperti ini, ia harus menurutinya.
Reborn berhenti di depan pintu kayu besar berukiran lambang Vongola. Sikap diamnya masih berlanjut. Tangan kanannya mendorong salah satu daun pintu, mengekspos sedikit isi dari ruangan elegan itu.
"Aku ingin—,"
Seketika, semua yang berdiri di belakang Reborn—kecuali Bianchi—terkejut. Tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh mata mereka sendiri.
"—memperkenalkan seseorang."
"Uso da ne?"
Semuanya menggumamkan kalimat yang sama. Ini bohong kan? Tidak mungkin orang yang sudah mati bisa hidup lagi. Jelas-jelas mereka sudah melihat kematian orang itu secara langsung. Dan penglihatan mereka waktu itu masih sangatlah bagus. Mereka juga sempat menghadiri pemakaman jasad orang itu.
Tidak mungkin itu hantu kan?
"Tsuna, dia adalah Cloud Guardian-mu. Namanya—,"
"Hibari-san!?"
Pekikan Tsuna kembali membuat semua perhatian tertuju padanya. Kelima guardian, Reborn, Bianchi, sama-sama tidak mengira jika Tsuna sudah mengenal orang asing—atau mungkin tidak—di depan mereka ini.
"Ya, kita bertemu lagi, Herbivore," sapa orang itu dengn smirk khasnya. Kegiatannya membaca sebuah buku ia abaikan sejenak. "Kau sudah pulang dari liburan 'menyenangkan'-mu?"
Tsuna menggeram. Sekejap, ia berlari dan menerjang sosok yang dipanggilnya Hibari itu. "Apa yang kau lakukan di sini, hah!?"
Hibari tersenyum manis. "Bukankah bayi itu sudah bilang, aku adalah Cloud Guardian-mu."
Tsuna melebarkan kedua matanya. Dilihat dari ekspresinya, sepertinya dia tidak memperhatikan kata-kata Reborn tadi. Oke, ingatkan Reborn untuk menghukumnya nanti.
"Tsuna, kau sudah—pernah bertemu orang ini?" satu pertanyaan dari Yamamoto mewakili kebingungan semua orang di ruangan itu.
Tsuna mengangguk. "Ya, dia selalu ada di mana pun aku berada." Tangan belum melepas cengkramannya pada kerah kemeja Hibari yang masih saja tersenyum.
"Bianchi, bawa Tsuna keluar. Kalau perlu keluar dari mansion ini."
"Wakatta," sahut Bianchi dan langsung menyeret Tsuna yang menyumpah tidak karuan. Pintu kayu tertutup kemudian.
Tidak ada suara setelahnya. Semuanya sibuk bergulat dengan pikiran masing-masing. Hibari yang masih dalam posisi terlentang di lantai segera bangkit. Meregangkan otot-ototnya kemudian kembali ke sofa tempat ia duduk tadi.
Reborn menatap para guardian lainnya. "Kalian, duduklah."
Tersadar dari lamunan, kelima orang itu mengikuti Reborn yang duduk tepat berhadapan dengan Hibari.
Menyamankan posisi duduknya, Reborn memulai pembicaraan serius.
"Dengar, untuk saat ini, aku tidak bisa menjelaskan alasan kenapa Hibari bisa ada di sini. Sekarang dengarkanlah apa yang akan dikatakan Hibari," melirik Hibari sekilas, "Hibari, giliranmu."
Senyum tipis terukir di bibir pucat pemuda raven. Tangannya menutup buku yang sempat dibacanya barusan.
"Sepuluh tahun yang lalu. Kalian masih ingat kan?" ujarnya kemudian.
Orang-orang di sana kebanyakan mengangguk, namun ada juga yang hanya menunduk. Enggan mengingat masa lalu kelam itu yang telah merenggut nyawa orang—misterius—di depan mereka ini.
"Peristiwa waktu itu direncanakan oleh seseorang bernama Byakuran. Kita memang kalah, tapi kita juga berhasil menangkap mereka. Benar begitu, Reborn?"
Reborn mengangguk. Sementara guardian-guardian lain melongo. Daftar pertanyaan membingungkan telah tersusun acak di kepala mereka. Bagaimana Hibari bisa mengetahui hal itu? Bukankah saat musuh tertangkap dia sudah mati? Tunggu dulu, jika dia berada di sini, berarti dia masih hidup kan? Dan dia selama ini mengawasi mereka?
"Lima tahun yang lalu, mereka dibebaskan dengan jaminan dari seseorang yang tidak ingin diketahui namanya. Lima tahun terakhir ini mereka memang tidak melakukan apapun. Bahkan hampir dilupakan semua orang. Tapi, sekarang berbeda," menghela napas singkat. "Intinya, ada kabar buruk untuk kalian."
"Apa?" Gokudera yang sudah sangat ingin memukul orang ini—entah karena apa—memotong perkataan Hibari.
Hibari menatap rekan-rekannya satu persatu. "Dalam beberapa minggu ke depan, kemungkinan masa lalu akan terulang kembali atau lebih buruk."
.
.
.
Ruangan Tsuna…
Bianchi membuka kasar pintu beraksen mewah itu. Dan segera melempar sang Juudaime ke dalamnya.
"Tsuna, tetaplah di sini. Jangan keluar sampai aku, Reborn, atau Hayato menjemputmu. Mengerti?"
Tsuna mengelus bokongnya yang sempat mencium lantai dengan mesranya. Manik karamelnya menatap sengit wanita beracun itu.
"Bianchi, kau ini kenapa sih? Ittai~."
Bianchi mengangguk sekilas. "Yosh, kalau begitu akan mengunci pintu ini dari luar. Ingat, jangan ke mana-mana!"
"Eh?" linglung, Tsuna melupakan sejenak rasa sakit di bagian bawah tubuhnya. Seketika menatap pintu tanpa dosa yang baru saja ditutup dan dikunci oleh Bianchi dari luar. "Bi—anchi?"
Suara sepatu wanita terdengar menjauhi ruangan itu dengan tergesa-gesa.
Tsuna cemberut. "Bianchi baka!" teriaknya dengan kecemprengan yang sangat khas.
Masih dengan bersungut-sungut, Tsuna memutuskan untuk mematuhi Bianchi. Dia lebih memilih untuk berjalan menuju meja kerjanya daripada mendobrak pintu kesayangannya—bohong—dengan menggunakan X-Burner. Hemat energi, gan.
Menyandarkan tubuh di kursi empuknya, Tsuna memejamkan mata. Bukan berarti ia tertidur.
"Bianchi bodoh. Seenaknya saja mengurungku. Aku ingin mendengar pembicaraan mereka. Lagipula, tidak ada yang bisa kulakukan di sini," monolognya tak lupa dengan mengerucutkan bibirnya ke depan beberapa millimeter, menunjukkan betapa kesalnya ia.
Tangannya merogoh saku celana jeans-nya. Hendak mengambil ponsel.
CLING!
Sesuatu ikut terjatuh begitu ponselnya keluar. Benda bulat kecil dengan warna merah di tengahnya. Tsuna mengambil benda itu dengan hati-hati.
"Ini kan—," sebuah senyum mendekati seringai muncul. "Yosh, aku akan mencarinya."
Tak perlu waktu lama, komputer di depannya dinyalakan. Kacamata frame biru membingkai kedua bola mata bulatnya. Ekspresi serius terpahat di wajah manisnya. Iris karamelnya menelusuri cepat rentetan kata-kata di monitor. Tangannya setia memutar scroll di mouse juga dengan cepat. Seketika, pergerakan jari-jari itu terhenti.
"Uso.."
Matanya terbuka sempurna, sama sekali tidak ada niatan untuk mengalihkan diri dari sebuah pernyataan di depannya.
Di monitor itu, ada sebuah foto dan rincian detail tentang alat pelacak yang ditemukan di kerah baju orang yang berusaha membunuhnya di pantai kemarin. Entah apa yang tertulis di sana, hanya rangkaian huruf dan angka yang hanya orang-orang seperti Tsuna-lah yang bisa mengerti. Pernyataan yang membuat Tsuna terkejut adalah—
"[Dibuat oleh : Irie Shouichi]"
Bibirnya terbuka-tutup berkali-kali. Hendak mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa ia keluarkan. Tubuhnya langsung lemas seketika.
"Tidak mungkin. Tidak mungkin, Irie-kun…"
Menggeram marah. Tangannya mengepal kuat dan meninju meja komputernya.
"Kuso…"
.
.
.
"Mengincar Juudaime?"
Pernyataan ulang oleh Gokudera ini tidak diberi respon apapun oleh Hibari. Pria raven itu menyeruput kopi hitam yang disediakan oleh Bianchi barusan.
"Ya, alasan mereka menyerang kita dulu adalah untuk merebut Tsunayoshi. Masalah mereka akan menggunakan Tsunayoshi untuk apa aku tidak bisa mengatakannya. Menurutku, karena sepuluh tahun yang lalu mereka gagal, mereka akan mencobanya lagi sekarang," dan meletakkan cangkir kopinya di atas meja. Menangkap bermacam-macam ekspresi dari orang-orang di depannya.
"Kalau begitu, kita harus melaporkan ini pada Juudaime," gumam Gokudera setelah berpikir beberapa saat.
"Tidak," sebuah mengintrupsi dari sebelahnya. "Kita tidak akan memberitahu Tsuna, ya kan, Hibari?" Yamamoto menatap Hibari yang tampak sedang memejamkan matanya. Mengabaikan Gokudera yang bertanya-tanya dalam hati.
Hibari mengangguk kecil. "Ya. Jika kita memberitahunya, hanya akan membuatnya menderita."
"Ano," Chrome mengangkat tangannya. "Apa maksudnya dengan membuat Boss menderita?"
"Tidak baik untuk memaksa seseorang membuka ingatan yang sudah disegel. Tsuna akan sakit kepala nanti, Chrome Dokuro," jawab Hibari. Matanya tak lepas dari sebuah buku yang baru dibukanya.
"Lalu, kita harus bagaimana?" sebuah pertanyaan penting diajukan oleh sang samurai.
Hibari terdiam. Membolak-balikkan beberapa halaman bukunya. Ia memandang rekan-rekannya penuh arti.
"Tentu saja, kita akan membereskan mereka tanpa diketahui Tsunayoshi."
.
.
.
TUT—TUT—TUT—
[Nomor yang Anda tuju sedang sibuk, coba—]
Ponsel oranye itu terbanting mengenaskan mengenai dinding di sebelah pintu. Bagian-bagiannya terbuka dan terlepas, hingga baterainya pun keluar. Geraman dari sang pemilik mendramatisir kehancuran ponsel tak berdosa itu.
"Kenapa tidak menjawab, Irie-kun!?" teriakan yang diredam oleh gigitan pada bibir bawahnya. Tsuna mencoba untuk menenangkan diri. Matanya kembali menatap tajam layar monitor komputernya.
Sungguh, ia tidak percaya jika salah satu orang yang dipercayanya ternyata membantu musuh. Ia sangat ingin berbicara pada orang bernama Irie Shouichi itu. Kalau perlu memintanya untuk bertemu sekalian menghajarnya nanti. Apa daya. Ia terkurung di sini. Nomor ponsel Irie yang biasanya langsung diangkat pun tidak tersambung.
"ARGH!"
Ia benar-benar bingung saat ini.
.
.
.
Narita Airport…
"Welcome to Narita Airport"
Suara serak microphone memenuhi bandara yang tampak sangat ramai hari itu. Pramugari, pilot, penumpang, sampai tukang bersih-bersih sibuk ke sana kemari. Di pintu B3, para penumpang yang baru saja turun dari pesawat dengan nomor penerbangan AXF50 rute Italia-Jepang berjalan menuju pintu keluar. Dari sekian banyaknya penumpang yang terlihat buru-buru tersebut, tujuh di antaranya tampak santai membawa barang bawaan masing-masing.
Dengan pakaian aneh, ketujuh penumpang itu langsung menarik perhatian semua orang di dalam bandara.
Salah seorang dari mereka melepas kacamata hitamnya. Sepasang manik lavender seketika memikat orang-orang yang tak sengaja melihatnya. Menyimpan kacamatanya ke dalam saku jasnya, kemudian ia mengambil sebuah arloji bulat dengan ukiran rumit khas western. Senyum misterius dikembangkannya begitu melihat arloji tersebut.
"Sepuluh jam lagi, kita akan bernostalgia. Bocah Vongola."
Melangkahkan kaki berbalut sepatu boot 30 sentimeter dari mata kakinya menuju ke sebuah mobil yang telah terparkir manis tepat di depan pintu masuk bandara. Keenam orang di belakangnya turut mengikuti tanpa berkomentar apapun.
.
.
.
Tsuna adalah orang ternekad.
Ya, kau bisa katakan itu jika melihat apa yang sedang dilakukan Tsuna saat ini.
Yah, berbekal selimut-selimut yang tadinya terlipat rapi di dalam lemari dan kemampuan tali menali yang dia pelajari secara otodidak. Tsuna melaksanakan kenekadannya saat ini juga.
Jendela kamar—yang kebetulan tidak dikunci Bianchi—dibukanya lebar-lebar. Seketika angin berhembus kencang menerpa wajahnya. Melongokkan kepalanya ke bawah. Tidak ada siapapun. Bodyguard, guardiannya, ataupun Reborn. Masih dengan wajah datar, ia berbalik ke tempat tidurnya. Mengambil sekumpulan kain putih yang terlihat keberatan untuknya dan kembali lagi ke jendela. Melongokkan kepala lagi, memastikan benar-benar tidak ada orang. Ia pun melempar kain putih itu keluar. Hingga menyisakan sejumput ujung yang ia pegang. Ujung kain itu ia ikat pada tiang-tiang penyangga tempat tidur. Kemudian, ia melompat keluar jendela dengan berpegangan pada kain putih—selimut yang ia ikat sebanyak 10 buah.
Oke, ini memang bukan novel teenlit.
Ataupun cerita bergenre shoujo.
Tapi, apa yang tertulis di atas itu adalah benar.
Tsuna kabur dengan menggunakan selimut.
Persis di kebanyakan novel yang menceritakan tentang gadis yang kabur dari rumah mewahnya karena tidak mau dijodohkan oleh orang tuanya.
Cukup, kembali ke Tu—Tsuna.
Setelah ia menyusuri selimut yang untungnya panjangnya sampai ke tanah, ia berhasil mendarat dengan selamat sentosa. Perasaan lega menjalari dirinya. Tanpa peduli jika selimut itu terbengkalai begitu saja, Tsuna segera berlari sekencang-kencangnya menuju pintu keluar yang sialnya, ada dua bodyguard yang sedang berjaga.
"Cih," menghiraukan teriakan dua bodyguard itu, Tsuna menabrak mereka hingga tersungkur ke tanah dan terus berlari hingga hilang setelah berbelok di pertigaan.
Dua bodyguard itu berdiri sambil merintih sakit satu menit kemudian.
"Eh, yang tadi itu—,"
"Juu—daime?"
Tik
Tik
Tik
"Juudaime!"
Menyadari bahwa sang boss baru saja meruntuhkan benteng penjagaan mereka, keduanya langsung berlari ke dalam mansion demi menemui sang tangan kanan Juudaime.
.
.
.
BRAK!
"Gokudera-san!"
Gokudera yang sedang menikmati secangkir kopi hitamnya menatap dua orang berpakaian serba hitam—diketahui sebagai 2 penjaga pintu gerbang yang baru saja masuk seenaknya dan mendobrak pintu tanpa perasaan.
"Sudah kubilang kalau kalian ingin masuk ruangan di mansion ini—ruangan apapun—ketuklah pintu dulu," nasihatnya tenang, meski terdapat beberapa urat yang muncul samar-samar.
"Tapi kami punya berita penting!"
Gokuderan terdiam. Meletakkan cangkir kopinya di atas tatakan dan menatap kedua orang itu serius.
"Katakan."
"Juu—Juudaime!"
Kompak. Semua orang di dalam ruangan itu, tanpa terkecuali mengalihkan perhatian pada dua orang yang masih terengah-engah dengan bermandikan keringat yang sungguh sangat bau.
"Juudaime baru saja kabur!"
.
.
.
"Hah.. Hah.. Hah.."
Lelaki bersurai biru tua dengan senyum gembira yang sangat lebar di wajahnya, tengah berlari menembus orang-orang di koridor kantornya. Menabrak cleaning service yang sedang mengepel lantai, menabrak wanita yang sedang minum kopi sambil berkaca, bahkan menabrak atasannya sendiri yang sedang berbicara dengan client. Rasa takut akan dimarahi banyak orang ataupun dipecat dari pekerjaannya sebagai karyawan di perusahaan ternama seakan hilang. Ia tidak peduli. Benar-benar tidak peduli.
Sepuluh meter mendekati pintu keluar lobby, ia melompat. Ia hiraukan segala keringat yang mengucur deras dari tubuhnya yang membuat semua orang yang melihatnya merasa jijik. Dengan napas terengah-engah, ia meraih ponselnya yang berdering.
"Hai."
[Kami sudah sampai. Bisakah kau ke tempat biasa?]
"Ya. Tentu saja. Saya ke sana sekarang juga."
[Hati-hati. Jangan biarkan siapapun mengikutimu. Aku bergantung padamu.]
"Baik, terima kasih. Byakuran-sama."
Tangan kirinya melambai-lambai ke jalanan aspal. Sebuah taksi berhenti tepat di depannya. Kebetulan taksi itu sedang kosong, ia pun masuk dan duduk di dalamnya.
"Anda ingin pergi ke mana, Tuan?" tanya sang sopir taksi.
"Cepat pergi ke SMP Namimori!"
.
.
.
Tuk
Ponsel flip berwarna putih keunguan ditutup cepat. Sekejap sudah dimasukkan kembali ke dalam saku jubah hitamnya. Sang pemilik mengalihkan pandangannya ke luar jendela limosine yang sedang membawanya beserta keenam rekannya.
Manik lavendernya tidak sengaja menangkap pemandangan sebuah toko 24 jam di seberang jalan. Di sana ia melihat sesuatu yang menurutnya menarik. Tanpa pikir panjang, ia menyuruh salah satu rekannya yang posisi duduknya tepat di belakang sopir untuk menghentikan mobil.
"Byakuran-sama mau ke mana?" tanya seorang gadis bersurai biru. Tatapannya sarat akan rasa curiga.
Pria itu tersenyum. "Ada sesuatu yang harus kubeli."
"Ingin ditemani?" tanya lelaki bersurai hijau pupus di sebelahnya.
"Tidak."
Pria itu pun melenggang pergi menjauhi mobil limousine-nya. Pandangannya lurus menuju sebuah toko 24 jam yang minimalis itu.
"Selamat datang."
Tanpa menghiraukan sang penjaga toko yang langsung menyapanya begitu ia memasuki toko tersebut, ia bergegas menuju tempat benda yang diinginkannya. Susu. Susu coklat. Seulas senyum ia kembangkan. Segera ia mengambil salah satu dari berates-ratus susu kotak yang ada dan membayarnya ke kasir. Lalu, ia pun kembali ke mobilnya.
Ia tidak tahu, jika penjaga toko tersebut secara diam-diam mengambil potret dirinya secara jelas dengan kamera tersembunyi di bingkai kacamatanya.
.
.
.
Sosok pemuda bersurai karamel-oranye itu mempercepat langkah kakinya. Berharap salah satu dari orang-orang berjas hitam yang juga sedang berlari beberapa ratus meter di belakangnya tidak akan menangkapnya. Orang-orang di trotoar yang tidak bersalah mengucapkan berbagai macam protes kepadanya. Jujur saja, ia tidak peduli. Walaupun akan dicap sebagai bocah yang tidak tahu sopan santun, ia akan tetap berlari. Ke mana saja asalkan tidak ditemukan oleh anak buahnya. Setidaknya untuk saat ini.
Pria di atas usia 30 tahunan itu dengan santai menunggu pintu otomatis toko 24 jam yang baru saja ia singgahi terbuka.
Ting!
Pintu kaca itu perlahan-lahan memisahkan diri, terbagi menjadi 2 bagian. Sang pria melangkahkan kakinya. Dan suatu hal yang tidak ia sangka—mungkin—terjadi.
BRUK!
Sesosok tubuh mungil menabraknya. Dari samping kiri dengan cukup keras. Beruntung ia salah seorang yang cukup kuat. Sehingga ia tidak perlu merasakan bagaimana rasanya tubuhnya berciuman dengan trotoar.
Berbeda dengan sosok yang menabraknya. Sosok itu langsung terbaring dengan tidak elitnya dengan bagian bawahnya yang mencium trotoar tercinta terlebih dahulu. Namun, apa daya. Akibat kepalanya menabrak jubah sang pria yang tidak disangka agak sedikit keras, hidungnya memerah. Semoga tidak ada pendarahan.
Sang pria yang sudah mampu mengatasi keterkejutannya menatap sosok itu dengan seksama. Tangannya terjulur untuk menyentuh tubuh mungil itu.
"Kau tidak apa-apa?"
Sosok mungil itu bangkit perlahan dengan menahan rasa sakit. Sebelah tangannya yang ia rasa tidak terluka terangkat untuk meraih tangan yang hendak membantunya.
"Hai."
Sejenak, sang pria tertegun. Ia kembali menatap sosok itu lebih teliti. Rambut karamel-oranye dengan bentuk melawan gravitasi layaknya duri-duri. Mata bulat dengan iris karamel yang senada dengan rambutnya. Pipi gembul yang mungkin enak dicubit. Kulit putih yang terlihat sangat halus. Tubuh mungil yang jauh berbeda dengan orang biasa dan terlihat lemah. Juga, sebuah cincin perak yang dikaitkan pada sebuah rantai yang diikat melingkar di lehernya.
Tidak salah lagi.
Ini adalah dia.
Pria itu menarik tangan mungil digenggamannya hingga sang pemilik berhasil berdiri sempurna. Sosok imut itu meringis kesakitan saat merasakan ada yang salah tubuhnya. Sepertinya beberapa bagian tubuhnya membentur trotoar cukup menyakitkan.
"Sumimasen. Aku menabrakmu dengan tiba-tiba," sosok itu—pemuda manis itu membungkuk untuk meminta maaf pada pria di hadapannya yang saat ini menatapnya intens.
Sang pria menyeringai. Kedua tangannya ia bawa untuk meraih bahu pemuda itu. Sedikit menariknya ke atas hingga berhadapan langsung dengan manik karamel yang memancarkan rasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Bagaimana keadaanmu, kau baik-baik saja kan?"
Pemuda itu mengangguk. "Ya, tapi mungkin ada yang terluka. Aku tidak tahu."
"Kalau boleh tahu, kenapa kau berlari tadi?" tanya pria itu lembut tak lupa dengan senyum yang menenangkan.
Pemuda itu terdiam. Memalingkan wajahnya ke samping. Enggan untuk memberi jawaban walaupun hanya sekedar 'Ya'.
"Kau dikejar seseorang?"
Pemuda itu menggeleng. Masih tidak mau berhadapan dengan pria di depannya. Kini menunduk.
"Kau kabur dari rumah?"
Kali ini, pemuda itu sedikit tersentak. Terlihat ia langsung gelisah. Gelagat anehnya ini sungguh tertangkap dengan jelas oleh pria dewasa itu.
"Sou ka," pria itu terkekeh. "Jadi, kau kabur dari rumah dan sekarang sedang dikejar oleh keluargamu?"
Pemuda itu mengangkat wajahnya sedikit menatap sang pria yang masih setia dengan senyum lembutnya—katakanlah itu seringai tersembunyi. Lalu, kembali menunduk. Sebuah anggukan diberikannya sebagai respon.
"Um, bisa dibilang begitu."
Genggaman sang pria di bahu si pemuda mengerat. Sebuah senyuman yang lebih mirip seringai bak penjahat ia bentuk di bibirnya yang saat ini tiba-tiba mengering. Membuat sosok di depannya bergidik ngeri, seolah ia tengah berhadapan dengan iblis. Getaran kecil tak dapat dicegahnya.
"Jangan takut. Ikutlah denganku."
Kedua telapak tangan terbalut kulit putih itu kini berpindah ke masing-masing pipi pemuda itu. Digerakkan perlahan membentuk gerak mengelus.
"Sawada Tsunayoshi."
.
.
.
Suasana di bangunan ala Victoria yang sama sekali tidak terlihat termakan usia benar-benar kacau. Semua orang berlarian ke sana kemari. Ya, benar. Mereka tengah mencari sesuatu—seseorang tepatnya.
Pintu setiap ruangan dibuka paksa, bahkan ditendang hingga terlepas dari engselnya. Semua lemari dibuka dan dibuang segala isinya. Lantai-lantai diraba-raba mencari kemungkinan adanya pintu rahasia. Celah-celah kecil diintip walau hanya terlihat sedikit. Hingga semua hiasan rumah ditelurusi. Demi mencari sosok mungil yang menghilang hampir 3 jam lalu.
Kalian pikir boss kalian itu hewan kecil yang suka bersembunyi di tempat-tempat yang tidak mungkin bisa dimasuki manusia?
—Ah, abaikan saja pernyataan tidak jelas ini. Tapi, ingat. Deskripsi di atas benar-benar terjadi. Author jarang—sering—berbohong.
Bagaimana dengan para guardian?
Oh, ternyata mereka sudah menyebar ke seluruh penjuru Jepang. Gokudera ke sekitar rumah Juudaime-nya. Yamamoto dan Lambo ke taman bermain. Huh? Ryohei ke tempat-tempat latihan beladiri terdekat. Eh? Chrome ke hutan. Sedangkan Hibari hanya berlari menuju pusat kota yang banyak terdapat toko-toko di samping kanan kiri. Terus hingga mencapai daerah pemukiman padat penduduk. Entahlah, ia punya firasat kekasihnya akan menuju jalan yang lumayan dikenalnya.
Masyarakat memandang mereka aneh. Bagaimana tidak? Sepanjang perjalanan pencarian, mereka terus memanggil nama sang boss kesepuluh. Tidak peduli walau tenggorokan mereka hampir kering dan butuh asupan cairan pengganti ion.
"Cari Juudaime meski harus mengorbankan nyawa!"
.
.
.
To be continued
A/N : maaf, EYD sedang tidak berlaku di sini. Jujur, saya maunya gak berurusan sama EYD. Mikir EYD jadi keinget sama guru di sekolah yang setiap pelajaran pasti nyuruh buka EYD. Ane bosen liat EYD terus, gan.. -_-
Err, yah, pokoknya selamat membaca aja, ya minna.. :v)/
