Bleach don't belong to me

Ulquiorra and Orihime are Kubo Tite's

This story is mine.


Mannequin's Charm

Orihime kecil hanya punya satu permohonan dalam hidupnya, yaitu ia ingin memiliki sebuah keluarga. Lalu sebuah boneka manekin berwujud seorang lelaki berambut hitam dengan tubuh ramping, kulit pucat, memiliki alur berwarna hitam menyerupai air mata bertengger di masing-masing pipinya dan sosok itu, telah membuatnya terpesona. Tetap bungkam dalam diam, kesunyian apa yang dapat menghangatkan Orihime?


Bertahun kemudian, Orihime beranjak dewasa menjadi gadis yang baik nan cantik jelita. Ia tumbuh bersama dengan satu-satunya keluarganya, yang tak lain adalah sebuah manekin. Aneh memang, mungkin bagi orang lain, ini adalah hal yang bodoh atau apapun itu tapi tidak bagi Orihime. Dari awal setelah gadis bersurai merah-jingga itu membawa si manekin dan menjadikannya temannya, sahabatnya dan keluarganya, setiap hari Orihime selalu bermain dengan sang manekin, mengelapnya sehingga tetap bersih, membuatkannya baju, memberinya nama, bermain rumah-rumahan, minum teh sampai bercerita tentang kehidupannya, tentang teman-temannya atau tentang sekolahnya dan kegiatan-kegiatan tersebut terus berlangsung sampai sekarang, pokoknya memperlakukan manekin tersebut sebagaimana mestinya seseorang manusia.

Memang tak pernah sekalipun manekin itu menjawab Orihime atau memberikan timbal balik dari perlakuannya, karena memang dari awal pun Orihime tidak mengharapkannya. Meski begitu Orihime merasa bahagia. Bisa menceritakan segala keluh kesahnya pada seseorang dan mendapati seseorang atau 'sesuatu' itu menemaninya saja terasa sudah cukup menenangkan. Dan Orihime tidak akan pernah takut untuk merasa dikhianati, disakiti atau bahkan ditinggalkan, karena seseorang itu akan tetap menemaninya, selamanya. Karena dari kecil Orihime hanya punya satu permohonan dalam hidupnya, yaitu ia ingin memiliki sebuah keluarga.

Tak terasa sudah 7 tahun lamanya sang gadis menghabiskan hidupnya dengan sebuah manekin yang diberi nama Ulqui. Orihime menemukan hal-hal baru tentang Ulqui seperti kulitnya yang terbuat dari porselen ringan itu membuatnya terasa dingin di malam hari dan hangat di siang hari juga menyadari bahwa siku-siku Ulqui bisa ditekuk sehingga bisa di reposisikan untuk sekedar menyeimbangi aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan gadis itu. Seperti pesan sahabatnya dari 7 tahun lalu sampai sekarang, yaitu jangan sampai orang-orang tahu mengenai kehadiran Ulqui, biarkan saja menjadi misteri dan Orihime menyetujui. Meski lama-lama gadis itu merasa greget ingin mengajak Ulqui jalan-jalan, toh jika didandani sedemikian rupa dan dengan akting yang meyakinkan, tidak akan ada yang menyangka bahwa Ulqui bukanlah manusia. Postur tubuh Ulqui benar-benar menyerupai manusia asli dengan gurat wajahnya saja sudah terasa sangat nyata. Jadi bahkan Orihime pun terkadang bisa lupa bahwa sosok di depannya adalah seorang manekin. Apapun tentang sosok itu, kini saat Orihime memandangnya dari sudut pandang seorang gadis yang bisa dibilang sudah dewasa, terasa begitu nyata. Orihime selalu tertegun ketika mengamati wajah itu. Manekin yang mewujud sebagai seorang lelaki berambut hitam, tubuh ramping, kulit pucat, sebuah alur berwarna hitam menyerupai air mata bertengger di masing-masing pipinya dan sosok itu, sungguh cantik. Seakan penciptaannya diprakarsai oleh seorang seniman professional sehingga jika hanya sekilas pasti orang-orang akan salah mengenalinya sebagai manusia normal yang hidup. Semburat rona merah muda tipis muncul di pipi si gadis ketika memandangnya.

Orihime sering merangkulkan dirinya pada Ulqui seolah itu hal yang biasa, meski Ulqui tak pernah balik merangkulnya, dan tak jarang gadis itu terlelap bersama sang manekin. Tidak peduli seberapa ide gilanya itu untuk membentuk sebuah keluarga yang terdiri dari seorang atau 'sebuah' manekin yang tak hidup. Orihime selalu merawat keluarganya itu dengan kasih sayang dan merasa bahagia. Sampai pada suatu saat itu Orihime merasa lelah dan tidak tega melihat Ulqui yang seperti terkurung di rumahnya.

"Ulqui, apa kau mau jalan-jalan? Kau pasti bosan selalu berada di rumah." Ucap Orihime sambil terduduk menatap langit-langit, kepalanya menyender ke bahu Ulqui. "Aku ingin jalan-jalan, bersepeda, berbelanja dan pergi ke bioskop bersama denganmu. Itu pasti akan sangat menyenangkan! Benar kan?" Lalu dengan bersemangat ia menoleh ke arah Ulqui saat ide gila menerpanya untuk kesekian kali. "Hei, bagaimana kalau kita lakukan itu? Seperti yang selalu kita rencanakan, kau mau kan?"

Hening.

Lalu Orihime meringkuh dan cemberut, merosot di kursinya. "Tapi pasti bisa ketahuan." Saat pikirannya yang berkecambuk sedang menari-nari ria, bergelut dengan keinginnannya, mata Orihime kembali berbinar. "Kita lakukan saja, Ulqui! Bukankah selama ini dewi keberuntungan berada di sampingku?" Orihime memanggil memorinya kembali ke masa ia kecil, hampir terlupa akan ibu peri baik hati yang sepertinya selalu menjaganya. "Semuanya pasti akan baik-baik saja." Ia menoleh dan meraih kedua tangan Ulqui yang dingin dan kaku lalu Orihime memeluk Ulqui singkat sambil mendendangkan "Oh, bahagianya."

"Tunggu sebentar." Katanya lagi sampai bergegas dan berlalu ke dalam kamar. Sesaat kemudian Orihime menopang banyak barang di lengannya dan tak berapa lama Ulqui sudah didandani sedemikian rupa sehingga sama sekali tak bisa dibedakan dengan pemuda manusia pada umumnya. Orihime memakaikan sepatu roda pada kakinya agar Ulqui lebih mudah diajak 'berjalan', dengan memakai jeans dan kaos bermantel, Orihime menyelipkan sebuah syal di leher Ulqui sampai menutup sebagian wajah bawahnya. Lalu sentuhan terakhir adalah memakaikan Ulqui kacamata. Yang semuaya merupakan barang milik mendiang kakaknya yang sudah lama disimpan Orihime. "Selesai!" Orihime tersenyum puas atas hasil karyanya.

XXX

Siang itu Orihime benar-benar menikmati harinya. Hal pertama yang dilakukan adalah berbelanja. Memang agak sulit menyeimbangkan tubuh Ulqui dan menyeretnya dengan sepatu roda, namun karena tubuh manekin yang kaku dan tegak sehingga Orihime hanya perlu menopang beban tubuh Ulqui dengan menempatkan tangan Ulqui di bahu sang gadis dan lengannya mendekap pinggang Ulqui sehingga mereka tampak seperti pasangan kekasih yang berbahagia sepanjang perjalanan. Tak ada yang terlalu memperhatikan karena balutan pakaian Ulqui menutupi hampir seluruh bagian tubuh manekinnya yang menunjukan bahwa penyamarannya berhasil. Orihime mengajak Ulqui berkeliling ke pusat perbelanjaan, memilih baju, melihat-lihat aksesoris dan sebagainya. Selanjutnya adalah menonton film di bioskop, Orihime senang sekali ketika dapat menggandeng lengan seseorang atau 'sesuatu' di sampingnya itu, karena Orihime tidak akan merasa sendirian lagi di ruang yang gelap ditengah kerumunan orang. Setelah hari semakin sore, sebelum pulang Orihime mengajak Ulqui untuk berjalan-jalan di sebuah taman yang tak jauh dari rumahnya. Merasa sedikit lebih aman, Orihime melepas syal Ulqui, membuat bagian wajahnya terekspos dengan sempurna. Lagi-lagi, Orihime merona saat melihat wajah itu. Entah apa yang terjadi dengan dirinya, memang.

Ketika Orihime sedang menyenderkan tubuh Ulqui ke bangku taman, sekelompok gadis yang lewat rebut berbisik sambil memperhatikan ke arahnya, tidak, tepatnya kearah Ulqui, dengan terang-terangan mengagumi sosok yang mereka anggap sebagai seorang pemuda normal. Ya, mereka kan tidak tahu. Benar saja kan apa yang diprediksi Orihime, orang-orang tidak akan ada yang menyangka kalau sosok di sampingnya itu adalah sebuah boneka manekin yang tak bernyawa, namun meski begitu tetap saja Orihime menggembungkan pipinya dalam sebal sambil melingkarkan lengannya ke lengan Ulqui sebagai proteksi dan pernyataan bahwa mereka saling memiliki. Saat melihat wajah kecewa gadis-gadis itu, Orihime ternyenyum lebar penuh kemenangan.

Seperti apa yang dilakukannya sehari-hari di rumah, Orihime pun melakukan perbincangan sepihak, karena tak pernah ada jawaban dari pihak lawan bicaranya itu. Tak puas dengan semua yang telah 'mereka' lalui, Orihime mengeluarkan handphonenya. Ia perlu pembuktian, pikirnya. Seperti ketika para pasangan muda lakukan saat kencan pertama mereka, seperti yang telah membuat Orihime selama ini merasa iri, gadis itu berpose disamping Ulqui yang tetap diam dan dingin untuk berselfie. Orihime melihat refleksinya dalam layar handphone dan merasa puas, sungguh natural sekali foto mereka, dan sungguh ajaib memang, ketika Ulqui disana terasa nyata. Sekali lagi gadis itu mengambil foto, kali ini Orihime berpose dengan mengecup pipi Ulqui.

Saat sibuk memandangi foto dalam handphone sambil berblushing ria, Orihime terlonjak ketika seseorang menepuknya dari belakang.

"Apa yang kau lakukan disini, Orihi- hey! Kau kan tidak perlu bersikap seperti melihat hantu begitu!" suara familiar menyapanya.

"Aaahh, Tatsuki-chan kau mengagetkanku!" lega Orihime ketika melihat wajah sahabatnya.

"Aku melihatmu bersama seseorang jadi aku pe-, DIA!" Teriak Tatsuki dengan tiba-tiba ketika melihat Ulqui, sambil menunjuk pada sosok familiar itu.

Dengan segera Orihime menghentikan Tatsuki, "Sssst!"

"Apa yang kau- hei aku kan sudah mengingatkan untuk tidak-" ucapan Tatsuki dipotong oleh Orihime, "Aku mengerti, tapi tidak akan terjadi apa-apa Tatsuki-chan, semuanya berjalan lancar. Lihat! Aku membuatnya seperti itu sehingga tak akan ada satu orang pun yang mengenalinya. Hahaha." jelas Orihime.

Tatsuki hanya bisa mendesah, "Terserahmu saja, Orihime." Orihime menyunggingkan senyum bahagia sekaligus terimakasih.

"Tapi apa yang kau lakukan ini sungguh sembrono, bagaimana ka-" ucapan gadis tomboy itu dipotong lagi saat Orihime menyodorkan handphonenya.

"Bisa tolong fotokan kami berdua, Tatsuki-chan. Aku tak puas jika hanya selfie." Pinta Orihime dengan polosnya, tak menyadari situasi apa yang sedang berlangsung.

Tatsuki memelototi gadis itu. "Ayolah Tatsuki-chan. Ini adalah kejadian langka, aku bisa saja tidak akan pernah membawa Ulqui seperti ini lagi…" jujur Orihime saat akhirnya menyadari pasti sahabatnya itu tak akan pernah membiarkan kejadian ini terulang untuk kedua kalinya.

Tatsuki memutar mata. "Baiklah. Tapi janji, setelah itu kau pulang!" Tatsuki akan selalu membela dan mendukung sahabatnya, tak peduli seberapa gilanya ide yang selalu muncul di otak gadis bermanik abu itu, tak lain karena Orihime selalu tampak sumringah saat berada bersama dengan teman manekinnya.

"Siaaap!" seru Orihime sambil bergegas memberdirikan Ulqui dan mengambil pose di pinggir air mancur sebrang tempat duduknya.

Belum saja Orihime menyuarakan 'Cheese', Tatsuki mengambil beberapa langkah maju dan menghampiri Orihime. Sebelum Orihime sempat protes, Tatsuki memasang wajah waspada. "Dengar, sepertinya ada yang tidak beres disini." Kata gadis berambut hitam pendek itu.

Sontak Orihime terdiam, "Ada apa?"

"Orang itu, sepertinya daritadi dia memperhatikanmu." Bisik Tatsuki sambil memberi isyarat. Lalu Orihime menoleh dan matanya melebar. "Orang itu! Aku beberapa kali berpapasan dengannya saat di pusat perbelanjaan, lalu di luar bioskop dan sesaat lalu di arah masuk taman ini. Aku juga merasa aneh kenapa dia-"

"Bodoh! Sudah pasti orang itu mengikutimu."

"Ha? Kenapa?" Tanya Orihime, heran.

"Tatsuki melirik manekin yang sedang di rangkul Orihime, pasti ada hubungannya dengan dia."

Orihime mengikuti arah lirikan Tatsuki lalu menelan ludah.

"Ah, Orang itu mendekat. Dengar, Orihime, aku akan menahannya, siapapun orang itu. Kau, pergilah menyelinap dan masuk ke rumahmu lalu kunci rapat-rapat."

Tanpa ada bantahan Orihime mengangguk. Dia pun tahu bahwa ini akan sedikit serius. Sehingga saat Tatsuki melangkah maju, Orihime berpura-pura sedang beraktivitas dan mengobrol dengan Ulqui, lalu ketika ia mendengar Tatsuki sibuk bicara dengan orang itu, Orihime menyelinap pergi dan melakukan semua hal yang disuruh oleh gadis tomboy tersebut.

x

x

x

To be Continued...


Terima kasih sudah membaca dan mereview^^

Berbagai saran dan semangat yang datang sungguh berharga, jadi terus review yaa...

See you in next chap~