Bleach don't belong to me

Ulquiorra and Orihime are Kubo Tite's

This story is mine.


Mannequin's Charm

Orihime kecil hanya punya satu permohonan dalam hidupnya, yaitu ia ingin memiliki sebuah keluarga, meski itu sebuah boneka manekin berwujud seorang lelaki berambut hitam dengan tubuh ramping, kulit pucat, memiliki alur berwarna hitam menyerupai air mata bertengger di masing-masing pipinya dan sosok itu, yang kemudian membuatnya terpesona. Tetap bungkam dalam diam, kesunyian apa yang dapat menghangatkan Orihime?


"Hhhhhhhh…" desah Orihime sesaat setelah mengunci rumahnya. Ia tak paham dengan apa yang barusan terjadi tapi saat menoleh kearah sosok Ulqui disampingnya, gadis itu tersenyum lalu berbisik, "Menyenangkan bukan?"

Berapa lama kemudian, Orihime tengah melepaskan pakaian bepergian Ulqui, saat handphonenya berdering menunjukan pemanggil yang tak lain adalah sahabatnya, Tatsuki.

"Hallo Tatsuki-chan, kau tidak apa-apa?" Orihime langsung menanyakan keadaannya dengan kahawatir.

"Lupakan aku, Orihime, ini gawat. Tentang manekin itu…"

"Kenapa dengan Ulqui?" Tanya Orihime heran.

"Sepertinya paman yang ditaman tadi adalah salah seorang pengelola museum yang pernah kita kunjungi dulu, kau ingat? Tempat asal manekin itu." Jelas Tatsuki.

Hati Orihime mencelos, sedikit bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini. Meski begitu ia tetap bertanya, "Lalu?"

"Jadi, dia tidak sengaja melihatmu dengan manekin itu. Dan saat dia melihat si manekin, samar-samar paman itu seperti mengenalinya makanya dia mengikuti kalian." Rehat sejenak, "Jadi beberapa tahun lalu, museum itu heboh karena salah satu barang berharga milik mereka tiba-tiba lenyap. Tapi sepertinya kehebohan itu tetap dirahasiakan. Makanya dalam panik, si paman berharap akan menemukan sesuatu jika mengikutimu. Sepetinya dia curiga bahwa manekin yang dicarinya itu adalah orang yang bersamamu," Jelasnya, lalu bergumam menambahkan, "yang memang iya sih."

"J-jadi?" Orihime mulai gugup.

"Paman itu bersikeras ingin bertemu dengan kalian, katanya hanya ingin memastikan. Tapi aku menolak memberitahu rumahmu dan sekarang aku berhasil kabur dari dia. Kau harus berhati-hati, Orihime. Bisa saja dia mencari alamatmu karena dia sudah mengenali wajahmu. Hal ini bisa jadi buruk seperti mereka bisa saja datang ke rumahmu dan menginvasi rumahmu, dan jika mereka benar-benar menemukan manekin itu.." Terdengar Tatsuki pause sejenak untuk menelan ludah, "Hal yang paling buruk adalah mereka akan mengambil boneka itu, dan yang lebih paling buruknya lagi adalah mereka bisa menangkapmu atas tuduhan pencurian." Jelas Tatsuki.

"Tidak.. mungkin." Lirih Orihime dalam kaget.

"Orihime kau masih disana?"

"I..iya. Apa yang harus aku lakukan Tatsuki-chan, aku tidak mau mereka membawa Ulqui.."

"Aku mengerti bagaimana perasaanmu, karenanya kita buang saja manekin itu." Sarannya.

"Apa?"

"Ya, kita hilangkan saja barang bukti, kau buang atau tidak, tetap saja pada akhirnya manekin itu harus pergi."

"Tidak!" Bantah Orihime.

"Dengar, Orihime. Aku tidak akan membiarkan mereka menangkapmu karena it-"

"Aku tidak mau berpisah dari Ulqui!" Jerit Orihime. Setelah itu ia memutuskan sambungan telepon, meninggalkan Tatsuki yang sedang cemas.

Orihime membekap mulutnya tidak percaya, lalu menoleh ke arah manekin yang sedari tadi terdiam, hanya mendengarkan. Tak sadar, air mata mengucuri pipi gadis berambut merah-jingga itu. Lalu Orihime berlari ke arah Ulqui yang terduduk tenang di kursi dan merangkulnya. "Ini salahku. Apa yang harus kulakukan Ulqui?" Ucap Orihime sambil menangis. "Aku tidak mau berpisah denganmu.."

XXX

Beberapa hari berlalu, belum ada tanda-tanda seseorang akan menginvasi rumahnya, tapi tetap saja Orihime harus waspada. Berkali-kali ia memikirkan jalan keluar untuk masalah ini, berkali-kali Tatsuki membujuknya untuk membuang sang manekin, menguburnya di tanah sedalam mungkin, menghanyutkannya di sungai, membuangnya ke laut atau membakarnya hingga tak ada jejak, tapi Orihime tetap tegas pada pendiriannya.

"Aku sudah bersama Ulqui selama 7 tahun, bagaimana bisa aku melepaskannya begitu saja? Dia adalah keluargaku." bela Orihime.

Orihime beberapa kali berpikir untuk pergi dari Kota Karakura dan pindah ke kota lain bersama Ulqui, namun hidup dalam pelarian tidak akan semudah itu. Orihime menggigit bibir bawahnya, ia tidak punya uang dan tak punya pula tempat untuk dituju.

"Itu hanya sebuah manekin, Orihime, kenapa kau malah membuat sebuah drama kehidupan seperti itu? Pilihannya mudah, buang saja benda itu, atau hey! Kita jual saja, kudengar benda itu mahal sekali, tidak tunggu dulu, jika begitu malah akan membuat bukti." Pikir Tatsuki.

"Ulqui sangat berharga bagiku, Tatsuki-chan. Aku menolak segala saran yang akan membuatku dan Ulqui berpisah." Jelas Orihime, tegas.

Tatsuki memandang wajah mantap sahabatnya, lalu matanya melebar dalam pemahaman. "Ini gila Orihime, jangan bilang kau… jatuh cinta pada patung boneka yang tidak bernyawa itu?"

Orihime hanya bisa merona dalam diam.

Melihat reaksi sahabatnya, Tatsuki tenggelam dalam frustasi. "Oh, ya ampun." Tetap rasional, Tatsuki menggenggam kedua bahu Orihime. "Dengar Orihime, dari awal ketika kau membawa manekin itu kesini saja sudah terasa sangat ganjil, saat dipikir lagi sekarang, bagaimana bisa seorang anak berhasil membawa keluar sebuah manekin berukuran manusia dewasa, membawanya tanpa seorang pun memergoki, itu tidak masuk akal! Jelas ada sesuatu tentang manekin itu!"

"Aku tidak tahu Tatsuki-chan, hal pertama yang muncul di benakku saat itu hanya pertanyaan seberapa kesepiannya Ulqui saat terdiam seorang diri di ruangan gelap itu, sama sepertiku yang tidak punya siapa-siapa."

Tatsuki melongo, tak pernah tahu bahwa gadis di depannya merasakan hal seperti itu sehingga Tatsuki menarik tubuh Orihime dalam pelukan.

"Kau bicara apa? Aku selalu ada disini." Bisik Tatsuki, merasa sedih campur lara ketika mendapati curahan hati sahabatnya, rasa kesepian yang menuntun Orihime sampai-sampai jatuh cinta pada sesuatu yang tak seharusnya.

"Terima kasih, Tatsuki-chan." lirihnya Orihime sambil balik memeluk Tatsuki.

Ketika Tatsuki akhirnya menyerah meyakinkan gadis itu, seperti malam-malam yang lain, Orihime hanya ditinggalkan berdua di tengah malam dengan manekinnya yang sedang terduduk di sebuah sofa, seperti biasa, dengan santainya. Orihime memperhatikan manik hijau sang manekin, manik yang selalu terbuka namun tak pernah sekalipun mata itu memandang memantulkan bayang sang gadis. Orihime memandang rambut hitamnya yang terasa sangat halus hampir seperti nyata. Sambil melangkah mendekat, Orihime memperhatikan telinga yang gadis itu pun tak pernah tahu apakah dapat mendengar segala ceritanya selama ini. Sampai pada akhirnya ia merebahkan diri disamping sang manekin, sambil meraih jemari Ulqui yang selalu digenggamnya tapi tak pernah sekalipun menggenggam balik. Orihime membenamkan wajahnya di bahu keras sang pemuda manekin lalu menengadah untuk menatap kembali wajah itu. Terakhir, Orihime memandang mulut yang tak pernah sekalipun membisikan namanya. Orihime menangis. Ia menelusurkan jemarinya yang bebas pada bibir keras pemuda itu, yang selalu membentuk garis cemberut.

Orihime kecil sampai saat ini, hanya punya satu permohonan dalam hidupnya, yaitu ia ingin memiliki sebuah keluarga. Namun sekarang ia memiliki permohonan lain, yaitu ia ingin memiliki sosok di depannya sebagai seseorang yang nyata, bukan sesuatu yang bisu, kaku tak bernapas…

Karenanya, terbawa suasana juga, Orihime meraih kedua pipi keras nan dingin pemuda manekin itu, memandang mata mati di depannya lekat-lekat sebelum akhirnya menempelkan bibirnya di bibir yang dingin dan keras itu, sambil air matanya tetap menetes. Sang gadis memeluk erat sang manekin tanpa harapan dipeluk balik dan mencium pemuda manekin itu tanpa harapan dicium balik. Namun sambil terisak, Orihime tak menyadari perubahan yang terjadi..

Tubuh yang semula dingin semakin menghangat, lengan yang sebelumnya kaku menjadi semakin fleksibel, dan bibir yang semula keras dan dingin pun semakin menghangat dan melembut. Orihime tenggelam dalam sensasi itu. Menyenangkan dan menenangkan, ia terhanyut dalam kelembutan dan kehangatan dan sensasi ketika pada akhirnya lengan-lengan jenjang menggenggam tubuhnya. Orihime larut dalam pelukan dan ciuman Ulqui yang semakin dalam dan terasa nyata sekali, tunggu dulu. Pelukan? Ciuman? Bagaimana bisa?

Kenyataan itu menghantam Orihime sehingga dengan seketika ia membuka matanya dan melepaskan ciumannya. Alangkah kagetnya sang gadis, ketika mendapati sepasang mata yang memandangnya hangat, memantulkan bayangan dirinya yang sedang shock.

Namun, tanpa mengacuhkan kekagetan sang gadis, seorang pemuda yang secara tiba-tiba kini ada didepannya melanjutkan apa yang sesaat lalu tengah berlangsung. Pemuda itu mencondongkan tubuhnya dan menangkap bibir sang gadis, melumatnya, merasakan kembali sensasi itu. Hangat, lembut, lembab.. basah. Dan ketika Orihime kembali bergabung dengannya, gadis itu merasa semakin hangat, semakin lembab dan semakin basah ketika seseorang yang mendekapnya kini memperdalam ciumannya.

Beberapa menit berikutnya, saat kesadaran kembali menghantam Orihime, gadis itu sepenuhnya membatu sambil melongo. "Ulqui?" bisiknya diantara bibir Ulqui, dalam ketidak percayaan.

"Ulquiorra." Ucap pemuda itu untuk pertama kali.

Kedua manik abu Orihime yang masih menitikan air mata melebar, mendengar suara berat dan serak untuk pertama kalinya.

"Namaku ulquiorra." Ucap pemuda itu lagi.

Dengan masih tertegun, Orihime mengembalikan jemarinya menyentuh pipi berwarna pucat itu, terasa lembut dan hangat sekarang.

"Bagaimana bisa?"

Merasakan hangatnya telapak tangan sang gadis di pipinya, Ulquiorra menutup matanya, sebelum membukanya kembali untuk memandang manik abu yang penasaran itu sambil meraih satu tangan Orihime untuk dibawa ke bibirnya. Dengan jarak sedekat itu, Ulquiorra dapat dengan jelas melihat semburat rona merah yang beriak menghiasi pipi si gadis sebelum akhirnya memberikan ciuman singkat sekali lagi.

Sesaat setelah melepas bibir Orihime, pemuda itu berbisik, "Seharusnya kau melakukan ini lebih cepat."

"A-apa?"

"Ciuman." Dengan jarak sedekat itu, Orihime mampu merasakan hembusan napas sang pemuda yang hangat dan lembab, membuat wajahnya yang sudah merah semakin gelap. "Kau pasti tahu, sebuah kutukan hanya bisa dipatahkan dengan ciuman, kan?"

Orihime tertegun sebentar lalu bergumam dengan cepat, "Apa maksudmu? Apa yang terjadi? Bagaimana bisa? Kena-" Pertanyaan bertubi itu terhenti ketika Ulquiorra menempatkan satu jarinya di bibir lembab Orihime. "Apa kau ingin membuatku bercerita panjang lebar tepat setelah aku baru saja mendapatkan kemampuan bicara ini lagi untuk pertama kali?"

Orihime segera menggeleng.

"Gadis baik." Ulquiorra mengelus kepalanya sambil mendekap Orihime dalam peluknya.

Orihime yang merasa semua ini adalah salah satu ilusi mimpinya yakin bahwa dirinya telah terlelap sedari tadi sehingga dunia manis itu menjanjikan kejadian manis ini. Sehingga saat merasakan peluk hangat itu untuk pertama kali, Orihime benar-benar tenggelam dalam lelap.

x

x

x

To be Continued...


Terima kasih banyak atas apresiasinya pada fic ini..

Sebelumnya mohon maaf karena karakter yang dimunculkan sangat terbatas,

Oiya untuk fic-fic lain yg masih tbc, sedang dalam tahap pengerjaan. Author masih bergelut dengan kesibukan tingkat akhir T_T, jadi mohon support dan pengertiannya^^

Ditunggu terus saran dan masukan para pembaca di kotak review yaa... karena apresiasi dari semuanya bisa menjadi kekuatan bagi author manapun :D

Singkat kata, terus ikuti cerita ini ehehee