Summary: Kembali ke Seoul! Sebulan setelah Summer Camp, pertemuan demi pertemuan tak terelakkan, dan bunga cinta mulai bermekaran. Para yeoja yang kini telah merubah kebiasaan buruk mereka dalam menghamburkan uang, dan para namja yang mulai menjalankan 'strategi' mereka. /GS/ EXO official couple inside!
That Scout Namja
Rate: T
Genre: Romance, Drama.
Cast: EXO member, Other.
Disclaimer: They're not mine, all cats belong to GOD~ But this fic actually MINE. I hate PLAGIARISM so much. So, DON'T copy-paste juseyo! :)
Warning: Typo bertebaran, EYD tidak terpenuhi, cerita nyaris pasaran(?), GENDERSWITCH.
.
.
.
Let's start the story!
.
.
.
.:: That Scout Namja : : .
.
.
.
08.30 p.m
"Menyebalkan!" Sungut Baekhyun kesal.
Hei, bagaimana tidak kesal jika kau bersusah payah mengerjakan tugas hingga larut malam, namun Seonsaengnim yang kau cari telah pulang terlebih dahulu? Kesal bukan? Ya, kira-kira begitulah yang dirasakan oleh yeoja pemilik eye smile ini.
Langkah kakinya yang sedikit dihentak menunjukkan betapa marahnya ia sekarang. Jemarinya merongoh tas guna mencari ponsel kesayangannya.
'Yeoboseo? Baekhyunnie?' Sahut seseorang di seberang telepon sesaat setelah nada sambung terhenti.
"Eonni~"
'Ya, Puppy waeyo?' Tanya orang tersebut seraya terkekeh pelan.
Baekhyun mengerucutkan bibirnya kesal saat mendengar panggilan dari eonni-nya tersebut, "Ish, I'm not a Puppy, Xiumin-jie"
Sungguh, Xiumin tak bisa menahan tawa saat mendengar suara Baekhyun yang tengah merajuk. Ia yakin bahwa kini dongsaengnya tengah menggembungkan pipi lucu.
"Jie-jie~~" Rajuknya.
Tawa kembali terdengar dari ujung telepon, namun tak sekencang sebelumnya. 'Ne, ne… waeyo, Baekkie?'
"Jemput aku, Jie… Jebal~"
'Aigo… mianhae, Baekkie. Malam ini aku sudah berjanji untuk kencan dengan Chen. Bagaimana jika—"
"Aniyo! Aku pulang sendiri saja!" Potong Baekhyun sebal.
Mood yeoja itu semakin memburuk setelah mendengar Xiumin tidak dapat menjemputnya. "Kotak menyebalkan! Kau mencuri Xiu-jie dariku!" Baekhyun berteriak kencang, memecah keheningan malam.
…
"Seokkie, Baekhyun waeyo, eum?" Tanya Chen.
Xiumin menggedikkan bahu, "Nan molla, Chen-chen. Tampaknya ia marah padaku."
Chen terkekeh pelan. Sebenarnya ia dapat mendengar jelas suara Baekhyun di telepon tadi, namun ia tak mau ikut berbicara karena yeoja itu pasti sangat marah padanya.
"Mengapa kau tertawa?" Tanya Xiumin bingung.
"Dia tak akan marah padamu, Baozi. Sebaliknya, ia marah padaku karena telah mencuri Jie-jienya untuk kencan," Chen mengecup pipi chubby Xiumin, membuat rona merah menghiasi wajah Yeojachingu-nya.
"Cheesy!" Ujar Xiumin seraya menutupi wajahnya dengan tangan.
"But you like it, right?" Chen mengecup pipi Xiumin untuk kedua kalinya.
Xiumin mendengus, "Ish, sudahlah. Lebih baik kita menjemput Baekhyun terlebih dahulu, setelah itu kita kencan."
"Tidak perlu. Aku akan minta seseorang menjemputnya."
"Nuguya?" Sungguh, ia takut jika Baekhyun dijemput oleh orang tak dikenal walaupun orang tersebut merupakan teman Chen. Tidak. Ia percaya pada Namjachingu-nya. Ia hanya khawatir pada dongsaeng mungilnya itu. (Well, bahkan tinggimu tak jauh berbeda darinya)
"Tenang saja, Baozi. Baekhyun akan aman bersama orang itu," Ucap Chen seraya menyeringai tipis. Xiumin merasa bulu kuduknya berdiri melihat seringai itu.
"Kajja, kita kencan!"
…
'The number you're calling is not active, please—' BIP!
"Yaaa! Kenapa tak ada satupun dari mereka yang bisa dihubungi? Menyebalkan!" Teriak Baekhyun keras, memecah keheningan malam. Baekhyun memperbaiki posisi tubuhnya yang mulai pegal karena duduk di bangku halte yang terbuat dari besi.
Keadaan di sekitar halte terlihat sepi, hanya beberapa orang yang sesekali lewat di hadapan Baekhyun. Jam yang melingkar pada pergelangan tangannya menunjukkan pukul 09.15 malam. Jadwal bus terakhir sudah lewat 1 jam yang lalu. Udara dingin sedikit demi sedikit mengusik tubuhnya yang saat itu hanya mengenakan dress berwarna peach dan cardigan putih tipis.
"Hish, lebih baik aku berjalan kaki saja," putus Baekhyun final.
Yeoja itu berjalan dan sesekali bersenandung pelan, berusaha mengusir rasa takut yang perlahan melingkupinya. Terang saja, malam semakin larut dan jarak antara halte tempat ia duduk sebelumnya dengan rumah mungil yang ia huni bersama lima sahabatnya cukup jauh.
Jika dengan mobil ditempuh selama 20 menit, maka jika ia berjalan kaki bisa mencakup 1 hingga 1 setengah jam!
Rasa takut yang awalnya hanya sedikit semakin bertambah saat mendengar langkah kaki di belakangnya. Hei, wajar saja ia takut bukan? Walaupun ia bisa menggunakan jurus hapkidonya jika terjadi sesuatu, tetapi ia tetap saja seorang yeoja yang bisa dikalahkan oleh namja.
TAP…
TAP…
TAP…
Langkah itu terus mengikuti Baekhyun. Saat ia melangkah pelan, maka langkah kaki dibelakangnya mengikuti perlahan. Dan saat ia berlari kecil, begitu pula langkah dibelakangnya.
Semakin dekat suara langkah itu, Baekhyun semakin mempersiapkan dirinya. Jemari mungilnya menggengam erat map tebal yang selalu ia bawa saat kuliah.
"Hei…" saat seseorang memegang bahunya, saat itu juga yeoja itu mengayunkan map tebalnya tepat pada wajah orang tersebut.
"Jangan dekati aku, saekki-ya!" Ucapnya dengan tangan yang tak henti memukuli sosok dihadapannya.
"Mati kau! Mati!"
BUGH! BUGH!
"Yak! Neo jinjja mitchigetda!" Sentak sosok yang ia pukuli. Familiar. Itu yang pertama kali Baekhyun sadari. Ia menghentikan pukulannya dan menatap lekat sosok itu.
"Neo!?"
…
"Hahaha"
Baekhyun cemberut menatap Xiumin dan Chen yang mentertawakan dirinya. Sementara sosok yang—sangat—mengenaskan disampingnya hanya meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Jie! Stop it! Dan kau kotak, ini semua salahmu karena menculik Xiu-jie milikku!" Kalimat yang dilontarkan Baekhyun membuat tawa Chen semakin keras.
"Kau juga salah, Baekbaek. Waspada itu diharuskan, tetapi setidaknya kau menyadari siapa orang yang memanggilmu terlebih dahulu!" Ucap Chen diselingi tawa.
Xiumin mengangguk membenarkan dan dihadiahi tatapan membunuh dari dongsaeng sipitnya.
"Hyung, noona… ini sakit," Keluh Chanyeol. Pipinya yang semula putih kini memiliki warna biru keunguan yang sangat kontras dengan kulitnya.
Xiumin memberi kompres pada pipi Chanyeol yang lebam. "Mianhae, Chanyeol-ah… Dongsaengku terlalu brutal hingga membuatmu seperti ini."
Baekhyun mendelik tak senang. "Ish! Dia juga bersalah, Jie! Dia yang membuatku terkejut hingga memukulinya sampai seperti itu!"
"Tapi kau tak perlu mengataiku saekki juga, babo!" Protes Chanyeol kesal.
Yeoja itu membulatkan sepasang mata sipitnya. "Kau berani mengataiku!?"
"Kau yang terlebih dahulu mengataiku!"
"Yak! Neo!"
"Mwohae!?"
"Kau—"
Chen tersenyum lebar. "Kalian berdua seperti pasangan muda yang sedang bertengkar."
"Eum. Aku setuju denganmu, Chennie." Ujar Xiumin setuju.
"Mwo? Hyung bicara apa tadi?" Tanya Chanyeol memastikan.
"Kalian. Seperti. Pasangan. Muda. Yang. Sedang. Bertengkar, Park Dobi-yeol" Jelas Chen.
Chanyeol melempar pandang kearah Baekhyun dan begitu pula sebaliknya. Tampak sekali mereka berdua belum mencerna perkataan Chen dengan baik.
"Pasangan…" Gumam Chanyeol.
Baekhyun melanjutkan dengan wajah polos. "Muda?"
.
.
5
.
.
4
.
.
3
.
.
2
.
.
1
.
.
"ANDWAE! AKU TAK MAU PUNYA PASANGAN SEPERTI DIA!"
"Well, lihat saja kedepannya nanti," seketika itu juga, Chen mendapat hadiah berupa lemparan bantal dan benda lainnya, sementara Xiumin menatap namjachingunya prihatin.
"Xiu-baby! Tolong aku!" Chen memelas pada yeojanya yang menyingkir ke seberang ruangan.
"Hwaiting, Chennie! Kau pasti kuat!"
"RASAKAN INI, KIM JONGDAE!"
"MATI KAU!"
"AAHHH‼"
'Hwaiting, Chenchen. Kuharap kau bias melihat mentari esok,' ringis Xiumin dalam hati.
…
"Seoul National University, Arts and Culture Major?" Gumam seorang namja.
"I'll get you. Soon."
.
.
.
TBC
Hai hai~~ lama tidak berjumpa :D
Jeongmal mianhae karena kali ini Hye benar-benar molor dari tenggat dan ini sama sekali ga bisa dikatakan panjang :( Kegiatan sekolah sangat menyita waktu Hye untuk ngetik T-T
As we know, kurtilas adalah kurikulum paling 'Gila' dalam sejarah Indonesia, dan Hye menjadi salah satu korban tak berdosa di masa SMA ini. Dan hal ini menyadarkan Hye bahwa masa SMA sama sekali ga bisa di bilang indah -_-
Selain itu, Hye juga terkendala masalah dengan namjachingu Hye sehingga belakangan Hye sering down. Mianhae :(
Ohya, kemarin ada yang bilang ke Hye kalau fic ini ga cocok kalau cuma memfokuskan pada satu couple aja. Hye luruskan ne, Hye juga mencoba untuk meratakan kemunculan semua couple di ff ini. Tapi itu hal yang cukup sulit untuk Hye karena Hye lebih sering membuat fic yang focus pada satu couple saja ^^
But thanks for your opinion. Setidaknya Hye tau kalau ff ini masih punya banyak hal yang kurang /sweet smile/
Last,
Mind to RnR? ;)
