Maaf telatt update DX
Ini gara-gara saya jadi korban internet po*itif ituu /nyalahin/ harusnya ini udah update semenjak seminggu setelah publist, orzz
Di fic ini Akashi sama Mayuzumi sekolah di Touou untuk kepentingan fic, hehe
Tapi disini, pokoknya Seirin tetep menang di Winter Cup/karena Author maunya gitu:3/ Tapi soal ini gak akan di perpanjang kok, jadi gak terlalu b
Ah, daripada saya recokin mending langsung aja deh...
RnR
Kuroko no Basket milik Fujimaki-sensei
Pair : Nijimura x Kuroko x Akashi x Kuroko x Mayuzumi
Slight! AoKaga
Warning: AU(maybe),Touou!Akashi, Touou!Mayuzumi, abal, OOC, crack, canon, typo(s), EYD kacau, alur kecepetan, plot tidak tereksplorasi dengan baik, diksi ga karuan dan hal-hal lain yang tidak sesuai.
Bila kurang berkenan silakan klik tombol back
Bila ada kekurangan dalam fanfic ini ingatkan author dengan cara selembut sutra/digiles
.
.
.
Douzo...
"Mau cari kursi lain? Keliatannya banyak yang kosong" Orang yang di ketahui bernama Nijimura itu menawarkan.
Kuroko mengamati orang baru di hadapannya. Merasa mengenali remaja yang menawarinya, Kuroko mengangguk cepat mengiyakan ajakan yang diketahui berasal dari senpainya semasa SMP.
Jelas ini ajakan emas agar dia dapat cepat keluar dari lingkup 'pasangan bodoh' di seberang kursinya.
Ternyata dia tidak mendapatkan ZONK juga malam minggu ini. Mungkin.
.
.
.
Mereka -Kuroko dan Nijimura duduk berhadapan di salah satu bangku yang jauh dari pasangan nista tadi. Nijimura yang menyarankan, Kuroko hanya ngikut aja.
Keadaan saat mereka duduk sempat canggung sebelah, sesaat sebelum Nijimura menggigit satu dari dua burger yang ia punya.
"Selamat atas kemenangannya," tiga kata lolos dari orang yang selalu memainkan bibirnya itu.
"U-un arigatou, Nijimura-senpai," Kuroko membalas cepat, berhasil menutupi canggungnya.
Atmosfir-atmosfir kaku menggelayangi.
.
Seingat Kuroko, ini pertama kalinya dia berbicara seperti ini dengan Nijimura -walaupun hal seperti ini tidak cukup layak di sebut pembicaraan. Semasa SMP kalau pun ia berbicara dengan Nijimura, keadaan dan suasananya jauh dari yang sekarang. Maka dari itu Kuroko lumayan canggung -walaupun tertutupi wajah flatnya- secara kebetulan bertemu dan berhadapan dengan Nijimura
"Ano Nijimura-senpai, kenapa senpai ada di sini?"Kuroko memberanikan diri membuka pembicaraan basa-basi di sela rengutannya terhadap minuman vanillanya. Lagipula ia memang penasaran.
Tidak langsung menjawab, Nijimura mengunyah standar burger dalam mulutnya, merasakan sensasi roti dengan berbagai isian itu lalu menelannya. "Eng ... karena aku lapar bukan?" Ia menjawab.
Muncul perempatan tak kasat mata di dahi Kuroko.
Tidak, tentu bukan itu yang Kuroko maksud -soal itu semua pun tau.
Ya sudahlah, bukan urusannya.
Setelah jawaban yang tergolong bodoh tapi ada benarnya di suarkan Nijimura, hening melingkupi dua insan dengan predikat senpai-kouhai itu.
.
Sempat terpikir oleh Kuroko, kenapa Nijimura dapat dengan mudah menemukannya?
Aneh. Bahkan orang yang lama bersamanya pun masih sulit untuk menemukan keberadaannya, terutama di tempat separti ini -tentu saja Kuroko menyadari tipisnya hawa keberadaannya sendiri.
S
etaunya senpainya ini tidak memiliki kemampuan Hawk Eye maupun Eagle Eye.
Terdiam. Jangan bilang, ketakutannya Kuroko sebelumnya terbukti. Jangan bilang orang-orang dapat melihatnya duduk di hadapan pasangan nista tadi.
Masih terdiam, Kuroko kembali menelaah semuannya. Untuk kemudian kembali disangkal.
Jangan sampai... semoga saja hanya kebetulan, desis Kuroko hanya berupa gerakan mulut.
.
.
.
Hening masih mengahantui -menjadi kata yang seolah konsisten untuk kedua insan ini, hanya kegiatan makan minum masing-masing sampai akhirnya makanan dan minum mereka habis.
Bukannya mengucap syukur, Nijimura malah langsung menjadikan Kuroko sasaran tembaknya. Mengucapan hal yang cukup menohok ulu hati Kuroko karena diucapkan dengan nada -ralat, bagaimana pun nadanya itu mengesalkan. Apalagi dengan di sertai seringai jahil- "Kuroko kau 'masih' single?"-untung bukan 'jomlo' yang ada di sana.
Kuroko hanya mengangguk -terlalu kaget dengan pertanyaan spontan yang di lontarkan Nijimura. Menjawabnya dengan jujur.
Entah kenapa ia merasa agak risih. Padahal Kuroko terbiasa hidup sendiri, namun di tanya seperti itu dan sebelumnya di beri fanservice BL membuatnya agak sensitif.
Dan lagi, kata 'masih' dalam kalimat itu terkesan mempunyai arti yang teramat dalam.
"Aku juga baru tuh" Tambah -Eh, apa? Tunggu.
Kuroko memasang tampang seolah dia tidak percaya -lebih kepada kaget dan bingung, walaupun hanya terulasa sangat tipis di paras datar nan imutnya. Merasa aneh dengan apa yang hangat di suarakan Nijimura.
Kuroko tidak salah dengarkan?
Apa katanya?
Maksudnya dia baru putus gitu?
Terus apa maksudnya dia ngasih tau begituan? Galau? Pingin di kasianin? /AuthorDiCincang /
Atau dia mau ngelamar Kuroko? /halah/
"Sen-"
"KUROKO! Aku kira kau sudah pulang!" Suara Kagami langsung memenuhi pendengaran kedua pemuda ini. Lelaki bersurai merah gradasi hitam itu tiba-tiba menggebrak meja, memotong secara langsung kalimat Kuroko.
"Hai kau, sopanlah sedikit!" Tegur Nijimura ketus.
"NIJIMURA-SENPAI!?" Kali ini pemuda tan pasangan pemuda penggebrak meja tadi yang teriak yang seketika mendapat death glare dari yang bersangkutan a.k.a Nijimura "Kenapa senpai ada di sini?" Aomine bertanya dengan oktaf normal, sepertinya dia juga penasaran.
"Tidak boleh?" Nijimura membalas acuh. Anjr*tt, ngajak berantem nih orang, dumel Aomine.
Kagami yang semula perhatiannya jatuh kepada Aomine dan orang yang di ketahui bernama Nijimura itu kembali memperhatikan Kuroko. "Kuroko, mau tidak mau. Ayo main ke apartemenku. Besok latihan libur bukan?" tawar Kagami terkesan memaksa.
"Tung- Kagami! Aku bawa motor, kau mau mengajak Tetsu dan membiarkannya jalan huh?!" Sela Aomine responsif.
"Huh? Souka" Kagami mangut-mangut. "Bagaimana kalau kau yang jalan? Aku naik motor dengan Kuroko-" -kasian diakan jones, kali-kali malam Mingguan, lanjut Kagami dalam hati. Memandang Kuroko dengan tampang ehmmirisehm.
Ternyata itu toh maksudnya, nanti mau ngehibur atau manas-manasin ya?
"KAGAMI!" Aomine geram karena Kagami lebih memilih Kuroko.
Andaikan Aomine tahu hati tenshi milik Kagami.
"Aku bisa mengantar Kuroko." Mengetahui apa masalahnya, Nijimura langsung menyela sebelum ada yang berkicau "Kalau mau," Nijimura menambah, mengendikan bahunya acuh.
Mendengar tawaran itu Kagami langsung sumringah, menampakan senyum lima jarinya. "Baiklah, arigatou-err Niji..mura-san" Kagami cepat menyetujui.
Sementara Aomine, ia hanya menghela nafas lega -merasa aman akan pengganggu keromantisannya dengan Kagami di perjalanan. Bila berkunjung sebentar ke apartemen Kagami, itu tidak masalah.
Sementara Kuroko, pemuda ini sama menghela nafas kecil. Padahal dia berniat menolaknya. Apa boleh buat, Nijimura sudah berbaik hati /Maksudnya sih gitu/ .Toh dia tidak bisa menolaknya. Ikuti arus saja.
"Naik" Perintah Nijimura yang sudah siap-siap mengendarai motor sport keluaran terbarunya yang macho/di giles/
"Eh" Untuk memastikan Kuroko menunjuk dirinya sendiri.
"Hheh... Siapa lagi? Aomine dan pacarnya itu sudah pergikan. Cepat naik" Mengerti maksud Kuroko, Nijimura malah membalasnya dengan agak sengit
Kuroko mengangguk dan perlahan menaiki motor milik Nijimura yang sudah berbaik hati mengantarnya -Kuroko tidak menyangka Nijimura membawa motor.
Di balik itu sebenarnya Kuroko lumayan kesal atas sikap Nijimura tadi, niat nolong ga sih? -eh
Oke, Kuroko memang tahu Nijimura itu lumayan kasar. Tapi kata-katanya tadi rasanya tidak enak saja bagi Kuroko, seperti ada yang semakin mengganjal selain kecanggungannya. Sedikitnya membuat Kuroko enggan, walau pada kenyataanya toh dia terus mengikuti arus.
Dalam posisi ini dia bersyukur menjadi seorang pria yang tidak terlalu memperhatikan perasaan dan memakai logika.
"Aku tidak membawa helm lagi, kau tidak keberatan?" Tanya Nijimura, membuat celah agar ia dapat menatap lurus manik aqua di belakangnya - walaupun dari ujung matanya.
Mendapat jawaban tidak keberatan Nijimura memutar kembali pandangannya ke depan.
Mengendikan bahunya. "Jangan lepaskan pegangan mu," Desisnya.
Sesaat kemudian motor bermuatan itu sudah melaju dengan kecepatan penuh, membuat menumpang di belakangnya harus berusaha mempertahankan kedudukannya.
Dengan kaki agak bergetar Kuroko langsung menjejakkan kakinya ke lapang parkir apartemen Kagami.
Ingatkan Kuroko, untuk tidak menumpang motor siapapun lagi.
Sungguh, Kuroko kapok di bonceng Nijimura yang hobi nyalip sana-sini walaupun lalu lintas padat.
"Kau baik-baik saja?"
Apa yang di pikirkan senpainya ini? Tidak bisa lihat langsung keadaan Kuroko?
"Ya" Sahut Kuroko seadanya, malas mengeluarkan suara.
Melepas helmnya Nijimura menaruh perhatiannye terhadap Kuroko. Memandang warna biru cerah di hadapannya, kemudian mengacak -membelai pelan surai biru langit di depannya tanpa permisi. Entah apa yang mendorong perlakuannya ini kepada Kuroko. "Maaf, aku kira kau terbiasa" Sorot mata dan kurva yang terbentuk di wajah Nijimura terbias tulus saat ia mengatakannya. Membuat siapa saja yang melihatnya doki-doki, dan-
Ugh, semburat merah tipis muncul di pipi Kuroko -malu. Sedikit bingung dengan tingkah senpai-nya yang berubah secara drastis menjadi lembut kepadanya. Padahal sebelumnya Nijimura /bisa dibilang/ sempat menohok hatinya.
Dari ribuan prediksi bahkan hayalan Kuroko pun, dia tidak pernah menyangka hal seperti ini akan terjadi. Terutama bila itu adalah Nijimura. Senpai-nya yang pernah meremehkannya juga jarang -bahkan tidak pernah berkomunikasi dengannya semasa SMP.
"Jaa, aku menerima ajakan teman mu itu, jadi di mana kamar apartemennya?" Tidak sekasar sebelumnya, Nijimura secara halus meminta Kuroko untuk menunjukan apartemen Kagami.
Yang dapat Kuroko hanya mengangguk. Seakan ada yang menghambat jalur suaranya.
Di dalam apartemen Kagami, tidak ada lagi interaksi yang berarti antara Kuroko dan Nijimura.
Nijimura hanya ngemil dengan wajah asem sambil memperhatikan duo sejoli yg sedang bermain game di depannya, sementara hanya Kuroko memainkan flip ponselnya.
Kuroko membiarkan Nijimura sendiri karena orang yang lebih tua setahun darinya itu ehem*baru nge-jomlo*ehem dan sekarang dalam progres moddy-nya.
Kuroko sendiri sibuk bertukar e-mail dengan dua orang sekaligus.
Orang pertama ialah Akashi Seijuuro. Mantan kapten basket Kuroko -selain Nijimura, serta orang yang dipilih seenak jidat oleh Aomine untuk menjadi kekasih Kuroko, singkatnya Kuroko di jodohkan dengan Akashi.
Sedangkan orang lainnya, ialah Mayuzumi Chihiro. Teman baik yang baru di kenal Kuroko, juga rekan Akashi. Pemuda bersurai kelabu itu lebih tua dua tahun dari Kuroko. Selain itu, ia juga merupakan salah satu orang yang berani melamar -menembak- Kuroko. Namun di tolak.
Entah apa alasan Kuroko menolak Mayuzumi, jelas-jelas Kuroko menyukainya.
Yang pasti Kuroko pernah mengatakan sesuatu yang 'mungkin' menjadi alasan dia masih saja single. Pria mungil itu mengatakan bahwa 'lebih baik tetap berteman dari pada pacaran lalu putus'/mungkin ada benarnya/. Yah.. 'mungkin' itu hanya di katakan orang yang di sukai banyak orang.
TING TONG /abaikan suara absurt itu/
Suara standar bel apartemen mengintrupsi kegiatan ketiga pemuda SMA di dalamnya.
Sementara 1 orang sisanya -yang kulitnya paling redup -entah tidak dengar atau peduli setan dengan bel yang berbunyi.
"Ugh, lepaskan aku Aomine" Kagami menggeliat risih karena pinggannya di dekap erat-erat oleh Aomine. "Aku ingin membuka pintu" desak Kagami.
Mendengus, Aomine menyerukan keberatannya "Game-nya tanggung~" Manja Aomine -WTF, masih memainkan joy stick play stationnya. Semakin mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Kagami. "Tetsu, bisa tolong bukaan pintu untuk Kagami?"
Perintah secara tidak langsung itu segera tertangkap indara pendengaran Kuroko. Mendengar itu Kuroko tidak mengeluarkan suara barang se-not pun. Tau secara tidak langsung ia dijadikan babu di sini -lebih tepatnya oleh Aomine yang semena-mena.
Shit -sekarang ia jadi meruntuk sendiri mengikuti kemauan Kagami datang ke sini.
Kuroko hendak berdiri dan mengikuti kemauan Aomine yang seenaknya menyuruhnya. Walaupun Kuroko tidak menyukainya, tetapi Kuroko bukanlah orang yang banyak omong -selagi bisa, ia akan melakukannya.
Well-Kuroko tidak peduli.
Greb
Uluran tangan kekar menahan pergelangan tangan Kuroko. Membuat target yang bersangkutan agak terkejut.
"Nijimura-senpai" Kuroko menggumam, nyaris seperti bisikan.
Ditatap intens oleh Nijimura serta genggaman tangannya yang -err posesif, membuat Kuroko membatu seketika.
Awkward moment -atau Kuroko saja yang merasakannya.
Tak lama Nijimura menarik Kuroko lembut -setidaknya begitulah yang terlihat. Ia memberi isyarat 'duduk' dengan gerakan mata onyx-nya.
Ok, sekarang Kuroko bingung-
TING TONG TING TONG~ Sementara suara bel semakin menjadi -tidak sabaran.
"Senpai~" Desis Kuroko, meminta Nijimura untuk melepaskan genggaman tangannya.
"Tidak sopan menyuruh tamu. Aomine! Bukakan pintu atau aku akan menggangu kalian semalaman?" Ancam Nijimura pada Aomine dengan penekanan kata di mana-mana.
Mendengar kata 'mengganggu', tanpa pikir panjang Aomine langsung ngibrit ke arah pintu apartemen. Meninggalkan Kagami dengan wajah face palm-nya.
Ternyata Aomine masih memasang pendengarannya.
Gyut
Lagi, Nijimura menarik tangan Kuroko, meminta ia untuk duduk kembali -yang kali ini di turuti.
Puas dengan Kuroko yang kembali duduk nyaman, Nijimura menopang dagu dan kembali ngemil.
"Jangan gampang menuruti kemauan orang" Nijimura membuka suaranya, bermaksud menasihati Kuroko.
Well, meski maksud awal Nijimura menasihati, tapi entah kenapa kesan pertama yang tertangkap oleh Kuroko bagaikan 'sindiran' tersendiri baginya.
The hell. Bagi Kuroko bertemu dengan Nijimura dan Nijimura yang 'entah' menunjukan sisi lain dirinya merupakan suatu hal paling tak terduga.
Harus berapa kali Kuroko tekankan, bahwa dia 'tidak begitu mengenal' Nijimura.
Maka, Nijimura yang menunjukan banyak sikap kepadanya /dalam kurun waktu kurang lebih satu jam/ membuat Kuroko -err, bukan risih juga sih. Melainkan aneh.
Mungkin benar yang di katakan orang, seorang cancer itu sulit di pahami. Seorang Aquarius seperti Kuroko bahkan harus beberapa kali menelaah arti dari sikap yang ditunjukan senpai-nya ini. Eh, OOT ya?
Apalagi kini Nijimura dalam tahap moddy-nya.
Dan...
Sekarang Kuroko mencap dirinya sebagai orang yang paling gagal paham terhadap si surai legam ini.
.
.
.
"Hoam~ ada tamu untukmu Tetsu"
"Tetsuya~" Suara yang amat Kuroko kenal mengintrogasi lamunannya. Suara yang seharusnya tak ada di sini.
"Akashi-kun?" Secara otomatis Kuroko menyebut nama orang yang terpedar pandangannya, yang memanggilnya barusan. "Mayuzumi-senpai, juga?" Lagi, Kuroko menyebutkan nama orang lain yang berada di ruangan yang sama.
Memandangi mereka lekat. Dafuk -kenapa mereka berdua bisa ada bersamaan ke sini!?
"Ano~ ada perlu apa kalian di sini?" Tanya Kuroko to the point.
"Aku hanya ingin menemui mu saja, ku kira kau sendiri" Sahut Mayuzumi langsung -menyadari ada orang lain di sana. Tatapannya datar seperti biasa.
Sementara Akashi masih mengambil jeda, ia memandang tajam sosok di sebelah Kuroko.
"Kenapa Nijimura-san berada di sini?" Pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Bukan di tunjukan langsung pada orangnya, melainkan seperti~ pertanyaan yang 'harus' di jawab Kuroko.
"Dingin sekali kau, Akashi. Padahal kita lama tidak bertemu" Memandang Akashi dengan sama tajam, Nijimura bermaksud menyindir mantan kouhainya ini.
Ouch, kenapa atmosfir di ruangan ini mulai tidak enak ya? Baik Akashi maupun Mayuzumi terus memandangi Nijimura, begitu juga sebaliknya. Bukan pandangan biasa, seperti pandangan deklarasi perang -kalau Kuroko boleh katakan.
Mungkin Kagami dan Aomine yang sejak tadi menonton mereka pun menyadarinya.
"A-ano~"
Selesai mendinginkan suasana dengan cara menjelaskan apa yang terjadi -dengan melewatkan bagian tertentu, Kuroko, Akashi dan Mayuzumi membentuk aliansi sendiri /di giles/
membiarkan Nijimura sendirian, kembali ke kegiatannya sebelumnya. Jangan tanya apa kegiatan Kagami dan Aomine.
Kuroko jadi berpikir kenapa Nijimura betah seperti itu, bila Kuroko dalam posisi sepertinya sudah pasti ia akan pulang sejak awal. Bukan Kuroko mengusir, ia hanya heran saja.
Ah, mungkin saja Nijimura terjangkit penyakit orang galau yang suka melamun. Orz, jangan lupakan moddy-nya orang yang baru uhukputusuhuk. Baiklah, sampai sini ia tidak mau ikut campur lagi.
"Tetsuya, minggu depan mau jalan besama ku?"
"Maaf, Akashi. Sayangnya minggu depan Kuroko sudah ada janji dengan ku" Mayuzumi tidak memberi waktu pada Kuroko untuk menjawab.
"Hee, benarkah kau akan pergi bersama si muka teflon ini Tetsuya?" Desis sengit Akashi yang sudah menahan amarahnya sampai ke ubun-ubun –menolak kemauan Akashi adalah hal yang haram. Tapi, kelihatannya ia tidak sadar bila menyakiti dua orang sekaligus. Menjadikannya sebuah pedang.
"Kuroko, menurut mu apakah sopan bila ada teman ku yang memaki orang yang berbeda bersamaan?" tanya Mayuzumi dingin -lagi-lagi tidak memberi kesempatan untuk Kuroko menjawab-, walau faktanya sedang ada perang panas di sini. Mungkin aksi sepeti ini bisa di sebut 'sepet-menyepet'
"Hahaha, ku pikir tidak Mayuzumi-senpai" Tawa Kuroko, seakan tak tahu apapun.
"Tetsuya, kau belum menjawab pertanyaan ku" Nada sarkastik jelas terdengar menuntut.
"Ya Akashi-kun, aku ada janji dengan Mayuzumi-senpai. Maaf tidak bisa menemanimu. Memangnya ada apa Akashi-kun mengajakku" Beber Kuroko panjang.
"Tidak, aku akan melamarmu" Ucap Akashi frontal. Membuat Kuroko dan Mayuzumi yang mendengarnya benar-benar kaget setengah mampus.
Jangan lupakan, suara batuk yang sayup-sayup terdengar. Bukan dari Kuroko maupun Mayuzumi, melainkan dari-Nijimura, bila kalian menyelidikinya(?). Sepertinya ia mencuri dengar dari tadi.
"Hhah~? Tidak seru sekali ada orang seperti mu, Akashi. Ne Kuroko?" Mayuzumi mendengus meledek, setia dengan nada monotonnya.
Ditanyai seperti itu, Kuroko hanya diam. Tidak berani menanggapi. Ok, dia tidak mau menyulut api secara sengaja.
Dan, sepertinya kita skip saja obrolan sengit yang akan terus berlangsung ini.
.
.
.
"Ehm!" Suara deheman keras seketika membuat semua orang -dua orang yang sedang cekcok- diam. "Aku dan Kagami akan keluar, kalian mau tetap di sini atau ikut?" Tanya Aomine, yang entah kenapa terasa aneh.
"Aku ikut Aomine-kun" Kuroko langsung menyahuti. Otomatis semua yang ada di sana pun menyetujui ajakan keluar Aomine, lalu keluar secara bergerombol dari apartemen Kagami.
"Jaa, Kuroko. Kami duluan ya!" Seru Kagami di atas motor Aomine yang mulai melaju keluar daerah parkiran. Kuroko hanya mengangguk saat Aomine dan Kagami mulai meninggalkannya dan tiga orang lainnya.
Brum
Suara sepeda motor yang dinyalakan secara bersamaan terdengar jelas di telinga Kuroko.
Membuatnya agak terkesiap, entah kenapa.
"Cepat naik" Perintah Nijimura, Mayuzumi dan Akashi berbarengan. Disini, Mayuzumi dan khususnya Akashi sama-sama membawa motor.
"Kuroko/Tetsuya akan naik motorku" Tambah mereka paling berpandangan -lagi-lagi kompakan.
Malas dengan pertengkaran yang bukan pertengkaran(?), mereka pun menatap Kuroko. Meminta Kuroko untuk menjawaban -lebih tepatnya memilih.
"Eh?" Bingung. Kuroko mengernyit, sekarang ia tahu betul kepada siapa ketiga orang ini menawarkan tumpangannya.
'Bisakah aku naik ketiganya bersamaan?' Well, inginnya Kuroko bicara seperti itu -tapi ia urungkan.
Bingung, memilih satu dari tiga itu sulit -ralat, untuk yang ini ia katakan 'berat'.
"Cepat naik sini Tetsuya" Akashi mendesak.
Apapun itu, dapat dikatakan Kuroko sedang dalam posisi dilema di sini. Andaikan tadi ia tidak menyetujui Kagami sejak awal. Terlambat.
Semuanya kini hanya berada dalam perandaian.
Bahkan rasanya angin malam tak dapat ia rasakan lagi, saking mendominasinya aura dari ketiga remaja bishounen di hadapannya.
"Umm" Kuroko berpikir sejenak, mencari jalan keluar dari atmosfir yang tidak mengenakan ini -yang entah kenapa Nijimura malah ikut mendominasi. "Ano, sepertinya aku jalan saja. Apartemen Kagami-kun kan' ada di tengah kota" Ujarnya, menemukan alasan yang tepat selain 'ia trauma ringan naik motor lagi'.
Setelah mengatakan itu Kuroko lantas berjalan menjauhi parkiran, tidak memerdulikan apapun lagi –tak mau peduli apa pun. Rasanya ia membenci dirinya yang di sukai banyak orang /ouc Kuroko narsis/
"Tunggu, Tetsuya~tch" Merasa benar-benar tidak dipedulikan, Akashi langsung mematikan mesin motornya lalu mengejar Tetsuya-nya -'nya' disini benar-benar berbeda, ia sudah mengecap Kuroko sebagai miliknya. Mungkin.
Tidak perlu komande Nijimura dan Mayuzumi dengan tangkas mengikuti apa yang Akashi lakukan.
Pada akhirnya mereka semua hanya mengekor di belakang Kuroko. Mengikuti kemanapun Kuroko pergi. Walau kenyataannya mereka sama sekali tidak dapat menebak tempat yang akan disinggahi Kuroko. Sedari parkiran tadi mereka masih berjalan tak tentu arah.
Sementara Kuroko, ia masih dilanda bingung.
Sesungguhnya Kuroko tidak mengerti kenapa ketiga orang itu mengikutinya. Terutama Nijimura. Sekali lagi, Kuroko bukan bermaksud mengusir. Tapi -seperti yang Kuroko katakan, ia baru bertemu lagi dengan Nijimura beberapa jam lalu. Kenapa sepertinya Nijimura lengket sekali dengan Kuroko. Apakah remaja bermanik hitam ini sedang SKSD dengannya? (tega banget deh Kuroko -_-)
Dan...
Satu lagi, sepetinya Kuroko tidak tau akan pergi ke mana.
Warna hitam pekat yang di hiasi beberapa titik cahaya, serta tumbuhan-tumbuhan hijau yang tertata rapi menjadi latar perkumpulan antar tiga remaja SMA itu. Ketiga orang itu diantaranya Akashi, Kuroko dan Mayuzumi.
Tidak ada Nijimura, beberapa saat lalu dia memisahkan diri dari komplotan(?). 'Mau mencari pacar,' katanya sangat asal.
Oke, mari kembali beralih kepada pemuda-pemuda tampan, yang ternyata sedang berbincang-bincang sehat tanpa bumbu persaingan.
"Tetsuya" Panggilan Akashi mengintrupsi pembicaraan yang sedang berlangsung. Nadanya terdengar intensif. "Aku menyukaimu. Ayo jadi pacarku" Lanjutnya secar lugas.
Refleks Mayuzumi langsung melirik tajam pada Akashi, terlebih Kuroko yang terlihat syok -tidak terlalu ketara tertutupi wajah flatnya.
Jelas, disini Akashi benar-benar salah timing untuk menyatakan perasaannya. Kuroko menatap Akashi, memastikan ia tidak bercanda.
"Aku serius" Menatap Kuroko tajam sekaligus penuh harapan. Sedikitnya orang yang berlalu lalang membuat pernyataan itu lebih tegas tersampaikandan lebih nyata.
"A-" Kuroko menggigit kecil bibir bawahnya, tak kuasa melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan. Perasaan aneh mulai merambati dirinya, cenderung pada rasa takut.
Pria bersurai baby blue ini terdiam cukup lama dengan pandangan yang dia alihkan, apapun itu selain Akashi maupun Mayuzumi. Badannya mengajaknya untuk bangkit berdiri. "A-aku ingin membeli minum dulu" Kuroko mengatakannya dengan cepat, memilih menghindar dahulu.
"Jangan lari Tetsuya"
"Tidak akan Akashi-kun"
The fuck. Gara-gara Akashi, Kuroko jadi kalang kabut begini.
Kenapa dia harus menyatakan cinta!?
Terlebih, tepat di hadapan orang yang cintanya pernah ditolak Kuroko. Kenapa Akashi harus nekat -atau mungkin, segila itu!
Shit- kenapa langkahnya harus cepat membawanya ke tempat tadi, beberapa meter lagi ia akan sampai di tempat semula.
Langkah demi langkah ia tapaki, memperkukuh sebuah jawaban langsung yang akan disampaikannya kepada Akashi -mengabaikan saran Kagami yang sempat ia hubungi tadi.
Ia sengaja lebih mempersantai jalannya, walaupun pikirannya berbanding terbalik. Mengamati pemandangan tumbuhan hijau yang diselimuti legamnya malam, yang bahkan samar-samar di lihatnya.
Kuroko harus benar-benar siap.
.
.
.
"Jadi, kau sudah memikirkannya Tetsuya?" Akashi langsung menyemburkan pertanyaan begitu Kuroko kembali. Menatap si surai biru lekat.
Tidak terlupakan, Mayuzumi yang sama-sama memperhatikan objek yang sama dengan Akashi. Ia memilih untuk diam, walaupun pada kenyataannya seperti ada yang menusuk-nusuk ulu hatinya. Berharap banyak agar Kuroko menolaknya, tidak ada salahnya ia berharap seperti itu. Bagaimanapun juga sulit untuk membodohi ataupun membohongi persaannya.
"Ya, Akashi-kun"
"Kau 'menerima'ku kan?" Tidak mau menerima penolakan, Akashi menekankan kata 'menerima'.
Ugh, kenapa kata-kata orang ini harus sangat angkuh?, sebal Kuroko meruntuk dalam dirinya.
Dan kenapa kata-kata yang akan di ucapkan Kuroko seakan tersangkut di tenggorokan begini? Jangan sampai tertelan kembali. Disini ia hanya ingin cari aman saja.
"Maaf" Satu kata yang memiliki arti jelas untuk tipikal orang seperti Kuroko- "Aku.. menolak mu Akashi-kun" –yang berarti penolakan.
Angin musim gugur menerpa lembut kulit ketiga remaja yang bersangkar dalam bagian kecil kehidupan, bernama cinta. Terus berhembus, tak memperdulikan satu-satu perasaaan makhluk yang diterpanya.
Akashi langsung bungkam. Ia mendengar kalimat 'penolakan' itu dengan teramat jelas, ulu hati Akashi benar-benar tertohok berkat penolakan yang ia terima –tidak, ia tidak mau menerima ini.
Semakin tertohok lagi berkat pilihan kata dalam penolakan yang diberi Kuroko. Karismanya sebagai Akashi Seijuuro seolah lenyap tertelan bumi.
Oh, Akashi sudah lupa kapan terakhir kali hatinya sesakit ini-
"Akashi-kun?" -apalagi terlihat bagai pecundang.
2 detik
5 detik
10 detik
"Daijobu?" Kuroko menanyai Akashi lagi, kali ini berhasil menyadarkan Akashi.
Mendongkakkan kepalanya yang sempat tertunduk, Akashi mengambil jeda. Menatap kembali manik aqua di hadapannya tajam. Seolah ingin menguliti
Membalikan badannya ke arah jalan yang dilewatinya tadi, sang manik dwi warna ini dengan cepat kembali pada nalarnya.
"Cih, jangan menyesal kau telah menolakku" Akashi kembali ke sosok angkuhnya. "Aku muak di sini" Lanjut Akashi sambil berlalu. Tidak melirik ke belakang sama sekali, sudah cukup. Dia benar-benar ada di ambang amarahnya, dia muak -seperti yang dikatakannya. Mungkin akan semakin kacau jika ia terus memperpanjang ini, lebih baik ia mendinginkan kepalanya dahulu.
Kuroko hanya memandang kepergian Akashi dengan tampang yang masih datar, ada rasa barsalah juga di dadanya. Pemuda ini terus memandangi punggung Akashi yang semakin menjauhinya dengan langkah tegas, tak terlihat sama sekali tanda-tanda Akashi akan berbalik.
Aneh, entah kenapa sekarang Kuroko agak menyesal, entah kenapa sosok berbadan tegap dan berambut scarlet itu sedikit mempesona Kuroko. Tangan Akashi yang bertengger dalam saku celananya begitu terlihat cool, dan-
'Tidak, tidak. Apa yang kau pikirkan Kuroko Tetsuya? Kau sudah menolak figur itu. Baru beberapa detik lalu ingat?' Kuroko sedikit banyak membatin dalam dirinya. Ia cukup risau dengan pikirannya sendiri.
.
Ouc, apakah ini karma? Tapi, apakah karma bisa datang sesingkat ini?
Tidak, tidak, tidak, Kuroko sama sekali tidak mau merasakan apa itu karma. Tidak sama sekali.
.
Puk
Satu tepukan lembut di puncak kepalanya, memecah fokus Kuroko.
"Ayo~" Nada lembut dari Mayuzumi -orang yang menepuknya- menghampiri pendengaran Kuroko. Menampikan senyuman pada Kuroko.
"Ya.."
"Aku sampai sini saja"
"Tidak, mampir dulu Akas-?"
"Tidak, sampai jumpa" Tukas Akashi cepat. Sekilas ia melirik Mayuzumi penuh amarah a.k.a judes. Lalu belalu dari tempat itu.
"Baiklah, sampai jumpa Akashi-kun" Balas Kuroko ramah, sedikit merasa salah karena dialah yang membuat mood Akashi turun drastis -tidak sepenuhnya salahnya sih.
"Jaa, Kuroko. Sepetinya aku juga permisi pulang" Nada monoton yang ramah mengubah langsung fokus Kuroko pada Mayuzumi.
"Mayuzumi-senpai juga?"
"Hai', jaa ne" Mayuzumi tersenyum (paksa). Melambai kecil pada Kuroko yang sama-sama dibalas lambaian.
Ah, sepetinya Kuroko juga ingin langsung pulang. Ia akan mengambil tasnya di apartemen Kagami lalu pulang ke rumahnya yang amat damai.
Kuroko sangat menyadarinya, setelah kejadian tadi bukan cuma Akashi yang kehilangan mood, Mayuzumi juga –bahkan ia sekalipun- jadi, siapa perusak mood di sini.
.
.
.
"Kau sudah kembali rupanya" Suara yang dikenali Kuroko beberapa jam lalu membekukan badannya. Entah, kini Kuroko agak sensitif dengan suara itu.
"Nijimura-senpai" Akhirnya Kuroko menyerukan nama pemilik suara itu.
'Kenapa Nijimura-senpai sudah ada disini lagi?' Kuroko bertanya-tanya pada dirinya.
Sama seperti kondisi pertama, bukan hanya Nijimura saja yang ada di sana. Entah bagaimana Kagami dan Aomine juga sudah ada disitu, sedang mengobrol. Sebentar sekali mereka keluar -atau Kuroko yang terlalu lama?
"Jangan berdiri di sana saja, duduk sini" Intrupsi Nijimura, menepuk tempat di sebelahnya. Balas anggukan oleh lawan bicara.
.
Hening
.
Kuroko ingin sekali pulang, tetapi entah kenapa seperti ada yang menahannya. Keberadaaan Nijimura di dekatnya seperti menahan untuk tidak permisi pulang sekarang juga.
"Kuroko?" Nijimura bermaksud membuka pembicaraan. Sama seperti sebelumnya, ialah yang pertama kali memecah keheningan di antara mereka.
"Ya?"
"Kau.. benar-benar masih single, kan?" Tanyanya terdengar serius tetapi ragu. Dan sepertinya Kuroko pernah mendengar nada-nada seperti itu.
Well, kenapa harus pertanyaan itu yang keluar-orz
"Ya, aku single" walaupun hampir taken.
"Baiklah" Timpal Nijimura lagi, lalu kembali terdiam. Membuat kerutan di alis Kuroko.
Apa maksud orang ini?
Hening kembali menyelimuti -bila tidak di hitung suara Aomine dan Kagami.
Kedua orang itu terlelap oleh pikirannya masing-masing.
Pikiran Kuroko sendiri masih dipenuhi oleh kilas balik kejadian 'penembakan Akashi' tadi.
.
.
.
"Kuroko"
"Ya?" Kuroko menyahuti, tanda ia mendengar.
"Kau.. mau jadi pacarku?" Nijimura menge-WHAT THE HECK
Kuroko mengerjapkan matanya refleks, dua orang lain yang kebetulan mendengar juga terdiam.
Ini...
Kuroko sangat-sangat mengerti apa maksudnya ini. YAng seperti ini, apa ini berarti dia harus menolak untuk yang kedua kalinya?
Memang terdengar sangat kejam, tapi ini memang realita dalam diri Kuroko.
Sampah, kenapa ia harus menerima dua 'penembakan' dengan selang waktu sedekat ini!?
"Jadi~" Tambah Nijimura tak sabaran.
Sadar orang di sebelah mendesak, ia sempatkan untuk menatap Kagami -bermaksud meminta pertolongan.
Kagami yang sadar akan pandangan Kuroko hanya memberi gestur 'jawab sekarang' -huh?
Padahal saat Kuroko di 'tembak' Akashi, Kagami menyarankan untuk menjawab belakangan a.k.a memikirkannya dulu.
Kenapa sekarang Kagami-
Apakah ada semacam pembentuakn aliansi di sini?
Ok, tolong siapapun. Tampar Kuroko sekarang juga, berkat pikirannya yang kemana-mana itu.
Kuroko kembali memfokuskan pikirannya. Ia harus menjawabnya sekarang -tidak ada alasan kabur. Lagi-lagi pandangannya harus saling bertukar dengan Nijimura.
Oh, apa ini?
Kenapa pandangan mata Nijimura benar-benar memerangkapnya. Rasanya, air ludah pun sulit ia telan. Tidak tahan atas tekanan yang di beratkan sendiri olehnya, Kuroko menundukan kepalanya, alisnya benar-benar bertautan.
Ia menarik nafas dalam, mengigit dahulu bibir bawahnya-sepertinga itu seperti sudah menjadi kebiasaannya. "Baiklah" Satu kata lolos dari bibirnya.
.
.
.
Tunggu. Hati Kuroko memcelos-
Apa? Apa yang baru di katakan Kuroko?
'Baiklah?'
The f*ck, kenapa kata itu bisa lolos dari pengawasan ku!?, mau tak mau ia meruntuki dirinya dengan kasar.
Apa-apaan ini! Jujur, itu diluar kendali Kuroko! Dan, kenapa 'harus' itu?
Makna kata yang baru saja ia katakan jauh berbanding terbalik dengan apa yang ingin ia ungkapkan!
Kuroko semakin kelimpungan dalam dirinya. Apa yang ia katakan tadi, meski hanya satu kata, sungguh tidak aman.
Apakah ini yang ia sebut 'mengikuti arus' yang sedari awal ia katakan? Bagian dari 'mengikuti arus' tersebut?
Bodoh. Bila begini jadinya, ia tidak akan berani lagi bermain dengan arus yang ia anggap kecil. Namun menjadi sangat besar sehingga tak bisa di melawannya, dan hanya bisa pasrah terbawa olehnya.
Bagaimanapun juga Kuroko tetaplah manusia berperasaan -walaupun ia akui dirinya telah banyak menolak pernyataan cinta seseorang, yang bagaimanapun dikatakan, tetap sadis. tetapi ini berbeda, remaja baby blue ini tidak mungkin memakan kata-katanya bulat-bulat. Terutama dalam tenggat waktu persekian menit. tentu itu sangat mencabik perasaaan orang di hadapannya.
Argg, baiklah. Sekarang Kuroko memilih pasrah saja.
Mengikuti arus seperti yang dikatakannya. Walaupun Kuroko tau, itu menandakan dirinya tidak tegas –persetan.
.
Oke, sampai sini ayo kita tarik kembali kata-kata bahwa 'ia tidak mendapat ZONK juga malam Minggu ini'. Salah besar!
'Mungkin' satu-satunya yang 'tidak ZONK juga malam Minggu ini' adalah kenaikan pangkat dari single ke taken. Walaupun masih di diragukan.
.
"Kalau begitu mulai saat ini kau kekasihku. Kuroko Tetsuya" Nada ramah itu terdengar, hal yang sangat baru bagi pendengaran Kuroko. Baik dari segi kalimat yang ia terima maupun untaian nada yang ia dengar.
Nijimura mengelus sayang surai biru muda Kuroko -kali ini atas perintah pemikirannya. Kuroko senditi tidak melakuan perlawanan yang berarti, diam dan menerima perlakuan kekasihnya dalam waktu singkat ini.
Nijimura tersenyum, menatapnya penuh binar dan sayang. Ia sendiri tidak menduga, kenapa Kuroko bisa mengkait hatinya terlalu cepat dam menjadikannya kekasih begitu cepat -serta begitu cepat pula melupakan kedua orang sisa /author digeplak/ dalam ruangan itu.
Apa mungkin, ini akibat karena cintanya yang lalu putus beberapa waktu lalu atau ketidak tahanannya nge-jomlo. Mungkin paras imut Kuroko lah yang pertama mengisi kekosongan hatinya beberapa jam lalu, dengan cepat sekaligus tidak terduga. Surai raven ini ingin lebih mengenal Kuroko.
Apapun itu yang jelas…
Mulai saat ini Kuroko adalah kekasih Nijimura, begitu pula sebaliknya.
.
.
.
Bila boleh jujur sedikit, Kuroko mengakui bahwa elusan Nijimura ini /dapat dikatakan/ nyaman..
Apa itu juga berarti hatinya mulai terisi oleh Nijimura?
Siapa tahu..
Tbc~
A/n : *datang-datang nangis kejer
Huaaaa, maafkan keterlambatan saya yang teramat ini DX
Saya ga bermaksud, halangan yang saya cantumkan pertama kali bener-bener ngerusak mood nulis saya :'(
Duh maaf ini abal banget, alurnya ngebut gini pliss. Maaf juga chapter satu belum ke edit, ngecewain banget deh!
tapi apapun itu saya sangat bersyukur bisa publis, dengan segala halangan yang harus di tempuh (sampai harus rela di suruh-suruh soudara) saya puas banget bisa lanjutin ini fic.
terimakasih untuk
SyifaCute, Aprilia Echizen, KakaknyaKurokoTetsuya, Namika Rahma, Tsuki no Kurobara,Kuhaku, Uchiha Ryuuki, Eqa Skylight dan para reader sekalian yang mengesempatkan membaca fic ini.
Terimakasih untuk reviev pembakar semangat, follow serta fav-nya X'D
Author baru, membutuhkan saran serta keritik. Jadi silakan..
REVIEV...
