Kuroko no Basket milik Fujimaki-sensei
Pair : Nijimura x Kuroko x Akashi x Kuroko x Mayuzumi
Warning: AU(maybe),Touou!Akashi, Touou!Mayuzumi, abal, OOC, crack, canon, typo(s), EYD kacau, alur kecepetan, plot tidak tereksplorasi dengan baik, diksi ga karuan dan hal-hal lain yang tidak sesuai.
Saya tidak yakin ada humor dalam fanfic ini.
Bila kurang berkenan silakan klik tombol back
Bila ada kekurangan dalam fanfic ini ingatkan author dengan cara selembut sutra/digiles
.
.
.
Douzo...
Kriiing~
Alunan ritmis alarm memenuhi ruangan yang tidak terlalu luas bernuansa putih. Seorang di balik selimbut terlihat mengeliat mencapai alam sadar. Bola mata aquamarine itu perlahan menampakan diri kala kelopaknya membuka intensitas cahaya yang masuk tertangkap retinanya, sang pemilik mengucek matanya untuk sedikit mengusir kantuknya yang masih hinggap.
Mematikan jam alarmnya, lalu mengamati sekitarnya dan mendapati dirinya berada di kamarnya sendiri.
Pemuda seumuran SMA itu lantas menghirup udara khas pagi hari -ada aroma tanah basah disana.
Tak butuh waktu lama untuk Kuroko Tetsuya (nama pemuda itu) bangkit dari ranjangnya.
Berjalan tanpa memerhatikan apapun lagi, memutar kenop pintu -yang tidak pernah di kunci- dengan mudah.
Kriiet~ pintu kayu itu kembali ditutup perlahan.
Berdiri tepat di luar kamarnya, dia sedikit meregangkan ototnya yang tarasa agak tegang. Orang yang di karuniai wajah imut bermargakan Kuroko itu terdiam sebentar.
"Seperti ada yang janggal," gumam Kuroko. Jari-jari lentiknya menyisir surai biru itu dalam satu gerakan, hanya sekedar memberi akses jalan untuk pandangannya.
Menggeleng. "Hanya perasaan." Dirinya kembali meneruskan jalannya menuruni tangga, bermaksud pergi ke ruang keluarga.
Pagi weekend begini, pasti makanan belum siap. Maka ruang keluargalah yang pertama terisi. Kedua ruangan itu memang terletak bersebelahan.
Tidak sampai satu menit berjalan lunglai. Akhirnya jemari kaki polosnya menapaki lantai ruangan yang dituju. Mengamati sekitar secara kilat, ia langsung mendapati dua orang keluarganya di ruangan itu. "Ohayou, obaa-san, otou-san" Kuroko menyapa ramah dua orang disana. Dia mengucek matanya yang agak berkedut. Betapa imutnya.
"Ohayou, Tetsu-chan/ Tetsuya" Balas mereka, menyempatkan untuk beralih dari kegiatan masing-masing.
Setelah hangat bertegur sapa, darinya berjalan kearah sofa sebelah ayahnya. Memungut majalah yang terabaikan di meja. Putra sulung Kuroko ini mulai duduk santai dan membaca, hanya untuk mengisi waktu kosongnya menunggu hidangan pagi.
Setelah beberapa lama hening pria paruh baya di samping Kuroko mulai menunjukan pergerakan. Menutup lembaran korannya, pria itu menyampirkan perhatiannya pada anak semata wayangnya. "Ne, Tetsuya ..." Alunan berkharisma ala-ala pria dewasa terdengar.
Merespon, lelaki yang jauh lebih mungil itu menyahuti, "ya, otou-san?" Maniknya balik memandang ayah kandungnya dengan pandangan setengah sadar.
"Siapa nama teman mu itu? Otou-san lupa," omongnya terkesan hanya untuk membuka pembicaraan, sesaat sebelum ia menyeruput air kopi dari cangkir yang sudah bertengger cantik pada jarinya.
Namun demikian, Kuroko hanya mengernyit mengambil jeda untuk berpikir, mencoba menjernihkan kembali pikirannya. Berusaha membangun kembali memorinya.
"Ano, maksud otou-san teman yang mana?" Timpal Kuroko terang-terangan menyerukan tanda tanya dalam benaknya.
Tidak langsung menjawab, sang ayah terlihat memandangi putranya dengan satu alis yang dinaikkan samar -sepertinya dia melupakan fakta yang penting. Beberapa detik memandangi seperti itu, pria setengah baya ini mengembalikan mimik wajah teduhnya. "Ah, lupakan saja. Tetsuya tidak akan ingat," katanya lembut. Kembali membaca bahan bacaannya setelah menyuarakan kalimat itu. Tidak memerdulikan ekspresi bingung yang terlukis tipis pada paras sang anak.
Kuroko tentunya hanya mengernyit bingung atas pembicaraan yang arahnya teramat tidak jelas ini. Tetapi, sama seperti ayahnya. Ia tidak memperpanjang perbincangan tadi.
Lagi pula bukan hal penting, pikirnya. Memilih terhanyut kembali dalam bahan bacaan di tangannya. Mungkin membaca dapat cepat menjernihkan pikirannya, atau mungkin sebalikanya.
.
"Tet-chan ... sudah bangun?" Sang ibunda tiba-tiba menampilkan diri dari bilik dapur. "Ohayou nee Tet-chan," sapanya.
"Ohayou, akaa-san"
"Bisa bantu akaa-san di dapur, Tet-chan?" Kepala ibunya masih nampak di pintu penghubung antara dua ruangan itu.
Memang pada dasarnya penurut, permintaan itu di sambut anggukan menyanggupi. Pada detik itu jaga Kuroko menyimpan majalahnya, dan bergegas ke arah dapur.
.
"Siapkan lima piring ya, Tet-chan~"
Mendengar seruan ibunya, Kuroko segera menghentikan aktifitas bantu-bantunya. Pandangannya lurus kepada sang ibunda. Heran. "Akaa-san?"
"Hmm, ada apa, Tet-chan?" Masih tertuju pada kegiatannya.
"Kurasa empat piring saja cukup untuk kita sekeluarga,"cakapnya.
"Oh, satunya untuk tamu kita Tet-chan"
Mendengar alasan yang cukup, Kuroko lantas menyanggupi titah sang ibu. Menata piring di meja dan bertanya, "Memang siapa yang bertamu akaa-san?"
"Teman mu yang ada di kamarmu, siapa lagi?" Sang ibu santai menanggapi. Sementara anaknya yang sama bernuansa biru makin mengernyit dalam -berusaha menangkap sesuatu.
"Kau tidak membangunkannya?" Tanya wanita berumah tangga itu, samasekali tidak mendapat respons dari anaknya.
Kuroko muda itu masih memeroses dan mengobrak-abrik ingatannya.
Hening
Jarinya mulai mendingin. Ia menemukan sebuah ingatan, tetapi ia masih mencari suatu memori. Sebuah titik terang belum didapatkannya. Ingatan yang mengatakan 'bagaimana ia bisa berada di kamarnya' hilang, memberatkan pada kejanggalan dari ingatan sebelumnya.
Lama termenung, pemuda SMA ini segera mengambil tindakan. Memastikan.
"Permisi akaa-san"
Suara kecil debam langkah kaki saling mendominasi. Tidak nampak tergesa namun begitu cepat, memilih semua gerakan efesien yang sering digunakannya.
Tepat di depan anak tangga menuju kamarnya, langkahnya memelan.
Sesosok gambaran terpelesir dalam pikirannya, bayang yang kemudian sangat ditolaknya. Pertimbangannya meyakinkan gambaran sesosok 'teman' yang terpelesir dalam benaknnya, tetapi dirinya berusaha menolak. Berharap itu salah, lagi pula itu hanya bayangan saja, kan?
Menurut ingatannya, malam itu Kuroko berada di apartemen Kagami, terlelap di dalamnya. Selanjutnya gelap. Yang pemuda imut itu ingat, dia disana bersama Kagami, Aomine serta Nijimura. Nijimura yang notabenenya kekasih Kuroko. Jadi diantara ketiga orang itu, siapa yang memiliki kemungkinan terbesar membawanya ke sini? Terlebih menginap di rumahnya? Kurang jelas?
Kuroko menyangkal pikiran pertamanya, menggantikannya dengan bayangan taksi/apa pula ini_-/, jelas sangat tidak mungkin. Adakah supir taksi yang akan menginap di rumah penumpangnya? Sepertinya tidak.
Ah, dia melupakan itu.
Kau tahu Kuroko, orang yang menolak apa yang dipercayai dan ditetapkan pertama kali itu terlihat bodoh -entahlah.
Krieet..
Pintu berpelitur sederhana itu kembali terjamah(?) sang empu. Perlahan menampakan desain dalam yang sangat fanatik di matanya.
Terbuka begitu lebar sehingga jemarinya kembali dingin.
Kelopaknya nampak membuka, apa yang dipandangnya kini meluruhkan semua sangkalannya. Kenyataan membenarkan jawaban yang terbayang pertama.
Jadikan Kuroko telur piyo...
Kaki jenjang berbalutkan kain semata kali itu, berjalan mendekati seorang yang tengah tertidur di atas sofa. Sosok yang begitu damai, memperlihatkan lekuk wajahnya yang terulas natural, memukau. Figurnya yang terlelap dengan pose yang aduhai/digeplak/ hanya diiringi gerak dada yang naik turun, dan hidung yang kemb- *author disambit
Ah, pantas saja Kuroko tidak menyadarinya.
Kuroko semakin menilik seorang yang kini berbaring di hadapannya. Nijimura. Orang kedua yang membuatnya kalang-kabut kemarin malam, Kuroko sangat mengingatnya -tentu saja.
"Nggh...," dentang erang dari pria bermahkota legam itu tertangkap indra Kuroko, dengan segera di jauhkan parasnya yang sempat mendekat dengan orang bernamakan Nijimura Shuuzou di hadapannya.
Jantungnya kini berpacu lebih cepat kala ia menyadari tingkahnya barusan, ditambah lagi erangan seperti tanda sadar dari kakak angkatannya. Jalar-jalar kemerahan mulai merambat ke pipinya yang manis, gerak-gerik salah tingkah memperjelas apa yang dia rasakan.
Mengeratkan deretan giginya serta mengepalkan jemari-"Se-senpai." -segenap keberanian di kumpulkan untuk mengeluarkan panggilannya terhadap Nijimura.
Keberanian yang tidak biasanya sulit untuk terkumpul, entah kenapa kini berbanding terbalik.
Well, walaupun Nijimura yang notabenenya kekasih Kuroko, tak dapat dipungkiri bahwa Nijimura termasuk tergolong orang yang masih asing di mata Kuroko.
Mereka hanya paling mengetahui muka selama 2 tahun, berjalan di jalan masing-masing selama hampir setahun, bertemu kemarin sore dan sekarang resmi menjadi sepasang kekasih -tanpa pendekatan sedikitpun. Mimpi.
Bukan sesuatu yang mustahil bila seorang tertarik dengan sesuatu dalam waktu per mili sekon sekalipun, tetapi memiliki, terutama dalam hal ini ... masih berupa angan.
Menghela napas, membuang segala pikiran yang lebih-lebih membuatnya gugup serta membangun kembali pribadi aslinya yang jauh dari kata gugup. Tangannya -yang sejak tadi dingin- Kuroko gunakan untuk sedikit mengguncang tubuh Nijimura. Menetapkan tujuannya untuk membangunkan Nijimura. "Senpai," panggilnya.
Tanpa disangka mata yang selalu nampak tajam itu mengerjap. Tangan sang empu bergerak semi sadar menyisir helaian surai hitamnya, gerak yang sekilas nampak disengaja untuk menonjolkan relief wajah biasanya begitu berkharisma, kini malah sangat lembut.
Mengobservasi sekitarnya dengan setengah kesadarannya selama beberapa waktu, sampai matanya menemukan sosok yang menjadi acuannya kini. Sulit diketahui memenag.
"Senpai," panggil Kuroko, datar. Seakan hanya kata itu yang mampu terlontar olehnya. Ah, lagi pula apa yang mampu dikatakan pada orang yang baru bangun?
'Ohayou'? Entah kenapa Kuroko tidak berani menggunakan itu.
"Kuroko~" gumaman serak terdengar dari Nijimura yang menaruh pandang samarnya pada Kuroko -yang kini berkeringat dingin.
"Kuroko!" Satu sentakan dari Nijimura yang refleks bangun ke posisi duduk serta memfokuskan pandangannya lebar-lebar. Membuat Kuroko secara otomatis mundur satu langkah tanpa suara. Cukup kaget.
Nijimura menatap linglung, menundukan kepalanya untuk sekedar membuang napas dan mengurut kening, lalu memberikan tatapan intensnya pada Kuroko.
Makin menjalar saja kedinginan pada tubuh Kuroko.
Kami-sama, semoga Nijimura-senpai melupakan statusnya denganku, sekarang, harap Kuroko.
"Jam berapa sekarang?" tanyanya, masih memerangkap Kuroko dalam tatapanya, entah kenapa itu bisa terjadi.
"Sekitar ..." Kuroko segera beralih, menilik jam yang terpampang di meja belajarnya. Berusaha membuat gerakan selembut dan natural mungkin, putaran leher sekalipun. "-pukul tujuh."
"Malam?"
Sret, pandangan Kuroko kembali tertuju pada Nijimura.
"I-ini pagi, senpai."
Dia linglung ya? Ah, semoga senpai juga lupa hubungan kami, batin Kuroko speacless.
"Oh -aku hanya bercanda," ralatnya tak mau mengakui kesalahannya, lagipula wajar bila ia melakikan kesalahan saat ia baru bangun, terutama terbangun di kamar yang begitu asing. "Maaf, aku ketiduran," ucapnya -menyadari tempat. Kakinya segera ia turunkan menapaki lantai.
Kelereng mata Nijimura menyapu seluruh ruangan kamar Kuroko. Telah melekat di benaknya ingatan mengapa ia sampai ada di kamar kekasihnya -tentu saja ia ingat itu.
Pantas saja, pikir Nijimura berkaitan tentang latar 'malam' yang ia tanyakan. Setelah di tilik sekilas, kamar Kuroko masih begitu cerah diterangi lampu, jendela yang sepenuhnya tertutupi tirai, serta merta meninggalkan kesan malam hari.
"Ano, Nijimura-senpai."
Nijimura agak terkesiap. "Ya?" sahutnya.
Kuroko membuang pandangannya sesaat, untuk kemudian ia tujukan kembali pada Nijimura, "senpai," maniknya menatap dalam Nijimura, "kenapa ... bisa ada di sini?"
Hening.
"Bu-bukan maksudku untuk mengusir senpai! Aku hanya ingin tahu," cetus Kuroko cepat. Telapak tangan kiri Kuroko terbuka di depan dadanya.
Nijimura memandang Kuroko lucu, kemudian sedikit tergelak. "Tidak, bukan itu. Hanya saja-" Nijimura sengaja menggantung kalimatnya, tatapanya mengarah pada Kuroko secara liar, membuat siapapun yang ditatap seperti itu menyalah artikannya -termasuk Kuroko yang agak bergidik. "-kau begitu manis saat serius, juga saat kau ... panik, mungkin. Tetsuya," lanjutnya. Seringai jail yang pernah dilihat Kuroko, kini dipertunjukan kembali.
Ketika itu juga jalar-jalar panas menyentuh pipi mulus Kuroko.
Shit. Nijimura sedang menggodanya!
Ditambah dengan Nijimura yang menyebut nama kecilnya untuk yang pertama kali.
"Tentang pertanyaanmu tadi, seingatku karena Kuroko-san yang memaksaku tinggal di sini semalam saja saat aku membopongmu pulang," jawabnya terlambat. "Saat kau tertidur di apartemen pacarnya Aomine itu, ibumu terus meneleponimu untuk pulang dan Ahomine yang kurang ajar itu secara tidak langsung mengusir kita. Kita kehujanan di tengah perjalanan, dan ... beginilah," ujar Nijimura lebih kepada mendumel.
"Mmaaf merepotkanmu, Nijimura senpai." Dilihatnya pakaian Nijimura yang dia ingat dikenakan Nijimura sejak pertama kali bertemu kemarin sore, terlihat agak lembap. Dia makin bersalah.
Mendengar itu Nijimura mengibas-ngibaskan tangannya pelan. "Tidak masalah"
.
Tidak ada satupun yang bersahut.
.
Dalam diamnya setelah beberapa detik, Kuroko teringat sesuatu. "Nijimura-senpai, akaasan mengajakmu sarapan."
Bersamaan dengan berakhirnya kalimat Kuroko, sesuatu didekat mereka berbunyi sayup. Sebatang ponsel yang disinyalir milik Nijimura. Membuat sang empu bergerak lebih dulu untuk mengecek ponselnya daripada menyahuti ajakan Kuroko. Dibacanya pesan masuk yang diterima.
Entah perasaan Kuroko atau apa, Nijimura sempat bergidik saat menatapi ponselnya.
"Maaf, Kuroko. Sepertinya aku harus segera pergi." Ia mulai bangkit berdiri, menyeimbangi Kuroko.
"Kenapa-" Kuroko memalingkan wajahnya. "Baiklah, aku antar Nijimura-senpai untuk berpamitan."
"Arigatou."
Acara pamitan telah terlaksana. Dan disinilah mereka sekarang, pekarangan depan rumah Kuroko.
"Maaf hanya bisa mengantarkan senpai sampai sini."
Nijimura tersenyum, sepertinya dia mulai terbiasa denga Kuroko. Hanya dalam waktu kurang dari duapuluh empat jam. "Tidak apa. Ah, terimakasih untuk sarapan tadi. Ibumu pandai memasak!"
"A- itu ...," Kuroko tidak bisa melanjutkan. Dia inginnya meminta maaf atas paksaan ibunya pada Nijimura yang terkesan protektif. Pada Nijimura pun ibunya bertingkah seperti itu, apalagi pada Kuroko. Si surai biru ini jadi speacless sendiri.
Dan entah apa, tentang kalimat terakhir Nijimura. Rasanya ia jadi iri dengan ibunya sendiri. Kuroko sendiri tidak mengerti, atau enggan mengerti tepatnya.
Harusnya -tidak. Kuroko tidak menyukai Nijimura, kan?
Tidak tahu harus melakukan apa, Kuroko akhirnya menyapukan pandangnya ke penjuru-penjuru(?) halamannya. Dan ... mendapati suatu yang bisa disebut janggal.
Sesuatu yang cemerlang terlintas di benak Nijimura, "Kuroko-"
"Dimana senpai memangkirkan motor senpai?" Kuroko lebih cepat memangkas omong Nijimura.
Puk
Tanpa disangka tangan kanan Nijimura terulur menempati puncak kepala Kuroko, tanpa gerak. Sanggup membuat Kuroko terhenyak samar.
Entah magnet apa lagi yang membuat Kuroko menatap lurus Nijimura. Kerutan terulas tipis menghiasi wajahnya. Implus-implus dalam diri Kuroko mulai menyerang kerja jantungnya.
"Kau tahu, membawa seorang yang tertidur dengan motor itu ide buruk," dijawabnya pertanyaan Kuroko, sekalipun itu bukan jawaban(?).
Nijimura melakukan hal yang sama seperti Kuroko -namun pandangannya lebih intens.
.
Bayang-bayang sesosok bersurai biru dan merah tua tiba-tiba terlintas di benak Kuroko.
.
Beberapa detik, dan Nijimura mulai memotong jarak wajahnya dengan Kuroko.
Cup
Pemuda tujuh belas tahunan itu mengecup punggung tangannya yang bertempat di hamparan warna aqua. Suara cecap bak semilir angin, entah kenapa bisa tertangkap oleh pendengaran Kuroko. Memberi tahunya secara pasti apa yang dilakukan Nijimura. Perlakuan yang mampu mengambil alih kendali gerak Kuroko.
Cukup lama /padahal hanya 3 detik/ mereka bertahan dalam kondisi seperti itu. Hingga Nijimura mengembalikan kedudukan kepala serta lengannya ke posisi semula, yang normal dan seharusnya. Lengkung tipis terpatri di wajahnya.
Pada saat itu juga Kuroko segera menundukan kepalanya, walaupun ia tidak menjamin rona merah di wajahnya -yang untuk pertama kalinya ingin ia jejalkan ke tong sampah- akan luput dari mata lawannya.
"A-apa yya ... yang se-senpai lakukan?" Kalimat bodoh dengan nada paling abstrak dalam hidupnya keluar begitu saja. Sumpah serapah atas apa yang baru saja ia ucapkan pun langsung terkoar dalam diri Kuroko.
Nijimura sedijit menautkan alisnya. "Aku pacarmu, kan."
Dengan satu kata mujarap menghentikan kerja jantung Kuroko selama dua detik. Membuat Kuroko semakin dalam menunduk, pandangannya condong ke kiri. /maaf ya Kuroko, author gak mungkin bikin Nijimura amnesia *author kena timpuk/
Hening kembali tercipta diantara keduanya.
"J-jaa, Kuroko. Sepertinya aku harus segera pergi. Ja nee," Nijimura mengambil langkahnya. Mulai meninggalkan Kuroko dalam lamunannya, tanpa menunggu balasan apapun.
"Nijimura-senpai!"
Entah di langkah ke berapa, cuping sensitif Nijimura menangkap lantunan yang ia harapkan. Badannya segera berbalik guna menangkap sosok biru muda kesayangannya. Benar saja, sosok itu tertampil di depan pagar rumah yang menjadi tempat singgahnya.
"Terimakasih atas semuanya, senpai!" Kuroko sedikit membungkukkan badannya, layaknya di acara formal.
Beberapa meter di dari Kuroko, nampak Nijimura yang mematri senyum khasnya. "Tidak masalah," sahutnya -entah terdengar oleh Kuroko atau tidak. "Sampai jumpa, Tetsuya!"
"Un,"
Huft, Kuroko membuang napas setelah apa yang ia lakukan. Kuroko tidak tahu kenapa, tapi ia rasa harus melakukannya, mengatakan terimakasihnya. Padahal sebelumnya pria surai biru ini sempat terguncang(?), terdiam atas perlakuan Nijimura padanya. Semua tindakan Kuroko memang sulit dibaca, kan? Ralat, keduanya.
Dua pijakan memasuki halaman rumahnya, dan pemuda tipis hawa keberadaan ini tiba-tiba saja ambruk terjongkok.
Parasnya tertunduk dalam mencapai lututnya dengan satu tangan yang meremas lembut rambut di puncak kepalanya. Desis kegusaran, seperti kata 'memalukan' berkali-kali terdengar dari pria ini. Dirinya kembali kalut seperti beberapa menit lalu.
Di pagi hari, siapa juga yang tidak kalut bila menerima perlakuan seperti yang diberikan Nijimura pada Kuroko?
Kuroko tahu, kecupan itu sama sekali tidak mengenai ujung rambutnya sekalipun. But, it's something!
.
Ah, bila Kuroko adalah Kise Ryouta ataupun seorang dari kaum fangirlingnya a.k.a perempuan. Dapat dipastikan rumput-rumput liar yang berada disekitaran rumah Kuroko tandas tak tersisa. /author gak bisa bayangin, Kuroko nyabutin rumput dan bilang, GUE UDAH GAK KUAT/
.
Terlepas dari galaunya, Kuroko kini terdiam dalam posisi yang sama -berjongkok dengan satu tangan meremas rambutnya, dan kini satu tangan lainnya ia gunakan untuk membersihkan debu maupun pasir yang terasa lembab di sana. Menyapukan telapak tangannya secara monoton ke seonggok lahan di hadapannya, persis seperti anak terlantar yang sudah menyerah mencari ibunya. /author langsung dibuang/
Clak
Satu tetes air yang mungkin berasal dari pohon, jatuh tepat di punggung tangan Kuroko. Sadar dari lamunannya terkait perkara tadi, Kuroko memandang tetes air di punggung tangannya. Kerja otaknya mulai berjalan, kini dirabanya tanah lembab yang sempat ia 'sapu' tak jelas, mencoba mencari sesuatu yang mengganjal pikirannya.
Menurut Nijimura, kemarin malam hujan.
Beralih dari meraba tanah, sekarang ia memandang lengannya -tidak, lebih tepatnya rangkai benang yang menutupinya. Beberapa lama dan wajah bak porselen itu nampak pucat, pikiran-pikiran liar nan negatif berlarian di benaknya.
Bukankah baju yang terakhir kali dipakainya adalah gakuran Seirin!?
"Tet ... chan?"
Semua pikiran Kuroko seketika teralihkan berkat suara yang begitu familiar pada pendengarannya. Takut-takut didongkakkan kepalanya ke asal suara di depannya.
"A-akaasan," Buru-buru Kuroko bangkit, berdiri tegap. "Akaasan ... sedang apa?" tanya Kuroko. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori Kuroko, raut wajah ibunya membuat Kuroko sedikit was-was.
"Tet-chan ..." Ibu rumah tangga keluarga Kuroko itu terlihat menelan ludahnya "yang Nijimura-kun lakukan padamu tadi ..." Ekspresi tidak percaya pada wajah sang ibu makin ketara saja.
Kuroko menelan ludahnya dengan susah payah. Jantungnya berpacu besusulan. Belum luntur tentang kalutnya tadi, masalah lain sudah ada di depan matanya.
Tsk. Bahkan bila ibunya meminta penjelasan pun, Kuroko tidak memiliki sebuah alasan, barang sekata.
Shit. Fuc*ing shit!
Ternyata ibunya berada disana dan melihat tingkah anaknya sedari awal!
Dentuman bola basket sayup terdengar dari gymnasium Touou Gakuen. Beberapa masih untuk berlatih, padahal sesi latihan telah berakhir sejam yang lalu.
"... shi ... Akashi ... AKASHI!"
"Berisik. Aku mendengarnya, Daiki," desis berbahaya terdengar dari orang yang di panggil 'Akashi' itu. Menghentikan kegiatan monotonnya sejak awal latihan, kegiatan mengshoot bola basket. Ujung matanya melirik tajam sang pemanggil. Cukup membuat si biru sedikit bergidik.
"Cih, padahal dari tadi kau melamun," umpat Aomine, mengontrol rendah suaranya.
"Kau bicara sesuatu, Daiki?"
"Tidak,"
Tanpa mengindahkan keberadaan Aomine, pemilik manik dwi warna itu menyipitkan matanya, sesaat kemudian bola orange di genggamannya telah meluncur mulus melewati mulut ring basket. Setelah itu dia mengambil bola basket lain pada trolley besar di sebelahnya, dan bertanya, "Ada perlu apa kau denganku?"
Aomine menggaruk bagian belakang kepalanya. "Tentang Kuroko-"
Syut, sebuah bola basket meluncur cepat melewati lelaki dim itu. Membuat sang sasaran melebarkan matanya. "Gua belum ngomong, Akashi!" cerocos Aomine sewot.
"Refleks," ucap Akashi datar. Lengannya kembali mengambil bola lain dari trolley. " Jadi, ada apa tentang Kuroko?" Sebenarnya mendengar nama si Bayangan saja sudah membuat hatinya sakit akibat hujaman jarum-jarum ingatan tentang -ehm, dia tidak mau mengingatnya, lagi.
Aomine menelan ludahnya pahit. Aomine tahu betul akibat apa yang akan ditanggungnya bila ia meneruskan argumennya, inti yang membuatnya dalam bahaya. Ia bahkan sudah meningkatkan kewaspadaannya berkali lipat guna mengantisipasi bahaya. Bisa saja ia lari, tapi ini demi uke tercintanya -lebih tepatnya permintaan ukenya.
"Harusnya kau lebih cepat, Akashi." Aomine bermaksud basa-basi untuk kesiapan mentalnya. Walaupun kalimatnya jelas memiliki kode tersendiri.
Akashi menurunkan posisi bola yang hendak dishoot nya. Kecerdasannya dapat mengartikan ucapan Aomine saat itu juga. Jelas sekali, tanpa celah. Lagi pula orang bodoh macam apa yang tidak mengerti maksudnya, terlebih dalam urusan percintaan? Haram(?) hukumnya bagi Akashi berada dalam posisi 'orang bodoh' itu. Akashi selalu benar, nee?
Tapi-
Pemilik mata hetrocrom itu memantul-memantulkan bolanya santai, badan dan pandangannya terarah lurus kepada Aomine. Bergaya stay cool dengan tatapan tajam seperti biasanya -acting yang layak mendapatkan apresiasi. "Cepat," desisan menuntut diserukannya dengan aura yang teramat berat.
-untuk kali ini saja ... Akashi amat berharap -tidak, memohon, untuk pertama kali dalam hidupnya, ia bukanlah seorang Akashi yang absolut itu. Kali ini saja, ia rela menjadi 'orang bodoh' itu.
Dilihatnya Aomine yang mungkin sedikit bergetar, meskipum wajahnya masih menunjukan kegarangan dengan mata yang tertuju berani ke arah manik scarlet Akashi.
Tolong jangan tunjukan ekspresi takut itu, Aomine.
"Kuroko ..." Aomine menelan ludahnya. " ... dia pacaran dengan Nijimura-senpai."
Slap, satu lagi lemparan bola basket yang terarah tajam kepada Aomine.
"Minum? Kagami-kun," tawar Kuroko. Menyodorkan botol minum yang masih tersegel apik.
"Hn, terimakasih!" Pemuda kekar itu menyambut senang sebotol air yang diberikan Kuroko, lalu ikut mendudukan dirinya tepat di samping patnernya.
Diregangkannya otot-otot yang lebih tegang dari biasanya. Maklum, entah apa yang menyambar pelatihnya, sehingga sang pelatih lipat menggandakan latihan. Obsesi untuk menang kembali, mungkin.
Ah, tapi persetan, sekarang giliran Kagami berikut pemain lainnya mencicipi surga. Selonjoran serta membasahi kerongkongan dengan air yang berkali lipat lebih segar dari biasanya. Efek setelah latihan (baca: siksaan) tadi.
"Kagami-kun,"
"Hm," balasan singkat berupa gumam keluar dari mulut Kagami. Punggungnya disenderkan ke tembok guna semakin merilekskan otot-ototnya.
"Bisakah kau ..."
Dan kata-kata yang dilayangkan selanjutnya sanggup membuat Kagami berteriak, "APA KATAMU!?" secara refleks, dengan tampang bodoh.
Diperhatikan raut Kuroko dengan tajam. Tapi sejauh apapun ia menilik Kuroko, wajah yang dikaruniai relief uke idaman itu masih bertahan di raut poker andalannya. Bahkan tanda-tanda Kuroko baru berbicara saja tidak nampak.
Kagami mengorek telinganya. Mungkin telingaku yang tidak beres, batin Kagami.
"Err, Kuroko. Kau tadi mengatakan sesuatu?"
Kuroko mengernyit, apa volume suaranya begitu kecil?
"Perlu aku ulangi, Kagami-kun?"
Kagami mengangguk pasti, meski sebenarnya ada kabut ragu disana. "Ya," Perasaannya tidak enak.
Kuroko menarik napasnya dalam. Sebenarnya ia malas mengatakannya lagi, tapi tanggung juga bila akhirnya gantung. Sejenak dipejamkan matanya, mengumpulkan suara lalu menatap dalam Kagami -tatapan serius yang selalu ia pajang saat bermain basket. "Bantu aku putus dengan Nijimura-senpai, Kagami-kun!"
Tbc
A/n: MAAFKAN KETERLAMBATAN SAYA YANG TERAMAT SANGAT INII _
Saya memang author newbie yang tidak bisa diharapkan~ /mojok
Maafkan juga chapter yang sangat seadanya dan banyak kurangnya ini. Dan lagi, saya belum sempat meng-edit chapter sebelunya yang berantakan m_ _m
Tidak lupa terimakasih banyakk juga saya ucapkan untuk yang telah mengesempatkan membaca fic ini, yang sudah review, follow dan fav. TERIMAKSIH BANYAK SEMUANYA /peluk satu-satu/
Ehm, mungkin ada yang reader-san pertanyakan di chapter ini? Silakan tanyakan saja~ saran serta kritik juga diperlukan, jadi silakan ...
Review~
