Sebenarnya di fb cerita ku ini sudah update sampai chp 17. Itu lah sebabnya bisa update kilat dan tiap chapter tdk panjang. Gomenne.

But, maybe aku akan menggabungkan saja 2chp menjadi satu. Bagaimana menurut minna-san?

Terimakasih,

Sudah membaca dan mereview cerita ku ini. Meski banyak kurang disana-sini, tapi aku janji akan berusaha lebih baik lagi. ^^

Ok,

Cekidot...

.

.

.

Menjadi seorang CEO di sebuah perusahaan besar dan ternama diusia semuda itu tentu bukan hal yang mudah. Dan seorang Uchiha Sasuke telah membuktikan kepada seluruh dunia bahwa dia mampu.

Tampan, kaya, serba bisa, atau lebih tepatnya Sempurna. Semua itu adalah hal yang mutlak bisa terlihat dari sang bungsu Uchiha.

Seorang workaholic sejati, yang tak tertarik pada apapun selain pekerjaan. Ohh ayolah tanpa perlu ia berusaha para wanita akan berhamburan datang padanya. Dan sayangnya perlu digaris bawahi sekali lagi bahwa Sasuke sama sekali tak tertarik. Baginya kencan dengan laptop dan kopi adalah yang paling menarik ketimbang wanita bermake up tebal dengan pakaian sexy.

Sasuke masih mengingatnya dengan jelas, rapat terakhir yang ia hadiri bersama CEO Namikaze corps beberapa bulan yang lalu.

Sebuah pembahasan aloT mengenai saham dan lainnya yang berakhir dengan jamuan makan malam mewah. Dan disanalah Sasuke baru menyadari tahap pembicaraan selanjutnya.

Menikah. Membayangkannya saja Sasuke sudah malas. Baginya menikah itu adalah hal tak berguna dan sia-sia. Ia masih sangat tertarik dengan pekerjaannya dari pada sebuah pernikahan yang telah diatur terdengar sangat konyol ditelinganya.

" Menikah hanyalah tempat pemberhentian terakhir untuk hura-hura, akal sehat dan kebebasan."

Entah kenapa kata-kata mutiara kebanggaan anikinya itu terus bergaung di pikirannya.

Tidak, dia tidak seperti anikinya yang selebor yang suka mabuk yang tukang gombal yang ini dan yang itu. Jelas berbeda, batinnya.

Mungkin Sasuke adalah pria paling dingin di dunia tapi ia tak pernah mempermainkan wanita seperti Itachi. Meski ia tak suka menjalin suatu hubungan yang serius dengan seorang wanita tapi hey ! Sasuke bukan womanizer. Sikapnya memang 'kelewat' dingin tapi setidaknya ia bukan perayu.

Dan disinilah sekarang Uchiha muda itu berada, menyesap kopi hitam kental favoritnya di ruang santai di kediamannya. Sedikit merilekskan tubuhnya yang penat setelah berjam-jam duduk di kursi pesawat yang menerbangkannya dari negeri Paman Sam itu.

Iris onixnya yang kelam menyapu pemandangan langit senja di luar jendela. Ia merasa tak banyak yang berubah semenjak ia menikah. Oh atau haruskah Ia mengingat bahwa 2 malam terhitung dari hari pernikahannya itu, Ia sudah diharuskan terbang ke Amerika untuk mengurusi anak cabang perusahaan yang ditinggalkan tanpa dosa oleh anikinya tercinta.

Beberapa saat kemudian, nampak Asuma datang dengan seorang pelayan yang mengikutinya sambil mendorong troli penuh kopi dan biskuit-biskuit renyah yang baru selesai dipanggang.

"Senang melihat anda kembali Tuan muda", suara Asuma terdengar tegas dan berwibawa. "Apakah anda sehat?"

"Hn"

Asuma segera merapikan meja, menata camilan sore untuk tuannya tanpa memusingkan arti jawaban singkat nan ambigu dari sang tuan muda.

Sasuke mengalihkan perhatiannya kepada kepala rumah tangga kediamannya itu

"Bagaimana dia?"

"Jika yang anda maksud nona muda, beliau gadis yang baik", tukas Asuma sambil menuangkan kopi kedalam cangkir yang kosong. "Hanya saja nona muda terlihat murung dan sedikit kesepian",

"Hnn",

Sasuke meneguk pelan kopi panas itu. Terasa pahit dan kental dilidahnya. Tinggal di rumah sebesar dan seluas ini dengan hanya segelintir pelayan memang terdengar sepi.

Pemuda raven itu menatap lekat sebuah potret dengan pigura berlapis emas yang tergantung di dinding. Potret dirinya dan sang gadis blonde di hari pernikahan mereka.

Sejujurnya, Sasuke tak mengenal gadis yang bersanding disebelahnya itu dengan baik. Mereka hanya sekali bertemu saat fiting baju. Dan baru bertemu kembali di altar.

Pertemuan super singkat untuk melangsungkan sebuah pernikahan. Atau lebih tepatnya sebuah pernikahan yang diatur.

Sasuke memang tak menolak rencana konyol untuk menyatukan ke dua perusahaan besar itu namun juga tak sepenuhnya begitu saja menerimanya.

Ia akui gadis blonde itu cukup manis meski air mukanya selalu menunjukkan penolakkan terhadap dirinya.

Surai emas yang lembut, mata Shapire yang sebiru langit dan jangan lupakan kulit tan eksotisnya itu. Gadis itu cukup menarik .

Memejamkan matanya, Sasuke mencoba mengingat kembali aroma tubuh sang gadis yang sempat mengusiknya. Menenagkan dan menggairahkan. Baru kali ini Sasuke jadi begitu tertarik dengan aroma tubuh seorang wanita.

3bulan meninggalkan istri barunya di Jepang lalu pulang dengan sambutan tubuh polos nan menggoda dan penolakan mentah-mentah.

Uchiha tak menerima penolakkan. Dan untuk pertama kalinya Sasuke merasakan gejolak aneh terhadap wanita itu. Begitu posesif dan dominan.

Ya Sasuke akan mendapatkannya bagaimana pun caranya. Seorang Uchiha selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.

"Asuma, bisa kau lakukan sesuatu untuk ku",

.

.

.

.

Naruto bergerak dengan gelisah. Iris birunya tak henti menatap lekat sosok lelaki bersurai raven didepannya itu dengan penuh waspada.

Berbagai jenis hidangan lezat tersaji diatas meja makan berhias kristal. Seumur hidupnya baru kali ini ia melihat makanan semewah dan semenarik itu. Selain ketika acara pernikahan dan jamuan pertama dari kakeknya, makan malam Naruto kali ini begitu amat mewah. Sayang, ia harus kehilangan selera makannya karena seseorang.

"Apa kau tak suka hidangannya?", suara baritone rendah itu sedikit mengangetkannya.

"Bukan begitu", menggaruk pipinya yang tak gatal, ia tak tau harus bersikap bagaimana dihadapan sang raven. "Aku hanya..., kurang enak badan kurasa",

"Apa perlu ku panggil kan dokter?"

"Ahh tidak! Tidak perlu- aku akan baik-baik saja",

"Kau yakin?'",

"Ya...",

Naruto meneguk jus orange nya cepat, ia merasa tenggorokkannya itu terbakar sampai-sampai semua kata-katanya ikut menguap bersama ketegangannya.

Ia telah melewati sore yang panjang dengan kepulangan 'suami baru' nya dari Amerika. Ketegangan dan kegelisahan akut menjalari setiap inchi dari tubuhnya.

Kepalanya terasa berdenyut, Naruto berniat untuk tidur lebih awal saat Asuma-san memberitahukan bahwa 'suami'nya itu mengharapkan kedatangannya sesegera mungkin di meja makan. Oh Tuhan jika lantai marmer berwarna putih bersih itu bisa terbelah, saat itu juga Naruto pasti lebih memilih untuk masuk kedalamnya.

Selera makan Naruto benar-benar menghilang begitu melihat mata kelam yang pernah menatap tubuh polosnya itu. Rasa malu, enggan, dan penat menghantuinya. Bersyukur, Asuma-san sudah sangat paham minuman favoritnya-orange juice.

Jika tidak tentu dapat dipastikan tak ada satu pun yang ada di meja makan itu ia telan.

Naruto menatap penuh minat ke setiap pemandangan yang ia lihat dari balik kaca mobil. Toko toko yang berjajar, orang-orang berlalu lalang, gedung-gedung kaca yang tinggi menjulang; betapa Naruto amat merindukan suasana diluar sana. Mengingat sudah lebih dr 3bulan ia hanya berdiam diri di 'Istana Uchiha'.

Sasuke melirik sekilas gadis bersurai blonde yang duduk tepat disebelahnya itu. Mata sewarna langit tsb nampak berbinar bahagia, sepertinya tak salah keputusan Sasuke menuruti kata-kata Asuma untuk mengajak 'nona muda'-nya itu berjalan-jalan sejenak.

Mobil porche berwarna onix itu berhenti di tempat parkir sebuah pertokoan. Sasuke segera melepas sefebelt kemudian melirik jam tangan silver mewah dipergelangan tangan kirinya. Masih pukul 3sore terlalu cepat untuk makan malam bukan. Sedikit camilan sepertinya akan menyenangkan.

Sepasang pengantin baru itu memasuki sebuah toko pastry berdesign Inggris yang terlihat cukup ramai. Deretan cake, puding, maupun cookie beraneka ragam warna dan rasa berjajar manis disepanjang etalase.

Naruto menatap penuh kagum. Cake-cake itu terlihat begitu manis dan lezat. Dan aroma toko ini benar-benar membuat Naruto merasa bahagia. Gadis mana yang tak suka cake cantik begini.

"Pilihlah yang kau suka, aku akan menunggu disana", sasuke mengisyaratkan letak meja yang akan mereka duduki.

"Benarkah aku boleh memilih?",

"Hn"

Iris shapire itu berbinar cerah. Ia tak menyangka hari ini akan begitu menyenangkan. Padahal ia sempat sedikit frustasi saat Asuma-san memberitahukan jika Sasuke mengajaknya pergi keluar sore ini.

Bayangkan saja, kau akan berkendara entah kemana bersama pria pendiam seperti Uchiha Sasuke; oh tidak terima kasih karena Naruto lebih memilih untuk menikmati teh dan kue almond kering bikinan Kurenai-san saja.

Tapi kini, semua frustasinya itu lenyap oleh puluhan cake-cake cantik dihadapannya itu.

Sepotong strawberry cheese cake, choco orange pie dan kue melon. Semua pesanan Naruto tadi kini terhidang cantik di pinggan-pinggan mungil berukir bunga. Ia mencomot strawberry cheese cakenya tak sabar.

"Uhmm, ya tuhan ini enak sekali", jeritnya tertahan. Cake ini benar-benar sangat lezat, Naruto sampai tak bisa berkata-kata lagi saking terpesonanya.

Sasuke mendengus geli melihat tingkah kekanakan nona-nya itu. Ia menyesap black coffe nya dalam diam. 3 potong kue uhn, untuk ukuran wanita bertubuh mungil seperti Naruto selera makannya cukup banyak juga.

Biasanya para wanita yang Sasuke ajak ke toko kue akan sangat jaim dihadapannya. Memesan hanya sepotong kue gandum dan memakannya segigitan kecil dengan alasan ini itu. Sangat munafik dan Ribet. Sasuke tak menyukainya.

Namun Naruto..., gadis blonde nya itu berbeda. Ia makan dengan lahapnya, memesan apa yang ia suka. Memperlihatkan dirinya yang apa adanya. Sangat berbeda dengan gadis yang tak menyentuh hidangannya kemarin malam itu.

Perkataan Asuma bahwa gadisnya tak bahagia terngiang dikepalanya. Demi Tuhan Sasuke tak akan membiarkan hal itu, seorang wanita milik Uchiha harus bahagia. Setidaknya Naruto harus bahagia meski ia sadar pernikahan mereka tak berlandaskan cinta.

Iris shapire Naruto melirik kearah pria raven dihadapannya itu. Pria itu hanya memesan black coffe tanpa gula dan tak ada yang lainnya.

Gadis bersurai keemasan itu sedikit merasa tak enak karena sudah menikmati cake-cakenya sendirian.

"Ano.., uhnn apa kau tak memesan cake Uchiha-san?", tanyanya ragu.

"Aku tak suka manis",

"Oh begitu., I see ",

Hening.

Naruto meremas rok shifon selututnya itu pelan. Ia merasa sangat canggung. Jika saja pria raven itu tidak sependiam itu mungkin akan ada percakapan santai diantara mereka.

Ini akan sangat sulit.

Mobil porche hitam itu melaju membelah jalanan. Naruto, gadis bersurai keemasan itu duduk dengan tenang sambil memangku sebuah kotak karton orange berisi aneka kue. Setelah sedikit memohon pada Sasuke, akhirnya ia berhasil membawakan oleh-oleh untuk Asuma-san dan Kurenai-san dirumah. Setidaknya Naruto hanya ingin membalas budi baik mereka saja.

Mobil yang dikemudikan sang raven melaju konstan kearah tepi kota. Pemandangan laut kota Konoha disore hari segera menyambut mereka. Langit sore yang kemerahan dan bau air laut, Naruto amat sangat merindukannya.

Ya, gadis kita itu memang dibesarkan didaerah tepi kota Konoha. Laut dan Matahari sudah menjadi sahabatnya sejak lama. Kerinduan yang amat menghantui dirinya, kenangan akan kedua orang tuanya semasa hidup membuat iris shapire yang tadinya berbinar itu kini mulai meredup.

Sasuke menyadari perubahan gadis blonde itu, keningnya berkerut heran. "Kenapa?", tanya Sasuke tetap memandang lurus kedepan.

Naruto sedikit tersentak kaget. "Ano, aku... Aku Tak apa kok", menggelengkan kepalanya pelan, gadis berkulit tan itu memfokuskan pandangannya ke arah laut yang kemerahan.

"Aku hanya..., sedikit rindu",

.

.

.

"Kyaaa! Laut! Uchiha-san kemarilah, ayo",

Gadis tan itu berteriak penuh semangat, tubuh mungilnya menari-nari penuh bahagia diatas butiran putih pasir pantai, sepatu flat berwarna baby pink yang tadi dikenakannya ia tenteng begitu saja, rambut keemasannya bersinar indah terkena sinar matahari sore. Senyum manisnya tak lepas dari wajah ayunya.

"Dinginnya, ini sangat menyenangkan bukan",

kakinya bermain disepanjang garis pantai, riak air laut yang datang membasahi kulit tan eksotisnya.

Ia merasa amat bahagia, senyum manis tak henti terkembang dari bibir plumnya. Naruto sama sekali tak menyangka, tiba-tiba pria raven itu memberhentikan mobilnya lalu tanpa babibu lagi mengajaknya mampir kepantai. Entah ini mimpi atau tidak yang pasti Naruto akan menikmatinya sampai puas.

Naruto melambai penuh semangat kearah pemuda raven yang sedari tadi hanya berdiri didekat tangga yang menghubungkan trotoar dan bibir pantai itu.

"Kemarilah Uchiha-san, ini menyenangkan", teriaknya gembira.

Sesaat kemudian segulungan ombak yang ckup kuat menghempasnya membuat keseimbangan gadis tan itu goyah. Ia terjatuh namun tawa tak lepas dari mulutnya.

Sasuke tersenyum tipis melihat tingkah gadis blonde nya yang tengah kegirangan bermain dipantai. Onixnya menatap lekat dibalik kaca mata hitam yang ia kenakan.

Ia tak pernah melihat gadis yang baru ia nikahi itu bergembira seriang ini. Tawanya begitu indah, pemandangan senja dipantai benar-benar sangat cocok menjadi background lukisan itu. Sinar sunset yang kemerahan sangat indah terpantul dikulitnya yang kecoklatan. Cantik. Hanya 1kata itu yang tepat melukiskan wanitanya

Naruto berlari kecil menghampiri pemuda raven itu. Nafasnya memburu tak beraturan.

"Uchiha-san..., haaa gohh gomenne...hahh.. Akuhh.. Terlalu bersemangat ne", tukas Naruto sambil mencoba menormalkan deru nafasnya.

Sasuke tersenyum tipis kemudian melepas kaca matanya, "Tak apa, sepertinya kau sangat menikmatinya",

Naruto mengangguk cepat, "Ya, aku sangat suka laut. Dulu waktu orang tua ku masih hidup mereka selalu mengajak ku jalan-jalan kelaut",

Gadis blonde itu tersenyum, dadanya terasa hangat penuh kenangan akan almarhum orang tuanya. Ia mendudukkan tubuhnya ke pasir begitu saja , tak peduli jika roknya akan kotor toh sebagian pakaiannya memang sudah basah sedari tadi.

"Aku menghabiskan masa kecil ku disini, begini-begini aku jago berenang loh. Ayah ku lah yang mengajarkan ku dulu", tukasnya mengenang.

Sasuke hanya menatap gadis itu dalam diam. Ia tak mengerti harus berucap apa dan bagaimana. Tak ingin merusak moment berharga yang Naruto sedang ceritakan.

"Jika aku pergi memancing dengan ayah dihari minggu, pulangnya ibu akan membuatkan makanan paling lezat yang ada dunia, masakkan ibuku itu paling top loh", naruto bercerita sambil menatap matahari yang perlahan mulai tenggelam dikejauhan.

"Gomenne Uchiha-san, aku malah bercerita tak jelas seperti ini, terimakasih untuk hari ini ne",

sebuah senyum tulus terukir dibibir plum Naruto.

Membuat dada sang raven berdetak kencang. Perasaan yang hangat menjalar ke setiap inchi tubuh alabasternya. Melihat senyuman Naruto membuatnya jadi seperti terhipnotis barang sesaat.

"Hn",

Sasuke memasukkan tangannya kedalam saku celana jins coklat yang ia kenakan.

Naruto memandang pria raven atau lebih tepatnya adalah suaminya itu dengan penuh kebahagiaan.

Seorang Pemuda stoick, irit bicara, sedikit pervert*maybe*, dan tak terduga.

Awalnya Naruto sangat membencinya, namun mungkin kali ini Ia harus mengakui jika Sasuke berhasil membuatnya bahagia hari ini.

Mungkin sudah saatnya ia merubah pandangannya akan pernikahan sepihaknya itu. Ya maybe this love must begin..,

TBC