(Cuap-cuap penulis= di chap ini akan ada 2orang karakter baru yang muncul. Siapa mereka? Langsung baca saja! )
Semoga kalian terhibur :)
Baru kali ini Naruto merasa sangat kerepotan memilih pakaian apa yang akan ia pakai. Semua baju yang ia punya rasa-rasanya tak ada yang cocok ataupun sesuai dengan apa yang ia harapkan.
Setelah berkutat cukup lama, akhirnya kemeja putih polos dan rok satin biru lah yang ia pilih.
Dadanya berdegup kencang, ia berjalan disepanjang lorong dengan hati berdebar. Oh ya Tuhan entah kenapa Naruto amat sangat merasa gugup.
"Se..selamat pagi", sapanya ragu saat tiba di meja makan. Asuma-san tersenyum ramah, ia menarik sedikit dinning chair sewarna kayu itu agar nona-nya dapat duduk dengan nyaman.
Naruto menatap sekeliling. Hanya ada dirinya, Asuma-san dan beberapa orang pelayan. Ia sama sekali tak bisa menemukan sang raven dimana pun.
"Anda ingin sarapan dengan Sandwich Tuna atau cereal nona?",
Teguran Asuma membuat Naruto sedikit tersentak kaget, buru-buru ia memjawab sekenanya. "Cereal saja", merapikan surai blondenya dengan jari. Naruto berusaha bersikap biasa.
"Ano.., Asuma-san dimana Uchiha-san sekarang? Apa beliau tak turun untuk sarapan?",
"Sasuke-sama sudah kembali ke Amerika subuh tadi nona",
"Benarkah?",
"Ya, beliau berpesan untuk tidak membangunkan nona",
"Ohh begitu ya..",
Naruto menatap mangkuk cerealnya tak berselera. Padahal ia sedikit berharap sang raven bisa menemaninya sarapan. Setidaknya mereka bisa bercakap-cakap lebih lama. Tapi sepertinya keinginan nya itu harus ia kubur dalam2.
.
.
.
3 hari sudah Sasuke pergi ke Amerika. Rasanya Naruto jadi sedikit kesepian. Memang hanya 1 hari mereka bersama, namun... Entahlah Naruto hanya merindukan keberadaan sang raven didekatnya.
Memiliki suami seorang CEO tentu tidaklah mudah, harus bolak-balik ke luar negeri untuk urusan bisnis dan tak pulang bahkan sampai beberapa bulan.
Naruto menatap ketengah danau dengan pandangan hampa. Ia kembali mengingat semuanya, memutar memorinya yang ada tentang sang pria Uchiha.
Senyumnya, Surai hitamnya, jari-jari lentik yang pucat, iris onix sekelam malam, dan bibir tipis yang menggairahkan. Betapa suaminya itu sangat sempurna sbg manusia, tampan layaknya dewa-dewa yunani.
Ketampanan dan kekayaannya pastilah ia memiliki banyak 'wanita' sebelum akhirnya menikah. Atau bahkan hingga saat ini masih saja ada yang mengejarnya. Bukankah iitu hal yang wajar. Ya Tuhan setidaknya aku harus percaya padanya, jerit Naruto dalam hati.
Menghela nafas lelah, pemandangan kebun mawar ini sudah tak semenarik sebelumnya. Gadis blonde itu menginginkan suaminya. Menginginkan suaminya berada di sisinya.
"Sasuke...",
Merapalkan namanya berulang sudah seperti kebiasaan baru bagi Naruto. Ia menyentuh pundaknya, tempat dimana sang Uchiha pernah menyentuhnya.
Panas.
Selalu terasa meremang tiap kali ia membayangkan sang Uchiha. Ya tuhan Naruto benar2 merindukannya.
Namun.., jauh dilubuk hatinya ia merasakan kegelisahan yang teramat besar. Kerinduannya terhadap sosok sang raven akankah berbalas yang sama. Mengingat pernikahan mereka berawal dari perjodohan, tak ada cinta. Apakah Sasukenya memiliki kekasih sebelumnya atau mereka masih terus bersama, semua pikiran mengerikan itu terus membayang dan menikam hatinya. Sakit.
Siang itu, Naruto sedang membaca sebuah buku seperti biasa di dekat danau. Angin semilir yang sejuk membuatnya sedikit mengantuk. Ia menyandarkan punggungnya ke bangku, mencari kenyamanan untuk dirinya. Naruto hampir tertidur jika saja...
"Apa yang sedang kau lakukan disini nee-chan?",
sesosok gadis bersurai hitam dan berkaca mata tiba-tiba muncul dihadapan Naruto.
"Apa kau sedang tidur siang?",
Naruto mengerjapkan matanya cepat,Iris shapirenya terbelalak; terkejut melihat seorang gadis yang tak pernah ia jumpai sebelumnya .
"Uhn,, aku.. Hanya sedikit mengantuk..tadi, Ano.. Kau siapa?",
Gadis bermata onix itu tersenyum ramah, ia mendudukkan dirinya ke bangku tepat disamping Naruto.
Rambut hitamnya tersisir rapi disisipkan ke belakang telinganya. Cantik dan anggun. Rasanya Naruto sedikit familiar dengan aura gadis kecil itu.
"Apa kau tersesat? Siapa namamu", Naruto mencoba bertanya .
"Sarada. Namaku Sarada", menggelengkan kepalanya pelan gadis itu lalu menjabat tangan Naruto. "Dan aku tak sedang tersesat Nee-chan. Aku sudah menghapal diluar kepala seluruh rumah ini",
Kening Naruto berkerut heran. Menghapal diluar kepala katanya. Jika itu benar artinya gadis bernama Sarada itu tentu pernah kesini dan paling tidak ia pernah tinggal, siapa dia, batin sang blonde dalam hati.
Sarada membenarkan letak kaca mata berbingkai merah miliknya, ia tersenyum kearah sang blonde dengan ramah.
"Kau sangat cantik sekali nee-chan, aku sangat senang bisa berjumpa dengan mu", ujarnya memuji.
Pipi Naruto bersemu kemerahan, dipuji seperti itu oleh gadis kecil secantik dan seanggun Sarada membuatnya malu.
"Kau.. Terlalu memuji Sarada-chan", ujarnya tersipu. Tanpa mereka sadari Ketika mereka berdua sibuk berbincang seorang pria berkuncir menghampiri mereka.
"Sa-chan, disini kau rupanya! Aniki mencarimu dari tadi", seru pria itu lega.
Sarada tersenyum sumringah. "Ahh Aniki, kemarilah! Aku sudah menemukan Naru nee-chan", ia melambaikan tangan mungilnya penuh semangat.
Naruto menoleh secepat yang ia bisa, Sekali lagi mata Naruto terbelalak lebar, hatinya dibuat terkejut lagi.
"Hai, Naru-chan! Senang bisa bertemu dengan mu",
Seorang pria yang sangat amat mirip dengan Sasuke kini berdiri tepat dihadapannya. Iris shapirenya menatap intens. Benar-benar mirip hanya saja wajah pria itu terlihat lebih ramah dan dengan surai hitam panjang yang ia kuncir biasa.
Ya Tuhan, mungkinkah ini benar-benar tak masuk akal, keluh naruto dalam hati.
"Sa.. Sasuke..", bibir plum itu bergetar. Naruto terperanjat seakan melihat sosok suaminya dengan image berbeda. Otaknya gagal loading. Membuatnya sedikit frustasi.
"Ne-chan, dia bukan Sasuke-nii", ujar Sarada sambil bergelayut manja di lengan pria mirip Sasuke itu.
Pria. *yang juga* beriris onix itu tersenyum ramah kepada Naruto. Ia seperti mengerti ketidak pahaman yang sang blonde rasakan.
"Aku Uchiha Itachi, kakak Sasuke dan , baru bisa menemuimu sekarang, Naru-chan ",
Naruto meremas tangannya gugup, ia terus menerus menunduk dan hanya bicara saat Sarada mengajaknya ngobrol duluan. Ia merasa sangat canggung berada satu mobil dengan kakak dan adik perempuan dari suaminya.
Malam itu rasanya, Naruto amat lelah karena telah berulang kali terkejut. Tapi karena Sarada memintanya makan malam bersama diluar, ia tak sampai hati menolak ajakan gadis manis itu.
Dan disinilah mereka sekarang, makan malam di sebuah restoran fast food ditengah MOK *Mall of Konoha*
Naruto meminum sodanya perlahan, matanya tak putus menatap duo kakak beradik Uchiha dihadapannya itu.
Sarada, gadis berumur 10 tahun itu tengah berbincang dengan anikinya. Mereka berbicara banyak hal, terkadang berdebat dan sesekali tertawa. Mungkin seperti itu rasanya punya keluarga, Naruto tak pernah sekali pun membayangkannya.
Kalo boleh jujur terbersit sedikit rasa kecewa dihatinya. Sasuke sama sekali tak pernah bercerita apa pun tentang dirinya. Atau mungkin lebih tepatnya Naruto tak tau apa-apa. Pernikahan mereka masih sangat baru dan Naruto selalu sendirian selama ini. Ia merasa asing dengan semuanya.
Makan malam santai bersama para Uchiha tidak seburuk yang Naruto sangka. Itachi-nii dan Sarada-chan sangat ramah dan menyenangkan. Rasanya berbeda sekali dengan Sasuke yang pendiam dan irit bicara.
"Ne-chan, boleh aku minta alamat e-mail mu?", pinta Sarada ditengah perjalanan.
Naruto menggaruk pipinya yang tak gatal. "Uhn tentu", mengambil ponsel bututnya dari dalam tas, Naruto mulai bersiap mengetik. "Berapa nomor mu Sarada-chan?",
"What?", Sarada mendelik kaget. "Itu ponsel Ne-chan? Ya Tuhan, apa Sasuke-nii tak membelikan mu barang yang pantas?", jeritnya kaget.
"Uchiha-san tidak seperti itu Sarada-chan, dia selalu memperlakukan ku dengan baik",
"Tapi ponsel Ne-chan buruk sekali",
Sarada menatap ponsel hitam kusam ditangan Naruto, jika saja dia tak diajarkan kesopanan mungkin saat ini juga ia bakal melempar benda buruk tersebut dari tangan cantik kakak ipar barunya itu.
Menggembungkan pipi pucatnya, Sarada terus merancau "Sasuke-nii benar2 jahat unn",
Itachi yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan para adik perempuannya itu hanya bisa tersenyum simpul.
Ia juga sempat melirik seperti apa bentuk ponsel milik gadis blonde istri baru ototounya itu. Jadul memang. Itachi teringat akan status Naruto yang sebagai cucu dari Hasirama Senju. Masuk akal kah jika cucu dari penguasa tak memiliki fasilitas mewah? Terlebih sekarang Naruto adalah seorang Uchiha.
Itachi memberhentikan mobil sedan putihnya tiba-tiba, ia keluar begitu saja tanpa memperdulikan teriakan Sarada yang memanggilnya.
Tak lama kemudian pria berkuncir itu kembali dengan sebuah goody bag merah ditangan.
"Ini untuk mu Naru-chan, kuharap kau suka", ujar Itachi sambil memamerkan senyum menawannya.
"Howaa,, kau membelikan ne-chan smartphone Itachi-nii? Keren", Sarada berseru riang saat tangan kecilnya itu mendahului Naruto untuk membuka goody bag yang dibawa anikinya.
Wajah tan Naruto memerah. Ia tak menyangka Itachi akan membelikannya benda semahal itu. Hatinya sangat bahagia dan gelisah.
"Ano.., apa ini tidak telalu berlebihan Itachi-nii?", tukasnya ragu.
Itachi tersenyum lembut. "Anggap ini hadiah pernikahan mu dari ku, okay", tangan pucat itu mengacak gemas surai keemasan Naruto. Membuat si empunya merona.
"Arigatou, Itachi-nii", Naruto menunduk malu. Rasanya wajah dan kepalanya panas. Sentuhan Itachi mengingatkannya pada Sasuke. Oh ya Tuhan, apa kah saat ini ia pun juga berdebar?
.
.
.
.
Naruto tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Seminggu menghabiskan waktu dengan bersenang-senang bersama duo Uchiha benar-benar membuatnya gembira. Ia kembali bisa merasakan indahnya memiliki keluarga. Meski akhirnya Sarada harus kembali ke Inggris untuk sekolah dan Itachi-nii mengantarnya, Naruto cukup bahagia setidaknya seminggu ini sangat luar biasa.
Naruto tersenyum ketika melihat foto yang baru saja dikirim Sarada dari Inggris. Gadis itu sangat manis dengan seragam dan sweeter sekolahnya. Senyumnya sangat manis, apakah Sasuke akan semanis itu jika tersenyum lebar; pikir sang blonde lucu.
Saat tengah asyik ber-chat ria tiba-tiba sebuah sambungan telepon masuk. Tanpa pikir panjang Naruto segera mengangkatnya
"Moshi-moshi dengan Naruto disini" sapanya ramah.
"Apa kau ada waktu Naruto?"
Kediaman Hasirama Senju memiliki atmosfir yang berbeda dengan kediaman Uchiha. Jika Uchiha lebih memilih arsitektur model barat, maka Hasirama lebih memilih rumah dengan gaya etnik tradisional jepang yang kental. Terdapat pula zen garden; taman khas kuil di Jepang ditengah rumah. Taman ini memiliki ciri khas permukaan yang sebagian besar ditutup oleh pasir kasar, beberapa batu taman berukuran sangat besar, dan kolam ikan koi di tengah taman, juga suara meredu dari bambu yang bergerak seirama dengan aliran air, benar-benar menenangkan jiwa.
Namun, Naruto duduk dengan gelisah. Tangannya terkepal erat, keringat dingin sesekali menetes dari pelipisnya. Ia tak pernah menyangka jika Kakeknya tiba-tiba menelfon dan memintanya datang bersama suaminya. And that's the problem! Bahkan sekarang Sasuke tak berada di Jepang lalu apa yang harus ia katakan pada kakeknya. Ini benar2 membuat frustasi.
Tak lama kemudian terdengar suara kakeknya yang tengah bercakap-cakap dengan seseorang semakin mendekat. Naruto meneguk ocha dingin dihadapannya itu dengan terburu. Ia merasa sangat gugup dan gelisah. Oh ya Tuhan tamat riwayat ku, jerit Naruto dalam hati.
Pria tua berambut panjang dengan wajah bijaksana itu pun muncul. Ia tersenyum melihat kedatangan cucu perempuan satu-satunya itu.
"Kau sudah tiba nak", suaranya yang berat menyapa Naruto dengan lembut.
Sang blonde segera membungkuk memberi hormat, ia tak tahu lagi harus berkata apa pada kakeknya itu "Se.. Selamat datang kakek, gomenne suamiku... Dia...",
"Ada apa denganku, naruto?",
Belum sempat ucapannya selesai, suara baritone rendah itu mendahuluinya. Sesosok jangkung bersurai raven itu muncul dibalik tubuh kakeknya. Sukses membuat Naruto setengah mati terkejut.
"U.. Uchiha-san.. Ba.. Bagaimana bisa", cicit Naruto terbata.
Sosok berjas itu benar-benar 100% adalah Uchiha Sasuke. Tidak diragukan lagi. Tapi bukankah dia sekarang di Amerika, bagaimana bisa.
Pemuda raven itu tersenyum tipis kemudian menarik tangan Naruto pelan lalu mengecup punggung tangan tan itu lembut.
"Kau sudah lama menunggu, naru?",
-TBC-
