Acara makan sing hari ini terasa menyesakkan dada. Bagaimana bisa Naruto menikmati setiap santapannya jika jantungnya terus terusan berdebar dan sulit bernafas seperti ini. Wajahnya merona dan sekujur tubuhnya seakan mati rasa. Semua itu adalah Sasuke penyebabnya.

Sedari tadi pemuda beriris onix itu terus menggenggam tangan Naruto dan tak melepasnya. Sasuke nampak begitu santai berbincang bersama kakeknya. Sementara Naruto harus sekuat tenaga menahan rona malu diwajahnya. Terlebih kakeknya itu tiba-tiba menyinggung masalah kehamilan. Demi Tuhan rasanya Naruto hampir pingsan jika saja tangan hangat Sasuke tak menggenggamnya seperti itu.

Naruto kira bebannya itu akan segera berakhir saat mereka pulang nanti ternyata ia salah. Kakeknya secara terang-terangan meminta mereka untuk menginap. Ya, menginap kalian pasti tau kan apa yang Naruto cemaskan.

Setelah lebih dari 2jam berbincang, Naruto dan Sasuke undur diri untuk beristirahat. Sepanjang perjalanan mereka tak saling berbicara. Hingga sampai lah mereka ke sebuah ruangan yang telah dipersiapkan untuk mereka beristirahat.

"Kau tak apa hime?", tanya Sasuke yang sedari tadi melihat raut wajah sang blonde yang mendung.

Naruto menggeleng pelan. "Aku tak apa uchiha-san, sungguh", berjalan mendekat kemudian membantu suaminya itu melepas jas hitamnya. "Hanya saja aku merasa tak enak hati", keluhnya.

Sasuke mengerti apa yang dirisaukan sang blonde itu, ia menarik lembut istrinya kedalam pelukan. "Apa ini tentang masalah keturunan ehh? Jika benar kau tak perlu risau hime", ujar Sasuke lembut.

Jantung Naruto berdegup kencang, ia berada sedekat ini dengan sang uchiha membuatnya ingin meletup bahagia. Sudah cukup lama ia menanti kepulangan sang raven dan sekarang suaminya itu ada dihadapannya, sedang memeluknya.

"Unn, kapan kau pulang Uchiha-san?", tanya Naruto berusaha mencairkan suasana.

Sasuke manatap iris sebiru langit musim panas itu dalam, "Apa kau menunggu ku?", Sasuke balik bertanya.

Wajah Naruto semerah kepiting rebus, ia menunduk tak berani menatap sang raven. Terlalu malu untuk bertemu pandang.

Sasuke tertawa kecil, ia mengacak surai keemasan itu gemas.

"Kakek mu menelfon ku kemarin, karena itu aku datang dengan penerbangan pertama hari ini, gomenne. Dan terima kasih sudah menunggu ku, hime", kecupan hangat mendarat di surai keemasan itu.

Saat itu Naruto baru saja selesai mandi saat Iris shapirenya menatap dengan gelisah selembar futon yang telah tertata rapi dilantai tatami. Hanya ada satu futon, dan itu artinya mereka harus berbagi tempat tidur di satu futon yang sama. Oh ya Tuhan, Naruto begitu malu dan gelisah membayangkan apa yang akan terjadi nanti.

Sasuke tersenyum tipis melihat gadis blondenya terlihat amat risau. Ia meneguk segelas air kemudian melap bibirnya yang basah.

"Apa kau mengerti maksud dari kakek mu hime?", tanya nya tajam.

Naruto menggeleng, sebenarnya ia tau hanya hatinya belum siap sehingga ia tak mau mengerti.

Sasuke mendekat kemudian menyilakan tangan pucatnya itu ke dada. "Mereka menuntut keturunan dari kita ehh, will we?",

Jantung Naruto berdebar hebat, wajahnya merona dan tubuhnya melemas, ia menggigit bibir bawahnya. " Tapi... Aku... Maksud ku kita kan... Kita...", Naruto tak sanggup meneruskan kata-katanya. Iris birunya mulai berkaca-kaca.

" Pernikahan ini tujuannya adalah memperoleh keturunan, penerus perusahan keluarga", jelas Sasuke.

" Mereka ingin mengetahui hasilnya segera, apa menurut mu ini tak direncanakan dulu sebelumnya heh?",

Tersenyum tipis Sasuke melanjutkan ucapannya.

"Menginap artinya mereka ingin tau apakah kita telah berhubungan sex atau tidak dan...", Sasuke menggantung ucapannya ia berjalan mendekat kemudian berbisik tepat ditelinga Naruto.

"Berdoa saja kakekmu tidak akan menyuruh orang untuk mengecek ada noda darah atau tidak di futon kita",

Seringai tipis tercetak diwajah tampan Sasuke membuat bulu roma Naruto bergidik ngeri. Alarm bahaya dalam kepalanya berbunyi. Oh ya Tuhan, haruskah?

"Dan satu lagi bisakah kau berhenti memanggil ku Uchiha-san, Naruto? Itu sedikit.. Ya.. Mengganggu",

.

.

Uchiha Sasuke, pemuda berambut unik itu tengah membasahi tubuhnya di shower kamar mandi. Setelah menempuh perjalanan udara yang cukup lama setidaknya tubuhnya mulai terasa penat dan lengket.

Surai hitam yang biasanya berdiri tegak menantang gravitasi itu kini layu basah oleh air. Jauh didalam wajah stoicknya, jika boleh jujur hatinya tengah membuncah hebat.

Kakek mertua mu tiba-tiba menelfon menanyakan kehamilan istri mu. Oh yeah bagaimana Sasuke harus menjawabnya dengan tepat? Itu sangat sulit! Terlebih jika kau tipe pria dingin yang menikahi gadis asing lalu belum pernah melakukan sex.

Apa kau kira gadis itu bisa hamil begitu saja?

Sasuke meremas surainya pelan, ia sangat menyadari tanggung jawabnya sebagai pewaris Uchiha -* dan tolong abaikan keberadaan anikinya sebagai anak sulung karena noncent*- untuk segera mendapatkan keturunan.

Sasuke tak pernah memikirkan masalah pernikahan, juga tentang siapa yang akan jadi ibu dari anak-anaknya kelak. Pemuda raven itu terlalu sibuk bekerja dan tak pernah memperhitungkan hal tsb.

Jika disinggung masalah sex tentu saja jangan berharap Sasuke adalah seorang perjaka. Karena dengan ketampanan dan kekayaannya, wanita mana yang tak mau ditidurinya meski hanya one night stand saja.

Sekarang ia sedikit merasa frustasi, Kakek mertuanya menuntut bukti. Dan haruskah ia meniduri istri sahnya saat ini juga?

Oh God! Naruto gadis baik-baik, ia masih sangat polos! Dan Sasuke tak sampai hati sejujurnya. Pernikahan mereka tanpa dilandasi cinta dan sekarang Naruto harus mau menerima bibitnya. Merusak malam pertama seorang perawan sepertinya benar-benar kejam.

Sasuke tak mengerti harus bagaimana. Disatu sisi tubuh tan eksotis Naruto mampu membuatnya bergairah, membayangkan gadis blonde itu menatap sayu dan mendesahkan namanya saja sudah bisa membuat Sasuke hard. Tapi.., akankah istrinya itu bersedia? Sasuke tak tau, ia tak ingin Naruto menganggapnya lelaki srigala tapi hawa nafsunya sedikit memprovokasi.

Sasuke memutuskan menyudahi ritual mandinya. Ia mengambil yukata biru tua kemudian melilitkan ke tubuh pucatnya. Jika terus dipikirkan ia bisa gila.

Begitu ia membuka pintu, pemandangan Naruto yang tengah tertidur menggoda imannya. Yukatanya sedikit tersingkap memamerkan pahan tan mulusnya. Dengkuran halus terdengar dari bibir plumnya yang basah.

Sasuke mendekat, mengamati tubuh istrinya itu lekat dan penuh penilaian.

Dadanya berdetak cepat. Tangan pucat itu perlahan mengelus pipi chuby Naruto, membuat si empunya sedikit risih lalu terbangun.

"Ungg.. Uchiha-san.. ", Naruto bergumam tak jelas, Ia berusaha membuka matanya yang terasa berat karena mengantuk.

Iris shapire itu menangkap sosok suaminya yang tengah duduk menatapnya lekat.

"Gomenne, apa aku membangunkan mu, Naru?",

"Unn, tidak apa",

Naruto berusaha membenarkan yukatanya. Wajahnya sedikit merona. Melihat jarak antara mereka yang sedekat itu, bahkan Naruto dapat mencium samar aroma parfum yang Sasuke pakai. Membuatnya sedikit memanas.

Sasuke menyadari betul jika istrinya itu tengah kalut, ia mengecup pucuk kepalanya lembut. "Tidurlah hime, ini sudah malam, oyasuminasai", ujarnya pelan.

Naruto menatap suaminya itu tak percaya. Benarkah malam ini hanya akan berakhir dengan tidur saja?. Tapi melihat suaminya yang mulai beranjak masuk kedalam selimut lalu memunggunginya itu artinya tonight will not happen anything, right? *oh ya tuhan bahasa inggris saya O/O, *

.

Senyap dan gelap.

2 kata itu yang bisa menggambarkan suasana menginap pertama kalinya mereka. Hanya ada cahaya temaram dari lilin aroma dan suara jangkrik ataupun serangga sejenisnya dari luar.

Naruto menarik selimut tebalnya sampai hampir seleher. Rasanya seperti orang bodoh berdebar seorang diri. Iris shapirenya menatap kearah punggung lebar disebelahnya itu. Terlihat bidang kokoh dan hangat.

Ini pertama kalinya Naruto berada sedekat itu dengan lawan jenis, tak bisa dipungkiri jantungnya hampir meledak. Hawa panas yang menyebar dari arah Sasuke membuatnya sedikit rileks. Ia sedikit membayangkan bagaimana rasanya tidur dipelukan pria seperti Sasuke. Oh ya Tuhan, ini sangat memalukan.

Jika boleh jujur, ada sedikit rasa sedih berkecamuk dijiwanya. Pasangan suami istri yang belum pernah melakukan malam pertama. Terdengar lucu dan pilu. Lucu karena hal tsb sepertinya mustahil terjadi dan pilu karena bisa jadi pasangannya sama sekali tak tak tertarik pada pengantin wanitanya.

Rasanya Naruto ingin sekali menangis. Menjadi yang tak diharapkan oleh suami sendiri tentu sangat menyakitkan. Bukan berarti juga Naruto mau mengandung diusia muda, tapi mengetahui Sasuke tak menginginkannya benar-benar menyakitkan.

Perasaan Naruto saling bertarung. Disatu sisi ia tak menginginkan hubungan sex tanpa cinta disisi lain sikap acuh Sasuke membuatnya tersiksa. Ini sangat rumit bukan.

Yang Naruto inginkan hanya hati suaminya.

"Sepertinya kau sangat menyukai punggung ku ya, Naru?",

Suara baritone Sasuke memecah keheningan. Pemuda raven itu membalikkan tubuhnya sehingga sejajar dengan gadis blonde disampingnya.

"Belum tidur, ehh",

Wajah Naruto memerah sempurna. Ia tak menyangka jika Sasuke masih terjaga sedari tadi. Ia menarik selimutnya sehingga menutupi seluruh wajahnya.

"Aku tak seperti itu kok, gomenne", cicitnya malu.

Tangan pucat Sasuke menyikap selimut berbahan tebal itu, menatap iris sebiru langit milik Naruto.

"Apa yang sedang kau pikirkan hime?", tanyanya lembut. Lengan kokohnya merengkuh tubuh mungil Naruto kedalam pelukannya. "Ceritakanlah padaku",

Naruto merasa jutaan kupu-kupu siap meluncur terbang dari dalam perutnya.

"Aku tak apa Sa.. Sasuke-san", ujarnya terbata.

Sasuke mengecup jari-jari lentik Naruto dengan lembut, "bagus, karena aku tak ingin hime ku sampai tak bisa tidur karena frustasi",

Tubuh Naruto seakan melayang, diperlakukan begini lembut oleh suamimu tentu akan membuat semua wanita bahagia.

"Sa.. Sasuke, Ano.. Mengenai ke.. Keturunan... Apakah itu... Apakah aku harus... ",

"Sstt",

Jari pucat Sasuke menyentuh bibi plum Naruto, membuat si empunya tak sanggup lagi meneruskan ucapannya.

Sasuke menatap lurus kearah 2 manik biru itu. "Hime, aku tak akan memaksakan apapun pada mu", berusaha meniadakan seluruh resah di hati Naruto, Sasuke menggenggam lembut tangan gemetaran itu.

"Aku tak akan melakukan apapun jika bukan kau yang menginginkannya, Naru",

"A..aku...aku..", lidah Naruto rasanya kaku.., ia tak bisa berkata apapun saat ini. Rasanya tatapan Sasuke berhasil menghipnotisnya.

"Ya..",

Suara baritonenya yang rendah terdengar merdu ditelinga. Membuat sang blonde seakan lupa dengan semua masalahnya. Ia hanya merasakan satu hal yang pasti.., saat ini.. Malam ini juga Naruto ingin memilikinya. Memiliki suaminya seutuhnya.

"Peluk aku. Sasuke",

"As you wish hime"

-TBC-