(Cuap-cuap saya: untuk yang mengharap kenaikan chap menjadi M maybe minna-san harus sabar dulu ya, karena aku mc blum bisa membuat yang berating M :D . Konfliknya akan segera memanas akan ada bbrp hint yg bkin sakit mata, gomen ya aku jangan dibully :'v)
Terima kasih sudah membaca karya ku dan mereviewnya minna-san..
Langsung saja ya cekidot...
.
.
.
.
Iris sebiru lautan itu menatap pantulan dirinya sendiri di sebuah kaca setinggi badan yang tergantung di dinding kamar mandi. Wajah tannya sedikit merona, beberapa kali membasuh wajahnya dengan air pun tak menghilangkan rona kemerahan itu justru semakin jelas dan membuat kepalanya seakan mendidih. Ia memeluk tubuhnya sendiri dalam diam.
Pagi ini...,
Langit tampak cerah, semuanya masih tampak sama. Tapi pagi ini, perasaan sang blonde tengah membuncah. Untuk pertama kalinya ia bangun sebagai wanita yang sempurna.
Begitu membuka mata sosok suaminya lah yang terlihat. Tengah tertidur lelap sambil merengkuhnya dalam. Ini yang pertama bagi Naruto. Merasakan kehangatan yang belum pernah ia tahu sebelumnya. Mengamati setiap titik kemerahan di lekuk leher dada dan paha dalamnya, Naruto bahkan masih bisa merasakan panasnya kecupan sang raven.
Setelah mandi ia beranggapan semua itu akan menghilang larut bersama derasnya air. Tapi semua salah. Kehangatan Sasuke, sentuhan-sentuhan lembut yang sangat mendominasi, desahan dan keringat yang menetes juga rasa absurd di bagian sensitifnya. Naruto masih dapat mengingatnya dengan sangat baik bahkan masih mengingat rasanya.
Ya Tuhan, Ini sangat memalukan, jeritnya dalam hati.
"Ohayou hime", Suara baritone rendah itu mengagetkan sang blonde yang tengah melamun didepan wastafel.
Sosok sang raven tengah bersandar di pintu kamar mandi sambil menyilangkan tangannya didada.
"Ohayou Sasuke-san, kau.. Sudah bangun ya", Naruto mencoba membalas sapaan suaminya se normal mungkin. Tapi suara jantungnya yang berdetak cepat tak bisa berbohong bahwa ia sangat canggung.
Sasuke tersenyum tipis. Ia berjalan mendekat kemudian membawa tubuh mungil istrinya itu kedalam pelukan, tak lupa sebuah kecupan ringan ia daratkan ke kening Naruto. Dan Sukses membuat si empunya merona hebat.
"Bagaimana perasaan mu hime? Are you okay humm?", tanya Sasuke lembut.
"Unn.. Ya aku baik-baik saja",
"Apa masih sakit, baby?"
"Apa..? Ahh itu.. Itu ... Sedikit sih"
Wajah Naruto memerah sempurna, membuat Sasuke tak bisa menahan tawanya agar tidak lepas. Sementara Naruto cuma bisa manyun menutupi rasa malunya.
"Kau akan baik-baik saja hime.", hibur sang raven jahil. Ia memencet hidung istrinya gemas. "Hanya belum terbiasa, ok?",
Naruto menenggelamkan wajahnya kedada bidang suaminya itu. Rasa malu bahagia kesal dan lainnya bercampur aduk dalam hati. Ia belum pernah merasakan kebahagian seperti ini sebelumnya. Benar-benar tak pernah, dan sekarang ia mendapatkannya. Kini ia akan bisa berbangga menyebut dirinya sebagai Uchiha. Karena kini ia dan suaminya telah seutuhnya bersatu. Ya, bersatu...
"Aishiteru , Sasuke...", lirihnya pelan.
"Hn, aku tau Naru",
Kebahagiaan itu datang tanpa diduga, berawal dari suatu hal yang terasa sebagai kesalahan, semua dunia mu berubah. Tak kuasa mengelak juga tak bisa menerima, perihnya hati itu kini berubah. Keluarga. Naruto tak pernah bisa merasakan apa yang disebut Keluarga. Menjadi yatim piatu sedari kecil tanpa sanak saudara itu sangatlah berat. Namun takdir merubah semua. Memutar balikkan dunianya semudah itu kemudian menunjukkan arti keluarga yang sesungguhnya. Demi apapun, Naruto selalu berharap ini akan selamanya.
.
.
.
Sudah hampir satu bulan sejak hari membahagiakan itu. Naruto masih menjalankan rutinitas nya seperti biasa; membaca dan menghabiskan waktunya ditaman. Semuanya masih sama hanya saja sekarang gadis blonde itu nampak lebih ceria dan lebih hidup dari sebelumnya.
Sasuke sudah 2minggu ini berada di Amerika, pekerjaannya yang menumpuk selalu membuat suaminya itu tak berada dirumah. Hanya 2hari saja ia pulang lalu kembali lagi. Tapi ya itu sudah cukup bagi Naruto toh mereka masih bisa bercakap-cakap lewat telfon ataupun bervideo call ria. Berterima kasih lah pada Itachi yang sudah membelikannya smart phone secanggih itu. Lagipula 2hari kepulangannya di Jepang benar-benar dimanfaatkan Sasuke untuk mengunci istrinya dikamar. O/O
Kini kamar tidur mereka tak lagi terpisah. Setiap pagi Naruto akan bangun di tempat tidur beraroma mint khas suaminya. Almari yang biasanya terlihat lenggang kini sudah tertata penuh oleh pakaiannya dan juga milik sang raven. Naruto amat bahagia. Sungguh, terlalu bahagia.
"Nee-chan! Haiiiii", teriakan nyaring Sarada mengagetkan Naruto.
Gadis kecil berkaca mata itu berlari lalu menghambur kepelukan sang blonde yang kini terperanjat kaget melihat kedatangan adik ipar kesayangannya itu.
"Sarada-chan, aku kangen sekali! Kapan kau datang?", tanya sang blonde bersemangat.
"Baru saja bersama Itachi-nii", jawab Sarada lalu membenarkan letak kaca matanya. "Apakah nee-chan sudah bersiap?",
"Ehh untuk apa?",
Dahi Sarada berkerut heran melihat reaksi sang blonde yang seakan tak mengerti. "Apakah nee-chan tak akan hadir di pesta?", tanyanya kritis.
Naruto menggeleng pelan. "Pesta?", dahinya ikut berkerut karena tak mengerti apa yang Sarada bicarakan. "Pesta apa? Aku tak tau Sarada-chan",
Jawab Naruto jujur.
"Aneh sekali. Apakah kau tak menerima undangan nee-chan?", tanya Sarada bingung dan dijawabi oleh gelengan pelan Naruto.
"Ok baiklah mungkin saja mereka lupa", ujar Sarada mencoba mengganti topik. "Nee-chan hari ini kita akan pergi shopping, Persiapkan dirimu, ok?!",
"Huaa,, capeknya", Naruto menjerit pelan sambil mendudukkan dirinya di sofa empuk berbahan beludru di sebuah butik.
Sudah hampir 3jam, mereka berputar-putar mall. Masuk butik sana keluar butik sini. Semua butik bermerk terkanal mereka datangi dan Sarada, gadis kecil itu memborong semua baju ataupun gaun yang ia sukai. Shoppaholic kecil ehh.
"Kau tak apa?", Itachi, pria tampan itu membawakan segelas teh oolong dingin untuk sang blonde. "Gomenne Naru-chan, Sarada membuat mu capek ya", ujarnya tak enak hati.
Naruto tersenyum maklum kemudian meminum teh oolongnya cepat. "Tak apa Itachi-nii, aku senang kok", tukas Naruto berusaha menutupi keletihannya. Padahal kalau boleh jujur badannya terasa remuk, punggungnya pegal dan kakinya sedikit kram. Oh ya ampun ingatkan aku untuk rajin berolah raga nanti, batin Naruto dalam hati.
"Nee-chan, Aniki ! Bagaimana penampilan ku?", tanya Sarada begitu keluar dari kamar pas. Tubuh langsingnya terbalut gaun pendek dengan rok mengembang berwarna biru gelap. Terlihat kontras dengan kulitnya yang putih.
"Kau cantik sekali Sarada-chan. Bagus sekali", puji sang blonde jujur.
"Hehehe. Arigatou nee-chan", sahutnya malu-malu.
Dan setelah Sarada membayar belanjaannya. Mereka pun keluar kemudian berjalan menuju kesebuah salon bertuliskan Uchiha di atasnya. Naruto baru tahu jika memang salon tsb adalah anak cabang dari Uchiha corps. Rasanya Naruto sempat malu saat seluruh pegawai salon menunduk hormat melihat kedatangan mereka.
,
,
Salon ini sangat mewah dan nyaman. Semua bentuk perawatan kecantikkan tersedia disini. Dengan gaya modern minimalis. Salon tsb terlihat sangat apik.
Awalnya Naruto hanya sekedar mengantar, melihat Sarada dan Itachi yang mulai didandani; Naruto memilih untuk membaca majalah saja. Hampir 2jam kemudian 2 orang uchiha itu akhirnya keluar.
Sarada terlihat sangat cantik dengan gaun birunya sementara Itachi.. Tak perlu disangsikan lagi pria berkuncir itu sangat tampan dengan setelan jas hitamnya.
"Sekarang giliran mu, Naruto", Itachi memberi kode.
Naruto hanya mengerjap kaget karena dirinya pula mendapat make over selanjutnya. Ia sangat tegang karena ini baru kedua kalinya ia dirias. Rasanya sudah lama sekali semenjak terakhir bermake up di hari pernikahannya.
Setelah mendapat berbagai perawatan kecantikkan dari ujung rambut hingga kaki akhirnya semua itu usai.
Naruto menatap pantulan dirinya dicermin. Bibir plumnya kini terpulas oleh lipstick sewarna mawar liar. Riasan natural diwajahnya dan sedikit hair do di surai emasnya membuat penampilan sang blonde terlihat berbeda. Bahkan Naruto masih tak percaya itu dirinya.
"Woaa.. Kawaii ne !", Sarada menjerit histeris saat memasuki ruang make up Naruto. Onix dibalik kaca matanya berkilat takjub melihat sosok kakak iparnya yang biasanya terlihat sederhana kini disulap bak putri negeri dongeng. "Nee-chan cantik sekali", pujinya jujur.
Naruto tertawa pelan. "Kau terlalu memuji Sarada-chan", ujar Naruto malu.
Itachi yang sedari tadi melihat kegaduhan yang dibuat adik bungsunya itu hanya bisa tersenyum simpul.
Kakinya yang terbalut celana bahan berjalan mendekati sang blonde. "Kau sangat cantik, Naruto", ia memuji dari hati, membuat istri ototounya itu tersenyum malu. Kemudian Itachi mengambil sebuah kotak bludru dari dalam goody bag coklat yang sedari tadi dibawanya.
"Perhiasan indah untuk wanita yang tepat",
Itachi memperlihatkan satu set perhiasan bermata Ruby yang sangat indah. Warnanya merah menyala membuat silau semua yang memandangnya.
Sulung Uchiha itu pun memakaikan seuntai kalung ruby itu pada leher tan jenjang dihadapannya. "Kau terlihat sempurna, Sulung Uchiha itu pun memakaikan seuntai kalung ruby itu pada leher tan jenjang dihadapannya. "Kau terlihat sempurna, Signora*", bisiknya intens.
", bisiknya intens. (* panggilan untuk wanita yang sudah menikah seperti Mrs dalam bahasa Inggris)
Wajah Naruto memerah sempurna. Entah mengapa diperlakukan sebegini istimewa oleh Itachi membuatnya sedikit terlena. Terlebih wajah Itachi yang sangat mirip dengan Sasuke, membuat hati Naruto membuncah.
"I..ini terlalu.. Berlebihan.. Aku...",
"Sst", sulung Uchiha itu menghentikan perkataan Naruto. Jari-jari pucatnya itu terlihat memetik setangkai bunga mawar yang tertata di vas kemudian menyelipkannya pada rambut sang blonde
"Hari ini saja.., berubahlah menjadi puteri yang sesungguhnya Naruto",
Pesta yang diselenggarakan disebuah hotel mewah ini benar-benar sangat elegan dan mewah. Dekorasi ruangan bertema romantic viena itu membuat suasana sedikit romantis dan hangat. Setiap tamu yang datang membawa pasangan. Para butler dan maid namapak mondar mandir menyuguhkan berbagai macam hidangan dan minuman yang menggugah selera.
Sarada sudah lebih dulu membaur dengan beberapa tamu undangan yang dikenalnya. Itachipun nampak tengah asik menjawab sapaan-sapaan yang datang padanya. Sementara Naruto, gadis blonde itu kini tengah duduk di pinggir ruangan. Termangu mencoba meluruskan kakinya yang kram karena tak terbiasa memakai sepatu berhak.
Sejujurnya Naruto tak mengerti kenapa ia ada disini. Pesta apa ini ataupun siapa tuan rumahnya .
yang ia tahu hanyalah jika pesta ini adalah sebuah pesta perayaan ulang tahun mengingat betapa banyak tulisan selamat dari papan kayu berhias bunga-bunga yang berjajar dipintu depan. Ia terlalu capek mengikuti kemana Sarada pergi sehingga lupa menanyakan pada Itachi ataupun Sarada.
Itachi, sulung Uchiha tersebut melihat jika istri ototounya itu tengah duduk sendirian di bangku, termangu seorang diri. Setelah undur diri pada tamu undangan lainnya, ia pun segera menemuinya tak lupa membawakan sang blonde segelas jus jeruk.
"Hai, apa kamu baik, Naruto?", sapanya ramah dan dibalas seulas senyuman dari si blonde.
"Ya aku tak apa Itachi-nii, arigatou jus nya",
Naruto mencoba tersenyum, meski ia merasa badannya mulai tak enak. Entah kenapa dia jadi sedikit pusing.
Tak lama kemudian suara tepuk tangan terdengar riuh di aula utama. Para undangan pun berbondong-bondong menuju kearah anak tangga.
"Sepertinya Hinata-chan sudah tiba", Itachi bergumam pelan. "Ayolah, kita pun harus memberi selamat bukan",
Naruto berjalan disamping Itachi. Melangkah pelan menahan sakit dikaki dan kepalanya. meski ia tak mengenal siapa itu Hinata-chan yang disebut Itachi setidaknya ia juga harus ikut mengucapkan selamat bukan.
Sesosok gadis bersurai hitam panjang yang mengenakan gaun hitam berkerah sanghai namapak tengah menebar senyum bahagia diantara para tamu undangan yang menyalaminya. Iris sewarna lavender itu berkilat bahagia.. Benar-benar gadis yang cantik, anggun dan sangat menawan;
; puji inner Naruto.
Gadis cantik itu nampak tengah bercakap-cakap dengan Sarada. Mereka terlihat sangat akrab seperti keluarga. Bahkan saat Itachi mengucapkan selamat, gadis itu tak segan memeluk tubuh sulung Uchiha itu begitu erat.
"Kukira kau tak akan datang Itachi-nii aku senang kau hadir", suara merdu itu kembali terdengar dari bibir mungilnya. Itachi hanya tersenyum menanggapi gadis lavender dihadapannya itu.
Iris shapire Naruto akhirnya bertemu tatap dengan sang gadis Lavender bernama Hinata itu. Hatinya sedikit berdegup saat gadis cantik itu menghampirinya.
"Apa kau kekasih Itachi-nii?", tanyanya to the pint.
Naruto menggeleng lemah. "Bukan aku...",
"Sukee..!",
Ucapan Naruto berhenti saat tiba-tiba gadis lavender itu memanggil seseorang dari kejauhan. Tangan langsingnya itu melambai-lambai penuh semangat sedikit rona merah terpancar dari ke dua pipinya.
"Kau dari mana saja, aku mencari mu Sukee...", mencibirkan mulutnya Hinata bergelayut manja dilengan seorang pemuda.
Iris Naruto membulat lebar, mulutnya ternganga tak percaya. Hinata, gadis itu tengah bergelayut manja dilengan suaminya. Ya..., Sasuke ada disana! Suaminya itu ada disana!
"Sa.. Sasuke...",
