Iris Naruto membulat lebar, mulutnya ternganga tak percaya. Hinata, gadis itu tengah bergelayut manja dilengan suaminya. Ya..., Sasuke ada disana! Suaminya itu ada disana!
"Sa.. Sasuke...",
Langit nampak gelap, hujan sedang turun dengan lebatnya. Suara gemuruh guntur dikejahuan menggelegar dengan hebatnya. Meski udara mulai terasa dingin menusuk tulang, namun Naruto sama sekali tak merasakannya. Bahkan dengan gaun berpunggung terbuka seperti itu hawa dingin tak mampu menang dari rasa sakit di dadanya.
Sudah hampir 10 menit mereka hanya berdiam. Setelah Sasuke menyadari kehadiran Naruto disana, pemuda itu segera pamit untuk membawa sang blonde menepi ke teras hotel yang sepi. Dan sesampainya disana, hanya hening yang menyapa. Sasuke nampak terlihat tenang seperti biasa sementara sang blonde sama sekali tak berminat untuk buka suara.
"Hari ini kau tampak cantik hime", puji Sasuke memecah keheningan.
Naruto hanya membalas dengan seulas senyum tipis kemudian memilih kembali menundukkan kepala, berpura mengamati suatu hal yang sebenarnya tak ada.
Sasuke mengambil segelas wine yang dibawanya tadi, meneguknya perlahan sambil menyesap rasanya.
"Bagaimana kau bisa ada disini?", tanyanya halus.
"Aku bersama Itachi-nii dan Sarada",
"Benarkah?",
Pemuda Uchiha itu meletakkan kembali gelasnya ke meja, kemudian berjalan mendekati sang blonde dengan tatapan yang sulit diartikan. Raut wajahnya yang selalu datar kadang sedikit menyulitkan untuk menebak isi hatinya.
Sasuke menyentuh liontin ruby yang berkilau indah di leher sang blonde "apa ini juga darinya?", tanyanya dingin. Onixnya menatap tak suka ;setiap bagian yang mempercantik istrinya itu merupakan hasil karya sang kakak tertua. "Aku tak suka wanita ku disentuh seenaknya", geramnya sambil melepas setangkai mawar yang tadinya bertengger di belahan rambut keemasan Naruto. Meremasnya perlahan sehingga menyisakan belahan kelopak2 merah yang berjatuhan.
Melihat itu, Naruto seakan tengah menyaksikan bayangan imajiner hatinya yang juga berguguran. Rasanya sakit dan remuk redam.
Kenapa sekarang rasa-rasanya seakan dia yang sedang berselingkuh.
Naruto merasa sangat terhakimi, hanya saja ia lebih memilih untuk diam. Mau menjelaskan apa toh dia pun juga tak melakukan apapun dengan Itachi-nii bukan.
Sasuke menatap jauh ke kedua bola mata sewarna langit tak berawan itu sebelum akhirnya ia menghela nafas berat.
"Hinata adalah sahabat ku sejak kecil, jadi kuharap kau takkan salah paham Nyonya Uchiha", ujarnya mencoba menjelaskan duduk permasalahan.
"Keluarga Uchiha dan Keluarga Hyuuga sudah berkawan dekat sejak dulu, dan hari ini adalah hari ulang tahun Hinata-chan",
Onix sekelam malam itu menatap keluar jendela. Melihat pohon-pohon yang bergoyang hebat dahannya karena angin. Ia mendudukkan dirinya tepat disebelah sang blonde. Mencoba membicarakan hal yang terasa mengganjal ini secara terbuka.
"Hinata-chan mengidap penyakit jantung sejak lahir, tubuhnya sangat lemah. Ia baru saja berhasil menjalani operasi bedah di Kanada, Hari ini ia memintaku datang secara resmi. Karena itu lah aku ada disini",
meremas ujung gaunnya geram, mata Naruto mulai memanas dan sedikit berkaca-kaca. Entah mengapa, mendengar pengakuan dari suaminya itu tak kunjung membuat hatinya lega justru malah semakin memperparah saja. Terlebih mendengar betapa dekatnya mereka berdua, membuat hati Naruto sakit.
"Sasuke-kun, disini kau rupanya!Aku sudah mencari mu kemana-mana", suara lembut nan menggoda itu kembali terdengar
Hinata, gadis Lavender itu muncul bersama Itachi dibelakangnya. Dan tanpa babibu lagi ia sudah bergelayut manja di lengan Sasuke seperti tadi.
Membuat dada Naruto berdenyut nyeri. Iris birunya mulai meremang. Dadanya begitu sakit, dan air mata tak kuat lagi dibendungnya.
"Sukee.., ayah mencarimu! Kau belum mengucapkan salam bukan", ujar Hinata manja.
Naruto menggigit bawah bibirnya keras, mencoba menahan segala amarahnya. Hingga ia pun merasakan sedikit rasa besi di dalam mulutnya. Naruto benar-benar tak suka gadis itu bermanja pada suaminya, sangat-sangat tak suka.
"Paman Hiashi sudah datang rupanya, baiklah aku akan memberi salam dahulu, Hime..",
Deg.
Hime?
Bahkan sekarang suaminya itu juga memanggil si gadis lavender dengan sebutan Hime. Sama persis seperti saat Sasuke memanggilnya.?
Cukup sudah.
Wajah Naruto memucat, perutnya terasa sangat mual dan kepalanya berdenyut hebat. Itachi yang menyadari perubahan pada sang blonde, segera berjalan menghampirinya.
"Kau tak apa, Naruto? Wajahmu sedikit pucat?", tanya Itachi cemas, nada kekhawatiran bisa terdengar jelas di suaranya yang bergetar dan Naruto hanya membalasnya dengan seulas senyum tertahan.
Melihat kedekatan antara Naruto dan Itachi, membuat onix Sasuke mentap tak suka
Sasuke berniat menghampiri istrinya itu jika saja tarikkan lembut dari tangan Hinata tak menghalanginya untuk pergi.
"Sukee.. Ayah mencarimu, ayolah kau tak ingin membuat ayah menunggu bukan..", ujar sang lavender sedikit memaksa.
Sasuke menghela nafas berat, ia memejamkan matanya sebentar sebelum akhirnya mengangguk menyetujui ajakan Hinata. Tapi sebelum ia pergi, lebih dahulu ia menghampiri istrinya yang terduduk lemah disamping anikinya.
"Are u okay,baby? Aku harus pergi sekarang, apa kau tak apa, Hime?",
"Aku tak apa pergilah Sasuke-san",
"Kau yakin?",
"Ya",
Onix Sasuke menatap kedalam iris sang blonde, ia merasa sedikit bersalah pada gadis tan yang resmi menyandang gelar sbg nyonya Uchiha itu, Hanya saja Sasuke memang benar2 harus pergi. Ia menghela nafas panjang..
"Baiklah, jaga dirimu ya Hime", ia berucap lirih, Sasuke sedikit mencondongkan tubuhnya berniat mengecup kening tan istrinya sayangnya lagi-lagi panggilan Hinata menghalanginya.
"Sasuke-kun, ayolahhh!", Hinata menarik lengan pemuda raven itu seenaknya. Membawa pergi sang raven dari teras detik itu juga.
Sepintas ia sempat menatap kearah Naruto. Iris lavendernya itu berkilat tajam, seulas senyum miring tercetak di bibir merahnya sebelum akhirnya ia berhasil membawa Sasuke pergi.
Kepala Naruto berdenyut hebat, pandangannya mulai menggabur. Ia hampir terjatuh jika saja Itachi tak menangkap tubuhnya.
"Kau kenapa Naru? Biar ku bantu berjalan ok? Kita pulang sekarang juga!", titahnya tegas.
Uchiha sulung tsb berusaha memapah ipar perempuannya itu. Ia merengkuh tubuh Naruto kedalam pelukannya.
"Aku bisa sendiri kok Itachi-nii, gomenne aku hanya sedikit pusing. Mungkin karena wine", bohong Naruto.
Gadis berkulit tan itu melepaskan pelukan Itachi secara halus. Ia tak ingin dikasihani ataupun terlihat menyedihkan. Naruto tak mau membuat Itachi khawatir karena kondisinya.
Ia mencoba berjalan sendiri meski sedikit terhuyung. Tubuhnya gemetaran, air matanya sudah lolos membasahi pipi tannya. Perutnya mual, Naruto benar-benar ingin menangis sejadi-jadinya. Kakinya terasa lemas, ia sudah tak mampu lagi berpijak hingga akhirnya tubuhnya ambruk...
"..Ittai..",
Darah segar merembes dari luka sobek dilututnya. Rasanya perih dan sakit. Air mata Naruto semakin deras mengalir, punggungnya naik turun mencoba menormalkan deru nafasnya yang berat. Isakkan demi isakkan mulai terdengar dari bibirnya.
"..Ittai..", lirihnya pilu.
Lututnya perih dan hatinya sakit. Naruto tak pernah merasa terluka sesakit ini sebelumnya.
Terlebih lagi melihat suaminya memilih pergi ketempat wanita lain, itu yang sangat menyakiti hatinya. Ia merasa suaminya telah dirampas, dan dirinya merasa kalah jika dibandingkan dengan Hinata. Ia tak bisa berbuat apapun.
Itachi menatap sendu sosok lemah sang blonde. Punggungnya yang bergetar dan isakkannya yang begitu pilu menyayat nyayat hatinya. Pria berkuncir itu menyampirkan jas hitam yang tadi ia kenakan kepunggung berwarna kecoklatan itu. Mencoba menghalangi hawa dingin yang menyerang gadis musim panas tsb. Ia tak sampai hati membiarkan gadis seceria Naruto kini menangis seperti itu. Entah mengapa hatinya tergerak untuk melindungi gadis itu
Naruto menatap samar sosok Itachi yang mulai mengabur karena pandangan sang blonde yang kini mulai gelap. Terlebih linangan air matanya mengganggu pengelihatannya yang tertinggal.
Sesaat kemudian Naruto merasakan tubuhnya direngkuh begitu dalam. Itachi menggendongnya ala bridal style, Melingkupi tubuh gemetarannya dengan kehangatan.
Naruto tak bisa berbuat banyak. Tubuhnya sudah lemas dan ia hanya bisa diam dan terisak didalam gendongan sang sulung uchiha.
Dengan jarak sedekat itu dapat tercium aroma samar mint yang lembut dari tubuh Itachi. Wangi yang hampir sama seperti saat Naruto mencium aroma tubuh Sasuke.
Naruto jadi teringat sosok suaminya itu, air mata Naruto hanya akan terus mengalir. Ia menenggelamkan wajahnya ke dada Itachi, merasakan degup jantung sang sulung Uchiha berdetak tepat ditelinganya.
Sama.
Semuanya sama, Naruto merasakan hal sama seperti halnya Sasuke saat berada didekat Itachi. Sosok itachi memanglah mirip seperti Sasuke.
Meski demikian Naruto masih bisa membedakan mana rasanya pada sang raven.
Hanya saja lengan yang memeluknya dengan hangat ini bukan tangan Sasuke. Sayangnya degup jantung yang ia rasakan ini bukan milik Sasuke. Semua rasa nyaman dan kehangatan yang dirasakannya saat ini tidak berasal dari suaminya. Dan itulah yang membuat sang blonde semakin tersakiti.
Naruto terisak dalam diam, ia tak mau terlihat menyedihkan didepan orang lain, hanya saja saat ini Naruto memang benar2 membutuhkan seseorang ada disampingnya.
Ia tak ingin sendiri.
Dan Itachi ada disisinya.
"...Itachi-nii gomenne..."
.
.
.
Kelopak berwarna tan itu perlahan terbuka menampakkan sepasang iris sebiru shapire didalamnya.
Naruto merasa kepalanya sangat berat dan matanya membengkak karena sembab. Perlahan ia mulai berusaha menegakkan tubuhnya untuk duduk. Namun seketika itu juga ia merasa sangat mual.
Ia melirik kearah jam weker yang terletak persis di atas laci disamping tempat tidur. Sudah pukul 10pagi rupanya, itu artinya Naruto sudah tertidur sangat lama. Ia menatap tubuhnya yang sudah terbalut terusan satin berwarna putih, piyama yang biasa ia kenakan saat tidur. Sepertinya Kurenai-san lah yang sudah mengganti pakaiannya semalam.
Gadis berkulit kecoklatan itu, menatap sendu kearah tempat disampingnya yang kosong. Tidak ada tanda-tanda telah ditiduri, dan itu artinya Sasuke tak pulang kerumah.
Detik itu juga rasanya Naruto ingin menangis, dadanya berdenyut nyeri. Sakit sekali. Iris shapire nya menerawang jauh keluar jendela.
Pikirannya begitu kacau, segala prasangka buruk menghantui otaknya.
Kemana suaminya sekarang?
Kenapa ia tak kunjung pulang?
Lalu bersama siapa Sasuke semalam?
Apakah ia sedang bersama Hinata?
Ataukah sekarang suaminya itu sudah kembali ke Amerika?
Naruto tak tahu,
gadis tan itu meremas surai keemasannya geram. Ia sangat kesal dan kecewa dengan sikap suaminya. Kenapa ini harus terjadi ditengah kebahagiaan yang baru saja Naruto rasakan?
Kenapa Hinata harus datang?!
Disebuah kafe berbintang di tengah kota. Seorang pemuda tampan berkuncir tengah menyesap wine nya dalam diam. Didepannya seorang wanita berparas cantik dengan tubuh yang aduhai tengah asik bicara sambil sesekali merayunya.
"Itachi-san, sudah lama sekali ya kita tidak makan siang seperti ini. Aku sangat merindukan mu, anata", suara sexy dari bibir pink itu terdengar menggoda.
Tapi pemuda bernama Itachi itu sama sekali tak bereaksi, sikapnya tetap datar dan dingin sejak awal. Sejujurnya, Itachi tak ingin kesini. Ia benar2 malas jika harus bertemu dengan wanita menor tukang rayu seperti Karin. Jika bukan karena perempuan gila itu adalah salah satu kolega bisnisnya, tentu dengan senang hati Itachi akan segera angkat kaki detik itu juga.
Pagi tadi, tiba-tiba si wanita jalang itu menelpon meminta untuk bertemu. Memakai alasan bisnis untuk bertemu dengan Itachi adalah modus yang biasa wanita itu lancarkan.
Itachi benar2 tak ingin pergi, selain itu Naruto masih juga belum siuman. Sulung Uchiha itu sangat mengkhawatirkan keadaan gadis tan tsb. Sayang sekali, embel2 penanaman saham sedikit mengusik pikirannya. Dan akhirnya setelah semalaman menjaga gadis blonde itu; dengan terpaksa Itachi menitipkan Naruto pada sang kepala rumah tangga-Asuma-.
Entah apa yang sedari tadi dibicarakan Karin, sepenuhnya Itachi tak mendengarkannya. Onixnya itu terus menatap kearah smart phone silver miliknya. Menanti kabar tentang sang blonde dirumah.
Itachi belum pernah merasa sekhawatir ini pada seseorang. Ia tak pernah sampai repot-repot mau menjaga seorang gadis yang tak sadarkan diri. Mengompres dahinya dan mengganti air kompresannya sendiri. Menjaga sepenuh hati jikalau sang gadis terbangun dan membutuhkan sesuatu.
Ini yang pertama.
Dan Itachi benar2 tak tahu mengapa. Ia hanya tak ingin Naruto semakin terluka. Itachi tak suka melihat gadis tan ceria itu menangis. Hatinya sakit jika Naruto bersedih. Ia selalu ingin melihat gadis itu tersenyum...
Smart phone digenggamannya bergetar pelan, dengan cepat sulung uchiha itu segera mengeceknya.
From: Naru-chan
Sub. : arigatou nee
Unn.., aku tak tahu harus berucap apa padamu Itachi-nii...
Aku malu sekali /
Tapi arigatou nee sudah menjaga ku semalam. Asuma-san yang memberitahuku.
Jika kau sudah pulang aku akan menjamu minum teh.
PS: sekarang aku sudah sehat , hontou nii arigatou itachi-nii ^^
Seulas senyum terbentuk dibibir pucat Itachi.
Hatinya sudah sedikit lega setelah membaca pesan dari sang blonde. Ia pun menyimpan pesan dari Naruto kedalam folder khusus di smart phonenya. Rasanya saat ini Itachi ingin segera berlari pulang untuk menemui gadis musim panas itu. Minum teh dengan Naruto terdengar akan menyenangkan. Ia sudah tak sabar untuk melihat senyum sang gadis lagi.
"Gomenne, Karin-san. Saya harus pergi sekarang juga",
****** Mary U******
Mobil porche berwarna hitam itu melaju membelah jalanan. Sasuke, pengendaranya terlihat tenang dan mengemudikan mobil mewahnya dengan baik.
Hanya saja, jika kau bisa melihat jauh di balik wajah stoicknya... Sasuke tengah galau(?)
Harinya serasa kacau balau. Baru kali ini ia merasa begitu buruk.
Ia masih sangat ingat, 4hari yang lalu saat Hinata menelfonya; memberikan kabar mengenai pesta ulang tahun dan perayaan kesuksesan operasi jantungnya.
Tentu sebagai sahabat, Sasuke merasa senang jika gadis yang ia kenal sejak anak2 itu kini telah terbebas dari penyakitnya bawaannya.
Ya, Keluarga uchiha dan Hyuuga adalah kolega bisnis. Tentu saja keluarga mereka sering bertemu. Dan Hinata adalah putri tunggal dari paman Hiashi.
Baik, Sasuke, Itachi maupun Sarada mengenal gadis lavender itu sudah seperti saudara sendiri. Dan dihari penting Hinata tentu Sasuke ingin juga ikut merayakan.
Hanya saja kesibukkan Sasuke dan undangan pesta Hinata yang mendadak membuatnya lupa akan sesuatu. Ya, pemuda raven itu belum sempat mengabari istri blondenya.
Ia merasa bodoh saat mengetahui smart phonenya mati begitu tiba di jepang, dan Hinata tak membiarkan pemuda uchiha itu lepas dari jangkauannya barang sedetik saja.
Sasuke menanggapi sikap manja gadis hyuuga itu dengan sedikit berat hati. Ia tak bisa berbuat banyak karena tak sampai hati menolaknya.
Baginya Hinata sudah seperti Sarada, sama seperti adik perempuannya. Dan ya setelah pesta usai toh Sasuke bisa segera pulang dan melepas rindu dengan sang blondenya dikamar pribadi mereka.
Sayangnya prediksi CEO Uchiha corps itu meleset 100%. Naruto ada disana. Istrinya hadir dipesta! Terlebih gadis blondenya itu nampak begitu cantik tak seperti biasanya. Sasuke sangat terkejut dan sedikit gembira.
Ya, gembira karena ia bisa melihat wajah cantik istrinya lagi. Hanya saja... Iris biru itu menatapnya dengan pandangan yang terluka.
Tentu saja Sasuke tak menginginkannya. Insting nya berkata jika Naruto tengah cemburu terlebih setelah melihat betapa manjanya Hinata padanya. Sasuke tak mau Istrinya itu salah paham, pemuda Uchiha itu berusaha untuk menjelaskan semuanya secara terbuka.
Setidaknya meminta maaf atas kelalaiannya sbg seorang suami.
Tetapi ketika melihat keseluruhan penampilan gadisnya, Sasuke menyadari sesuatu.
Itu adalah gaya wanita kesukaan anikinya.
Oh yeah, perhiasan bertahtakan ruby itu jelas menggambarkan Itachi secara keselurahan.
Cemburu.
Tentu Sasuke merasa sangat cemburu.
Ia adalah seorang Uchiha. Dan Uchiha tak suka jika miliknya diusik. Termasuk Naruto. Ia sama sekali tak tahu jika istrinya itu dekat dengan anikinya yang terkenal sbg cassanova.
Sasuke tak suka gadisnya disentuh pria lain sekalipun itu anikinya sendiri.
Bila perlu saat itu juga ia akan memesan satu kamar dihotel dan segera menghapus seluruh bekas sentuhan dari anikinya. Sasuke juga sudah merindukan desahan manis sang blonde, raut wajah pasrahnya dibawah tindihan sang raven benar2 membuat Sasuke hilang ikal.
Tapi lagi2, Hinata menghalanginya.
Oh my God!
Demi Tuhan Sasuke tak ingin meninggalkan Naruto disini terlebih Hinata datang bersama Itachi. Ia benar2 tak rela meninggalkan istrinya bersama pria berkuncir tukang rayu itu. Jika saja bukan paman Hiashi alasannya, ia pasti dengan tegas menolak ajakkan Hinata.
Pilihan yang berat mengingat baik Naruto maupun paman Hiashi adalah prioritas. Sasuke cuma bisa merapalkan kata maaf sebanyak-banyaknya saat harus meninggalkan sang blonde.
Dan sialnya..., Neji- kakak laki-laki Hinata, mengajaknya minum malam itu. Memaksanya mabuk dan membuatnya tak sadarkan diri hingga pagi.
Dan sekarang seluruh rencananya gagal total.
Plan B plan C sampai plan X nya hancur sudah.
Ia benar2 merasa bodoh dan tolol. Jika orang tuanya dan kakek Naruto tau hal ini pasti ia akan dicap sebagai suami tak bertanggung jawab. Oh sial! Sasuke tak suka predikat sempurnanya jadi jatuh!
Setelah memparkirkan mobilnya dihalaman. Sasuke segera berlari menuju kedalam kediamannya. Beberapa pelayan yang melihat kehadirannya segera membungkuk memberi hormat. Sasuke terus saja berlari. Ia ingin sekali segera menemui gadis tannya itu.
Onixnya menatap lega saat akhirnya ia berhasil menemukan sosok istrinya itu ditengah taman. Seulas senyum tercetak dibibir tipisnya. Sasuke pun berjalan perlahan menuju tempat istrinya itu berada.
"Kau sedang apa Hime?", tanya Sasuke sambil mengecup pucuk keemasan milik sang istri lembut.
Jari-jari pucatnya menyisir surai panjang itu pelan seakan benda tsb adalah barang yang sangat rapuh.
"Sa..Sasuke", bibir plum Naruto bergetar manakala ia mendapati sang raven sudah berada dibelakangnya.
"Ka..kapan kau datang", ia bertanya ragu-ragu.
Sasuke menangkup wajah tan itu kekedua telapak tangannya. Memperhatikan dengan intens setiap lekuk di wajah sang istri. Sedikit pucat dengan mata sembab. Sasuke yakin jika istrinya itu semalaman telah menangis.
Ia mengecup kelopak kecoklatan itu perlahan. Menghayati setiap sentuhan yang ia berikan kepada sang blonde.
"Gomenne Naru. Gomen ", Sasuke berbisik lirih.
Lengan berbalut kemeja putih itu memeluk tubuh Naruto begitu erat. Sasuke tak ingin lagi melihat keadaan wanitanya yang sekacau ini. Hatinya remuk. Ia merasa amat sangat bersalah pada gadis musim panasnya itu.
Sasuke merasakan basah di bahu kirinya. Tubuh Naruto bergetar pelan dengan nafas yang naik turun. Sasuke tau wanitanya itu tengah menangis, ia semakin mempererat pelukannya.
"Gomenne Naruto",
Hanya kalimat itu yang terus Sasuke rapalkan. Semakin ia meminta maaf semakin ia merasakan sang blonde terisak hebat.
Demi Tuhan, Sasuke benar-benar merasa sebagai suami yang tak berguna karena sudah membuat istrinya itu menangis.
Dilain tempat, Sosok pemuda berkuncir tengah menatap adegan diantara kedua suami istri itu dari balik tirai jendela. Onixnya menatap tajam kearah pemuda raven yang tengah memeluk gadis bersurai blonde di bangku taman.
Tangannya terkepal erat. Itachi baru saja tiba setelah kembali dari jamuan makan siang dari kolega bisnisnya. Sulung Uchiha itu bermaksud untuk menemui sang blonde, bahkan Itachi sampai mampir membelikan sebuket bunga mawar merah untuknya.
Tapi sayangnya niatannya itu harus urung detik itu juga saat ia mendapti sang blonde tengah berpelukan dengan ototounya tercinta.
Sesak.
Dada Itachi terasa sesak seperti kekurangan oksigen. Ia mencengkram dadanya sendiri, entah mengapa melihat Naruto bersama Sasuke dadanya bisa sesesak itu.
Dan tanpa menunggu lagi ia segera pergi setelah sebelumnya membuang buket bunga itu ketempat sampah.
Itachi berjalan menuju mobil silvernya dengan langkah cepat.
Setelah duduk didepan kemudi, ia merasa emosinya meluap begitu saja.
"Kuso!", geramnya kesal sambil menggebrak kemudi mobil berbalut kulit asli itu keras.
Onixnya berkilat tajam. Amarah yang sangat berkobar didalam hatinya. Kepalanya panas dan tak bisa digunakan untuk berfikir jernih. Itachi benar2 merasakan sesak yang luar biasa dihatinya.
Sakit. Sakit sekali.
"Naruto...",
TBC?
RnR.
