(Cuap-cuap saya: hy, minna-san! Apa kabar? Semoga kalian semua baik dan tetep semangat baca karya abal ku ini ya.. ^^. Uhn satu lagi aku mau memberi tahu, faktanya sasunaru itu sudah melakukan malam pertamanya saat dikediaman Hasirama. Tapi maaf beribu maaf adegan itu aku hilangkan sejak awal. Karena publish pertama cerita ini di grup fb SN dan disitu aku diminta untuk tdk menaikkan rate maka dr itu cerita ini sudah sgt terlanjut safe, bagi yg meminta rate M diriku memohon maaf sebesar-besarnya, maybe di lain cerita. I'm promise. )

Sudah sejak subuh tadi sang nyonya Uchiha itu sudah sibuk didapur dengan berbagai macam buah dan sayur. Tangan trampilnya dengan cekatan memotong2 buah apel menjadi bentuk kelinci2 yang manis. Karena sudah terbiasa hidup mandiri sejak kecil, memasak bukan lagi menjadi hal yang sulit baginya. Meski pun demikian Kurenai dan Asuma sbg staff rumah tangga tentu masih berusaha melarang nyonya rumah-nya itu untuk memasak sendiri.

"Naruto-sama, saya mohon serahkan urusan dapur kepada saya saja, anda bisa terluka nantinya", pinta Kurenai memohon, wanita itu menatap dengan cemas nyonya rumahnya yang tengah asik memanggang sepotong daging di atas kompor.

"Tenanglah, Kurenai-san. Aku sudah terbiasa dengan ini semua. Lagipula ini tidak akan menjadi istimewa jika kau yang memasaknya",

Lagi2 Kurenai hanya bisa pasrah, Naruto terlalu keras kepala dan ia tak berani untuk melawan kehendak nona mudanya. Jantungnya selalu siap meloncat keluar saat gadis blonde itu hampir menjatuhkan panci ataupun terpeleset genangan air. Demi Tuhan ia tak mau jika sampai nona mudanya itu kenapa2.

Setelah setengah jam berkutat didapur, akhirnya Naruto berhasil menyelesaikan semua menu sarapannya dengan sukses. Ia berjalan menuju kamarnya dengan sepinggan menu sarapan buatan tangannya sendiri.

Naruto berjalan sepelan mungkin berusaha untuk tidak membuat suara yang bisa membangunkan sesosok pemuda yang tengah tertidur diranjangnya.

Bibir plum Naruto tersenyum manis. Ia mengamati pemuda yang tengah mendengkur halus dibalik selimut. Iris shapire nya menatap penuh sayang kepadanya. Perlahan ia memberanikan dirinya untuk mengelus pipi pucat milik sang raven.

"Sasuke-san bangunlah...", ujar Naruto lembut, ia sedikit menggoyangkan bahu bidang Sasuke.

"Sarapan sudah siap, bangunlah...", tambahnya.

Kelopak pucat itu mulai terbuka. Sasuke menggeliatkan tubuhnya diatas kasurnya yang hangat. Iris onixnya menatap kearah istrinya yang tengah tersenyum kearahnya.

"Ohayou, baby. Kau bangun pagi sekali", lengan kekar Sasuke mengalung pada pinggang langsing sang istri, membuat Naruto jadi malu bukan kepalang.

"Gomenne.., tapi aku membuatkan sarapan untuk Sasuke-san...",

"Kau apa?",

"Membuatkan sarapan untuk Sasuke-san",

Dahi Sasuke berkerut heran. Sarapan? Bukankah yang biasanya memasak adalah asisten dapurnya tapi kenapa istrinya yang harus memasak kali ini.

"Apa kau dipaksa memasak Naru?", tanya Sasuke yang berhasil membuat istrinya sweatdrop seketika.

"Aku membuatkannya untukmu... Dan aku tak dipaksa, Sasuke-san", bibir plum Naruto mengerucut kesal. Gadis blonde itu tak menyangka jika suaminya itu tidak paham dengan maksud baiknya. "Kalau kau tak mau biar ku buang saja", tukasnya sambil beranjak berdiri. Tapi tangan pucat Sasuke menghalanginya.

"Hei, aku tidak bilang tidak mau bukan. Kemarikan sarapannya",

Naruto memutar bola matanya kesal kemudian segera menghidangkan sarapan buatannya pada meja kecil yang biasa digunakan untuk sarapan ditempat tidur. Sepiring sandwich salmon panggang dengan saus wijen dan telur setengah matang juga segelas susu hangat. Terlihat sempurna meski sedikit gosong disana-sini.

Naruto menatap cemas saat suaminya itu mulai melahap potongan pertamanya. Wajah datar Sasuke membuatnya sedikit kesusahan dalam mengartikan perasaan sang raven. Oh ayolah Naruto benar2 penasaran bagaimana tanggapan sang raven tentang masakannya.

"Enak kah?", iris shapirenya bergerak cemas. Naruto menggigit bibir bawahnya saking penasarannya.

"Not bad. Aku suka,baby", puji Sasuke akhirnya.

Naruto tersenyum bahagia. Sasuke menyukai masakannya. Dan itu cukup bisa membuat Naruto tertawa dengan riangnya.

"Yatta!", serunya kegirangan...

Naruto memang berinisiatif untuk membuatkan suaminya itu sarapan. Setidaknya ia ingin sekali agar suaminya itu bisa mencicipi masakan buatan tangannya sendiri sesekali.

Semalam Sasuke sudah menceritakan semuanya. Bahkan berkali-kali pemuda raven itu meminta maaf pada Naruto, membuat sang blonde jadi malu sendiri. Setelah mengetahui kebenarannya. Naruto jadi merasa bersalah pada Sasuke dan juga Hinata. Ia tak tau jika alasan suaminya begitu dekat dengan Hinata tak lain karena iba melihat fisik si gadis lavender yang lemah. Naruto jadi merasa bodoh karena termakan cemburu tanpa mendengar penjelasan dari suaminya terlebih dahulu.

Karena itu lah sebagai balasan atas rasa bersalahnya ia pun berinisiatif untuk memasakkan sarapan untuk Sasuke. Dan untungnya pemuda raven itu menyukai masakannya.

.

.

.

Sudah hampir seminggu ini, Sasuke tidak kembali ke Amerika. Pemuda raven itu hanya mengurusi keperluan kantornya di Jepang saja. Meski selalu pulang larut, setidaknya Naruto masih bersyukur karena bisa melihat wajah suaminya itu langsung.

Tapi..., Naruto sedikit merasa aneh karena Itachi-nii sama sekali tak nampak. Beberapa kali ia mengirim email atau pun menelponnya nomornya selalu tak aktif. Sementara Sarada-chan juga sudah kembali ke Inggris. Sejujurnya Naruto ingin sekali bertanya menganai Itachi-nii kepada Suaminya itu. Tapi entah kenapa tiap Naruto mengucapkan nama si sulung Uchiha, Sasuke selalu memasang wajah tak suka. Membuat Naruto jadi mengurungkan niatnya itu.

Pagi ini seperti biasa, setelah mengantar suaminya berangkat kerja. Naruto memilih untuk berada ditaman meski hanya untuk sekedar membaca buku. Angin sejuk dibawah rindang pepohonan memang bisa merilekskan tubuhnya.

Entah kenapa akhir2 ini Naruto merasa badannya lemas dan ia sering sekali merasa mual. Sepertinya asam lambungnya naik lagi. Jika sudah seperti itu, Naruto hanya akan meminta obat maag pada Kurenai-san dan tentunya meminta pengurus dapur itu untuk tutup mulut tentang sakitnya.

Naruto merasa sedikit terkejut saat mendengar suara bel dikejauhan dari pintu utama. Jarang ada orang yang datang berkunjung pada hari-hari biasa bahkan mungkin tak ada. Hanya keluarga dekat dan pemilik undangan saja lah yang biasanya bisa masuk bebas.

Beberapa saat kemudian nampak Asuma berjalan mendekati sang blonde. Ia membungkuk sedikit untuk memberi hormat kepada nona mudanya itu.

"Nona Hyuuga data berkunjung, Naruto-san. Saya mengantarnya ke ruang tamu",

Sesaat Naruto hanya menatap pria berkumis itu, pemahaman awalnya berubah menjadi ketidakpercayaan.

Hyuuga.. Hinata Hyuuga ada disini? Tidak mungkin.

"Bu..bukankah Sasuke sedang pergi. Aku tidak akan menemuinya, katakan padanya suami ku tidak ada dirumah saat ini",

Penolakan yang sedikit dipenuhi kecemburuan itu begitu jelas terdengar. Naruto tersadar Asuma masih menunggu keputusannya, ekspresi pria itu sedikit kaget.

Naruto mengepalkan tangannya, sebisa mungkin ia berusaha untuk menurunkan amarahnya. Ia tidak ingin terlihat benci akan kehadiran hyuuga dirumahnya. Oh jangan sampai suaminya tau jika Naruto adalah Istri pencemburu.

"Gomenne, Asuma-san", setelah mengumpulkan ketenangannya Naruto segera melangkah meninggalkan bangkunya. "Bisakah kau meminta Kurenai-san membawakan teh dan kue untuk kami? Aku akan menemuinya segera",

Hinta duduk disofa bersandaran tinggi, gaun ungu muda dari satin membalut tubuhnya dan menonjolkan sisi feminimnya begitu kuat. Begitu melihat kedatangan sang blonde, senyum anggunnya terlukis di wajah putihnya.

"Aku datang berkunjung, kurasa kita belum saling kenal. Gomenne tidak memberitahukan dulu jika aku akan datang", suara lembut nan merdu itu lagi2 menggelitik telinga.

Naruto menelan ludah seakan batu yang tengah ditelannya.

"Tak apa..., aku senang kau sudi mampir kesini", jawab Naruto berusaha ramah, sedangkan yang benar2 ia inginkan adalah lari dan menjerit.

Iris lavender itu menyipit saat mengamati sekelilingnya. Naruto bisa menangkap raut mencemooh dari Hinata. Matanya menatap rok dan sweeter putih yang Naruto kenakan dengan senyuman aneh.

"Aneh sekali, mengetahui betapa beberapa hal bisa berubah",

Hinata melangkah menuju sofa dan duduk sambil menyilakan kaki.

"Sungguh Ironis bukan. Sangat-sangat Ironis", ia tertawa kasar.

"Apa maksudmu Hyuuga-san?", Naruto berkata pelan.

Iris lavender itu berkilat-kilat. Namun seulas senyum yang teduh tercetak di bibir merah hati Hinata. Membuat tampilan gadis cantik itu begitu kontras.

"Tidak ada", kepala bersurai hitam itu menggeleng pelan. "Aku hanya bercerita tentang gadis pengganggu yang tak diinginkan",

DEG.

Jantung Naruto berdenyut nyeri. Entah kenapa ucapan absur gadis brunette itu seakan mencekik lehernya. Ia tak mampu membalas ataupun berkata-kata. Hanya diam sambil meremas rok denim yang dipakainya itu.

"Aku benar2 senang bisa mengenalmu Naruto-chan. Ku harap kita bisa berteman akrab nee",

Naruto berpaling, ia berkata dengan suara kaku. "Aku juga senang bisa mengenalmu, Hinata-san",

Gadis lavender itu berjalan mendekati sang blonde. Tangan halusnya menjabat tangan Naruto, menggenggam telapak kecoklatan itu erat.

"Aku ingin sekali tahu, Naru-chan. Apa kau menyukai kehidupan pernikahan?. Apakah Sukee memenuhi setiap malam yang belum pernah kau miliki?", Suara Hinta menjadi rendah dan dekat. Matanya menatap tubuh Naruto dengan sorot mengejek. "Aku harus memberitahumu bahwa kau tidak terlihat bahagia, mia cara",

Iris shapire itu membulat menahan amarah. Ia ingin sekali jika bisa menendang keluar peri palsu dihadapannya itu. Terus menerus diam saat dicemooh seseorang yang kau anggap rival tentu menyakitkan.

Naruto tak menduga akan ada pertemuan satu lawan satu seperti ini, atau terjadi disini- dikediamannya bersama Sasuke.

Ia bersyukur karena Suaminya tidak akan kembali sampai larut malam. Naruto tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Hinata bertemu dengan suaminya saat ini juga.

Kepedihan itu mulai muncul lagi dalam dirinya. Bagaimanapun Naruto sudah berusaha keras untuk tidak memikirkan tentang suaminya dan Hinata. Karena Sasuke sudah menjelaskan semuanya. Dan juga karena Naruto sangat percaya kepada suaminya.

Tapi ekspresi penuh kemenangan di mata Hinata telah mengatakan bahwa gadis brunette itu adalah segala-galanya bagi Sasuke dan sang blonde bukanlah tandingannya.

Bahwa Hinata lebih mengenal suaminya itu luar dalam, mengetahui segela sesuatu yang bahkan Naruto belum tahu.

Naruto sedikit merasa lega ketika Kurenai-san datang dengan beberapa orang pelayan mengikutinya sambil mendorong troli penuh pastry dan seteko teh.

"Ohh ya Tuhan. Lezat sekali. Aku sungguh dimanjakan hari ini, Naru-chan", tawa Hinata kembali terdengar merdu. Gadis brunette itu menyesap teh jasmine dicangkirnya dengan nikmat.

"Sepertinya Sasuke sudah menceritakan semua tentang aku. Benar kan Naru-chan", desahnya tertahan. "Dan sekarang giliran kau menunjukkan kepadaku tentang dunia mu", Hinata dengan hati-hati menyeka sudut bibirnya dengan serbet linen berwarna baby pink itu.

Sekilas senyuman mengembang dibibirnya.

"Jadi- Tur berkeliling, tolong", ia berhenti sejenak sebelum menambahkan. "Dan tentunya termasuk kamar tidur"

.

.

.

.

Naruto menyaksikan Asuma menutup pintu besar itu dan nyaris lega saat mendengar deru suara mobil yang kian menjauh. Membawa pergi tamu yang tak diinginkan sang blonde.

Naruto merasa sangat tercabik-cabik, secara mental dan emosional.

Setelah pamitan untuk tidur sebentar kepada Asuma, Naruto segera berjalan menuju kamarnya.

Ia menatap sendu kearah bed seukuran king size berbalut sprei putih polos favorit suaminya itu.

Ia kira, dia lah orang pertama yang mengetahui hal kecil kesukaan Sasuke tsb...

Dia kira hanya dia yang tahu. Tapi... Gadis brunette itu berhasil mematahkan keyakinannya.

Tidak ada yang berubah dari kamarnya, tapi rasanya tetap saja berbeda. Naruto merasa Hinata masih tetap disana. Mengamati segala sesuatu dengan cermat bahkan termasuk almari pakaiannya, tempat dimana iris lavender itu menatap lembut jajaran jas dan kemeja Sasuke. Membuat sang blonde menggeram tak suka.

"Kau pasti sering kesepian karena Suke sering bertugas ke LN, bukan?",

Naruto ingin menjerit, saat Hinata dengan lancang menduduki singgasananya dan Sasuke. Menepuk halus sprei sutera itu lalu berkomentar, "dia masih suka aroma mint, ehh", kemudian tersenyum.

Naruto memaksakan dirinya untuk membalas uraian Hinata dengan senyuman. Ia merasa akan percuma jika membalasnya dengan perkataan. Karena gadis itu akan selalu bisa membalas ucapannya balik.

Naruto sedikit bersyukur saat Hinata akhirnya berpamitan pulang setelah puas melihat-lihat isi kamarnya.

Dan sepeninggalan peri palsu itu, naruto merasa amat mual dan pusing.

Ia hampir memuntahkan seluruh isi perutnya diwastafel. Naruto tak menyangka jika tekanan mental bisa begini berefek pada kesehatannya.

Menghempaskan tubuhnya lemas ke kursi malas. Naruto hanya bisa menangis sambil memeluk bantal.

"Sasukee... Ittai nee...",

Hinata Hyuuga, gadis bersurai panjang itu duduk dengan tenang di kursi belakang mobil pribadi miliknya. Iris mata sewarna lavender itu menatap nyalang ke arah luar. Seukir senyum miring terpasang di bibir tipisnya.

Hatinya tengah bergemuruh. Bersorak sorai penuh kemenangan. Pandangan kecewa dari sang blonde tadi mengakhiri jamuan tiba-tiba nya di kediaman Uchiha. Cukup puas sudah membuat wanita itu berpikir keras.

Tangan putih Hinata menyentuh kearah bekas jahitan didadanya yang tertutup gaun.

"Aku tak akan kalah begitu saja", Hinata bergumam dengan suara sepelan yang ia bisa, mencoba meyakinkan dan membangun kembali kepercayaan dirinya.

Pikiran Hinata melayang kearah sosok dirinya dulu...

Ya,Sedari kecil putri tunggal keluarga konglomerat Hyuuga itu sudah divonis memiliki jantung yang lemah.

Fisik yang ringkih membuat hari-harinya hanya dihabiskan diatas tempat tidur saja.

Kedua orang tua dan kakak laki-lakinya-Neji- selalu melarangnya melakukan ini itu dengan alasan kesehatan Hinata.

Gadis itu selama hidupnya tak pernah pergi jauh dari kamarnya, dan home schooling adalah pilihan yang harus diterima Hinata untuk menuntut ilmu.

Bosan memang, rutinitasnya hanya bergelut dikamar dengan berbagai obat yang harus diminumnya setiap hari.

Terasa Pahit, dan Hinata tak menyukainya.

Sebagai gadis kecil tentunya Hinata ingin sekali bisa bermain diluar bersama teman-teman yang belum pernah ia miliki sebelumnya. Tapi fisiknya yang lemah membuatnya tak bisa berbuat banyak.

Malam natal saat usianya 5 tahun, untuk pertama kalinya Hinata berkenalan dengan putra bungsu keluarga Uchiha. Umur mereka yang hanya terpaut 1 tahun, membuat kedua bocah itu menjadi lebih cepat akrab. Sejak itulah Hinata menganggap Uchiha Sasuke sebagai mataharinya.

Hidup Hinata yang dahulu begitu membosankan menjadi berwarna semenjak mengenal bungsu Uchiha itu. Setiap akhir pekan, Sasuke dan kakaknya akn berkunjung untuk bermain bersamanya. Hinata benar2 merasa bahagia dan itu berimbas pula pada kondisi kesehatan Hinata yang mulai ada kemajuan.

Menginjak remaja, Hinata tumbuh menjadi seorang gadis cantik kebanggan keluarganya dan Sasuke pun juga tumbuh tampan dan rupawan.

Persahabatan mereka masih tetap terjaga sampai sekarang, meski sejujurnya Hinata mulai menaruh hati pada sang Uchiha. Diam-diam Hinata suka membayangkan bagaimana kelak hubungannya dengan Sasuke, bisa menjadi mempelai sang raven di pelaminan adalah satu-satunya mimpi Hinata.

Apapun akan dilakukannya agar bisa memiliki sang raven.

Hingga akhirnya, di usia yang ke 17 Hinata memutuskan untuk menjalani operasi bedah yang hanya memiliki persentase keberhasilan yang kecil. Ia berusaha keras meyakinkan keluarganya jika ia pasti bisa menjalani itu semua.

Hinata ingin menjadi istri yang sempurna bagi sang Uchiha, mati pun ia rela bertaruh untuk segalanya.

Demi Sasuke! Ini semua demi Sasuke...

Setelah hampir 8 tahun menetap di Kanada untuk melanjutkan penelitian mengenai operasinya.. Kini Hinata bisa bernafas lega. Operasinya berhasil, dan ia sudah dinyatakan sembuh. Meski tetap saja Hinata tidak boleh melakukan hal yang berat-berat dulu, tapi itu bukan masalah... Sekarang ia bisa dengan percaya diri bersanding dengan mataharinya itu.

Kebahagiaan yang Hinata rasakan itu kiranya hanya bertahan sementara.

Saat pesta ulang tahun dan perayaan keberhasilan operasinya itulah sang gadis Hyuuga mengetahui sebuah fakta yang mengejutkan.

Sasuke Uchiha telah menikah.

Hati Hinata remuk tak bersisa.. Rasanya sakit seperti ribuan duri menancap dan mengoyak perasaannya tanpa ampun. Usahanya menantang maut sia-sia. Semua impiannya terbakar detik itu juga.

Sasuke-nya telah menikah. Pemuda dambaannya itu sudah dimiliki wanita lain.

Membayangkannya saja Hinata ingin sekali membunuh istri pujaannya itu. Ya, jika saja wanita jalang itu bukanlah cucu dari Hasirama Senju mungkin saat itu juga Hinata sudah menyewa pembunuh bayaran untuk melenyapkan wanita itu selama-lamanya.

Tidak!

Ini tidak boleh terjadi!

Hinata menjerit seperti orang gila. Ia memecahkan semua kaca atau apapun yang dilihatnya. Ia merasa sangat bodoh karena tak mengetahui berita pernikahan Sasuke dari awal.

Sasuke adalah miliknya. Pemuda itu hanyalah milik Hinata Hyuuga dan jika Hinata tak bisa memilikinya maka orang lain pun tak bisa.

Hinata bersumpah dalam hati, bahwa dia akn membawa kembali Uchiha Sasuke ke pelukannya. Hinatalah yang lebih pantas menjadi mempelai wanitanya. Ia bersumpah akan melenyapkan semua yang menghalangi jalannya

Ya, Sasuke adalah milikku.., desis Hinata tajam.

Tangan putihnya meremas foto 3R bergambar pernikahan Sasuke dan gadis bersurai blonde itu dengan penuh amarah. Ia mengambil sebuah pemantik api . Menyalakannya lalu menyulutnya kearah foto tadi.

Bibir sensualnya tersenyum miring menatap foto yang perlahan mulai hangus terbakar. Miris. Ya, pernikahan Sasuke dengan wanita jalang itu akan berakhir seperti foto ini. Hangus dan terbakar.

Lalu, Hinata akan mendapatkan Sasukenya kembali. Itu pasti!.

TBC. Mind to RnR

Gomenne ya kok seperti Hinata sedang curcol :D wkwk :D

Minna ada yg suka KnB? OOT sekali saya nih -_-

Sankyuu 3