Itachi nampak menegak gelas wine kesepuluhnya malam itu. Wajah tampannya tampak kacau dan sedikit memerah. Pengaruh alkohol sedikit banyak telah mempengaruhi kinerja otaknya. Dentuman music terdengar membahana disepanjang ruangan gelap tsb, lampu leser warna-warni menyorot ke berbagai arah. Kepulan asap rokok dan bau alkohol membaur menjadi satu di tempat yang disebut sebagai klub malam itu.

Kata orang, klub malam adalah surganya dunia. Tempat dimana kau bisa membuang segala masalah mu bahkan mengganti jati diri mu semaumu. Yang ada hanya berdansa, atau hanya sekedar mabuk ditemani oleh nona-nona cantik dengan bodi aduhai.

Dan itulah yang tengah dilakukan oleh si sulung Uchiha. Pergi ke Milan, mabuk dan berkencan dengan berbagai wanita. Itachi benar-benar ingin kembali ke kehidupannya dulu. Kehidupan yang bebas dan bahagia.

Ini sudah sebulan ia pergi dari Jepang, entah sudah berapa puluh juta yang dihamburkannya untuk berpesta. Itachi tak peduli, toh uangnya masih sangat-sangat berlimpah. Dan dengan uang ia bisa mendapatkan segalanya. Ya, minuman yang nikmat dan malam yang panas.

Seharusnya Itachi menikmatinya. Tetapi bayangan akan sang blonde terus saja menghantui pikirannya. Membuatnya frustasi dan tak bisa bebas menikmati hiburannya.

Wanita yang bagaimana pun bisa dengan mudah Itachi dapatkan. Bahkan jika dilihat para wanita itu lah yang justru mendatangi Itachi dengan sukarela. Tapi pemuda Uchiha tersebut sudah benar-benar kehilangan selera.

Yang ada diotaknya hanya Naruto, Naruto, Naruto dan Naruto. Demi Kami-sama, Itachi benar-benar tak bisa sepaham dengan perasaannya. Ia merasa hatinya sudah mengkhianati kewarasannya.

Bagaimana bisa Seorang playboy kelas kakap seperti Itachi malah jatuh cinta kepada istri dari ototounya sendiri. Ia bisa mendapatkan semua wanita, tapi kenapa justru hatinya jatuh pada wanita yang notabene adalah keluarganya. Fuckin hell ! Itachi benar-benar serasa di Neraka

Aku benar-benar sudah gila, desahnya frustasi.

Pemuda pemilik tanda lahir unik tersebut mulai menyalakan smart phonenya yang dari sebulan lalu sengaja di non aktifkan.

Perlahan deretan e-mail dan telpon tak terjawab terpampang pada layar touchscreen tersebut. Beberapa dari koleganya, Sarada, dan juga... Naruto.

Onix sewarna langit malam itu menatap teduh kemudian tangan pucatnya bergerak menyentuh deretan angka disana. Menunggu sesaat sebelum panggilannya terhubung..

"Bisakah kau pesankan aku tiket untuk besok? Ya,, aku ingin pulang ke Jepang segera",

.

.

.

.

Naruto menatap pantulan dirinya dicermin. Tubuh tannya terbalut dres satin berwarna Hitam dengan hiasan batu2 berwarna shapire di potongan lehernya. Surai keemasannya di ikat keatas dengan hiasan permata.

Hari ini terasa sangat special baginya.. Karena itu Naruto memutuskan untuk berpenampilan seistimewa harinya. Ia merapikan Concealer yang dipakainya di bawah mata. Kantung matanya mulai menebal seiring dengan kepenatannya.

Beruntung sapuan make up dapat menghilangkannya untuk beberapa jam kedepan.

Perutnya lagi-lagi melilit..., entah mengapa sekarang maagh nya jadi lebih sering kambuh. Membuatnya sulit makan dan terus-terusan muntah. Naruto sudah mengkonsumsi berbagaiobat tapi maagh nya selalu datang dan menghilang.

Aku mungkin terlalu stress, ia mendesah pasrah kemudian menelan beberapa pil dan segera berkemas.

Naruto harus meninggalkan segala kepenatannya itu untuk hari ini. Terus-terusan memikirkan tentang gadis brunette itu bisa membuatnya hampir gila dan mengganggu kesehatan tentunya. Naruto tak ingin Asuma semakin khawatir dan akhirnya malah mengadukan semuanya kepada sang suami.

Ya, kedatangan Hinata beberapa waktu yang lalu adalah rahasia. Naruto sudah menyuruh seluruh pelayan untuk tutup mulut. Ia tak mau Sasuke tahu tentang kunjungan tak menyenangkan dari nona Hyuuga itu tempo hari.

Meski pun dampaknya bisa terlihat jelas di mata Sasuke, Naruto tetap saja mengelak. Suami mana yang tak khawatir menjumpai istrinya terlihat strees dengan kantung mata yang menghitam setiap harinya. Jelas saja Sasuke selalu mendesak untuk pergi ke dokter, namun sang blonde selalu menemukan cara untuk mengelak.

Hari ini..., Sasuke mengajaknya dinner. Suaminya itu merancang makan malam romantis berdua di sebuah restoran di tengah kota. Sasuke beranggapan mungkin dengan sedikit penyegaran istrinya itu bisa kembali secerah yang dulu.

Dan Tentu Naruto amat bahagia mengingat jadwal suaminya yang padat namun masih meluangkan waktu untuknya. Kebahagiaan apa lagi yang bisa menandingi ini semua.

Kebahagiaan yang sempurna.

Terlebih kakak ipar kesayangannya-Itachi- baru saja bisa dihubungi kemarin lusa. Naruto bahkan sudah memesan teh paling mahal untuk menjamu kakak iparnya itu sesuai dengan janjinya dulu.

Kini ia merasa keluarganya telah sempurna..

Sepanjang perjalanan tangan mereka saling bergenggaman satu sama lain. Naruto terus saja mengembangkan senyuman menawannya sedari tadi. Rasa bahagia tengah mendominasi pikirannya. Membuat Naruto sesaat terlupa akan masalahnya.

Terlebih pemandangan romantis di restoran itu menambah mood sang blonde menjadi sangat bagus. Cahaya lilin yang temaram, musik klasik yang mengalun lembut juga suasana yang mendukung membuat dinner kali ini benar2 sempurna.

Naruto meremas tangannya gugup. Ia sangat jarang memiliki kesempatan makan malam romatis ditempat special seperti ini bersama suaminya. Gugup? Tentu saja. Wanita mana yang tak gugup jika berkencan dengan Uchiha?!.

Makanan-makanan mewah mulai terhidang di meja. Nafsu makan Naruto mulai membaik, mencium aroma dari kepiting lada hitamnya membuat perut Naruto berontak manja minta diisi. Hal yang sangat bagus bukan mengingat ia hanya bisa mengkonsumsi makanan tertentu saja agar ia tak mual.

"Drrtttt... Drrrttt..."

Smartphone Sasuke berdering nyaring. Pemuda bersurai raven itu menatap layar tersebut datar. Tak seperti biasanya Sasuke memilih mengabaikan sambungan telponnya.

Naruto yang melihat itu hanya bisa mengerutkan dahinya heran sambil menyantap hidangannya.

Sekali lagi smart phone itu berdering, onix Sasuke berputar malas. Ia mengacuhkan telponnya dan memilih untuk makan. Namun telpon itu tak kunjung berhenti berdering.

"Kenapa tidak diangkat? Sepertinya penting...", tanya Naruto heran.

Sasuke hanya diam seperti tengah berpikir. Sesaat kemudian ia mengangguk pelan lalu memencet tombol dial di smartphonenya.

"Moshi-moshi. Ada apa menelfon malam-malam begini?",

Suara disebrang sana samar-samar terdengar panik oleh Naruto.

Gadis tan itu semakin heran mana kala suaminya itu berekspresi yang sama. Ia hanya bisa diam dan mengamati saja.

"Di rumah sakit mana? Baiklah aku akan segera kesana. Jaa...",

Sambungan itu terputus namun Sasuke tetap diam mengamati ujung sepatu mengkilapnya. Ia menghembuskan nafas berat sebelum berucap, "gomenne Naru. Bisa kau menunggu? Aku harus segera ke rumah sakit saat ini juga",

"Eh, kenapa? Siapa yang sakit, Sasuke?",

Pemuda onix itu hanya diam tak mengindahkan ucapan sang blonde. Bibir pucatnya terkatup rapat. Rasanya sungguh berat baginya untuk berkata selanjutnya.

"Hinata... Dia masuk rumah sakit. Barusan Paman Hiashi yang menelfon, beliau meminta ku untuk segera kesana",

Iris shapire Naruto membulat, ia merasa perutnya tegang...

"Be..begitukah? A..Apa boleh.. Buat nee", suara Naruto bergetar. Sebisa mungkin ia tak ingin terlihat menyedihkan.

"Pergilah. Aku... Akn menunggu mu", cicitnya berusaha nampak tegar.

Sasuke memandang istrinya itu penuh penyesalan. Ia merasa bersalah karena harus mengecewakan istrinya di acara yang ia buat sendiri. Hanya saja ia tak bisa mengabaikan Hinata begitu saja...

"Jika kau merasa capek, telponlah Asuma agar menjemputmu. Aku pergi dulu, Naru. Gomenne",

Sosok pemuda itu perlahan mulai menghilang dikejauhan meninggalkan sang blonde yang tengah termangu di kursinya...

Mata yang tadinya ceria itu kini meredup. "Aku akan menunggumu",

Ucapannya itu terus terngiang dikepalanya.

Ia Merasa sangat bodoh bersikap sok tegar didepan suaminya sehingga membuat Sasuke justru pergi meninggalkannya seorang diri.

Sakit sekali hati Naruto saat ini. Dihari istimewanya yang berjalan lancar awalnya kini berubah bencana.

Ia menatap ke piring-piring berisi makanan yang belum tersentuh itu. Bahkan mereka belum makan hidangan utamanya tapi... Semua ini sudah harus berakhir...

Hatinya sakit.

Sakit sekali! Tak terasa tetesan air mata mulai mengalir membasahi pipi chubbynya. Ia terisak pelan, mencoba menahan suara dan sakit hatinya.

"Baka! Kau benar-benar Teme Sasuke! Hidoii-", isaknya lirih.

Tiba2 perutnya terasa melilit... Rasa sakitnya lebih parah dari yang biasa ia rasakan. Naruto sampai harus menekukkan tubuhnya untuk menahan rasa sakitnya.

Dengan tenaga yang tersisa, ia berjalan keluar restoran. Iris shapirenya bergerak gelisah mencari tempat untuknya duduk.

Ia sudah menghubungi orang rumah untuk segera menjemputnya. Rasa sakit yang teramat ini benar2 hampir membuatnya pingsan.

"Ittai.. Ittai.. Hikz.. Sasuke.. Ittaii..",

Bibir plum yang kini memucat itu terisak pelan.

Ia tak mengerti kenapa maagh bisa sesakit ini. Belum pernah ia merasakan sakit yang seluar biasa ini. Sekarang ia hanya bisa pasrah dan berdoa agar jemputannya segera datang. Mantelnya tertinggal di mobil Sasuke, tentu saja hawa dingin menerpanya tanpa ampun. Membuat tubuh kesakitan itu menggigil hebat.

Pandangannya mulai mengabur, ia sudah mencapai batasnya. Naruto merasa sebentar lagi mungkin ia akan pingsan.

Tak lama setelah itu, Iris shapire nya menangkap sosok pemuda yang tengah berlari panik kearahnya.

Pemuda itu merengkuh tubuh Naruto sambil menepuk halus pipi pucat nya.

"Naruto! Hei, bangunlah! Kau tak apa", nada khawatir jelas terdengar disuaranya yang bergetar.

Kelopak pucat itu terbuka. Naruto bisa melihat meski samar bahwa Itachi lah yang ada disana. Ia tersenyum kecil kemudian berusaha untuk menegakkan tubuhnya yang melemah.

"Itachi-nii..., kau da...",

Dan belum sempat Naruto selesai berucap, rasa sakit teramat diperutnya merengut kesadarannya secara paksa. Tubuh lemasnya terjatuh kepelukan Itachi.

"Sial! Kau kenapa Naru! Sadarlah! Kita kerumah sakit sekarang juga",

Itachi mulai menggendong tubuh Naru ala bridal style. Otak jeniusnya tak bisa berpikir saat ini. Yang ia tahu hanyalah untuk segera membawa sang blonde ke rumah sakit.

Pertemuan pertama untuk kesekian lamanya dengan si blonde malah tragis begini. Ia sedikit bersyukur, malam itu berkendara ke kediaman adiknya. Meski awalnya harus menelan pil pahit karena tau Naruto tengah berkencan ria dengan Sasuke.., Tapi kini.. Itachi lah yang ada disisi Naruto disaat kondisi gadis itu melemah.

Itachi sedikit berlari menghampiri mobilnya yang terparkir di depan restoran. Ia membuka pintu belakang mobilnya dengan cepat lalu segera membaringkan tubuh lemah itu disana.

"Bertahanlah Naru. Kita akan kerumah sakit sekarang..",

Onix Itachi menatap cemas, Wajah naruto semakin memucat, tubuhnya pun dingin. Dan satu lagi ekspresinya benar-benar kesakitan. Tiba-tiba onixnya menangkap aliran merah di kaki sang blonde. Matanya membulat sempurna. Itachi menyingkap sedikit gaun hitam milik Naruto dan kini ia bisa melihatnya dengan jelas aliran darah merembes dari arah selakangan sang blonde.

"Ya tuhan.., Naruto .. Kau..",

.

.

.

"Jika saja anda terlambat membawa Naruto-san ke rumah sakit sepuluh menit saja, bisa dipastikan janin dirahimnya sudah tak bisa ditolong lagi. Sebaiknya pastikan Naruto-san tidak terbebani secara mental dan emosional, kandungannya bisa dalam bahaya",

Ucapan dari dokter yang menangani sang blonde itu masih terngiang dengan jelas di benak Itachi. Pemuda berkuncir itu menatap sendu wajah pucat gadis tan yang tengah terbaring lemah diranjang rumah sakit itu. Selang infus menacap di nadinya dalam.

Itachi menggenggam tangan yang mendingin itu lembut. Hatinya masih kacau, tapi jika melihat bagaimana nasib sang blonde kini.. Itachi benar-benar tak sampai hati.

"Kau ingin sesuatu Naru?", ia bertanya lembut sementara sang blonde hanya tersenyum tipis sambil menggeleng perlahan.

Itachi mengusap surai keemasan itu lembut., ia bisa melihat mata sembab Naruto yang masih belum juga berhenti menangis.

Sejak diberitahukan kondisi yang sebenarnya oleh sang dokter, wajah tegang dan ketakutan saja yang terlihat dari Naruto. Ia terus saja menangis, memaki dirinya sambil terus meminta maaf pada calon anaknya itu.

Naruto tak pernah tau jika dirinya hamil.., kepenatan yang ditimbulkan Hinata dulu membuatnya bahkan tak lagi menyadari perubahan dalam dirinya.

Iris sebiru lautan itu sesekali menatap kosong; Naruto begitu merasa bersalah telah lalai terhadap kehamilannya sendiri. Ia bahkan meminum obat maagh bahkan obat penenang secara rutin. Ya Tuhan demi apapun jika sampai terjadi sesuatu pada anaknya kelak; Naruto bersumpah akan menghukum dirinya sendiri.

Tak ada percakapan yang berarti diruangan serba putih tersebut. Yang tinggal Hanya keheningan.

Itachi memang sengaja memberikan waktu untuk sang blonde sendirian. Pemuda Uchiha itu sangat mengerti beban apa yang tengah dipikul Naruto.

Beberapa saat yang lalu ia berpamitan untuk keluar membeli kopi sementara Naruto tengah menjalani pemeriksaan. Itachi menghempaskan tubuh atletisnya keatas bangku ruang tunggu. Entah kenapa ia jadi teringat percakapannya dahulu dengan sang ayah, Uchiha Fugaku.

Jika saja ia tak menuruti egonya jika saja ia menyetujui hal konyol yang ayahnya katakan.. Mungkin Naruto tak akan seperti ini...Mungkin gadis itu bisa tersenyum jauh lebih bahagia dari ini..

"Aku bodoh sekali...", bergumam tak jelas, pemuda bersurai hitam itu hanya bisa menghela nafas berat.

Gadis kesayangannya itu hampir saja mengalami keguguran. Jika saja Itachi tak segera membawanya ke rumah sakit mungkin calon keponakannya itu tak akan pernah sempat terlahir kedunia.

Matanya memanas.., Ia merasa amat sangat bersalah. Dokter yang menangani Naruto berkata jika gadis tersebut terlalu banyak pikiran. Stress memang musuh utama diawal kehamilan bagi ibu muda seperti Naruto. Tapi apa pemicu stressnya sampai saat ini ia pun tak tau.

Menyesali kebodohannya yang malah lari ke Milan untuk hura-hura dan tak memperdulikan sang blonde. Itachi tak tau apa yang telah terjadi.., ia hanya mengerti jika Naruto... Gadis itu Sudah bahagia bersama suaminya.

Dan hal itu Membuat hati Itachi panas.

Kantung mata Naruto memang terlihat menebal.., gadis itu pasti kesulitan tidur akhir-akhir ini. Itachi sangat yakin jika ototounya yang dingin itu tak akan pernah menyadari perubahan Naruto.

Pikiran Itachi melayang kemana-mana..., otak jeniusnya serasa mati rasa. Ia tak mampu berpikir jernih saat ini. Beberapa kali nampak ia meninju tembok dengan amarah tertumpuk.

Jika diurut dari awal masa perjodohan. Harusnya Itachilah yang menikahi cucu Hasiram Senju dan bukan Sasuke yang notabene anak kedua. Tapi Sayangnya Itachi menolak terang-terangan semuanya, kehidupan bebasnya masih terasa menggiurkan dimatanya kala itu. Dan walhasil.., Sasuke lah yang menggantikan posisinya...

Kini Itachi sangat menyesalinya..., menyesali apa yang dulu sudah ia lepaskan ..

Tapi saat ini Itachi tak memiliki waktu untuk sekedar menyesali hal yang telah berlalu. Gadis kesayangannya itu membutuhkan uluran tangan darinya. Membutuhkan teman untuk menjaga rahasianya. Dan Itachi sudah bersumpah kali ini ia akn menjaga sang blonde bagaimana pun caranya.

Naruto telah menceritakan semua yang terjadi selama dirinya di Milan waktu itu. Dugaan Itachi sedikit tapat saat tau Hinatalah otak dari semua ini. Demi Tuhan, Itachi benar-benar tak menyangka jika gadis anggun pemalu itu bisa berbuat seperti itu.., Hinata yang ia kenal dulu bukan gadis arogan yang menghalalkan segala cara.

Cinta bisa merubah segalanya huh, desisnya mencemooh.

Itachi menghampiri kamar rawat Naruto setelah para perawat mulai meninggalkan ruangan tersebut. Ia tersenyum lembut begitu melihat sang blonde tengah tertidur dengan lelapnya.

Rasa lega sedikit terasa dihati Itachi.

Ia mengusap lembut pipi chubby yang mulai terlihat merah itu. Badannya sudah tak sedingin tadi dan itu bagus. Perawatan yang tepat memang sedang dibutuhkan sang blonde saat ini.

Itachi mendudukkan dirinya sendiri pada kursi disamping ranjang Naruto. Pikirannya kini tertuju pada perjanjian yang ia buat bersama sang blonde beberapa saat yang lalu.

Pemuda Uchiha itu hanya bisa meremas surainya frustasi.

Sejujurnya ia tak setuju dengan permohonan Naruto yang terdengar tak masuk akal. Bagaimana tidak, gadis tan itu memohon untuk merahasiakan soal kehamilannya dari siapapun termasuk keluarganya sendiri.

Awalnya Itachi menolak, karena mengingat kondisi kehamilan Naruto yang lemah. Gadis blonde itu butuh bantuan dan perhatian dari semua orang untuk menjaganya. Bagaimana bisa Naruto malah ingin merahasiakan kabar bahagia itu terutama pada suaminya.

Dan sebagai jawaban akhirnya.., Itachi hanya bisa tersenyum dan mengabulkan segala permintaan gadis musim panas itu.

.

.

.

.

.

Uchiha Sasuke, pemuda bersurai raven berperawakkan bak pahatan dewa yunani itu nampak berlarian disepanjang koridor rumah sakit dengan tergesa-gesa. Meski raut wajahnya terlihat datar seperti biasanya tapi jika kau perhatikan dengan seksama, wajah tampan itu terlihat tegang dan cemas.

Kemejanya berantakan tak lagi nampak licin seperti awalnya. Pemuda itu terengah-engah mencoba mengatur nafasnya yang pendek-pendek. Setelah beberapa kali bertanya kepada setiap perawat yang ditemuinya akhirnya pemuda tsb berhasil menemukan kamar yang ia cari.

"Baby! Demi Tuhan kau kenapa?", ia berseru keras saat memasuki ruang rawat bercat putih polos itu. "Kau ok? Apa yang sakit? Ku mohon katakan padaku", tanyanya cemas.

Gadis tan yang cukup terkejut dengan kedatangan sang raven itu cuma bisa tersenyum kaku. "Aku.. Tak apa",

Menyibakkan surai keemasannya ke belakang telinga, Naruto berusaha nampak terlihat sewajarnya.

"Aku sangat terkejut begitu Asuma memberitahuku.., baby. Aku sangat mengkhawatirkan mu", nada khawatir jelas kentara di suara Sasuke.

Gadis tan itu menelan ludah seakan tengah batu. Suaranya rendah. "Kau.. Tak perlu cemas. Aku hanya butuh istirahat saja"

"Benarkah? Apa tidak terjadi sesuatu yang buruk?", tanya Sasuke mendesak. "Dokter sudah memeriksa mu? Kata Asuma kau mengalami bleeding. Ada apa dengan mu ,baby?"

Naruto menunduk lemah. "Kau salah. Ti..tidak seperti itu..",

Raut wajah Sasuke nampak begitu cemas, ia merasa tak puas dengan jawaban sang blonde yang terkesan menutup nutupi sesuatu. Tapi ditanya seperti apapun, istrinya itu tetap bungkam.

"Dia hanya terkena infeksii pencernaan saja tidak lebih, ototou",

Suara mengintrupsi itu terdengar tajam dari belakang.

Sasuke membalikkan tubuhnya dan mendapati kakak sulungnya itu tengah duduk bersila kaki di sofa tunggu. Onixnya membulat kaget..,

"Aniki.., kau... Sedang apa kau ada disini?", Sasuke memicingkan onixnya dingin. Merasa tak suka dengan kehadiran anikinya.

Itachi menyeringai tipis, ia berjalan mendekati ranjang sang blonde kemudian tangan pucatnya itu menyentuh kening sang blonde, mencoba mengecek suhu tubuhnya.

"Kau sudah tak demam, Naru-chan. Apa kau mau aku kupaskan jeruk, unn?",

Perlakuan spesial Itachi menyulut kemarahan sang raven. Sasuke dengan kasar menepis tangan anikinya itu dari dahi Naruto.

"Jangan sekali-kali kau menyentuh istriku, brengsek!", onixnya berkilat tajam. Sasuke merasa sangat tak nyaman melihat anikinya begitu perhatian terhadap gadis blonde miliknya itu. Tangannya terkepal diudara siap meninju wajah menyebalkan tersebut.

Tapi jeritan Naruto menghalanginya.

"STOP! Tak bisakah kalian berdua keluar! Aku ingin istirahat",

Kedua putra Fugaku Uchiha itu saling menatap garang satu sama lain di sebuah ruangan di kafetaria Rumah sakit. Meski dari luar mereka terlihat seperti tengah meminum kopinya dengan santai namun yang sebenarnya terjadi kedua lelaki tampan itu tengah saling menggertak dalam diam. Jika adegan saat ini ada dalam anime, kita tentu bisa melihat percikan listrik dikedua onix hitam mereka.

"Aku tak menyangka bisa bertemu dengan mu disini, aniki", tukas Sasuke membuka obrolan. "Sedang apa kau disini?",

"Tidakkah kau mau berterima kasih dahulu kepada orang yang telah menolong istrimu, ototou",

"Begitukah? Jadi sejak kapan kau mulai menaruh perhatian kepada wanita? Seingat ku itu bukan gaya mu",

"Humm.., coba ku ingat. Mungkin sejak aku mengenal Naruto",

Suasana diantara keduanya kian memanas. Tapi bukan Uchiha namanya jika mereka meluapkan emosi sampai berjibaku didepan umum.

Onix keduanya sama-sama berkilat tajam.

"Jauhi istri ku, atau kau akan mati", Sasuke berucap dengan nada datar sambil menyesap kopinya.

Sementara Itachi hanya tersenyum miring mendengar gertakan sang raven. "Oh, ya seperti kau bisa saja",

Itachi berucap mencemooh, ia melipat kedua tangannya didepan dada. Menunjukkan auranya yang tak bisa dibantah. "Aku tak pernah mendekati Naruto, lagipula bukankah kau tak mempedulikannya ototou? Ahh benar! Hinata-chan lebih membutuhkan mu bukan",

Sasuke mendesis rendah. "Kau!", mengepalkan tangannya rapat, Ia mulai terbawa emosi

"Jangan bicara omong kosong! Naruto adalah istriku!", nyalangnya keras.

Itachi hanya tersenyum tipis melihat kemarahan adik laki-lakinya itu. Ia tetap tenang seakan yang dihadapinya hanyalah seorang bocah berumur 5tahun.

"Jadi- karena dia istrimu, kau berhak pergi kemanapun sesuka mu begitu? Terdengar terlalu egois kan, Sasuke",

Ia bertanya sarkatis. "Jangan pernah sakiti Naruto, atau aku akan mengambil yang menjadi hak ku kembali. Ingat itu Sasuke", matanya menatap lurus kearah bungsu Uchiha tersebut.

"Aku duluan", Itachi berucap Sebelum akhirnya ia beranjak pergi meninggalkan Sasuke yang termenung seorang diri.

Bagi Itachi ini sudah cukup untuk memperingati ototou-nya itu. Yang terpenting adalah setelah ini...,

Ya, Itachi sudah bertekad bulat akan membahagiakan sang blonde. Apapun resikonya ia akan melampaui itu semua. Meski pun itu haruz dengan jalan perceraian ototou-nya sendiri.

TBC.