(Cuap-cuap saya: Di chap akan ada sedikit ya.. Hal yang kubenci sebenarnya tapi mau apalagi ini hanyalah sedikit dari bagian cerita. Kuharap minna-san suka dan jangan bully saya :v .)
Enjoy! Mind2RnR
Naruto menyandarkan tubuhnya ke sandaran bangku ruang tunggu di sebuah rumah sakit. Hawa dingin sedikit mengganggunya; beruntung Sasuke sempat menyampirkan jas hitam berbahan tebal miliknya ke punggung Naruto.
Aroma mint dari jas milik Sasuke menguar mengusik indra penciumnya. Disaat hatinya sedang gundah seperti sekarang, mencium aroma sang raven dapat membuat perasaannya berubah menjadi sedikit lebih nyaman.
Sudah hampir setengah jam sejak Sasuke meninggalkannya disini, diruang tunggu. Masih belum ada tanda-tanda sang raven itu kembali setelah pergi dengan terburu-buru bersama pemuda bernama Neji. Ia menghela nafas panjang entah sudah ke berapa kalinya. Jenuh, gelisah dan takut. Perasaannya bercampur tak karuan.
Padahal harusnya hari ini akan berakhir dengan malam yang indah berdua bersama Sasuke. Harusnya saat ini Naruto sedang tertawa bergembira bersama suaminya; menyambut sang jabang bayi dengan suka cita. Harusnya seperti itu...
Tapi...
Lagi-lagi Naruto harus menelan pil pahit yang berasal dari sang gadis Lavender, Hyuuga Hinata.
Entahlah, Kali ini Naruto pun tak sampai hati saat kakak laki-lakinya-Neji- memberi kabar jika gadis manis itu berusaha untuk mencelakai dirinya sendiri. Karena itu lah Neji sampai harus memohon kepada suaminya untuk membujuk Hinata.
Sejujurnya,Naruto pun sedikit merasa iba terhadap gadis beriris lavender tersebut. Hanya saja tak bisa dipungkiri rasa cemburu dan amarah masih menyelimuti hati maupun pikirannya.
Jika saja bukan karena Sasuke, tentu saat ini Naruto dengan senang hati akan menolak menunggu di tempat sepi berbau obat seperti ini.
Tiba-tiba Naruto merasa perutnya sedikit mual . Ia pun kemudian berdiri sambil membenahi gaunnya.
"Ughh.., aku mulai mual karena bau ini.., sebaiknya aku segera pergi ketoilet", gumam Naruto pelan.
Gadis tan itu berjalan menuju ke toilet yang terletak di samping tangga. Dan setelah selesai ia pun segera keluar. Naruto mengambil ponselnya didalam tas, bermaksud untuk menghubungi Sasuke. Tapi belum juga ia memencet nomor.., ia mendengar suara Sasuke dari arah lantai atas.
Wajah Naruto berseri.., ia segera berjalan bermaksud untuk menghampiri sang suami..
Tapi yang dilihatnya suaminya itu tengah berbincang bersama seorang gadis bersurai hitam yang Naruto kenali sebagai Hinata.
Iris Naruto mendadak redup. Ia membatalkan niatnya untuk menghampiri Sasuke. Sepertinya itu bukan ide yang bagus.
Lagipula Sasuke terlihat tengah berdebat dengan gadis indigo itu..
"Sepertinya aku per..., YA TUHAN HINATA-SAN !", Naruto berteriak histeris manakala ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana gadis lavender itu terjatuh dari tangga atas, berguling begitu saja hingga berakhir dilantai bawah.
Naruto segera berlari menghampiri tubuh lemah Hinata. Mengguncangkan tubuh putih itu berharap Hinata akan sadar.
"Hinata-san, kau tak apa!bangunlah!", teriak Naruto ketakutan.
Para pengunjung rumah sakit semakin banyak yang berdatangan. Sasuke sudah berlari mencari pertolongan. Sementara Naruto, gadis tan itu memegangi tubuh Hinata yang sudah tergolek lemah dilantai.
Ya, tuhan apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa ini?, Naruto mendesah dalam hati.
Ia tak mengerti kenapa semuanya harus rumit seperti ini. Tadinya ia dan Sasuke tengah makan malam romantis. Lalu mereka harus ke RS untuk menemui Hinata. Sekarang gadis itu malah terjatuh dari tangga.., padahal Naruto berani bersumpah ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Hinata sengaja menjatuhkan tubuhnya ke tangga. Entah apa maksudnya. Yang jelas kini orang-orang beranggapan, Sasukelah penyebabnya.
Setelah bantuan medis tiba, Hinata segera dibawa ke ruangan UGD. Iris shapire Naruto menatap nanar. Tubuhnya menggigil ngeri. Entah kenapa firasatnya buruk tentang ini
.
.
.
.
-Flash Back on-
Sasuke sedikit berlarian begitu Neji membawanya kelantai dua rumah sakit. Setelah meninggalkan sang istri di ruang tunggu, Sasuke segera menemui Hinata.
Ya, semakin cepat ia bertemu dengan Hinata maka masalah ini akan cepat selesai pula. Sasuke sudah berjanji akan membahagiakan sang istri, tapi sepertinya itu akan sulit jika Hinata masih saja terus mencampuri hidupnya.
Begitu tiba, iris onixnya menangkap sosok gadis tersebut tengah tertunduk di sofa didalam ruang rawat dengan pergelangan tangan yg diperban.
Begitu mengetahui Sasuke datang, wajah yang semula tertekuk itu berubah menjadi berbunga dalam sekejap.
"Suke, kau datang! Senangnya", seru gadis brunette itu riang. Ia bergelayut manja memeluk Sasuke yang hanya diam tak bergerak.
Perasaan Sasuke jadi tak enak. Ia harus segera menyuruh gadis manis itu untuk dirawat lalu segera kembali menjeput sang istri kemudian pulang kerumah.
"Hinata, sebaiknya kau dirawat bukan", mencoba melepaskan pelukan Hinata secara halus, Sasuke mulai menasehatinya. "Apa yang kau pikirkan? Bukankah tindakkan mu itu sungguh sangat konyol!",
Hinata membuang muka. "Aku tak mau dirawat suke! Pokoknya tidak!", bantahnya memunggungi sang raven.
"Jangan bodoh! Ayolah aku akan mengurus registrasinya", tukas Sasuke dengan tegas.
"Tidak! Aku tak mau! Tidak akan, suke!",
Hinata mulai berteriak histeris, menolak semua bujukan Sasuke untuk membiarkan dokter merawatnya. Demi Tuhan, Sasuke merasa kelakuan gadis yang biasanya nampak anggun itu kini jadi kekanak-kanakan dan sangat bodoh.
Ia menarik lengan Hinata sedikit kasar, membawanya menjauh dari ruangan itu. Onixnya menatap tajam, mematri kedua iris lavender Hinata. Mengeluarkan aura yang tak bisa dibantah.
Memijat pelipisnya pelan, Sasuke hanya tak habis pikir dengan kelakuan sang Hyuuga.
"Apa maksudmu Hinata-chan. Kau tak seperti ini sebelumnya? Neji sangat khawatir pada mu. Kau tau itu kan",
Hinata menundukkan kepalanya dalam. "Kau tau.. Aku sudah menunggumu begitu lama...", menyibakkan rambutnya kebelakang, Hinata mulai berjalan menghampiri sang raven. "Aku.. Biar serendah apapun aku ingin terus bersama mu suke.. Selalu",
"Kau jangan bercanda! Aku sudah menikah Hinata",
"Aku tak peduli! Kau milikku suke!"
Air mata Hinata menetes jatuh ke lantai. Iris lavender itu berubah kelabu menunjukkan hatinya yang juga tengah luka.
"Akan kuhancurkan...", isakkan sang lavender berubah menjadi sebuah bisikan rendah yang tajam. Dengan mata berair, gadis brunette itu menatap sasuke tajam .. Seringai tipis terlihat dibibirnya sebelum...
"Kalian berdua akan kuhancurkan...",
BRUAKK!
secara tiba-tiba Hinata melangkah mundur lalu menjatuhkan tubuhnya sendiri ke tangga... Membuat semua orang yang melihat tubuh tak berdaya itu berteriak histeris..
"Hinata!",
-End of flash back-
*normal pov*
Ruang inap kelas wahid yang tadinya sepi itu kini mulai ramai dengan datangnya beberapa orang kerbata Hyuuga. Nampak Neji tengah menyambut seorang nenek berpakaian kimono yang tengah menangis tersedu-sedu.
Naruto hanya bisa menatap nanar, saat wanita tua itu meneriaki suaminya dengan berbagai perkataan yang kasar. Ya, semua orang beranggapan Hinata jatuh karena tak sengaja terdorong oleh sang raven. Berita asal itu cepat sekali berkembang.
Memang jika dilihat, sebelum terjatuh Hinata seperti tengah bertengkar dengan Sasuke. Entah apa yang mereka debatkan. Yang jelas Naruto benar-benar yakin Hinata sengaja menjatuhkan dirinya sendiri waktu itu..
Jika saja pernyataannya itu bisa merubah pandangan orang-orang tentu sudah sedari tadi Naruto lakukan.
Apa yang sudah terjadi, Tuhan. Naruto mendesah pasrah.
"Sepertinya pasien sudah sadar, silahkan masuk dengan tenang", seorang perawat muncul memberitahukan keadaan Hinata didalam.
Seluruh orang yang ada disini segera berjalan menuju dalam untuk melihat keadaan Hinata.
"Hime ku! Kasihan sekali! Cucu kesayangan ku...malangnya dirimu nak", wanita tua itu menjerit tertahan. Lengkingannya terdengar pilu melihat cucu gadisnya terbaring disana. Sementara Hinata hanya tersenyum simpul untuk menenangkan sang nenek.
Seorang Perawat bertubuh kecil datang sambil mendorong sebuah kursi roda ditangannya. "Nona Hinata mengalami sedikit retakan di tulang kaki sebelah kanan.. Selain itu tidak ada keanehan. Untuk beberapa bulan ini sangat dianjurkan untuk memakai kursi roda dulu nyonya", ucap perawat tersebut .
Mata wanita tua itu menatap sasuke penuh amarah. "Kau dengar itu! Bagaimana kau bisa bertanggung jawab nak Sasuke! Hinata ku sudah cacat sekarang", makinya kesal sambil menunjuk-nunjuk Sasuke dengan jarinya yang bergetar
"Sudahlah nenek. Jangan dibesar-besarkan aku tak apa kok sungguh", tukas Hinata lembut. "Bisakah kalian semua keluar? Aku ingin bicara berdua saja dengan Sasuke..",
Jantung Naruto berdegup kencang.
Entahlah perasaannya kian tak enak.
Satu persatu orang-orang yang ada didalam mulai berjalan keluar. Naruto menatap sang suami yang masih tertunduk diam. Ia sungguh tak ingin pergi dan meninggalkan suaminya disini bersama Hinata.
Iris lavender itu menatap Naruto lekat. Sebuah senyum aneh terukir dibibirnya.
"Gomenne... Naruto",
.
.
.
.
.
Sasuke memarkirkan mobilnya dipekarangan rumah seperti biasa. Ia melirik jam digital yang terpampang dismartphonenya. Sudah pukul 2dini hari. Terlalu larut untuknya pulang kerumah. Setelah mengunci pintu, pemuda bersurai unik tersebut langsung berjalan menuju ke kamarnya dilantai dua. Badannya lengket dan pikirannya begitu penat. Mandi air dingin mungkin bisa sedikit meringankan pening dikepalanya.
Perlahan ia memutar kenop pintu kamarnya. Berusaha sepelan mungkin agar tak membangunkan seseorang yang tengah terlelap didalam.
Sasuke berjalan menuju ranjangnya. Naruto, gadis manis istri tercintanya itu tengah tertidur pulas dibalik selimut tebalnya. Tanpa sadar Sasuke tersenyum. Ia mengecup kening istrinya lembut . Rasa bersalah sedikit membebani perasaannya.
Ia mendudukkan tubuhnya ke kursi tanpa sandaran yang ada disamping ranjang. Dengan begini Sasuke dapat mengamati dengan jelas wajah tidur sang istri. Iris onixnya menatap sendu.
Lagi-lagi Sasuke harus menjadi suami yang jahat bagi Naruto. Ia mengecewakan gadisnya itu untuk kesekian kalinya. Rasanya benar-benar frustasi.
Pikirannya masih terbayang pada perkataan Hinata tadi. Sasuke tak pernah menyangka jika gadis lugu yang ia kenal dulu itu kini sudah berubah begitu jauh.
Kepala Sasuke terasa sakit. Membuat masalah dengan Hyuuga tentu sedikit banyak akan berdampak pada Uchiha corps.
"Kau tahu kan nenek sangat menyayangi ku, dan kau pasti tahu kan apa dampaknya jika aku berkata kau tak mau bertanggung jawab. Aku hanya menginginkan kau disamping ku seperti dulu. Pikirkanlah Suke, "
Ucapan Hinata tersebut seperti sebuah kaset kusut yang terus terputar diotak Sasuke.
Sejujurnya, Sasuke sama sekali tak takut. Ia yakin perusahannya bisa bertahan meski tanpa sokongan dana dari Hyuuga. Hei, Uchiha corps bukanlah perusahaan kecil! Kehilangan satu maka akan muncul yang lainnya bukan.
Lagi pula mertuanya adalah Hasirama Senju. Apalagi yang perlu ditakutkan.
Ya, Sasuke sudah membulatkan tekad.
Ini semua harus segera selesai!
Naruto mendapati dirinya bangun dengan ranjang kosong disampingnya. Iris shapire Naruto menatap sendu ranjang yang mendingin itu, hatinya terasa begitu hampa.
Naruto memutuskan untuk segera mandi mengingat hari ini adalah jadwal baginya untuk check up rutin ke dokter. Tentu nya Itachi-nii akan segera datang menjemput seperti biasa.
Saat sarapan, Asuma-san memberitahukan bahwa Sasuke sudah berangkat kekantor pagi-pagi sekali. Sasuke pun juga menitipkan pesan agar Naruto tak lupa makan dan banyak istirahat. Pesan yang sangat perhatian bukan? Sayangnya Naruto tak merasakan senang sedikit pun. Ia hanya berusaha nampak tersenyum didepan Asuma-san, sama sekali tak ingin membuat pria berjenggot itu khawatir.
Siang itu,Naruto tengah menunggu di sebuah ruangan di rumah sakit. Itachi-nii memintanya untuk duduk disini selagi sulung uchiha itu mengurus administrasi.
Sedari tadi bersikap baik-baik saja membuat Naruto cukup lelah. Terlebih kandungannya yang juga mulai aktif bergerak membuat Naruto sedikit kewalahan.
Tenggorokkannya terasa haus, Naruto pun berdiri bermaksud membeli air mineral di mesin penjual. Tapi belum juga ia beranjak, matanya menangkap sosok sang raven tengah berjalan sambil mendorong seorang gadis yang sangat Naruto kenali diatas kursi roda.
Jantung Naruto berdenyut nyeri.
Bola matanya membulat sempurna, tubuhnya bergetar perlahan. Naruto berusaha untuk tidak tampak mencolok, berusaha menyembunyikan keberadaannya dari Sasuke. Ini bukan waktu yang tepat bertemu ditempat seperti ini.
Matanya terus mengikuti kemana dua mudamudi itu pergi, sebelum sosok mereka menghilang di sebuah ruangan bertuliskan SPESIALIST orthopedi.
Seketika itu pula tubuhnya langsung terduduk pasrah diatas sofa.
Naruto mengambil ponselnya, memencet nomor sang suami kemudian mendekatkan ponselnya ketelinga.
"Moshi-moshi", suara Sasuke terdengar begitu sambungan telpon itu tersambung.
"Suke...", naruto memanggil lirih.
"Ya, ada apa baby? Are u ok?",
Naruto mengangguk seakan Sasuke dapat melihatnya sebelum akhirnya menjawab. "Ya, I'm fine. Ano.. kau ada dimana Suke?", tanyanya ragu.
Sasuke terdiam. Terdapat jeda panjang sebelum ia berucap. "Aku dirumah sakit",
DEG!
"U..untuk apa? Dengan siapa?", tanya Naruto mati-matian menahan suara agar tak bergetar. "Apa kau sakit suke?", imbuhnya.
"Tidak" desahan suara Sasuke terdengar sangat kentara. "Aku sedang mengantar Hinata untuk rehabilitasi, anata",
Setetes air mata menetes membasahi pipi tan Naruto. Ia berusaha keras untuk tak terdengar terisak. Tak mau suaminya tahu keadaan hatinya yang remuk redam saat ini.
"Souka..", Naruto terdiam, ia menggigit bibir bawahnya saat tangis serasa tak kuat lagi dibendungnya.
"Tapi Itu.. bukan salah mu Suke. Kenapa?", bisiknya lirih.
"Aku tau..",
Hening. Baik Sasuke maupun Naruto sama-sama terdiam. Sampai suara Hinata terdengar diseberang.
"Suke! Kau sedang apa? Ayolah, dokter sudah menunggu", seru Hinata dengan suara yang terdengar dibuat-buat.
Naruto menggenggam ponselnya erat. Amarah merasuk perlahan kerelung hatinya yang terdalam. Ia tak suka. Sama sekali tidak suka mendengar perempuan munafik itu berada dekat dengan suaminya.
"SaSuke.. Pulanglah. Kau tak perlu berada disitu", tukas Naruto geram.
"Aku tau anata, tapi aku tak bisa..",
"AKu mohon pulanglah!",
"Aku harus pergi. Kutelpon lagi nanti,ok?",
"Kau tak seharusnya disitu,sasuke!aku tidak habis pikir dengan tindakkan mu! Terserahlah, "
TUT.
Sambungan terputus.
Naruto memutus sambungan telpon itu secara sepihak. Segera ia menonaktifkan ponselnya kemudian melemaparnya keras kelantai.
Tubuhnya bergetar. Naruto meremas surai keemasannya erat. Kepalanya berdentum-dentum, hatinya nyeri bukan main. Air mata meluncur begitu saja dari kelopak mata nya.
"Baka!", naruto berteriak kesal. Merasa tak mampu lagi menahan semua amarahnya.
"Kau jahat suke! Jahat!",
Raungan demi raungan meluncur dari mulutnya. Naruto terisak hebat.
"Naru. Kau kenapa?", Itachi yang baru kembali begitu terkejut saat melihat gadis blonde itu sudah terisak keras. "Apa ada yang sakit? Katakan Naruto", tukas nya khawatir.
Mata Naruto semakin memanas begitu melihat kehadiran Itachi. Air matanya semakin tumpah membasahi pipi dan kemejanya.
"Itachi-nii.. Hiks.. Sakit sekali... Hati ku sakit sekali..."
.
.
.
.
Semilir angin berhembus menerpa surai keemasan itu. Naruto memandang jauh ke luar jendela. Tangisnya sudah reda, nafasnya yang semula naik turun pun mulai menormal. Hanya saja matanya yang sembab menunjukkan fakta jika gadis itu baru saja menangis.
Itachi memandang Naruto dengan tatapan iba. Hatinya begitu tak tega melihat gadis kesayangannya tersakiti hatinya. Terasa begitu menyiksa manakala gadis yang kau cintai menangis tapi kau tak mampu memeluknya. Itulah yang tengah sulung Uchiha itu rasakan.
"Kau sudah baikkan, mia cara?", Itachi berucap sambil mengelus helaian rambut milik sang blonde.
Naruto tersenyum tipis. "Ya, aku tak apa aniki. Gomenne",
Meski tersenyum tapi Itachi begitu yakin jika Naruto tengah bersedih. Ia hanya bisa balas tersenyum sebagai seorang 'aniki' yang baik.
Semenjak meninggalkan rumah sakit 15menit yang lalu, Naruto terus terisak pelan sambil menatap keluar jendela. Itu membuat Itachi begitu khawatir. Terlebih Naruto menolak untuk melakukan check up rutinnya. Itachi hanya takut terjadi sesuatu pada sang jabang bayi.
Tapi melihat Naruto yang mulai membaik, dalam hati ia berucap lega.
Setidaknya gadis pujaan hatinya itu sudah tak menangis lagi.
Onixnya menatap lekat redup shapire yang semula cerah itu.
"Apa yang akan kau lakukan,Naru-chan?", tanya Itachi langsung. "Tidakkah keputusan mu itu berlebihan?",
Naruto memaksakan diri untuk tersenyum, ia mengangguk mantap sebelum berucap. "Ya, keputusan ku sudah bulat Itachi-nii. Aku tak bisa.., ini demi 'dia' juga", mengusap perutnya lembut, Naruto mencoba menguatkan dirinya sendiri.
"Baiklah", Itachi tersenyum tulus. "Aku akan mengantar mu ke rumah Hasirama-san, tapi dengan syarat kau akan membiarkan ku untuk menjagamu, setuju?", terangnya lugas.
"Baiklah, aku setuju nii-san. Arigatou",
.
.
.
.
Sasuke duduk dengan gelisah, jemarinya sedari tadi sibuk mengutak atik ponsel pintarnya. Mencoba menelpon berulang tapi hanya kotak suara yang menyapa.
Ia meremas surai ravennya kesal. Ia tak pernah bersikap se OOC ini sebelumnya. Gugup, perasaannya begitu tak enak semenjak istri tercintanya memutus telponnya lalu tak bisa dihubungi.
Sasuke merasa hari ini sangatlah kacau.
Ia baru saja tidur tak lebih dari 5jam saat Neji menelponnya. Pagi-pagi sekali ia harus segera keluar dari rumah bahkan sebelum ia bisa mencium sang istri. Merepotkan memang, tapi undangan Hiashi-san tak bisa ditolaknya.
Sasuke masih ingat betul isi percakapannya dengan sang kepala keluarga Hyuuga. Setidaknya sedikit lega mendengar Hiashi dan Neji mengetahui kebenaran tentang Hinata, mereka menyadari sepenuhnya akal bulus putri tunggal Hyuuga itu. Tapi sayangnya mereka tak bisa berbuat banyak. Pemulihan Hinata adalah nomor satu, maka dengan menyesal Hiashi meminta Sasuke untuk menjaga Hinata sampai rehabilitasinya usai. Dan itu sudah keputusan final.
Kepala Sasuke terasa penuh. Dalam lubuk hatinya ia jujur bersimpati kepada Hinata namun sikap licik gadis itu membuat Sasuke jadi sulit memutuskan. Ia tak ingin istrinya terluka. Benar-benar tak ingin tapi mengapa rasanya begitu sulit.
Hinata tampak mengikuti seluruh arahan dokter dengan baik. Sasuke merasa lega akan itu. Ya, semakin Hinata menurut semakin cepat pula kesembuhannya akan pulih. Dan Sasuke juga akan dengan cepat terlepas dari nya.
"Suke.., aku capek sekali. Kaki ku pegal menyangga seperti ini terus", rajuk Hinata manja. Ia mengammbil duduk disamping sang raven lalu menyandarkan kepalanya di pundak.
"Kau tahu.. Aku senang kau mau menemani ku suke", rona bahagia jelas terpancar dari Hinata.
"Minumlah tentu kau haus bukan", ujar Hinata sambil menyodorkan segelas kopi yang dibawanya.
Sasuke hanya menanggapi Hinata dalam diam kemudian meminum seteguk kopi pemberiannya karena memang tenggorokkannya mengering.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Buru-buru ia melihatnya, menepis kepala Hinata cepat untuk merogok saku celananya.
Mata Hinata menyipit. "Suke! Tak bisakah kau matikan Hp mu! Kita sedang dirumah sakit sekarang!", tukasnya ketus merasa tak suka melihat sikap Sasuke yang mengabaikannya.
Iris onix Sasuke berkilat tajam, ia menatap Hinata dalam seolah ingin memakan bulat-bulat gadis brunette itu, membuatnya bergidik ngeri.
"Cukup, Hinata", Sasuke berdesis lirih.
Kesabaran seorang Uchiha sudah diambang batas. Sasuke sudah merasa sikap Hinata itu sangatlah keterlaluan.
"Aku hanya akan menemani sampai rehabilitasimu selesai dan itu pun karena keluargamu yang meminta! Jangan besar kepala nona!",
Hinata tersenyum gugup, ia mundur perlahan membuat jarak antara dirinya dengan sang raven.
"Suke.. Maafkan aku.. Kau jangan berkata yang tidak-tidak ok.. Aku akan menurut", Hinata berusaha melunakkan hati Sasuke tapi justru itu membuat uchiha muda tsb semakin muak.
"Aku tak akan pernah melihat wanita sepertimu Hinata, ingatlah satu hal aku sangat mencintai istriku",
Nyut. Hati Hinata berdenyut nyeri. Setitik air mata terkumpul dipelupuk matanya.
"Aku.. Aku lah yang mencintaimu lebih dulu,suke..", Hinata menggeram pelan. "Aku yang mencintaimu! Aku yang hrusnya kau pilih! Sadarlah Uchiha Sasuke! Gadis jalang itu tak sepadan dengan mu!",
"Cukup", suara Sasuke naik satu oktaf dibarengi dengan suara tinjuan di tembok. Sasuke menatap nyalang membuat Hinata sontak menutup mulutnya sendiri.
"Kau tak patut menilai rendah siapapun, Hinata. Naruto adalah istri sah ku", kepalan tangan Sasuke masih menempel pada tembok yang tadi ditinjunya. Terlihat sedikit lebam dibuku tangannya yang pucat. "Dia memang bukan nona kaya sepertimu tapi satu yang ku tahu Naruto bukan wanita jalang yang menghalalkan segala cara untuk mendaptkan cinta!",
Hinata mundur selangkah, ia menggenggam erat gaun ungu tuanya. "Tapi suke.. Aku mencintaimu.. "
"Stop", potong Sasuke. "Dimata ku kau adalah gadis yang baik Hinata. Tapi itu dulu, kini aku benar-benar kecewa padamu, Hime-sama", ucap Sasuke pedas yang seakan mencakar-cakar saraf pendengaran Hinata.
Gadis brunette itu mencoba lagi."Kenapa bukan aku? Kenapa suke?", ia mencicit pelan penuh kesakitan. "Aku selalu mencintaimu, aku rela melakukan apapun untuk bisa bersama mu! Kumohon Sasuke mengertilah", Gadis lavender itu menerjang tubuh tegap Sasuke. Mendorongnya kuat hingga mereka berdua berguling dilantai.
"Aku tidak akan melepaskan mu", iris berair itu menatap licik. Perlahan Hinata mulai melucuti pakaiannya satu demi satu. "Akan ku buat kau jadi milikku suke", Mata Hinata sudah berkabut akan nafsu untuk memiliki sang uchiha. pemikiran sinting melintas di otaknya. Ini memang gila tapi apa salahnya dicoba.
"Minggir Hinata. Aku serius", Sasuke mendesis tajam. Tapi gadis diatasnya itu hanya tersenyum remeh membalasnya.
Mendadak tubuh Sasuke menjadi panas, raut wajahnya muai berubah perlahan. Mengetahui hal itu Hinata menyeringai lebar.
"I see.., reaksinya cepat juga. Tak salahkan aku memesannya khusus untukmu. Su~ke ",
Onix Sasuke mendelik terasa panas. Sangat panas. Terlebih didaerah selatan tubuhnya begitu bereaksi akan setiap gerakan yang dibuatnya. Sial.
"Apa yang kau.. Ukhh! Lakukan.. Hinata...", Sebisa mungkin Sasuke mencoba menahan akal sehatnya. Ia mulai kepayahan, nafasnya memburu naik turun mengatur pasokan oksigen ke paru-parunya.
"Kau itu keras kepala, Uchiha Sasuke.", jemari lentik Hinata mulai membuka kancing kemeja Sasuke perlahan. "Aku mendengar pembicaraan mu dengan ayah tadi. Apa kau pikir aku akan tinggal diam, baby?",
Bibir tipis Hinata melesak cepat mendaratkannya pada bibir sang raven yang kepayahan. Sasuke hanya bisa menggeram mendapati ciuman sepihak yang Hinata lakukan padanya.
"Well, kita akan bersenang-senang saat ini. Sa-su-ke", ujar Hinata seduktif ."Setablet obat perangsang akan menghibur kita, . Berdoalah semoga seseorang memergoki kegiatan ini, sayang. Dengan begitu kita akan segera menikah, right?! ",
Sasuke menggerakkan tubuhnya frustasi. Ini sudah gila. Hinata benar-benar keterlaluan. Obat perangsang?! What the Hell! Ia sama sekali tak menyangka gadis lugu itu akan bertindak sejauh ini. Pasti kopi tadi. Kau bodoh Sasuke, geramnya dalam hati meruntuki segala tindakan gegabahnya.
Tubuh Hinata sudah topless sebagian.
Ia bergerak gemuali memanja tubuh panas Sasuke. Meraba-raba bidang datar itu begitu seduktif.
"Aku tahu saat ini kau begitu tersiksa bukan. Hei, aku bisa menolongmu suke", ujar Hinata manja. Jari halusnya meraba ke gundukan kejantanan Sasuke yang masih tertutup kain.
"Aku janji akan segera memberimu anak. Karena itu hamili aku Sasuke. Jadikan aku milik mu",
Sasuke berani bersumpah akan membunuh Hinata setelah ini usai. Desakan biologis di selakangannya membuat Sasuke hampir gila. Dengan tenaga yang tersisa, Ia mendorong tubuh Hinata. Membalik keadaan mereka.
"Kau benar-benar jalang, Hinata", suara Sasuke terdengar parau. Onixnya tertutup kabut nafsu.
Melihat sang Uchiha yang mulai mengambil alih, Hinata tersenyum miring. Ia mengalungkan lengan putihnya ke leher Sasuke begitu intim.
"Ya.. Aku memang jalang karena itu Hamili aku Sasuke", dirty talk terlontar dari bibir tipis Hinata.
Mendengar itu logika Sasuke seakan terbakar. Nafsu, Amarah, dan Kecewa membaur menjadi satu diotaknya.
"Baiklah, aku akan mengabulkan permohonan mu, Hime-sama",
Sasuke mendekat, mendaratkan Bibirnya Untuk bergulat dengan liar, menyesap setiap rasa yang keluar dari bibir Hinata.
Hinata pun tak tinggal diam, tangannya mulai aktif memanja kejantanan Sasuke. Hatinya begitu bahagia, karena akhirnya Sasuke kalah akan nafsunya. Ya, jalan baginya untuk mendapatkan sang raven sudah dekat.
Ciuman panas itu berakhir manakala keduanya membutuhkan pasokan oksigen ekstra. Sasuke menatap gadis setengah topless dibawahnya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Hinata tersenyum manis. Ciuman tadi begitu intim dan liar membuat tubuhnya seakan terbakar api birahi. Pemuda Uchiha itu begitu menggiurkan.
"Suke.. Aishiteru.. ", Hinata berbisik lembut. Ia memeluk tubuh Sasuke begitu erat.
Namun sang Uchiha dengan kasar mendorong tubuh Hinata dan mengunci kedua tangan Hinata keatas kepala.
"Sudah tak sabar anata?", tanya Hinata menantang. "Lakukanlah",
Sasuke mulai menjamah tubuh mulus Hinata. Setiap belaiannya membuat gadis brunette itu menggelinjang kesenangan. Nafsu mengalahkan logikanya .
"Naruto..", geram Sasuke lirih. Pemuda raven itu semakin mendalami cumbuannya. Menyentuh dengan manja sambil membayangkan itu adalah tubuh istrinya.
"Aku mencintaimu, Naruto",
"Sa..Sasuke", Hinata mulai bergerak gelisah saat mendengar sang raven menggumam penuh rasa.
"Panggil nama ku Sasuke", pintanya. Hinata memekik nyaring.
"Naruto",
"STOP"
Tubuh Hinata memberontak. Ia berusaha menghentikan setiap sentuhan intim Sasuke pada tubuhnya. Ini tidak bagus.
"Sebut nama ku Sasuke! Se.. KYAAA",
Hinata menjerit keras saat Sasuke secara paksa merobek celana dalam berendanya.
"Jangan Sasuke! Hentikan", tangannya berusaha menutupi daerah sensitifnya itu, Namun tenaga Sasuke begitu kuat menghalanginya.
"Naruto.. Naruto..", Sasuke mendesahkan nama sang istri berulang-ulang membuat Hinata menggila.
"Stop! Aku bukan dia! Aku bukan Naruto", Hinata menjerit frustasi.
Kabut nafsu menguasai logika sang raven. Hinata tau itu. Tapi mengapa Sasuke malah menyerukan nama orang lain dan bukan
namanya.
Hati Hinata begitu terkoyak.
Ditiduri pria yang menyerukan nama wanita lain itu sangat menyiksa batinnya. Sebelum itu terjadi, Hinata harus menghentikannya.
Iris lavendernya melihat vas bunga yang tertata diatas meja. Dengan tenaga yang ada ia berusaha melepaskan diri dari Sasuke dan langsung meraih vas tersebut .
"Hentikan Sasuke! Jangan mendekat!", ujar Hinata dengan nada ancaman.
Sasuke menyeringai lebar. "Bukankah kau ingin aku meniduri mu,Hinata!? Kemarilah, aku sedang sangat bernafsu",
Hinata menelan ludahnya susah payah, ia menggigit bibir bawahnya ketakutan. Tubuhnya mulai bergetar panik.
"Ada apa? Apa kau takut, Hime?", nada mencemooh jelas terdengar dari nada bicara Sasuke. "Kemarilah, kita akan bercinta. ini akan menyenangkan. Dan aku janji kau akan menyesali ini seumur hidup, Hinata-chan",
"Tidak, Stop!", Hinata berteriak ketakutan.
Vas bunga yang dibawahnya teracung keudara mencoba menggertak sang raven agar tak mendekatinya.
"Kemarilah, Hime"
"Tidak!"
\PRAAANG!/
Pecahan vas bunga itu bertebaran dilantai. Hinata memekik keras menyadari apa yang sudah dilakukannya.
Tangannya refleks melempar vas itu kearah Sasuke saat pemuda itu semakin mendekat.
Iris lavender Hinata menatap ngeri kearah kening Sasuke yang terus mengucurkan darah segar. Tubuhnya menggigil ketakutan, kakinya terasa lemas seakan seluruh tenaganya tersedot habis. Tubuhnya merosot kelantai perlahan. Air mata menetes perih membasahi pipinya.
Sasuke mulai membenahi pakaiannya, Ia seakan merasa tak terganggu dengan luka sobek menganga dikeningnya.
"Berakhir. Ini sudah selesai, Hinata", Tukas Sasuke tajam.
Dan tanpa menghiraukan gadis yang semakin terisak itu, Sasuke segera pergi meninggalkannya dibelakang.
Ya, it's over now.
Sasuke sudah cukup memberi gadis lavender itu pelajaran yang tak akan dilupakan seumur hidupnya.
Sasuke melenggang menuju parkiran, tak mempedulika tatapan ngeri orang-orang pada lukanya. Ia begitu tak sabar untuk bisa memeluk sang istri tercinta dirumah. Sekarang hidupnya bersama Naruto akan tenang.
Nafsu memang bisa membutakan logika. Tapi Hatinya selamanya akan tetap menjadi miliknya.
TBC
Akhirnyaaaaaaa...!
