Sasuke memasuki kediamannya dengan tampang yang menyedihkan. Para pelayan yang kaget melihatnya hanya bisa menatap cemas karena Sasuke berkata tak ingin diganggu.

Sasuke terlalu lelah . Begitu sampai dikamar hanya ruang kosong yang terlihat dan Istrinya sama sekali tak ada dimana pun.

Sasuke menghempaskan tubuhnya ke kasur. Lelah sekali rasanya, Hari ini begitu banyak kejadian yang telah terjadi dan itu sangat memuakkan.

Ia mengeluarkan smartphonenya, membuka kembali e-mail dari sang istri yang tadi diterimanya.

Onix sehitam malam itu meredup seketika, Kehilangan pesonanya.

Isi e-mail dari sang blonde menyatakan jika Ia akan kembali kerumah kakeknya. Naruto sudah tak tahan dengan semuanya dan telah memutuskan untuk keluar dari kediaman Uchiha.

"BRENGSEK", Sasuke berteriak marah.

Ia menjambak surai hitamnya kesal, amarah kecewa sedih dan penyesalan bercampur dihatinya.

Sasuke benar-benar sangat tak siap dengan ini semua. Ia tak siap harus kehilangan sang blonde secepat ini. Sangat tak siap dan tak akan pernah siap.

Salahkan kebodohannya yang tak pernah memperhatikan sang istri. Salahkan kemunafikannya yang beranggapan Naruto akan baik-baik saja. Ini salahnya!

Sekarang yang tersisa hanyalah penyesalan. Jika saja Sasuke lebih tegas sejak awal ,hal seperti ini pasti tidak akan pernah terjadi. Ia tak akan kehilangan Naruto dan bersedih seperti sekarang.

Tapi Setidaknya Sasuke sedikit bernafas lega, gadis tercintanya itu kini berada di tempat yang aman, setidaknya meski Naruto pergi.. Sasuke tahu dimana bisa menemukannya.

Ya, esok.. Pagi-pagi sekali Sasuke akan menjemputnya...

.

.

.

.

Kediaman Hasirama Senju yang biasanya tenang kini sedikit terusik dengan adanya kegaduhan yang terjadi dipintu utama. Beberapa orang penjaga terlihat sibuk berargumen dengan seorang pria bersurai menantang gravitasi.

Sasuke; Pria tersebut nampak emosi dan berusaha untuk masuk kedalam meski telah dihalang-halangi. Ini sudah kesekian kalinya sejak pertama pria raven itu memaksa masuk.

Dan usahanya itu selalu berujung kegagalan.

"Biarkan aku masuk! Ini sudah hari ke-3! Apa kalian tidak bosan", hardik Sasuke kesal.

Namun para penjaga hanya bisa menunduk meminta maaf karena sang tuan rumah tak kunjung memberi izin sang raven untuk masuk.

Sasuke menggeram kesal. Ia tak habis pikir kenapa sampai seperti ini jadinya. Ini sudah hari ke 3 Naruto tak pulang. Dan ini juga sudah ke 3x nya ia datang lalu ditolak.

Senju Hasirama pastilah sudah mengetahui kejadian itu dari Naruto. Sasuke yakin jika pria tua itu tak akan memaafkan dirinya semudah yang dikira, Meski Sasuke memohon bahkan sampai memotong tangannya.

Dan sekarang Akses menuju istrinya benar-benar diblokir darinya, Sasuke bahkan tak bisa menghubungi hp Naruto sejak gadis itu memutuskan pergi dari rumahnya. Tak tahu bagaimana kabarnya dan bahkan para penjaga berkata bahwa Naruto sudah dipindahkan kesuatu tempat rahasia. Demi Kami-sama, sekarang Sasuke benar-benar sudah gila karenanya.

"Tolong Katakan pada Hasirama-san aku memohon maaf darinya.", Sasuke berkata sebelum akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.

Melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, otak Sasuke rasanya ingin meledak. Ia sudah sangat frustasi lalu apa lagi yang bisa diperbuatnya untuk mendapatkan sang istri kembali. Ayolah Uchiha Sasuke, pikirkan sesuatu,!

Drrttt... Drrttt...

Ponsel disakunya bergetar perlahan, nama Uchiha Itachi terpampang disana.. Tanpa pikir panjang Sasuke segera mengangkatnya..

"Ada perlu apa, aniki?"

Suasana Kafe yang tenang dengan aroma kopi yang segar membuat atmosfir didalamnya terasa nyaman dan hangat. Itachi menyesap mocca latte pesanannya penuh nikmat, sementara didepannya seorang pemuda yang notabene adalah adiknya itu tengah duduk bersila tangan didada dengan gaya angkuhnya. Terlihat tidak sabar dan menahan diri.

"Minumlah selagi panas, kopi tak akan nikmat jika dingin bukan, Sasuke?",

Itachi tersenyum manis seperti biasa, ia bersikap sangat wajar dan itu membuat Sasuke muak.

"Bisakah kau katakan saja langsung, aku sedang sangat sibuk, aniki", tukasnya tajam.

Itachi menaruh cangkirnya, kemudian pandangannya berubah tajam menatap sang bungsu Uchiha.

"Apa kau sudah menyadari dosa-dosamu, ototou?", tanya Itachi langsung.

"Tch, kau tak perlu ikut campur urusan ku Itachi. Itu diluar wewenangmu",

"Kau masih keras kepala seperti dulu, pantas Naruto meninggalkan mu",

BRAKK !

Sasuke menggebrak keras meja kayu dihadapannya, membuat seisi kafe menatap kaget kearahnya.

Mata Sasuke berkilat nyalang, "Shut up u're fuckin mouth baka! It's not your business", bentaknya

Itachi menatapnya datar, seakan tak takut akan gertakan sang raven barusan. Ia menghela nafas panjang sebelum berkata.. "Aku mencintai Naruto.., Ototou",

"APA!",

Sasuke menggeram penuh amarah, buku-buku jarinya mengepal kuat seakan siap meninju.

"Berani sekali kau mencintai istri ku! Kau cari mati ya", Sasuke membentak bengis, Membulatkan matanya penuh amarah. Hatinya begitu kesal mendengar pernyataan blak-blakan tanpa dosa dari anikinya itu.

"Awalnya aku berniat merebutnya dari mu, Sasuke...", Itachi berucap lirih, onixnya meredup seakan tengah menahan kesakitannya.

"Tapi aku sadar.. Saat ini Yang dibutuhkan Naruto bukanlah aku.. Tapi kau...",

Itachi merogoh saku jasnya kemudian mengeluarkan sebuah kotak beludru biru dari sana.

"Aku yakin, Naruto ingin kau mengetahuinya..", tukas Itachi sambil melempar kotak tersebut kearah sang raven. "Renungkan semuanya, ototou. Naruto terlalu baik untuk kau sakiti seperti itu",

Sasuke menatap kotak biru itu dalam diam. Ia tahu kotak apa itu.., karena memang itu adalah miliknya. Ya, Hadiah ulang tahun dari Naruto yang bahkan belum ia buka. Sasuke menggenggam nya penuh kasih.., rasa rindu yang sangat akan sang blonde membuat dadanya sesak seketika. Sekelebatan bayang-bayang kesalahannya melesat dimemori otaknya. Mata Sasuke memanas, betapa ia sangat berdosa pada istrinya itu..

Perlahan ia membuka kotak tersebut ..

Sebuah arloji perak keluaran terbaru, sederhana dan mewah.. Persis seperti kesukaannya. Sasuke tersenyum menatapnya sebelum kemudian mengambilnya untuk dipakai... Tapi sesuatu terjatuh dari dalam sana.. Tergeletak begitu saja diatas meja...

"I.. Ini...", suara Sasuke tercekat.. Tangannya gemetaran memungut stick plastik dengan 2 garis ditengahnya .

Wajahnya memucat, air mata sudah tak bisa lagi dibendung lagi olehnya... Tubuh Sasuke menggigil hebat mencoba menahan perasaannya.

"Katakan.. Ini semua adalah kenyataan aniki.. Katakan!", Sasuke terisak pilu, ia mencengkram dadanya sendiri begitu erat. Seakan ingin meremas jantung nya .. Perasaan berdosa begitu menghantui dirinya.

Ya, Tuhan aku sungguh manusia pendosa.., desis Sasuke bergetar..

Itachi yang melihat itu hanya bisa diam kemudian memalingkan wajahnya.. Berusaha mencari pandangan diluar sana yang bisa mengalihkan rasa sakit dihatinya.

"Aku sudah mendengar tentangmu dan Hinata.., pergilah kejar Naruto sekarang, Sasuke! Dia membutuhkanmu..",

Itachi menepuk lembut pundak adik lelakinya itu.. Mencoba menguatkan dan menyemangati nya..

"Pergilah .. Temui Naruto.. Semoga bahagia, ototou"

Naruto perlahan terbangun dan berbaring bingung beberapa saat, menatap dinding putih kosong dan sinar matahari yang memantul di kaca jendela. Perlahan jemarinya menyusuri lekuk besar di perutnya itu penuh sayang. Ia membelainya lembut seakan hendak menyapa sang jabang bayi didalam sana.

Pagi ini cuaca cerah, berenang di pantai sepertinya akan menyenangkan. Naruto beranjak bangun dari ranjang single bed miliknya kemudian meraih handuk dan bergegas mandi.

Ini hari kedua Naruto tinggal di apartemen lamanya ditepi pantai. Rumah lamanya yang reot tapi penuh akan kenangan bersama kedua orang tuanya dulu. Awalnya kakek dan Itachi menolak keras keinginannya untuk tinggal disana, namun Naruto bersi keras dan dengan sedikit memaksa akhirnya ia bisa mendapat izin.

Setidaknya disana Naruto akan bersenang-senang dan sedikit melupakan rasa sakit hatinya.

Empat hari telah berlalu sejak hari dimana Naruto meninggalkan kediaman Uchiha. Ia berusaha keras tak memikirkan Sasuke selama tak bersama pemuda raven tersebut . Berusaha tak bertanya-tanya bagaimana kabarnya saat ia merasa rindu. Dan diatas segala-galanya, Naruto berusaha keras tak memikirkan atau menebak-nebak dengan siapa Sasuke bersama saat ini. Itu semua hanya membuat pening dikepalanya semakin menjadi.

Semenjak keluarganya mengetahui semuanya.., Kehidupan Naruto penuh bergantung kepada sang kakek dan Itachi. Tentu saja Kakeknya-Hasirama- begitu marah dan memutuskan untuk menjauhkan Naruto dari Sasuke. Hanya saja berita kehamilan Naruto membuat Hasirama tak bisa berbuat sekejam itu.. Cicitnya membutuhkan sosok sang ayah dan itu sudah final.

Sasuke pasti benar-benar mencintai Hinata, pikir Naruto. Dan pada akhirnya, hanya itulah yang akan terjadi. Keputusan Naruto untuk pergi tentu bukan tanpa alasan. Karena sampai kapan pun dirinya tak akan pernah bisa menyandang gelar Uchiha dibelakang namanya.. Karena sampai kapan pun Sasuke bukanlah miliknya.

Dan perlakuan istimewa Sasuke pada Hinata adalah kepedihan tak tertahankan bagi Naruto seperti menusukkan pisau diluka yang menganga. Rasanya begitu menyakitkan.

Naruto menatap bekas samar dijari tempat cincin kawinnya dulu berada. Ia telah meninggalkannya dikotak perhiasan miliknya. Demi tuhan, sekarang tempat itu terasa kosong. Sama seperti hatinya.

.

.

Naruto menghabiskan harinya dengan bertandang ke warung ramen milik paman Teuchi, pria tua yang dulu mengasuhnya. Menghirup aroma kental kaldu sapi membuat Naruto sangat rindu. Dan itu menyenangkan.

Siang itu, Ichiraku ramen tampak sibuk. Naruto menikmati keramaian itu seperti dulu, duduk manis disudut dengan semangkuk ramen dan jus jeruk favoritnya. Ia tengah mengunyah telur rebus bonus dari paman Teuchi saat menyadari atmosfir disekitarnya berubah.

Naruto mendongak dan mencoba mencari penyebabnya, dan irisnya membulat tanpa ia sadari.

Pria itu berdiri dipintu masuk sambil menatap berkeliling, terlihat angkuh dan stoik seperti biasa. Wajah tampannya tak terbantahkan, dan nampak seksi dalam balutan celana pendek selutut dan kaos polo berkerah.

Naruto mengernyit heran, menatap ragu-ragu kearah pria dengan surai menantang gravitasi itu. Kemudian dengan syok menyadari bahwa pria tersebut berjalan menuju tempatnya.

"Sepertinya itu sangat enak, karena kulihat kau seorang diri kuharap kau mengizinkan ku untuk bergabung", senyum singkatnya yang mempesona berhasil menghipnotis Naruto selama sepersekian detik, sebelum akhirnya tersadar.

"Tidak! Maksudku- aku rasa Tidak", Naruto bergumam keras. "Aku lebih suka sendiri, arigato",

Naruto berdiri kemudian membayar tagihannya dan pergi. Ia memandang kedepan berusaha tak membuat kontak sedikit pun dengan sang raven. Setelah berada diluar, Naruto merasa sangat konyol karena sudah melarikan diri.

DEG.

Jantungnya bahkan masih berdetak cepat seperti itu. Perlahan ia merasa wajahnya kembali memanas, Naruto tak menyukainya. Sama sekali tak menyukai hal yang sudah berusaha dilupakannya.

Dia tak berhak melakukan itu, pikir Naruto marah.

Ia berjalan cepat menuju pantai.. Naruto pikir pria itu tak akan mengejarnya tapi sepertinya ia keliru karena sekarang Naruto dapat melihat dengan jelas lelaki itu berjalan dengan santai nya menuju kearahnya.

"Jalanmu cepat juga ya", sapa pria itu ramah saat ia berhenti, mendongak menatap langit. "Cuaca hari ini cukup panas, berlindunglah",

"Jangan sok tahu", sahut Naruto pedas. "Aku tak akan pingsan hanya karena matahari",

Pria itu tertawa kecil, ia berjalan menghampiri sang blonde kemudian mengelus lembut pipi tan Naruto.

"Yupz, sepertinya kau benar. Lihat bercak merah itu.. Kau terlihat sangat menggemaskan nona",

Wajah Naruto merona sempurna, ia menepis tangan pucat itu menjauh dari wajahnya. Panas. Bahkan bekas sentuhan jari itu dipipinya terasa panas. Tanpa babibu lagi, Naruto pun segera melenggang pergi dari sana detik itu juga

.

.

.

.

.

Sore esok harinya, Naruto mandi dan keramas. Kemudian membiarkan rambutnya tergerai dan berkilau disekeliling wajahnya. Mengenakan celana pendek putih dan kaos longgar berwarna biru tua.

Naruto mempertimbangkan untuk makan dirumah saja, namun rasanya begitu bodoh jika ia membiarkan dirinya terpaksa menjauh dari lingkungan sekitarnya hanya karena kemungkinan kecil akan kehadiran pria raven itu.

Pertemuan ini bukan inginku, Naruto mengingatkan dirinya sendiri. Tentu saja Naruto bahkan tak tahu jika pria raven itu bisa menemukannya disini. Demi Tuhan, disaat ia tengah merombak hatinya untuk bisa maju, tanpa diduga pria raven itu justru malah hadir dihadapannya. Membuatnya kalut dan berdebar.

Dan benar saja begitu Naruto memasuki Ichiraku ramen, pria itu ada disana. Duduk disudut dengan semangkuk ramen mengepul panas dimejanya.

Pria raven itu tersenyum begitu melihat kehadiran Naruto disana. Dia nampak begitu sempurna dengan balutan kaos lengan panjang hitam dan celana bahan.

"Aku sudah memesankan makan malam untuk mu. Duduklah", ujarnya kalem.

Naruto mengernyit tak suka, ia merasa belum memesan apapun tapi pria itu sudah sangat dengan sok tahunya memesan hidangan untuknya.

"Benarkah?", Naruto mengambil tempat duduk. "Tapi sepertinya kau tak tahu seleraku, tuan sok tahu",

"Well.., sayang sekali aku sudah menanyakan itu kepada Teuchi-san jadi pilihanku tentu tak akan salah",

Senyum kemenangan tercetak dibibir pucat itu membuat Naruto terpaksa mengulum senyum tak suka. Sial, harusnya aku menyuruh paman Teuchi untuk tutup mulut, Naruto menggerutu dalam hati.

Ia menatap mangkuk ramen itu lekat-lekat. Aroma kaldu sapi menggelitik perutnya untuk minta diisi. Oh, God. Ini terlihat sangat menggiurkan. Dengan ragu-ragu, Naruto mulai mengambil sumpitnya, mengaduk mie dalam mangkuk tersebut pelan sebelum menyeruputnya penuh nikmat.

"Aku senang melihatmu begitu nikmat memakannya", tukas pria raven itu sambil menuangkan secangkir ocha panas untuk Naruto.

Ocha itu terasa hangat membasahi kerongkongan Naruto, membuat gadis tan itu merasa nyaman dan hangat. Semburat merah muda nampak menghiasi pipi chubby Naruto, perasaannya begitu hangat hanya dengan meminum ocha darinya. Demi Kami-sama sungguh Naruto sangat meruntuki perlakuan pria itu padanya saat ini. Mengapa harus disaat Naruto berharap melupakannya.

Naruto berkata dengan pelan, "aku tak tahu apa yang sedang kau lakukan disini. Ini kesalahan"

"Kenapa kau berkata begitu"

Naruto menggenggam tangannya erat. "Kau tahu maksudku...",

"Apa karena kau sudah menikah", sahutnya. "Tapi bukankah aku tidak sedang menggoda mu, nona", ia mengulurkan tangan, mencoba meraih tangan Naruto. Ibu jari pucatnya menyentuh bekas dimana cincin kawin gadis tan itu dulu berada.

"Ya, tapi bukan pernikahan yang mudah diingat", tukas Naruto sambari menarik tangannya menjauh. "Ku mohon jangan menyentuhku sembarangan, tuan", menepis sentuhan ringan sang raven yang sepertinya berhasil menyerang sekujur tubuh Naruto.

"Tapi kurasa itu mustahil",

Naruto menelan ludah berat. "Akan ku beritahu kau, tuan. Apapun yang kau pikirkan akan terjadi diantara kita. Kau salah", gestur Naruto berubah tegang, ia mencoba menyamankan duduknya perlahan. "Aku tak menginginkan ini lagi...",

Hening.

Terdapat jeda sebelum akhirnya pemuda raven itu memulai kembali percakapannya.

"Kalau begitu aku harus siap hidup dalam kekecewaan", tukasnya santai. "Aku hanya terpikir untuk mengenalmu lebih jauh dari yang aku tahu, nona",

DEG

Jantung Naruto berdegup cepat, seakan seluruh saraf diseluruh tubuhnya menegang mengikuti irama detak jantungnya.

"Apa maksudmu...", meremas celananya pelan, Naruto mencoba untuk tetap tenang, meski tak bisa dipungkiri hatinya berdebar.

"Tak ada", pria raven itu bergumam pelan. Ia meletakkan cangkir ochanya keatas meja. "Aku hanya bermaksud untuk menebus segala dosaku, mengganti seluruh kekosongan yang kubuat dan mencoba mendapatkan milikku kembali, apa itu terlalu berlebihan?",

Onix sekelam malam itu menatap intens, mengunci pergerakan sang blonde dalam tatapannya. Seakan mencoba menggali lebih dalam kejujuran didalam bola mata sebiru samudara tersebut

"Kau tahu ini tak akan berhasil bukan", ujar Naruto lemah.

"Aku bertaruh untuk itu", ia berkata dengan mantap. "Ahh, Aku mengundang mu kepantai siang depan, ku harap kau akan datang",

.

.

.

.

.

.

Naruto menatap pantulan dirinya dicermin. Rambut keemasannya terikat keatas, ia meraih botol parfum miliknya namun kemudian meletakkannya kembali tanpa digunakan.

Ia menatap tampilannya tak peduli, Pertemuan itu bukan keinginan Naruto.

jadi tak perlu ada keharusan untuk berusaha tampil pantas bukan.

Perlahan pikirannya membawa sang blonde untuk membuka kotak perhiasan miliknya. Mengambil sebuah cincin emas bertahtakan berlian yang sudah berhari-hari tergeletak disana.

Iris shapirenya menatap sendu. Hati Naruto terasa sangat tersakiti setiap melihatnya. Cincin pernikahannya bersama Sasuke. Sejak awal itu hanyalah sebuah cincin kosong dan bukan pengikat. Kenyataan itu seakan menyayat-nyayat hati sang blonde.

"Sasuke.. Kenapa..", Naruto berucap lirih.

Air matanya perlahan menetes. Naruto sudah menguatkan hatinya, padahal dirinya sudah menutup rapat-rapat semuanya. Tak ingin mengingat, apalagi membukanya kembali.

Tapi entah bagaimana.. Sasuke- pria yang paling ingin dilupakannya itu justru malah muncul dihadapannya lagi. Harusnya ini tak terjadi sehingga dengan mudah Naruto akan melupakannya.

Berkali-kali Naruto merenung dalam hati. Ia tak ingin bertemu.. Tapi hatinya mengkhianati otaknya. Sungguh Naruto tak ingin terbuai. Hanya saja... Sentuhan ringan dari sang raven selalu mampu membuatnya melambung. Naruto tak mampu membantah.

Mau apa dia disini, pikir Naruto. Bukankah Sasuke sudah memiliki Hinata.., oh God mengingat senyuman peri palsu itu selalu dapat membuat hati sang blonde berdarah.

Naruto menghela nafas panjang, entah sudah yang ke berapa kalinya. Ia mengusap lembut perutnya yang mulai membesar. Naruto tersenyum saat merasakan tendangan dari sang bayi yang bergerak merespon setiap belaiannya.

"Tou-san mu disini, baby. Apa yang harus kaa-san lakukan?", gumamnya sedih.

Jika saja Naruto tak sedang mengandung benih dari sang Uchiha mungkin akan sangat mudah baginya untuk pergi. Tapi bayinya membutuhkan sosok sang ayah..

Mengingat hal tersebut selalu membuat Naruto tak berdaya.

Lagipula kenyataan bahwa sang suami tak mengetahui kehamilannya membuat Naruto gusar. Ia tak yakin Sasuke akan percaya ini adalah anaknya. Bisa saja kan pria itu mengelak. Dan bahkan lebih parahnya akan menuduhnya macam-macam. Naruto begitu takut Sasuke tak bisa menerimanya.

Demi Kami-sama, bahkan sekarang Naruto tak mampu berpikir jernih.

.

.

Maka disinilah Naruto sekarang..., berjalan pelan penuh kesungguhan menuju pantai. Tangannya sesekali terkepal erat saat berusaha keras agar terlihat tenang.

Cuaca siang itu sedikt mendung.., sinar matahari tak segahar biasanya.. Kumpulan awan nampak berarak dikejauhan.. Angin berhembus menerpa pohon-pohon kelapa yang berdiri kokoh disepanjang pantai.

Iris shapire Naruto menatap berkeliling, mencoba menemukan keberadaan sang raven.

Ia baru saja mencapai anak tangga ketika tangan pucat itu menyentuh bahunya. "Hai, baby.." Sapanya. "Kukira kau tak akan kemari"

Naruto menjawab kaku. "Aku.. Hanya akan menemuimu sebentar saja",

"Souka..", alis pria itu-Sasuke- terangkat. "Aku hargai itu.. Kupikir aku ingin berenang sekarang. Ayolah..",

Naruto menundukkan kepala pirangnya dalam, mencoba menutupi semburat merah jambu dipipinya. Sasuke, pria raven itu terlihat... Sempurna. Mengenakan celana pendek putih, kaca mata hitam yang diangkat keatas, surai ravennya yang dibiarkan berantakan, dan sisanya hanyalah kulit putih pucat yang tidak ditutupi apapun. Demi Tuhan, wanita mana yang tak akan tergoda dengan pesona sang Uchiha?

Naruto dengan canggung mulai melepaskan celana pendeknya. Sedikit bersyukur bikini yang ia kenakan memiliki potongan yang lebih sopan tapi tetap saja Naruto merasa sangat sangat malu. Ia pun akhirnya memutuskan untuk tidak membuka atasan kaosnya. Ya setidaknya perutnya yang membesar akan tidak terlalu ketara.

Sasuke menatapnya penuh kekaguman. Kaki jenjang eksotis sang blonde mampu membangkitkan alam bawah sadarnya. Membuat pemuda raven itu begitu merindukan kaki kecoklatan yang selalu mengapit tubuhnya disetiap malam panjang... Ohh God, ini akan sangat sulit!

Onix sewarna malamnya terlihat penuh kerinduan.. Gadis tan yang saat ini tengah bermain air laut dengan senangnya itu begitu ingin dipeluknya. Sasuke menatap kearah perut Naruto yang samar terlihat. Air matanya perlahan menggenang.., demi Tuhan Sasuke ingin sekali menyentuhnya.. Menyentuh kehidupan baru yang ada didalamnya.. Benih cintanya.. Anak kandungnya... .

Rasa sakit didadanya begitu menyayat pilu.., teringat akan segala dosanya terhadap sang istri tercinta. Ohh, sungguh Sasuke merasa sebagai manusia paling hina di dunia.. Ucapan maaf tak akan pernah cukup. Karena itulah ia disini.. Berusaha mendapatkan wanitanya sekali lagi.

"Naruto...", ia memanggil lantang setelah sebelumnya mengusap sudut matanya yang berair. "Apa kau mau aku traktir ice cream!?",

"Tidak", sahut Naruto. "Aku sedang tidak ingin makan itu",

"Begitukah?", alis Sasuke terangkat. "Bagaimana kalau aku traktir ramen spesial?",

Naruto hanya mengangkat bahu untuk menjawab, ia tahu pria raven itu tak akan berhenti menawari hal-hal lainnya sampai Naruto setuju. Itu akan terlalu merepotkan.

"Ayolah, sebaiknya kita makan siang dahulu", Sasuke meraih tangan Naruto, menggenggamnya erat tanpa berniat melepasnya. Sementara Naruto hanya bisa terdiam menahan semua gelora didadanya manakala tangan hangat itu menyentuhnya.

Sasuke membawa sang blonde kesalah satu pondok dipinggir pantai, menyuruhnya menunggu sejenak untuk membeli makanan.

Naruto mereganggkan otot-ototnya yang terasa kaku. Berada didekat sang raven membuatnya berdebar secara berlebihan. Sentuhan ringan dari Sasuke nyatanya selalu mampu membangkitkan gelora nya yang sudah susah payah ia redam.

Ia mengusap pucuk perutnya perlahan, merasakan pergerakan buah hatinya yang menendang-nendang.

"Apakah kau merasa bahagia,baby? Hei, tou-san mu ada disini...", bisik Naruto lirih.

"Kalau begitu biarkan ia bertemu tou-sannya secara langsung",

Naruto menengok cepat, ia begitu terkejut manakala Sasuke telah berada dibelakangnya..

"Sa... Sasuke...", iris shapirenya membulat sempurna. Demi Tuhan hati Naruto begitu kalut. Apakah Sasuke mendengarnya, Naruto membatin cemas.

Sasuke tersenyum simpul, ia mengulurkan tangan mencoba menyentuh perut Naruto.

"Hai, sayang... Apakah Kau merindukan tou-san unn ?",

Naruto bergerak gelisah, tapi ia juga tak dapat mengelak saat Sasuke menariknya,mendekatkan kepalanya ke atas perutnya.

"Kau sangat aktif sekali ya.., tapi tou-san minta jangan sakiti kaa-san mu, ok?",

Onix Sasuke menatap lembut kearah Naruto. Mencoba meneruskan perasaan terdalamnya agar tersampai pada sang blonde. Ia menggenggam erat tangan Naruto, mengecup punggung tangan kecoklatan itu penuh sayang.

"Naruto.. Gomenne..", ujar nya lirih.

Naruto menarik tangannya cepat, memalingkan wajahnya ke samping dengan nafas terengah. Ia mengeplkan tangannya erat diatas paha. Mencoba menahan seluruh perasaannya supaya tidak meledak-ledak.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Suke", sahut Naruto. "Kau tak salah.., harusnya memang akulah yang tak berada diantara kalian",

Iris shapire itu meremang, lelehan air mata mulai tak kuasa dibendungnya. Hanya isakkan lirih yang terdengar dari Naruto.

"Kembalilah.. Ini bukan tempatmu, Suke. Hinata membutuhkan mu. Pergilah", suara Naruto terdengar parau. Bahunya naik turun mencoba mengatur nafas.. Rasa sesak didalam hatinya kian tak mau pergi.. Membuat Naruto semakin tersiksa

"Aku sadar aku sudah keterlaluan ,Naru. Kau boleh menghukumku semaumu.. Tapi kumohon, sayang. Jangan pinta aku menjauh.. Aku tak bisa...", tukas sang raven berusaha meyakinkan.

Tangan pucat Sasuke terulur untuk menghapus lelehan kristal bening di sudut mata Naruto. Ia mengecup lembut kelopak mata gadis tan itu penuh sayang. Mencoba menyalurkan seluruh rasanya lewat kecupan tersebut .

"Aku mohon, babe. Aku tak bisa hidup tanpa mu.., gomenne",

Naruto terisak hebat dalam pelukan sang raven. Hatinya begitu sakit tapi juga terasa sangat hangat manakala suaminya itu memeluk tubuhnya erat. Kehangatan dari Sasuke sungguh sangat Naruto rindukan. Hatinya memang sakit tapi jauh dari Sasuke sejujurnya lebih membuatnya sakit. Naruto mengeratkan pelukannya ke tubuh sang raven. Matanya sudah basah dan hasrat didadanya sudah tak bisa ia pendam lebih dari ini.

"Kau curang ,suke.. Jahat", isak Naruto lirih

Sasuke terdiam. Membiarkan istri tercintanya itu menangis dan meluapkan seluruh emosinya. Ia tak bisa bicara banyak karena memang dirinya lah yang bersalah. Sasuke kemari untuk mendapatkan sang istri kembali. Jadi.. Meski Naruto harus mencacinya atau bahkan memukulnya dahulu untuk bisa kembali.. Sasuke sudah sangat siap. Ia merasa pantas untuk itu.

"Tahu kah kau aku begitu tersiksa saat tahu kau tak dirumah Naruto.. Hati ku begitu hampa", Sasuke menarik napas dalam-dalam, tangannya menggenggam tangan Naruto lembut. "Aku mencoba bertemu dengan mu beberapa kali tapi kakekmu tak mengizinkan...",

Suara Naruto seakan tersendat. Sasuke memeluknya erat, pipi pucatnya menempel di surai keemasan Naruto.

"Akhirnya aku bisa menemukanmu Naruto.., aku melihatmu begitu nyaman ditempat ini sangat berbeda dari kau yang pernah ku tahu. Dan aku mulai bertanya-tanya.. apakah aku belum juga bisa membuat mu senyaman ini..",

Onix kelam itu meredup namun kemudian kembali memancarkan sedikit harapan. "Saat itulah aku memutuskan bahwa aku harus bisa mendapatkan mu kembali. Bagaimana pun caranya. Aku tahu aku sudah sangat menyakitimu, tapi kumohon percayalah Hinata adalah suatu kesalah pahaman"

"Aniki memberitahuku kau ada disini, karena itulah aku datang mencarimu, baby. Untuk memintamu kembali padaku, membawa mu pulang kerumah kita. Dan berita kehamilan mu itu akan semakin membuatku tak akan menyerah. Demi Tuhan, Naruto! Tidakkah kau memandang ku?", nafas Sasuke terengah saat mencoba mengungkapkan semua ganjalan dihatinya. Ia begitu kalut dan takut akan kehilangan sang blonde.

Naruto menatap Sasuke dalam, melihat ketidak pastian yang menghantui kelembutan dan kerinduannya.

Ia berkata pelan, "aku tahu Hinata masih sangat menginginkan mu, masih sangat terobsesi untuk menjadi nyonya Uchiha. Dia datang menemuiku dan mengatakannya padaku bahwa dia bisa mendapatkan mu kembali. Dan aku terlalu takut karena hal tersebut ",

Naruto menarik nafas gemetar, "Hinata akan selalu membayang-bayangi kita, dan aku berkata kepada diriku sendiri hal itu tidak akan pernah berubah. Aku akan tetep jadi gadis yang menikahi mu karena perjodohan, kemudian ... Melihatmu lebih memihak kepadanya aku sadar bahwa kehidupan ku sebagai nyonya Uchiha sudah begitu mustahil. Bahwa jika kau menginginkan Hinata maka aku harus pergi selamanya",

Isakkan Naruto semakin menjadi.., dadanya sudah tak mampu lagi menahan semuanya... "Gomenne aku tak memberitahukan kehamilan ku secara langsung. Tadinya ini adalah sebuah kejutan. Tapi saat melihatmu tak disampungku, mengetahui kenyataan kau pergi menemaninya rehabilitasi, aku begitu takut.. Kau jelas sangat memihaknya.. Aku takut berita kehamilan ku justru akan membuatmu menertawakan ku atau lebih buruknya lagi mengasihaniku.. Tidak,Sasuke! Jika kau ingin Hinata maka aku akan dengan senang hati pergi.."

"Stop, Hime", Sasuke menempelkan telunjuknya pada bibir Naruto, memutus perkataan dari sang blonde. "Cukup. Aku tak menginginkan kau pergi. Aku mencintaimu Naruto. Sangat mencintaimu. Ku mohon tetaplah disisiku, anata. Katakan padaku bahwa kau juga mencintaiku. Katakan bahwa kita akan menjadi suami-istri untuk selamanya..",

Naruto tersenyum lembut diatas tangisnya. Ia menjawab pelan dan mudah, "Aku mencintaimu Sasuke. Dengan segenap hatiku. Aku mencintaimu dan akan selalu begitu..."

Naruto meraih tangan Sasuke, menciumnya lembut dan membawanya ke atas tubuhnya, menahannya diperut yang berisi bayi mereka, wajah Naruto berseri-seri memberitahu Sasuke segala yang perlu diketahuinya.

Fin.

4 years latter...

Seorang bocah laki-laki tengah asik berlari melewati lorong-lorong rumahnya yang sepi. Ia terus berjalan sampai berhenti didepan sebuah pintu besar berukir dari kayu Mahoni, sebelum akhirnya ia pun masuk kedalam.

"Tou-chan! Dimana Kaa-chan ehh? Menma tak bica menemukan Kaa-chan. Menma capek", rengek bocah bersurai hitam dengan garis mirip kumis kucing di kedua pipinya itu manja.

"Tou-san tak tau menma. Mungkin Kaa-san sedang ditaman. Apa kau sudah melihatnya kesana?", tanya pria berjas yang tengah duduk di meja kerjanya itu sambil melepas kaca matanya.

Bocah lelaki itu menggembungkan pipi tannya lucu, mengerucutkan bibir mungilnya kesal.

"Tidak ada. Menma cudah kecana.. Menma ingin cucu", rajuknya dengan suara cadel yang lucu.

Sasuke- pria berjas- tersebut hanya bisa tersenyum lembut menanggapi rajukan dari sang putera tercinta. Ia meraih tubuh gembul anaknya itu kemudian menggendongnya.

"Baiklah, sekarang kita cari dimana kaa-san mu berada. Jagoan tou-san tidak boleh cengeng unn", tukasnya sambil mencubit hidung sang putra gemas.

"Menma!", seruan seseorang yang sangat dihapalnya membuat Sasuke sedikit tersentak. Ia membalik tubuhnya dan mendapti Naruto berlari kearahnya dengan tampang khawatir.

"Ya tuhan sayang! Kaa-san kaget sekali mendapati kamar mu kosong. Kaa-san kan sudah bilang kalau mau ke toilet sebentar.. Uhh.. Kau membuat Kaa-san sangat cemas", ujar perempuan berambut keemasan itu. Nada kekhawatiran jelas terdengar di suaranya.

"Benalkah? Maap kaa-chan.. Menma kila kaa-chan pelgi.. Menma pelgi ketempat tou-chan untuk mencali kaa-chan", ujar bocah tersebut berusaha menjelaskan.

"Menma.., jangan buat kaa-san mu cemas lagi. Ok?", Sasuke mengacak surai hitam puteranya itu gemas.

Naruto tersenyum lembut melihat kedekatan diantara putera dan suaminya itu. Ia berjalan mendekat kemudian mengelus lembut surai hitam Menma."Bagaimana kalau sekarang kaa-chan buatkan cereal. Menma suka kan?", ujarnya lembut.

"Yeay! Ayo tou-chan kita makan! Menma mau dicuapin tou-chan", seru Menma riang.

"Baiklah jagoan! Kita makan bersama. Ayo anata", Sasuke tersenyum lalu mengulurkan tangannya pada sang istri tercinta. Betapa ia merasakan kebahagian yang lebih dari kata sempurna.

"Ya..", Naruto balas tersenyum. Meraih tangan sang suami dan menggengamnya erat berjalan beriringan bersama sang buah hati tercinta. What a perfect life..

Hueeeee... :v akhirnya FIN juga! Yeay!

Arigatou minna-san yang sudah mau capek2 baca dn review karya ku ini!

Gomenne tak bsa balas comment minna-san satu-satu. Tapi aku selalu membaca review kalian dengan senang hati. Sekali lagi terimakasih dan maaf jika endingnya ada yang kurang berkenan :)

Caowww.. :3

#momyozha