Kuroko menggeliat diatas tempat tidur biru muda miliknya, lalu kedua kelopak matanya bergerak-gerak seperti ingin terbuka. Melihat itu, Kagura tersenyum senang, dihapusnya air mata yang mengalir di pipi putihnya.

"Suna-chan!"

"Dia bangun?" Sougo yang sedari tadi duduk di sofa berwarna biru yang berada disalah satu sudut kamar Kuroko, Segera beranjak dan mendekati istrinya yang duduk di kursi kecil tepat disamping kanan sisi tempat tidur Kuroko.

Kagura melirik sebentar kearah suaminya, lalu beralih menatap Kuroko kembali. Dilihatnya putri semata wayang miliknya membuka kedua kelopak matanya secara perlahan, Memperlihatkan iris biru muda yang jernih.

"SUNA-CHAN!" Kagura berteriak senang dan segera memeluk Kuroko dengan erat. Walaupun ia yang membuat Kuroko pingsan, namun tetap saja ia tidak bisa menyingkirkan rasa kasihan dan khawatir pada anaknya.

Kuroko yang masih belum sepenuhnya mengumpulkan nyawa hanya bisa pasrah dipeluk kuat-kuat—lagi—oleh Okaa-sannya.

"Oka…Oka—"

Sougo menarik kedua bahu istrinya secara perlahan. Seakan mengerti apa yang ingin diucapkan Kuroko, ia menjauhkan istrinya dari tubuh kecil Kuroko agar tidak membuat putrinya itu kembali sesak nafas dan jatuh pingsan kembali.

Dengan berat hati Kagura harus melepaskan pelukannya dari tubuh putrinya.

"Suna-chan, kau tidak apa-apa? Kepalamu sakit?" Sougo bertanya pada Kuroko yang kini menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Melihat Putrinya seperti itu, membuat Sougo menjadi semakin khawatir. Ia berfikir bahwa Kuroko masih shock dan tidak bisa menerima pernyataan yang istrinya ucapkan setengah jam yang lalu.

Sama seperti suaminya, yang menyadari Kuroko bersikap seperti itu, membuat Kagura kembali menangis. Ia merasa benar-benar bersalah.

Pelan, Kagura mengelus surai bluenette Kuroko yang begitu halus, "Suna-chan…maafkan Okaa-san atas ucapan Okaa-san tadi…"

Sougo tersenyum lembut, lega mengetahui istrinya meminta maaf. Ia harap setelah insiden pemberitahuan mendadak dan Kuroko pingsan, Kagura tidak akan mengulang sikapnya yang selalu berkata tanpa berfikir panjang dulu.

Kepala Kuroko menoleh lemah dan begitu pelan ke arah Okaa-san dan Otou-sannya. Melihat Okaa-sannya menangis dan wajah kawatir Otou-sannya, ia merasa bersalah dan turut sedih. Walau seharusnya ialah yang paling menyedihkan sekarang.

"Iya…Okaa-san." Ujar Kuroko lemah.

Menarik nafas, Kuroko kembali melanjutkan, "Tapi aku harap yang tadi itu hanya lelucon belaka Okaa-san. Dari mana Okaa-san tahu temanku yang bernama Akashi-kun?"

Mendengar penuturan anaknya, membuat Kagura sedikit terkejut. Lalu ia melirik ke arah suaminya yang ternyata membalas lirikannya.

"Ano…kalau itu…" Ujar Sougo ragu-ragu. Ia takut Kuroko akan pingsan lagi jika ia dan istrinya menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.

Begitu juga dengan Kagura, ia melirik cemas ke arah kedua tangannya yang saling bertautan di atas kedua pahanya.

"Kalau soal itu…Okaa-san serius. Maksud Okaa-san…apa yang diucapkan Okaa-san tadi itu bukan...lelucon."

Kuroko membelalakkan kedua matanya. Ia segera mengambil posisi duduk dengan cepat, membuat Sougo dan Kagura kaget atas aksinya.

"Kembali berbaring, Suna-chan! kau masih butuh istirahat!" Bentak Sougo yang bisa dikatakan pelan itu. Lalu kedua tangan besarnya terlulur untuk membuat Kuroko kembali berbaring, namun Tiba-tiba tepisan keraslah yang terasa di pergelangan tangan kanannya.

Sougo menatap semakin cemas pada Kuroko. Baru saja. Ya, baru saja Kuroko menepis keras tangannya.

Kagura membelalakkan kedua matanya. Tak percaya melihat Kuroko memperlakukan kasar Otou-sannya sendiri. Seumur hidup, ia belum pernah melihat Kuroko seperti ini, apalagi sampai memukul orang tuanya.

"…Suna..-chan…" Kagura menatap sedih anaknya yang kini sudah menangis sesegukan. Kedua tangan kecil Kuroko berusaha menghapus air matanya yang terus saja mengalir. Wajahnya yang putih bersih itu kini berubah warna menjadi kemerah-merahan.

"Kena..pa?"

"Suna-chan…"

"KENAPA?!"

Sougo dan Kagura membatu ditempat.

"Rencana kalian itu malah memperparah semuanya! Bagimana bisa…Bagaimana bisa aku besok akan pindah ke Rakuzan?! Bagaimana bisa aku akan kembali menjadi perempuan di masa SMA-ku ini? Dimana sebentar lagi akan ada pertandingan inter-high dan winter cup?! Dan bagaimana bisa aku akan bertunangan dengan Akashi-kun?!"

Kuroko kembali mengatur nafasnya, air matanya malah semakin banyak keluar. Ia tahu ini memalukan. Tapi ia benar-benar tidak suka mendapati kenyataan yang baginya buruk itu.

Kagura ikut menangis, kini kedua tangannya berusaha merengkuh tubuh kecil putrinya.

"Maafkan—" sebelum kedua tangannya berhasil menggapai Kuroko, Kuroko segera beranjak dari kasurnya dan berlari keluar kamar.

"SUNA-CHAN!"

.

.

.

.

.

.

DISGUISE

Anagata Lady Okita's Fanfiction

Kuroko no Basuke belongs to Tadatoshi Fujimaki.

OCs © Anagata Lady

AKASHI SEIJUUROU | KUROKO TETSUYA | KISE RYOUTA

WARN: OOC, TYPO(S), GENDER BENDER, etc..

(Disini Tinggi Kuroko 165 cm. Maaf saya labil minna-san :v . Sepertinya kalau Tinggi Kuroko 160 cm kebawah itu terlalu pendek untuk Kuroko. Tinggi Momoi saja 161 cm. Maaf, saya tidak memerhatikan hal ini sebelumnya. Terima kasih untuk el cierto yang mengingatkan *bow*)

FEM!KUROKO—YOU HAVE BEEN WARNED!

.

.

.

Seorang wanita berambut Hitam sebahu terlihat sibuk membetulkan dasi yang terpasang pada kerah tuxedo berwarna hitam suaminya, Akashi Raito. Memang kedua tangannya sibuk bekerja pada dasi hitam suaminya, namun kedua matanya sesekali mengawasi putranya yang sudah duduk tenang di sofa berwarna merah marun yang hanya dikhususkan untuk diduduki satu orang.

Kini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga, bersiap-siap untuk segera pergi ke sesuatu tempat. Padahal waktu sudah menunjukan pukul setengah tuju malam, beberapa menit lagi sebelum waktu makan malam tiba. Kalau saja Akashi Reika tidak merajuk suaminya untuk tidak pergi, maka pada jam ini Akashi Seijuurou tidak akan berada di ruang keluarga. Seperti biasa dia akan berdiam dikamar dan membaca buku ataupun bermain shogi.

"Sei-kun."

Suara yang begitu lembut namun terdengar mengintimidasimemecahkan kesunyian di dalam ruangan keluarga tersebut. Mengundang kedua iris heterokromatik menoleh pada sumber suara yang telah menyebut namanya.

"…hm?"

Reika menghela nafas, lalu duduk di salah satu sofa kosong yang persis seperti Akashi.

"Jangan mengacaukan acara malam ini."

Akashi mendengus, "Seharusnya Okaa-san yang yang bersiap-siap untuk tidak mengacau—"

CKRIS

Akashi tidak melanjutkan kata-katanya. Dan tidak melirik ke arah sebuah pisau yang sudah menancap pada lemari hiasan kayu yang berada tepat dibelakangnya.

"Kau jangan mengacaukan malam ini, Sei-kun." Akashi Reika mengulang ucapannya sambil tersenyum manis kea rah putranya. Raito yang melihat istrinya lagi-lagi melempar pisau sembarangan hanya menghela nafas. Raito juga penasaran dimana istrinya itu menyimpan pisau. Sejak tadi ia selalu memerhatikan istrinya, tentu saja. Namun ia tidak melihat sama sekali istrinya yang kini telah memakai maxi dress berwarna merah itu membawa atau memegang benda tajam kesayangannya bernama pisau.

Reika kembali melanjutkan kegiatan merapikan dasi suaminya dan tersenyum lembut ke arahRaito, "Besok akan kubuang lemari itu."

Sekali lagi, Raito menghela nafas. Bukan hal asing lagi jika hampir seluruh perabotan di rumah mereka rusak, maupun itu dengan pisau ataupun gunting. Sebenarnya gunting rumput taman juga pernah ikut andil dalam merusak perabotan-perabotan di mansion mereka.

Sepertinya besok ia akan dipaksa Reika untuk menemaninya membeli lemari baru.

Selesai membantu suaminya membenarkan dasi, Reika segera mengambil tas kecil berwarna merahnya yang terletak diatas meja kecil tepat disamping sofa yang Akashi duduki. Akashi sama sekali tidak ada niatan untuk memperhatikan Okaa-sannya.

"Ayo kita berangkat, Sei-kun! Keluarga Kuroko pasti sudah menunggu kita!" Ujar Reika penuh semangat, lalu berjalan keluar ruang keluarga terlebih dahulu.

Akashi hanya diam, belum ada niatan untuk bangkit dari duduknya. Kepala merah Akshi tertunduk, membuat Raito tidak bisa melihat ekspresi apa yang dipasang Akashi sekarang.

Tiba-tiba Raito berjalan mendekati Akashi, lalu berhenti satu meter didepan anaknya, "Aku tidak tahu apa yang kau rasakan. Tapi setidaknya bisakah kau membuat pertemuan kita dengan keluarga Kuroko merasa nyaman dan bersahabat?"

Beberapa detik telah terlewat namun belum terdengar jawaban dari mulut Akashi Seijuurou. Raito berniat untuk mengulang perkataannya kembali namun terbatalkan karena Akahi yang tiba-tiba berdiri. Kini ia dan Akashi berhadapan.

Raito sedikit terkejut melihat tatapan dari manik dwiwarna anaknya itu terlihat berbeda.

"Tenang saja, Tou-san. Aku tahu apa yang harus kulakukan."

Dan kedua mata merah Raito juga melihat senyuman yang ia tidak tahu pasti apa artinya tersungging di sepasang bibir Akashi Seijuurou.

.

.

.

.

.

.

"Suna-chan! bantu Okaa-san memilih baju yang bagus untukmu malam ini! Ah! Ini! Ini! Bagaimana dengan ini?! Eh! Tapi ini juga bagus?!"

Kuroko Tetsuna hanya bisa menatap Okaa-san tercintanya dengan pandangan yang sulit diartikan. Entahlah senang atau sedih. Namun sepertinya kata sedihlah yang lebih tepat. Dilihatnya dua pasang mini dress yang terlihat elegan dengan warna dan model yang berbeda masih tergantung rapi di kedua hanger yang dipegang Okaa-sannya. Gaun berwarna pink muda dan merah hati.

"…" Ah, Kuroko benar-benar membisu.

"A-aku bingung! Suna-chan pasti bagus memakai apa saja tapi—ah, mana Sou-kun? Apa ia setuju kalau kau memakai yang ini…atau ini?" Kini Kagura telah melempar dua mini dress yang tadi sempat dipegangnya ke atas kasur Kuroko dan mengambil dua gaun yang lainnya. Kini berwarna biru muda dan hitam.

Kuroko membelalakkan kedua matanya, dari mana Okaa-sannya mendapat mini dress sebanyak itu? Apa jangan-jangan Okaa-sannya itu telah membelikannyamini dress jauh-jauh hari. Alias seperti acara yang akan ia hadiri sebentar lagi sudah terencanakan.

Kini Kuroko kembali memasang wajah lesu. Dalam hatinya ia benar-benar merutuki nasibnya.

.

.

.

Setengah jam yang lalu…

Kuroko Sougo sibuk memegangi pinggang kecil Kuroko Tetsuna. Dengan sekuat tenaga ia berusaha menghalangi putrinya yang berniat untuk kabur. Sedangkan Kuroko Kagura ikut menghalangi jalan akses Kuroko untuk kabur. Kini meraka sedang ribut-ribut tepat di ambang pintu utama rumah mereka.

"Lepaskan aku Otou-saan!" Ujar Tetsuna dengan setengah berteriak. Kini tangan kecilnya masih berusaha melepaskan kedua tangan tou-sannya yang melilit pinggang kecilnya itu. Walau ia tahu itu tidak akan berhasil alias percuma.

"Kau mau kabur kemana?!" Kini perlahan tapi pasti Kuroko mulai terseret kembali kedalam rumah. Dengan segera Kagura menutup pintu dan menguncinya. Lalu segera menyembunyikan kuncinya.

"Okaa-san!" Protes Kuroko karena melihat akses terbesarnya untuk keluar telah hilang karena Kaa-sannya.

"Tidak, Suna-chan! lagi pula kau mau kemana?" Tanya Kagura dengan kedua tangan berkacak pinggang. Kedua mata besarnya yang memiliki manik biru muda itu kini fokus menatap anaknya yang masih memberontak dipegangan tou-sannya.

"Kemana saja!" Jawab Kuroko. Kini kedua kakinya semakin kuat menendang-nendang di udara. Karena postur tubuh Sougo yang lebih tinggi dan Kuroko yang pendek, tentu ia bisa menggendong Kuroko sehingga tubuh kecil Kuroko terangkat.

"Mouu Suna-chaan, tolong jangan seperti itu!" Ujar Kagura memelas.

"Benar Suna-chan! kau membuat kami sangat khawa—"

Ucapan Sougo terhenti karena merasakan ponselnya bergetar di saku celana santainya. Kini ia hanya menggendong Tetsuna dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya mengambil ponsel dan segera menekan tombol hijau.

Setelah ia dekatkan dengan daun telinganya, ia menyapa, "Hallo?"

Terjadi keheningan beberapa saat dari seberang telepon. Ditambah kini dengan Tetsuna yang sudah berhenti berontak dan Kagura yang terdiam. Sepertinya penasaran dengan siapa yang menelfon Sougo.

"Ah…" terdengar suara berat menyahut, "Bagimana kalau malam ini—"

Terdengar suara keributan dari seberang telepon, "Ah! Halo? Apa ini dengan Kuroko-san?" Kini yang terdengar adalah suara perempuan. Dan Kuroko Sougo sepertinya tahu siapa sang pemilik suara.

Sougo menjauhkan ponselnya dari telinga dan melihat nama pemanggil yang tertera, tertera sebuah nama: 'Akashi Raito.'

"Raito..?" Gumam Sougo. Kembali ditempelkannya ponsel dengan daun telinganya.

"Apa? Raito yang menelfon?!" Kagura terkejut.

Kedua mata Kuroko membelalak, ia merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan Tou-sannya dan Kaa-sannya itu, "Rai..to?"

"Aku ingin keluargaku dan keluargamu melakukan makan malam bersama di restoran Takazawa Tokyo. Malam ini. Aku tunggu kau, istrimu beserta putrimu pukul setengah Sembilan malam. Jangan terlambat."

Pip.

Telepon terputus.

Sougo menjauhkan ponselnya dari telinganya. Baru saja ia mendengar omongan atau yang bisa dikatakan perintah dari mulut yang sudah sangat diketahuinya.

Siapa lagi seorang wanita yang dikenalnya dengan suaranya yang selalu mengintimidasi? Tentu saja, hanya Sakata Reika yang kini telah berubah nama menjadi Akashi Reika.

Kagura berkacak pinggang kembali, "Raito menelfon?"

Kuroko menatap cemas Tou-sannya, "Ayah…Akashi-kun?"

Sougo kembali memasukkan ponselnya ke saku celananya dan menghela nafas sebentar. Diturunkannya Kuroko secara perlahan. Membuat Kuroko bertanya-tanya.

"Otou-san…tadi itu ayah Akashi-kun?" Tanya Kuroko hati-hati. Takut-takut dugaannya benar.

Sougo melirik kearah Kagura, dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan.

"Kagura."

"Ya?"

"Cepat bawa Tetsuna dan dandani dia. Reika meminta untuk bertemu malam ini."

Kagura terkejut, "Reika-san?! bertemu malam ini?!"

Kuroko mulai melangkah mundur. Dandani? Apa maksudnya? Dan siapa Reika?

Sougo mengambil langkah cepat menuju kamarnya yang berada dilantai dua, bersiap-siap.

"Cepat urus Suna-chan, Kagura!" Ujar Sougo sambil berlari kecil menaiki tangga yang berada di dekat ruang utama.

Seakan mengerti ucapan suaminya, Kagura segera menarik pergelangan tangan kiri Kuroko dan segera menariknya ke lantai dua, menuju kamar putrinya.

"Kaa-san?! Apa yang terjadi? Kaa-san?!" Tanya Kuroko panik. Perasaan tidak enak tiba-tiba menghampirinya. Namun Kagura tidak menjawab pertanyaannya.

.

.

.

"Baik! Baju ini cocok untukmu! Kyaaa~! Akhirnya aku bisa melihat putriku seperti ini!"

Kagura memeluk erat tubuh kecil putrinya yang kini telah berbalut mini dress berwarna biru muda yang bisa dibilang…agak seksi tersebut. Dengan gaunnya yang hanya sebatas setengah pahanya tersebut, meng-ekspos jelas pahanya yang putih.

Rambutnya kini tidak terlihat seperti rambut milik Kuroko Tetsuya yang orang-orang kenal, melainkan rambutnya kini panjangnya sampai ke punggungnya, bahkan hampir mengenai pinggang. Dengan adanya poni kesamping dan rambut yang sedikit ikal dibagian bawah, maka cukup membuat Kuroko Kagura berteriak kegirangan.

Tentu rambut panjang itu tidak asli tumbuh dari kepalanya. Namun itu adalah wig yang sepertinya telah Kagura siapkan jauh-jauh hari untuk dirinya.

Ntah bagaimana caranya Kaa-sannya itu menemukan wig yang senada dengan warna rambutnya yang senada juga dengan rambut Kaa-sannya.

"Mouuu~ Okaa-san ingin melihatmu seperti ini setiap hari!" Pelukan Kagura semakin menguat.

"Okaa—Okaa-!"

"Kagura, Pelukanmu terlalu kuat."

Terdengar suara berat milik Sougo terdengar, membuat Kagura dan Kuroko menoleh. Kagura dengan ekspresi kesalnya karena tidak rela melepaskan pelukannya dari putrinya, dan Kuroko dengan wajah lega karena merasa diselamatkan dengan omongan Tou-sannya.

Dengan berat hati Kagura melepaskan pelukannya.

Sougo berjalan mendekati Kagura dan Kuroko, "Dari pada itu, lebih baik kau cepat bersiap, Kagura. Waktu dari Reika tidak banyak."

"Baiklah!" jawab Kagura dengan semangat. Lalu ia berjalan cepat menuju pintu kamar Kuroko yang terbuka, "Suna-chan! pakai sepatu yang sudah Okaa-san siapkan di tas berwarna ungu itu!" ujar Kagura sambil menunjuk tas belanja berwarna ungu. Kuroko dapat melihat merek yang terkenal tertera di setiap sisi bagian tasnya.

Setelah mengatakan itu, Kagura segera menghilang di ambang pintu.

Kuroko menghela nafas. Ia dekati tas berwarna ungu yang tadi ditunjuk Kagura dengan langkah gontai. Tas tersebut sangat besar. Membuat Kuroko bertanya-tanya sebesar apa sepatu yang Kaa-sannya belikan.

Saat ia membuka tas itu, ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia melihat lima pasang sepatu elegan ber-high heels dengan masing-masing berbeda warna dan model.

"I-Ini…"

Sougo tertawa kecil, "Ya, tiga hari yang lalu Otou-san menemani Okaa-san membelikan sepatu-sepatu untukmu. Termasuk—"

"Sepatu sekolah?!" Kuroko mengeluarkan sepatu pentopel bertali yang berwarna hitam.

"—Ya. Termasuk sepatu sekolahmu untuk besok. Bahkan tas, dan lain-lain telah Okaa-sanmu belikan."

"Tentu semua itu ciri khas barang anak perempuan." Sougo melanjutkan.

Kuroko kembali memasukkan sepatu untuk sekolahnya dan mengeluarkan sepatu high heels berwarna putih. Ia duduki dirinya di tepi tempat tidur dan dengan gontai ia pasangkan sepatu barunya itu satu-persatu pada kedua kakinya. Ia bisa melihat pantulan dirinya didepan kaca meja hias yang kini berada tepat didepannya. Ia melihat bagian tubuhnya tepat dibagian dada. Kuroko mengeluh dan rasa takutnya bertambah. Dadanya memang membesar. Tidak terlalu besar, sih. Tapi ini hampir melebihi besar dada pelatih tim basketnya, Aida Riko.

Rasa takut akan perkataan Okaa-sannya tadi, lalu ia yang tidak tahu akan dibawa kemana, memakai mini dress yang memperlihatkan pahanya, dan terkahir masalah ukuran payudaranya, bercampur menjadi satu dan menghasilkan rasa takut yang berlebih. Tak terasa olehnya kedua tangannya sedikit bergetar.

"Otousan..."Kuroko bersuara. Setelah memakai kedua sepatu, ia berdiri dan memerhatikan kembali sosok dirinya yang terpantul di cermin.

"Hm?" Sougo mengikut arah gerak-gerik putrinya. Kini ia lihat wajah lesu Kuroko yang bisa ia lihat dengan jelas.

"Bisakah acara malam ini dibatalkan? Bilang saja aku sakit parah atau apalah itu." Ujar Kuroko pelan. Kini ia telah berbalik dan menghadap Tou-sannya.

Sougo berjelan menghampiri anaknya dan mengelus surai rambut palsu yang Kuroko kenakan dengan lembut dan hati-hati, berusaha agar wig-nya tidak berantakan.

"Tidak bisa, Suna-chan." Jawab Sougo. Ia tatap kedua manik Kuroko yang menap kedua matanya dengan pandangan yang sulit diartikan. Namun Sougo tahu betul apa yang dirasakan putrinya saat ini.

Kuroko menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan ekspresinya yang kini bisa dibilang terlihat sedih dan kecewa,"Sebenarnya…apa yang terjadi, Tou-san?"

.

.

.

.

.

.

"Kise. Begitu keluar dari mobil, jangan sempat membalas sapaan fansmu diluar. Mereka mengganggu."

"Aku tahu, Yuki-san. Aku juga sedang malas. Sebenarnya." Kise menghela nafas. Kini ia melihat salah satu restoran yang sudah semakin dekat, Restoran Takazawa di Tokyo.

Kise menggeser duduknya sedikit, berusaha agar posisin duduknya tidak membuat kusut tuxedo abu-abu dengan kemeja hitam yang kini ia kenakan. Kini ia melihat malas pada jam tangan elegan miliknya yang melilit di pergelangan tangan kirinya. Pukul setengah Sembilan malam. Dalam hati Kise merutuki jam pemotretannya yang menurutnya tidak tepat. Tadi sore dia baru saja menjalani latihan basket neraka dari Kasamatsu-senpai. Dan dengan seenaknya Eijun-san menelfonnya dan memintanya untuk bersiao-siap melakukan pemotretan di restoran Takazawa Tokyo.

"Eijun-san. Kanagawa juga memiliki banyak restoran mewah yang bagus untuk dijadikan tempat pemotretan. Kenapa harus jauh-jauh ke Tokyo?"

Kini tatapan Kise terfokus pada managernya yang sedang sibuk memainkan jari telunjuknya di atas layar sentuh smartphone. Masa bodoh dengan apa yang dilihat managernya pada smartphonenya itu.

Eijun berdehem sebentar, lalu membalas tatapan Kise, "Hm? Aku bosan kita hanya berputar-putar di lingkungan Kanagawa saja. Bukannya menyenangkan punya pengalaman yang banyak?"

"Kau berkata seolah aku tidak pernah makan di Takazawa." Balas Kise. Kali ini dengan nada sedikit ketus.

Eijun menepuk bahu kanan Kise sambil tertawa hambar, "Haha. Benarkah?"

Kise mendengus.

Kini mobil yang ia naiki telah masuk area parkir restoran Takazawa. Setelah mobil terparkir dengan sempurna, Kise segera keluar mobil diikuti managernya. Lalu beberapa asisten yang turun dari mobil yang lain juga ikut mengikuti dari belakang.

Eijun berjalan lebih dulu mendahului Kise.

"Kita ke ruang khusus dulu, Kise."

"Hah? Ruang khusus? Restoran semewah ini menyediakan ruang khusus untuk kita?" Tanya Kise. Kini ia dan yang lainnya telah memasuki restoran yang sudah terlihat sangat megah walaupun baru bagian depannya saja. Ia acuhkan jeritan tertahan dari wanita-wanita yang ia yakni dari keluarga terpandang saat ia melewati mereka.

Eijun menoleh kebelakang sebentar, rambut coklatnya yang biasanya terlihat seperti berantakan itu kini terlihat sangat rapih karena olesan gel.

"Siapa yang tidak mengetahui Kise Ryouta? Mereka pasti dengan senang hati menerima pemotretanmu disini."

.

.

.

.

.

TBC

Ada typo? Sepertinya ada :( maklum ya minna-san, saya update ini buru-buru sebelum paket saya habis-ssu :D jadi gak sempat nge-cek ulang.

Sepertinya chapter ini kepanjangan? Atau biasa saja? Kalau menurut Minna panjang, syukurlah. Sekalian jadi permohonan maaf Karen ach kemarin pendek.

Ohya, rating ff ini memang tidak akan naik ke rate M. Rating ff ini adalah T-M, tapi sewaktu-waktu. Jika ada yang tidak suka, silahkan meninggalkan fanfic ini denga tertib :)

Yosh! Review kudasai? ^^