"Turun. Sekarang. Juga."
Wanita muda bersurai baby blue sepinggang menatap tajam pada tubuh ramping putrinya yang kini duduk disamping jok mobil yang ia duduki, jok pengemudi. Namun pada saat itu pula kedua matanya melembut saat melihat pergerakan gelisah pada tubuh kecil anaknya. Memang melihat anaknya dalam mode 'perempuan' sangat membuatnya bahagia, tapi sebaliknya untuk Kuroko Tetsuna.
Bagi Tetsuna, rasanya sebentar lagi ia akan menghadapi rintangan yang sungguh berat dalam gedung yang kini tinggi menjulang didepannya. Tidak, mobil milik Kaa-sannya itu tidak memasuki gerbang besar SMA Seirin tersebut. Tapi tetap saja hawa menegangkan telah sampai pada tubuhnya hingga tubuh kecilnya itu senantiasa bergetar ketakutan.
Kagura terkekeh kecil, kini ia melihat Tetsuna yang sedang mengintip-intip keluar kaca jendela mobil. Sepertinya mencari timing yang tepat untuk keluar. Padahal upacara yang selalu dilaksanakan pada Senin pagi telah dimulai sekitar lima belas menit yang lalu.
"Nah, sepertinya pilihan masuk ke Rakuzan itu merupakan pilihan emas. Tapi sayang, Putriku ini malah memilih—"
"K-Kaa-san!" Kepala Tetsuna dengan cepat menoleh pada Kagura dengan senyum mengejeknya.
"Lalu? Cepat turun kalau begitu. Seirin lebih baik, bukan?"
Kini Tetsuna meyandarkan punggung kecilnya pada sandaran jok. Ia mainkan ujung rok berwarna putih yang ia kenakan dengan kedua tangan. Sebenarnya di dalam hati yang paling dalam, ia tidak terlalu merasa takut. Toh, ia memiliki miss direction yang setidaknya tidak akan membuatnya dengan cepat disadari orang-orang. Ia juga tidak takut dengan guru-guru atau kepala sekolah yang nanti melihatnya dengan seragam perempuan. Lagipula semenjak ia awal masuk SMU Seirin, para guru sudah tahu akan hal identitasnya yang sebenarnya.
Kagura melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kirinya, "Nah,sebentar lagi upacara akan selesai. Cepat keluar, Tetsuna."
"Tapi Okaa-san, Orang-orang sedang upacara. Bisakah Okaa-san masih mau menungguku sampai upacara selesai?" Kini Tetsuna memelas. Hal yang paling langka dilihat oleh Kagura dari putri satu-satunya itu.
Kebingungan melanda Kagura, "Tapi Suna-chan, Okaa-san juga kerja dan Suna-chan tahu akan hal itu."
Kedua tangan pucat mengatup rapat tepat didepan tubuh Kagura. Kagura sedikit membulatkan kedua matanya saat melihat anaknya memasang pose memohon seperti itu. Demi Dewi Fortuna ataupun itu, selama Kuroko Tetsuna keluar pendidikan jenjang sekolah dasar, ia tidaklah lagi melihat anaknya memohon seperti itu. Sayangnya ia tidak bisa melihat wajah anaknya yang terpantri karena sebagian wajah putihnya itu terhalang oleh surai wig panjang yang Tetsuna kenakan.
"Onegai, Okaa-san!"
.
.
.
DISGUISE
Anagata Lady's Fanfiction
Kuroko no Basuke belongs to Tadatoshi Fujimaki.
OCs © Anagata Lady
AKASHI SEIJUUROU | KUROKO TETSUYA | KISE RYOUTA
WARN: OOC, TYPO(S), GENDER BENDER, etc..
(Tinggi Kuroko 165 cm.)
FEM!KUROKO—YOU HAVE BEEN WARNED!
.
.
.
Dunia ini berakhir.
Kenapa?
Setelah mendapat bentakan 'halus' sampai adegan 'ancam-mengancam' dari bibir tipis Kuroko Kagura, kini kedua kaki putih milik siswi yang sebentar lagi akan menjadi terimut di Seirin berada dalam kurungan kedua tangan kekar seseorang. Bukan seorang psikopat, tapi Tetsuna bisa bergetaran karena intimidasi dari orang itu.
"Kenapa kau jadi seperti ini, Kuroko?!"
Bibir seksi milik ace tim basket Seirin membentak makhluk mungil yang telah ia kurung sempurna. Dalam hati pemuda beralis ganda ini berterimakasih pada Dewi Fortuna Karena telah berhasil menangkap Kuroko Tetsuya—ralat, tapi Kuroko Tetsuna yang berlari menghindarinya. Well, Maupun Tetsuya atau Tetsuna mau berlari secepat apapun pasti bisa ditangkap olehnya.
Yang menjadi satu-taunya korban 'tangkapan' disini hanya terdiam pasrah dengan mimik wajah datarnya seakan tidak terjadi apa-apa. Namun sebenarnya dalam hatinya ia sedang menggerutu kesal dengan tindakan yang diambil Okaa-sannya sekitar lima belas menit yang lalu. Setelah dirinya yang dilanda kebingungan berat antara 'Masuk kedalam gerbang sekolah atau tidak' selama hampir setengah jam, segera dilanjutkan dengan aksi Kagura yang menarik Tetsuna keluar dari dalam mobil dan menyeret tubuh kecilnya itu memasuki gerbang. Sesuai takdir Tuhan yang telah tercatat, Kagami Taiga yang baru datang ke sekolah (telat, tidak mengikuti upacara) dan baru saja menapakkan sepuluh langkah memasuki gerbang SMU Seirin, tiba-tiba saja Pemuda itu diteriaki oleh Kuroko Kagura—jangan lupa masih dengan kuroko tetsuna yang diseret dan berharap miss direction-nya sangat bekerja— .
Dan kalimat yang dilapalkan dalam bentuk teriakan itu adalah, "Kagami! Kuroko ingin berjalan ke kelas denganmu!"
Dunia ini berakhir.
Dunia Kuroko Tetsuna 'mulai' mengalami guncangan.
"Jawab aku, Kuroko!"
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Kagami-kun. Seperti yang kau lihat, aku perempuan."
Kagami berusaha menelan ludahnya. Ia sedikit bergidik mendengar suara 'halus' Tetsuna. Bukan suara yang selama ini ia dengar dari 'bayangan'-nya.
Satu kata yang terlintas di otaknya –'Imut'. Oke, ada yang salah dengan otak Kagami.
Tetsuna menatap diam Kagami yang malah juga jadi terdiam didepannya. Tetsuna merasa kalau Kagami masih syok atas fakta yang terjadi pada dirinya. Kedua mata bulatnya sesekali melirik kiri-kanan. Ia harus waspada jika ada guru atau murid bahkan staff-staff sekolah yang lainnya jika menemukannya dan Kagami dalam posisi seperti ini. Kini mereka berada dalam pintu belakang gedung yang menghubungkannya dengan taman siswa. Kelas telah dimulai sejak sepuluh menit yang lalu, dan kini lingkungan sekolah terlihat sepi. Apalagi hari ini adalah hari Senin, setelah upacara singkat berlangsung, maka siswa dan siswi SMU Seirin segera mengikuti pelajarannya di kelas masing-masing.
"Hah …" Desahan keluar dari kedua belah bibir Kagami. Ia menjauhkan tubuhnya dari Tetsuna. Sedangkan Tetsuna bernafas lega.
Kedua iris crimson melirik tubuh yang lebih pendek dengan pandangan ragu, "Aku masih tidak percaya kalau kau adalah Kuroko Tetsuya yang ku kenal."
Tetsuna menelan ludahnya dan melihat kearah lain. Menolak untuk membalas lirikan Kagami. Sedangkan Kagami mulai melihat penampilan Tetsuna dari bawah hingga ke atas. Lagi-lagi, Ia kembali syok.
Seragam Siswi SMU Seirin. Siapa yang tidak tahu? Rok seragam Seirin itu pendek, hanya sebatas pertengahan paha. Dan kini Kuroko Tetsuya yang ia kenal memakai seragam itu. Warna putih menjadi pilihan Tetsuna untuk memulai harinya di Seirin. Pakaian itu sangat kontras dengan surai baby blue panjang yang tergerai hingga sebatas punggung. Tas ransel kecil berwarna baby blue yang tersampir di kedua bahunya, dan sepatu pentofel persis seperti yang selalu dikenakan Aida Riko.
Itu semua mampu membuat Kagami Taiga melongo.
"Aku akan menjelaskannya nanti, Kagami-kun."
Suara halus kembali terdengar. Kagami akan segera meladeni ucapan itu jika saja—
"Kenapa kalian malah berpacaran disini?!"
Guru bagian ketertiban siswa tidak kelewatan untuk mendapati mereka dan memberikan teguran mengerikan.
.
.
.
Dua sosok sempurna perempuan dan laki-laki kini berdiri tepat bersama pria bertubuh besar didepan pintu geser berdaun dua. Kelas 1-A menjadi nama dari ruangan didepannya. Gintoki-sensei menyeringai, Kagami menatap malas pintu didepannya, dan Tetsuna menahan degupan jantungnya yang terasa hampir copot untuk tidak terdengar.
Gintoki melirik tubuh yang paling pendek, ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya. 'Akhirnya', batinnya berkata seperti itu. Mau menyamar seperti apapun, identitas asli akan selalu terkuak. Jelas siapa yang menjadi objek pemikirannya. Tentu saja Tetsuna.
Pintu didepan mereka bertiga terbuka pelan.
"Ah, Gintoki-sensei!"
Pria bertubuh pendek bermata empat menampakkan senyum lima jari tepat saat kedua matanya menangkap sosok rekan yang memilik profesi sama seperti dirinya.
"—Are? Taiga? … Tetsu .. na?"
Gintoki mendorong punggung Kagami dan Tetsuna untuk melangkah maju dua langkah, "Ya. Mereka terlambat dipelajaranmu. Ingin diapakan, sensei?"
Setelah mengatakan hal itu, tanpa disadari Kagami dan Tetsuna, Gintoki tersenyum jahil. Dan senyuman jahil itu ditangkap oleh penglihatan megane-sensei.
"Oh!"
Perasaan buruk mendarat dihati kecil Tetsuna. Ntah karena apa.
Sensei yang mendapati julukan 'megane' menarik nafas dengan sangat tenang, "Kagami dan Tetsuna. Melewati waktu lima belas menit dalam pelajaranku. Maka, bertadanglah keseluruh kelas di seluruh gedung ini dan berkata 'Aku, Kagami Taiga, dan Kuroko Tetsuna tidak akan pernah terlambat kembali' didepan kelas mereka. Ingat, Semua kelas."
Rahang bawah Kagami terjatuh, Sedangkan Tetsuna … merasa ingin pulang. Tidak sesuai dengan harapannya, ternyata dalam waktu beberapa menit saja indentitasnya akan segera terbongkar dengan mudahnya.
Gintoki merasa puas setelah mendengar hukuman dari Megane-sensei. Sebenarnya, hal ini telah mereka rencanakan karena rencana dia—Kuroko Kagura.
.
.
.
"Aku tidak percaya! Tidak percaya!"
"Koganeeei, berisik." Mata empat yang memegang jabatan sebagai kapten tim basket Seirin menguap malas. "Tidak usah seheboh itu."
"Kau benar, Koganei-kun. Apa yang tidak mungkin terjadi di dunia ini?"
Aida Riko menghela nafas pelan. Ia memutar memori ingatannya sekitar lima belas menit yang lalu. Saat ia melihat seorang perempuan bersuari baby blue. Sama seperti yang lainnya, ia merasakan shock. Kini mereka telah memasuki kantin terbesar di sekolah mereka tersebut. Istirahat tiba, maka waktunya untuk mengisi perut.
"Tapi bisa saja kalau perempuan tadi itu adalah kembarannya Kuroko. Seperti di film-film."
Ucapan yang baru saja dikatakan Izuki mendapat lirikan tajam dari Hyuga.
"Tidak lucu, Izuki!"
Yang diteriaki sedikit memajukan bibirnya, "Itu karena kau tadi tidak memakai—"
Hyuga mendelik, memotong cepat ucapan Izuki, " Tidak usah dipikirkan, tidak lucu. Lagipula apa yang spesialnya dari—"
"Tetsuna-san!"
"Kuroko-san, terima ini!"
Kelima rahang milik keenam siswa dan siswi dari kelas dua jatuh dengan tidak elitnya. Kecuali rahang milik Izuki, tentunya.
"—sudah kubilang, Hyuga. Kau itu karena tadi tidak memakai kacamata, makanya tidak terlalu jelas melihat wajahnya."
Riko menatap satu pemandangan yang paling menyeramkan, kedua alisnya bertaut, "Aku tidak menyangka! Tidak menyangka!"
"Dan sekarang kau ikutan berisik, Riko." Hyuga menepuk dahi.
Akhirnya mereka bertujuh, Mitobe, Hyuga, Tsuchida, Kiyoshi, Riko, Koganei, dan Izuki memasuki ruangan kantin yang begitu ramai, lalu mendekati sebuah meja panjang yang biasanya dihuni oleh 8 orang. Namun sekarang dihuni oleh puluhan orang, rasanya sih seperti itu dimata mereka sekarang.
Pemuda beriris crimson menyadari kedatangan senpai-nya dan segera berdiri dari bangkunya, menghadap mereka.
"Senpai! Tolong!"
Kiyoshi membalas tatapan Kagami, walau sekali-sekali ia mencuri pandang pada perempuan bersurai baby blue yang sedang kewalahan di meja dekat mereka, "Huh? Ada apa, Kagami?"
Kini Kagami yang menepuk dahinya, "Tsk! Jangan berpura-pura tidak tahu!" Jari telunjuk Kagami menunjuk tubuh kecil Tetsuna yang duduk di meja yang sama dengannya. Tidak, mereka tidak hanya duduk berdua, kini banyak orang yang mengerubungi tubuh kecil seorang gadis bersurai baby blue. Kagami tidak yakin, tapi ia sepertinya melihat ketua dari tim ekskul Judo (yang kebanyakan memiliki tubuh besar dan kekar) ikut mengambi posisi dalam kerumunan.
Hyuga yang menyadari apa yang terjadi segera menerobos kerumunan, "Permisi!"
Tangan kirinya segera menarik pergelangan tangan kecil gadis bersurai baby blue, dengan perjuangan penuh keringat dan energi, ia terus berusaha menerobos kerumunan dengan Tetsuna yang agak terlindung di balik punggung bidangnya. Benar penglihatan Kagami—ada ketua tim ekskul Judo—yang protes karena objek yang ia suka diambil sehingga tubuh besarnya berusaha menghalangi tubuh kapten tim basket Seirin yang tidak seberapa.
Riko memandang Hyuga yang sedang beraksi dengan takjub, "Aku tidak menyangka Hyuga-kun bisa menjadi seorang yang heroik."
Kagami, Kiyoshi, Mitobe, Tsuchida, Izuki, dan Koganei segera membantu Hyuuga yang semakin kewalahan, alhasil Hyuga dan Tetsuna bisa keluar dari kerumunan dan segera berlari keluar kantin.
.
"Kau menelfonku hanya untuk bicara seperti itu?"
'Apa maksudmu hanya 'untuk'? ini penting, Aominecchi!'
Pemuda berkulit tan menguap malas dan kembali pada dinding pembatas, "Lagi pula menurutku penglihatan dan perkiraanmu salah, kise. Tetsu itu laki-laki, bodoh."
'Kenapa kau sulit sekali untuk percaya padaku? Ah, tidak! Setidaknya temani aku sore ini ke Seirin, Aominecchi!'
Kerutan pada kedua kening Aomine berkerut samar, "Kenapa sekarang kau malah mengajakku pergi ke Serin? Dengar, ya. Aku malas dan tidak mau."
Terdengar suara hembusan nafas kesal dari seberang telepon, 'Aku saja yang tidak tinggal di Tokyo tidak malas untuk pergi ke Seirin!'
"Itu kan kau. Bukan aku." Aomine menengadah ke arah langit. Angin terasa lebih menusuk karena ia yang sedang bermalas-malasan pada atap sekolah. Langit berwarna cukup gelap, membuat Aomine merutuk kesal. Tubuh tegapnya segera bangkit dan mulai berjalan menuju pintu atap—tidak mau tubuhnya akan terguyur hujan.
'Kalau kau ikut denganku, Tiga majalah mai-chan jadi milikmu.'
Kedua senyum terukir saat kedua tungkai kakinya menuruni anak tangga,
"Baik."
.
Setelah menutup panggilan, Pemuda bersurai kuning yang merangkap sebagai model tersebut menghela nafas berat. Pikirannya kembali pada kejadian beberapa hari yang lalu. Dimana ia melihat perempuan bersurai baby blue di restoran Takazawa. Sungguh, ia sangat penasaran dengan sosok itu. Siapa dia? Kenapa saat melihatnya—walau dari belakang—otaknya langsung mencerna bahwa perempuan yang ia lihat kemarin itu Kurokocchi-nya? Aneh memang. Tapi ia memang benar-benar harus menyelidikinya. Awalnya ia tentu berfikir bahwa tidak hanya Kuroko yang pasti memiliki surai baby blue di negeri sakura itu. Tapi semenjak ia melihat perilaku aneh Akashi kemarin, ia mulai berfikir dua kali. Sikap aneh Akashi kemarin untuk menyuruhnya tidak mengejar perempuan itu sangatlah ganjil. Dalam otaknya ia berpikir bahwa jika perempuan itu adalah Kurokocchi yang ia kenal dan Akashi mengetahui akan penampilan Kuroko yang malam itu menjadi perempuan, pasti Akashi akan menutup hal itu rapat-rapat. Memang sih Akashi terlihat seperti menutupi. Tapi sungguh, baginya cara Akashi kemarin itu seperti bukan rencana yang tepat untuk diambil seseorang seperti Akashi Seijuurou. Kalau Akashi ingin merahasiakannya, pastilah Akashi akan menggunakan cara yang lebih pintar—sehingga membuatnya tidak akan curiga sedikitpun.
Maka dari itu ia berasumsi kalau Akashi memiliki maksud lain yang ia sama sekali tidak ketahui.
"Assh!" Kise memijit dahinya pelan. Tidak biasanya ia frustasi, sungguh. Tapi bedanya saat ini adalah tentang Kurokocchi-nya. Mengapa? Karena sejak dulu Kise Ryouta akan selalu peduli dengan orang bertubuh mungil itu. Karena sejak dulu juga Kise mencintai orang itu—tidak peduli apa gender yang orang itu memiliki.
Aneh. Sekali lagi aneh. Tapi itulah dia, Kise Ryouta.
Tanpa ingin membuang waktu lebih lama, ia segera bergegas pergi dari sekolahnya yang telah bubar dan kebetulan tidak ada jadwal latihan basket di hari itu. Ia menuju stasiun sekarang. Menyusul Aomine dan akan mengajaknya ke Seirin, memastikan semuanya. Ia akan langsung bertemu Kuroko dan akan menanyakan perihal tentang kejadian malam itu. Apa mungkin orang itu adalah Kuroko Tetsuya teman semasa SMPnya? Mungkin jika perkiraannya itu salah, Kuroko akan menamparnya keras-keras karena telah menuduhnya sebagai perempuan. Mungkin.
Kini tujuannya adalah Seirin dan Kuroko. Itu saja.
.
"Sekarang kita akan latihan basket, tentu saja. Tapi bagaimana dengan dia?" Hyuga memperhatikan setiap anak-anak timnya yang memasuki gym setelahnya dan Riko. Matanya tidak lepas juga dari sosok mungil Kuroko Tetsuna yang kini masih memakai seragam. Kelihatannya tidak ada niatan Kuroko untuk berganti pakaian dengan baju latihan. Tentu saja, ia perempuan sekarang.
Riko segera mendekati bench dan duduk diatasnya, "Dia siapa, Hyuga-kun?"
"Masalahnya kan Kuroko sekarang dalam tubuh perempuan." Sebagai kapten, maka Hyuga menjadi orang pertama yang mengganti baju. Menunggu anak-anak timnya kembali berkumpul—kecuali Kuroko yang kini duduk di bench yang lainnya, ia mengambil posisi duduk disebelah Riko.
Satu helaan nafas kecil terdengar dari mulut pelatih tim basket SMU tersebut, "Aku ada pemikiran lain untuknya."
"Hm? Pemikiran lain? Apa?"
"Aku memutuskan untuk mengubah Kuroko menjadi manager saja. Cukup, kan?"
"Kenapa kau berfikir seperti itu? Hei, kalau dia masih mau ikut latihan, bagaimana?" Hyuga menatap Riko tidak percaya. Mengabaikan tubuh sesaat Tetsuna yang tidak bersuara didekat mereka.
Riko menepuk dahinya, "Lalu maksudmu Kuroko akan terus tanding dengan kalian, begiu? Dalam bentuk perempuan, hah?"
"Bukan begitu, kalau Kuroko ingin-nya ikut latihan bagaimana?" Hyuga balik bertanya. Berusaha dengan suara sekecil mungkin agar Tetsuna tidak mendengarnya.
Riko mengangkat salah satu alisnya, heran. Dia begitu bertanya-tanya pada laki-laki yang kini selalu mengambil tindakan tegas malah merubah sikapnya pada Kuroko, maksudnya Tetsuna.
"Bilang saja kau tidak mau perasaan Tetsuna tersakiti?" Riko menunjuk tepat wajah Hyuga dengan jari telunjuknya. Sebelum ia kembali menurunkan jarinya itu dan mendesahkan nafas keras-keras, "Hyuga-kun. Aku tahu kau sekarang telah masuk kedalam jajaran seperti laki-laki lainnya yang tadi mengerumuni Tetsuna di kantin. Benar begitu, bukan?"
Mendapatkan tudingan mendadak, sontak Hyuga segera terkejut bukan main. Oh, apa-apaan itu blushing diwajahnya? Kini Riko membatin. Benar kan, dugaannya.
"Dengar, Riko! Lebih baik sekarang kau tanyakan Tetsuna, apa maunya dia?"
Set.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Riko segera berdiri dan malah beralih menuju bench dimana Tetsuna duduk. Tentu Tetsuna yang melihat kedatangan pelatihnya segera membungkuk sopan walau tidak terlalu dalam.
"Ah, tidak usah membungkuk begitu, err … Kuroko…-san. Hehe." Riko mengibas-ngibas tangan kanannya dengan senyuman canggung akibat sempat bingung dengan panggilan apakah yang paling cocok ia utarakan pada gadis cantik didepannya.
Kedua mata bulat Kuroko menengadah dan menatap Riko dengan pandangan yang seperti biasa terlihat datar tersebut, "Ada apa, Kantoku?"
Berdehem sekali, matanya sempat melirik anak-anak tim yang lainnya kini telah berjalan memasuki gym kembali setelah selesai berganti baju, "Bagaimana kalau kau menjadi manager saja?"
"Eh?" Kagami Taiga berhenti dari gerakan mengambil bola basket di keranjang yang tersedia. Barusan ia tidak salah dengar, kan?"
Anak-anak yang lainpun juga terkejut mendengar pertanyaan Riko barusan.
Kedua iris coklat Riko menatap lekat-lekat Tetsuna yang masih belum memberikan jawaban. Bukannya terlihat seperti mau menjawab, Tetsuna kini malah terlihat seperti bertingkah bahwa barusan ia tidak mendengar apa-apa dari Riko. Terlihat jelas dengan kedua matanya yang tak lagi balas melihatnya—malah melihat ke arah lain. Atau mungkin Tetsuna bingung mau menjawab apa? Atau tidak tahu harus menjawab apa?
Baik, Riko masih sabar untuk menunggu.
Semua anak tim basket yang terlalu teralihkan perhatiannya tersebut benar-benar tidak menyadari sosok kehadiran tubuh tegap seseorag yang kini telah berdiri di ambang pintu berdaun dua gym mereka. Orang itu menyeringai pelan. Ntah kenapa ia suka drama yang disuguhkan didepan kedua matanya saat ini. Walaupun awalanya ia tidak ada niatan berlama-lama ditempat yang bukan sekolahnya itu, tapi sepertinya ia malah suka dengan pemandangan langka secara tiba-tiba didepannya saat ini.
Kedua matanya melihat sosok Tetsuna yang duduk tepat didepan Riko berdiri. Memang, Ia bertujuan untuk cepat-cepat menarik gadis itu sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi. Akhirnya ia memutuskun untuk segera 'mencairkan' suasana bersitegang di gym tersebut.
"Tetsuna akan menjadi manager tim basket lain."
Suaranya yang tegas, dalam, terdengar mengintimidasi, namun juga terdengar lantang secara bersamaan segera menarik seluruh pehatian semua orang yang berada didalam gym. Termasuk Tetsuna sendiri. Dan kedua matanya sedikit membulat melihat sosok 'Tunangan'-nya telah berdiri dengan tenang disana.
"Akashi …-kun?" Gumam Tetsuya sangat pelan. Tidak menyangka Akashi akan datang dan berkata demikian. Dan pertanyaan berupa 'Apa maksud pernyataan Akashi-kun barusan?' mengusik benaknya.
Maksud kata 'mencairkan' dalam kamus artian Akashi ternyata adalah malah membuat suasana semakin tegang saja. Namun salah satu pemuda di dalam gym ada yang merasa tidak terima dengan pernyataannya barusan sehingga segera berbicara dengan lantang,
"Apa maksudmu?! Tetsuna tidak akan menjadi manager disekolah lain selain sekolah ini!"
Kagami Taiga, menatap nyalang Akashi Seijuurou yang awalnya tida tertarik sama sekali untuk meihat sosoknya. Namun teriakannya barusan segera mengundang tatapan tajam heterokrom yang sangat menusuk untuk segera menghujamnya. Mengisyaratkan bahwa tidak ada gunanya ia membantah. Ingat, Akashi Seijuurou selalu benar.
Semua anak tim basket Seirin menahan nafasnya. Sedikit merasa tercekat melihat tatapan andalan Akashi yang penuh dengan intimidasi. Termasuk Hyuga yang dari awal ketahuannya keberadaan Akashi langsung mengambil posisi berdiri.
Setelah memberikan pandangan menusuk pada Kagami lumayan cukup lama, Akashi kembali menatap Tetsuna, "Kemari, Tetsuna."
Butuh beberapa menit untuk Tetsuna mencerna perintah yang Akashi berikan padanya. Walau pertanyaan yang tadi masih terus mengusik benaknya—walau ia sebenarnya sangat tahu maksud perkataan Akashi barusan—, ia segera berdiri dari bench yang ia duduki dan segera berjalan mendekati sosok Akashi.
Melihat Tetsuna menurut, menjadi daya tarik tersendiri untuknya. Ia kembali menyeringai samar.
Setelah sosok pendek itu tepat berada dihadapan Akashi, Pemuda absolute itu segera memberikan tatapan dingin yang didelarasikan sebagai perang secara terang-terang bagi seluruh anggota tim basket Seirin yang melihatnya. Tanpa berkata apapun lagi, Akashi segera menarik pergelangan tangan iri Tetsuna dan membawana kaluar—pulang.
Kini seluruh anggota Seirin masih terdiam ditempatnya. Terdiam dengan mengertinya mereka pada maksud pernyataan Akashi di awal.
Apa itu berarti Akashi akan berusaha menarik salah satu teman mereka yang memiliki surai baby blue itu untuk pindah—meninggalkan mereka?
.
.
.
.
.
TBC
Chapter terbaru akhirnya update … *smiles*
Terima kasih karena masih setia membaca fic ini ^^
Review?
