"Tetsuna akan menjadi manager tim basket lain."
.
"Cepat! Angkat, Kuroko! Ah! Ayolah!"
"Sudahlah Kagami."
Kagami mendecak kesal. Ia remas ponsel miliknya. Rasa kesal membuat dadanya sesak. Sejak tadi. Tepat saat terjadi insiden penculikan Tetsuna oleh laki-laki tak diundang.
Nomor Tetsuna telah belasan kali dihubungi. Namun hingga detik ini belum ada respon. Hal ini yang membuat Kagami ingin sekali melempar ponselnya hingga hancur.
Ada kalanya Kagami tak punya batas kesabaran.
Riko mendesah, "Mungkin ponselnya disita oleh kapten Rakuzan itu. Atau mungkin Tetsuna tak punya nyali untuk mengangkat panggilanmu."
"Kenapa?" Tanya Kagami cepat. Sambil mencak-mencak ia mendudukkan tubuhnya di bench. Furihata yang duduk disebelahnya sedikit bergeser menjauhi. Aura marah Kagami sungguh tak enak.
"Yaa—" Riko menggaruk belakang lehernya yang tak gatal, "Karena ia sedang bersama Akashi. Mungkin Akashi akan marah jika ia mengangkat panggilanmu."
Hening sejenak. Kagami tidak merespon jawaban Riko. Semua terdiam. Sebagian duduk diatas bench dan di atas lantai lapangan basket. Latihan rutin setiap sore itu terlupakan sejenak. Perginya Tetsuna menimbulkan cekcok di semua hati anggota.
Sepertinya mereka semua sudah terlanjur sayang pada pemain bayangan itu.
Fukuda melirik sekeliling. Tidak merasa nyaman dengan suasana mencekam. Biasanya pada pukul ini gym akan dibuat berisik oleh suara bola basket yang dipantulkan, ataupun teriakan pelatih gadis mereka.
Ia tersadar, tiba-tiba ia mendapat ide, "Ano, ada yang tahu rum—"
"Dasar Akashi sialan! Kenapa semua anggota kiseki no sedai itu menyebalkan?! Tidak ada yang kusuka satupun dari mereka!" Hardik Kagami. Membuat seluruh perhatian anak basket disana melirik padanya. Yang ada Fukuda terabaikan. Remaja itu menghela nafas. Berusaha kembali berbicara.
"Ano!" Fukuda berteriak—sedikit lantang. Ia harus segera menyatakan idenya sebelum ia lupa.
Semua beralih menatapnya.
"Ada apa?" Tanya Riko. Wanita itu menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
"Apa ada yang tahu… alamat rumah Kuroko?"
Ekspresi anak yang lain seketika berubah. Benar juga. Mereka bisa bertemu Tetsuna dengan pergi ke rumahnya.
"Hm-Hmm." Hyuuga berpikir. Hampir saja berpikir sambil telentang di atas lantai lapangan.
"Tidak." Jawab Koganei. Lalu mendesah kecewa.
"Aku tidak tahu." Begitulah jawaban anak yang lainnya. Termasuk Kagami sendiri.
"Kita bisa mengintip data Kuroko di ruang guru." Pendapat Tsuchida.
"Ruang guru mungkin sudah dikunci. Ini sudah hampir jam enam sore." Terang Hyuga.
Riko memijat pelipisnya, "Lalu bagaimana ini?! Oi, aku butuh kepala seseorang sebagai pelampiasan marahku." Gadis itu memijat-mijat ringan otot lengan kanan atasnya.
Hyuga terkejut, "Bukan waktu untuk itu, Riko!"
.
.
.
DISGUISE
AKASHI SEIJUUROU | KUROKO TETSUYA | KISE RYOUTA
KnB belongs to Tadatoshi Fujimaki-sensei
Disguise belongs to AnagataOkita
Warn: Typo, genderbend, You have been warned!
.
.
.
Perjalanan terasa canggung. Dari Seirin hingga kedua tungkai Tetsuna menyentuh lantai keramik mansion keluarganya. Akashi berdiri kalem disampingnya. Seakan tidak mengingat kejadian beberapa saat waktu lalu.
Mulut Tetsuna hanya bisa bungkam saat sosok Ibunya muncul dari bilik dapur. Dengan celemek bercorak bunga menghiasi.
"Tetsuna? Kau sudah pulang?" Senyum Kagura mengembang saat melihat Akashi tersenyum ramah padanya. Menyambutnya.
"Selamat sore, Kuroko-san." Sapa Akashi. Perawakannya jauh berubah. Lebih sopan. Walau wataknya yang egois dan terbaca kejam itu masih bisa terlihat.
"Sore, Akashi-kun."
Tetsuna mengerutkan alis. Bisa ia cepat-cepat masuk kamar dan membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya yang empuk? Yang entah sejak kapan telah diubah warnanya serba pink oleh ibunda tercintanya.
"Boleh aku ke atas?" Tanya Tetsuna. Ekspresinya terlihat sedikit lesu.
"Aku ikut." Jawab Akashi datar. Kagura tidak peduli, dan kembali ke dapur dengan celemeknya.
"Eh? Akashi-kun?" Tetsuna mengerutkan alis semakin dalam.
"Tidak ada waktu membantah." Jawab Akashi. Pemuda merah itu menarik pergelangan tangan Tetsuna menuju tangga yang akan menghubungkan mereka ke lantai dua.
Tetsuna membiarkan tubuh mungilnya diseret Akashi. Tapi, tunggu, kenapa? Apa-apaan dengan Akashi yang ingin ikut ke kamarnya? Hey!
"Aku tidak membantah." Suara Tetsuna terdengar datar. "Aku bertanya."
Akashi terkekeh. Kaki mereka sudah berhasil menaiki tangga. Telah sampai didepan pintu kamar Tetsuna yang bercat putih susu, Akashi melirik Tetsuna sekilas. Tidak ada senyum diwajahnya. Maka Akashi pun tidak tersenyum sedikitpun.
"Buka." Ujar Akashi. Sudah jelas tujuannya. Membuka pintu.
Tetsuna membiarkan pergelangan tangannya tetap dicengkram, tapi matanya tidak melirik Akashi sedikitpun.
"Tu-Tunggu." Suara lembut Tetsuna menarik perhatian lawan jenis disampingnya. "Akashi-kun akan masuk? Masuk ke kamarku?"
Salah satu alis Akashi terangkat, "Memasukimu."
"…"
"Tentu saja memasuki kamarmu, Tetsuna."
Gadis bersurai biru berteriak cemas dalam hati. Akashi akan memasuki kamarnya? Oh tidak. Jangan sekarang. Karena kau tahu, kamarnya disulap serba pink oleh Kaa-sannya sejak kemarin. Tanpa sepengetahuannya. Bagus. Ia malu.
"U-uh." Tetsuna meraih gagang pintu. Membukanya. Seketika aroma pengharum ruangan nuansa raspberry menyapa indra penciuman.
Pintu terbuka, maka tak ada kata alasan lain untuk tidak masuk. Akashi membawa Tetsuna masuk bersamanya.
Tetsuna duduk dipinggiran ranjang. Sedangkan Akashi dengan santai mendudukkan dirinya dikursi meja belajar Tetsuna.
"Oh. Jadi seperti ini kamarmu. Pink." Ujar Akashi. Kalem.
Tidak ada respon dari Tetsuna. Namun sebenarnya, gadis itu menyembunyikan rasa malunya. Kepala tertunduk. Kedua kaki tertutup rapat.
Terjadi keheningan. Tidak ada yang berbicara. Sayup-sayup hanya terdengar suara tarikan nafas. Akashi, walaupun diam, tapi matanya mengawasi gerak-gerik Tetsuna. Tentu saja, Tetsuna merasakannya. Tatapan tari kedua iris Akashi selalu sangat terasa. Termasuk auranya. Tetsuna hafal betul.
Buang-buang waktu bukanlah hal yang disukai Akashi. Detik berikutnya kedua tungkai kaki itu berjalan. Mendekati tunangannya yang diam disisi tempat tidur. Otot-otot mulut Akashi tidak membuat senyuman. Datar.
Tetsuna yang tertunduk dapat melihat kedua kaki Akashi yang dibaluti sket mendekat. Lalu berhenti beberapa centi dihadapannya. Jantungnya dag-dig-dug. Apa yang harus Testuna lakukan? Ia tidak bisa menggerakkan sendi-sendinya jika sudah seperti ini. Dekat, dan dibawah tatapan tajam dwiwarna.
Tapi ada hal lain yang berkelebat dalam pikiran si gadis cantik. Dari sebelum kakinya meninggalkan Seirin, hingga sekarang. Perkataan Akashi tentang dirinya yang dikata akan menjadi manager tim basket lain. Tidak berfikir keras apa maksud Akashi, Tetsuna tidak bodoh sehingga ia langsung tahu. Rakuzan. Kemana lagi ia akan pergi? Sekolah Akashi itu adalah Rakuzan. Siapa yang tak tahu.
"Apa yang kukatakan tadi terhadap teman-temanmu tak usah dipikirkan." Akashi terkekeh sinis. Seakan tahu apa yang Tetsuna pikirkan. Jari-jarinya menarik dagu kecil Tetsuna untuk mau menatapnya. Tapi Tetsuna menolak. Matanya mengarah ke arah lain.
Melihat gadis biru didepannya tak menurut, Akashi berusaha untuk bersabar. Bagaimanapun ia itu bukan orang jahat, "Walau Tetsuna diajak menjadi manajer tim basket Seirin, kau sebenarnya tak ingin, kan? Apalagi jikalau aku menyuruhmu menjadi manajer tim basketku. Tapi aku tahu keegoisanmu."
Tetsuna akhirnya berani menatap kedua iris dwiwarna yang menatapnya intens.
"Kau ingin tetap menjadi pemain bayangan, bukan." Akashi melanjutkan, "Tapi kau itu sekarang sudah diketahui sebagai wanita. Jadi tak akan bisa."
Dada Testuna terasa sesak. Memang benar faktanya. Ia ingin tetap menjadi pemain. Sebagai bayangan Kagami selalu hingga mereka menjadi nomor satu di Jepang.
Akashi bisa membaca apa yang dipikirkan Tetsuna. Bagaimanapun. Perkiraan Akashi tak pernah salah apalagi menyangkut Tetsuna.
"Sekolah di Seirin, membongkar semuanya. Kau dulu bisa saja aman jika terus bersekolah si sekolahku. Tak perlu menjadi perempuan, sebenarnya. Kau bisa tetap menjadi laki-laki. Hanya aku, guru, dan keluargamu yang tahu. Tapi kau telah memilih Seirin. Semua terbongkar. Aku sudah memperingatkanmu bukan, sebelumnya, bahwa jika kau masuk Seirin, ada hal buruk yang akan datang. Dan lihat, itu benar terjadi." Ujar Akashi panjang lebar. Begitu jarang pemuda merah itu berkata sedemikian.
Kata-kata itu. Setiap kata yang Akashi ucapkan terasa menusuk hati Tetsuna. Gadis itu berfikir mundur. Sebelum ia memasuki jenjang SMA. Dimana calon tunangannya memberi saran—atau mungkin lebih tepat dikata mengancam untuk bergabung dengan Rakuzan bersamanya. Tapi ia malah menolak. Dan kini ia kena masalah. Tak main-main rupanya dengan ucapan Akashi. Tak mengikuti ucapannya, dan kini ia kesulitan. Identitasnya akan terbongkar sedikit lagi. Betul-betul mimpi buruk.
Akashi sabar menunggu respon dari Tetsuna. Gadis itu kini sudah membuang kembali tatapannya ke arah lain.
Menit berlalu, dan Tetsuna belum merespon. Disibukkan dengan berkelebat dalam pikiran. Akashi mulai merasa geram. Pandangannya menggelap. Sebenarnya ada yang ia tahan.
Jari-jari Akashi menyentuh leher Tetsuna yang halus. Pelan sehingga wig yang Tetsuna pakai tak akan bergeser. Pemuda itu mendekatkan wajahnya.
Detik berikutnya bibir mereka bertemu.
Ponsel Tetsuna dala mode silent itu semakin terabaikan didalam tas sekolahnya.
.
.
Pemuda blonde menatap malas sekumpulan orang di depannya. Berbahaya. Siswi-siswi Seirin masih ada yang belum bergegas pulang dan sepertinya bergosip didepan gerbang. Kise, memutar otak. Bagaimana agar bisa lewat namun bebas dari kejaran. Mungkin sebelumnya Kise terlalu percaya diri. Tapi memang sudah akan menjadi kenyataan, jika ia lewat tanpa sembunyi-sembunyi, habislah ia dikeroyok siswi-siswi.
Tapi Kise tak punya jalan lain. Jika ia harus bersembunyi lewat semak-semak, rasanya ia merasa bodoh. Ia model, pemain basket pula dengan gelar Generation of Miracle. Tubuhnya besar dan tinggi, akan sulit menyembunyikan diri.
Tapi tak ada salahnya berusaha.
Pemuda blonde berlari kecil menuju semak-semak. Masih dengan pakaian Kaijo. Suara 'kresek-kresek' terdengar. Sebagian ditangkap oleh pendengaran para Siswi.
Kise berusaha berlari atau mungkin merangkak dibalik rumput taman. Tidak–sampai,
"E-Eh?! Kise-kun? KISE-KUN?!"
Seorang fans ribut menangkap basah dirinya.
Selanjutnya terdengar jeritan-jeritan. Blonde ditarik keluar dari semak-semak. Mulai heboh dengan gosipan 'Apa Kise-kun kesini untuk menjemput pacarnya?' atau 'Siapa cewek beruntung itu?!'
Kise merasa semakin jauh dirinya untuk bertemu dengan Kuroko. Mengingat tujuannya berkunjung untuk memastikan kecurigaannya semenjak bertemu gadis bersurai babyblue yang mirip dengan mantan pemain bayangan Teiko itu.
"Eh? Bukannya itu anggota GoM yang dari Kaijo itu?" Tanya Furihata. Memberhentikan semua langkah anggota tim basket Seirin yang ingin keluar gerbang. Mereka sudah memutuskan untuk pulang saja.
Kagami ikut melirik, "Kise?" Ia mendapati Kise sedang dikerumuni. Layaknya gula digeromboli semut.
"Untuk apa ia kemari?" Koganei ikut berkicau.
Riko memberi isyarat seperti mengajak yang lain untuk ikut dengannya, "Coba tanyai Kise-kun."
Semua mengangguk dan ikut berjalan mendekati.
Kagami, dengan badan kekarnya membelah kerumunan. Tak sesulit kerumunan saat mereka menerima challenge di kantin dari kakak kelas dulu.
"Kise!"
"KAGAMICCHI!"
Kise melepaskan diri, sekuat tenaga, dibantu anggota tim basket Seirin plus tenaga kuat Riko.
.
Kini Kise dan sekumpulan orang yang menyelamatkan telah duduk tenang di meja pesanan mereka. Walaupun beberapa anggota terpisah karena meja yang kecil hanya cukup dikelilingi empat orang.
Okonomiyaki panas yang siap disantap menggiurkan penciuman. Tapi mereka lebih mementingkan untuk berbicara sesuatu dulu.
Di meja yang diduduki Kise, Kagami, Riko, dan Hyuga belum menyentuh Okonomiyaki mereka.
Kise duduk tak nyaman disebelah Kagami, "Kagamicchi, Apa kau sudah menebak apa tujuanku mendatangi Seirin?"
Kagami akhirnya mulai melirik Okonomiyaki dihadapannya, "Sepertinya."
"Tentang Kuroko, bukan?" Tanya Hyuga.
Kise mengangguk.
"Benar rupanya." Ujar Riko sembari mengunyah.
Kagami, menatap Kise, "Tunggu. Kise, apa kau tahu masalah yang terjadi antara Kuroko dengan Akashi itu?"
Pemuda blonde yang tadinya akan menyendokkan okonomiyaki kedalam mulutnya terhenti sejenak. Benar-benar membalas tatapan Kagami, "Masalah Kurokocchi dengan Akashicchi? Apa itu? Ah, ini sebenarnya yang lebih ingin kubicarakan!"
"Maksudmu?" Kagami mengangkat salah satu alisnya, "Itu berarti kau juga tak tahu?"
"Uhm, bagaimana ya." Pandangan Kise berubah. Terlihat lebih serius. "Sejak kalian menjelaskan bahwa tadi Kurokocchi dijemput Akashicchi, aku semakin memikirkan masalah ini. Apa Akashicchi ada berkata yang aneh pada kalian?"
"Aneh? Ada." Hyuga yang menjawab pertama.
"Oh ya, seperti apa?" Kise bertanya.
"Tunggu! Kenapa kau ingin tahu?" Kagami jadi benar-benar hilang selera pada makanan lezat yang seharusnya ia santap.
"Tentu aku ingin tahu! Karena aku ada kejanggalan dengan Akashicchi! Ayolah, katakan saja. Siapa tahu kita menyelesaikan masalah ini bersama?"
"Aw." Riko sedikit menahan tawa. "Minta bantuan kita, eh?"
Kise mengerutkan alis. Heran kenapa coach Seirin itu harus tertawa?
"Baiklah. Begini saja. Kau yang pertama bilang apa keganjalannya." Ujar Kagami. Lalu menyendokkan Okonomiyaki ke mulutnya. Akhirnya memakannya.
"Aku," Kise menelan ludah, "Aku seperti melihat perempuan yang mirip Kurokocchi-ssu! Ini benarbenar terjadi! Dan aku benar-benar menganggapnya Kurokocchi!"
Kagami membelalakkan kedua matanya mendengar jawaban Kise, "Oi,"
"Apa?" Kise menatap Kagami heran.
"Mungkin itu memang ben—"
"Tidak. Tidak mungkin itu Kuroko. Kuroko itu kan laki-laki, Kise." Kagami dengan cepat memotong ucapan Riko. Membuat Riko bungkam. Dan beberapa detiknya, Riko mengerti, begitupun Hyuga.
"Ok. Tapi ketika aku melihatnya Akashicchi berkata aneh padaku."
"Seperti apa?"
"Seperti .. "
.
Kini Ace dari tim basket Seirin terbaring di atas kasurnya. Menatap langit-langit. Ia memikirkan tentang hal tadi. Fakta bahwa, Kise belum tahu Tetsuna menjadi perempuan. Dan akhirnya, Kagami dan yang lain terpaksa berbohong pada Kise tentang Akashi yang datang dan tiba-tiba berkata bahwa Tetsuna menjadi perempuan. Bukan menjadi, sih. Memang sebenarnya perempuan. Ia menutup kedua matanya dnegan lengannya. Lelah berfikir.
.
Di lain itu, Kise menatap layar iPhone miliknya dengan pandangan datar. Kamarnya yang nuansa klasik terasa sepi. Hanya terdengar tarikan nafasnya. Sama halnya dengan Kagami, ia memikirkan pembicaraan tadi. Kise mungkin terlihat bodoh diluar. Tapi ia mencoba menerka sikap-sikap aneh Seirin tadi.
Ia masih menyakini diri, bagaimanapun, bahwa yang ia ihat kala itu adalah Kurokocchi-nya.
Ia tak akan mudah menyerah untuk mencari tahu. Entah perasan dari mana, ia menduga bahwa Seirin tahu masalah ini. Tapi disembunyikan.
'Ash, apa yang harus kulakukan selanjutnya?' Kise mengeluh dalam hati.
.
Tetsuna menenggelamkan wajahnya di atas bantal empuknya. Ia membiarkan badan kecilnya tertelungkup.
Kejadian sore tadi. Akashi. Akashi Seijuurou, menciumnya. Apa yang sebenarnya Akashi itu pikirkan?
Tak hanya sekedar mencium yang membuat Tetsuna takut, pemuda itu berbisik didekat telinganya. Menggigit daun telinganya sambil berkata,
'Permainanmu akan dimulai setelah kau memulai tindakan cerobohmu itu, Tetsuna.'
.
.
.
TBC
(A/N)
Disguise apa terasa semakin membingungkan? Diperkirakan fic ini lumayan memiliki chapter yang banyak. Karena di chapter 6 pun, jalan ceritanya masih sampai di plot seperti ini.
Anagata baru saja sembuh dari WB menyebalkan, sekarang sedang berusaha update fic lain.
Oh ya, terima kasih untuk reviewnya. Maaf jika saya selalu sulit atau jarang membalas review kalian yang berarti. Tapi itu sudah mendorong saya dan membuat saya tersenyum plus merasa senang. Bukannya membuat orang senang itu baik? Hehe /hush
Gimme Review?
