CHANGE

Disclaimer: We don't own Kamichama Karin and Kamichama Karin chu! series. They belong to Koge Donbo-sensei. And this fiction belongs to me a.k.a Hayashi Hana-chan and Ryukutari XD

Rated: T (of course!)

Warning: OOC; gajeness; slice of life dari Hana disertai bumbu masak(?) dari kami berdua XD

Summary:

Dulu, aku tidak bisa dekat dengan kaum adam. Menurutku, lelaki itu adalah manusia yang selalu menyakiti seorang wanita.|| Hanazono Karin, sosok gadis yang membenci lelaki bertemu dengan Kujyou Kazune, seorang murid baru yang ber-notabene lelaki. Akankah pandangan Karin terhadap lelaki bisa berubah? (Summary gaje) Mind to RnR?

.

.

Enjoy this fiction, minna-san~

.

.

Dear Diary,

Sudah berhari-hari aku tak bisa menahan perasaan aneh yang muncul hanya pada orang tertentu. Dan itu kepada lelaki! Demi apa coba—bukankah lelaki di dunia itu sama? Sangat kejam dan tak segan-segan menyakiti wanita.

Mama, jika kau berada di sini, maukah kau menemani Karin melepas luapan emosi ini? Kemudian menyahutinya dengan senyuman hangat disertai jawaban atas berbagai macam pertanyaan yang muncul di pikiran Karin?

Tolonglah. Namun ia terlihat lelaki yang cukup baik.

Perilakunya tidak kasar. Oh, jangan-jangan ia sedang menyamar menjadi laki-laki, sementara wujud aslinya adalah seorang perempuan. Sejenis trap, mungkin?

Oke. Mama, Karin akan menelitinya besok! Saksikanlah dari dunia yang mama pijaki sekarang.

Oyasumi.

Karin Hanazono menutup kembali diary- nya. Seluruh perasaannya hari ia tuangkan satu lampiran kertas yang ber-background gambar kartun beruang manis. Walaupun hanya goresan tinta pada buku harian, dengan khayalan semampunya ia berharap. Secara kasat mata, dan mengandalkan perasaan seorang anak, Mamanya akan menerima coretan-coretan hariannya. Membaca harapannya.

Tatkala buku diary itu telah mengeluarkan bunyi kecil—sebuah suara familiar bagi lembar-lembaran kertas yang tertumpuk, Karin menghela nafas. Nafasnya terasa sangat ringan dibandingkan saat ia belum menulis diary hari ini.

Ia meletakan pulpennya pada kotak pensil, "Kau sangat berguna ya, walaupun hanya sebuah benda kecil yang kerap kali terabaikan."

Melontarkan kalimat sanjungan kepada pulpen? Bukannya ia sudah tak waras, hanya saja Karin merasa pulpen lebih beruntung dibanding dirinya.

Karin membangunkan diri dari kursi yang berpasangan dengan meja belajarnya. Dan segera melangkahkan kaki ke sisi ranjang kecil. Tempat tidur sehari-harinya. Tempat tidur yang setia dengannya, tidak mengejeknya dalam situasi apapun.

Suasana pagi adalah yang paling indah—ah, sepertinya bukan. Tatkala kaki jenjangnya berjalan lebih dekat ke sekolah, semakin dekat pula ejekan-ejekan dan cemoohan itu akan menyambar lalu menembus telinganya.

Sampai kapan ia akan seperti ini?

Ia tak tau itu kapan, tapi, jika dia benar-benar diberkati, semoga saja segera berakhir.

Suara ketukan sepatu yang ia kenakan seakan membuatnya percaya diri. Ia mampu melewati gerbang yang terbuka di hadapannya. Gerbang sekolah yang membawanya kepada orang-orang yang tak menyukainya.

Ah.

Ia rasa tidak. Tidak semua orang membencinya.

Tatkala mata emerald itu menangkap sosok sang berambut kuning. Dunia berhenti rasanya. Sekejap. Dalam sekejap, entah kenapa hatinya diberi secercah warna yang beragam. Warna yang sangat cerah dan membuka harapan yang sangat lebar. Memorinya memutar ulang sebuah ingatan yang tak mungkin ia lupakan.

Ingatan itu memutar. Bagai adegan film yang telah tersimpan abadi dalam pikirannya. Dan selalu muncul tatkala ia melihat orang itu.

Tanpa sadar kakinya berhenti. Ia berasa seperti nafasnya tercekat. Warna pipi yang berorisinil putih itu mendadak saja sedikit memerah. Semakin lama-semakin jelas. Diikuti oleh jantungnya yang dua kali berdegup kencang. Ia seakan dapat merasakan bahwa aliran darahnya benar-benar melesat sangat cepat beredar ke seluruh tubuhnya.

Namun dibalik semua itu, mengapa perasaan Karin merasa senang? Sangat bahagia? Ada apa dengannya?

Dan dibalik semua itu, kapan ia terakhir kali ia perasaannya menjadi sesenang ini? Setenang ini? Sebahagia ini?

Saat bibirnya tersentuh oleh jemari putih dengan kukunya yang bersih dan terpotong rapi. Karin berpikir, bahwa jari yang membersihkan noda pada ujung bibirnya bukanlah seperti tisu yang biasa ia pakai sehabis memakan roti belut. Ini lebih seperti hal yang lebih lembut. Hal yang mendorongnya seakan-akan memiliki alasan lain untuk hidup.

Terkesiap.

Angin musim semi yang kencang. Rok pendek yang ia pakai hampir saja berterbangan liar mengikuti arah angin berhembus. Dan refkleks ia buru-buru menutup roknya agar tidak berterbangan lebih tinggi lagi, sampai angin itu berhenti. Membuat Karin sadar dari lamuannya. Ah, apa yang ia lamunkan tadi? Ia sampai mengabaikan anggapan orang-orang yang melihatnya sedari tadi.

Dan, Kazune pun telah hilang dari pandangannya. Orang yang menjadi obyek dari lamuannya tadi.

Tak peduli. Karin cepat-cepat menghentakkan kedua kakinya menuju kelas. Pemandangan pagi ini sungguh biasa-biasa saja. Sama seperti hari-hari kemarin. Pertama-tama melewati beberapa kelas, lalu menaiki sebuah tangga, berbelok kanan ketika sudah mendapati dua lorong koridor yang berlawanan arah, terakhir temukan kelas yang berada pada urutan ketiga. Para gadis bergerombol dan bergosip di sepanjang koridor. Ataupun kaum laki-laki yang kerap kali menggoda gadis cantik di pagi hari—godaan yang lebih terdengar layaknya bisikan setan di telinga Karin. Setelah ia membuka pintu kelas ia akan bersapa 'ohayou' dengan setengah hati—karena ia bukanlah orang yang populer di kelasnya sampai-sampai mendapatkan balasan baik dari sapaannya tersebut. Karin tahu, suasana dari awal sekolah sampai akhir sekolahnya, selalu seperti it—

" Rika...to... Kazune-kun?"

Baik. Kali ini bukanlah sapaan 'ohayou' yang terlontar dari mulutnya ketika ia membuka pintu dari ruang kelas tersebut. Ini berbeda dari biasanya.

Ia kali ini adalah sebuah patung yang tak bisa bergerak sesentipun.

Kazune berdiri tegap dan kepalanya menunduk menatap Rika dengan kedua matanya yang melebar. Sementara Rika, ia sekejap melirik ke arah Karin lalu menatap lurus-lurus ke manik biru Kazune lagi. Wajahnya penuh nafsu seolah ingin menggapai bibir Kazune. Tidak. Ia memang ingin menggapai bibir Kazune.

Apa yang sedang terjadi? Apa yang sedang dipikirkan oleh kono yaro?!

Karin merasa seperti patung yang hampa. Seperti kepompong yang sudah ditinggal pemiliknya yang telah menjadi kupu-kupu. Sejenak, ia memiliki pemikiran bahwa adegan yang terjadi kemarin hanyalah sebuah mimpi. Mimpi yang terasa nyata sekali—oke, apakah kali ini ia cukup bingung untuk membedakan antara mimpi dan kenyataan?

Keningnya berkerut dan matanya terlihat tidak ramah melihat mereka berdua.

Karin dengan setengah hati masuk ke dalam kelas dan membuang tasnya secara acak, yang terpenting tas tersebut akan mendarat di sekitar daerah meja yang biasa ia duduki. Ia tak peduli bagaimana kondisi tasnya nanti. Yang bisa Karin lakukan saat ini hanyalah tidak sedikitpun melirik ke arah Kazune dan Rika. Menunduk dan menuntun kakinya ke luar kelas adalah prioritas pertamanya.

Gelisah, air matanya turun, mengucur dengan derasnya seperti air bah yang tanggulnya roboh.

Mengapa ia menangis? Kenapa perasaannya sangat sakit? Kenapa ia kebenciannya terhadap si sialan Rika itu semakin menjadi?

Bahkan larangan bahwa tak boleh berlari di koridor kelas ia langgar. Ia tak peduli. Matanya sudah buta karena adegan tadi. Ia tak bisa melihat apa-apa lagi. Perasaannya juga sudah sangat buntu. Dirinya sudah di ujung tanduk.

Rugi sekali ia memikirkan Kazune sedari kemarin, jika akhirnya seperti ini.

Dan sekarang, kemana ia berlari?

Taman belakang sekolah? Cepat sekali...

Bahkan Karin lupa akan kenyataan yang baru saja ia hadapi. Terakhir kali hal yang ia ingat hanya Rika dan Kazune. Berani-beraninya mereka melakukan hal seperti itu di pagi hari.

Semakin ia mengingatnya, Karin seolah terjun semakin dalam. Ia terjatuh. Ke dalam jurang gelap tak berdasar. Dimana ia sudah tak bisa bernapas. Pipinya terasa sangat lembab. Sudah berapa banyak ia membuang-buang air matanya? Mengapa air matanya selalu saja keluar tanpa ia minta. Ia hapus lagi. Keluar lagi. Hapus. Keluar lagi.

"Kazune-kun..."

Kali ini memori otaknya menggabungkan dua peristiwa sekaligus. Jika ia melebihkan terhadap kejadian kemarin, perasaannya menenang dan ia dapat merasakan bahwa kristal cair di pengujungnya berhenti begitu saja mengalir saat itu juga. Dan refleks, jari telunjuknya mengelus bagian bibir yang Kazune sentuh kemarin. Rona merah bermunculan lagi

Namun, tatkala Karin melebihkan kepada peristiwa yang tadi. Perasaannya seakan retak. Dihancurkan oleh batu yang sangat besar. Batu besar yang menimpa perasaan rapuhnya. Menjadi kepingan yang sangatlah kecil, seperti pasir pantai. Sangatlah rumit untuk menemukan perekat agar pecahan kecil itu dapat tersusun kembali. Air mata yang sempat tertahan tadi, kembali tumpah. Ia juga tak tahu cara membenahi tanggul air matany.

Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya? Kenapa ada laki-laki yang benar-benar mengganggu pikirannya sampai seperti ini? Kenapa di balik tangisannya, selalu saja ada Rika, si sialan yang sangat ia benci?

Sudahlah. Ia sudah lelah beradu argumen seperti ini. Argumen apapun yang hatinya katakan, selalu saja dijawab dengan jawaban buntu oleh akal logisnya. Karin tak memiliki teman untuk menyampaikan segala keluh kesalnya. Ia tak bisa menampung saran apapun jika seperti ini caranya.

Lalu, apa yang harusnya ia lakukan?

.

.

.

To be Continued XD #naak!

A/N:

Hana: Holla, minna-san! We're coming back! XDD

Ryu: maafkan Ryu karena lama banget buatnya.. :'

Kazune, Karin, Jin, Michi: *mengendap-ngendap untuk kabur*

Hana: *dark aura* Ka-zu-ne, Ka-rin, Mi-chi! Kalian yang harus balas review-nya!

All characters: *kabur*

Hana: hahh.. Awas saja nanti mereka! *dark devil*

Ryu: yosh! Baiklah! Untuk 25, ini udah dilanjut. Arigatou gozaimasu sudah review. Mind to RnR again?

Hana: untuk Leanee, hahaha.. Ya, sekitar begitulah.. *glek* bukan berarti Hana itu yuri, ya.. Hana masih normal. Hana hanya ga suka sama sifat cowok yang suka php-in cewek itu.. Dan maafkan kami lama banget update-nya.. Arigatou sudah review, ne.. Mind to RnR again?

Ryu: inner: kupikir Hana-nee itu yuri.. #glek. Untuk edogawa conan, arigatou sudah review. Dan arigatou udah nyemangatin Hana-nee dan Ryu. Mind to RnR again?

Hana: untuk wp, ini udah dilanjut. Mind to RnR again?

Ryu: untuk dci, ini udah dilanjut. Mind to RnR again?

Hana: untuk , ya, bisa jadi seperti itu.. XD tapi, ini tetap romance, kok.. XD. Dan seperti yang udah pernah Hana bilang di Chat, ini bukan sepenuhnya kisah real life dari Hana. Yang real life sebenarnya itu, Hana di-bully gegara badan Hana yang kelebihan lemak ini.. -,-" dan itu kejadiannya waktu kecil. Namun, Hana masih ingat aja sama yang waktu kecil sampai sekarang. Dan, jadilah Hana ga suka sifat cowok yang seperti itu.. Kalau yang sedari pertama kali bertemu, bisa baca di FF Terima kasih dan selamat tinggal, namun beda character. Dan love at the first sight.. Ughh.. Hana ga suka dibilang perasaan Hana itu cinta.. Karena itu buat orang ga bakal bisa move on. Hana pengen move on! X'D #plaak! Yosh! Mind to RnR again?

Ryu: untuk guest, arigatou sudah review. Ini udah dilanjut. Mind to RnR again?

Hana: *glek-glek* untuk silent reader, maafin kami udah lama banget lanjutinnya.. Ini udah dilanjut.. Arigatou sudah review. Mind to RnR?

Ryu: yosh! Akhirnya kita sudah membalas semua review-nya! XD. Dan kelanjutan FF ini akan dilanjutkan oleh, Hana-nee! XD

Hana: baiklah.. *glek* Yosh! Arigatou sudah membaca dan me-review FF kami ini. XD

Hana dan Ryu: Yosh! Mind to Review again?