Mencari Soulmate

Santhy Agatha's story remake

Cast: Park Chanyeol – Byun Baekhyun

WARN! Genderswitch for Byun Baekhyun

Length: Two-Shoot

Genre: Genderswitch, Romance, Angst, Hurt/Comfort

Disclaimer: This story belongs to Santhy Agatha. I only remake this story with the other cast and change some words that need to be.

.

.

.


Bahwa sesuatu yang biasanya ada bisa menjadi berarti karena ketiadaannya.

Seperti kenanganku tentangmu yang kusyukuri ditengah-tengah mereka yang tak sempat mengenangmu waktu malam kelam membungkusku dalam pilu.

Dan kehadiranmu yang kuimpikan karena ketidakhadiranmu sampai matahari hampir terbit.

Belum cukupkah sepi dimataku membuatmu jatuh kasihan lalu muncul untuk memelukku, wahai kau yang seharusnya membuat jiwaku terlengkapi?

Belum cukupkah keputusasaanku mencarimu membuat hilangmu berhenti, lalu kau datang dan tak lagi pergi?

Membuatku tak terbunuh lelah mencari pasangan jiwaku.


CHAPTER 1


Dalam malam yang kelabu, Baekhyun dan Chanyeol sama-sama menunggu di sudut yang saling membelakangi. Mereka terpisah, meski tak sadar, dihujam perasaan yang menggilakan. "Baekhyun… berhentilah mencari, mulailah menunggu, biar aku yang akan menemukanmu." Demikian sebuah pesan sederhana, tersampaikan lewat jalinan sendu.

"Chanyeol, cepatlah berkata… Jangan terlalu lama…"


"Baekhyun! Kau harus mendengar penjelasan kami! Penjelasan dari Chanyeol!" Yifan mencekal tangan Baekhyun, menghentikan langkahnya.

Baekhyun mencoba meronta, tetapi cengkraman tangan Yifan di lengannya terlalu kuat, terlalu kencang hingga akhirnya dia menyerah dan menatap tajam kea rah Yifan, penuh air mata.

"Penjelasan apa lagi yang harus aku dengar?!" teriaknya marah. "Aku sudah mendengar semuanya, dari awal sampai akhir, bahwa kalian berkonspirasi agar aku berhenti mencari soulmateku, bahwa kalian bersandiwara dengan lelucon soulmate palsu ini?!"

"Tidak palsu, kau tahu aku sungguh-sungguh mencintaimu…"

"Dan yang paling menyakitkan, Chanyeol yang melakukannya padaku! Chanyeol yang kupercaya! Satu-satunya orang yang kubagikan cerita mengenai impianku tentang sosok soulmate yang kuinginkan… Kalian pasti mentertawakan impianku itu bersama di belakangku bukan?!" Baekhyun melanjutkan kemarahannya, seolah-olah tidak mendengar kalimat Yifan sebelumnya.

Yifan terpekur.

"Kau tahu Chanyeol tidak begitu, kau yang paling tahu," gumamnya ngilu, menyadari kenyataan bahwa Baekhyun sama sekali tidak membutuhkan penjelasan tentang cinta Yifan padanya, yang menyakiti Baekhyun adalah sesuatu yang dikiranya sebagai pengkhianatan Chanyeol.

Yifan mengeluh dalam hati, kenapa dulu dia dengan bodohnya menerjunkan diri ke tengah-tengah kerumitan hubungan dua insan ini?

"Lepaskan tanganku, aku sudah tidak ingin mendengar apa-apa lagi! Kalian berdua sama-sama kejam! Aku tidak mau bertemu dengan kalian lagi!" Dengan marah Baekhyun berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Yifan.

"Baekhyun, Chanyeol sakit!" Yifan mendesah, dia sudah melanggar sumpahnya pada Chanyeol, sumpah untuk tidak pernah melontarkan kebenaran itu ke depan Baekhyun.

Rontaan Baekhyun terhenti, terpana. "Sakit?" Ketika kesadaran itu merasuk ke dalam pikirannya, dadanya langsung terasa nyeri. "Sakit apa?"

Bayu terdiam.

Keheningan yang menyiksa membuat ketakutan mendera seluruh jiwa Baekhyun, dicengkramnya tangan Yifan yang masih mencengkram tangannya.

"Saki tapa Yifan?!"

"Dia terkena kanker pankreas…"

"Apa?!"

Yifan terdiam, luluh lantak. Tapi Baekhyun tidak membutuhkan jawaban, dia tahu, dia tahu.

Seharusnya dia menyadarinya sejak awal, perubahan-perubahan kecil pada diri Chanyeol yang tak pernah diperhatikannya. Lelaki itu akhir-akhir ini jarang makan di depannya, dia selalu membatalkan acara makan malam bersama yang biasanya menjadi acara tetap mereka dengan berbagai alasan, dan kebiasaan baru Chanyeol, selalu terlihat kelelahan dan gampang tertidur.

Bagaimana mungkin dia tidak peka? Bagaimana mungkin dia tidak menyadarinya? Dia selalu melihat senyum ceria Chanyeol yang tidak ada habisnya, dan dia menganggap semuanya baik-baik saja, sahabat macam apa dia?

"Bagaimana mungkin aku tidak tahu?" Baekhyun berseru pedih.

Yifan menggenggam tagan Baekhyun sedih. "Jangan menyalahkan dirimu, Chanyeol bertekad merahasiakannya sampai akhir, dia selalu berusaha ceria di depanmu, berjuang keras agar jangan sampai kau menyadarinya… Dia bahkan meminta resep obat penahan rasa sakit dosis tinggi agar bisa tetap tersenyum di dekatmu."

Air mata mengalir deras di pipi Baekhyun. "Kapan dia mengetahuinya?"

"Hampir satu tahun lalu."

"Apakah… parah?" Secercah harapan muncul di hati Baekhyun, kemajuan jaman sudah bisa membuat orang mengatasi penyakit kanker bukan? Banyak penderita kanker yang bisa bertahan bahkan sembuh sepenuhnya. Kalau kanker yang di derita Chanyeol masih stadium awal, bukankah masih ada kemungkinan Chanyeol sembuh?

Yifan mendesah pelan. "Kanker pankreas bisa sangat ganas Baekhyun. Banyak penderitanya meninggal dalam kurun waktu setahun setelah didiagnosis. Hanya sedikit, kurang dari empat persen yang mampu bertahan hidup sampai lima tahun setelah didiagnosis."

"Tidak… tidak…" Baekhyun berusaha menyangkal kenyataan itu.

"Kami sudah berusaha sebisanya Baekhyun, semua obat dan metode pengobatan terbaru sudah kami coba padanya, tapi kankernya sudah stadium akhir. Kanker pankreas terkenal tidak pernah memberikan gejala awal, sudah terlambat ketika kami mengetahuinya."

"Apakah maksudmu… Maksudmu…" Baekhyun tidak berani melanjutkan kata-katanya, meskipun pikirannya meneriakkan ketakutannya.

"Chanyeol sekarat Baekhyun," Yifan menyelesaikan kalimat Baekhyun dengan pedih, lalu spontan dipeluknya Baekhyun erat-erat.

Baekhyun yang dihantam oleh kenyataan yang sangat menyakitkan itu hanya terdiam lunglai di pelukan Yifan. Bahkan air matanya tidak dapat mengalir keluar, dia terlalu luluh lantak untuk menangis.

Pada saat yang sama Chanyeol melangkah ke arah taman, kedua orang itu berpelukan. Chanyeol tertegun. Rasa nyeri yang amat sangat menusuk hatinya. Tapi dia harus bisa menahannya.

Bukankah ini yang dia mau?


Yifan mengajak Baekhyun kembali ke rumah Chanyeol, tapi begitu berada di sana, rumah Chanyeol sepi dan pintu kamarnya tertutup.

"Chanyeol?" Yifan mengetuk kamar Chanyeol pelan.

Tidak ada jawaban.

"Mungkin dia kelelahan, akhir-akhir ini kondisinya menurun, jadi gampang kelelahan. Kita biarkan saja dia beristirahat ya?"

"Aku ingin menemuinya?" Baekhyun bersikeras.

"Baekhyun, mungkin dia sudah tidur di dalam sana, kau bisa menemuinya besok."

"Chanyeol? Kau masih bangun? Chanyeol? Aku ingin bicara." Dengan keras kepala Baekhyun mengetuk pintu kamar Chanyeol. Tapi tetap saja hening dan tidak ada jawaban. Baekhyun mendesah.

"Ayo, kita biarkan dia beristirahat." Dengan lembut Yifan menghela Baekhyun ke ruang tamu. "Aku akan menceritakan padamu semuanya, dari awal sampai akhir."


"Kenapa kau baru memeriksakan dirimu sekarang?" YIfan mencengkram pena di tangannya dengan frustrasi, di depannya terdapat hasil tes Chanyeol, positif kanker pankreas stadium empat.

"Aku selalu merasakan sakit bagai ditusuk di ulu hati, tapi aku tidak pernah menganggapnya serius, tapi akhir-akhir ini makin lama makin sering, aku tidak pernah menduga…" suara Chanyeol tertelan tenggorokan.

Yifan menatap Chanyeol yang tampak pucat pasi, sudah sewajarnya. Siapa yang tidak akan shock mendapati dirinya mengidap kanker stadium empat dengan harapan hidup yang sangat tipis?

"Apakah… Apakah aku sekarat?"

Yifan tersentak mendengar pertanyaan itu, cepat-cepat menyanggah. "Bicara apa kau? Tentu saja kami akan mengusahakan yang terbaik untukmu! Jangan berpikiran seperti itu dulu…"

"Yifan, aku tidak bodoh, jawab aku, berapa persen kemungkinan penderita dengan keparahan seperti ini aku hidup?"

Empat persen. Angka itu langsung muncul di benak Yifan. Harapan hidup untuk penderita kanker pankreas stadium akhir cuma empat persen. Tapi kata-kata itu tercekat di tenggorokannya. Bagaimana mungkin dia mengatakan kepada Chanyeol bahwa harapan hidupnya hanya empat persen?

Chanyeol menatap Yifan tajam, lalu tiba-tiba dia mengerti.

"Aku tidak akan hidup lama." Itu pernyataan bukan pertanyaan.

Yifan mengalihkan pandangannya perih, dia tidak bisa membantah.

"Aku sendiri yang akan mengusahakan agar kau bisa bertahan Chanyeol, aku bersumpah!"

Dengan ketenangan yang nyaris menakutkan, Chanyeol tersenyum.

"Aku tahu kau akan berbuat begitu demi aku," tiba-tiba tatapannya berubah sendu. "Biasanya, orang-orang yang sekarat punya permintaan terakhir."

"Jangan mengulang-ulang kata 'sekarat' itu terus!" sela Yifan tajam.

Chanyeol tersenyum. "Kalau aku punya sedikit permintaan untukmu, mungkin permintaanku satu-satunya, dan cukup egois, maukah kau mengabulkannya untukku?"

"Pasti, apapun itu."

Chanyeol tersenyum lagi mendengar ketegasan jawaban Yifan. Matanya menerawang, ke sosok mungil yang telah menjajah hatinya tanpa permisi. Berdiam disana dan tak mau pergi.

"Aku mencintai seorang perempuan."

Yifan mengangkat alisnya, mau tak mau bertanya-tanya. Perempuan yang mana lagi? Chanyeol selalu berganti-ganti kekasih sesuka hatinya, mungkinkah diantara sekian banyaknya perempuan yang dicampakkannya ada salah satu yang berhasil menyentuh hatinya?

"Bukan salah sati dari antara kekasihku," Chanyeol bisa membaca pertanyaan di mata Yifan. "Dan jauh berbeda dari tipe mereka, dia gadis biasa, sederhana, tapi memandang dunia dengan cara yang luar biasa."

Siapa? Yifan bertanya-tanya, mereka sangat akrab sejak kecil karena kedua orang tua mereka sama-sama sibuk. Tetapi Chanyeol sama sekali tidak pernah menyebut-nyebut tentang perempuan yang satu ini.

"Dia mempunyai kepercayaan yang sangat unik, dia percaya ada soulmate yang diciptakan Tuhan khusus untuknya di suatu tempat. Dia menghabiskan seluruh waktunya untuk mencari dan mencari soulmatenya itu. Kadang aku tersenyum sendiri melihat kegigihannya, tapi kadang aku merasa lelah."

"Apakah dia mencari sosok lelaki sempurna?"

Chanyeol tersenyum sedih. "Kalau dia mencari sosok lelaki sempurna, dia pasti sudah jatuh cinta kepadaku, kurang apa aku? Aku sudah memberikan seluruh pesonaku padanya, kekayaanku, penampilan fisikku, kebaikan hatiku, kerianganku… Tapi dia tidak pernah terusik."

"Tidak mungkin ada perempuan yang tahan ketika kau sudah bertekad memancarkan seluruh pesonamu," Yifan tercenung, perempuan seperti apakah ini? Rasa ingin tahunya terusik.

"Tidak, aku sudah berusaha meraih hatinya, dan ketika aku sadar dia tidak tersentuh oleh perasaanku, aku mencoba untuk menjadi sosok yang paling dekat dengannya, menjadi sahabatnya," Chanyeol mendesah lalu tersenyum miris. "Menyedihkan bukan?"

Yifan tidak bisa menjawab.

"Aku berpura-pura menjadi sahabat baiknya, hanya agar bisa berada di dekatnya. Dan kekasihku yang berganti-ganti itu hanyalah salah satu upaya putus asaku untuk memancing setitik rasa cemburunya."

"Apakah berhasil?"

"Berhasil?" Chanyeol tertawa. "Dia selalu menanggapi kisah-kisahku dengan para kekasihku tanpa setitikpun rasa cemburu."

"Perempuan langka."

"Perempuan langka," Chanyeol menyetujui. "Baru saja kemarin aku memperoleh kemajuan, dengan santai tetapi sengaja, aku menyandarkan kepala di bahunya dan pipinya memerah," Chanyeol tersenyum, mengenang, tetapi hatinya kemudian berseru pedih. Baru saja kemarin dia bertekad untuk merebut hati Baekhyun, membuat perempuan itu mencintainya, membuat perempuan itu percaya bahwa Chanyeol lah soulmate yang diciptakan untuknya.

"Lalu bantuan apa yang kau inginkan dariku?" tanya Yifan datar.

"Aku ingin kau menjadi soulmate yang selama ini dicarinya."

"Apa?!" Yifan setengah berdiri dari duduknya. "Kau sudah gila apa?!"

"Aku ingin kau menjadi soulmate yang selama ini diimpikannya," Chanyeol mengulang, mantap.

"Aku tidak mau. Permintaanmu di luar nalar!"

"Kau bilang kau akan mengabulkan permintaan sepupumu yang sedang sekarat ini."

"Chanyeol!" Yifan menggumam tajam, tidak suka dengan perkataan Chanyeol barusan.

"Kau sudah berjanji," Chanyeol tidak mau menyerah, mencoba mengusik rasa bersalah Yifan.

"Aku tidak menyangka permintaanmu akan sekonyol ini."

"Apakah perlu aku memohon?"

Yifan menggeleng-gelengkan kepala putus asa. "Dia perempuan yang kau cintai, bagaimana mungkin aku bisa berjuang agar aku bisa menjadi soulmatenya? Kau pikir aku sejahat itu padamu? Kalau kau memang mencintainya, kenapa bukan kau yang berjuang menjadi soulmatenya?!"

"Aku tidak bisa," suara Chanyeol pilu, menahan kepedihan yang tak tertahankan. "Dia meyakini soulmatenya pada akhirnya akan dipertemukan Tuhan untuk menemaninya selama sisa hidupnya, sedangkan aku, mungkin tahun depan aku sudah mati! Bagaimana mungkin aku tega melakukan itu kepadanya?"

"Lalu aku? Bagaimana mungkin aku tega melakukan itu padamu?!" Yifan mendesah, frustrasi.

"Aku ingin meninggalkannya dengan tenang, kalau ada kau yang menjaganya, aku bisa pergi dengan tenang."

Yifan meremas rambutnya putus asa.

"Dia belum tentu menyukaiku," gumamnya, mulai menyerah untuk memenuhi permintaan Chanyeol.

"Aku akan membuatmu bisa disukai olehnya."

"Kalau begitu kita mencuranginya, kalau dia tahu dia akan membenci kita berdua."

"Dia tidak akan tahu."

Yifan mendesah dengan kekeraskepalaan Chanyeol. "Baiklah, aku akan mencoba."

Senyum Chanyeol langsung merekah.

"Tunggu dulu, aku bilang aku akan mencoba, aku tidak bilang akan melakukannya. Aku bersedia menemui perempuan itu, tapi lanjut atau tidaknya kita lihat saja nanti. Kalau aku tidak sanggup untuk menyukainya, aku tidak mau berusaha menjadi soulmatenya!" Yifan menyatakan persyaratannya dengan tegas.

Chanyeol tersenyum, "Kau akan mencintainya, aku yakin."


Yifan terdiam setelah menyelasaikan ceritanya, menatap Baekhyun yang duduk di sofa sambil memeluk kedua lututnya.

"Dan dia benar, aku benar-benar mencintaimu."

Mata Baekhyun berkaca-kaca. "Maafkan aku." Baekhyun menutup mukanya dengan kedua tanganna. "Aku tidak bisa memikirkan masalah ini, pikiranku dipenuhi oleh Chanyeol."

Yifan mengernyit, perasaanya terusik.

Apakah Baekhyun jangan-jangan mencintai Chanyeol? Apakah jangan-jangan mereka berdua saling mencintai. Lalu sama-sama menunggu di sudut yang saling membelakangi. Mereka terpisah, meski tak sadar, dihujam perasaan yang menggilakan.


Pagi itu Baekhyun terbangun dengan kepala pening, tapi dia memaksakan diri. Dia harus berbicara dengan Chanyeol.

Baru saja dia selesai mandi dan berpakaian ketika ponselnya berdering.

"Baekhyun?" suara Yifan menyiratkan kecemasan yang membuat jantung Baekhyun serasa diremas.

Chanyeol!

"Chanyeol tidak apa-apa?"

"Pagi tadi kondisinya turun drastic, aku melarikannya ke rumah sakit, kondisinya kritis Baekhyun!"

Ponsel itu terbanting tanpa sempat diakhiri panggilannya, Baekhyun menghambur ke rumah sakit.

Dengan setengah berlari Baekhyun melangkah di koridor menuju ke ruang perawatan Chanyeol. Setiap langkah jantungnya serasa makin sakit, makin nyeri, nafasnya makin sesak.

Jangan Tuhan! Jangan sampai terjadi apa-apa pada Chanyeol, buat dia baik-baik saja! Aku mohon, aku mohon…

Baekhyun memegang dadanya yang makin terasa nyeri.

Yifan berdiri di depan pintu ruang ICU, masih mengenakan jas putihnya, menunggunya.

"Bagaimana kondisi Chanyeol?" nafasnya terengah.

Yifan menyentuh lengan Baekhyun menenangkan. "Masa kritisnya sudah lewat, dia sudah sadar, apakah kau ingin menemuinya?" tanyanya lembut.

"Aku mau," Baekhyun merasa lega bukan kepalang, Tuhan masih memberinya kesempatan. Dadanya berdegup kencang lagi. Kali ini penuh dengan ketidaksabaran untuk menemui Chanyeol.

Bahwa sesuatu yang biasanya ada bisa menjadi berarti karena ketiadannya. Seperti kehadiranmu yang kuimpikan karena ketidakhadiranmu sampai matahari hampir terbit.


Saat itu hujan turun dengan derasnya di pagi yang berselubung awan gelap, air gemericik menetes-netes di luar jendela. Chanyeol setengah duduk di ranjang, punggungnya disangga bantal supaya nyaman. Begitu tenang, hampir tidak ada emosi di wajahnya.

"Chanyeol?" Baekhyun bergumam hati-hati, melangkah memasuki kamar perawatan.

Chanyeol yang semula memandang menerawang menatap hujan ke jendela luar menolehkan kepalanya dan tersenyum lembut. "Maaf membuatmu cemas, biasanya serangannya tidak separah ini."

"Chanyeol!" air mata mengalir deras di mata Baekhyun, tanpa dapat menahan perasaannya, dia menghambur ke pelukan Chanyeol yang langsung merentangkan tangan, membalas pelukannya.

"Hei… hei… kenapa? Jangan menangis Baekhyun," Chanyeol memeluk Baekhyun erat-erat, menepuk-nepuk punggungnya dengan penuh rasa sayang.

Hati Baekhyun semakin perih ketika merasakan tubuh Chanyeol dalam pelukannya, kenapa dia tidak menyadarinya? Chanyeol begitu kurus, tubuhnya begitu ringkih, dan selama ini Chanyeol menanggung kesakitannya sendirian.

"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?"

"Aku tidak ingin kau sedih." Jawaban yang sederhana. Tetapi begitu menyentuh hati.

"Aku lebih sedih kalau mengetahuinya belakangan, kau tahu? Seharusnya kau tidak menanggung semuanya sendirian, seharusnya aku ada untuk berbagi beban ini bersamamu," Baekhyun mendongak dan menatap Chanyeol yang masih memeluknya, tiba-tiba merasa cemas. "Apakah kau lelah?"

Chanyeol tampak begitu pucat, Yifan sudah memperingatkannya untuk tidak membuat Chanyeol kelelahan karena kondisinya masih sangat lemah.

"Tidak," dan itu adalah jawaban jujur, Chanyeol tidak merasa lelah, dia terlalu bahagia untuk merasa lelah. Dengan Baekhyun di pelukannya dia merasa kuat. Seolah-olah mereka begitu lengkap, begitu sempurna, hanya berdua, dan seluruh dunia hanyalah ruang dan waktu yang tidak berarti.

"Aku tidak boleh membuatmu kelelahan."

"Kau tidak membuatku lelah, kumohon jangan pergi," Chanyeol mempererat pelukannya seolah-olah takut ditinggalkan. "Temani aku melihat hujan, karena hujan terasa menyedihkan kalau dinikmati sendirian."

Baekhyun tersenyum menyadari Chanyeol mengutip kata-kata yang pernah dia ucapkan dulu. "Aku ada di sini bersamamu." Jawaban yang sama, hanya kali ini Baekhyun yang mengucapkannya. Chanyeol juga menyadari kalau Baekhyun menirukan jawabannya dulu.

Chanyeol tersenyum, lalu menggeser tubuhnya supaya posisi Baekhyun lebih nyaman berbaring di sebelahnya. "Tidak apa-apa kalau aku ikut berbaring di sini?"

"Sepupuku dokter utama, pemilik saham terbesar di rumah sakit ini, siapa yang berani mengusik kita?" Chanyeol bergumam setengah tertawa. Baekhyun juga tertawa.

Setelah itu mereka terdiam, berbaring bersama, berpelukan dalam keheningan. Hanya suara derasnya air hujan dan tetesan air yang menjadi musik kebersamaan mereka, melingkupi mereka dalam suasana yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Chanyeol memejamkan mata menikmati kebersamaan itu, menikmati kehangatan tubuh Baekhyun di dalam pelukannya.

"Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku Baekhyun."

Akhirnya, kata-kata itu terucapkan, pengakuan yang selama ini tertahan dalam tatapan sendu dan desahan pilu itu kini terucapkan.

Baekhyun memejamkan mata, meresapi kata-kata Chanyeol, menyimpanya dalam hati, untuk dikenang suatu saat nanti jika dia terbalut sepi.

Bahwa ada Chanyeol yang mencintainya sepenuh hati. Apapun yang akan terjadi nanti.

"Apakah kau akan menanggapi keluh kesahku dengan pertanyaan 'kenapa'?"

"Tidak, aku akan diam saja dan mendengarkan."

"Apakah kau akan menghargai semua pilihan-pilihanku, meskipun kadang pilihan kita berbeda?"

"Aku berjanji."

"Apakah kau mau mengerti bahwa yang kuinginkan hanyalah kau ada? Tanpa perlu kata-kata, tanpa perlu rencana apa-apa… Hanya ada, dan tidak berprasangka?"

Chanyeol mengetatkan pelukannya, setitik air bening mengalir di sudut matanya.

"Kau tahu aku selalu ada, aku ingin selalu ada," suara Chanyeol bergetar, ada air mata di dalamnya.

Dan hati Baekhyun bagai diiris sembilu, Chanyeol nya menangis, Chanyeol nya, sang pencerahnya yang selalu ceria dan membawa tawa sebagai bagian hidupnya, menangis.

"Kalau begitu, pencarianku berhenti," suara Baekhyun terdengar mantap. "Aku sudah menemukan soulmateku," Baekhyun menahan isak yang menyesakkan dada.

Chanyeol memeluk Baekhyun erat-erat, menyembunyikan air matanya di rambut Baekhyun.

"Aku ingin hidup," serunya dalam kepedihan. "Aku ingin hidup dan menggemgam tanganmu sampai berpuluh-puluh tahun ke depan, aku ingin hidup dan menjadi tua bersamamu," tangisnya meledak, bahunya berguncang oleh isak yang dalam.

Putus asa karena teriris, merasakan tangis Chanyeol, Baekhyun mengusap punggung Chanyeol lembut.

"Jangan menangis, jangan menangis Chanyeol, kau akan selalu bersamaku, aku bersumpah," tapi air mata mengalir deras di pipi Baekhyun, tak tertahankan.

Dalam tangis yang dalam, Baekhyun dan Chanyeol berpelukan di ruang yang sama diiringi derasnya hujan yang membentuk harmoni temaram. Mereka teriris meski tak salah, dikutuk oleh perasaan yang indah.

Di depan pintu kamar perawatan yang sedikit terbuka, Yifan yang sejak tadi berdiri di sana, mengusap air yang menetes di sudut matanya. Mungkin baru dia seorang yang merasakan kebahagiaan ketika patah hati menderanya.

Akhirnya kau temukan soulmatemu Baekhyun, akhirnya kau menemukannya…


Tengah malam, kondisi Chanyeol menurun drastic, Yifan menggunakan seluruh pengaruh yang dimilikinya agar Baekhyun bisa hadir di dalam ruangan ICU itu pada saat dokter memberikan penanganan. Tim dokter tampak berjuang keras, dan Baekhyun yang berdiri dalam jubbah ICU hijau berdiri di pojok ruangan, berdoa. Teriakan Chanyeol yang mengiris ketika kesakita menderanya seolah-olah melukainya juga.

"Obat penahan sakitnya sudah tidak bereaksi."

"Tahan, berikan insulin dulu."

"Berapa denyut nadinya?"

"Dokter, penahan sakitnya tidak bereaksi, pasien kesakitan."

Suara-suara tim dokter dan perawat yang berjuang bersama Chanyeol seperti hantaman silih berganti yang mendera Baekhyun sedikit demi sedikit.

Sampai akhirnya dia sadar, saatnya sudah tiba.

Tim dokter sudah berusaha sekuat tenaga. Tapi mereka tahu kapan harus menyerah. Yifan tahu ini saatnya pasien harus bersama dengan orang yang berarti untuknya.

Yifan melepas maskernya dengan letih, dia lelaki yang tegar, tetapi sekarang yang ada di depannya adalah saudara sepupunya yang sudah seperti saudara kandungnya sendiri, saudara yang sangat disayanginya. Bagaimana mungkin dia bisa tegar?

Dengan lembut dia menoleh kepada Baekhyun, memintanya mendekat. Baekhyun tampak pucat pasi, tapi dia harus kuat, dia harus menjadi kuat demi Chanyeol, agar pada saat Chanyeol harus pergi, dia akan pergi dengan keyakinan bahwa Baekhyun tadak apa-apa.

Mata Chanyeol tampak tidak begitu fokus akibat pengaruh obat penahan rasa sakit, tapi dia mengenali Baekhyun ketika melihatnya. Dengan isyarat dia menatap Baekhyun dan menggerak-gerakkan kepalanya.

"Kau ingin masker oksigenmu dibuka?"

Chanyeol mengangguk. Tim dokter yang masih menunggu membuka masker oksigen Chanyeol dengan hati-hati.

Baekhyun duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan Chanyeol, tangan itu begitu lemah, bahkan terlalu lemah untuk membalas genggamannya. Mulut Chanyeol bergerak, berbicara dengan pelan. Baekhyun mendekatkan telinganya ke bibir Chanyeol. Dengan suara lemah yang harus dikeluarkannya sekuat tenaga Chanyeol berbisik,

"Hiduplah… dengan… baha… gia…" suara Chanyeol menghilang di ujung kalimat hingga hampir tak terdengar.

Air mata mengalir deras di pipi Baekhyun. Tapi dia mengangguk penuh keyakinan, tangannya memeluk Chanyeol erat-erat.

"Aku berjanji."

Chanyeol tersenyum, lalu memejamkan matanya dengan bahagia.

Baekhyun bisa merasakan nafas yang melemah itu, merasakan detakan jantung yang menghilang, hingga akhirnya… Tak terdengar lagi.

Suara monitor kehidupan pun menggantung menjadi bunyi tak terputus, melepas kepergian Chanyeol, sang pencerah yang mencintai hujan. Belahan jiwanya yang telah pergi.

Sudah selesai, tidurlah dengan tenang, biar kau tidak merasakan sakit lagi, wahai belahan jiwaku.


"Kau baik-baik saja?" Yifan berdiri bersama Baekhyun di tengah kamar Chanyeol. Lelaki itu tampak sangat letih, sedih dan letih setelah melewati waktu yang berat, saat-saat pemakaman Chanyeol.

Baekhyun tidak tampak lebih baik, begitu pucat, rapuh dan kecil dalam gaun hitamnya hingga Yifan ingin memeluknya dan menopangnya.

Chanyeol meninggalkan seluruh miliknya dibagi untuk Baekhyun dan Yifan. Tapi saat ini Baekhyun belum mau menyentuhnya, semua dia berika kepada Yifan. Dan Yifan bersedia menerima dan mengelolanya, dengan syarat itu hanya titipan yang suatu saat harus Baekhyun terima.

Jika Baekhyun sudah siap.

Untuk sekarang, Baekhyun hanya ingin mengambil beberapa benda yang dimiliki Chanyeol, beberapa benda yang sering dipakai Chanyeol, sehingga Baekhyun punya sesuatu untuk dipeluk jika dia menangisi Chanyeol di malam hari.

"Dia ingin kau membawa laptopnya," Yifan mengingatkan, mengedikkan bahu pada laptop Chanyeol yang tergeletak di meja kerjanya.

Baekhyun berdiri di depan meja kerja Chanyeol, menelusuri laptop itu dengan jemarinya. Hening. Keduanya sibuk dengan kepedihannya masing-masing.

"Kau ingin sendirian di sini?" akhirnya Yifan bertanya.

Baekhyun mengangguk.

"Tidak apa-apa kau kutinggalkan sendirian?"

Baekhyun mengangguk lagi.

Tanpa suara, Yifan melangkah pergi, menutup pintu di belakangnya.

Baekhyun duduk di meja kerja Chanyeol, dan menyalakan laptop itu. Suara bip terdengar, dan gambar dirinyalah yang menjadi wallpaper laptop itu. Beserta sebuah tulisan yang langsung muncul di layar monitor.

Luka takkan kering, selamanya pasti ada, membekas di sana.

Aku memilih terluka, karena aku akan punya kenangan.

Ku pilih mengasihimu, karena aku mau.

Tak akan melupakan tentang kita, karena aku tak bisa.

Takkan ku sesali pernah mencintaimu.

Pun takkan ku maki air matamu.

Jangan sesali ketidakhadiranku.

Pun jangan sampai lemah karena kehilanganku.

Waktu terus berjalan.

Kemarin bukan lagi milik kita.

Dan hari esok belum tentu datang.

Jadi teruslah berjalan.

Hiduplah dengan bahagia, belahan jiwaku.

Cause the hardest part of this is leaving you…

Air mata mengalir lagi, deras, Baekhyun menenggelamkan kepalanya dalam pelukan lengannya di meja, bahunya berguncang menahan kesedihan, isakan yang tertahan di tenggorokannya keluar tanpa daya. Akhirnya Baekhyun tidak menahannya lagi, menangis sekeras-sekerasnya, menangis sekuat tenaga.

Biarkan aku menangisimu Chanyeol, menangisi waktu di masa lalu yang pernah kita habiskan bersama, menangisi waktu di masa akan datang yang seharusnya bisa kita habiskan bersama, setelah itu aku akan terus berjalan. Aku akan melanjutkan hidup dengan bahagia…


"Tidak ada yang ketinggalan?" Yifan melepas kacamata hitamnya dan menatap Baekhyun dalam.

Baekhyun tersenyum sambil merapikan roknya. "Semua sudah kubawa," termasuk laptop hitam yang sekarang ada dalam dekapannya, benda miliknya yang paling berharga.

"Hati-hati ya disana," suara Yifan mengalun lembut.

Dengan spontan Baekhyun memeluk Yifan erat, kemudian melepaskannya masih dengan tersenyum.

Hari itu, tepat sepuluh bulan setelah Chanyeol meninggalkan mereka, Baekhyun menerima tawaran pekerjaan di sebuah perusahaan kesehatan yang mengkhususkan diri di bidang penelitian penyakit kanker. Meski hanya sebagai bagian administrasi, setidaknya Baekhyun bisa menyumbangkan sedikit kemampuannya untuk membantu para pengidap kanker seperti Chanyeol.

"Terima kasih, Yifan."

"Hubungi aku kalau kau butuh apapun, kapan saja."

"Terima kasih Yifan."

"Kau terdengar seperti kaset yang rusak, mengulang-ulang kalimat yang sama," Yifan cemberut sehingga Baekhyun sedikit tertawa. Tawa yang sangat berharga bagi Yifan karena Baekhyun tidak pernah tertawa lepas sejak sepuluh bulan lalu.

Tiba-tiba Yifan meraih tangan Baekhyun dalam genggamannya, meremasnya, ragu. "Aku… Bolehkah aku… eh… Menunggumu?"

Dengan lembut Baekhyun membalas remasan tangan Yifan, kemudian menggeleng penuh penyesalan. "Jangan Yifan, aku tidak tahu sampai kapan kau harus menunggu. Kau harus menemukan soulmatemu sendiri, mungkin saat ini dia ada di suatu tempat, sedang mencari-carimu, atau mungkin dia sedang menunggumu, sedikit putus asa karena kau tak segera menjadi nyata."

Yifan sudah tahu akan mendapat jawaban seperti itu. karena itu dia tersenyum penuh rasa sayang. "Bagaimana dengan dirimu?"

"Aku sudah pernah menemukan soulmateku, sekarang tugasku adalah melanjutkan hidup dengan bahagia."

Suara panggilan kepada penumpang untuk segera memasuki gate pemberangkatan mulai terdengar. Baekhyun memegang sebelah pipi Yifan dengan tangannya yang lentik, lalu mengecup pipi Yifan. "Selamat tinggal Yifan, hiduplah dengan bahagia," bisiknya sebelum membalikkan badan dan melangkah pergi.

Ucapan selamat tinggal yang indah, dari si pemurung yang pada akhirnya bisa merasakan menemukan belahan jiwanya.


END


Hola im back ^^ thanks alot for the reviews before :) ini sudah tamaatt~

Btw, udah pada nonton live stage nya My Answer is You? Si cabe menghayati bangeeett kalo nyanyi T_T

Oiya, yang mau temenan sama aku di twitter di byunspark :)

For last, gamsahamnidaaa ^^