Previous Chapter.
"Oh hey Joonmyeon-sshi. Sudah lama kau disini?"
"Nde,"
"Kau ke toilet membawa buku?"
"Nde,"
"Geu***kki."
BLAM
Check this one out!
THAT XX Chapter 2
.
Langkah kaki itu seperti sengaja dihentak-hentakkan. Bola mata itu terlihat bergerak-gerak tak nyaman. Bibir merah itu nampak bergumam sesuatu. Jemari lentik itu sedang meremas-remas kemeja bawah seragamnya. Pikiran Suho kalut. Berbagai macam pikiran memenuhi ruang kosong diotaknya. Apalagi kalau bukan tentang Lay. Terlebih setelah mendengar obrolan menjijikkan ditoilet tadi. Sungguh, demi apa Suho ingin meludah ke wajah si br*ngsek itu. Oh Kris, tolong jangan memperjelas apa yang dipikirkan Suho waktu lalu akan menjadi kenyataan. Tentang dirimu yang mempermainkan Lay, dan Lay yang akan tersakiti.
.
****THAT XX****
.
Kyungsoo menaikkan resleting mantelnya, melingkarkan scraf dileher dan memakai topi hangatnya. Udara malam cukup dingin. Kalau bukan karena janji dengan Kai tadi siang, ia lebih memilih bergulung dalam selimut keroronya saat ini.
Namja manis bermata belo itu melangkahkan kaki menyusuri trotoar kota yang cukup ramai. Lampu kota dan lampu toko membuat malam hari dikota cantik Seoul semakan indah. Ia berdiri didepan sebuah taman. Mengedarkan pandangan ke sekeliling mencari sosok—Kai, dan tepat saat namja berkulit tan itu akan duduk disebuah bangku taman. Senyum manis Kyungsoo tersungging lebar dibibirnya. Itu berarti ia tak perlu harus menunggu lama.
"Kai-ah,"
Merasa dipanggil, Kai menoleh ke asal suara yang sangat ia kenal. Didapati sosok mungil nan manis tengah berlari kecil ke arahnya. Kai tersenyum.
"Kau datang tepat waktu sekali, hyung," ujar Kai seraya menyodorkan segelas cappucino yang ia beli di vending machine disudut jalan sana. Kyungsoo meraih cappucino yang masih mengepulkan asap itu.
"Kau juga tepat waktu," sahut Kyungsoo. Dengan cepat Kai menoleh, "Siapa bilang? Aku sudah disini sejak setengah jam lalu."
Kyungsoo berhenti menyeruput cappucinonya, "Jeongmal? Lalu apa yang kau laku—kan," kalimat Kyungsoo menggantung sejenak saat mata lebarnya menangkap dua sosok—yang salah satunya sangat ia kenal—tengah berjalan berangkulan dikeramaian. Kai yang penasaran mengikuti arah pandangan Kyungsoo dan tak kalah tercekatnya, "I-itu kan Kris sunbaenim?" tanya Kai. Ia menoleh pada Kyungsoo yang masih tercekat.
"Hyung!" Kai menyenggol lengan Kyungsoo hingga namja itu mengerjapkan matanya, "Eh? Ne. Itu Kris. Bersama siapa dia?" kini Kyungsoo berbalik menanyai Kai. Kai menoleh lagi ke arah Kris, "Mollayo. Tapi sepertinya aku pernah melihatnya," jawab Kai tanpa melepas pandangan dari sosok Kris. Begitu pula Kyungsoo.
"Kenapa mereka terlihat mesra? Oh maksudku, bukankah Kris sunbaenim sudah punya Lay sunbae?" dan pertanyaan Kai membuat Kyungsoo tersadar, "Jangan berpikiran aneh-aneh. Mungkin mereka saudara," kilah Kyungsoo mencoba menepis semua pikiran buruk yang mulai berputar diotaknya.
"Hyung, kau buta? Saudara bagaimana jika Kris sunbaenim membuat namja itu tersipu malu? Oh hyung, coba lihat!" Kai menepuk-nepuk paha Kyungsoo, "Namja itu mengecup pipi Kris sunbaenim. Hyung, itu pasti lebih dari sekedar saudara. Ya. Pasti!" seru Kai semangat.
Kyungsoo tak menjawab. Yang ada dipikirannya saat ini adalah Lay. Ia juga ingat ucapan Luhan yang mengaku mendengar obrolan Kris dengan teman-temannya. Hobae yang dimaksud pasti namja itu.
.
Lihat! Ada bakpao makan bakpao. Oh, bukan, itu Xiumin yang tengah memakan bakpao dan disebelahnya ada Chen menyeruput ramen dari cupnya.
"Chenchen, sebaiknya kita duduk. Tak baik makan sambil berdiri," tanpa menunggu persetujuan Chen, Xiumin menarik lengan namja itu menuju bangku pinggir jalan yang menghadap ke sebuah toko. Mereka kembali melanjutkan aktifitas tertunda masing-masing. Sampai mata Chen melihat sosok yang—juga—sangat ia kenal memasuki toko tersebut. Dan yang membuat Chen harus rela ramennya terhenti dimulut adalah sosok itu tak sendiri, dia didampingi orang lain—yang sebelumnya, menurut pemikiran Chen adalah Lay—tengah sibuk memilih-milih tas merk ternama disana. Chen bisa melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan dari luar kaca toko. Xiumin yang melihat pose tak elit Chen menyenggol lengan namja itu hingga dia tersadar dan segera menyeruput ramen, mengunyah, lalu menelannya.
"Minnie hyung, coba lihat. Itu benar Kris?" Chen menunjuk orang didalam toko. Xiumin mengikuti arah yang ditunjuk Chen, dan betapa bulat mata Xiumin saat ini, "N-ne, itu Kris. Kenapa tak bersama Lay?" sahut Xiumin, Chen menoleh, "Baru saja aku akan menanyakannya padamu hyung. Lalu siapa namja itu?" dengan slowmotion, Xiumin-Chen saling berpandangan dengan bibir membentuk huruf O.
Xiumin merogoh saku mantelnya. Mengeluarkan ponsel membuat satu alis Chen terangkat dan seketika matanya membulat saat Xiumin mengotak-atik contact list.
"Mau apa?"
"Menelfon Lay," sontak Chen harus merampas ponsel Xiumin.
"Minnie baozi hyung yang paling manis dan imut, kau gila? Lay bisa memusuhi kita," protes Chen. Xiumin nampak berfikir. Mengingat apa yang menimpa Luhan yang harus rela ditinggal Lay pindah bangku selama seminggu waktu lalu.
"Ne, aku lupa. Lalu apa kita harus diam saja?" tanyanya. Chen hanya mengedikkan bahu.
"Kurasa iya."
.
****THAT XX****
.
"Suho-ah,"
Kalau bukan karena suara itu yang memanggilnya, Suho tak akan menggubris dan memilih tetap diam memejamkan mata sambil menggenggam erat pegangan besi didepannya. Suho menoleh ke asal suara dimana kini Lay sedang melambaikan tangannya ceria.
"Hwaiting!"
Suho tak tahu harus membalas senyum manis dan lambaian itu atau tidak. Tubuhnya kaku, tangannya tak bisa lepas dari pegangan besi, bibirnya terus bergumam seolah memanjatkan doa. Hana, dul, set..
"KYAAAAAA!"
Hanya itu yang Suho dengar saat angin kencang menerpa wajah tampannya. Perlahan ia membuka mata dan betapa kebas dada dan perutnya saat ini. Berada di ketinggian sekian ribu kaki dan diputar-putar dengan kecepatan ekstrim oleh kereta gila ini mampu membuat wajah tampan Suho sedikit membiru pucat. Tangannya mendingin, dan dipastikan Lay yang ada dibawah sana sudah berteriak-teriak senang. Ya. Suho naik roller coaster karena paksaan dari Lay.
Jet..jet..jet..
Syukurlah benda gila ini sebentar lagi akan berhenti. Suho segera melepas sabuk pengaman dan kalau tidak ada orang yang baik hati membopongnya, pasti saat ini ia sudah tergeletak tak berdaya dibawah dengan tidak elitnya.
"Suho-ah, gwenchana?" pekikan Lay terdengar lagi digendang telingat Suho. Ia berjalan terhuyung mendekati Lay dan—
GREEP
—Lay mendekapnya. Sontak mata Suho terbuka lebar. Pening dikepala, mual diperut, mendadak berubah menjadi ribuan kupu-kupu terbang. Senang? Of course. Meski saat ini ia sedikit kurang sadar.
"Eh? Mianhae," Lay melepas dekapannya yang membuat Suho berbunga-bunga.
"Ne, nan gwenchana," ingin rasanya Suho bilang—'Bolehkah aku dipeluk lagi olehmu? Aku terlalu senang'. Jangan bercanda. Lay menyeret tangan Suho menuju bangku terdekat.
"Mianhae aku menuruhmu naik itu. Kalau aku punya keberanian lebih, pasti aku juga ikut naik. Sayangnya tidak, jadi aku sudah merasa senang melihat orang lain naik itu," jelas Lay penuh penyesalan. Meski di akhir kalimat ia sedikit terkekeh.
"Dan kau nyaris membuatku kehilangan detak jantung," sahut Suho. Lay semakin terkekeh, "Tapi untung saha kau tak mati, kan?"
Karena aku ingat dirimu dan terlebih saat kau menyambutku dengan pelukan. Hehe.
Suho terkekeh bodoh memikirkan apa yang baru saja batinnya ucapkan, membuat namja yang sibuk memakan gula kapas disebelahnya mengangkat satu alisnya.
"Wae?" Ehem, Suho membenahi jaket menyadari ke OOCannya tadi, "Aniyo," Lay ber-oh ria.
Hening. Lay sibuk menghabiskan gula kapasnya, sedangkan Suho sibuk melihat Lay memakan gula kapas.
"Suho-ah, kajja, kita berkeliling lagi,"
Huh, kukira kau akan menawariku gula kapas.
Lay bangkit, menarik tangan Suho dan membawanya berkeliling Lotte World.
"Annyeong, kalian pasangan yang serasi sekali. Yang satu tampan, yang satu cantik dan manis. Kalau berkenan, silahkan mencoba mesin photobox kami,"
Eh? Pasangan serasi? Tampan? Cantik? Suho-Lay saling berpandangan lalu terkekeh mendengar pernyataan namja yang menawarkan photobox itu. Tanpa babibu, Lay menarik Suho lagi masuk ke kamar photobox.
"Err.. Lay-ah, kau yakin?" Suho melihat keadaan sekitar. Cukup besar dan unik. Lay tampak memencet-mencet tombol didepannya.
"Wae?" tanya Lay singkat. Suho menggaruk tengkuknya yang Dae yakini tidak gatal dan itu hanya basa-basi, "Aku..aku.."
"Aha! Kajja berpose derp ala Kyungsoo," tiba-tiba Lay menyeret lengan Suho mendekat dan merangkul namja tampan itu.
Hana dul set!
Klik
Klik
Klik
Klik
Entah itu sudah yang ke berapa kali suara 'Klik' memenuhi ruangan diselingi tawa renyah dari dalam.
"Gamsahamnida. Kalian memang serasi. Semoga langgeng."
Baik Suho maupun Lay tak ada yang mengoreksi pernyataan asal namja itu lagi. Mereka hanya saling berpandangan.
"Ne, gamsahamnida," Suho membungkuk 90 derajat didepan namja itu dan pergi menyeret lengan Lay yang malah asik melihat hasil foto mereka.
Gamsahamnida telah mengatakan aku dan Lay pasangan yang serasi. Kuharap begitu.
Suhopun terkekeh kembali.
"Ya! Kalian darimana saja? Kami mencari kalian," sebuah bentakan membuat kekehan Suho musnah dan menoleh ke asal suara dimana Sehun-Luhan, Chen-Xiumin, Chanyeol-Baekhyun, dan Kai-Kyungsoo tengah menatap mereka dengan tatapan aneh.
"Apa?" seketika pertanyaan polos Suho itupun membuat bola mata mereka berputar serempak.
"Suho hyung, aku tahu kau sangat menginginkan Lay sunbae, tapi jangan melupakan kita dan malah kencan sendiri dengan Lay sunbae,"
DUAK
Bisikan polos Chanyeol membuat jantung Suho terhantam martial art Sungmin sunbaenim dan harus memberikan deathglarenya pada Chanyeol.
"Kyaaaa! Neomu kyeopta!" pekikan para uke disana menggagalkan Suho untuk melancarkan hardikannya pada Chanyeol. Ia menoleh dimana Luhan, Xiumin, Baekhyun dan Kyungsoo mengelilingi Lay dan merampas foto-foto ditangan Lay. Sedangkan Lay sendiri hanya menatap mereka dengan wajah super polos. Bolehkan Suho tertawa melihatnya? Tapi Suho malah ingin memeluk namja itu saking gemasnya.
"Sembunyikan ini dari Kris,"
DUAK
Dan lagi, jantung Suho menjadi sasaran martial art Sungmin sunbaenim mendengar pernyataan tiba-tiba Luhan. Sepertinya kali ini, Sungmin sunbaenim harus bekerja lebih ekstra karena harus menghantam jantung delapan orang lain disana. Delapan orang itu saling berpandangan. Terutama Chen-Xiumin, dan Kai-Kyungsoo. 'Kenapa harus disembunyikan dari Kris jika Kris sendiri seperti itu'—lebih kurang kalimat itu yang ada dipikiran mereka berempat. Suho berdehem untuk mencairkan kebekuan yang Luhan buat.
"Kalian duluan saja, aku ada urusan dengan Lay," Suho menatap Luhan, Xiumin, Kyungsoo dan Chen bergantian dan mendapat anggukan mantap dari ke empatnya. Ia beralih pada wajah polos Lay.
"Kau belum cerita apa-apa hari ini," dan Suhopun menarik tangan Lay menjauhi delapan namja yang kini mulai kasak-kusuk.
.
Suho melirik cincin perak yang melingkar dijari manis Lay. Perasaannya campur aduk seketika. Ia menarik nafas panjang.
"Sudah kau berikan padanya?" Suho melirik Lay yang hanya mengangguk.
"Dia senang?" kembali Lay mengangguk.
Cih.
"Apa yang mereka ceritakan padamu?"
"Kris bersama namja lain," jawab Lay lemah, Suho kembali melirik Lay.
"Kau percaya?" kini Lay menggeleng.
"Tak ada salahnya kau percaya pada mereka," tentu saja Suho punya alasan tersendiri merekomendasikan hal itu. Lay menatapnya tajam.
"Aku hanya merasa menyarankan," lanjut Suho yang merasa akan ada bentakan dari Lay.
"Kris tak akan melakukan hal itu!"
.
****THAT XX****
.
Manik hitam itu terus menatap sosok diluar jendela kaca kedai. Ia menyesap moccacinonya perlahan, memotong tiramissu yang sudah tinggal separuh bagian, lalu menyuapkannya ke mulut. Bukan. Yang diperhatikannya bukan wajah tampan sosok itu, melainkan hal ganjil dijari manisnya.
"Hmmph,"
Suho menyeringai. Ia merogoh ponsel dari saku mantelnya. Mengotak-atik contact list.
Tuut..tuut..tuut..
"Yeoboseyo," terdengar suara merdu dari seberang telepon. Mata Suho kembali memandang sosok yang kini tengah menyuapkan ice cream ke seseorang disebelahnya—mesra.
"Kau dimana?"
"Dirumah, wae?"
"Tak bersama Kris?"
"Aniyo,"
"Menurutmu, apa yang sedang dilakukannya?"
"Main game,"
Ya, dia memang sedang bermain game.
"Darimana kau tahu?"
"Tadi aku menelfonnya,"
"Tak kau dengar suara bising saat kau menefonnya?"
"Aniyo,"
Wow, cerdas sekali tuan Wu.
"Lay-ah?"
"Ne?"
"Bagaimana jika Kris saat ini sedang bersama orang lain?"
"Tak mungkin,"
"Dan dia nampak bahagia bersama orang itu?"
"Kim Joonmyeon, itu tak mungkin,"
"Dan lebih parahnya, dia melepas cincin yang kau berikan,"
"..."
"Oh baiklah,"
"Jangan bilang kau juga melihat Kris saat ini,"
"Seperti yang kau pikirkan,"
Tuut..tuut..tuut..
Seperti yang kulihat.
.
****THAT XX****
.
Pagi yang cerah ceria tanpa noda. Tapi keceriannya pagi berbanding terbalik dengan satu namja bernama Zhang Yixing. Sejak 15 menit lalu ia sudah berdiri diambang pintu kelas yang bukan kelasnya dengan gusar. Menghentak-hentakkan kakinya hingga ia menjadi pusat perhatian disana. Bergerak kesana-kemari tak tenang seperti setrika panas. Nampak dua namja tampan dibelakang menatapnya dengan tak kalah gusar. Raut wajah mereka sangat waswas, terlebih saat sang pangeran tampan datang mendekati mereka dengan wajah tanpa dosa.
"Annyeong, chagiya. Tumben kemari? Menungguku?" Lay memutar bola matanya mendengar pertanyaan penuh basa-basi dari Kris. Sedangkan dua namja dibelakangnya mendecih sinis. Kris menatap mereka bergantian.
"Ada apa?" Lay mendekatinya.
"Katakan kau tak bersama orang lain kemarin,"
DEG
Pertanyaan to the point itu membuat dada Kris terasa sesak. Namun dengan cepat ia memasang poker face andalannya.
"Aku dirumah, seperti yang ku bilang," raut tegang Lay sedikit melunak. Entah namja ini memang polos atau benar-benar saking cintanya hingga mudah percaya dengan omongan Kris.
"Jangan lakukan itu," ujar Lau lirih. Kris tersenyum. Membelai pipi berdimple Lay dengan lembut.
"Ne, percaya padaku,"
.
BRAAAK
Jangan bilang yang menggebrak mejanya saat ini adalah Luhan lagi. Suho menoleh ke baris bangku seberang. Luhan ada disana bersama Xiumin, Chen, Taeyon dan Sunny, lalu? Ia melirik sosok penggebrak meja.
"Lay?"
"Ikut aku," pasrah Suho ditarik-tarik begini. Kalau bukan Lay, pasti ia berontak atau setidaknya sudah menginjak kaki orang itu.
Lay menatap tajam namja tampan dihadapannya seakan ingin meminta penjelasan. Suho menghela nafas.
"Ayolah, jangan memandangku seperti itu," kini ganti Lay yang menghela nafas.
"Ceritakan padaku apa yang kau lihat kemarin,"
Eh? Yakin?
"Aniyo, aku malas," jawab Suho dengan acuh tak acuh.
"Ppali!"
Oke kalau kau memaksa.
"Aku sedang dikedai kopi dan tak sengaja melihat Kris,"
Hening. Lay tercengang.
"Itu saja?" tanya Lay tak percaya. Suho mengangguk.
"Lalu bagaimana dengan cincin itu?"
"Aku sudah menceritakannya padamu,"
Hening.
"Sudah? Aku malas membahas ini," Suho melirik Lay sekilas.
Tak akan membahasnya lebih jauh, tak ingin menyakitimu.
Saat hendak melangkah pergi, tangan Lay menahannya. Refleks Suho menoleh.
"Hate you!" Suho memiringkan kepala tak mengerti.
Kenapa?
"Kris tak mungkin melakukan hal itu," lanjut Lay.
Ya, kau memang benar.
"Ne, Kris tak mungkin melakukan itu—" Suho melepas cengkeraman tangan Lay dari lengannya.
"—aku salah lihat," dan berlalu meninggalkan Lay yang masih menatapnya tajam.
Aku akan berbohong untukmu, maaf.
.
****THAT XX****
.
Suho memejamkan matanya. Mengusap wajah tampannya dengan kedua telapak tangan, kemudian meletakkannya dibelakang kepala sebagai penyangga. Suar itu terus mendengung ditelinganya.
Hate you!
"Kenapa?"
Kris tak mungkin melakukan hal itu.
"Ne. Kau memang benar. Aku juga membencimu,"
Ya. Suho membenci Lay yang selalu membuat hatinya merasa kebas, membuat dadanya nyeri, dan membuat Suho terus menantinya lama. Tidakkah dia sadari bahwa menunggu dan menanti adalah hal yang paling menyebalkan didunia? Terutama menanti seseorang untuk memberikan hatinya pada kita. Bukankah bisa mencari hati lain yang bisa kita miliki tanpa harus melakukan ritual 'menanti' dengan mudah? Oh, Suho tak mau. Terlalu sulit melepas Lay yang sudah mengisi relung hatinya selama tiga tahun terakhir. Kenapa selama itu? Suho pun tak tau. Kenapa Lay tak menyadarinya? Karena Lay—
"Bodoh,"
Hah? Lay bodoh?
"Kau jangan mengambil kesimpulan seperti itu, Xi Lu Han!"
Oh ternyata bukan Lay, tapi Luhan yang bodoh. Suho membuka matanya, melepas headset yang sedari tadi memutar lagu That XX milik G-Dragon BigBang. Mulai memasang telinganya mendengarkan apa yang dibicarakan tiga namja itu. Tiga? Ya. Kyungsoo juga ada disana.
"Kau yang bodoh," kini ganti Luhan yang bersuara.
Oh, benar, Lay juga bodoh.
"Kenapa masih bertahan dengan namja seperti Kris yang baik didepannya saja?" Eh? Suho melebarkan matanya. Bukan, ia tak terkejut dengan ucapan Luhan, melainkan melihat Lay yang saat ini mulai menangis. Sungguh, Suho tak suka itu.
"Luhan-ge, jangan membentak Lay-ge seperti itu," Kyungsoo mulai bersuara. Namja itu terlihat mengusap pundak Lay lembut.
"Siapa yang membentak? Aku bicara santai," Suho terkekeh sinis.
Luhan, kau memang bodoh, eum? Nada tinggi seperti itu kau anggap santai?
"A-aku tak bisa percaya begitu saja. Aku percaya Kris. Dia tak akan tega melakukan itu," tatapan Suho nanar.
Tapi kau tak harus selalu percaya padanya, sayang.
"Kris tak akan melakukan itu, bla..bla..bla.." Luhan menirukan ucapan Lay dengan dilebih-lebihkan. Suho kembali terkekeh sinis.
Dasar. Cantik, tapi galak dan aneh.
"Kau ini, terserahlah. Itu maumu. Jangan memasang wajah sedih dihadapanku dan yang lain jika ada apa-apa," lanjut Luhan seraya menarik paksa lengan Kyungsoo keluar kelas meninggalkan Lay yang kini sudah terisak sesenggukan dibangkunya sendirian. Suho hanya memperhatikannya. Tak berani mendekatinya.
Akankah kau beri ijin aku untuk memelukmu?
.
****THAT XX****
.
Perpustakaan sekolah. Tempat dimana beribu-ribu—oh sepertinya tak sampai, mungkin ratusan—buku makan, tidur, mandi, dan sebagainya. Tempat dimana anak-anak kutu buku melakukan aktifitas rutin mereka. Tempat paling nyaman untuk tidur siang kedua setelah ruang kesehatan tentu saja.
Nampak seorang namja tampan yang terkenal dengan wajah malaikatnya meskipun sebenarnya dia orang yang dingin, duduk manis disalah satu bangku baca. Jangan kira dia sedang membaca buku, coba perhatikan apa yang ada dihadapnnya saat ini. Sebuah smartphone tablet berlayar cukup lebar terpampang disana. Dia sedang menikmati fasilitas wi-fi. Lumayanlah, menghemat kuota paket internet dari operator.
Suho—sang tersangka utama—nampak anteng memandangi smartphonenya. Sepertinya dia sedang beryoutube ria. Oh, benar. Namja tampan itu tengah menonton MV Wolf Drama Version milik boyband ternama EXO (eh?). Suho nampak terkagum-kagum dengan ketampanan para member EXO yang terlihat sangat mirip dirinya dan teman-temannya itu. Suho akan segera mempause jika member EXO yang mirip dirinya tersorot kamera. Untuk membandingkan wajahnya.
"Kenapa mirip sekali?"
"Omona! Kenapa ini mirip, err.. Kris?"
"Oh, ini, yang dikejar segerombolan namja mirip Luhan,"
"I-itu ada Lay dan Chanyeol juga,"
"Lho? Kai?"
"Lho? Kyungsoo? Kenapa dia dihempas Luhan?"
"Eh, eh, ini yang mirip aku!"
Oke. Sepertinya uri leader angel sudah mulai gila.
KLAP
Suho menutup case smartphonenya. Menonton MV-MV EXO memang membuatnya gila. Ia keluar perpustakaan. Menoleh kekanan-kiri mencari tujuan yang pas.
"Sepertinya ke atap lebih nyaman," gumam Suho. Dan namja itupun melangkahkan kaki menuju atap sekolah.
KRIEET
"Eh? Kenapa tak terkunci?" Suho mendorong pintu baja atap yang tak sepenuhnya tertutup.
WUUSSH
Suho memejamkan mata menikmati angin yang menerpa wajahnya dengan lembut. Tanpa sadar, ia menarik sudut bibirnya hingga terulas sebuah senyum angelic andalannya. Tampan. Mendekati pagar pembatas, dimana ia bisa melihat sebagian kota Seoul dari sana. Indah.
Hikss
Siapa? Suho tidak menangis terharu karena keindahan kota ini. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling mencari sumber suara. Tak ada siapa-siapa.
"Mungkin hanya perasaanku saja," gumam Suho mengedikkan bahu. Namja itu membalikkan badan dan merosot dipagar pembatas. Tatapannya seperti menerawang.
Kenapa masih bertahan dengan namja seperti Kris?
Bayangan Luhan saat mengucapkan kalimat itu memenuhi otaknya. Suho mengusap wajahnya pelan.
"Ne, kenapa bertahan dengannya?"
Aku tak bisa percaya begitu saja. Aku percaya Kris.
Kini bayangan Lay yang terisak membuat dadanya sedikit nyeri. Nyeri karena ia tak bisa melakukan apa-apa.
"Kenapa percaya pada orang yang tak bisa dipercaya?" Suho menghela nafasnya berat.
"Tinggalkan dia, tinggalkan dia Lay,"
Hikss
Eh? Bukan. Bukan Suho. Ia tak sampai terisak meski saat ini hatinya menangis. Suho kembali mengedarkan pandangannya dan bangkit.
Hikss
Suara isakan itu semakin jelas terdengar kala ia mendekat ke balik dinding pintu atap. Suho melongok dan betapa lebar matanya saat ini menemukan Lay membenamkan wajah disela lutut. Bahu itu terguncang hebat. Ia mendekati namja itu.
"Hey.."
Tak ada sahutan. Suho menepuk pundak Lay pelan.
"Lay-ah?"
Berhasil. Lay mendongakkan kepala. Omona! Harus apa Suho saat ini melihat wajah manis dan cantik itu bersimbah air mata dengan bibir merah mungil yang bergetar. Suho tersenyum dan mengusap pelan lengan Lay—hanya itu yang bisa dilakukannya.
"Aku tak akan bertanya apa kau baik-baik saja atau tidak. Dan jika tak meleset aku sudah tahu alasan kau menangis. Tapi bisakah kau berhenti? Kau membuatku seperti zombie," Lay mengusap pipi dengan kedua punggung tangannya. Aigo, manis sekali namja ini.
"Luhan jahat. Ia melarangku menangis didepannya. Padahal aku selalu menangis didepannya dan yang lain, lalu dia akan memelukku," adu Lay. Nampak seperti anak kecil yang mengadu pada ummanya karena dimusuhi teman-temannya. Suho membelai surai Lay—dengan sayang.
"Aku yakin, bukan itu saja alasanmu. Dan aku tak akan bertanya," Lay memiringkan kepala dengan tampang polosnya—imut. Suho sedikit gelagapan dibuatnya.
"Kenapa tak bertanya?"
Karena aku tak ingin menyakitimu—lagi.
"Karena aku malas," Lay semakin tak mengerti dengan alasan Suho. Malas?
"Kenapa malas?" tanyanya lagi.
Karena kesal setiap membuatmu mengingat hal itu, lalu menangis.
"Membuang tenagaku," kini Lay mengerucutkan bibirnya.
"Kalau begitu cepat pergi, aku kesini ingin mendapat—"
GREEP
Kalimat Lay terpotong gerakan Suho.
"Biarkan aku disini," Lay tak bisa berkata apa-apa, hanya mengangguk lemah dalam dekapan hangat Suho.
.
****THAT XX****
.
Dingin. Malam yang dingin. Penghangat ruanganpun masih kalah dengan hawa dingin yang menyeruak masuk melalui ventilasi udara. Membuat namja yang tengah bergerak-gerak tak nyaman dibawah selimut tebalnya semakin tak nyaman. Ya. Suho tak bisa tidur dengan hawa dingin. Ia benci hawa dingin, meski hatinya selalu dingin. Terutama namja manis itu yang selalu membuatnya panas-dingin.
"Aish, Tuhan, kenapa Engkau menyiksaku sedemikian rupa dengan kedinginan-kedinginan bertubi-tubi? Tak cukupkah Kau menyiksaku dengan perasaan menyebalkan selama ini?" omel Suho. Kini namja itu mengubah posisinya menjadi duduk seraya membalut tubuhnya dengan selimut tebal.
KRIING
Suara apa itu? Masih ada suara seperti itu kecuali bel sepeda pancal dijaman modern seperti ini? Jangan dihina. Itu adalah suara telepon antik Suho yang berbunyi untuk kesekian kali. Suho meraba-raba gagang telepon dimeja sebelah ranjangnya lalu mendekatkannya ke telinga.
"Yeoboseyo?"
"..."
"Yeoboseyo?"
"..."
"Aish kenapa tak ada suara?" sungut Suho sembari membuka kungkungan selimutnya kasar.
"Jelas tak ada sahutan, ternyata terbalik. Heheh," gumamnya diselingi kekehan seperti orang bodoh.
"Yeoboseyo?"
"Hei kenapa tak bicara tadi?" suara diseberang sangat ceria dan segar. Suho melirik jam digital, 00:58. Ckckck.
"Mianhae, aku salah menempatkan gagang telepon,"
"Kau mengantuk?" Suho mengangguk.
"Ne,"
"Tidurlah," Suho menggeleng.
"Aniyo. Aku tak bisa tidur," terdengar kekehan dari seberang.
"Pasti karena dingin?" Suho mengangguk lagi.
"Ne,"
Hening.
"Kenapa belum tidur?"
"Aku terlalu bahagia hingga tak bisa tidur,"
"Ishh aneh,"
"I don't care,"
Hening.
"Suho-ah?"
"Ne?"
"Aku boleh ngobrol denganmu?" Suho mengangkat satu alisnya.
"Sedari tadi kita sudah ngobrol Zhang Yixing," kekehan renyah terdengar lagi dari seberang.
"Ne, aku lupa. Suho-ah, aku tak menyangka, Kris lebih romantis akhir-akhir ini,"
Kau nampak bahagia.
"Kris menyiapkan kejutan untukku. Kau tahu, sebuah dinner direstoran tepi pantai yang telah ia booking sebelumnya,"
Ya. Restoran mewah memang cocok untukmu.
"Dan kau tahu, Kris menjemputku dengan apa?"
"Apa?"
"Limosin,"
Ya. Mobil mewah sangat pantas buatmu.
"Kurasa dia menyogokmu,"
"Ya! Kenapa kau seperti Luhan?"
"Jeongmal?"
"Ah sudahlah. Dengan itu aku yakin Kris tak akan pernah main dibelakangku,"
Aku ragu.
"Kau mencintainya?"
"..."
"Yixing?"
"Eh?"
"Kenapa tak kau jawab?"
"Aku terkejut kau bertanya seperti itu,"
"Aku lebih terkejut jika kau tak segera menjawab seperti tadi. Jangan membuatku meragukanmu,"
"Aniyo. Aku mencintainya. Sangat mencintainya,"
Aku bahagia.
"Sampai kapan kau mencintainya?"
"Selamanya,"
Dan haruskah aku menantimu selamanya? Jangan konyol.
"Meski misalnya apa yang kau, Luhan dan yang lain katakan itu benar, aku yakin, Kris akan kembali padaku,"
"Kenapa?"
"Karena dia mencintaiku,"
"Aku lebih mencintaimu,"
"Eh? Apa?" Suho mengerjapkan mata.
"Err.. Aniyo. Maksudku, kau lebih mencintainya,"
"Heheh kau benar,"
Hening.
"Suho-ah?"
"Ne?"
"Aku percaya akhir yang bahagia,"
Dan aku tak tahu harus berkata apa lagi.
.
.
.
To Be Continue
Balasan review chapter satu untuk meramaikan fanfic ini supaya terlihat lebih panjang #alibi# hehehe.
AlpacaAce : Hahah mudah ditebak ya? Yup, jelasnya Tao dong siapa lagi. Tapi ceritanya— ah baca aja deh lanjutannya, ne? Gomawo Ace-ah, mian kalo papa Kris Dae bikin nista hohoho :D
MinSeulELFSparFishy : Seperti yang chingu pikirkan heheh :D Suho bukan detektif loh ya heheh :D
Jang Taeyoung : Bukankah mereka pasangan yang serasi kalo gitu? Satu cakep, satu manis hoho :D mari kita ber high five sama-sama suka Suho oppa di growl :p
Nada Lim : heheh mian, emang sengaja Dae bikin begitu biar pada penasaran :D bukan, tapi Dae, Dae kan juga manis #duakDuakDuak#
Jung Ha Ki : Sebenernya Dae juga mau bikin oneshoot tapi malah kepanjangan dan anu -_-
AbigailWoo : as you think baby :D hahahah emang kasian salahnya sendiri mau nrima Kris :p kan BaekYeolHunkai dedek yang sayang abang Suho #plak#
Jang Seong Na : Hahah mianhaeyo. Dae salah pencet :p wkwkwk mianhaeyo, hiks #ngelap ingus di kaos Tao lalu ditabok Kris#
Kim Jae-seon : Ah ne, soalnya ada kata brengseknya itu, Dae nggak enak sama para readers ntar dikira Dae nggak bermoral #alay#. Ne, ini next chapternya udah Dae publish. Silahkan dinikmati. Mian kalo nggak memuaskan ^^
Kim Haerin-ah : Ahahah #tertawa nista# emang sengaja Dae bikin begitu wek :p itu anunya bang GD :D
Berlindia : Panas, panas, panas :D jadi serasa lagunya Gigi -_- Ohya sapa lagi kalo bukan Tao, masa Dae? Dikira Dae monyet peliharaannya Kris dong kalo lagi kencan -_- #nasip orang pendek# Pasti, pasti Suho bakalan selamatkan Yixing, tapi kalo Yixingnya mau diselametin sih :p Ini belum seberapa kok. Baru awal lagunya aja belom masuk kan :D
riana nanda : Ne, pasti Dae lanjutin kok :D
Ira Putri mau tahu nasip Lay? Lihat selengkapnya hahahah #ketawa nista#
Melihat dari antusiasme kawan-kawan readers, saya semakin semangat melanjutkan fanfic ini. Semoga di chapter berikutnya saya tidak mengecewakan. Dan untuk chapter dua, bagi yang sudah mengikuti dan membaca, mohon review-nya :) Terimakasih.
