Previous Chapter.

"Suho-ah?"

"Ne?"

"Aku percaya akhir yang bahagia,"

Dan aku tak tahu harus berkata apa lagi.


Check this one out!

THAT XX Chapter 3

.

Flashback Before Lay Calling Suho.

"Luhan pada Chen, ganti."

"Ne, Chen menerima, ganti."

"Bagaimana keadaan disana? Ganti."

Chen meletakkan teropong ke depan mata, "Sepertinya sebentar lagi mereka akan melaju, ganti."

"Baiklah, aku akan menghubungi Xiumin-ge, Baekhyun, dan Kyungsoo, ganti."

"Ne, aku dan Chanyeol akan—"

BRUUUK

"Chen? Chen?—" suara Luhan terdengar panik diseberang sana dan terputus.

Drrt..

"Park Chanyeol! Bisakah kau menyingkir dari tubuhku? Kau berat!" hardik Chen yang kini tertindih tubuh tinggi Chanyeol. Chanyeol merangkak hendak bangkit, tapi tangan Chen menahannya, dan walhasil Chanyeol kembali terjengkang.

"Jangan berdiri, babo. Kau besar. Mereka bisa melihatmu," bentak Chen. Chanyeol menepis tangan Chen dari lengannya, "Sepertinya mereka sudah pergi hyung." Chen yang terkejut langsung bangkit dan tanpa ia sadari menginjak perut Chanyeol.

"Aaargghh! Hyung! Kau bisa membunuhku!" teriak Chanyeol. Chen menoleh ke bawah dan seketika matanya membulat, "Ah, mianhae. Pantas saja empuk," ujar Chen tanpa dosa. Sedangkan Chanyeol sudah bersungut-sungut sambil mengusap perut sixpacknya(?)

Hening.

"Hyung?" panggil Chanyeol. Chen menoleh malas, "Hmm?" Chanyeol menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali, "Aku berat?"

Haruskah Chen tertawa mendengar pertanyaan konyol Chanyeol?

"Jelaslah!" sungut Chen. Chanyeol menggaruk kepala, "Tapi aku tidak gemuk seperti Xiumin hyung."

Haruskah Chen marah mendengar Xiumin cute-nya dihina tiang meski itu adalah fakta?

"Ya! Meski Xiumin hyung gemuk, dia tidak berat. Karena dia pendek, eh?" Chen menutup mulutnya yang tanpa ia sadari, ia juga ikut membully Xiumin, meski itu juga fakta.

Chanyeol memiringkan kepalanya, "Kenapa bisa hyung?" tanyanya lagi. Chen berdehem, "Kau tinggi. Tulang-tulangmu berat." Dan kalimat barusan diakhiri dengan tawa nista dari Chen.

Chanyeol mengangkat sebelah alisnya, "Kalau begitu, kasihan Baekkie," celetuk Chanyeol. Kini ganti Chen yang mengangkat alis, "Kenapa?"

Oh tidak! Chen bisa melihat senyum pervert diwajah Chanyeol, "Kalau ber'this and that', Baekhyun harus menopang tubuhku yang berat. Aku jadi tidak tega hyung. Baekhyun itu kecil nan mungil. Haruskah aku menindihnya sedemikian rupa? Apa Baekhyun saja yang menindihku?"

PLAAAK

"Appo," Chanyeol mengusap keningnya yang panas bekas tepukan Chen.

"Dasar pervert. Perkataanmu sangat seduktif. Jangan membuatku memikirkan hal yang iya-iya untuk dipraktekkan dengan Xiumin hyung. Sudah. Hilangkan pikiran mesummu dan kita menyusul yang lain."

Akhirnya dua namja tampan dan nyaris berpikiran mesum—meski yang satu sudah berpikiran mesum—itu beranjak dari persembunyian mereka disemak-semak tak jauh dari rumah Lay.

.

.

"Chen? Chen? Aishh dasar babo," Luhan nampak tengah bersungut-sungut. Sehun dan Kai yang sedang bersamanya saling berpandangan, "Ada apa, ge? Chen hyung dan Chanyeol gagal? Ketahuan?" tanya Kai.

Luhan mengedarkan pandangan ke sekeliling dan beralih ke Kai, "Molla. Sebaiknya aku menghubungi kelompok Xiumin," tanpa babibu, Luhan mengutak-atik walkie talkienya.

Drrt..drrt..

"Luhan cantik pada Kyungsoo keroro, ganti."

Dan pernyataan Luhan barusan membuat dua namja didekatnya sweatdrop akut.

"Ya! Gege kenapa memanggilku keroro? Ya! Ge—"

"Baekhyun menerima, ganti."

Sepertinya Baekhyun mengambil alih walkie talkie dari tangan Kyungsoo.

"Bagaimana? Target sudah melaju? Ganti."

"Ne. Kami sedang mengikuti tepat dibelakang mobil target, ganti."

"Bagus. Jangan sampai mencurigakan. Suruh Xiumin hyung menjaga jarak dan amankan Kyungsoo keroro itu, ganti."

"Ne, Luhan-ge cantik."

Drrt..

Luhan tersenyum puas. Selain merasa dirinya patut dinobatkan sebagai pimpinan agen mata-mata, Baekhyun juga memanggilnya cantik.

"Hohoho.." Luhan terkikik memikirkan hal itu. Sedangkan Sehun dan Kai kembali berpandangan.

"Kenapa Luhanie?" tanya Sehun dengan suara sok dilembut-lembutkan, dan itu malah mendapat delikan tajam dari Luhan, "Ya! Panggil aku Gege!" Sehun pun mengangguk cepat dan Luhan kembali tersenyum puas, "Bagus."

"Lalu apa yang membuat Gege tersenyum seperti itu?" ganti Kai yang bertanya. Luhan menoleh cepat, "Kau mau tahu?" Kai mengangguk mantap.

Luhan menyeringai, "Mereka mengerjakan misi dengan baik. Dan—" Luhan menggantung kalimatnya seraya menatap Sehun-Kai bergantian.

"Apa Gege?" nampaknya uri magnae Sehun sudah tak sabar.

"Baekhyun memanggilku cantik. Aigo hobae yang baik dan bertambahlah satu orang yang memanggilku cantik!" dengan nistanya Luhan tertawa riang gembira. Sehun-Kai? Tingkat ke-sweatdrop-an mereka melebihi tingkat akut medengar kepercayaan diri Luhan.

.

.

"Baekhyun-ah, kenapa kau merebut walkie talkie-ku?"

Tak terima aksi menghardik Luhannya digagalkan Baekhyun, Kyungsoo mulai mencubiti pipi Baekhyun hingga merah.

"Ya! Bisa hyung hentikan? Tangan menyebalkanmu bisa membuat pipiku nampak seperti Xiumin hyung!" protes Baekhyun yang tak terima pipi mulusnya dipegang-pegang Kyungsoo. Kyungsoo pun menghentikan aksinya seraya mengerucutkan bibir. Sedangkan Xiumin yang terlihat I don't care dengan keributan dibelakang melirik sinis.

"Baekhyun-ah, aku disini. Jangan bawa-bawa aku. Dan kalian harap tenang, aku tak bisa konsentrasi," ujar Xiumin dingin. Merasa heran karena tak ada sahutan yang berarti seperti biasanya, Xiumin melirik kaca spion diatas. Betapa kagetnya uri baozi mendapati Baekhyun dan Kyungsoo telah membeku.

"Mwo? Mungkin power member EXO yang mirip denganku itu menular kepadaku. Aigo.." oceh Xiumin seraya terkikik tak jelas.

Xiumin membelokkan mobilnya ke parkiran sebuah resto mewah dekat pantai, seperti yang mobil hitam itu lakukan. Keluarlah seorang pria tampan dari pintu penumpang, dia nampak tergesa-gesa ke arah pintu lain dan membukanya. Oh, lihatlah siapa yang keluar. Seorang putri cantik—ehem, bukan, itu adalah Lay. Meski Lay memang benar-benar cantik malam ini. Xiumin mengotak-atik walkie talkienya.

"Xiumin pada Luhan, ganti,"

"Luhan menerima, ganti,"

"Mereka sudah sampai, dan sebentar lagi akan memasuki restoran, ganti,"

"Good job. Baiklah. Aku dan dua bocah ini akan bersiap-siap, ganti,"

"Ne. Good luck,"

Drrtt..

Xiumin terus memperhatikan Kris-Lay yang tengah berjalan beriringan masuk restoran, lalu beralih pada dua orang korbannya dibangku penumpang. Baekhyun dan Kyungsoo masih membeku.

"Ottokhae?" Xiumin tampak berpikir. Diketuk-ketukkan telunjuk ke pipi gembulnya, dan TRIING! Bohlam Thomas Alfa Edisson muncul diatas kepalanya, "Kenapa tidak menyuruh Chanyeol saja. Bukankah dia punya power fire control?"

Sepertinya Xiumin juga mulai gila karena Suho yang memberitahunya tentang member EXO dan kekuatan mereka. Dengan polos, Xiumin mengotak-atik ponselnya dan menghubungi Chen yang saat ini bersama Chanyeol.

Tuut..tuut..

"Chenchenie, kau dimana?" tanpa babibu atau ber-yeoboseyo, Xiumin memburu Chen.

"Aku masih diperjalanan. Ada apa?"

Xiumin melirik Baekhyun-Kyungsoo, "Cepatlah, aku ada diparkiran resto dan aku butuh Chanyeol segera,"

"Eh? Kenapa Chan—"

"CEPAAAAATTT!"

Tuut..tuut..

Xiumin pun mengatur napas kemudian melirik Baekhyun-Kyungsoo lagi seraya menyeringai.

"Tenang, nak. Bunda akan segera menyelamatkan kalian, meski musibah yang menimpa kalian saat ini semua karena bunda."

Dan tak lama mobil Chen tiba. Xiumin segera berlari ke arah mobil Chen dan menggedor-gedor kaca jendela layaknya seorang penyamun yang mendapat mangsa.

"Hey rampok! Bisakah kau tidak menggedor kaca? Kami sudah akan turun," hardik Chen. Xiumin tak menjawab dan langsung berlari kearah Chanyeol yang baru saja keluar dari mobil, "Ikut aku." Xiumin menarik tangan Chanyeol dan menggenggamnya erat, membuat Chen harus memberi deathglare pada Chanyeol, sedangkan Chanyeol sendiri hanya mengedikkan bahu.

"Ini, mereka membeku," ujar Xiumin saat membuka pintu penumpang. Chanyeol terperangah, terutama melihat Baekhyun tercintanya yang manis telah menjadi es balok.

"Hah? Bagaimana bisa seperti ini hyung?" tanya Chanyeol. Xiumin memutar bola mata, "Sudahlah, cepat kau gunakan fire controlmu dan lelehkan es yang mengurung mereka," titah Xiumin. Chanyeol kembali terperangah mendengar pernyataan Xiumin yang penuh dengan kefiksian itu.

"F-fire control hyung? Aku tak punya kekuatan seperti itu," elak Chanyeol. Xiumin menyeringai licik, "Kalau begitu, kau akan melihat Baekhyun membeku selamanya. Mau?" Dengan cepat Chanyeol menggeleng mantap. Seringaian Xiumin semakin lebar, "Jadi, tunggu apa lagi?"

Chanyeol bingung. Apa yang harus dilakukan? Fire control? Dia tak punya kekuatan itu. Chanyeol melirik Xiumin lalu bergidik. Hyungnya itu sudah gila! Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling dan TRIIING! Bohlam Thomas Alfa Edisson yang tadinya ada diatas kepala Xiumin, kini beralih ke atas kepalanya kala ekor mata bulat Chanyeol menangkap beberapa obor yang dipasang disisi jalan masuk restoran. Tanpa membuang waktu, Chanyeol berlari mengambil satu obor itu dengan hati-hati dan lekas kembali.

"Hyung, aku sudah mendapatkan api," ujar Chanyeol riang. Xiumin dan Chen yang sudah ada disana berbalik badan.

"WHAT? Kau mau mengkremasi dua anak malang ini?" hardik Xiumin. Chen hanya terperangah melihat obor besar ditangan Chanyeol. Namja tinggi itu terkekeh bodoh, "Aku hanya bisa menemukan ini hyung."

"Tapi kau bisa meledakkan mobil. Cepat singkirkan benda mematikan itu," bentak Chen. Chanyeol anak baik dan penurut, jadi dia mengembalikan obor ke tempat semula.

"Ottokhae?" Xiumin nampak panik. Ia menggigit jarinya yang sudah bujel. Chen menghela napas pasrah, "Bagaimana mereka bisa membeku seperti itu hyung?" tanyanya.

"Entah, aku hanya bicara pada mereka tadi sewaktu di perjalanan. Err.. Apa mungkin karena nada suaraku yang terlalu dingin sampai mereka seperti ini?" Xiumin mendongak memikirkan hal itu. Dan Chen? Sukses ternganga.

"Hanya dengan suaramu yang bernada dingin mereka bisa sampai membeku hyung?" tanya Chen tak percaya. Xiumin mengangguk mantap, "Kurasa power member EXO yang mirip denganku menular kepadaku," jelas Xiumin polos. Chen semakin ternganga dan Chanyeol yang ternyata sudah kembali dan mendengar obrolan mereka ikut ternganga.

"Ah sudahlah. Aku tahu kalian akan bertanya lebih. Aku butuh Sehun saat ini," lanjut Xiumin. Chen mengerjap, "Kenapa Sehun?" tanyanya lagi.

Xiumin mendongak—berpikir lagi, "Karena dia punya power baram (Korea dari: angin). Jadi kita suruh dia meniup Baekhyun-Kyungsoo hingga esnya meleleh," jawab Xiumin penuh keyakinan. Chen kembali melanjutkan ke-ternganga-annya, sedangkan Chanyeol yang sedari tadi masih ternganga, kini semakin lebar.

"Kenapa?" tanya Xiumin. Ekspresi tanpa dosa tercetak jelas diwajah cute-nya.

"Kau gila hyung," celetuk Chanyeol dan itu mendapat delikan tajam Xiumin.

"Ah begini saja. Daripada kita mengikuti ide gila Xiumin hyung, kita kunci Baekhyun-Kyungsoo di dalam dan jangan lupa hidupkan penghangat ruangannya dulu. Mungkin mereka bisa mencair," usul Chen dan mendapat anggukan setuju dari Xiumin-Chanyeol. Akhirnya, mereka melancarkan aksi penyelamatan Baekhyun-Kyungsoo dengan cekatan.

Mari kita tinggalkan orang-orang itu. Beralih pada kelompok Luhan yang sudah menyamar menjadi pelayan di restoran tempat Kris-Lay, err—kencan.

.

.

"Hyung, aku jadi teringat Suho hyung," celetuk Sehun. Kai menoleh menatap wajah tampan Sehun yang kini terbalut rambut-rambut hitam disekitar mulut dan bawah hidungnya.

"Ne, aku juga. Betapa malangnya uri angel," sahut Kai dan diangguki Sehun. Tatapan mereka nanar melihat pemandangan dihadapan mereka. Mereka tahu Suho hyung mereka pasti akan sakit dan patah hati. Sungguh, mereka sangat menyayangi Suho yang sudah mereka anggap abeoji mereka sendiri itu. Bagaimana tak sayang kalau—

"Ehem, bisa kalian menyingkir dari meja kami? Kami merasa terganggu," ujar seorang ahjussi pengunjung restoran. Ternyata Kai dan Sehun sedang mengintai target dari bawah meja salah satu pengunjung. Kai-Sehun pun mengangguk. Good boy.

"Joesonghamnida. Kami mendapat laporan bahwa dibawah meja tuan, basah. Jadi kami membersihkannya," Kai berujar dengan sangat sopan seraya membungkuk hormat diikuti Sehun. Entah tampang Kai dan Sehun yang meyakinkan atau memang pengunjung itu babo, mereka percaya dengan penjelasan Kai. Setelah mendapat maaf dari ahjussi itu, Kai-Sehun langsung kabur ke dapur. Dimana Luhan? Kalian tak melihat? #jelaslah!#. Itu, namja berambut klimis dengan kumis tebal nan indah bertengger dibawah hidung, dan nampak sedang melayani Kris-Lay. Dia Luhan? Omona! Tampak seperti ahjussi tua.

Luhan berdehem untuk mendapatkan suara yang lebih berat seraya menyodorkan dua buku menu pada Kris-Lay, "Selamat malam tuan, nyonya. Silahkan, ini daftar menu kami."

"Kris?" Lay berbisik, matanya melirik Luhan yang tengah memasang senyuman terbaiknya. Kris mengangkat wajahnya sekilas, "Ehm?"

"Kenapa aku seperti mengenal pelayan ini?" entah Lay yang tak tahu apa definisi dari kata 'berbisik' atau bagaimana, suaranya sangat terdengar jelas ditelinga Luhan, membuat pelayan jadi-jadian itu sedikit gelagapan, namun berhasil diatasinya dengan baik. Kris melirik Luhan, memperhatikan penampilan Luhan yang sangat rapih.

"Tapi aku tak pernah melihatnya."

DUAAAK

Pernyataan Kris membuat jantung Luhan terhantam bola sepak yang ditendang Xiumin kuat-kuat, hingga berhasil membuat dahan pohon dipinggir lapangan patah. Dahsyat. 'Itu karena kau tak pernah menyapaku disekolah, babo' sungut Luhan dalam hati tentu saja. Lay terlihat mengangguk, "Mungkin hanya perasaanku saja. Eh, aku pesan black papper tanderloin dan minumnya, ehm.." Lay membolak-balik buku menu bagian 'Ice Drink'

"Strawberry juice saja," lanjutnya. Luhan tersenyum dan dengan sigap mencatat pesanan Lay ditablet khusus pelayan—canggih. Kemudian beralih pada Kris, "Tuan?"

"Chicken steak dan green tea juice."

"Satu black papper tanderloin, chicken steak, strawberry juice dan green tea juice dimeja 24. Akan segera datang," Luhan mengulang pesanan dua orang itu dan segera mengirim pesanan pada operator di dapur.

"Bisa saya ambil menunya?" lanjut Luhan sangat sopan dan mendapat anggukan dari Kris-Lay, membungkuk berlalu pergi sebelum sebuah tangan menahannya. Refleks Luhan menoleh. "Tolong jangan panggil aku nyonya. Aku bukan ahjumma dan terlebih, aku ini namja," ternyata Lay yang menahannya. Luhan mengangguk sopan, "Joesonghamnida," dan berlalu pergi.

'Cih, kau memang terlihat seperti tante-tante' batin Luhan. Demi apa Luhan sebenarnya bukan tipe namja yang suka ngedumel dalam hati, tapi berhubung saat ini dia jadi spy atau semacamnya, dengan sangat terpaksa Luhan harus mendem buat nyemprot Lay atau Kris.

.

.

Luhan mendekati Kai yang nampak sedang memperhatikan Kris-Lay dengan serius dari balik monitor kasir.

"Heh! Jangan terlalu seperti itu. Kau bisa dicurigai sebagai mafia mengintai korban," Luhan memukul kening Kai dengan ujung tabletnya saat melihat raut wajah Kai yang nampak seperti serigala mengintai mangsa itu, ditambah penampilannya yang mendukung anggapan bahwa Kai adalah seorang mafia. Lihat kumis tebal yang terlihat lebih ekstrim dari milik Luhan, dengan jenggot yang hampir mirip santa clause.

"Mianhaeyo, Gege. Aku terlalu panas melihat angry bird itu," sahut Kai tegang. Luhan memutar bola mata seraya menghela napas, "Sudahlah, biarkan mereka menikmati waktu. Lagipula Kris tidak macam-ma—"

"Xi Lu Han! Antar pesanan ini untuk meja 24!"

"—cam," Luhan mendengus saat suara serak becek cheef manager restoran memanggil nama lengkapnya dengan cukup lantang.

"Manager hyung, jangan keras-keras memanggil namaku," protes Luhan seraya meraih nampan berisi pesanan, sedangkan cheef manager hanya mengedikkan bahu.

"Satu black papper tanderloin, satu chicken steak, satu strawberry juice dan satu green tea juice. Silahkan dinikmati."

Setelah meletakkan pesanan, Luhan membungkuk hormat dan berlalu pergi. Namun sial, saat Luhan membungkuk, kumisnya hampir lepas dan itu membuat sebelah alis Lay terangkat. Luhan yang menyadari tatapan curiga Lay segera merekatkan kembali kumisnya, "Mianhae, itu hanya kesalahan teknis. Silahkan dinikmati," kilah Luhan dan langsung kabur. Lay hanya memandang pelayan gadungan itu dengan tatapan aneh.

"Xingie, cepat dimakan, nanti keburu dingin," suara baritone merdu Kris menyadarkan Lay.

Lay mengerjap, "Oh, ne."

.

.

Luhan mengutuk apa saja yang menyebabkan kumisnya nyaris lepas. Dan ia juga mengutuk kumis yang kini menjadi bangkai di tong sampah.

"Arrgghh! Kenapa harus ada moment kumis lepas segala?" hardik Luhan entah pada siapa.

.

.

"Ini bill anda tuan."

Kai berusaha sekuat tenaga untuk menekan suaranya agar terdengar lebih berat seraya menyerahkan bill kepada Kris. Namja tampan itu meraih bill dan segera merogoh dompet disaku belakangnya, mengambil beberapa lembar won dari dompet. Saat ia menjulurkan tangan menyerahkan lembaran uang itu pada Kai, Kris tercekat. Terpana dengan kumis dan jenggot tebal nan sensasional milik Kai. Kai yang salah tingkah pun berdehem keras, "Tuan, saya masih normal."

Dan pernyataan Kai membuat Kris mengerjapkan mata, "Ya! Apa maksudmu. Aku tak tertarik dengan pria tua sepertimu," hardik Kris dan menaruh kasar lembaran won didepan monitor kasir kemudian berlalu pergi. Tuan Wu, kau baru saja membuat serigala lapar marah. Kalau saja Luhan dan Sehun tak segera mencekal Kai, sudah dipastikan kau diterkamnya saat ini.

"Ingat! Ingat misi kita, Kim Jongin," ujar Luhan, berusaha menenangkan Kai yang nyaris kalap. Dengan cepat Kai mendingin seraya membenahi letak tuxedo dan properti penyamarannya. "Oh, baiklah. Err.. Gege, Sehunna?"

Dua orang yang dipanggil Kai menoleh.

"Aku tampak seperti pria tua?"

Haruskah Sehun-Luhan tertawa terbahak-bahak?

"Kau lebih mirip mafia kelas kakap hyung," sahut Sehun. Kai tak marah. Ia nampak pasrah dengan anggapan Sehun, "Baiklah, setelah ini kita harus berfoto bersama. Eh? Luhan-ge, kemana kumismu?" tanya Kai yang melihat wajah mulus Luhan tanpa sedikitpun penyamaran. Luhan memutar bola matanya malas, "Sudah kubuang dan jangan bertanya," jawab Luhan ketus. Dua orang itu hanya mengangguk paham.

.

.

"Xingie? Sudah selesai?" merasa diajak bicara, Lay mendongakkan kepala menatap wajah namja luar biasa tinggi itu, kemudian mengangguk.

Kris tersenyum, "Kita harus segera pulang," ujar Kris seraya menjulurkan tangannya. Lay menyeruput sisa jus strawberinya sebentar lalu meraih tangan Kris. Ya Kris memang harus segera mengantarmu pulang, kalau tidak, apa yang telah disiapkan sebelumnya bisa berantakan.

Luhan melirik Kris-Lay yang sepertinya akan beranjak.

"Sehunnie, mereka sudah mau pulang. Ini tugasmu," ujar Luhan seraya menepuk-nepuk lengan Sehun.

"Bagaimana hidangan kami tuan?" Sehun mencoba berujar seramah mungkin pada sunbaenya itu.

"Memuaskan," jawab Lay dengan wajah sangat sumringah hingga dimple imutnya nampak. Sehun terperangah, 'Pantas Suho hyung sangat menginginkan namja ini' batin Sehun. Melihat Sehun tak henti menatap Laynya, Kris pun berdehem, "Sudah? Apa yang kau lihat?"

Deheman dan pertanyaan Kris menyadarkan Sehun, "Oh, Aniyo. Silahkan datang lagi. Gamsahamnida," jawab Sehun seraya membungkuk hormat pada sunbaenya.

DRAP DRAP DRAP

"Ada apa Sehunna?" tanya Kai. Sehun tak bisa menjawab -aku baru saja dibentak Kris sunbae karena tak henti menatap Lay sunbae- karena dia masih ingin hidup melihat Luhan yang juga ada disebelah Kai, "Tidak ada apa-apa hyung," jawab Sehun akhirnya.

Kai menoleh pada Luhan, "Kita pulang?" Luhan yang masih menatap Kris-Lay menggeleng tegas, "Ani. Kita tunggu disini. Feelingku mengatakan Kris akan kembali,"—'Bersama orang lain' lanjutnya dalam benak.

Drrt..drrt..

"Luhan pada Chen, ganti."

"Chen menerima, ganti."

"Target sudah keluar, kau bisa ikuti mereka? Ganti."

"Arraseo."

"Good job."

Luhan tersenyum sinis.

.

****THAT XX****

.

"Ada apa hyung?" tanya Chanyeol. Chen memasukkan walkie talkienya ke saku mantel, memasang masker dan kacamata hitamnya.

"Wah hyung, kau mirip mafia,"

PLAAK

"Appo," Chanyeol mengusap ujung kepalanya—lagi.

"Kita ada tugas lagi. Kris-Lay akan pulang, kita ikuti mereka," ujar Chen layaknya jenderal besar seraya bolak-balik didepan Chanyeol seperti setrika.

"Dan Xiumin hyung tetap disini. Jangan kemana-mana. Terlebih Baekhyun dan Kyungsoo belum mencair," Xiumin mengangguk paham.

"Sekarang!" Chen-Chanyeol berlari masuk mobil dan mulai melesat kala mobil mewah yang membawa Kris-Lay keluar parkiran resto.

"Aishh aku sendiri lagi. Mereka juga kenapa belum mencair," gumam Xiumin.

DRAP DRAP DRAP

Xiumin menoleh dan menemukan Luhan, Sehun, dan Kai berlari mendekatinya.

"Hyung, kenapa tidak ikut Chen dan Chanyeol? Kenapa diluar? Tidak ketahuan Kris dan Lay sunbae?" Kai menodong Xiumin dengan berbagai pertanyaan seraya melepas jenggot dan kumis tebal yang membuatnya gatal. Xiumin tak menjawab, hanya menunjuk kaca jendela mobil. Kai penasaran, lalu menempelkan wajah dan kedua telapak tangannya di kaca gelap agar apa yang ada di dalam bisa—

"Kyungsoo hyung! Kenapa mereka membeku?" teriakan Kai membuat Sehun dan Luhan mengikuti geriknya. Betapa terkejutnya dua orang itu melihat pemandangan mengenaskan didalam sana.

"Mereka terkena powerku," celetuk Xiumin, membuat Sehun-Kai-Luhan saling bertatapan. Seolah mengerti arti dari wajah babo dongsaengnya, Xiumin mulai menjelaskan.

"Aku punya power frozzen. Bisa membekukan apa saja yang di sekitarku kalau aku mau, seperti salah satu member EXO yang mirip denganku. Aku sudah menyuruh Chanyeol mencairkan mereka karena Chanyeol mempunyai power fire control. Tapi tak berhasil, lalu—Oh! Sehun! Kemari," Xiumin menarik tangan Sehun yang masih memasang tampang aneh.

"Kau punya power baram, jadi tolong tiup mereka hingga esnya meleleh, arra?" lanjut Xiumin. Itu semakin membuat Sehun tak mengerti. Terlebih dua namja yang sudah membatu mendengar penjelasan Xiumin.

"Ppali Sehunna!" titah Xiumin lagi.

"T-tapi hyung, aku tidak punya power baram baram baram itu. Lagipula aku juga tak tahu siapa EXO," tolak Sehun mentah-mentah dan mendapat hadiah pendelikan Xiumin.

"Kau mau temanmu membeku selamanya?" Xiumin melirik Kai yang sudah menggeleng-geleng. Sehun ikut melirik Kai yang sudah mengangguk-angguk semangat, lalu menghela napas, "Baiklah, aku coba."

Sehun membuka pintu mobil dan masuk. Mulai menarik nafas panjang, dan—tiup! Tiup! Tiup! Tiup! Tiup!

2 jam kemudian.

Tiup! Tiup! Tiup! Tiup! Tiup! Luhan menatap Sehun waswas. Bagaimana tidak? Wajah tampan namjachingunya kini sudah berubah kebiru-biruan. Namun berhasil, Baekhyun-Kyungsoo mulai bergerak.

"Yey! Sehun! Tiup terus Sehun! Saranghae!" Kai yang ternyata ikut mengintip disamping Luhan tiba-tiba berteriak dan pekikan 'Saranghae'nya mendapat deathglare dari Luhan. Kai nyengir bodoh, "Gege, kau tahu aku."

Luhan memutar bola mata bosan dan kembali memperhatikan Sehun. Oh, namja itu sungguh hebat. Tenaganya tidak diragukan lagi. Bisa bertahan selama 2 jam meniup Baekhyun-Kyungsoo hingga mencair seperti saat ini. Kalau Sehun disuruh ber'this and that' kira-kira apa bertahan selama itu? BLUSH! Luhan menggeleng mencoba mengusir pikiran aneh itu dari otaknya. Wajahnya sudah memerah dengan sendirinya melihat Sehun yang terus meniup Baekhyun-Kyungsoo. Aigo, Xi Lu Han, kenapa kau jadi pervert seperti ini?

Byuuurrr...

"Hah..hah..hah.. aku masih hidup? Omo! Aku masih hidup," Baekhyun meraba-raba wajah dan tubuhnya, kemudian melirik Sehun yang tersengal-sengal, "Sehunna, kau menyelamatkan hyung?"

Sehun hanya bisa mengangguk, tak kuat bersuara.

"Aaaa! Gomawo Sehunna! Saranghaeyo!" pekik Baekhyun riang. Cup Cup Cup. Luhan mendelik. Melihat Luhan sudah berasap, Kai mencekal Luhan. Kenapa berasap? Dengan santainya Baekhyun memeluk dan menciumi wajah Sehun. Itulah alasannya. Kai terkekeh melihat tingkah Baekhyun, sedangkan Sehun hanya diam meski dalam hatinya sudah berjatuhan ribuan bunga. Hehe.

Byuuurrr...

"Hah..hah..hah.. aku masih hidup? Omo! Aku masih hidup," kini ganti Kyungsoo yang meraba-raba wajah dan tubuhnya, lalu melirik Sehun dan Baekhyun.

"Sehunna, kau yang melakukan ini?" Sehun mengangguk, sudah siap untuk kembali berbunga-bunga.

"Oh. Gomawo."

DUAK

Bunga-bunga dihati Sehun ditendang, diinjak-injak dan dicampakkan oleh Kyungsoo. Melihat Kyungsoo tidak sampai seheboh Baekhyun dan menciumi Sehun, Kai sedikit lega dan dengan kerasnya tertawa melihat ekspresi Sehun yang ia ketahui apa maksudnya.

TOK TOK TOK

Luhan menggedor jendela dengan kalap. Tiga namja didalamnya menoleh dan betapa terkejutnya mereka melihat Luhan dengan taring tajam dan mata merah. Sehun menelan ludah.

"Cepat keluar! Hey! Ppali, ppali, ppali!" bentak Luhan. Tiga namja itupun keluar. Kai langsung menghambur memeluk Kyungsoo mungilnya dengan sayang. Sedangkan Sehun mendapat jeweran Luhan.

"Kenapa diam saja? Kau senang dicium Baekhyun?" hardik Luhan. Sehun berusaha melepaskan jeweran Luhan.

"Mianhaeyo, Gege. Aku terlalu terkejut," bela Sehun dan itu tak berhasil membuat Luhan melunak.

BLUUSS

Matanya semakin merah. Taringnya pun semakin panjang dan tajam.

"Wah, uri Luhan mirip dengan member EXO yang mirip Luhan," celetuk Xiumin. Dia tengah meng-uljima Baekhyun yang terharu karena diselamatkan Sehun barusan. Semua memandang Xiumin aneh tak terkecuali Baekhyun.

"EXO? Maksud hyung?" tanya Kyungsoo.

"Jangan bilang Xiumin hyung sedang berfiksi lagi," tukas Kai. Kyungsoo dan Baekhyun semakin tak mengerti. Taring dan mata merah Luhan seketika melenyap.

"Ne. Xiumin hyung bilang kalau Sehun punya power baram, makanya dia menyuruh Sehun meniup kalian selama 2 jam lamanya oleh Xiumin hyung. Dan Xiumin hyung punya power frozzen. Itu yang membuat kalian membeku. Meski itu sangat aneh dan mustahil," jelas Luhan yang kini mengusap-usap pipi Sehun dengan lembut. Ingat akan perjuangan Sehunnya demi menyelamatkan teman-teman mereka.

"Dan tadi, Chanyeol juga disuruh Xiumin hyung untuk melelehkan es yang mengurung kalian. Xiumin hyung bilang, Chanyeol punya power fire control. Tapi gagal," tambah Kai.

"Aaaa! Chanyeol! Aku rindu Chanyeolie!" rengek Baekhyun kala nama Chanyeol juga ikut disebut Kai. Xiumin kembali meng-uljima Baekhyun.

"Hyung, darimana kau tahu tentang EXO dan kekuatan aneh mereka?" tanya Kyungsoo dan diangguki oleh semuanya.

Xiumin mendongak seolah berusaha mengingat sesuatu, "Dari Suho. Dia yang memberitahuku tentang EXO. Wajah mereka sangat mirip dengan kita, lho."

Dan terperangahlah semuanya kecuali Xiumin yang malah memasang tampang polos nan cute-nya.

"Sudahlah. Kita tunggu kabar dari Chen dan Chanyeol. Kai, Sehun, kita kembali ke restoran. Kalian juga ikut masuk," titah Luhan tegas dan mendapat anggukan paham dari semuanya. Hoho, Luhan kembali terkekeh. 'Kau memang pantas menjadi pimpinan agen mata-mata, Xi Lu han' batin Luhan berbangga diri.

.

****THAT XX****

.

"Kris. Gomawo ne. Kau berlebihan," Lay turun dari mobil mewah Kris.

Namja itu meraih tangan Lay dan menggenggamnya erat, "Aniyo. Ini belum seberapa," sahut Kris lembut seraya mengacak sayang surai coklat Lay.

"Tapi—"

"Ssst, apapun untukmu chagiya,"

CUP

Kecupan singkat nan lembut dibibir Lay menandakan bahwa sudah saatnya mereka berpisah. #AAAA! ITU LAY-NYA SUHO! KENAPA KRIS CIUM-CIUM? AAA! DAE NGGAK TERIMA!# #PLAK SHIPPER ALAY#

"Gomawo," Lay melambaikan tangannya.

"Ne," Kris tersenyum dan segera masuk ke mobilnya.

Tanpa disadari, dua pasang mata mengintai mereka sedari tadi.

"Sekarang kita kemana tuan?" sopir limosin itu bertanya melalui microphonenya.

"Rumah panda manis itu."

.

.

"Aigo, kalau Suho hyung melihat ini, sudah pasti hatinya hancur berkeping-keping," celetuk Chanyeol. Chen menoleh, "Maksudmu? Suho menyukai Lay?" tanya Chen dan mendapat anggukan mantap dari Chanyeol, "Sudah dari dulu."

Chen hanya ber-oh ria, "Sebaiknya kita ikuti mobil Kris. Feelingku tak enak," tanpa menunggu persetujuan Chanyeol, Chen menggas mobilnya mengejar mobil Kris didepan.

.

.

"Sepertinya aku tahu tempat ini hyung," tukas Chanyeol yang tengah memperhatikan keadaan sekitarnya.

"Memang ini dimana?" tanya Chen. Seketika Chanyeol mendelik, "Jadi, sedari tadi hyung tak tahu ini dimana?" Chen menggeleng dan Chanyeol menepuk keningnya.

"Aku hanya mengikuti mobil sialan itu," bela Chen yang mengerti kalau namja tinggi itu meledeknya.

"Ini daerah rumah teman Baekhyun, Huang Zi Tao. Aku ikut Baekhyun, Daehyun, dan Youngjae kesini karena ada tugas kelompok," jelas Chanyeol.

Chen membulatkan bibirnya, "Lalu, mau apa Kris kesini?" tanyanya. Chanyeol hanya mengedikkan bahu.

Limosin itu berhenti didepan sebuah rumah besar. Chanyeol tercekat. Itu adalah rumah Tao. Tak salah lagi, itu adalah rumah Tao. Kris keluar dari mobil. Memencet bel dan disambut oleh seorang maid. Maid itu kembali ke dalam dan terperangahlah Chanyeol melihat siapa yang keluar dengan tuxedo yang cukup rapih dan mendapat kecupan mesra dari Kris. Chen tak luput dari 'terperangah virus' yang disebarkan Chanyeol. Itu namja yang ia dan Xiumin lihat ditoko tas bersama Kris beberapa bulan lalu. Sayang, Chen tak tahu nama namja itu sebelumnya, jadi ia tak menyangka bahwa—Tao—teman Baekhyunlah namja itu. Chanyeol menoleh kaku kearah Chen.

"Hyung, ini buruk," Chanyeol berujar dengan nada horor, sehoror tatapan yang Chen berikan untuk dua target disana. Chen mengerjap, memutar kontak dan menstater mobil kala limosin itu melaju membawa Tao.

"Cepat hubungi Xiumin," titah Chen seraya menyerahkan walkie talkienya pada Chanyeol. Matanya tak lepas sedikitpun dari limosin itu. Ia merasakan suhu tubuhnya naik saat ini.

"Sial."

.

.

Drrtt..

"Chanyeol pada Xiumin hyung, ganti,"

"Xiumin menerima, ganti,"

"Target sudah mengantar Lay sunbae pulang, ganti,"

"Oh syukurlah kalau Lay selamat,"

Chanyeol melirik Chen yang masih memberikan tatapan tajamnya pada limosin itu, "Tapi hyung, kami penasaran dengan target dan Chen hyung punya inisiatif mengikuti target lagi,"

"Lalu?" Chanyeol menghela nafas.

"Kris sunbaenim menjemput Tao,"

"WHATS?"

Bukan, itu bukan Xiumin, tapi Baekhyun yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka karena yang menghubungi Xiumin adalah Chanyeol.

"Yeolie, kau tak salah lihat?"

Sepertinya Baekhyun mengambil alih walkie talkie dari tangan Xiumin. Chanyeol menjauhkan walkie talkienya karena suara Baekhyun cukup mengganggu.

"Ne, dan bisakah kau tidak teriak? Aku tahu kau terkejut, aku dan Chen hyung juga tekejut," hardik Chanyeol.

"Mian, lalu sekarang mereka kemana?" Chanyeol kembali melihat sekitarnya, perjalanan yang sama seperti tadi.

"Kurasa mereka menuju restoran itu lagi,"

"Ne, kalau sudah tiba, hubungi kami,"

"Arraseo,"

Hening.

"Err.. Baekkie? Kau masih disana?"

"Ne,"

"Cepat putus sambungannya,"

"Yeolie?"

"What?"

"Miss you," Chanyeol pun tersenyum hangat seraya melirik Chen yang sudah bersweatdrop mendengar ucapan Baekhyun.

"Ne, miss you too. Kita akan bertemu, pay pay,"

Drrrtt..

Dan senyum lebar khas Park Chanyeol mengiringi perjalanan mereka sampai direstoran—mungkin.

.

.

Baekhyun tersenyum tak kalah lebar dari Chanyeol, selain mendengar suara bass Chanyeol yang sangat ia—dan author—sukai, sebentar lagi ia akan bertemu si tiang listrik itu. Tak menyadari lima pasang mata menatapnya dingin. Merasa diawasi, Baekhyun menoleh, "Mwoya?"

Kyungsoo memutar bola mata, "Kenapa kau malah lepas rindu dengan Chanyeol?" tanyanya sinis. Baekhyun hanya terkekeh seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Mianhaeyo, aku rindu Chanyeol. Dan oh, kata Chanyeol, Kris sunbaenim akan datang kesini bersama..err—Tao,"

"HAH?" pekik empat namja.

"Siapa itu Tao?" teriak Xiumin.

"Tao itu siapa?" teriak Sehun.

"Tao? Siapa itu?" teriak Luhan.

"Tao? Siapa? Itu?" teriak Kai.

"Tao itu apa?"

Dan pertanyaan polos nan santai Kyungsoo berhasil membuat lima namja lain memandangnya aneh. Kyungsoo menatap datar mereka satu per satu, "Mwo?"

Baekhyun yang pertama kali memutar bola mata, "Tao itu manusia hyung, bukan barang," jelasnya. Kyungsoo mengangkat sebelah alisnya, "Lalu? Ada yang salah dengan pertanyaanku?"

Kembali, Baekhyun memutar bola matanya, "Hyung, kau tidak bisa membedakan antara kata apa dengan siapa? Kata apa itu lebih spesifik untuk benda,"

Kini ganti Kyungsoo yang memutar bola matanya malas, "Ne, ne, ne, apa katamu sajalah," sahut Kyungsoo dingin. Baekhyun mendengus.

"Kai-ah, kenapa kau mau dengan sunbae menyebalkan seperti dia? Bahkan mengerti makna apa dan siapa saja tidak tahu," adu Baekhyun pada Kai yang diketahui namjachingunya Kyungsoo. Baru saja Kai akan membuka suara, Luhan mendahuluinya.

"Sudah, hentikan pembicaraan tak penting kalian dan Tao itu barang atau bukan aku tak peduli. Lebih baik kita bersiap-siap menyambut kedatangan tuan besar Kris dan Tao itu. Kai, Sehunnie, kalian tetap diposisi masing-masing. Xiumin, Kyungsoo, dan Baekhyun, kalian pura-pura menjadi pengunjung lain. Ingat. Jangan sampai gerak-gerik kalian dicurigai Kris atau Tao. Dan kau Byun Baekhyun, jangan melakukan tindakan heboh," Luhan menekankan kalimat terakhirnya untuk Baekhyun. Sepertinya namja cantik itu masih dendam dengan Baekhyun yang menciumi Sehun tampannya.

Semua mengangguk dan mengambil posisi masing-masing. Xiumin, Kyungsoo dan Baekhyun mengambil meja dekat pintu kaca restoran yang langsung menghadap pantai. Bertepatan dengan limosin Kris dan diikuti mobil Chen-Chanyeol tiba diparkiran. Benar, Kris membawa Tao. Kris membukakan pintu untuk Taonya. Chen merampas walkie talkie dari tangan Chanyeol yang sedari tadi masih memamerkan deretan gigi putihnya.

Drrtt..

"Chen pada Xiumin hyung, ganti,"

"Baekhyun menerima, ganti,"

Chen mengangkat sebelah alisnya, "Kemana Xiumin hyung?"

"Ke toilet hyung,"

"Oh baiklah. Target sudah tiba. Sebentar lagi mereka akan memasuki restoran, eh?" Chen membelalakkan matanya.

"Ada apa hyung?"

"Kalian tak melihat meja diujung sana?" Baekhyun mengedarkan pandangannya mencari objek yang dimaksud Chen. Ekor matanya menangkap sebuah meja diluar restoran nampak mewah dengan dekorasi cantiknya.

"Yang didekorasi itu bukan hyung?"

"Ne, seingatku, tadi tidak ada yang seperti itu," Chen mengamati Kris yang berhenti sejenak, ia nampak menutup mata panda Tao dengan sehelai kain gelap, lalu menuntun namja itu perlahan hingga sampai didepan meja mewah yang didekorasi. Mata Chen terbelalak. Yang ada dipikirannya adalah, kenapa Kris tak melakukan itu pada Lay? Bahkan meski dinner direstoran mewah, terkesan biasa saja jika dibanding dengan sekarang. Apa Kris memang menyiapkan ini untuk Tao?

"Staff restoran baru saja memasangnya beberapa menit lalu, saat kau dan Chanyeol belum datang hyung. Dan, eh?" kini Baekhyun melihat sosok Kris tengah mendudukkan Tao dengan hati-hati kemudian membuka penutup mata Tao. Baekhyun menyenggol lengan Kyungsoo memberi isyarat agar ikut melihat apa yang dilihatnya.

"Lho? Itukan namja yang aku lihat bersama Kai waktu lalu," tukas Kyungsoo.

"Hah? Apa? Kyungsoo-ah, apa yang kau katakan?" suara Chen terdengar nyaring diseberang. Kyungsoo mengambil alih walkie talkie.

"Namja itu yang aku lihat bersama Kai. Jadi itu yang namanya Tao?!" mata lebar Kyungsoo tak lepas dari gelagat dua namja itu.

"Kalian dimana? Aku akan kesana. Chanyeol sudah merengek ingin bertemu Baekhyun," mendengar nama Chanyeol, Baekhyun merebut walkie talkie dari Kyungsoo.

"Yeol, Yeolie? Kau dengar aku? Aku didalam, meja dekat pintu kaca. Cepat kemari," teriak Baekhyun histeris dan itu segera dihentikan Kyungsoo karena pengunjung lain telah mendeathglare mereka.

"Ne, Baekkie, aku akan kesana,"

Drrtt..

.

.

"Hyung kajja. Ppali masuk. Baekhyun menungguku," ujar seraya Chanyeol menarik-narik lengan mantel Chen.

"Jangan lupakan misi kita," sahut Chen tajam dan langsung diangguki oleh Chanyeol. Akhirnya mereka berjalan masuk restoran tanpa mata Chen lepas dari Kris-Tao sampai Chen harus tersandung tangga dan terdengar tawa menggelegar Chanyeol sebelum Chen menyumpal mulutnya dengan sapu tangan.

.

.

"Baekkie.."

"Yeolie.."

Terjadilah lovey dovey pasangan suami istri yang lama tak jumpa dan terpisah karena sang suami harus melaksanakan tugas dengan komandan Kim Jongdae. Bertepatan dengan mereka, Xiumin baru kembali dari toilet.

"Minnie hyung.."

"Chenchenie.."

Terjadilah lovey dovey session kedua dari sang komandan yang telah kembali dari pengabdiannya menjalankan tugas, dan disambut penuh haru oleh sang istri. Sedangkan Kyungsoo hanya menatap mereka datar, meski dalam hati ia terus memanggil nama Kim Jongin.

DUK DUK DUK DUK

Empat gulung tisu toilet mendarat sempurna dikepala empat orang lebay itu. Tersangka penerbangann tisu adalah Luhan, Kai dan Sehun yang ada diseberang sana. Sontak empat namja itu menoleh dengan mata berkilat-kilat menatap tiga tersangka, terutama Kai dan Sehun yang langsung cengengesan dan bersembunyi dibawah meja. Beruntung restoran sudah tidak seberapa ramai dengan satu-dua meja yang terisi didalam, dan tiga meja terisi diluar termasuk—Kris-Tao.

Luhan mendekati mereka, "Apa-apaan kalian?" sungutnya. Sedangkan yang dimaksud sudah melakukan acara menggaruk kepala bersama sambil nyengir bodoh.

"Latihan drama, Gege," sahut Chanyeol dan diangguki oleh tiga korban penimpukan tisu lain. Luhan mendengus, "Bukan saatnya. Dan untung saja mereka tidak disini, mana mereka?" tanya Luhan. Matanya beredar ke segala penjuru restoran.

"Mereka diluar," Kyungsoo menunjuk Kris-Tao. Luhan mengikuti arah yang ditunjuk Kyungsoo dan betapa lebar mata rusa itu mendapati Kris tengah menggenggam erat jemari Tao dan menciumnya sesekali. Yang lain ikut mengalihkan pandangan mereka pada Kris-Tao yang nampak mesra dimeja mereka. Demi apa, itu sungguh jauh berbeda dengan yang tadi. Dapat dilihat dari raut wajah Kris yang lebih berbinar. Tak jarang Kris tertawa renyah melihat tingkah polos Tao. Ya. Tao memang namja polos. Saking polosnya sampai tak sadar bahwa dirinya dan Kris sudah menyakiti orang lain meski orang itu tak akan percaya bahwa dirinya sendiri tersakiti. Chen mendecih. Semua mata beralih padanya.

"Ada apa hyung?" tanya Chanyeol heran. Hyungnya itu terlihat sangat membenci pemandangan ini sedari tadi. Chen mendengus tanpa mengalihkan tatapan tajamnya untuk Kris-Tao.

"Bahagia sekali mereka. Terutama pangeran yang tadi sempat membuat hati Lay berbunga-bunga itu," nada sinis sangat terasa dari cara bicara Chen. Yang lain kembali pada Kris-Tao.

"Ne. Kalau diperhatikan, wajah Kris sunbaenim lebih ceria," celetuk Sehun.

"Itu karena Tao," Baekhyun menyahut dan berhasil menarik perhatian teman-temannya. Merasa diperhatikan, Baekhyun menoleh.

"Tao namja polos dan manis. Siapa saja yang mengenal Tao pasti merasa terhibur jika dekat dengannya. Termasuk Kris sunbaenim saat ini," Baekhyun mengucapkan kalimat terakhirnya dengan nada sinis tak beda jauh dengan Chen.

"Tapi kita tak bisa menyalahkan Tao. Kurasa dia tak mengerti apa-apa," tukas Kyungsoo bijak. Semua temannya mengangguk.

"Eh? Luhan-ge kemana?" Sehun menoleh mencari sosok Luhan. Teman-temannya juga baru sadar kalau Luhan sudah menghilang.

"Teman-teman," Chanyeol menepuk-nepuk meja restoran. Matanya tak lepas dari sosok yang melenggang santai sembari mengacak rambut dan melonggarkan dasinya mendekati Kris-Tao—seksi. Mereka mengikuti arah pandangan Chanyeol, serempak mereka ber-koor, "O-ow."

"Aish orang itu, kenapa malah jalan sendiri," Chen menepuk keningnya lalu menggeleng.

"Kajja, kita susul Luhan-ge. Aku khawatir dia akan mengatakan hal yang tidak-tidak," Kyungsoo bangkit diikuti pasukannya.

.

.

Tao melirik sosok cantik dibelakang Kris. Ia tersenyum manis kala sosok itu semakin mendekatinya dan Kris. Tao tahu siapa dia, sunbaenya disekolah. Luhan tak membalas senyuman ramah Tao, ia terus menatapnya tajam. Melihat Taonya tersenyum sendiri, alis Kris terangkat satu. Refleks ia menoleh dimana seseorang telah berdiri menjulang disebelahnya. Terkejut? Of course.

"L-Luhan-sshi?" sontak Kris melepas genggaman tangannya dari tangan Tao.

"Gege kenapa dilepas?" dan pertanyaan polos Tao dan langsung mendapat delikan tajam Luhan.

Melihat tatapan tak suka dari Luhan, Kris berdehem keras, "L-Luhan-sshi? Sedang apa disini? Kau bekerja paruh waktu disini? Kenapa tak bilang?" nampaknya Kris mulai gugup dan berbasa-basi ria tanpa menjawab pertanyaan Tao.

"Supaya kau tak jadi menyiapkan semua ini untuknya?" sahut Luhan tajam seraya menunjuk Tao—tepat didepan hidungnya pula. Kris semakin gugup, ia melirik Tao yang menatapnya dengan mata penuh tanda tanya plus takut-takut bagaimana gitu(?).

"B-bukan begitu, aku—"

"Ah sudahlah. Aku tak perlu penjelasanmu. Aku disini hanya ingin membuktikan apa yang kau ucapkan ditoilet. Oh, ternyata benar. Tak meleset. Dan, mana cincin itu? Kau lepas? Waeyo?" cecar Luhan tanpa memberi kesempatan Kris untuk menyela.

DRAP DRAP DRAP

Tao menoleh keasal suara.

"Baekhyun hyung, Chanyeol hyung, annyeong," sapa Tao ramah. Namun yang disapa hanya memutar jengah bola mata mereka.

"Tao-ah, sekarang bukan saatnya beraegyo," ujar Baekhyun, Chanyeol mengangguk. Tao yang polos memiringkan kepalanya.

"Kenapa?" haruskah semua yang ada disana menepuk kening seksi Kai?

"Pokoknya bukan waktunya," sahut Chanyeol. Tao yang menurut hanya mengangguk meski ia heran ada apa sebenarnya hingga membuat temannya itu sedikit galak. Kris yang tetap ditatap Luhan, kini harus mendapat satu tatapan tajam lagi. Chen mendekatkan wajahnya pada wajah tampan Kris.

"Geu***kki."

.

.

.

To Be Continue


Untuk chapter tiga ini, sengaja saya percepat peluncurannya karena liburan sudah hampir habis dan waktu untuk bergumul dengan berbagai alat tempur saya selama proses pembuatan fanfic juga pasti akan terhambat. Jika dilihat dari chapter awal, fanfic ini sedikit nyerempet ke arah humor, memang, supaya tidak terlalu tegang berhubung dengan tema, dan di chapter tiga ini saya keluarkan ke-humoran yang menurut saya cukup karena jika banyak takutnya jadi kelepasan dan melenceng dari benang merah. Heheheh.

Balasan untuk review di chapter dua, boleh di skip karena memang ini adalah alibi saya untuk memperbanyak words, juga selain itu untuk efisiensi interaksi dengan para reviewers.

Ira Putri : anggep aja ini ada link biru kayak di facebook oke hahah. kan aku emang suka yang nanggung-nanggung, buktinya muka aku aja nanggung #plak# jadi curcol -_- sekalian aja jejelin ama mayatnya sadako u,u jangan ah kasian Kris appa ;_; nista banget ya di nih ff wkwk.

Nada Lim : Lay aku jejelin pake ramuan dari klinik tong fang. kan aku juga ada maen ama Kris appa biar Lay nggak cepet nyadar trus dimasukin kamar deh #eh mau ngapain?# dasar naga mesum tapi ganteng. Lay nangis gegara mikirin sahabatnya yang -menurut Lay- picik banget pikirannya buat Kris. padahal aslinya iya ya? ckckck Lay emang kelewat polos.

AlpacaAce : annyeong juga Ace-ah^^ berhubung Suho orang yang mencintai Lay setulus hati jadilah dia mau. gampang aja, ajakin si Lay ke komedi puter kan disana banyak unicornnya tuh :D namanya juga butek gegara cinta ama Kris ya jadinya ngomong hate you deh ke Suho -_- aku aja gemes sendiri. oke. silahkan dinikmati chapie ini^^

AbigailWoo : sama aja ngasih tau si Icing nggak bakal percaya kan dianya -_- bah dasar Kris itu pake produk perawatan wajah apa sih sampe si Icing segitunya ama dia :o ? heran sendiri deh aku. tapi sebenernya Kris emang suka kok ke si Icing tapi begimana-begimana tetep Tao dihati #plak# ampun om, ampun, ini ini Dae lanjut chapnya. jangan dibekepin ke ketek Xiumin, ketek Tao aja aku rela #eh?

MinSeulELFSparFishy : geu***kki itu, ehem, aduh dimana ya, jadi nggak enak sendiri. udah liat translatenya lagunya bang Jiyong belom? disono jelas banget kok hahaha. karena sebenernya aku nggak tega mau nge-crack pair EXO. jadinya tetep kan Kris ama Tao meski make cara hina itu #apaan?# ya begitulah inti dari cerita ini. moga aja nggak bosen ya ngebacanya.

ReoZz : moga aja sampe sini tetep menarik ya :D amin (^/\^)

Jang Taeyoung : kapan-kapan kan terserah aku ;p wkwk. tunggu saat yang tepat dan tragis dramatis nan sadis aja hohoho #ditampol Lay, Suho ama Kris# bah~ aku aja gemes sendiri bawaannya pengen ngejilatin tuh dimplenya si Icing -_- iyuh. yupp, semoga ini chap bisa memuaskan meski isinya rada gadag sih -_-

Kim Jae-seon : karena Lay sungguh mencintai Kris #duh ngenes dah tuh nasipnya Suho# bisa dibilang kebaikannya Kris itu cuma alibi wkwk. berarti aku udah pas ding milihin karakter Luhan haha. aku juga Suho lho #nggak nanya ya?# oke abaikan :D yup, moga chap ini memuaskan ;p

Baby Panda Zi TaoRis EXOtics : mari kita lihat kelanjutannya^^ semoga saja begitu karena berhubung aku ngeship ituh coupleh heheh.

MinhyoPark94 : ohkeh chingu ndak papa mau di komen dichap mana aja tapi berhubung baru 2 chap sebelumnya ya nggak mungkin komen dichap 4 #bodor deh gue# amin, semoga aja begitu cz Suho udah ada feeling-feeling begitu deh meski rada pede.

Kazehiro Yuki : saat rambut upin ipin jadi kayak ipang(?) tunggu aja kelanjutannya. aku mau bikin Suho ngenes, Lay nyesek, Kris tertawa bahagia dan Tao makan bambu(?)

heeriztator : yah masa mau ending disitu kan ntar aku ditampolin readers lainnya cerita gantung tinggak dewa zeus alias zelo #plak# syukur deh berarti aku pas ya masukn karakter mereka masing-masing hoho. aku liat dari video-videonya dulu sih biar lebih gereget. yup, moga chap ini memuaskan ;p

mjjeeje : tenang aja, Suho pasti bikin tsunami lebih dahsyat dari tsunami jepang buat si naga ganteng bitchy-face Kris hahaha.

ViAnni07 : mari kita lihat kelanjutannya yang entah kapan aku mau bikin, oke^^ ?

ICE14 : nggak masalah telat yang penting chingu 'es' sempet ngereviwe ya #hukss srooot# ;_;

Jung Ha Ki : sebenernya dia nggak jahat, cuma sayaaaaaang banget ama si Icing kayak waktu happy camp yang dia tereak "ANWAEE!" ituloh #apaan sih lu thor -_-# jangan pukul papah tiri aku, meski papah tiri, aku sayang banget ama naga mecum *Q* yup, moga chap ini memuaskan ;p

berlindia : loh ya harus ngereview ff papah ama dadynya dong ;p #modus# jangan dicekek, masukin sumur aja biar jadi suhoku kembarannya sadako. Suho aja kudu pake tenaga ekstra apalagi si Lohan, ya nggak? cubitaja pake cukuran ketek dah biar nista dikit ._.w

minprayudi : Kris nggak menyebalkan kok, cuma pengen aku nistain aja disini buakakakaka! yup, moga chap ini memuaskan ;p

Guest : enaknya apa ya, masa Suho kudu ama Tao? dikira monyet peliharaannya Tao ntar si Suho #plaak#

shinta lang : pantesan kemana si shinta nggak nongol-nongol -_- aku cariin loh ah. hahah emang begitu kan si Icing. jangan dihajar, cemplungin septiktank aja deh wkwkwk.

Chingu doain saya, buat apa? Buat bisa menyelesaikan fanfic ini sama Werewolves vs. Vampire. Sumpah dah saya rada gondok mikir pelangi yang nggak muncul-muncul. Selain itu saya juga rada parno sama readers yang mau bekepin saya ke keteknya Xiumin -_- #lirik AbigailWoo# wkwkwk. Jangan lupa, review selalu saya butuhkan untuk meningkatkan kualitas cerita. Terimakasih :)