Previous Chapter.

DRAP DRAP DRAP

Tao menoleh ke asal suara.

"Baekhyun hyung, Chanyeol hyung, annyeong," sapa Tao ramah. Namun yang disapa hanya memutar bola mata mereka.

"Tao-ah, sekarang bukan saatnya beraegyo," ujar Baekhyun, Chanyeol mengangguk. Tao yang polos memiringkan kepalanya, "Kenapa?" Haruskah semua yang ada disana menepuk kening seksi Kai?

"Pokoknya bukan waktunya," sahut Chanyeol. Tao yang menurut hanya mengangguk meski ia heran ada apa sebenarnya hingga membuat temannya itu sedikit galak. Kris yang tetap ditatap Luhan, kini harus mendapat satu tatapan tajam lagi. Chen mendekatkan wajahnya pada wajah tampan Kris.

"Geu***kki."

.

.

.

THAT XX Chapter 4

.

.

.

Sinar mentari pagi hangat menyapa. Memaksa masuk ke segala ruang di penjuru bumi. Tak terkecuali kamar bernuansa biru langit itu, di mana seorang namja tampan yang masih memejamkan mata harus terganggu oleh hadirnya sang surya yang menyilaukan.

TIT TIT TIT TIT

BRAK

Suho menerjang pintu kamar mandinya, membersihkan diri sekilat mungkin.

BRAK

Pintu lemari pakaian menjadi korban selanjutnya. Mengobrak-abrik isinya demi mendapatkan kemeja putih, dan setelan abu-abunya (bayangin aja seragam di MV Growl) kemudian mengenakannya secepat mungkin, menarik dasi hitam keabu-abuannya dari balik pintu lemari. Beralih ke kaca besar yang terpampang di sebelah lemari pakaian, menyisir rambut hitamnya asal menggunakan jari, melingkarkan dasi ke leher, menyambar ransel, lalu—

BRAK

Dan kali ini pintu kamar yang terbuka lebar.

DRAP DRAP DRAP

Langkah kaki Suho beradu dengan lantai kayu tangga rumahnya hingga menimbulkan suara gaduh.

"Morning, appa, umma."

Cup cup.

Setelah memberi ucapan selamat pagi dan mengecup pipi orangtuanya, kali ini yang di sambar Suho adalah sandwich, menggigitnya seraya memasang sepatu dan mengikat talinya, "umma, appa, Suho berangkat dulu."

"Kim Joonmyeon! Susumu belum kau minum," teriakan Ryeowook—umma Suho—menginterupsi aksinya memutar kenop pintu. Dengan sedikit mendengus, Suho melahap seluruh sandwich yang masih ia gigit dan kembali ke meja makan. Kim Jongwoon atau Yesung—appa Suho—tercengang melihat pipi gembil Suho yang penuh sandwich dari balik koran paginya. 'Aigo, anakku masih cute dan sangat cute. Neomu kyeopta' batinnya /ayah yang aneh -_-/. Suho menegak habis susunya dan berlari keluar rumah.

BLAM

Suho pun menghilang di balik pintu meninggalkan Ryeowook dan Yesung yang menatap kepergiannya dengan tatapan aneh.

"Err.. yeobo, siapa itu Suho?" tanya Yesung. Ryeowook menoleh sekilas, "ya anak kita lah," jawab Ryeowook santai, masih dengan acara menata tomat dan teman-temannya diatas potongan roti.

"Aku hanya punya anak bernama Joonmyeon, bukan Suho," tukas Yesung. Kini Ryeowook menghentikan kegiatannya dan menghela nafas mendengar tukasan bodoh suaminya itu, "Suho itu panggilan akrab anak kita dari teman-temannya," sahut Ryeowook malas. Yesung hanya ber-oh ria.

.

.

Setelah menempuh perjuangan mengejar bus terakhir di halte, berdesak-desakan dengan penumpang sesama anak sekolah yang bernasib sama, berlari dari halte pemberhentian bus menuju sekolahnya, bernegosiasi dengan satpam sekolah yang bersikeras tak memberi ijin untuknya masuk—tapi pada akhirnya sang satpam harus mengalah karena tak tahan melihat bbuing-bbuing Suho yang sangat gagal meski ketampanannya tak luntur sedikitpun, kini sampailah Suho di kelas.

Suho yang kelelahan langsung nyelonong masuk menuju bangkunya, di mana Kyungsoo sudah duduk manis dengan tangan terlipat di atas meja dan buku paket kimia tebal terpampang di hadapannya. Suho membuka mulut lebar-lebar berusaha mengambil O2 karena dua lubang hidung masih belum cukup mampu menetralisir paru-parunya yang kembang kempis. Setelah di rasa cukup normal, Suho membuka mata, mengusap peluh di keningnya dan saat ia akan mengeluarkan buku, mata hitam itu menangkap tatapan aneh dari teman-teman sekelasnya.

"Mwo?" tanyanya pada Kyungsoo dengan tampang polos. Namja belo itu hanya mendongakkan dagu agar Suho mengikuti arah yang ia tuju ke depan. Suho menurut dan betapa rontok jantungnya melihat Kim seonsaengnim menatapnya tajam dengan rahang terkatup rapat menahan geraman serta tangan yang mengepal. Suho menelan saliva, mengedarkan pandangan ke seluruh kelas di mana kini semua mata tertuju padanya.

Suho nyengir tanpa dosa, "saem, annyeonghaseyo," ucapnya seraya berdiri dan membungkuk di bangkunya. Saking semangat, nyaris saja keningnya terantuk meja karena badannya membungkuk lebih dari 90 derajat. Kim seonsaengnim menghela nafas panjang berusaha membuang segala asap yang sudah mengepul di atas kepalanya, "Kim Joonmyeon, saya tak mau basa-basi, cepat berdiri di depan kelas." Memang merasa salah, Suho hanya bisa menghela nafasnya dan maju. Kim seonsaengnim memperhatikan penampilan Suho lalu menggeleng, "angkat satu kakimu," titah beliau. Suho menelan saliva lagi, kemudian mengikuti perintah seongsaenimnya.

"Pegang dua telingamu," lanjutnya, Suho mendelik, "saem, ini seperti anak SD," protes Suho. Kim seonsaengnim membalas pendelikan Suho, "saya tak peduli. Cepat lakukan atau hukumanmu saya ganti menyapu halaman." Dengan berat hati Suho melakukan apa yang diperintahkan. Jelas ia tak mau jika harus menyapu halaman, terlebih ini musim gugur. Bayangkan harus berapa kali ia mengulang menyapu halaman sekolah yang lebarnya hampir satu hektar itu. Bisa-bisa ketampanannya luntur dan Lay tak mau dekat-dekat lagi dengannya. Jangan, jangan sampai terjadi. Terdengar kekehan kecil dari teman-temannya yang lain. Malu? Sangat jelas. Tapi apa daya.

Oh ini hal yang sangat menyenangkan bagi para yeoja di kelasnya. Mereka lebih memilih memperhatikan Suho ketimbang pelajaran molalitas sampi reaksi mol yang Kim seonsaengnim terangkan di papan. Para namja berjiwa uke pun tak kalah senang seperti halnya para yeoja. Kecuali Luhan, Xiumin, Kyungsoo dan Lay tentu saja.

Eh?

Lay?

Suho melirik namja manis yang terlihat sedang memperhatikan Kim seonsaengnim sembari sesekali mencatat hal yang menurutnya penting. Suho tersenyum tipis. Entah apa hanya perasaan Suho saja, Lay terlihat sangat manis dan polos jika dengan konsentrasi. Sedikit tersentak kala matanya bertemu pandang dengan Lay. Mana waktu ia sedang tersenyum pula. Memalukan. Lihat saja Lay sampai terkekeh sendiri. Omo! Dimple itu.

PLAAK

Suho meringis, mengusap pucuk kepalanya. Kim seonsaengnim sang tersangka utama pemukulan kepala Suho dengan spidol mengikuti arah pandangan Suho, "Apa yang kau lihat? Sunny? Taeyeon? Atau Yixing?" tanya Kim seonsaengnim.

Yixing.

Tentu saja Suho tidak mengatakannya. Itu hanya sorak sorai dari dalam hati Suho.

"Saya tidak melihat apa-apa, saem," jawab Suho. Ia mencuri pandang ke arah Lay yang semakin terkekeh mendengar jawabannya dan menyikut lengan Luhan, tapi yang disikut hanya melirik sekilas dan kembali pada bukunya, tanpa ekspresi. Ada apa dengan Luhan?

"Baiklah. Berdiri yang benar," titah Kim seonsaengnim.

"Arraseo."

.

.

Jangan bilang kalau yang ada di pikiran Lay saat ini adalah kesalahan, Suho yang di depan itu sangat menarik. Lihat penampilannya, rambut hitam legam acak-acakan dengan poni basah karena peluh yang turun menutupi keningnya, bibir merah yang sedikit terbuka—mungkin mengambil nafas—, dasi yang sedikit longgar melingkari kerah kemejanya yang juga terlihat berantakan dengan separuh bagian depannya keluar dari lingkar ikat pinggangnya yang melingkari panggul. Suho terlihat—seksi.

What?

Lay mengerjap, kembali kepada pelajaran. Bukan berarti ia tak berhenti melirik Suho sampai jam pelajaran Kim seonsaengnim berakhir dan tuntas sudah hukuman Suho, dan itu berarti hilanglah pemandangan indah di depan kelas.

Namja itu segera menuju bangkunya. Berdiri selama dua jam dengan satu kaki cukup membuatnya pegal. Mengipasi wajah tampannya dengan buku tulis Kyungsoo seraya melonggarkan dasi dan membuka satu kancing atas kemejanya, bertepatan dengan Lay yang berbalik hendak menyimpan buku pelajaran ke dalam tas di belakangnya dan tak sengaja menangkap pemandangan—Suho-membuka-kancing-kemeja-dengan-san gat-seksi—itu dengan sangat jelas. Memerahlah wajahnya hingga ke telinga. Dengan cepat ia berbalik dan menangkup pipinya seraya menggeleng-geleng. Sedangkan Suho terkekeh melihat tingkah Lay.

.

.

Kelas nampak sepi. Hampir seluruh siswanya keluar, ke kantin, atau kemana saja yang menurut mereka nyaman hingga tinggalah tiga manusia di dalam. Suho hanya tiduran dengan kepala ia letakkan di atas meja menghadap Kyungsoo yang sedang membaca buku. Entah sengaja atau tidak, itu membuat Kyungsoo sedikit risih.

"Ya! Jangan memandangiku terus!"

Mendengar bentakan Kyungsoo, Lay mengalihkan pandangan dari IPhonenya ke belakang di mana Suho dengan posisi begitu terlihat seperti menggoda Kyungsoo yang kini wajahnya sudah memerah.

"Siapa yang memandangimu, aku hanya membaca sinopsis novel yang kau baca, GR!" balas Suho sengit. Lay malah terkekeh melihat pertengkaran kecil Suho-Kyungsoo.

"Makanya, ubah posisimu," seru Kyungsoo dingin. Suho mendengus, "ani. Aku sedang dalam posisi nyaman," tolak Suho mentah-mentah. Ganti Kyungsoo yang mendengus sebal, namun saat ini ia sedang tidak dalam mood—mari kita selesaikan ini Kim Joonmyeon, jadi ia tak membalas Suho. Lay terus memperhatikan mereka, Suho masih tetap dengan posisi awal dan Kyungsoo yang semakin menaikkan buku hingga menutupi wajahnya yang masih memerah. Mungkin dia malu.

Lay menoleh ke sekitarnya mencari sosok tiga sahabatnya yang baru ia sadari sudah menghilang bersamaan dengan keluarnya Kim seonsaengnim tadi. Mendengus ia tak menemukan sosok Luhan yang sedari tadi mendiaminya. Bertanya dalam hati, ada apa dengan salah satu sahabatnya yang tergolong ceria itu, mari kita sebut; hiperaktif.

Menyerah, menyadari dirinya hanya sendiri di bangku depan, ia pun bangkit mendekati dua orang yang barusan rebut itu.

"Kyungsoo-ah, kau tak melihat Luhan-ge, Xiumin-ge, dan Chen?" yang di tanya hanya mengedikkan bahu dengan wajah datar nan polos, matanya yang melirik sekilas ke arah Lay kini sudah kembali pada tulisan dalam novelnya. Lay mendengus lagi. Ini juga, ada apa dengan Kyungsoo? Walaupun Kyungsoo termasuk pendiam, tapi tak sampai memperlakukan dirinya secuek ini.

Mata Lay beralih pada Suho yang sedari tadi tak berkutik. Lay mendesis membuat Kyungsoo kembali meliriknya, kemudian menunjuk Suho dengan dagu. Jujur, ia tak dapat melihat wajah Suho dengan posisinya yang membelakangi dirinya.

Kyungsoo menoleh ke Suho, kemudian meletakkan novelnya ke atas meja, menangkupkan kedua belah telapak tangannya menjadi satu dan meletakkannya di sebelah pipi kirinya. Memejamkan mata sepersekian detik, memperagakan orang yang sedang tidur. Lay hanya membulatkan bibirnya tanda mengerti. Iseng, ia menarik kursi yang ada di depan bangku Suho perlahan, berusaha agar tidak menimbulkan suara kemudian duduk menghadap Suho. Meletakkan dagunya di atas lipatan lengannya, "Kyungsoo-ah, lihat wajahnya." Kembali, Kyungsoo terpaksa melirik Suho, "tampan."

Eh?

Lay mengerjap mendengar pernyataan singkat Kyungsoo. Jadi bukan hanya dirinya yang menyadari Suho itu tampan? Apakah author pun demikian? Apakah readers juga demikian? Apakah? Apakah? Lay menjadi kepo bagaikan Dora yang menanyakan bagian mana yang pemirsa di rumah sukai tentang adventure-nya. Ckckck…

"Kau.."

Kyungsoo mendongak, kesal sebenarnya dengan namja ini, cukup menganggu acaranya menamatkan novel yang sudah masuk deadline. Maklum, novel pinjaman dari Kibum sunbaenim.

"Kenapa?" ia melipat tangannya di atas meja dan menatap Lay intens. Ditatap seperti itu Lay risih sendiri. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, cukup malu untuk melanjutkan kalimatnya.

"Ani.."

Diam.

Ketiganya diam. Kyungsoo memilih melanjutkan novelnya, Lay kembali memperhatikan Suho, dan Suho tidur. Tak jarang Lay tersenyum tiba-tiba membuat Kyungsoo yang mau tak mau melihatnya harus menaikkan sebelah alisnya bingung. 'Ada apa dengan anak ini', batin Kyungsoo. Tak ingin memperpanjang, ia pun kembali pada novel. Novel yang cukup tebal dan tak kalah tebal dengan buku antropologi Park seonsaengnim yang sering ia lihat kala guru bersingle dimple itu lewat di hadapannya.

"Tumben Suho tertidur di kelas? Bukankah biasanya jam istirahat begini ia sedang dikelilingi Kai cs, kan?"

Apa itu pertanyaan untuk Kyungsoo? Atau hanya gumaman tak jelas Lay?

Kyungsoo menghela nafas, "kau saja yang tidak pernah tahu, Ge. Suho hyung itu punya jadwal tersendiri untuk tidur di kelas. Tapi sepertinya hari ini bukan jadwalnya, kurang tidur mungkin." Setelah selesai membuka bungkus lolipopnya, Lay segera mengulum benda manis itu, "ah! Aku ingat." Menatap wajah tak mengerti Kyungsoo, Lay tersenyum lebar, "semalam aku menelfon orang ini sampai jam tiga pagi." Lanjutnya seraya menunjuk tepat di depan hidung Suho.

Lho?

Dua alis Kyungsoo terangkat, matanya sedikit melebar dari normalnya, dengan bibir yang membentuk huruf O. Bukankah semalam Lay pergi dengan, "Kris," gumamnya lirih.

"Apa? Oh! Kris!"

Pekikan Lay membuat Kyungsoo tersadar dengan apa yang barusan ia ucapkan, babo, "memangnya ada apa dengan Kris sunbaenim, Ge?"

Basa basi.

Dapat Kyungsoo lihat raut sumringah di wajah Lay yang manis saat ini.

"Suho orang pertama aku ceritakan tentang ini, dan mungkin kau yang kedua. Sebenarnya aku akan bercerita kepada yang lain juga. Tapi entahlah kemana makhluk-makhluk itu berada." Hah pasti tentang dinner romantis yang berujung dengan terbongkarnya kedok Kris, pikir Kyungsoo.

.

.

"Baekhyun-ge."

Baekhyun menghentikan langkahnya, membalikkan badan manghadap sosok yang memanggilnya barusan. Baekhyun memutar bola mata. Sejak kejadian semalam, jujur saja Baekhyun sedikit malas bertemu dengan orang ini. Tapi apa daya, Baekhyun tak bisa menyalahkan—, "ada apa Huang Zi Tao?"

Tao merapikan seragamnya yang barusan sempat menabrak siswa lain saat hendak menghampiri Baekhyun, lalu tersenyum lebar, "aku mau bertanya sesuatu, Ge." Tao memainkan jari-jarinya seolah memperlambat waktu dan itu mengundang rasa jengah pada diri Baekhyun.

"Ppali Tao! Aku harus menemui seseorang."

Tao terkesiap mendengar nada bicara Baekhyun yang sedikit menyentak—menurutnya. Bibirnya bergetar. Baekhyun yang menyadari satu kesalahnnya itu menghentakkan kakinya kesal dan menghampiri Tao, mengusap lengan namja tinggi di depannya ini, "mianhae. Apa yang mau kau tanyakan?" huft. Jangan sampai ia membuat Tao menangis di sini. Sedikit kesal dengan sifat cengeng Tao yang seperti bayi itu.

"Tentang tadi malam—" sudah Baekhyun duga, "ya? Ada apa?"

Memelintir ujung seragamnya, Tao sedikit takut untuk mengatakan ini, ia menatap Baekhyun sekilas kemudian detik berikutnya ia akan membuang muka, "Err apa artinya saekki itu?"

JDEER

Sialan. Baekhyun sudah bersiap mencerca Kris di depan Tao jika saja yang ditanyakan semacam; mengapa Kris dibully?

Baekhyun mendengus. Susah memang, harus menjelaskan apa kepada bayi di hadapannya ini. Jujur ia tak tahu apa itu saekki dalam bahasa Mandarin. Sebagai anak yang baik, Baekhyun tak pernah mempelajari kata-kata kasar dalam bahasa lain. Cih~ Baekhyun alibi.

Mata Baekhyun berputar-putar, kemudian berhenti sejenak untuk menatap Tao yang masih menatapnya dengan wajah sangat polos namun menyeramkan. Tak tega atau memang sungkan ia untuk menjawab pertanyaan Tao. Lebih baik pakai kiasan, tapi apa yang tepat? Tiba-tiba datang mukjizat(?), ekor matanya tak sengaja melihat Kris, Kyuhyun, dan Changmin yang berada di pinggir lapangan basket. Sungguh, jeli sekali mata Bacon ini.

"Tao, aku yakin kau adalah anak baik. Tapi tolong jangan pernah tanyakan apa arti saekki pada orang Korea, arra? Tapi aku akan menjawab apa itu saekki yang sebenarnya." Tao mengangguk mantap, menyilangkan jarinya di depan dada—berjanji.

"Saekki itu—Kris sunbaenim." Dan Baekhyun pun melenggang pergi dengan indahnya meninggalkan Tao plus tanda tanya besar di atas kepalanya.

"Jadi, saekki itu Kris-ge, ya?"

.

.

Nampak enam orang namja tengah menatap meja kantin yang sama. Jika ini berganre fantasy ataupun supernatural, sudah pasti meja itu bolong tengahnya di tatap tajam oleh mereka.

BRAAK

Lima dari enam namja itu menatap heran sang penggebrak meja. Sang tersangka dengan nafas tersengal-sengalnya kini sedang meniup telapak tangannya yang terasa panas akibat aksinya barusan.

"Chanyeol-ah, sudah cukup bagus kau menggebrak meja, tapi acara meniup telapak tanganmu itu sungguh merusak suasana." Chanyeol hanya nyengir bodoh, "mian Xiumin hyung. Emosi jiwa berimbas pada lost control-nya tenaga," Konyol. Yang lain memutar bola mata mereka mendengar pernyataan Chanyeol.

"Bilang saja kau sudah bosan dengan keheningan yang menyelimuti kita, hyung."

"Mungkin itu bisa menjadi alasan."

"Chanyeol hyung beralibi."

"Tidak. Ada alasan lain Sehunna."

"Apa?"

"Aku lapar. Suho hyung tidak memberikan uang jajan kepada kita selama tiga hari ini."

"Hyung, kau tahu. Kegalauan hati berimbas pada labilnya ekonomi."

"Masuk, masuk."

Dan dua makhluk tiang itu terus ber-conversation ria tanpa memperdulikan tatapan jengah dari teman-teman mereka yang lain. Geli sebenarnya mendengar ucapan mereka yang sok dewasa itu.

"Ngomong-ngomong, Baekhyun hyung kemana?" pertanyaan Kai menghentikan ocehan Chanyeol. Baru sadar dengan absennya Baekhyun di antara mereka. Mengapa yang peka terhadap ketidakhadiran Baekhyun malah Kai, bukan dirinya? Apa mungkin Chanyeol sudah tak memiliki kepekaan lagi terhadap keberadaan Baekhyun di hatinya? Itu berarti Chanyeol sudah tak mencintai Baekhyun. Lalu Baekhyun harus pergi meninggalkan Chanyeol karena kebodohannya sendiri yang tak peka terhadap Baekhyun? Dan Kai akan merebut Baekhyun darinya. Oh tidak. Itu tidak boleh terjadi T_T

"Ne, aku tak melihat dia sedari tadi." Suara Xiumin membuyarkan pikiran aneh di otak Chanyeol. Ia menatap Xiumin dalam-dalam membuat hyungnya itu sedikit risih.

"Baekhyun hyung mencari Suho hyung. Tadi dia bilang begitu kepadaku." Tiga pasang mata menatap Sehun termasuk Chanyeol. Lagi—kenapa? Kenapa Baekhyun tidak mengatakan ini padanya, dan kenapa malah ke Sehun? Benar. Sepertinya persepsi Chanyeol terbukti bahwa Baekhyun tak menganggap Chanyeol lagi. Dan apa itu? Baekhyun mencari Suho hyung? Apakah—? Oh tidak. Memang Suho hyung itu tampan dan kaya, tapi apa kurang dirinya selama ini? Setidaknya ada kelebihan dari dirinya—tinggi. Ya. Chanyeol lebih tinggi dari Suho hyung \(^_^)/

Tunggu!

Kenapa kita malah membahas pikiran Chanyeol yang sedikit miring itu? Ckck…

Xiumin menyeruput milkshakenya, "untuk apa?" Sehun hanya mengedikkan bahu. Kai mengikuti gerik Xiumin, ia menyeruput milkshakenya juga, "minta uang mungkin." sahutnya. Di detik berikutnya, Kai merasakan ada yang aneh pada lidahnya, ia mengecap beberapa kali, "kenapa milkshake ini asin? Xiumin hyung tak salah pesan kan?" yang ditanya hanya menggeleng. Kai beralih pada Sehun, namja itu mengedikkan bahu lagi. Luhan, diam, begitupun dengan Chen. Terakhir, Chanyeol, namja itu bersiul. Mencurigakan menurut Kai.

"Hyung! Apa yang kau lakukan dengan minumanku?" teriak Kai tepat di depan wajah Chanyeol, bukannya marah, namja itu malah nyengir sangat lebar dan terlihat bahagia, "supaya greget dan legit, ku tambahkan garam."

Kai mendelik mendengar pengakuan tanpa dosa Chanyeol. Dengan sigap ia menggoyang-goyangkan tubuh Chanyeol hingga dapat dilihat ada beberapa ekor burung terbang mengitari kepala Chanyeol. Pusing. Xiumin dan Sehun hanya menggeleng melihat tingkah konyol dua dongsaeng dan hyung mereka. Kemudian Xiumin beralih pada Chen dan Luhan yang sedari tadi diam tanpa kata.

Xiumin menyenggol lengan Chen cukup keras membuat namja itu menoleh malas ke arahnya lalu berpaling. Ya ampun kenapa dua orang ini, pikir Xiumin. "Chenie, tak perlu dipikirkan terlalu serius, kita cukup tahu dan saat yang tepat akan memberi tahu Lay tentang hal ini. Ini masalah Lay dan Kris, bukan?" ujarnya seraya mengusap lengan Chen lembut. Dengan cepat, Chen menoleh ke arahnya dan cukup membuat namja bakpao itu tersentak kaget. "Ini masalah kita juga."

GRAAK

"Dan ini saat yang tepat untuk mengatakannya pada Lay." Semua mata menatap Luhan yang sudah berdiri dengan mata bening itu balik menatap teman-temannya, mencoba memberikan keyakinan sebagai jawaban atas tatapan mereka. Dua langkah Luhan akan meninggalkan kantin, tangannya ditahan seseorang membuat Luhan reflex menoleh, mendapati Xiumin sambil berkata, "jangan egois."

Luhan tersenyum simpul seraya menggelengkan kepalanya mantap, "ani, Ge." Kini ganti Xiumin yang menggelengkan kepalanya, "Lay akan menolak semua perkataan kita mentah-mentah. Kau tak ingat dengan yang dulu-dulu?" mata Xiumin dalam menatap Luhan, berusaha agar dapat merobohkan dinding tebal yang menjadi benteng kenekatan Luhan. Ini terlalu cepat. Sangat cepat.

Luhan melepaskan genggaman tangan Xiumin dari lengannya, "I know." Bodoh. Ingin sekali Xiumin mengumpat dongsaengnya ini, "kalau kau sudah tahu kenapa masih kau lakukan?" Luhan berbalik badan menatap Gegenya, "aku tak tahan jika Lay berlama-lama dengan Kris, Gege." Santai. Itulah yang dapat Xiumin tangkap dari nada bicara Luhan.

Menghela nafas ia menghadapi ke-keraskepala-an Luhan. Ia beralih pada hobaenya yang lain, menatap mereka satu persatu, "kalian tahu maksudku, bukan?" dan hanya dibalas anggukan oleh mereka. Namun, rasa sungkan terhadap sunbae yang membuat mereka tetap bungkam untuk mencegah Luhan, termasuk Sehun. Sudah cukup paham dia bagaimana Gegenya itu jika sedang keras kepala.

Mata Xiumin masih menatap punggung Luhan yang perlahan menghilang di balik kerumunan siswa-siswi lain. Ia beralih pada Chen, berharap namja itu—

"Aku ikut Luhan-ge."

—tetap tinggal.

.

.

"Disana aku bisa melihat kesungguhan Kris \(^_^)/"

Lay mengakhiri dongengnya dengan tepukan riang. Childish sekali, dan Kyungsoo bosan kalau ia boleh jujur. Sedari tadi ia hanya menganggukkan kepala mendengar cerita Lay tentang dinnernya semalam. Miris sebenarnya. Bersalah. Kyungsoo merasa bersalah membiarkan Gegenya itu bercerita seriang anak kecil yang mendapatkan permen di hari Halloween padahal ia tahu, di sini Lay adalah korban. Korban perasaan :'D

"Gege senang?"

Tepukan tangan lay berhenti seketika. Sedikit takut sebenarnya melihat bagaimana ekspresi Lay saat ini. Apa ada yang salah dengan pertanyaannya? Berpikir keras berusaha menemukan jawaban; tidak. Yang ada di pikiran Kyungsoo adalah sebentar lagi Lay akan memberikan pertanyaan bertubi-tubi tentang alasan mengapa ia masih bertanya seperti itu. Kyungsoo malas menjawabnya, lebih tepatnya sih bingung harus menjawab apa. Namun pikiran itu ditepisnya jauh-jauh kala senyum merekah lebih lebar menghiasi wajah Lay, Kyungsoo sampai bergidik ngeri dibuatnya. Orang aneh -_-

"Tentu, Kyungsoo-ah. Tentu." Jawab Lay girang seraya menoel-noel pipi gembil Kyungsoo membuat sang empunya pipi memejamkan matanya untuk sekian detik.

Tak kunjung berhenti menoel pipinya, Kyungsoo menepis halus tangan Lay untuk menyingkir dari wajahnya. Itu sangat mengganggu kau tahu, "jadi setelah pulang dari restoran itu dan Gege tak bisa tidur, Gege menelfon Suho hyung?" tanya Kyungsoo seraya melirik Suho yang masih tertidur di sebelahnya. Ia yakin, namja ini pasti makin pulas setelah Lay berdongeng tadi. Lay ikut menatap Suho kemudian tersenyum dan menoel ujung hidung mancung Suho. Hari ini Lay gege gemar menoel-noel. Cukup mengerikan jika hal itu menjadi suatu kebiasaan, pikir Kyungsoo.

"Ne. aigo, aku tak tahu kalau harus membuat dia lelah seperti itu."

Apa hanya perasaan Kyungsoo saja, ia menangkap ketulusan, baik dari ekspresi maupun nada bicara Lay. Tapi kenapa namja itu tak peka-peka? Ia prihatin pada Suho yang harus mendengar curahan kebahagiaan Lay. Ckckck. Memang, Suho lelah, lelah fisik dan perasaan kau tahu!

"Suho hyung…."

GRAAK

BRAAK

JDUUK

"Appo!"

Lay terkesiap kebelakang, Kyungsoo melebarkan matanya tanpa bergerak sedikitpun meski saat ini jantungnya bergerak melebihi ambang batas, sedangkan namja yang kini sedang mengusap-usap keningnya hanya meringis. Sebenarnya yang membuat Lay sendiri hampir terjungkal karena reaksi terkejut Suho yang berlebihan. Jangan salahkan Suho, salahkan namja mungil berambut dirty blonde yang berteriak barusan dan kini sedang melambai cantik ke arah mereka. Byun Baekhyun, suaramu. Ckckck ._.w

"Suho hyung.. Bogoshipo \(^3^)/"

Dengan genit Baekhyun memeluk sunbae tersayangnya itu erat-erat. Seolah tak bertemu sekian tahun karena terpisahkan oleh jarak dan waktu. Baekhyun yang tertukar /haha garing/. Jika saja Lay dan Kyungsoo tidak mengingatkan Baekhyun tentang wajah Suho yang kini berubah kebiruan, mungkin namja tampan itu akan tergelatak tak berdaya. Satu hal yang terlewat, Lay merasakan tendangan kecil saat Baekhyun memeluk Suho posesif. Ish~ Hari ini Kyungsoo cukup peka menebak ekspresi wajah Lay dan jika boleh Kyungsoo simpulkan, Lay itu—jealous. Toeng -_- ! Kyungsoo, kau sembarangan.

"Hyung, ada yang ingin aku bicarakan."

Suho menatap Baekhyun yang sudah memasang tampang sok seriusnya. Ia menepuk-nepuk dadanya yang sedikit sesak akibat perbuatan Baekhyun barusan, "mwo?" Baekhyun melirik Kyungsoo cukup lama, kemudian beralih pada Lay sekilas dan diakhiri dengan helaan nafas, "jangan di sini," berbisik ia di telinga Suho, mengundang kerutan di kening sunbaenya, "wae?" Suho menoleh pada Kyungsoo dan LAY? Ia baru sadar jika ada Lay di dekatnya. Dag dig dug jantungnya, berdesir darahnya. Suho.. kau berlebihan u,u

Suho berdehem.

"Baiklah, tapi—"

Kalimat Suho terpotong oleh derap langkah tiga manusia yang kini memasang wajah garang dan mendekat ke arahnya, tepatnya ke arah Lay. Baekhyun menoleh, Kyungsoo diam, dan Lay bingung. Bingung mendapati wajah sahabatnya yang kini nampak tak bersahabat.

"Baekhyun-ah, bisakah kau kembali pada cs-mu?" ujar Xiumin, menepuk-nepuk pundak Baekhyun pelan. Namja itu mendesah kecewa namun kemudian ia mengangguk, "Baiklah, hyung."

Keenamnya menatap kepergian Baekhyun. Sepeninggal hobae mereka, suasana mendadak menjadi canggung. Entah kenapa, namun yang paling merasakan adalah Lay, yang paling heran adalah Suho. Ia tak mengerti. Ada apa dengan teman-temannya ini? Kenapa seperti mau melabrak dirinya? Diliriknya Kyungsoo mencoba untuk mendapatkan jawaban, namun orang yang di maksud hanya diam, lebih tepatnya sengaja diam.

Luhan menatap tiga orang di depannya bergantian dan berhenti pada sosok Suho yang bisa di bilang memasang tampang bodohnya. Ia menyikut rusuk Xiumin yang di balas dengan helaan nafas dari namja itu. Ia menarik Lay untuk berdiri, membawanya ke depan kelas dan menjauhi Kyungsoo dan Suho. Xiumin mendekati Lay, menepuk pundaknya dan membiarkan tangannya bertengger di sana cukup lama. Memejamkan mata seolah mencari keberanian. Menghirup nafas panjang lalu membuangnya perlahan. Kembali ia menatap Lay, dalam, berharap kata-katanya tak akan menyakiti namja rapuh itu.

"Lay—"

.

.

"Baekie."

Chanyeol langsung menghambur ke arah Baekhyun kala ekor matanya menangkap sosok yang sedari tadi ia cari itu, "kau darimana?"

"Sudah ku bilang, Baekhyun hyung mencari Suho hyung." Baekhyun menjentikkan jarinya membenarkan pernyataan Sehun. Chanyeol memutar bola matanya, "kenapa kau tak memberi tahuku :( ?"

"Untuk apa, jika kau sibuk dengan game di IPad-mu, hyung?" dan kini Chanyeol harus memberi glare pada Kai, yang mendapat tatapan tak suka hanya cengengesan. Baekhyun mencomot keripik kentang milik Sehun, "minta ya?" berhasil mendapat anggukan dari sang pemilik. Toh hanya sedikit, pikir Sehun. Kemudian duduk di antara Kai dan Chanyeol, "kurasa aku tak perlu menjawab pertanyaanmu, Yeolie, mereka sudah mewakiliku." Chanyeol mendengus kesal. Melupakan pikiran anehnya sewaktu di kantin.

"Kau sudah bertemu Suho hyung?" Sehun meletakkan kembali bubble tea-nya, Baekhyun mengangguk, "ne." Kai melipat tangannya di depan dada, tak lama ia pun mengelus dagunya, berlagak, membuat Chanyeol harus melayangkan tepukan ringan di kening Kai.

"Hyung, appo!"

"Kalau kau mau mengeluarkan statement-mu, cepatlah. Di sini kita tidak untuk melihatmu berlagak bagai detektif ternama. Membuatku mual." Tukas Chanyeol sarkatis. Sehun melebarkan matanya, "dari tadi Chanyeol hyung sensi. PMS ya hyung?"

PLAAK

"Hyung TAT" menghiraukan ringisan Sehun, Chanyeol kembali pada Kai yang sudah bertampang serius,

"Sudah hyung katakan?" Baekhyun menggeleng cepat, "aku keduluan Luhan-ge cs." Kai mengangkat sebelah alisnya, "kan target hyung hanya Suho hyung?" Baekhyun melirik keripik kentang Sehun lagi dan kembali mencomot isinya, kini lebih banyak, "minta ya?" Bukan minta namanya, merampok iya -_- pikir Sehun yang kini menatap miris ke dalam kemasan keripiknya yang tinggal remahannya saja.

Baekhyun menyuapkan keripik hasil jarahan ke dalam mulutnya, "iya, sama saja jika Suho hyung ada bersama Lay-ge dan Kyungsoo hyung." Kai mengangguk paham, hyungnya ini pastilah keduluan dan sebagai hobae yang baik dia tak dapat menarik Suho hyung begitu saja di depan sunbaenya.

Chanyeol menatap tiga temannya bergantian, "apa Suho hyung sudah tahu tentang semalam?" Baekhyun memutar bola matanya, "jelas belum, Yeolie. Aku juga belum sempat bertanya tentang itu pada Suho hyung. Huft =3="

"Ku harap Luhan-ge cs tidak mengatakan hal yang aneh-aneh pada Lay-ge. Setidaknya untuk antisipasi keberadaan Suho hyung yang tak tahu apa-apa itu." Lanjutnya. Tiga temannya mengangguk setuju, kemudian mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sehun yang masih meratap tentang keripiknya, Chanyeol yang kembali berfikir tentang; Baekhyun yang meninggalkannya, dan Kai yang lapar. Ckck anak-anak aneh ¬_¬

.

.

"Bagaimana?"

Alis Kris terangkat sebelah mendengar pertanyaan Kyuhyun yang sangat ambigu, "apanya?" Kyuhyun mendengus, "hubunganmu dengan Lay dan juga tentang kencanmu semalam?"

Detik berikutnya dapat dilihat perubahan air muka Kris dengan jelas. Kencan? Apa itu bisa disebut kencan? Mungkin Lay dan yang lain akan menganggap itu sebagai sebuah kencan dan tak lebih dari sekedar makan malam bagi Kris, karena kencan yang sebenarnya adalah saat ia bersama Tao, dan Kyuhyun tak tahu tentang itu.

Tak ingin menjawab pertanyaan temannya dengan cepat, ia terus memantulkan bola basket di tangannya, tatapan kosong itu membuat Kyuhyun dan Changmin mengerutkan kening. Changmin merampas bola basket dari tangan Kris, mendribble ke arah ring dan shot! "pasti ada masalah."

Kris membuang muka, "ne." Kyuhyun dan Changmin saling berpandangan. Changmin mendekati mereka dan duduk beralaskan paving tepat di hadapan Kris. Namja tampan itu menghela nafasnya, bersandar pada pohon di belakang tempat duduk pinggir lapangan basket sekolah. Cukup nyaman dan rindang, setidaknya ada udara segar yang membuat pikiran Kris tenang,

"Sepertinya Luhan dan yang lain akan menyuruh Lay untuk meninggalkanku."

.

.

"Tinggalkan Kris."

Suho membulatkan matanya. Dua kata dari Xiumin mengundang kerutan di keningnya. Bingung. Ada apa? Ia memperhatikan satu persatu teman-temannya yang kini berada di depan kelas itu. Kondisi kelas yang sepi membuat suara Xiumin mendominasi. Chen yang memasang wajah datar. Luhan tampak tak acuh, Xiumin yang terlihat khawatir, dan Lay yang tak kalah terkejut dengannya. Mungkin Lay lah yang seharusnya lebih terkejut dan bertanya-tanya.

Dapat Suho lihat Lay menepis halus tangan Xiumin dari pundaknya, "apa maksud Gege?" Xiumin menghela nafas sembari melirik dua temannya. Chen mendengus dan dengan tetap berwajah datar ia mendekati Lay, "kami sudah tahu semua tentang Kris."

Eh?

Mata Suho kembali melebar. Lay mengalihkan pandangannya pada Chen, sebelah alisnya terangkat satu menandakan ia juga tak paham, "m-maksudmu?" Chen memutar bola matanya kemudian menyenggol lengan Luhan bermaksud supaya namja itu saja yang menjelaskan.

"Dia tidak mencintaimu," jawab Luhan malas. Sebelumnya ia pernah mengatakan hal ini pada Lay hingga ia harus rela di tinggal Lay pindah bangku bersama Suho di belakang.

Apa Suho jahat? Kini ia sudah memasang senyum miring setelah mendengar perkataan Luhan.

Kita lihat bagaimana reaksi Lay setelah ini, Xi Luhan :D

Lay mendengus, "cih. Aku tahu Kris. Dia mencintaiku," sahutnya sarkatis. Sungguh ia lelah dengan teman-temannya yang selalu saja beranggapan bahwa Kris tidak mencintainya. Luhan menghela nafas. Ia sudah menduga reaksi Lay akan seperti ini.

"Kau tidak sepenuhnya tahu tentang Kris, tuan Zhang. Dan kau belum mengenal namja itu dengan baik," tambah Xiumin.

Baozi hyung, tampaknya percuma kau berkata seperti itu.

Lay tersenyum sinis, "memang kalian tahu apa tentang Kris? Dekat saja bahkan tidak," Lay melengos. Tiga namja didepannya saling bertatapan, "ne, kami memang tidak tahu apa-apa tentang Kris, tapi setidaknya kami tahu apa yang tak kau ketahui," ujar Luhan lembut. Dia tak ingin jika harus bertengkar lagi dengan Lay. Tapi dia lebih tak ingin jika Lay harus tahu kebenaran di belakang. Xiumin mengusap wajahnya kasar, "kau berkata seperti itu karena kau tak tahu yang sebenarnya,"

"Cinta memang buta, hingga kau tak melihat apa yang ada dibalik layar," tambah Chen.

Ya. Kau terlalu buta, sayang.

Lay menatap nanar kepergian tiga temannya. Perkatan demi perkataan mereka masih melekat di pikirannya. Pernyataan Chen yang terakhir tadi memberikan tendangan kecil di dadanya. Kecil, namun menyakitkan. Memang apa yang ada di balik layar? Masih dengan berdiri mematung di depan, tak menghiraukan dua manusia lain di sana. Bibirnya bergetar, dadanya terasa sesak. Mengingat baru saja ia merasakan kebahagian kecil bersama Kris, kenapa harus diikuti dengan yang seperti ini?

GRAAK

Lay menoleh cepat di mana Suho berdiri dan menarik tangan Kyungsoo keluar, melewatinya dengan acuh tanpa menatapnya sedikitpun.

.

.

Angin semilir langsung menyapa wajah mereka kala keduanya sampai di atap sekolah. Suho menghempaskan tangan Kyungsoo kasar, berjalan lurus mendekati pagar pembatas. Tapi detik berikutnya ia berfikir, 'kenapa aku harus bertindak sekasar itu pada Kyungsoo?' -_-

Kyungsoo mengusap pergelangannya yang sedikit memerah akibat genggaman tangan Suho barusan, di hempaskan pula. Ckck. Kadang Kyungsoo berfikir kenapa banyak yang mengatakan bahwa Suho itu seorang malaikat jika pada kenyataannya dia sering bertindak aneh dan kasar. Mengobrak-abrik meja salah satu contohnya.

Menghirup udara perlahan, menghembuskannya perlahan berharap apa yang menyesakkan dadanya ikut terbuang bersama gas itu. Suho membalikkan badannya menghadap Kyungsoo. Menatapnya tajam hingga membuat risih sang objek, "apa yang kalian lihat?" Kyungsoo mengerutkan keningnya, "memang apa urusanmu?"

Aish~ anak ini.

"Sekarang bukan tentang apa urusanku, jawab pertanyaanku, Do Kyungsoo." Lagi, Suho berfikir kenapa ia harus berkata sejutek itu pada Kyungsoo. Apa salahnya -_- ?

"Kami melihat Kris bersama namja lain tepat saat ia baru saja mengantar Lay pulang." Suho mendekati Kyungsoo, Kyungsoo melangkah mundur, Suho terus mendekati Kyungsoo, dan Kyungsoo tetap melangkah mundur sampai pada akhirnya Suho kembali mencengkeram pergelangannya, "kenapa kau terus mundur, eoh?" Kyungsoo membuang mukanya yang sudah memerah, jujur saja ia tak pernah sedekat ini dengan namja selain Kai. Hoho.

"Kau menakutkan." Mendengar jawaban Kyungsoo yang cukup aneh, Suho mendengus kesal. Baru saja ia akan menghardik Kyungsoo, teringat akan tujuannya kembali, terpaksa ia tunda. Suho melepaskan cengkeramannya lalu berjalan mundur. Berbalik badan dan melompat pagar pembatas, oh maaf-maaf, typo. Berbalik badan lalu mengusap wajahnya kasar, "pulang dinner?"

Kyungsoo yang sibuk mengusap pergelangannya lagi seketika membulatkan mata, "d-dari mana kau tahu?" Suho tersenyum miring dan berbalik menghadap Kyungsoo, "Lay menelfonku."

Menepuk jidatnya sendiri, Kyungsoo lupa kalau tadi Lay sempat bercerita kalau ia curhat pada namja ini. Ckckck makin mirislah Suho di hadapannya.

"Siapa namja yang bersama Kris itu?" tanya Suho setelah sadar dari lamunannya beberapa detik lalu. Kyungsoo mendongak, "memangnya kau kenal?" Suho menghentak-hentakkan kakinya kesal bagaikan Arya Wiguna yang sering ia tonton di infotaiment yang sekarang sudah tenggelam di telan bumi kabarnya, namun setelahnya ia berdehem menyadari ke-OOC-annya barusan, "bisakah kau langsung menjawab pertanyaanku tanpa balik bertanya, Do Kyungsoo?"

Kyungsoo terkekeh, "mian. Namanya Huang Zi Tao. Teman Baekhyun. Anaknya cukup manis, ditambah mata pandanya yang meski terlihat menyeramkan tetapi imut." Kyungsoo menjeda penjelasannya, "pantas saja Kris tak mau melepasnya." Lirih. Ia melanjutkannya dengan lirih.

Huang Zi Tao? Mata panda? Suho Nampak berfikit sejenak. TRING~ sebuah bohlam kuning keemasan muncul di atas kepalanya meski saat ini siang hari namun bohlam itu mampu membuat silau mata Kyungsoo.

Flashback.

Langkah kaki yang tak begitu panjang namun sangat putih karena celana seragamnya yang pendek selutut, membuat gaduh koridor sekolah yang terlihat menyeramkan. Seluruh siswanya hampir sudah pulang, satu hal yang membuat Suho kembali ke sana padahal ia sudah sampai di gapura kompleks rumahnya /tunggu, memangnya di Korea ada ya gapura kompleks?/, yaitu tempat pensil Baekhyun yang tertinggal, dan tiga hobaenya itu memaksanya kembali ke sekolah hanya untuk mengambil tempat pensil Baekhyun. Jika saja Suho tak ingat kepada umma mereka yang merupakan teman ummanya, sudah pasti Suho akan berlari meninggalkan empat hobae itu ke rumahnya, mengunci pintu rumah dan kalau perlu memberi alat sensor yang menolak kedatangan mereka. Kejam.

Langit yang mendung semakin membuat aura horror semakin kentara disana. Namun bukan Suho namanya jika ia akan menegak ludah dan berjalan dengan kaki bergetar. Ingat, kan? Dia Suho. Suho yang sok berani.

"Ish~ Baekhyun menyebalkan. Kenapa harus aku dan bukannya Chanyeol yang mengambilnya?" kini Suho sudah mendapatkan apa yang ia cari, sebuah tempat pensil kain berwarna baby pink dan bergambar logo SNSD. Sedikit terkekeh Suho melihatnya.

Setelah memasukkan barang berharga milik Baekhyun ke dalam tasnya, ia melongok ke kanan kiri. Sepi. Padahal Suho berharap ada satu atau dua orang yang ada di sana. Menuruni tangga dengan berhati-hati, maklum dalam situasi mendung dan gelap, ia sedikit meraba tembok supaya tidak terjatuh. Namun saat ia menuruni anak tangga yang terakhir, sekelebat bayangan lewat di seberang sana. Tepatnya di depan aula. Merinding bulu kuduknya.

Suho mengusapkan kedua telapak tangannya yang mendingin, "hey! Hwak mudeo! Geu daeum mangmak heundeureo jeongsinirke!"

Ingatkan Suho tentang jangan lupa mantengin timeline tumblr dan nge-stalk news feed EXO. Suho adalah EXOstan :D

Suaranya menggema ke seluruh koridor. Sosok itu kembali terlihat dan yang pada awalnya berjalan kini terlihat berhenti.

"Hey! Jja—"

Belum sempat ia meneruskan sapaanya pada sosok itu dengan lagu EXO, ada yang menepuk pundaknya. Suho menegak ludahnya. Benteng pertahanan dirinya runtuh seketika kala tepukan di pundaknya diiringi oleh semilir angin yang cukup keras hingga menimbulkan suara gemeresak dedaunan di sana. Hembusan nafas hangat di lehernya semakin membuatnya merinding. Dengan horror Suho menolehkan kepalanya, lehernya terasa kaku. Berdoa dalam hati semoga yang ada di belakangnya saat ini adalah LAY! Aigo Suho dalam situasi mencekam seperti ini ia masih sempat-sempatnya berpikiran seperti itu. Perlahan, hampir terlihat, yak!

"HWAAAA!"

"UWAAAAA!"

Dua wajah saling berhadapan dan saling berteriak tepat di depan wajah masing-masing.

"S, s-siapa kau?" Suho menunjuk sosok di depannya dengan telunjuk gemetar. Demi apa, langit yang semakin gelap membuatnya semakin ketakutan melihat mata sosok di depannya ini yang menghitam.

"K, k-kau juga siapa?" sosok di depannya tak kalah gemetar.

"P-perkenalkan, a-aku, K-Kim J-j-Joonmyeon," ketakutan berimbas pada kewarasan.

"A-aku H-huang Z-zi T-t-Tao," Suho yang memejamkan matanya kini membuka mata perlahan, mendengar sosok di depannya mempunyai nama dan berucap dengan tak kalah bergetarnya, setidaknya muncul sedikit keberanian dalam diri Suho.

"Eh, kau manusia? Ku kira hantu. Matamu menyeramkan." Oceh Suho masih dalam mode out of characternya. Sosok bernama Tao itu menarik Suho ke arah lapangan, mencari sedikit cahaya, "ne, Tao manusia sunbae. Tao juga mengira sunbae hantu, sunbae terlalu putih, sih."

JLEB

Dengan senyum terpaksa Suho segera menarik lengan Tao untuk ikut dengannya berlari keluar gerbang sekolah, kemudian menepuk pundak Tao, "baiklah, kita beruntung kita adalah manusia dan aku harus pergi, sampai jumpa Tao." Suho pun melambai indah. Tao juga tak kalah melambai indah pada Suho, "sampai jumpa Jun-ma-hao."

Flashback off.

"Jun-ma-hao."

Kyungsoo menepuk-nepuk pipi Suho, "hyung? Hyung tidak apa-apa?" Suho mengerjap beberapa kali kemudian menggeleng cepat membuat Kyungsoo ikut menggeleng tak mengerti.

"A-ani. Aku baik-baik saja." Jawab Suho setelahnya. Bergidik sendiri jika mengingat pertama kalinya ia bertemu namjachingu Kris itu. Jika di bandingkan dengan Lay, lebih baik Lay, tapi lebih imut Tao. Jika di suruh memilih, ia pasti akan memilih Tao. Lho? Maaf typo, maksudku, lebih memilih Lay.

Kyungsoo mengangguk, nampaknya ia berhasil menghentikan gelengan kepalanya, "hyung, kita lanjut ke topik awal, arra?" Suho menoleh pada Kyungsoo kemudian mengangguk, "intinya Kris itu punya namjachingu selain Lay-ge."

Suho mendekati pagar pembatas, melihat Kris bersama dua temannya yang lain di pinggir lapangan basket. Matanya menyipit tanpa sengaja Kris mendongak dan bertemu pandang dengan Suho. Cih~ apa itu? Kris memberikannya senyum miring disertai wink. Mual perut Suho melihatnya. Ia berbalik, "aku sudah tahu."

Kyungsoo tak dapat menyembunyikan rasa kagetnya, "k-kenapa hyung tidak mengatakannya pada Lay-ge?" Suho mendengus lalu tersenyum tipis, "tidak mengatakannya? Kau bodoh. Aku bukan Kris yang jelas-jelas sudah mendapatkan Lay tetapi diam-diam menyakitinya." Membuang mukanya, menyembunyikan kesedihan dari Kyungsoo, "aku tak ingin menyakiti Lay. Itu saja."

Kyungsoo tersenyum, ia paham betul bagaimana sifat Suho. Dua tahun duduk sebangku dengan namja ini, selain paling mengerti dengan keanehan Suho, ia juga tahu bagaimana dalamnya ambisi Suho untuk menjaga Lay, meski ia harus dipukul mundur oleh Kris.

Ia mendekati Suho dan menepuk pundak namja itu, "jika kau bergerak lebih cepat, mungkin saat ini perasaan Lay masih tetap terjaga." Suho menoleh, menatap Kyungsoo lekat-lekat, mencerna kalimat teman sebangkunya itu perlahan. Kyungsoo mundur, berjalan mendekati pintu atap, "rebut Lay,"—"pastinya dengan caramu sendiri."

BLAAM

.

.

To Be Continue

.

.


Halo readers-nim. Maaf ya updatenya sedikit lama meski nggak sampe bertahun-tahun. Saya sempet nge-block alias hilang feeling buat nih fanfic, sempet frustasi juga sih -_- untuk chapter tiga mungkin sedikit berfantasi tapi aslinya nggak kok, itu cuma alih-alih saya aja buat meramaikan suasana haha. Dan untuk chapter empat ini maaf jika kurang memuaskan, pelangi di otak saya baru kembali dari hijrahnya. Di sini beberapa moment saya potong-potong, entah kenapa saya dapet ide seperti itu, kalau mau tahu alasannya sih mungkin akan saya jawab; alibi :p Ada sedikit humor di sini tapi saya yakin sangaaaaaat garing dan tidak lucu, tapi seenggaknya lumayan biar nggak terlalu serius yah :D Untuk penokohan mungkin agak melenceng dari chapter sebelumnya entah dari sisi mananya TAT.

Oh ya saya mau sedikit curhat, kalau dipikir-pikir, part nyanyinya Suho sama Lay di setiap lagu /ya meski nggak semua lagu/ itu hampir sama ya -_- Oh ya, ada yang tahu tentang Lay sama Sehun yang kisseu belum? Itu saya tahu pas iseng-iseng mantengin timeline tumblr eh muncul gambar gifnya, demi apa saya langsung tereak history, di situ yang ngebet banget si Sehun sampe miring-miring -_- penasaran melanda, langsung download di yutub. Lumayan bisa diulang-ulang :D trus juga ada momentnya Suho sama Tao. Yang bikin saya kecewa, kenapa Lay nggak milih Suho aja :(

Oke lah, kayaknya curhatan saya tentang Lay sama Sehun yang cipokan terlalu panjang ._.

Ucapan terimakasih saya dedikasikan kepada ;

MinSeulELFSparFishy | Nada Lim | Ira Putri | Choi Heewon | heeriztator | ViAnni07 | AlpacaAce | Kim Jae-seon | AbigailWoo | berlindia | yesunghyuk1 | chenma | wulandarydesy | ICE14 | shinta lang | Guest | minprayudi | Jung Ha Ki | mjjeeje | Kazehiro Yuki | MinhyoPark94 | Baby Panda Zi TaoRis EXOtics | Jang Taeyoung | ReoZz | riana nandaKim Haerin-ah | Jang Seong Na | CHOcocolate

yang sudah jadiin fanfic ini favorit, nge-follow, dan untuk silent readers yang mungkin belum sempat ngisi kotak review :)

Buat yang nanya lagunya Jiyong, judulnya THAT XX, saya sengaja ngambil judul yang sama, hehe. Buat yang nanya GeuXX itu artinya apa, XX sendiri itu sebenernya saekki; brengsek /ups/

Akhir kata; would you review my fanfic, please :) ?