Previous Chapter.
Kyungsoo tersenyum, ia paham betul bagaimana sifat Suho. Dua tahun duduk sebangku dengan namja ini, selain paling mengerti dengan keanehan Suho, ia juga tahu bagaimana dalamnya ambisi Suho untuk menjaga Lay, meski ia harus dipukul mundur oleh Kris.
Ia mendekati Suho dan menepuk pundak namja itu, "jika kau bergerak lebih cepat, mungkin saat ini perasaan Lay masih tetap terjaga." Suho menoleh, menatap Kyungsoo lekat-lekat, mencerna kalimat teman sebangkunya itu perlahan. Kyungsoo mundur, berjalan mendekati pintu atap, "rebut Lay,"—"pastinya dengan caramu sendiri."
BLAAM
.
.
.
THAT XX Chapter 5
.
.
.
Setelah alis Kyuhyun terangkat melihat teman di sebelahnya ini tiba-tiba menyeringai, ia mengikuti arah pandangan Kris di mana ia dapat melihat Suho tengah berdiri di dekat pagar atap sekolah dan menatapnya—oh bukan, lebih tepatnya menatap Kris dengan sorot yang bisa dibilang sangat dingin, lalu detik berikutnya namja pucat itu menghilang seiring dengan seringaian di bibir Kris yang semakin mengembang. Kyuhyun menghela nafasnya, mengingat kejadian beberapa bulan lalu di mana ia, Kris, dan Changmin sedang membahas Lay, lalu secara tiba-tiba Suho mendobrak pintu bilik toilet dan—Argh! Kyuhyun mengerang frustasi. Bayangan wajah Suho saat itu sungguh harus membuatnya mengubah image malaikat Suho selama ini. Dia seperti setan.
Melihat temannya yang seperti orang linglung Kris menaikkan satu alis tanda tak paham dengan sikap Kyuhyun. Baru saja ia akan menepuk pundak Kyuhyun tiba-tiba namja itu menoleh cepat dan menatapnya tajam membuat Kris harus berjengit mundur. Terkejut.
"Kau lihat Joonmyeon? Kurasa auranya saat ini sungguh tak bagus."
Alis Kris semakin terangkat. Kenapa dia membahas Joonmyeon pikir Kris. Melihat raut wajah Kris yang seolah mengatakan 'apa-maksud-mu-?' Kyuhyun kembali menghela nafas.
"Barusan aku melihatnya di sana..." ia menunjuk atap sekolah dan Kris mengikuti arah yang ditunjuknya. Senyum miring Kris nampak jelas di mata Kyuhyun. "...kurasa dia melihat ke arah kita. Boleh aku koreksi? Lebih tepatnya ia melihatmu. Dari jarak sejauh ini sinar laser dari matanya bisa aku lihat menembus pupil matamu. Apa aku berlebihan, Kris? Dia sangat menakutkan untuk ukuran namja pendiam sepertinya."
Kris mengedikkan bahu tanda tak ingin menjawab dan memijat pelipisnya mendengar ocehan Kyuhyun. Semua sudah jelas dan benar, jika ingin hiperbola sinar laser dari mata Suho seolah ingin meledakkan kepalanya.
"Kurasa Joonmyeon membenciku." Punggungya ia sandarkan ke bangku. Kepalanya ia dongakkan menatap langit tanpa batas di atas sana. Awan berarak cukup lembut. Gumpalan benda putih itu membuat otaknya menampilkan seberkas bayangan seseorang. Orang yang tak kalah lembut dari awan, tak kalah berarak dan mencerminkan sejuta imajinasi di otaknya. Yeah~ siapa lagi kalau bukan Lay. Terkadang beban di pundaknya semakin berat kala ia mengingat Lay diam-diam. Apa lagi kalau bukan Tao? Sungguh Kris tak ingin terjebak seperti ini sebenarnya, namun apa daya, sifat manusia yang tak selalu puas membuatnya menuruti nafsu. Nafsu ingin memiliki keduanya. Cih.
"Aku tak mengerti apa yang terjadi di antara kalian, tapi barusan ingatanku tentang tragedi toilet saat itu membuatku dapat sedikit membaca skenario kalian berdua."
Desahan keluar dari celah kedua bibir Kris saat mendengar argumentasi Kyuhyun tentang konflik hati antara dia dan Joonmyeon. Ia paham pembicaraan Kyuhyun condong ke mana dan apa yang ia dengar barusan membuat kotak pandora di dalam sana terbuka lebar.
"Kyuhyun-ah.."
Kyuhyun menolehkan kepalanya menghadap Kris, "..hmm?"
"Menurutmu Joonmyeon menyukai Lay?"
Sederet kata yang ia lontarkan barusan mampu mengundang tatapan aneh dari Kyuhyun namun di detik berikutnya teman di sebelahnya itu ikut mendesah—lemah, "..yeah mungkin.."
"Tapi menurutku lebih dari sekadar menyukai."
Kyuhyun kembali menatap Kris, kali ini lebih lekat seolah bola matanya tak ingin berpindah objek dari sosok di depan wajahnya. Kris masih mendongak dan tatapan matanya lurus ke awan cerah bergumul di atas sana.
"Maksudmu dengan lebih dari sekadar menyukai?" dapat ia dengar helaan nafas panjang Kris mendominasi udara. Raut gelisah tersirat di wajah tampan temannya.
"Joonmyeon mencintai Lay."
.
Des Parfaits
.
Tao berjinjit untuk mendapatkan buku antropologi yang tersusun di rak bagian atas. Kini ia berada di perpustakaan sekolah. Cukup sepi atau memang takdir sebuah perpustakaan yang memang harus sepi. Terlihat beberapa anak dari kalangan nerd yang tengah mengencani 'pacar' mereka masing-masing di pojok ruangan.
"Hup! Akhirnya.."
Senyum riang terulas di bibir kucing Tao. Manis dan sangat manis. Satu detik ia berbalik badan sepertinya Tao harus rela jantungnya berdegup abnormal setelah melihat siapa yang tiba-tiba terpampang di depannya saat ini. Seraut wajah datar namun cukup manis dan polos nampang beberapa jengkal dari wajahnya.
"Ah aku kira siapa.." ujarnya sembari mengelus dada lega.
"Bisa kau ambilkan buku itu?" Tao mengikuti arah yang ditunjuk sosok di hadapannya ini lalu mengangguk, "..tentu.."
Tanpa sepengetahuannya mata sosok itu memperhatikan mulai dari ujung rambut sampai ujung sepatu Tao, ia memiringkan kepalanya seolah memikirkan sesuatu.
"S-sunbae? Eh benarkah kau sunbae-ku?"
"Eh? Ne, namaku Zhang Yixing, kau bisa panggil aku Lay."
Tao mengangguk paham, "..ini buku yang sunbae inginkan.." ujarnya seraya menyerahkan buku dengan judul sastra Inggris itu pada Lay. Tak kunjung mendapat tanggapan dari sunbaenya, sedikit menjadikan alasan terangkatnya alis Tao, ia mengikuti arah tatapan Lay, nametag-nya.
"Sunbae? Ini bukunya.."
Arah pandangan Lay beralih. Mengerjapkan mata berusaha mengembalikan alam sadarnya. Ia menggigit bibir bawah—kebiasaan, tercetak keraguan di wajah manisnya.
"Kau Huang Zi Tao?"
"Ne sunbae. Ada apa?"
Lay mundur beberapa langkah. Menghirup udara panjang mencoba mencari sebuah kekuatan untuk menjadi benteng hatinya. Entah kenapa tiba-tiba dadanya terasa kebas, rasa tak nyaman menggelayuti benaknya.
"Kau mengenal Kris?" lirih, sangat lirih.
Kening Tao berkerut menanggapi ucapan Lay yang nyaris tak terdengar itu.
"S-sunbae? Bisa ulangi—"
"LAY?"
.
Des Parfaits
.
"Hyung~!"
"Suho hyung~!"
"Bogoshippeo~!"
"Lapaaaaar~!"
Langkah kaki Suho ia percepat kala teriakan nista itu kembali dan terus berdengung di telinganya. Meski sudah cukup jauh tetap saja ia sedikit merasa parno. Nafas terengah-engah. Empat L menderanya, lelah, letih, lunglai, dan lapar. Jangan salahkan Suho yang tak segera duduk di salah satu bangku kantin dan memesan makanan lalu membiarkan makanan-makanan itu memenuhi lambungnya. Teman-teman, Suho lebih menyelamatkan dompetnya daripada lambung yang meronta kala satu kakinya menginjak lantai kantin, entah kenapa empat makhluk aneh itu langsung menolehkan kepala ke arahnya. Semacam telepati dan mempunyai radar akan keberadaannya.
Sungguh Suho tak suka melihat mata bulat hobae menyebalkan namun ia sayangi itu. Jujur saja tetap terlihat lucu namun satu hal—me-nye-bal-kan -_- seolah berkata 'oh-makaikat-ku-datang-lah-kemari-lah', dan itu yang menjadi alasan mengucurnya bulir peluh dari kening Suho saat ini. Tidak, tidak. Suho tak akan terkelabuhi kali ini.
Sebuah kepala menyembul dari balik pilar koridor sekolah. Matanya nyalang ke sana ke mari mendeteksi keberadaan 'musuh' yang saat ini mungkin saja sudah ada di sekitar sana. Clear. Bersih dari 'musuh'. Punggung Suho merosot. Duduk berjongkok seraya melonggarkan dasi lalu mengibaskan kerah kemejanya.
Lumayan juga dikejar anak-anak itu. Aku jadi sehat, hehe.
Suho terkekeh—bodoh.
Dirasa cukup energinya kembali, ia bangkit. Ia melongok kanan-kiri mencari tujuan selanjutnya. Baru saja satu kakinya melangkah, terhenti.
"Tidak, tidak, Joonmyeon. Kau mau bunuh diri jika pergi ke arah sana. Lebih baik berbalik arah, lebih aman. Yes, yes, yes. Berbalik arah dan kembali melarikan diri dari Kai cs."
Tangannya bergerak menunjuk arah depan di udara lalu menggeleng-geleng. Kemudian berbalik arah dengan telunjuk masih mengacung ke depan lalu mengangguk-angguk seraya tersenyum lebar mengacuhkan pandangan heran, aneh, plus jijik dari siswa-siswi lain yang melewatinya atau memang ada di sekitar sana. 'Ada apa dengan malaikat ini? Apa dia terlalu sering bergaul dengan Kai cs jadi seperti ini?' kira-kira seperti itu isi pikiran para penonton Suho.
Tangan pucat itu merogoh saku celana seragamnya. Membuka case smartphone untuk kemudian jarinya menari-nari di atas layar lebarnya. Coba kita intip layar itu..
..oh ternyata Suho membuka setting wireless-nya. Tak terasa langkah kakinya mengantarkannya menuju perpustakaan. Tempat tenangnya. Ya seperti itulah.
DEG!
Berhenti.
Kedua kakinya terhenti.
.
Des Parfaits
.
"Itu Suho?"
Chen menunjuk sosok pucat kecil(?) tengah berlari-lari di sepanjang koridor. Xiumin mengalihkan pandangannya sejenak dari kotak bekal di tangannya, "..mana?"
"Itu hyung, sepertinya dia sedang dalam misi penyelamatan diri."
"Seperti biasa, anak-anak itu tak hentinya mengerumuni Suho."
"Kurasa anak-anak itu sangat menyayangi Suho."
"Hah?"
"Iya. Meski sikap mereka seperti membully Suho setiap hari tapi—ah hyung kau tak ingat saat kita dalam sebuah misi pengintaian Kris sunbae dan Lay?"
"Ingat. Memangnya kenapa?"
"Dalam misi, empat anak itu sungguh antusias hyung, dan aku—"
"Chen-ah?"
"Yeah?"
"Hari ini kau banyak mengatakan kata "misi", memang ada apa dengan kata itu?"
Chen menyamankan duduknya di sebelah Xiumin diiringi sebuah cengiran bodoh menghias wajahnya, "..aku pun tak tahu, hyung.." kemudian mencomot satu sushi dari bekal Xiumin.
PLAK!
"Appo, hyung."
"Dan kau tak akan membiarkanku kelaparan setelah ini, kan?"
Xiumin menarik kotak bekalnya, "..kau sudah menghabiskan satu porsi dan setengah porsi milikku hari ini. Kau tahu dan masih kurang?"
Hanya cengiran bodoh dari Chen yang menjadi jawaban.
.
Des Parfaits
.
"Sunbae? Ini bukunya.."
"Kau Huang Zi Tao?"
"Ne sunbae. Ada apa?"
"Kau mengenal Kris?"
"S-sunbae? Bisa ulangi—"
Oh tidak. Bisa Suho lihat dari pergerakan bibir lucu Lay menyebut nama Kris di sana.
"LAY!"
Keduanya menolehkan kepala melihat siapa yang menginterupsi pembicaraan mereka. Harus rela Suho mendapat kecaman dari penjaga perpustakaan dan siswa nerd yang merasa 'kencan' mereka terganggu oleh teriakan hina barusan. Kondisi perpustakaan yang memang sangat sepi membuat telinga Suho dapat menangkap dengan jelas apa yang dua orang itu bicarakan.
"Ikut aku." Dengan sigap Suho menarik lengan Lay menjauhi Tao sebelum namja ini melanjutkan apa yang barusan ia ucapkan, atau sebuah masalah akan muncul dan apa yang Suho tak diharapkan Suho terjadi. Lay tersakiti. Yeah~ itu satu hal yang sangat Suho takutkan. Sejak dulu sampai sekarang.
"S-Suho? Lepaskan.." merintih lirih Lay berusaha melepaskan cengkeraman tangan Suho di lengannya sembari terus langkah kakinya mengikuti Suho yang Lay tak tahu kemana namja ini akan membawanya pergi.
Poni yang menutupi kening keduanya tersibak hembusan angin musin gugur yang cukup kencang saat tiba di bawah sebuah pohon halaman belakang sekolah. Sejuk walaupun sebagian besar daun-daunnya yang telah menguning berguguran di sekitarnya. Mendramatisir suasana dengan Suho yang menatap Lay lekat-lekat dan yang ditatap tengah menunduk dan meringis kecil merasakan nyeri di pergelangan tangannya. Ckckck.
Satu helaan nafas Suho mengawali pembicaraan, "..apa yang kau lakukan barusan?" manik matanya masih terus menikmati lekuk wajah manis di hadapannya.
"Apa yang aku lakukan? Tidak ada, hanya menanyakan sebuah pertanyaan pada panda itu."
"Dan bertanya tentang Kris?"
Lay mendongak sedetik setelah Suho bertanya seperti itu. Ia memiringkan kepala dengan satu alis yang terangkat. Tak mengerti.
"Apa ada yang salah jika aku menanyakan Kris pada panda itu? Aku hanya merasakan sesuatu yang tak asing antara Kris dan panda itu."
Bola mata Suho berputar. Bibirnya bergumam sesuatu yang tak jelas, raut gelisah tercetak di wajah tampannya. Memijat pelipisnya perlahan seolah berfikir.
"Lay, aku tak percaya kan mengatakan ini. Kau boleh membenciku setelahnya, oke?"
Tatapan tak mengerti Lay yang menjadi jawaban. Suho menghela nafasnya. Bunuh dia jika sebentar lagi Lay menangis kawan-kawan.
"Kau ingat apa yang Luhan dan yang lain katakan beberapa waktu lalu?"
Lay mendecih. Dapat Suho tangkap ketidaksukaan Lay terhadap argumen Luhan dan teman-temannya waktu itu.
"Kau akan mengatakan hal yang sama?"
"Tak akan pernah."
.
Des Parfaits
.
Tak henti-hentinya Luhan mencuri pandang ke arah Kyungsoo di hadapannya. Sesekali berdecak kesal, binar matanya menyiratkan kekaguman, rasa penasaran, dan terkadang seringaian kecil pun ia tampakkan di wajah cantiknya. Entah apa yang Luhan pikirkan tentang sahabat belonya itu sampai air mukanya berubah-ubah setiap menit. Bukannya Kyungsoo tak tahu, lebih tepatnya ia pura-pura bertahan akan sikap Gege-nya yang sangat aneh dan menyeramkan. Terus menenggelamkan diri ke dalam buku bacaanya guna menepis rasa risih dan takut dalam waku bersamaan yang menyergapnya akibat tindakan absurd Luhan.
BRAK
"Kyungsoo-ya, kau tahu, semua suka Luhan. Apa yang ada dalam Luhan semua orang suka, namun ada satu hal yang aku tak suka dari Luhan. Kebiasaannya menggebrak meja! Kyungsoo-ya! Itu sangat mengganggu."
Sepertinya Kyungsoo menyetujui curhatan Suho di atas sampai teman sebangkunya itu ikut menggebrak meja saking kesalnya dan harus rela di keluarkan dari kelas oleh seongsaenim, selanjutnya adalah keluhan lemah dari para yeoja karena berkurangnya satu pusat perhatian mata genit mereka di kelas. Suho memang tampan, siapa yang tak tahu itu.
Jika dipikir lagi bukannya Suho juga mempunyai kebiasaan menggebrak—bukan, hal yang berhubungan dengan meja juga—mengobrak-abriknya. Kyungsoo menghela nafas mengingat hal itu.
Terkadang pada sat seperti ini dia akan berpikir kenapa Lay bisa tahan duduk sebangku dengan orang aneh ini.
"Kyungsoo-ya~"
Ugh! Sungguh dia benci nada suara Luhan yang merengek seperti ini. Sebenarnya yang lebih tua di sini siapa?
"Ya, Ge? Ada apa?"
Senyum lebar terkembang di bibir Luhan. Ia berhasil menarik perhatian Kyungsoo ^^
"Kau tak ingin keluar kelas? Kenapa kau betah sekali diam di sini? Suho saja keluar kelas, masa—ah, tunggu, pasti anak itu sedang berurusan dengan Sehun cs -_- ya kan? Aku lapar. Kau tak berminat ke kantin?"
Diam.
Luhan berkedip.
Kyungsoo menghela nafasnya kasar. Meletakkan buku yang menjadi pelariannya dari Luhan sedari tadi.
"Gege bicara apa? Yang aku tangkap hanya keluar kelas. Jja.."
Ia segera bangkit dan menarik pergelangan Luhan yang masih diam berkedip me-loading apa yang barusan ia ucapkan.
.
Des Parfaits
.
Memejamkan matanya beberapa detik seiring dengan helaan nafas yang kembali ia tarik panjang saat matanya menangkap bayangan Kris di belakang Lay. Mundur beberapa langkah menjauhi sosok yang dicinta saat sosok yang lain yang mencintainya datang. Sungguh menyebalkan bagi Suho. Menghiraukan raut tak mengerti dari Lay ia berbalik arah.
"S-Suho!"
GREP
Lay terkesiap mendapati seseorang memeluknya dari belakang. Hembusan nafas hangat sosok itu sangat jelas di tengkuknya.
"Kau tak akan mengejarnya, bukan?"
"Eh? Kris? Sejak kapan kau ada di sini?"
Lay melepaskan dirinya dari dekapan sang kekasih perlahan. Mundur beberapa langkah guna dapat melihat wajah kekasihnya yang lebih tinggi di atasnya.
"Sejak Joonmyeon pergi."
"Dia pergi pasti karenamu."
Sebelah alis Kris terangkat, "..kenapa kau seperti membelanya dan menyalahkanku?"
Lay mengibaskan tangannya seraya tertawa kecil, "..ani, ani, bukan itu maksudku.."
"Lalu?"
Menggigit bibir bawahnya mencoba menepis perasaan gugup yang tiba-tiba menyergapnya. Zhang Yixing, don't do that. Kris terlihat akan menerkammu.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengannya."
Bibir Kris membulat, ia menganggukkan kepala tanda mengerti.
"Kajja, sebentar lagi bel masuk. Aku tak ingin dihukum Lee seongsaenim karena terlambat masuk kelasnya, bukan?" lengan kekarnya melingkar di pinggang ramping Lay. Membawanya pergi dari tempat itu karena ada sesuatu yang ia rasakan, aneh.
"Darimana kau tahu sebentar lagi ada jam Lee seongsaem, Kris?"
"Hey, aku kekasihmu. Wajar aku tahu jadwalmu seharian ini, chagiya."
"Ya! Kris lepaskan! Aku tak bisa bernafas."
"Akan aku beri nafas buatan."
"Yak!"
Sesuatu yang membuat Kris merasa aneh muncul. Menatap kepergian orang yang dicintai dengan orang yang mungkin akan ia benci menjauh dari sana. Yeah~ benar apa kata hati Kris, Suho tak akan benar-benar pergi dari sana.
.
Des Parfaits
.
Enam pasang mata seolah ingin menelanjangi Tao yang tengah berdiri di hadapan enam orang bak sersan yang akan menginterogasinya dengan tatapan dingin mereka masing-masing. Untung tak ada Xiumin di antara mereka. Jika ada bukan hal mustahil apa yang terjadi pada Baekhyun dan Kyungsoo beberapa waktu lalu menimpanya.
Tao menegak ludah. Ditatap seperti itu—oleh enam orang pula—membuatnya sedikit risih dan keki. Bagaimana tidak, di sini dirinya seperti orang asing dengan penampilan anehnya dan datang untuk menanyakan sebuah alamat yang tak diketahui pasti keberadaannya. Well, setidaknya perkiraan terakhir tak jaug meleset dari tujuan Tao sekarang.
"Ehem.." ia berdehem. Menghancurkan dinding kekakuan yang tengah dibangun enam orang ini secara bersama-sama untuk memisahkan antara dirinya dengan mereka.
"Boleh Tao bertanya sesuatu?"
Semua saling pandang. Isi otak mereka nyaris sama 'apa mau anak ini, eoh?!'. Tak kunjung mendapat jawaban, ia pun melanjutkan kalimatnya.
"Kenapa sunbae yang bernama Zhang Yixing itu menanyakann Kris-ge pada Tao?"
JDEEER
'Anak ini -_-' –Luhan.
'Kenapa polos sekali.' –Kyungsoo.
'To-the-point.' –Kai.
'Tanpa basa-basi.' –Sehun.
'Tak tahu malu.' –Bekhyun.
'Kenapa dia bisa-bisanya bertanya hal itu pada kami?' –Chanyeol.
Melihat berbagai macam ekspresi dari orang-orang di hadapannya yang berinti sama—ter-ke-jut—Tao kembali berdehem membuat keenamnya kembali pada alam sadar masing-masing.
"Mian jika Tao seperti orang bodoh. Tapi sungguh, Tao tak mengenal Zhang Yixing sunbae dan apa hubungannya dengan Kris-ge?"
Haruskah mereka semua merasa iba atau malah mengutuk Kris yang tega mempermainkan anak sepolos Tao? Keenamnya sadar dan tahu akan posisi Tao. Dia tak mengerti apa-apa, Kris saja yang terlalu saekki dan apa maksud Lay bertanya seperti itu pada Tao? Pertanyaan tersebut mengambang di pikiran enam orang tadi. Apa dia sudah mengetahui kebenarannya? Tapi siapa yang memberitahu?
"Dan tiba-tiba Junmahao sunbae datang lalu membawa Zhang Yixing sunbae pergi dari Tao. Tao pusing. Tao tak tahu ada apa sebenarnya. Mengingat waktu malam itu kalian datang pada Kris-ge dan melihat Luhan sunbae dan yang lain selalu bersama Zhang Yixing sunbae, pasti kalian semua mengetahui sesuatu, benar?"
Sepertinya keenam orang itu harus mengubah persepsi mereka tentang Tao. Dia tak sepolos yang dibayangkan mengetahui anak ini bisa berpikir sepanjang itu.
"Psst~ Ge, apa ini saatnya Tao mengetahui yang sebenarnya?" Kai berbisik pada Luhan.
"Tidak. Aku rasa nanti akan berimbas pada Lay juga." jawab Luhan. Ia terlihat berfikir. Membayangkan wajah sahabat manisnya berurai air mata saja ia tak sanggup, bagaimana bisa ia membiarkan Tao yang memag kekasih Kris yang sebenarnya—ini menurut Luhan dan Kai cs—?
"Ehem, Tao.."
"Yeah~ sunbae?"
"Aduh, ottokae?" Luhan menggaruk tengkuknya. Gugup menyergapnya. Ia harus tetap berhati-hati berbicara dengan anak ini.
"Zhang Yixing memang seperti itu. Dia akan bertanya ngawur kepada semua orang. Mungkin hari ini dan sialnya kau yang menjadi sasaran pertanyaannya. Jadi kami mohon kau melupakan pertanyaan Zhang Yixing, arraseo?"
Tao mengangguk, "..arraseo. Kenapa Zhang Yixing sunbae mempunyai kebiasaan selucu itu? Baiklah. Gamsahamnida, annyeong yeoreobeun.."
Seperti itulah ekspresi para spy kita.
.
Des Parfaits
.
Bel tanda pelajaran usai sudah berbunyi setengah jam lalu. Namun seorang namja dengan kulit putih pucatnya masih baru akan meninggalkan kelas. Dengan malas Suho menenteng tasnya menyusuri koridor lantai dua gedung sekolahnya. Kenapa malas? Karena Lay sudah keluar sedari tadi bersama Luhan dan kawan-kawan :D
Apa? Kalian berpikir Lay akan bermusuhan dengan Luhan cs karena kemarin membuar onar hatinya? Tidak. Lay bukan orang yang pendendam. Justru terlalu berhati mulia sampai ia dengan mudah melupakan fakta bahwa Luhan cs selalu saja menginginkannya berpisah dengan Kris. Well meski terkadang raut tak suka ia tunjukan saat membahas hal itu. Sungguh Lay berhati mulia, bukan? (read: polos—coret: tak tahu apa-apa)
Gontai ia melewati tiap-tiap kelas yang sudah hampir semuanya terkunci. Pulang paling akhir memang menyebalkan. Jangan salahkan Suho, salahkan empat hobae yang masih menyebalkan yang akan mencegat di depan gerbang utama sekolah dan ikut pulang bersamanya. Hari ini Jumat, di mana kebrutalan mereka semakin menjadi.
Berhenti. Manik hitam di matanya menangkap sosok Kris tengah berbicara dengan Tao di area parkiran sekolah. Ia terus memperhatikan dua tiang itu. Masih bercengkerama dengan riang sebelum akhirnya Tao membonceng di atas sepeda motor Kris dan pergi. Oh apa itu? Tao melingkarkan lengannya di pinggang Kris. Lebih tepat jika disebut memeluk -_-
Pikiran Suho melayang. Siapa lagi kalau bukan Lay yang menjadi tujuan utamanya. Jika Lay melihat ini, tak bagus untuk mata dan hatinya. Perasaan menyesal kembali menggelayuti benaknya. Pertanyaan yang dulu selalu berputar di kepala terus mencambuknya. Tapi apa daya, Suho tak bisa berbuat apa-apa selain menjadi penonton. Membiarkan rasa sakit akibat cambukan batin dalam hati terus menyiksa tanpa tahu kapan akan berakhir.
Sadar atau tidak tangannya mengepal. Ingin sekali ia menghajar namja jangkung itu sesekali. Meluapkan emosi jiwa yang semakin hari semakin membakar tiap melihat tingkahnya bersama Lay. Sok romantis. Cih Suho tak suka itu. Tapi—hey! Kenapa ia jadi mengomel sedangkan dirinya sendiri tak pernah menyatakan apa yang ia rasakan pada Lay. Apa bukan seorang pengecut itu namanya? Euhm?
Tidak. Suho tak akan menghadiahi sebuah pukulan cuma-cuma pada wajah tampan namun freaknya. Ia tahu, ia tak bisa melakukan hal itu. Terlalu konyol jika dilakukan secara tiba-tiba. Atau sebelumnya dia harus berkata; kau merebut Lay-ku!—bugh. Atau; jangan permainkan Lay-ku!—bugh. Atau; enyah kau dari kehidupan Lay-ku!—bugh. Hash. Suho menggelengkan kepalanya. Kenapa dia jadi se-sinetron ini? Oke sekali lagi jangan salahkan Suho. Salahkan hobae nakal yang selalu merampas remote TV dari tangannya dan seenak jidat mereka mengganti channel ke acara drama cengeng itu.
Tap..tap..tap..
Pendengarannya ia pertajam mencoba memperjelas apa yang samar-samar ia dengar barusan.
Tap..tap..tap..
Ada yang datang.
Ia menolehkan kepala mencari sumber suara. Melangkahkan kaki mendekati tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua.
BUGH
Sesuatu menindihnya.
Suho membuka mata dan betapa semakin bulat matanya mendapati Lay dalam pelukan di atasnya tengah terisak.
"Hey, ada apa?" isakan dari kedua belah bibir Lay terus meluncur seolah tak ingin menjawab pertanyaan Suho. melihat bahu di depannya terus bergerak naik turun tak berirama ia mulai memberanikan diri merengkuhnya, "..uljima. Berhenti menangis Lay.."
Dapat ia rasakan kemejanya basah. Siapa sangka Suho yang awalnya ragu untuk memeluk kini mendapati Lau semakin menenggelamkan wajahnya yang Suho yakini merah di dadanya. Terkadang sesayang apapun kalian pada seseorang, jika melihat dia menangis terus menerus pasti akan merasa kesal juga, bukan?
"Lay-ah, uljima.."
Masih menangis.
"Zhang Yixing! Berhenti menangis atau kucium kau!"
Ups~
Isakan Lay berhenti. Gerakan bahunya sudah mulai teratur. Perlahan Suho merasakan Lay melepaskan diri dari dekapannya untuk kemudian mendongak.
Demi apa, Tuhan, ini menggoda iman.
Saat seperti ini Suho akan merutuk Lay yang masih berstatus kekasih Kris sialan itu dan jika tidak sudah dipastikan Suho akan meraup bibir merah muda di hadapannya saat ini. Terlalu dekat.
"Apa..katamu?"
Ludahnya sendiri susah ditelan. Kerongkongannya serasa kering, "..tidak ada. Hanya Gertakan. Tapi kumohon berhentilah menangis. Kau membuatku merasa terbebani." Ujarnya seraya memalingkan wajah ke arah lain mencari pemandangan yang dapat menjernihkan pikirannya.
"Aku bebanmu?"
"Ya jika kau menangis. Kau tahu, kau terlihat seperti yeoja saat menangis seperti ini. Kau jelek."
Bibir itu bergetar lagi.
"Hey kenapa lagi?"
"Kau bahkan tak bertanya kenapa aku menangis dan sekarang kau mengataiku jelek? Joonmyeon bodoh!"
Aku salah bicara ya O_O ?
.
.
.
To Be Continue
Halo semua. Sudah lama nggak ketemu sama Dae.
Kalian tahu, melanjutkan fanfic ini membutuhkan perjuangan yang berarti dan tak mudah. Yeah namanya perjuangan memang tak akan mudah. Kurasa semua author pasti mengalami hal ini meski tak sampai semua juga sih -_- K dan aku benci itu. Feel-nya hilang. Aku rasa begitu. Di chapter ini feel dari lagu GD oppa sendiri udah mulai luntur. Salah Dae juga sih karena memperpanjang cerita -_- haha garing.
Hence, Dae minta maaf sebesar-besarnya buat para readers dan teman-teman sekalian yang sudah rela mau menunggu keluarnya chapter ini, dan mungkin chapter lima ini mengecewakan. Dae rasa itu. Ending cerita mungkin tidak akan lama lagi. Selain mempercepat jalan cerita, Dae juga tidak mau keteteran. Ide sudah menumpuk di otak buat yang lain. Hehe.
At last. Werewolves vs. Vampire masih dalam proses dan Dae tidak bosen-bosennya memberitahu ini. Supaya readers tidak merasa di PHP-in (halah padahal yang mulai beberapa bulan lalu kerjaannya nge-PHP-in readers -_-) sedih. Sedih T_T
Mohon diisi kotak review-nya. Dae butuh inspirasi dan masukan dari readers sekalian :)
Terimakasih.
Daexoxo *\(^o^)/*
