THAT XX Chapter 6
.
.
.
"Mianhae, baiklah sekarang aku akan bertanya. Apa yang membuatmu menangis? tapi jika boleh aku tak akan bertanya seperti itu."
Lay mendongak menatap Suho yang masih mengalihkan pandangan ke arah lain. Ia memiringkan kepala tak mengerti maksud dari perkataan Suho. Perlahan ia mundur menempelkan punggungnya ke dinding. Mengusap kasar lelehan air mata di pipi kemudian menghirup udara untuk menetralisir napasnya yang tak beraturan, "..aku masih ingat perkataanmu dulu." Kali ini pernyataan Lay berhasil membuat Suho kembali menatapnya. Memperhatikan lekuk wajahnya lekat-lekat.
"Aku juga masih sangat ingat apa yang Luhan dan teman-teman katakan padaku."
Baguslah. Lalu apa sekarang?
Masih membungkam mulutnya. Menunggu kelanjutan kata-kata tak terduga dari bibir namja yang ia cintai ini.
"Apa aku harus meninggalkan Kris?"
Memang tak terduga. Tapi sama sekali tak membuat detak jantung Suho menambah kecepatannya memompa darah. Namja tampan itu menghela napas. Tak tahu harus berkata apa saat namja di depannya ini kembali terisak. Ingin sekali Suho berkata 'Bingo! Tepat sekali. Tinggalkan Kris karena itu yang aku inginkan sejak dulu'. Tidak. Suho tak ingin sepatu bersol tebal milik Lay mendarat di wajahnya. Kurang sopan lah. Dia bukan Luhan yang dengan gamblang menyuruh Lay untuk lekas meninggalkan si brengsek itu.
"Kenapa kau berfikiran seperti itu?"
Otak dan hati Suho sungguh tak sinkron sama sekali. Apa yang ia pikirkan tak sesuai dengan apa yang hatinya ucapkan 'jangan sakiti Lay'. Ini yang Suho benci sedari dulu. Terkadang saat-saat seperti ini lebih menyiksa daripada menjadi stalker Kris-Lay yang menjadi profesi sampingannya beberapa bulan terakhir ini.
Melipat lengan kemudian menenggelamkan wajah di sana, Lay terus terisak. Tak mampu mengeluarkan suara lagi.
Diam.
Suara daun berguguran diterpa angin menjadi musik pengiring isakan Lay yang masih terus berlanjut. Sementara Suho terus menunggu satu dua patah kata yang mungkin akan keluar dai celah bibir penuh Lay,
"Ehem~ Lay, kau tak ingin pulang?"
Tak ada jawaban. Suho menghela nafas.
"Sepertinya kau masih ingin di sini."
Terus terisak. Suho mulai bangkit, melangkahkan satu kakinya namun terhenti saat ia berbalik menatap Lay yang masih tertunduk.
"Baiklah. Aku harus pulang. Jika kau mau aku akan menelfon Luhan untuk menjemputmu."
Tetap tak ada jawaban. Bahu itu masih bergetar pelan. Suho mengangkat bahu. Merogoh sakunya dan mulai menjauh.
GREEEP
Sebelum lengan putih melingkar di pinggang menahannya.
"Aku..biarkan seperti ini, Suho.."
.
Des Parfaits
.
Jangan berfikir Suho tak peduli pada Lay dengan meninggalkan namja itu sendirian di koridor sekolah tadi sore. Hanya saja Suho lebih memilih untuk mengontrol emosinya untuk berucap dan tidak mencerca Kris di saat seperti itu. Terlebih mendukung pertanyaan Lay sendiri untuk meninggalkan Kris, akan membuat namja rapuh itu semakin runtuh. Sekiranya seperti itu persepsi Suho.
Bukan bosan. Sebagai alasan, melihat seseorang yang kau cintai menangis, apalagi disebabkan oleh orang yang ia cintai, itu seperti mencari cambuk pada dewa. Istilah singkatnya, sakit. Memperhatikan tiap bulir bening itu turun ke pipi Lay dan yang ada di mata Suho adalah sebuah mata pisau mengkilat tajam yang menggores pipi mulus itu. pasti sangat sakit. Tak sesakit hainya yang terus menanti kapan perasaannya akan terbalas.
Bodoh.
Suho menutup kasar buku matematikanya. Menangkup wajah dengan kedua telapak tangan. Memejamkan mata sejenak.
Ini menghabisakan waktunya. Membuang-buang waktunya.
Sungguh.
.
Des Parfaits
.
"WHAT THE—! Kau melihat Kris pulang bersama Tao kemarin?"
Luhan kembali menggebrak meja. Empat orang di sekitarnya berjengit ke belakang. Mengusap dada masing-masing dan tertunduk seolah mengatakan 'sabar jantungku. Kau diberi cobaan'. Telinga Suho yang cukup sensitif dengan dua nama tadi mulai bergerak. Masih memejamkan matanya tanpa menyingkirkan buku Kyungsoo dari wajahnya yang mendongak. Tidur.
"Lalu apa yang kau lakukan?"
Suara menggelegar Luhan mengusik rasa keingintahuan Suho. kali ini namja tampan itu berpura-pura menyalin catatan teman belonya. Alibi.
"Aku? Berlari menjauh."
Sweatdrop.
Tak hanya empat teman Lay saja, termasuk Suho yang harus rela bukunya tercoret garis lurus panjang sampai melewati batas mendengar penuturan polos dari Lay. Meski tahu tentang hal ini sebelumnya dia tak menyangka Lay langsung pergi begitu saja tanpa menegur Kris sama sekali, masa?
Luhan menepuk kening, Kyungsoo menggeleng, Xiumin berdehem, sedangkan Chen berlari keluar kelas mencari air mineral karena tersedak potato chips.
"Kau ini.. Aigo, Yixingie.. Kenapa kau seperti gadis lemah?"
Dapat Suho tebak Lay yang menunduk saat ini sedang memainkan jarinya. Kebiasaan saat ia mulai diomeli Luhan. Dalam hal apapun. Saat ini apakah Suho boleh merasa gemas dan berkeinginan mencubiti kedua pipi itu?
Luhan, dia memang jelmaan gadis -_-
"Aku bukan gadis, Ge."
BRAAK
Kyungsoo melirik Suho di bangkunya. Tatapannya seolah berkata 'benar katamu, Hyung'. Sedangkan Suho hanya menghela napasnya lalu kembali melanjutkan aktingnya tadi.
"Siapa yang berkata kau gadis? Kan hanya seperti."
Tidak, Luhan. Dia benar-benar gadis :D
Dalam diam Suho tertawa.
"..aish Kris semakin berani saja."
Lay mendongak. Xiumin, Kyungsoo, dan Chen yang baru saja kembali dari perjuangannya mencari air mineral langsung memberikan Luhan tatapan mengerikan mereka. Sedangkan tersangkanya sudah menutup mulut seraya menggelengkan kepala. Lay semakin tak mengerti dengan gerak-gerik teman-temannya.
"Apa maksudnya, Ge?"
Suho sudah mulai mengatur napas yang memburu namun akal sehatnya terus melarangnya untuk tidak maju kedepan dan berteriak 'Kris selingkuh!'
Tunggu!
Selingkuh?
Kata yang sangat menggelikan.
"Bukan apa-apa. Kalau kami jelaskan pun kau tak akan mau mengerti, bukan?" Kini sang tetua yang angkat bicara.
Mata Suho menyipit.
Air muka Lay seketika berubah.
Lay membuang mukanya, "..benar. Aku tak akan mengerti. Dan aku tekankan sekali lagi, Kris tak akan berbuat macam-macam. Mungkin saja Tao adalah saudaranya, kan? Siapa tahu. Aku tak akan cemburu kalian mengerti itu. Kris milikku. Yeah~ aku tahu. Dia hanya mencintaiku."
Semua bungkam.
Kyungsoo yang sedari tadi diam tanpa ekspresi kini menampakkan raut kesalnya dan berjalan keluar kelas. Disusul Xiumin yang sudah menarik lengan Chen setelah melihat mata namjachingunya berkilat. Sedangkan Luhan juga mulai beranjak dari bangkunya di sebelah Lay.
"Teruslah berfikir seperti itu. Kami melihatnya dan kami tahu. Bahkan kau sendiri juga sudah melihatnya. Kau terlalu buta, Lay. Mata kepalamu sendiri sudah tak berfungsi dengan baik. Gunakan otakmu! Jangan anggap semua akan baik-baik saja. Kau sebenarnya paham itu.." Luhan berjalan menuju pintu kelas, berhenti sejenak untuk menghadap Lay.
"..kami harap kau tak akan menyesal.."
Ku harap kau tak akan pernah menyesal.
.
Des Parfaits
.
"Baik, berhubung waktu kita sudah habis meski saya masih sangat ingin berlama-lama bertemu dengan kalian.."
"HUUUU~!"
"..tenang-tenang. Maka dari itu dengan berat hati.."
"HUUUU~!"
"..tenang semuanya. Saya bilang tenang, oke? Saya ulangi, dengan berat hati saya undur diri dari hadapan kalian. Annyeong.."
"Pssst.. Kyungsoo, ada apa dengan Lee seongsaenim hari ini? Sedari tadi yang dibicarakannya penuh dengan majas."
Merasa diajak bicara Kyungsoo dan lengannya disenggol oleh Suho, "..entah, Hyung. Kurasa dia salah minum." Suho mengerutkan kening, "..baru kali ini aku mendengar ada orang salah minum, biasanya salah makan." Kyungsoo hanya terkekeh garing mendengar gurauannya yang benar-benar kering ditanggapi serius oleh teman sebangkunya itu.
"..hehe aku duluan, Hyung. Kai sudah menungguku.."
DEG
Kai?
Dengan horror Suho menolehkan kepala ke arah pintu kelas yang terbuka lebar, menampakkan salah satu dari 'musuh'nya sedang melambaikan tangan dengan riang gembira, jangan lupakan senyum lebar dan cerianya. Tampan, tapi cukup menakutkan bagi Suho yang mulai merasakan adanya phobia baru, hobaephobia. Halah. Jantungnya berdetak cepat. Pikirannya kalut diiringi keringat dingin yang mulai membasahi kening dan tengkuknya. 'musuh' di depan mata. 'Jangan sampai' itu doa Suho. Namun dewi Fortuna tidak berpihak padanya. Seiring dengan lenyapnya Kai dan Kyungsoo dari pandangan, yang ada adalah bala tentara dari Kai. Sehun, Baekhyun, dan Chanyeol.
Menarik napas berat Suho membereskan barang-barangnya. Memasukkan buku dan alat tulis perlahan, menutup tas tak kalah pelan, dan bangkit dari bangku pun seperti kakek-kakek bertulang rapuh. Niat awal Suho melakukan itu adalah mengulur waktu bertemunya dia dengan hobaenya di depan kelas sana, namun yang ada tiga 'musuh'nya malah mendatanginya dan menarik lengannya untuk segera keluar kelas.
"Hei lepaskan aku!"
Mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa demi membebaskan diri dari cengkeraman 'musuh'.
"Hyung diam saja! Kami ingin menunjukkan sesuatu." Ujar Bakehyun sewot. Menyebalkan memang tapi tak ingin membuang energi beradu argumen dengan orang ini, Suho tutup mulut sampai ia dibawa ke taman belakang dekat gudang sekolah.
"Kalian mau membullyku?" sekali hentak Suho lepas dari cengkeraman Sehun dan Chanyeol. Membenahi letak blazernya ang sedikit tak tepat dan kusut, "..apa mau kalian? Aku tak punya banyak waktu."
Ketiganya saling pandangan dengan tatapan lesu sekaligus ambisi yang tersirat di manik mata mereka. Dada mereka naik dan turun dalam waktu yang bersamaan. Baekhyun mendekati Suho dan menepuk pundak sunbaenya, "..sebentar lagi Hyung akan tahu. Hyung tetap tinggal di sini, arraseo?"
Detik setelahnya tiga 'musuh' itu pergi menjauh meninggalkan Suho yang masih mencerna ucapan Baekhyun.
Satu..
Dua..
Tiga..
"Apa maksud mere—HEI!"
.
.
Tap..tap..tap..
Bersamaan dengan derap langkah yang mendekat Suho menoleh ke asa suara. Belum tampak namun ia lebih memilih bersembunyi di balik dinding gudang.
"Ini rokokmu.."
"Thanks.."
Ah sial, ini mereka.
"Bagaimana?"
"Kenapa kau selalu mengawali dengan pertanyaan itu?"
"Memangnya kenapa?"
"Kita terdengar seperti mafia yang mengadakan pertemuan mendadak."
"Itu pantas untuk kalian berdua."
"Ya! Kau lebih seperti pimpinan mafia, Tuan Cho."
Terserahmu, Tuan Shim."
"Kalian bisa diam?!"
"Baik."
Hening. Suho masih memasang telinga.
"Aku bosan dengan Lay."
DEG
Mata Suho membulat.
Apa maksudnya?
"Sudah kuduga."
"Yup. Seberapa besarpun kau menyukainya tetap kan bosan juga, kan?"
"Bukan masalah, Kris. Toh kita hanya taruhan, kan?"
Sialan.
Buku-buku jari Suho memutih seiring dengan semakin erat kepalan tangannya.
"Aku sempat takut kalau Kris akan benar-benar jatuh cinta pada Lay."
"Ya! Bilang saja kau cemburu."
"Aku tak cemburu Cho Kyuhyun."
"Kau pernah menyukai Lay, kan"
"Well itu bukan rahasia lagi, tapi sudahlah aku berpindah fandom."
"Fandom? Memang b-boy?"
"Kalian membicarakan hal yang tak penting."
"Mianhae."
"Tapi.. aku memang menyukainya, maka dari itu aku tak menolak jika bahan taruhan kita anak dari tuan Zhang itu. Kalian tahu, dia manis."
"Aku tahu, Kris. Dia manis."
"Cih. Kau masih menyimpan rasa, Shim Changmin."
"Shut up!"
"Ngomong-ngomong manis apanya? Heheheh.."
"Semua yang ada padanya."
"MWO?"
"Tidak bisakah untuk tidak berteriak?"
"Kau sudah pernah melakukannya?"
"Tidak. Baru sebatas leher. Dia selalu menolak."
Kepulan asap rokok semakin menebal. Melewati rongga hidung Suho membuat namja itu sesak. Hampir saja dia terbatuk jika tak cepat menyekap mulutnya.
"Hah pasti itu yang membuatmu bosan."
"Salah satunya itu."
"Bagaimana dengan si Panda?"
"Lancar. Aku benar mencintainya."
"Dia manis."
"Kenapa semua kau bilang manis, Changmin-ah?"
"Memangnya tak boleh? Aku bicara jujur."
"Whatever."
Hening.
Detak jantung Suho semakin tak karuan. Tangannya dingin. Deru napasnya memburu.
"Lalu apa yang akan kau lakukan, Kris?"
"Memutuskannya."
"Gampang sekali kau bicara."
"Hanya menunggu waktu yang tepat."
"Kau tak ingin mengambil laba?"
"Ingin, tapi apa boleh buat. Lay masih polos."
"Hahah kau memang bedebah, Kris."
"Hahahahah..."
Brengsek!
BRAAK!
Ketiganya tersentak. Menyembunyikan batang rokok mereka di balik tubuh tinggi masing-masing. Wajah mereka sedikit tegang saat mengira yang datang adalah seorang guru, namun lamat-lamat melunak melihat sosok yang lebih kecil dari mereka berdiri kaku tak jauh dari hadapan mereka.
"Oh, kalian. Sedang apa?"
Bungkam.
Changmin dan Kyuhyun saling pandang. Kemudian melirik kris yang membeku terkunci tatapan Suho. Kejadian itu terulang kembali.
Tak ada yang menjawab.
"Ku kira tak ada orang. Mian jika mengejutkan."
Keduanya melirik bangku di belakang tubuh Suho, teronggok dengan empat kaki yang patah semua. Menegak ludah melihat raut datar Suho dengan sorot mata yang dingin. Benar dia berkata seperti itu seperti tak terjadi apa-apa, namun kedua manik hitam itu seolah ingin membakar Kris dalam sekejap.
"Aku tak sengaja mendengar percakapan kalian. Oh, Kris kau taruhan dengan dua kecoa ini untuk mendapatkan Lay?"
Sama sekali tak berubah.
Pandangannya masuk jauh ke dalam bola mata Kris. Tak menoleh sama sekali seakan takut kehilangan si brengsek di hadapannya saat ia mengalihkan pandangan. Tak ingin berkedip barang sedetikpun. Seolah tiang itu akan lenyap saat ia menutup mata untuk sepersekian detik.
"Ckckck..."
Satu langkah maju, Suho menarik pergelangan tangan Kris dan mengambil rokok yang terselip di antara telunjuk dan jari tengahnya. Menghisap filternya dalam-dalam untuk kemudian menghembuskan asapnya ke wajah tampan Kris. Membuat si tampan memejamkan mata.
"..dasar kep*rat!"
.
Des Parfaits
.
Benda bundar yang melingkar di jari manisnya berkilau diterpa cahaya bulan. Terus ia perhatikan seolah di sana sedang memutar memori manis bersama sang namjachingu. Terkadang menghela nafas, air mukanya berubah sedih, namun tak jarang pula ia tersenyum.
Ia melipat lengan. Menyembungikan cincin peraknya ke dalam genggaman. Ditopang pagar besi balkon kamar, ia bersandar. Kepalanya mendongak. Langit malam bertabur bintang sungguh mengesankan. Lay suka itu. Sesekali memejamkan matanya saat angin berhembus menerpa wajah. Dingin.
Bibirnya bergerak perlahan. Menyenandungkan sebuah lagu sembari merogoh saku mengambil ponselnya. Jemarinya menari-nari di atas layar lebar itu. Mengotak-atik contact list mencari nomor namjachingunya. Telepon tersambung. Lay meletakkan ponsel ke sisi telinganya. Menunggu beberapa saat namun belum juga terangkat.
Terputus.
Dicoba lagi hingga ketiga kalinya namun tetap saja tak ada jawaban. Raut wajah Lay mulai terlihat khawatir. Tak pernah sebelumnya Kris seperti ini sesibuk apapun dia.
"Kemana dia?" Dengan putus asa disimpannya kembali benda putih itu ke dalam saku. Menangkup wajah dengan kedua telapak tangan cukup lama sampai getaran ponsel di saku menyadarkannya.
"Semoga Kris. Eh? Suho? Halo?"
"Lay!"
"Lho? Luhan-ge? Kenapa memakai ponsel Suho?"
"Kami sekarang ada di Lotte World. Jangan banyak tanya bersiaplah sebentar lagi Suho akan ke sana."
"Mwo? Kenapa mendadak?"
"Kau lupa? Kita sudah merencanakan ini seminggu lalu. Aigo Yixing, sebegitu tak pentingkah janji kita?"
"B-bukan begitu, Ge, tap—"
"Cerewet! Lekas bersiap Suho sudah ada di depan rumahmu dalam waktu tak kurang dari lima menit."
Matanya membulat. Cepat sekali, pikirnya.
"Ne, arraseo."
"Oke, pay. Dandan yang cantik."
"Ya! Ge—"
Tut.. tut.. tut..
"ge.. Hash orang itu selalu seperti diktator." Lay melirik jam dinding. Sudah hampir satu menit.
.
.
"Gege! Kenapa kau seenaknya saja menyuruhku menjemput Lay? Kenapa tak kau suruh Kris?" dalam kungkungan Sehun dan Kai, Suho berusaha merebut kembali ponselnya dari tangan Luhan. Luhan berbalik, "..bodoh. Misi kita hari ini menunjukkan pada Lay betapa brengseknya Kris itu. Kau sendiri sudah tahu kenapa malah mengusulkan Kris yang harus menjemput Lay, eoh?"
"Kalian berdua bisa lepaskan aku? Aku bisa saja meminta orangtuaku untuk memblokir rekeningku dan tak akan pernah mentraktir kalian la—"
"ANDWAEEEE~!"
Bukan hanya Sehun dan Kai, bahkan Baekhyun dan Chanyeol yang baru saja kembali dari membeli permen kapas pun ikut shock mendengar penuturan Suho. Oh jangan sampai itu terjadi. Pintu neraka seakan terbuka jika kartu ATM hyungnya diblokir.
"Cih~ kenapa kalian matre sekali, eum?" tukas Luhan seraya berdecih sinis. Melempar ponsel Suho sembarangan ke arah sang pemilik.
"Ya! Gege! Kenapa kau begitu berkuasa?" omel Suho sembari mengelus dada lega berhasil menangkap barang berharganya yang nyarus luput. Jika ini terjatuh dan rusak, bukan hal mustahil dia tak bisa update EXO Showtime *plak* Suho kan EXOstan kalian ingat?
Luhan mendorong tubuh kecil Suho keluar dari Lotte World, "..sudah cepat, Lay pasti menunggumu, cebol."
PLAAK
"Mwo? Kim Junmyeon! Kurang ajaaaaaar!"
Dengan santainya Suho memukul kepala Luhan dan berlari menjauh begitu saja diiringi pekikan Luhan yang menyeramkan. Dengan tawa penuh kemenangan ia menuju tempat parkir. Baru saja akan membuka pintu kemudi ia tercekat, "..tunggu, ngomong-ngomong rumah Lay di mana?"
.
.
Berdiri mematung di depan lemari pakaiannya dengan beberapa potong baju yang tersisa menggantung di sana. Penampilan Lay sendiri sudah acak-acakan. Bahkan ranjangnya sudah seperti kapal karam dengan baju-baju yang berserakan di mana-mana.
"Tunggu, kenapa aku seperti gadis yang baru pertama pergi kencan?" ia menggaruk kepalanya. Berbalik dan memperhatikan keadaan sekeliling. Sungguh tak dapat dibedakan dengan apa yang ia pikirkan barusan.
Memungut baju-baju yang dianggap lumayan, "..ini kan hanya bermain bersama teman-teman.." gumamnya. "..apa karena Suho yang akan menjemputku?" ia mendongak, beranjak ke depan cermin dan memperhatikan penampilannya. Wajahnya memerah. Omo!
"Arrgh~! Aku malu~!"
Kembali melirik jam dinding dan sukses membuat mata Lay membulat sempurna, "..omo! Sudah hampir lima menit. Ottokae, aku harus memakai apa?"
Matanya bertumbukan dengan seonggok sweater abu-abu polos di dekat kaki ranjang.
"Bodoh, kenapa aku sampai lupa kalau saat ini cuaca dingin. Toh apa yang aku kenakan juga akan tertutup jaket, hih."
.
.
"Kau belok kanan setelah dua blok dari tempatmu saat ini. Ada plang Prol Tape(?) di depan blok, kau masuk sana."
Suho celingukan mencari apa yang dimaksud Luhan. Yah daripada kembali ke tempat teman-temannya dan bertanya di mana rumah Lay, lebih baik menelpon. Selain hemat waktu, ia juga tak ingin wajah tampan dan mulusnya menjadi sasaran bogem mentah Luhan. Dia menyeramkan.
"Prol Tape, Prol Tape, ah itu dia."
"Suho? Sudah menemu—"
Tut.. tut.. tut..
Dengan sembrono ia memutus teleponnya. Menancap gas saat matanya menemukan plang bertuliskan Prol Tape di blok depan.
"Rumah warna putih, eh? Di sini rumahnya berwarna putih semua." Ia menggaruk kepalanya. Kembali celingukkan dan sekarang dengan target, rumah Lay.
"Nomer 365, ya? Di mana? Oh, 363, 364, 365. BINGO!"
Menepikan mobilnya kemudian melepas sabuk pengaman. Saat tangannya hendak membuka pintu, Suho kembali tercekat, "..aku malu tapi jika tak kulaksanakan, Luhan bisa berubah menjadi serigala." Dengan menelan ludah Suho memutuskan untuk keluar. Berjalan terseok-seok menuju rumah Lay—pujaannya *tsiaah*
"Aku harus bicara apa? Halo Lay, kau sudah siap?" kepalanya menggeleng, "..terdengar seperti orang akan kencan."
"Kau cantik sekali malam ini, aku menyukaimu."
PLAK PLOK
Suho menampar pipinya sendiri, "..terlalu mainstreem dan kurang ajar."
"Halo selamat malam, silahkan berbelanja." Suho berjongkok, tertawa sekeras-kerasnya dengan kepala terbenam di antara lutut, "..itu seperti para pegawai toko. Sialan, aku terlalu gugup. Bagaimana jika Lay sudah menjadi milikku sepenuhnya dan aku harus menjemputnya di kencan pertama kami?"
Dengan langkah sok premannya Suho berhasil melewati pagar kayu. Berjalan menuju pintu—menurut penglihatan Suho saat ini karena ia gugup—neraka berwarna coklat di depan sana. Menghembuskan nafas berusaha menenangkan diri. Kepalan tangannya terangkat.
Tok.. tok.. tok..
Pintu terbuka, dadanya bergemuruh karena jantungnya saat ini mulai bersolo drum ria. Ia menunduk, terlihat sepasang sneakers putih dan kaki terbalut skinny jeans hitam. Perlahan-lahan mendongak dan betapa rontok jantungnya melihat siapa orang di hadapannya.
"Suho? Hey?"
.
.
"Haaaah kenapa mereka lama sekali?"
Luhan meregangkan tubuhnya kemudian kembali merangkul lengan Sehun yang sedang mencomoti bakpau hangat milik Xiumin. sementara itu Baekhyun, Chanyeol, dan Kai ber-freestyle ria di depan bangku tempat mereka duduk saat ini seraya berseru, "..mulai lapar~ mulai lapar~"
"Kalau kalian lapar kenapa tidak beli makanan?" protes Chen yang juga sudah mulai pusing melihat tingkah ketiga hobaenya. Xiumin menyenggol lengan Chen, "..kau lupa? Mereka kan tak bisa apa-apa jika tak ada Suho."
Chen mengangguk paham kemudian mendecih sinis, "..apa kalian tak diberi uang jajan oleh eomma kalian?" tiga orang itu berhenti dengan gaya masing-masing, saling berpandangan, tersenyum miring kemudian menggeleng. Chen mengusap wajahnya. Bagaimana bisa Suho betah dikerumuni orang-orang seperti ini? Jika ia menjadi Suho sudah pasti akan mengajukan surat mutasi kepada pihak sekolah. Oh tidak, tidak, Chen tak akan melakukan hal bodoh itu dan tak akan pernah menjadi Suho kecuali ada sihir Fir'aun yang masih berlaku untuk menukarkan jiwa mereka.
Tunggu~
Memang mereka tahu apa itu Fir'aun? -_- author edan.
"Hah, lelah. Aku haus. Hyung minta minum~" tangan panjang Chanyeol menggapai-gapai gelas sprite yang ada di tangan Xiumin dan dengan sigap namja bakpau itu menjauhkan sejauh-jauhnya minuman miliknya, "..kalau kau bukan minta, tapi mengambil. Aku ragu kau akan menyisakan untukku dengan keadaanmu yang seperti sekarang. Huu~" menjitak kepala Chanyeol yang saat ini tengah selonjoran di bawah.
"By the way—"
"Jiah berbahasa Inggris!" ucapan Baekhyun terpotong oleh ledekan Kai. Mata sipit itu semakin menyipit dengan target yang sudah membeku di tempat. "..memang Kris sunbae akan datang ke mari?" sambungnya, dan pertanyaan itu tertuju untuk Luhan. Yang di tanya mengangguk semangat, "..ne. Aku tak sengaja mendengarnya sewaktu akan pulang dari ekstra."
"Tak sengaja atau mencuri dengar, Ge?" nada menggoda sangat kental di cara bicara Chen. Luhan mendelik. "..jelas tak sengaja lah, tapi aku tak ingin melewatkan hal itu, jadi boleh lah dibilang mencuri dengar. Hehe.." semua memutar bola mata mereka termasuk Sehun yang sedari tadi konsentrasi pada bakpau milik Xiumin.
"Tak sengaja mendengar dengan mencuri dengar itu hanya dibatasi selembar potongan bawang, Ge." Kata mutiara Baekhyun keluar dan diangguki semua yang ada di sana. Detik setelahnya mereka kembali dalam diam. Menanti sang pangeran berkuda yang tengah menjemput putrinya *plak*
.
.
"Suho? Hey?"
Begitu namanya dipanggil ia mengerjapkan mata. Pipinya memanas menyadari tindakan konyolnya barusan. Apanya yang pangeran berkuda jika seperti itu. Tak bisa menjaga image dan tak manly sama sekali. Cih.
"Uh-oh~ hai, Lay. Apa kau menunggu lama?" ucapnya seraya menggaruk tengkuk. Basa-basi dulu tak apalah. Setidaknya ia tak mengucapkan apa yang tadi sempat ia pelajari sebelum masuk halaman. Pfft~
Lay tersenyum, lekukan di pipinya semakin dalam dan nyaris berlubang saking dalamnya. Hehe. Melihat itu Suho turut tersenyum pula. Memang benar-benar rupa yang menyenangkan hati orang lain. Tak salah Suho jatuh hati pada laki-laki ini.
"Ani. Aku baru saja selesai bersiap-siap.." ia melongok ke dalam rumah, melihat jam dinding, "..bisa kita berangkat sekarang? Kurasa Luhan-ge dan kawan-kawan yang menunggu lama."
Suho mengangguk. Berbalik dan mempersiapkan lengannya di pinggang.
"Ehem~ Suho? Kau tak bermaksud untuk kita berdandengan, bukan?"
Freak~ inner Suho.
"A-ani. Aku hanya ingin membenahi letak ikat pinggangku. Hehe.."
Sedingin apapun Suho tak luput dengan sisi bodohnya. Seperti saat ini dan terlebih dikarenakan orang yang dicinta. Aish~
Lay mengangguk. Setelah berpamit dan mencium tangan kedua orang tuanya, Lay berjalan menghampiri Suho yang mendahului.
"Kenapa kau baru bersiap?"
Lay melepas satu headset yang menyumbat telinganya ketika Suho mulai mengeluarkan suara dan mobil berbelok, detail. Menyamankan sandaran punggungnya pada kursi empuk mobil Suho. Well, itu memang mobil Suho.
"Aku bingung harus memakai baju ap—ups"
Kening Suho bertaut, raut menyelidik di wajahnya tergambar jelas saat dengan cepatnya Lay menutup mulut dengan telapak tangan, "..bingung? Untuk apa bingung, eum?" menggoda. Lay memalingkan wajah keluar jendela. Menyembunyikan rona merah di pipinya sembari merutuk kecil.
"Oh, maksudku, semua baju hangatku masih tercuci dan sebagaian ada di Cina, jadi aku bingung harus memakai yang mana. Iya, itu maksudku, hehe.." tertawa kikuk sambil menggaruk tengkuknya kemudian kembali memalingkan wajah. Sungguh ia harus mengutuk mulut yang tak bersahabat ini.
"Arraseo. Kukira kau gugup."
"TIDAAAK!"
Ckiiit~!
Rem mobil terinjak mendadak sepersekian detik setelah pekikan Lay memenuhi penjuru mobil. Jika saja mereka tak memakai sabuk pengaman, sudah di pastikan kening seksi mereka terbentur dashboard dan kemudi mobil. Lay parah -_-
"Lay! Kenapa kau berteriak?" omel Suho sembari mengelus dada kembali untuk yang kedua kalinya. "A-aku.. eum.. mian. Kau bisa lanjutkan." Sahut Lay. Menggeleng kepalanya Suho kembali tancap gas, "..kau tak tahu betapa sensitifnya jantungku terhadapa suara keras yang mendadak. Ini semua karena sahabatMU. Lu-han.."
"Eh? Memangnya kenapa dengan Lu-ge?"
Bola mata Suho berputar, "..kau tak sadar? Dia itu selalu saja menggebrak meja secara tiba-tiba, oh~"
"Tapi, kau juga sering begitu, kan?" sahut Lay. Suho menoleh cepat, "..aku? Kapan aku melakukan itu?" Lay terseyum jenaka,"..jangan mengelak. Kau sering menggebrak meja dan mengobrak-abriknya, kan? Aku sering melihatnya, lho."
BODOH!
Susah sekali menelan ludahnya sendiri saat ini. Posisi duduk Suho menjadi tak nyaman dan bergerak random karena gelisah ditambah malu yang mulai menjalar, "..aaa~ itu kan ada alasannya dan aku juga tak sadar."
"Ignored?" Lay menudingkan telunjuknya ke hidung Suho. Masih dengan senyum menggodanya. Suho memundurkan kepalanya begitu ujung hidungnya tersentuh. Gugup, man.
"No. Tapi—ah sudahlah jangan bahas itu. Diam! Oke?"
Lay menarik tubuhnya ke tempat asal. Mengangguk mantap,"..arraseo. Hihihi.."
.
.
Setelah sekian lama mereka menunggu untuk kedatang Sulay, akhirnya apa yang mereka tunggu kini hampir dekat dengan mereka. Dihias cahaya putih di belakang, angin yang berhembus lembut, dan kelopak-kelopak mawar putih yang berjatuhan. Sungguh dramatis.
"Itu mereka, hyung!"
Sesuai dengan arah yang ditunjuk Chanyeol, mereka menoleh ke Sulay yang berjalan beriringan. Mata mereka berbinar seolah Sulay adalah malaikat pencerah yang Sang Lord kirim untuk mereka semua. Sungguh aneh -_-
"Kenapa lama sekali?! Heh cebol!"
Sepertinya Luhan masih ingat dengan apa yang Suho lakukan padanya beberapa menit lalu. Langsung membentak namja tampan itu saat Sulay sudah ada beberapa langkah di depan mereka.
"Jangan salahkan aku. Aku kan memang tak tahu rumah Lay. Jadi butuh waktu untuk bertanya." Jawab Suho santai. Masih berhati-hati jika saja Luhan tiba-tiba menyerangnya.
"Kau ini—"
"Sudah, ayo kita masuk. Sebelum salju turun." Xiumin memotong ucapan Luhan dan diangguki oleh semua yang ada di sana. Termasuk Lay yang hanya diam sedari tadi dan memasang tampang bodohnya, tapi manis :p
.
.
"Lay, kenapa mereka pergi sendiri-sendiri?"
Suho kembali celingukan saat teman-temannya yang lain meninggalkannya dan langsung menghilang dibalik lautan banyak orang. Yang diajak bicara tak menjawab. Ada satu hal yang menarik perhatiannya. Halilintar. Menyadari hal itu, Suho menegak ludah. Kejadian beberapa bulan lalu tak ingin ia ulang kembali sekalipun itu untuk Lay, "..ehm, Lay? Kau tak akan menyuruhku untuk kembali naik benda menyeramkan itu lagi, bukan?"
Lay mengerjapkan mata kemudian menoleh ke Suho, "..ani. Aku hanya berfikir kapan aku bisa mendapat keberanian untuk naik halilintar. Mian sudah menyuruhmu naik itu dulu."
"Kau sudah minta maaf sebelumnya. Tak usah dipikirkan. Ayo cari teman-teman."
Langkah Suho terhenti saat Lay menahannya, "..ada apa?" Lay menggigit bibirnya, manik matanya berkeliaran ke segala arah pertanda gugup.
"..ehmm bisakah kita pergi berdua?"
Bibir Suho membulat, matanya melebar, dan tampangnya pun sungguh jelek sekarang. Speechless mendengar permintaan emas itu. Mimpi apa ia tadi pagi—karena malam sudah terlalu mainstreem—sampai Lay mengajaknya berkencan—yah menurut Suho itu berkencan.
"Tentu."
Tanpa berfikir dua kali ia menarik pergelangan Lay. Menggenggam erat tangan putih itu dan tersenyum di setiap langkah kakinya. Hal sesederhana ini terlalu menyenangkan bagi Suho. Yeah untuk ukuran orang yang memendam rasa sepertinya.
.
.
"Kalian yakin Suho menyukai Lay?"
Delapan orang kini bertumpukan mengintip Sulay dari balik stand pistol air. Semua menatap Luhan yang ada di bawah saat namja itu berkata seperti tadi.
"Kami yakin seratus delapan puluh persen, Ge. Apa gelagat Suho hyung selama ini kurang memadai?"
PLAAK
Xiumin kembali menjitak kepala Chanyeol yang ada di bawahnya, "..kau fikir dia fasilitas?" namja tinggi itu mengusap kepalanya dengan bibir mengerucut, "..kiasan hyung."
"Kalian tahu darimana?" Luhan kepo.
"Dari hasil konferensi meja kotak kami saat di kelas, Ge." Kini sasaran pukulan Xiumin adalah Baekhyun, "..hyung! Appo "
"Dilihat dari tatapan matanya saja sudah meyakinkan, Ge."
Semua terdiam, memposisikan diri mengitari Kyungsoo yang barusan berbicara. Dikelilingi tiang-tiang membuat Kyungsoo pusing. Ia harus mendongak, "..ada apa? Kalian seperti serigala yang menangkap mangsa."
"Kyungsoo-ya, we are wolf! Geurae wolf! Awooo~"
Sepertinya mereka sudah terpengaruh Suho menjadi EXOstan -_-
Dengan cepat Kyungsoo menutup wajah yang memerah karena ulah teman-temannya semua perhatian terpusat kepada mereka.
"Kenapa kau bisa berargumen seperti itu? Cepat jelaskan kepada kami apa alasan anda, tuan." Menyodorkan botol air mineral tepat di depan bibir Kyungsoo, Baekhyun mulai berlagak.
"Mudah. Sebangku dengan Suho hyung sangat mudah untukku memperhatikan gelagatnya. Mulai dari seringnya ia mematahkan pensil karena Lay-ge yang bercerita yang Kris. Mendengus kesal karena Kris menjemput Lay-ge di depan pintu kelas. Menedang bangku karena Lay-ge terus tertawa karena Kris. Cukup jelas bukan? Pensil mekanikku adalah bukti otentik kebrutalan Suho hyung, asal kalian tahu saja."
Mulut semua temannya terbuka lebar. Bukan karena isi dari apa yang diucapkan Kyungsoo, tetapi mereka terkejut Kyungsoo bisa berkata sepanjang itu mengingat sifatnya yang diam.
Bola mata lebar Kyungsoo berputar, "..intinya Suho hyung sudah menyukai Lay-ge sejak lama. Titik."
.
.
Pikiran tentang 'Lay adalah jelmaan gadis' terus berputar di otaknya. Bagaimana Suho tidak berpikiran seperti itu jika sedari tadi yang dikerjakannya hanya mengejar Lay ke sana ke mari berkeliling World.
"Laaayy~"
Langkah kaki Lay terhenti begitu mendengar suara yang menyedihkan itu. Ia berbalik mendapatkan Suho terengah-engah di antara kerumunan orang. Segera mendekati namja tampan itu, "..gwenchana?"
Mendapat anggukan lemah dari temannya Lay tersenyum, "..kalau kau lelah, kita istirahat dulu, ne?" tanpa menunggu persetujuan Suho, Lay menarik lengan Suho dan membawanya ke bangku depan stand pistol air. "..kau tunggu sini, aku mau membeli minuman."
.
.
"Kenapa dengan Suho?" tanya Kai. Sepertinya delapan orang itu masih bertahan mengintip Sulay dan kembali ke posisi bertumpukan. Namun kini lokasi persembunyian mereka berubah karena mereka juga tidak terlalu bodoh dan tak ingin dipergoki dua target mereka.
"Kurasa dia lelah. Dari tadi Lay-ge seperti layangan putus terbang ke mana-mana." Sahut Chanyeol. Semua mengangguk paham. "Lalu sekarang Lay-ge akan pergi kemana?" Baekhyun bertanya.
"Mana kami tahu, bodoh!"
.
.
Dengan gumaman kecil Lay berjalan mencari mesin soft drink. Bola matanya bergerak ke sana ke mari menyusuri setiap sudut Park di sekitarnya.
"BINGO! Itu di—"
Langkahnya terhenti. Kedua kakinya seakan membatu. Jantungnya mencelos. Telapak tangannya berubah memutih dan terasa dingin. Dadanya sesak.
Dan bangkai busuk itu mulai terendus.
"—a? Kris?"
.
.
.
To Be Continue
Halo ^^
Akhirnya Dae bisa update cepet *plak/digebukin* yah ini udah yang paling cepet untuk ff chaptered milik Dae.
Well, B I G thanks for readerswhofaithfully waited forthe continuationofthisfanfic, who already added to their fav. list and following this fanfic too.
Reviews replay for un-log-in friends :
laibel : yup ini sudah update. Jangan omina omina lagi, ne. Ntar bang Squidward dateng *garing*
rintakuma : udah tahu mungkin. Nggak yakin aku hahaha. Jangan cepet jadian. Nggak seru :D
heeriztator : tenang aja. Nggak masalah mau dangdutan, komploan, keroncongan juga nggak papa, chingu. Well seneng ada yang ngertiin :'D jadi terharu hohoho. Emang aslinya Suho itu pervert, kan? Saking aja tersamarkan gegera di pake P*nds *plak* terimakasih ^^ Werewolvesnya masih buntu
pandaesme : ne, makasih sudah suka ^^ salam kenal.
At last, isi kotak review, oke ;)
Terimakasih
Daexoxo
