Chapter 2

.

"If you love somebody, let them go. If they return, they were always yours. If they don't, they never were." - Kahlil Gibran -

.

Mamori menjepit rambut di atas telinga kirinya ke belakang. Dia menepuk-nepuk pinggang dan merapikan bentuk blazernya. Dia menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya. Pagi ini dia siap untuk memulai wawancara di perusahaan sebagai interpreter. Saat tingkat akhir dulu, Mamori pernah ikut dosennya untuk tahu bagaimana cara jadi interpreter. Dengan nilai yang di atas rata-rata, dan dengan keturunan langsung dari neneknya yang orang Amerika, Mamori memang sudah percaya diri dengan keahliannya ini. Tapi walau begitu, tetap saja masih membuat Mamori gelisah dan tidak tenang.

Lusa kemarin, dia sudah mengirimkan CV ke email perusahaan. Dan dia tidak menyangka kalau akan secepat ini mendapat panggilan. Karena itu dia sangat senang dan menyiapkan dirinya sematang mungkin.

Telepon berbunyi bertepatan dengan saat dia sudah siap untuk keluar dari apartemennya. "Ya, Halo?" sapanya sambil mengunci pintu.

"Mamo-Nee sudah mau jalan?" tanya Suzuna di seberang telepon.

"Ya. Aku sekarang lagi mau jalan ke halte bis."

"Mau aku antar?"

"Tidak perlu Suzuna. Terima kasih."

"Kalau begitu, saat sudah selesai, kabari aku. Ada yang ingin kubicarakan."

"Ya. Nanti aku kabari."

"Sampai nanti Mamo-Nee."

"Sampai nanti." Mamori lalu menutup teleponnya.

Tepat setelah lima menit Mamori menunggu di halte bis, bisnya segera datang. Mamori lalu naik dan untungnya masih ada tempat kosong untuknya duduk. Perusahaan itu cukup jauh. Jaraknya lima halte dari sini, setelah itu Mamori harus jalan kaki sekitar lima menit.

Perusahaan itu adalah perusahaan games. Mamori tidak tahu apa jelasnya, tapi perusahaan itu membutuhkan interpreter selama sebulan saat wakil perusahaannya akan melakukan kerja sama di Amerika. Kalau dilihat dari planning-nya, sepertinya mereka perusahaan besar.

Tiga puluh lima menit Mamori sampai tepat di depan gedungnya. Memang gedung besar, mungkin ada belasan lantai. Di atasnya ada logo games perusahaan mereka. Mamori tidak pernah melihat logo itu. Yah, karena dia jarang, atau bahkan tidak pernah main games. Bukan karena tidak mau, tapi karena Mamori tidak tahu caranya. Di ponselnya pun, dia tidak pernah mengunduh games. Ponselnya penuh dengan beberapa aplikasi chating, kamus, resep masakan, dan berita. Jadi aplikasi permainan, tidak ada sama sekali.

Memikirkan dirinya yang seperti itu, membuat Mamori ragu kalau dia akan diterima. Bagaimana nanti kalau dia ditanya tentang produk mereka. Mamori harus jawab apa. Memikirkannya saja sudah membuat Mamori tambah pesimis dan gelisah.

Mamori melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung. Dia tersenyum kepada penjaga pintu dan menuju ke resepsionis. "Selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu?" sapanya ramah kepada Mamori.

Mamori tersenyum lalu berkata, "saya mendapat panggilan untuk wawancara sebagai interpreter―"

"Oh itu," sela resepsionis wanita itu. Dia lalu melihat komputer di sebelah kanannya, dan melihat lekat-lekat lagi ke Mamori. Dia lalu tersenyum dan bertanya, "maaf, dengan siapa saya berbicara?"

"Anezaki. Mamori Anezaki," jawabnya.

"Mohon tunggu sebentar," ujarnya. Dia lalu ke sebelah kanannya dan mengambil telepon. Dia membelakangi Mamori sehingga Mamori tidak bisa mendengar apa yang dikatakannya. Beberapa saat kemudian, dia meletakkan kembali teleponnya dan kembali ke Mamori. "Nona Anezaki, silahkan ke ruang HRD. Dari sini, lurus saja terus. Ruangannya ada di pintu paling akhir."

Mamori mengikuti gerakan tangannya. Setelah mengerti dia lalu tersenyum kepada wanita itu, "terima kasih."

Mamori lalu berjalan ke arah yang ditunjuk resepsionis itu. Dari lorong sini, terlihat ada tiga pintu. Dan ruang HRD ada di pintu terakhir. Mamori mengetuk pintunya, dan mendengar suara untuk memintanya masuk. Dia lalu membuka pintunya. "Permisi."

Lelaki berusia tiga puluh tahunan tersenyum kepada Mamori dan mempersilahkannya duduk. "Saya Yamada Seiburo."

Mamori membungkuk, "saya Anezaki Mamori," ujarnya lalu duduk di kursi.

"Saya sudah lihat CV anda dan sepertinya menarik," ujar Seiburo melihat ke CV di atas meja. "Anda sedang kuliah S2?"

"Ya, ini tahun pertama saya."

"Baiklah. Anda diterima. Selamat bergabung."

Mamori terkejut. Kenapa dia semudah ini diterima kerja. Seiburo ini bahkan belum bertanya apa-apa, ataupun menguji kemampuan bahasa Inggrisnya. "Ah, tapi― anda tidak mengetes dulu bagaimana kemampuan saya?"

Seiburo tersenyum. "Tidak perlu. Anda sedang kuliah S2 kan?"

"Ya. Tapi...," Mamori tetap tidak percaya dan malah jadi berpikiran macam-macam. Dia takut kalau ternyata perusahaan ini bukan perusahaan baik-baik dan malah melakukan kejahatan di balik kedoknya sebagai perusahaan games. "Saya benar bekerja sebagai interpreter kan?"

Seiburo melihat ke Mamori sambil berpikir tentang kata-katanya. Dia lalu mengerti saat melihat raut wajah Mamori. "Ya. Tentu saja sebagai interpreter. Tenang saja Anezaki-san. Perusahaan ini tidak melakukan hal ilegal. Memang anda tidak pernah melihat logo perusahaan ini?" Dia lalu melihat Mamori menggeleng. "Perusahaan ini sudah terkenal. Kami menerima anda begitu saja, yah... Karena kami sudah melihat CV anda. Bukannya sudah jelas disana anda menulis kalau anda sudah dua kali magang sebagai interpreter. Jadi anda sudah berpengalaman kan?"

"Memang benar. Tapi...," ragu Mamori.

"Anda tidak ingin bekerja disini?"

"Tentu saja saya mau."

Seiburo tersenyum. "Nah, kalau begitu, selamat bergabung." Dia lalu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Mamori. "Sekarang kita akan memulai untuk tanda tangan kontrak anda."

.

.

Tiga puluh menit Mamori melakukan penandatanganan kontrak. Setelah itu, dia diminta untuk naik ke lantai tiga menemui manager utama perusahaan. Mamori tidak mengerti. Pertama dia diterima kerja begitu saja disini, dan kedua, dia diminta untuk menemui langsung manager utama mereka. Yang Mamori tahu, manager seperti itu punya peranan penting disini. Tapi, di brosur dikatakan kalau memang manager yang membutuhkan interpreter. Jadi mungkin dia akan memulai kerja pertamanya hari ini.

Mamori masuk ke ruangan yang bertuliskan manager. Pintu ruangan itu terbuka. Mamori lalu mengetuknya, namun tidak ada orang di dalam. Mamori tidak berani masuk. Jadi dia hanya menunggu di luar. Beberapa menit kemudian, Mamori melihat lelaki tinggi yang berusia empat atau lima tahun lebih tua berjalan ke arahnya. Dia melihat ke Mamori, dan sesaat itu juga dia tersenyum. Mamori lalu membalas tersenyum.

"Nona Anezaki?" tanya lelaki itu sambil mengulurkan tangannya. "Saya Keito. Tapi kalau di Amerika saya biasa dipanggil Keith. Saya manager utama disini."

Mamori lalu menjabat tangannya dan mengikuti Keith masuk. "Silahkan duduk," ujarnya menunjuk sofa hitam di samping pintu. Mereka berdua lalu duduk brerhadapan. "Jadi anda sudah menandatangani kontrak?"

"Ya."

"Kalau begitu, selamat bergabung dengan perusahaan kami."

"Terima kasih."

"Saya akan jelaskan detailnya." Keith lalu memulai pembicaraan mereka. "Anda akan bekerja pada perusahaan ini sebulan penuh." Mamori mengangguk. "Lusa anda akan saya antar sampai bandara. Setelah sampai sana, ada orang dari perusahaan kami yang akan menjemput anda untuk bertemu dengan direktur utama kami."

"Direktur utama?" tanya Mamori bingung. "Saya kira, saya dipekerjaan untuk membantu manager disini. Apa perlu sampai bertemu direktur utamanya?"

Keith tersenyum. "Sebenarnya, Anezaki-san, kami memerlukan jasa anda untuk direktur kami. Bukan manager."

"Lalu kenapa di brosur ditulis kalau manager?"

"Tidak ada alasan khusus. Karena saya yang memerintahkan lowongan kerja itu, jadi saya bilang kepada HRD kalau saya yang membutuhkan jasa interpreter," jelasnya. "Anda tidak keberatan bukan?"

"Oh, tidak. Saya tidak keberatan."

Keith tersenyum. "Baiklah. Jadi, Anezaki-san. Anda sudah punya passport?"

"Sudah."

"Bagus. Kalau begitu, kita bisa langsung ke Amerika lusa. Tolong persiapkan segala sesuatunya dan saya berharap anda bisa bekerjasama dengan baik."

"Tentu saja. Saya senang bisa bekerja bersama anda."

Setelah berbicara selama beberapa menit mengenai pekerjaan, Memori pamit dan meninggalkan ruang manager. Keith kembali menutup pintu dan berjalan ke mejanya. Dia mengangkat gagang telepon dan menekan tombolnya.

"Maaf menggaggu malam-malam Direktur Hiruma," ujarnya setelah tersambung. "Ya. Semuanya berjalan sesuai dengan rencana."

.

.

Mamori bertemu sesuai janji dengan Suzuna di kafe dekat gedung perusahaan itu. Mamori menceritakan semuanya dan Suzuna gembira mendengar kabar baik itu.

"Tapi ada yang aneh," sahut Mamori.

"Aneh apanya?"

"Untuk perusahaan besar seperti itu, tidak mungkin bisa dengan mudah kerja disana."

"Kamu hanya pekerja lepas disana Mamo-Nee. Mungkin mereka butuh cepat," jawab Suzuna santai.

"Dia tidak mewawancaraiku dan langsung menerimaku."

Suzuna meminum chocolate cream-nya. "Mungkin karena dia sudah melihat CV-mu dan tahu kalau kamu berpengalaman."

"HRD-nya juga bilang seperti itu."

"Lalu apa yang aneh?"

"Ada lagi. Bukan itu saja." Suzuna mendengarkan Mamori untuk melanjutkan ceritanya. "Ternyata yang memerlukan interpreter bukan managernya, tapi direktur mereka."

"Apa yang aneh dari itu Mamo-Nee?" tuntut Suzuna tidak tahan karena Mamori yang terlalu mempermasalahkan sesuatu.

"Aneh kan?" Mamori melihat wajah Suzuna yang tidak mengerti. "Oke. Begini Suzuna. Manager utamanya bilang kalau Direktur mereka ada di Amerika mengurus kerja sama dengan perusahaan disana. Dia bilang kalau beliau sudah beberapa bulan berada disana," jelas Mamori. "Anehnya, kalau direktur mereka bisa meng-handle itu sendiri tanpa interpreter selama bekerja disana, untuk apa dia memerlukan jasaku?"

Suzuna mengangkat bahu. "Entahlah. Mungkin interpreter yang dulu berhenti?"

"Itu kalau memang dia butuh interpreter. Kalau memang dia begitu butuh, kenapa dia tidak meminta managernya untuk jadi penerjemahnya. Manager utama, si Keito-san itu, wajahnya terlihat keturunan campuran. Dia juga punya nama Amerika. Lalu untuk apa dia butuh aku?"

"Mamo-Nee. Berhentilah curiga," sahut Suzuna. "Lihatlah." Suzuna menunjuk ke atas gedung jauh di belakang Mamori. "Itu perusahaan terkenal. Kamu tidak tahu Dayfree? Nama mereka sudah hampir mendunia Mamo-Nee. Sudah hampir dua tahun belakangan nama mereka naik lagi. Mereka tidak mungkin melakukan yang aneh-aneh."

"Bukan itu saja Suzuna." Mamori mendengarkan Suzuna, tapi tetap saja pikirannya tidak bisa tenang. "Aku sudah melihat brosur itu di kantor kemahasiswaan hampir sebulan ini. Oh ya ampun Suzuna. Aku sulit menjelaskannya. Apa kamu tidak mengerti?"

"Aku mengerti Mamo-Nee," jawab Suzuna. "Intinya, kamu curiga kenapa kamu diterima kerja begitu saja, padahal direktur mereka terlihat kalau dia tidak begitu membutuhkan jasa interpreter. Selain itu juga karena brosur itu sudah ada di kantor selama hampir sebulan, tapi sampai kamu melamar, lowongan itu tetap tidak ada yang mengisi? Begitu kan? Karena seperti yang kita pikir, kalau mereka butuh jasa cepat."

Mamori mengangguk.

"Dan kemarin malam kamu juga cerita kalau kamu langsung dapat panggilan setelah mengirim CV-mu lusa sebelumnya?"

"Ya," jawab Mamori yakin.

Suzuna tersenyum. "Itu artinya, kamu sedang beruntung Mamo-Nee."

.

.

To Be Continue

.

Catatan Kecil:

Ada yang sudah tidak sabar menunggu munculnya Hiruma di cerita ini? Sabar yaaaa... Next chap atau Next chap-nya lagi, Hiruma akan muncul! Okey, tidak perlu dirahasiakan juga siapa direkturnya ya kan? Di ceritanya juga sudah dikasih tahu siapa XD

So, guys.. Yang sabar yaaa menunggu Chapter 3~!

Salam: De